Sewaktu
aku masih duduk di bangku SMK dulu, saat aku harus bangun sebelum shubuh untuk
belajar lebih giat lagi menjelang ujian nasional, aku sering medapati ibuku
sedang duduk tafakur pada satu pertiga malamnya, suasana hening makin bertambah
sendu kala ibuku sedang melantunkan ayat – ayat Al Qur’an dengan alunan suaranya
yang mendayu – dayu, membuat suasanan sebelum subuh jadi semakin lebih hidup,
seiring dengan suara jangkrik yang mengerik, bersambut saut - menyaut suara
ayam bersautan menjelang shubuh, melepas gundah dan segenap lara dalam hati,
bersama dingin sejuknya embun pagi yang datang laksana peri.
Sementara
Ayah, Ia baru terbangun setelah adzan shubuh berkumandang, mungkin karena
kelelahan sehabis bekerja seharian, belum lagi semalam juga sepertinya pulang
agak larut. Maklum, Ayah adalah tipe orang yang memiliki jiwa sosial cukup
tinggi, Ayah seperti tidak bisa hidup bila tanpa terlibat dalam organisasi –
organisasi sosial kemasyarakatannya. Ayah juga tidak terlalu perhitungan bila
soal materi, ayah siap mengeluarkan biaya dari kantung pribadinya berapapun
jumlahnya tanpa pamrih hanya untuk menunjang kemajuan daripada organisasi –
organisasi sosial kemasyarakatan yang sedang dibinanya itu tadi. Ibuku yang taat
beribadah dan ayahku yang berjiwa sosial tinggi adalah teladan utamaku dalam
harmonisnya kehidupan rumah tangga kami.
Dalam
keluargaku, aku terlahir sebagai anak lelaki satu – satunya, anak tunggal
sekaligus anak simata wayang dari kedua orang tuaku yang tercinta. Dimanja, itu
pasti. Tapi kedua orang tuaku tak pernah memanjakakan aku dengan hartanya,
dengan kata – kata manisnya, ataupun dengan perlakuan – perlakuan istimewa
lainnya. Pernah sewaktu kecil dulu, sewaktu aku masih duduk di bangku sekolah taman
kanak – kanak, aku pernah menangis setelah dipukul dengan temanku sendiri yang
nakal, walau profesi ibuku waktu itu juga sebagai guru TK, ibu tak memarahi
temanku yang nakal tadi, ibu malah justru memarahiku yang tak bisa
menyelesaikan masalahku sendiri. Rupanya ibuku sedang mengajarkan aku betapa
pentingnya begaimana aku harus bersikap dalam menyelesaikan masalahku sendiri.
Begitu
juga dengan Ayah, Ia medidikku dengan keras, Ia selalu melibatkan aku dalam
tiap bisnis dan usahanya. Kebetulan sewaktu aku masih SMK dulu usaha yang
sedang digeluti ayah saat itu adalah bisnis percetakan batu bata. Tidak
tanggung – tanggung, ayah menunjuk aku sebaagai koordinator utama untuk ketujuh
karyawannya. Bayangkan saja, jika rata – rata dalam sehari satu orang karyawan mampu
mencetak tiga ratus hingga empat ratus batu bata, berarti seharinya sepulang
sekolah aku harus memindahkan kurang lebih sebanyak tiga ribu batu bata kering
agar keesokan harinya para karyawan dapat mencetak kembali lumpur tanah liat menjati
batu bata di tempat yang telah aku sediakan. Tapi aku tak sendiri, ayah juga
kerap kali membantuku sepulang dari pekerjaanya menggarap proyek. Dari sinilah
ayah memanjakanku agar aku paham dan mengerti tentang arti tanggung jawab yang sebenarnya, bukan
hanya tanggung jawab pada diri sendiri tapi juga pada orang lain.
Dalam
hal pendidikan formal, ayah dan ibuku juga salalu ingin memberikan yang terbaik
buatku. Sewaktu aku lulus SMP dan hendak melanjutkan ke SMA, sebenarnya aku
ingin masuk SMA saja dengan mengambil jurusan IPA, akan tetapi, berhubung
sekolah yang ada dan sesuai keinginanku waktu itu masih berstatus sekolah
swasta akhirnya aku menurut saja apa kata ayah, aku sekolah di SMK Negeri 1
Bintuni dengan mengambil jurusan Tekhnik Mekanik Otomotif. Setelah lulus dari
bangku SMK sesuai bidang keahlianku, aku ingin lanjut kuliah di Poli Tekhnik
dan kebetulan nilaiku saat itu masuk dua besar memang layak dan memenuhi syarat
untuk pengajuan beasiswa pemerintah daerah untuk diterima di Poli Tekhnik
Negeri Malang. Lagi – lagi Ayah terlalu memanjakan aku, Ayah ingin aku cepat
bekerja dan punya penghasilan, Ayah ingin aku menjadi seorang Tentara.
Sementara
dalam pendidikan non formal ayah juga seolah tak pernah berhenti memanjakan
anak simata wayangnya ini. Aku yang sewaktu SMK dulu masih tergolong lugu dan
jarang keluar malam sempat dipaksa ayahku untuk ikut latihan beladiri pencak
silat di setiap rabu malam, dan sabtu malam. Setelah dua tahun lamanya aku
menekuni latihan beladiri gelar master pun dapat aku peroleh atau dalam istilah
organisasi beladirinya sering disebut Warga Tingkat Satu Organisasi Seni
Beladiri Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate cabang Manokwari, ranting
Bintuni yang berpusat di Madiun.
Terdidik
sebagai pesilat yang penuh percaya diri, membuatku hampir lepas kendali.
Beruntung sebelum aku pergi merantau, ayahku sudah menjadi seorang Ikhwan
Thoriqoh Naqsabandiyah Kholidiyah Al Mujadadiyah, menjadi seorang santri dari
Kyai Muh Syarufudin yang menjadi mursyid salah satu aliran tarekat sufi yang
terbesar di tanah air. Hingga pada suatu ketika Ayah bercerita kepada pak Kyai
tentang keinginannya untuk mendaftarkanku masuk ke dalam dunia militer, dan
sepertinya ayah mendapat dukungan penuh dari guru mursyidnya itu. Bahkan pak
Kyai malah meminta kalau bisa aku juga di baiat sekalian dan menjadi pengamal
tarekat sufi. Walau sedikit keberatan, Ayah akhirnya mengijinkan aku mendalami
ilmu tasawuf tersebut. Sebab sepengetahuan Ayah ilmu thoreqoh itu hanya
diperuntukkan kebanyakan pada kalangan kaum tua, padahal sebenarnya tidak.
Dengan
perbekalan mental spiritual yang cukup itulah, Ayah tak lagi ragu melepasku
untuk pergi merantau mewujudkan cita – cita ayah terhadap masa depanku, menjadi
seorang tentara. Sekarang aku sudah tak lagi berada di kampung halamanku
tercinta Bintuni, aku tinggal di Asrama Kodim tempat tinggal Pak De ku, Pak
Kirno namanya. Dia yang akan membantuku dalam mempersiapkan apa – apa yang
harus aku lakukan saat akan dan sedang mengikuti proses seleksi calon prajurut
TNI yang baru.
Di
Manokwari aku tinggal kurang lebih satu tahun lamanya. Seleksi pertama penerimaan
baru calon siswa bintara aku gagal dalam tes kesehatan kedua, karena aku
memiliki gejala penyakit lemah jantung, namun setelah rutin chek up, dan
melakukan therapi pada tes kedua akhirnya aku lolos dan ber hak mengikuti tes
terakhir atau sering disebut Pantukhir Pusat di Ajen dan Kodam V Cendrawasih,
Jayapura. Tes ini hanya berlangsung sebulan lamanya, dan sangat menentukan
layak tidaknya aku menjadi seorang anggota TNI.
Selama
setahun menjadi Tentara setengah jadi itu lebih menyakitkan daripada menjadi
Tentara sungguhan. Selama itu jiwaku seperti terkurung, aku ingin membahagiakan
kedua orang tuaku terutama ayahku walau sebenarnya jiwaku terkurung dan sangat
tersiksa. Aku ingin mengobati luka hati ibuku yang telah gagal dalam
pencalonannya sebagai anggota legislatif. Tapi apa jawaban Tuhan atas semua
perjuanganku selama setahun terakhir ini? Semua seperti sia – sia. Aku gagal
dalam melewati tes terakhir di Jayapura. Cita – cita Ayah sepertinya harus
tertunda, atau selamanya memang tak akan pernah terwujud. Benar – benar sangat
mengecewakan. Perjuanganku, pengorbananku, semua jerih payahku, penderitaan
bathinku selama setahun terakhir, semua sia – sia dan aku seperti hanya
membuang – buang waktuku selama itu hanya dengan percuma.
Aku
sudah lupa kapan terkhir kali aku menangis? Tapi kali ini aku benar - benar
ingin menangis yang sejadi – jadinya, meratapi kegagalan terhebat yang sudah
tak tau apa lagi hendak dikata. Derai air mata bercampur peluh dan derita bathin
yang dilanda pesakitan sudah tak bisa aku bendung lagi. Dan aku menangis yang
sejadi – jadinya, dari siang hingga malam, dari malam hingga aku tertidur,
begitu terbangun dunia rasanya seperti senyap, dadaku rasanya seperti sesak.
Ada suka, juga ada duka yang bercampur aduk menjadi satu, mataku memang
menangis tapi hatiku seperti tertawa. Aku sedih karena belum dapat
membahagiakan kedua orang tuaku sedang dukungan sepenuhnya sudah Ia berikan
padaku. Aku bahagia karena kalau saja dalam selangkah di waktu itu namaku benar
– benar disebut dalam daftar calon siswa yang dinyatakan lulus, jelas selamanya
aku akan terkurung dalam jeratan penderitaan bathin yang selamanya akan
menyiksa hidupku, karena menjadi seorang Tentara, jelas bukanlah cita – cita sejatiku
bahkan semenjak aku kecil dulu.
Terus
larut dalam kekecewaan dan sakit hati, hidupku serasa datar dan seperti tak ada
gunanya lagi. Setelah kegagalan di Jayapura itu ayah tidak mengijinkan aku
pulang ke Bintuni, begitu juga dengan Pak Kirno, dan akhirnya aku kembali
menetap di Asrama Kodim yang bagiku tempat itu sudah seperti penjara dalam
kegelapan. Aku semakin terpuruk dalam kehancuran saat Pak Kirno kembali
menyarankan agar mengulang kembali semuanya sedari awal, menebus kegagalanku
yang membuatku jatuh dalam keterpurukan. Entahlah aku bingung, aku semakin tak
mengerti. Hari – hariku menjadi semakin murung. Badanku kurus tinggal tulang, bahkan
tersenyum pun menjadi hal yang sangat sulit bagiku di kala itu.
Hingga
pada suatu malam kembali aku menangis yang sejadi – jadinya dan aku mengadu
padaNya. Entah sejak kapan aku bisa menjadi cengeng seperti ini? Aku hanya tak
mengerti, mengapa Tuhan seakan tak adil padaku? Dan keesokan harinya, Ibuku
menelfonku untuk pertama kalinya setelah kegagalanku yang kedua, hanya sekedar
memberi dukungan mental agar aku tak larut dalam kesedihan. Aku tahu
harusnya yang bersedih itu kedua orang
tuaku bukan aku, karena itu cita – cita mereka. Harusnya aku yang bahagia
karena itu bukanlah cita – cita sejatiku. Aku yang seharusnya menghibur kedua
orang tuaku, bukan malah mereka yang harus menghiburku. Dari sini lah aku
kembali mulai bangkit, dari semula yang hanya bisa mengurung diri dalam rumah
aku mulai mencoba untuk jalan keluar mencari suasana baru. Aku butuh udara
segar atas jiwaku yang kusut dan berkabut.
Entah
ada angin dari mana, saat ayah menelfonku aku memberanikan diri mengutarakan
keinginanku untuk kembali mewujudkan cita – cita sejatiku yang sesungguhnya.
Tentu saja ayah tak menyetujuinya tapi aku memaksa dan terus berusaha
meyakinkan. Aku tau ayahku adalah sosok yang keras dalam berprinsip, dan
mungkin ayah lupa jika aku juga memiliki watak yang mirip dengan ayah, tapi
juga mewarisi sifat ibuku yang lembut. Karena memang lebih dominan sifat ibuku
yang ada dalam diriku, itu mengapa aku mengalah saat Ayah ingin aku massuk
tentara. Seperti sudah menjadi sifat asliku, saat aku sudah mulai tertekan,
maka watak keras ayahku lah yang akan bicara. Sama – sama menggunakan prinsip
yang keras aku seperti terlibat perang dingin dengan ayahku sendiri.
Cita
– cita sejati yang aku impikan sejak kecil itu adalah, aku ingin kuliah
setinggi – tingginya dan menjadi orang yang sukses dan mapan secara
intelektual, spiritual, dan fianansial. Aku berfikir ayah tak akan pernah
menyetujui cita – citaku itu, obsesi ayah yang gagal dalam menggapai cita –
cita mudanya untuk menjadi seorang Tentara sudah seperti dendam yang harus aku
wujudkan, sedang masuk dalam dunia militer sama sekali tak pernah aku harap -
harapakan biar hanya sepenggal kisah dalam hidupku. Dan kala itu aku hanya
minta Ayah dan Ibu merestui cita – citaku, biar aku sendiri yang akan berjuang
untuk mewujudkan cita – citaku itu.
Saat
itu aku sudah mulai mendaftar di Universitas Negeri Papua, dan akan mengambil
jurusan Tekhnik Informatika, tapi sebelum aku melunasi biaya pendaftaran ayah
kembali menelfonku. Aku kaget bukan kepalang, rupanya ayah selama ini telah
melakukan sesuatu yang di luar dugaanku. Ayah menelfon Bu De ku di Ponorogo
agar memilihkan jurusan yang mungkin akan lebih cocok buatku. Dan pilihan itu
akhirmya jatuh pada Akademi Farmasi Putera Indonesia Malang. Rupanya benar –
benar di kota Malang aku harus berlabuh, tepat seperti apa yang aku idakam –
idamkan sewaktu aku masih SMK dulu, bedanya ini kok farmasi bukan tekhnik? Tapi
tak apalah “Ayah memang juara satu sedunia.
Soal
prestasi aku tidak muluk – muluk, untuk D3 Farmasi ini bisa lulus tepat waktu
saja rasanya sudah bersyukur sekali. Sebab farmasi dalam hidupku sebenarnya
hanyalah sebuah pelarian, pelarian yang akhirnya berbuah manis. Tak kenal maka
tak sayang, aku berusaha mengenal sebaik mungkin seperti apa dunia farmasi yang
sesungguhnya itu, dan sekarang aku benar – benar jatuh cinta pada dunia
farmasiku.
Aku
selalu berjanji pada diriku untuk terus berupaya menjadi lebih baik dan lebih
baik lagi. Awal masuk kuliah sebenarnya tak mudah bagiku, lulusan otomotif,
sekolah rintisan, dari pedalaman Papua, habis nganggur setahun, gaptek alias
gagap teknologi pula. Jangankan internet, situs jejaring sosial semacam
facebook saja aku tak mengerti. Tapi aku selalu belajar dan belajar, hingga
kemajuan yang cukup pesat terjadi juga padaku. Semester pertama dan kedua adalah
periode kehancuran bagiku, aku tak mengerti apa yang harus aku lakukan, Indeks
Prestasiku di bawah rata – rata, ada empat mata kuliah yang dinyatakan belum
lulus, tapi aku selalu belajar. Semester ke tiga dan ke empat adalah periode
perbaikan bagiku, nilai dan indeks prestasiku mulai membaik, dan aku mulai
mengulang mata kuliah yang belum aku pahami pada sememester sebelumnya. Semester
kelima dan keenam yang sedang aku lalui adalah periode kebangkitan bagiku,
Indeks Prestasiku semakin meningkat dan aku berjanji akan terus melakukan
perbaikan – perbaikan yang harus aku lakukan untuk menjadi lebih baik lagi.
Untuk
selanjutnya aku tengah menyusun strategi dalam melancarkan misi untuk menyambut
periode kejayaan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi, Insya Allah. Bukan
misi yang mudah tentunya, tapi bila kedua orang tuaku sudah merestui, dengan bermodal,
tekad, tirakat, usaha, dan riyado, tidak ada yang tidak mungkin bagiku.
Terlebih setelah bertemu Ibuku di Nganjuk beberapa waktu lalu, sambil
melepaskan rindu setelah empat tahun hidup berpisah dengan kedua orang tuaku, aku
baru tahu ternyata cita – cita ibuku sama persis dengan apa yang aku cita –
citakan. Jikalau pada awalnya aku telah gagal mewujudkan cita – cita ayah, maka
sekarang aku harus bisa mewujudkan cita – cita ibuku yang tidak lain adalah
cita – cita sejatiku sediri. Menjadi orang yang sukses dan mapan secara
intelektual, spiritual, dan finansial.
Sadar
bahwa visi kedapan dalam hidupku sangat amatlah besar, jelas aku butuh usaha
dan perjuangan yang juga sangat amatlah besar. Aku butuh dukungan besar, mental
besar, dan harus berjiwa besar “Ayah, Ibu. Aku bersumpah demi nama Tuhan Sang
Pencipta Langit dan Bumi, bahwa cintaku padamu selamanya akan tetap utuh dan
abadi, seutuh dan seabadi tulusnya kasih sayang, bimbingan, dan jasa
pengorbananmu yang selamanya tak mungkin akan dapat terbalaskan, sekalipun itu oleh
besarnya tanda baktiku yang telah aku lakukan padamu. (Ali Ridwan, 13/03/13)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar