Selasa, 12 Maret 2013

Dunia Militer dalam Kenangan, Dunia Farmasi dalam Tantangan

Sewaktu aku masih duduk di bangku SMK dulu, saat aku harus bangun sebelum shubuh untuk belajar lebih giat lagi menjelang ujian nasional, aku sering medapati ibuku sedang duduk tafakur pada satu pertiga malamnya, suasana hening makin bertambah sendu kala ibuku sedang melantunkan ayat – ayat Al Qur’an dengan alunan suaranya yang mendayu – dayu, membuat suasanan sebelum subuh jadi semakin lebih hidup, seiring dengan suara jangkrik yang mengerik, bersambut saut - menyaut suara ayam bersautan menjelang shubuh, melepas gundah dan segenap lara dalam hati, bersama dingin sejuknya embun pagi yang datang laksana peri. 

Sementara Ayah, Ia baru terbangun setelah adzan shubuh berkumandang, mungkin karena kelelahan sehabis bekerja seharian, belum lagi semalam juga sepertinya pulang agak larut. Maklum, Ayah adalah tipe orang yang memiliki jiwa sosial cukup tinggi, Ayah seperti tidak bisa hidup bila tanpa terlibat dalam organisasi – organisasi sosial kemasyarakatannya. Ayah juga tidak terlalu perhitungan bila soal materi, ayah siap mengeluarkan biaya dari kantung pribadinya berapapun jumlahnya tanpa pamrih hanya untuk menunjang kemajuan daripada organisasi – organisasi sosial kemasyarakatan yang sedang dibinanya itu tadi. Ibuku yang taat beribadah dan ayahku yang berjiwa sosial tinggi adalah teladan utamaku dalam harmonisnya kehidupan rumah tangga kami.

Dalam keluargaku, aku terlahir sebagai anak lelaki satu – satunya, anak tunggal sekaligus anak simata wayang dari kedua orang tuaku yang tercinta. Dimanja, itu pasti. Tapi kedua orang tuaku tak pernah memanjakakan aku dengan hartanya, dengan kata – kata manisnya, ataupun dengan perlakuan – perlakuan istimewa lainnya. Pernah sewaktu kecil dulu, sewaktu aku masih duduk di bangku sekolah taman kanak – kanak, aku pernah menangis setelah dipukul dengan temanku sendiri yang nakal, walau profesi ibuku waktu itu juga sebagai guru TK, ibu tak memarahi temanku yang nakal tadi, ibu malah justru memarahiku yang tak bisa menyelesaikan masalahku sendiri. Rupanya ibuku sedang mengajarkan aku betapa pentingnya begaimana aku harus bersikap dalam menyelesaikan masalahku sendiri. 

Begitu juga dengan Ayah, Ia medidikku dengan keras, Ia selalu melibatkan aku dalam tiap bisnis dan usahanya. Kebetulan sewaktu aku masih SMK dulu usaha yang sedang digeluti ayah saat itu adalah bisnis percetakan batu bata. Tidak tanggung – tanggung, ayah menunjuk aku sebaagai koordinator utama untuk ketujuh karyawannya. Bayangkan saja, jika rata – rata dalam sehari satu orang karyawan mampu mencetak tiga ratus hingga empat ratus batu bata, berarti seharinya sepulang sekolah aku harus memindahkan kurang lebih sebanyak tiga ribu batu bata kering agar keesokan harinya para karyawan dapat mencetak kembali lumpur tanah liat menjati batu bata di tempat yang telah aku sediakan. Tapi aku tak sendiri, ayah juga kerap kali membantuku sepulang dari pekerjaanya menggarap proyek. Dari sinilah ayah memanjakanku agar aku paham dan mengerti tentang  arti tanggung jawab yang sebenarnya, bukan hanya tanggung jawab pada diri sendiri tapi juga pada orang lain.

Dalam hal pendidikan formal, ayah dan ibuku juga salalu ingin memberikan yang terbaik buatku. Sewaktu aku lulus SMP dan hendak melanjutkan ke SMA, sebenarnya aku ingin masuk SMA saja dengan mengambil jurusan IPA, akan tetapi, berhubung sekolah yang ada dan sesuai keinginanku waktu itu masih berstatus sekolah swasta akhirnya aku menurut saja apa kata ayah, aku sekolah di SMK Negeri 1 Bintuni dengan mengambil jurusan Tekhnik Mekanik Otomotif. Setelah lulus dari bangku SMK sesuai bidang keahlianku, aku ingin lanjut kuliah di Poli Tekhnik dan kebetulan nilaiku saat itu masuk dua besar memang layak dan memenuhi syarat untuk pengajuan beasiswa pemerintah daerah untuk diterima di Poli Tekhnik Negeri Malang. Lagi – lagi Ayah terlalu memanjakan aku, Ayah ingin aku cepat bekerja dan punya penghasilan, Ayah ingin aku menjadi seorang Tentara. 

Sementara dalam pendidikan non formal ayah juga seolah tak pernah berhenti memanjakan anak simata wayangnya ini. Aku yang sewaktu SMK dulu masih tergolong lugu dan jarang keluar malam sempat dipaksa ayahku untuk ikut latihan beladiri pencak silat di setiap rabu malam, dan sabtu malam. Setelah dua tahun lamanya aku menekuni latihan beladiri gelar master pun dapat aku peroleh atau dalam istilah organisasi beladirinya sering disebut Warga Tingkat Satu Organisasi Seni Beladiri Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate cabang Manokwari, ranting Bintuni yang berpusat di Madiun.

Terdidik sebagai pesilat yang penuh percaya diri, membuatku hampir lepas kendali. Beruntung sebelum aku pergi merantau, ayahku sudah menjadi seorang Ikhwan Thoriqoh Naqsabandiyah Kholidiyah Al Mujadadiyah, menjadi seorang santri dari Kyai Muh Syarufudin yang menjadi mursyid salah satu aliran tarekat sufi yang terbesar di tanah air. Hingga pada suatu ketika Ayah bercerita kepada pak Kyai tentang keinginannya untuk mendaftarkanku masuk ke dalam dunia militer, dan sepertinya ayah mendapat dukungan penuh dari guru mursyidnya itu. Bahkan pak Kyai malah meminta kalau bisa aku juga di baiat sekalian dan menjadi pengamal tarekat sufi. Walau sedikit keberatan, Ayah akhirnya mengijinkan aku mendalami ilmu tasawuf tersebut. Sebab sepengetahuan Ayah ilmu thoreqoh itu hanya diperuntukkan kebanyakan pada kalangan kaum tua, padahal sebenarnya tidak. 

Dengan perbekalan mental spiritual yang cukup itulah, Ayah tak lagi ragu melepasku untuk pergi merantau mewujudkan cita – cita ayah terhadap masa depanku, menjadi seorang tentara. Sekarang aku sudah tak lagi berada di kampung halamanku tercinta Bintuni, aku tinggal di Asrama Kodim tempat tinggal Pak De ku, Pak Kirno namanya. Dia yang akan membantuku dalam mempersiapkan apa – apa yang harus aku lakukan saat akan dan sedang mengikuti proses seleksi calon prajurut TNI yang baru.

Di Manokwari aku tinggal kurang lebih satu tahun lamanya. Seleksi pertama penerimaan baru calon siswa bintara aku gagal dalam tes kesehatan kedua, karena aku memiliki gejala penyakit lemah jantung, namun setelah rutin chek up, dan melakukan therapi pada tes kedua akhirnya aku lolos dan ber hak mengikuti tes terakhir atau sering disebut Pantukhir Pusat di Ajen dan Kodam V Cendrawasih, Jayapura. Tes ini hanya berlangsung sebulan lamanya, dan sangat menentukan layak tidaknya aku menjadi seorang anggota TNI. 

Selama setahun menjadi Tentara setengah jadi itu lebih menyakitkan daripada menjadi Tentara sungguhan. Selama itu jiwaku seperti terkurung, aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku terutama ayahku walau sebenarnya jiwaku terkurung dan sangat tersiksa. Aku ingin mengobati luka hati ibuku yang telah gagal dalam pencalonannya sebagai anggota legislatif. Tapi apa jawaban Tuhan atas semua perjuanganku selama setahun terakhir ini? Semua seperti sia – sia. Aku gagal dalam melewati tes terakhir di Jayapura. Cita – cita Ayah sepertinya harus tertunda, atau selamanya memang tak akan pernah terwujud. Benar – benar sangat mengecewakan. Perjuanganku, pengorbananku, semua jerih payahku, penderitaan bathinku selama setahun terakhir, semua sia – sia dan aku seperti hanya membuang – buang waktuku selama itu hanya dengan percuma.

Aku sudah lupa kapan terkhir kali aku menangis? Tapi kali ini aku benar - benar ingin menangis yang sejadi – jadinya, meratapi kegagalan terhebat yang sudah tak tau apa lagi hendak dikata. Derai air mata bercampur peluh dan derita bathin yang dilanda pesakitan sudah tak bisa aku bendung lagi. Dan aku menangis yang sejadi – jadinya, dari siang hingga malam, dari malam hingga aku tertidur, begitu terbangun dunia rasanya seperti senyap, dadaku rasanya seperti sesak. Ada suka, juga ada duka yang bercampur aduk menjadi satu, mataku memang menangis tapi hatiku seperti tertawa. Aku sedih karena belum dapat membahagiakan kedua orang tuaku sedang dukungan sepenuhnya sudah Ia berikan padaku. Aku bahagia karena kalau saja dalam selangkah di waktu itu namaku benar – benar disebut dalam daftar calon siswa yang dinyatakan lulus, jelas selamanya aku akan terkurung dalam jeratan penderitaan bathin yang selamanya akan menyiksa hidupku, karena menjadi seorang Tentara, jelas bukanlah cita – cita sejatiku bahkan semenjak aku kecil dulu. 

Terus larut dalam kekecewaan dan sakit hati, hidupku serasa datar dan seperti tak ada gunanya lagi. Setelah kegagalan di Jayapura itu ayah tidak mengijinkan aku pulang ke Bintuni, begitu juga dengan Pak Kirno, dan akhirnya aku kembali menetap di Asrama Kodim yang bagiku tempat itu sudah seperti penjara dalam kegelapan. Aku semakin terpuruk dalam kehancuran saat Pak Kirno kembali menyarankan agar mengulang kembali semuanya sedari awal, menebus kegagalanku yang membuatku jatuh dalam keterpurukan. Entahlah aku bingung, aku semakin tak mengerti. Hari – hariku menjadi semakin murung. Badanku kurus tinggal tulang, bahkan tersenyum pun menjadi hal yang sangat sulit bagiku di kala itu.

Hingga pada suatu malam kembali aku menangis yang sejadi – jadinya dan aku mengadu padaNya. Entah sejak kapan aku bisa menjadi cengeng seperti ini? Aku hanya tak mengerti, mengapa Tuhan seakan tak adil padaku? Dan keesokan harinya, Ibuku menelfonku untuk pertama kalinya setelah kegagalanku yang kedua, hanya sekedar memberi dukungan mental agar aku tak larut dalam kesedihan. Aku tahu harusnya  yang bersedih itu kedua orang tuaku bukan aku, karena itu cita – cita mereka. Harusnya aku yang bahagia karena itu bukanlah cita – cita sejatiku. Aku yang seharusnya menghibur kedua orang tuaku, bukan malah mereka yang harus menghiburku. Dari sini lah aku kembali mulai bangkit, dari semula yang hanya bisa mengurung diri dalam rumah aku mulai mencoba untuk jalan keluar mencari suasana baru. Aku butuh udara segar atas jiwaku yang kusut dan berkabut. 

Entah ada angin dari mana, saat ayah menelfonku aku memberanikan diri mengutarakan keinginanku untuk kembali mewujudkan cita – cita sejatiku yang sesungguhnya. Tentu saja ayah tak menyetujuinya tapi aku memaksa dan terus berusaha meyakinkan. Aku tau ayahku adalah sosok yang keras dalam berprinsip, dan mungkin ayah lupa jika aku juga memiliki watak yang mirip dengan ayah, tapi juga mewarisi sifat ibuku yang lembut. Karena memang lebih dominan sifat ibuku yang ada dalam diriku, itu mengapa aku mengalah saat Ayah ingin aku massuk tentara. Seperti sudah menjadi sifat asliku, saat aku sudah mulai tertekan, maka watak keras ayahku lah yang akan bicara. Sama – sama menggunakan prinsip yang keras aku seperti terlibat perang dingin dengan ayahku sendiri.

Cita – cita sejati yang aku impikan sejak kecil itu adalah, aku ingin kuliah setinggi – tingginya dan menjadi orang yang sukses dan mapan secara intelektual, spiritual, dan fianansial. Aku berfikir ayah tak akan pernah menyetujui cita – citaku itu, obsesi ayah yang gagal dalam menggapai cita – cita mudanya untuk menjadi seorang Tentara sudah seperti dendam yang harus aku wujudkan, sedang masuk dalam dunia militer sama sekali tak pernah aku harap - harapakan biar hanya sepenggal kisah dalam hidupku. Dan kala itu aku hanya minta Ayah dan Ibu merestui cita – citaku, biar aku sendiri yang akan berjuang untuk mewujudkan cita – citaku itu. 

Saat itu aku sudah mulai mendaftar di Universitas Negeri Papua, dan akan mengambil jurusan Tekhnik Informatika, tapi sebelum aku melunasi biaya pendaftaran ayah kembali menelfonku. Aku kaget bukan kepalang, rupanya ayah selama ini telah melakukan sesuatu yang di luar dugaanku. Ayah menelfon Bu De ku di Ponorogo agar memilihkan jurusan yang mungkin akan lebih cocok buatku. Dan pilihan itu akhirmya jatuh pada Akademi Farmasi Putera Indonesia Malang. Rupanya benar – benar di kota Malang aku harus berlabuh, tepat seperti apa yang aku idakam – idamkan sewaktu aku masih SMK dulu, bedanya ini kok farmasi bukan tekhnik? Tapi tak apalah “Ayah memang juara satu sedunia.

Soal prestasi aku tidak muluk – muluk, untuk D3 Farmasi ini bisa lulus tepat waktu saja rasanya sudah bersyukur sekali. Sebab farmasi dalam hidupku sebenarnya hanyalah sebuah pelarian, pelarian yang akhirnya berbuah manis. Tak kenal maka tak sayang, aku berusaha mengenal sebaik mungkin seperti apa dunia farmasi yang sesungguhnya itu, dan sekarang aku benar – benar jatuh cinta pada dunia farmasiku. 

Aku selalu berjanji pada diriku untuk terus berupaya menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Awal masuk kuliah sebenarnya tak mudah bagiku, lulusan otomotif, sekolah rintisan, dari pedalaman Papua, habis nganggur setahun, gaptek alias gagap teknologi pula. Jangankan internet, situs jejaring sosial semacam facebook saja aku tak mengerti. Tapi aku selalu belajar dan belajar, hingga kemajuan yang cukup pesat terjadi juga padaku. Semester pertama dan kedua adalah periode kehancuran bagiku, aku tak mengerti apa yang harus aku lakukan, Indeks Prestasiku di bawah rata – rata, ada empat mata kuliah yang dinyatakan belum lulus, tapi aku selalu belajar. Semester ke tiga dan ke empat adalah periode perbaikan bagiku, nilai dan indeks prestasiku mulai membaik, dan aku mulai mengulang mata kuliah yang belum aku pahami pada sememester sebelumnya. Semester kelima dan keenam yang sedang aku lalui adalah periode kebangkitan bagiku, Indeks Prestasiku semakin meningkat dan aku berjanji akan terus melakukan perbaikan – perbaikan yang harus aku lakukan untuk menjadi lebih baik lagi.

Untuk selanjutnya aku tengah menyusun strategi dalam melancarkan misi untuk menyambut periode kejayaan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi, Insya Allah. Bukan misi yang mudah tentunya, tapi bila kedua orang tuaku sudah merestui, dengan bermodal, tekad, tirakat, usaha, dan riyado, tidak ada yang tidak mungkin bagiku. Terlebih setelah bertemu Ibuku di Nganjuk beberapa waktu lalu, sambil melepaskan rindu setelah empat tahun hidup berpisah dengan kedua orang tuaku, aku baru tahu ternyata cita – cita ibuku sama persis dengan apa yang aku cita – citakan. Jikalau pada awalnya aku telah gagal mewujudkan cita – cita ayah, maka sekarang aku harus bisa mewujudkan cita – cita ibuku yang tidak lain adalah cita – cita sejatiku sediri. Menjadi orang yang sukses dan mapan secara intelektual, spiritual, dan finansial. 

Sadar bahwa visi kedapan dalam hidupku sangat amatlah besar, jelas aku butuh usaha dan perjuangan yang juga sangat amatlah besar. Aku butuh dukungan besar, mental besar, dan harus berjiwa besar “Ayah, Ibu. Aku bersumpah demi nama Tuhan Sang Pencipta Langit dan Bumi, bahwa cintaku padamu selamanya akan tetap utuh dan abadi, seutuh dan seabadi tulusnya kasih sayang, bimbingan, dan jasa pengorbananmu yang selamanya tak mungkin akan dapat terbalaskan, sekalipun itu oleh besarnya tanda baktiku yang telah aku lakukan padamu. (Ali Ridwan, 13/03/13)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar