Selasa, 14 Januari 2014

Botani Farmasi (Parameter Mutu Ekstrak)

Ekstrak tumbuhan obat yang dibuat dari simplisia nabati dapat dipandang sebagai bahan awal, bahan antar, atau bahan produksi jadi. Terpenuhinya standar mutu produk/bahan ekstrak menjamin terstandarisasinya suatu produk. Faktor yang mempengaruhi mutu ekstrak yaitu faktor biologi dan faktor kimia.
Faktor Biologi, meliputi : Identitas jenis (spesies), lokasi tumbuhan asal, periode hasil pemanenan, penyimpanan bahan tumbuhan, umur tumbuhan dan bagian yang digunakan. Faktor Kimia, meliputi : Faktor Internal : Jenis senyawa aktif dalam bahan, komposisi kualitatif senyawa aktif, komposisi kuantitatif senyawa aktif, dan kadar total rata-rata senyawa aktif. Faktor Eksternal : Metode ekstraksi, perbandingan ukuran alat ekstraksi (ukuran, kekerasan, dan kekeringan bahan), pelarut yang digunakan dalam ekstraksi, kandungan logam berat, dan kandungan pestida.

Parameter Non Spesifik
Susut Pengeringan : Pengukuran sisa zat  setelah pengeringan pada temperatur 1050 C selama 30 menit atau sampai berat konstan, yang dinyatakan dalam nilai prosen. Tujuan : Memberikan batasan maksimal (rentang) tentang besarnya senyawa yang hilang pada proses pengeringan
Bobot Jenis adalah massa per satuan volume pada suhu kamar tertentu (250 C) yang ditentukan dengan alat khusus. Tujuan : Untuk memberikan batasan tentang besarnya massa per satuan volume yang merupakan parameter khusus ekstrak cair sampai ekstrak kental yang masih dapat dituang.
Kadar Air. Pengukuran kandungan air yang berada  di dalam bahan dilakukan dengan cara yang tepat diantaranya  cara titrasi, destilasi, atau gravimetri. Tujuan : memberikan batasan minimal atau rentang tentang besarnya kandungan air di dalam bahan. 
Kadar Abu. Bahan dipanaskan pada temperatur dimana senyawa organik dan turunannya terdestruksi dan menguap. Sehingga tinggal unsur mineral dan anorganiknya. Tujuan : Memberikan gambaran kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak
Sisa Pelarut. Menentukan kandungan sisa pelarut tertentu ( yang memang ditambahkan) yang secara umum dengan kromatografi gas. Untuk ekstrak cair berarti kadar pelarutnya , misalnya kadar  alkohol.
Residu Pestisida. Menentukan kandungan sisa pestisida yang mungkin saja pernah ditambahkan atau mengkontaminasi pada bahan simplisia pembuatan ekstrak. Tujuan : Memberikan jaminan bahwa ekstrak tidak mengandung pestisida melebihi nilia yang ditetapkan karena berbahaya (toksik) bagi kesehatan.
Cemaran Logam Berat. Menentukan kandungan logam berat secara spektroskopi serapan atom atau lainnya yang lebih valid. Tujuan : memberi jaminan bahwa ekstrak tidak mengandung logam berat tertentu  (Hg, Pb, Cd, dll) melebihi nilai yang ditetapkan karena berbahaya bagi kesehatan.
Cemaran Mikroba. Menentukan (identifikasi) adanya mikroba yang patogen secara analisis mikrobiologis. Tujuan : Memberikan jaminan bahwa ekstrak tidak boleh mengandung mikroba patogen dan tidak mengandung mikroba non patogen yang melebihi batas yang ditetapkan karena berpengaruh pada stabilitas ekstrak dan berbahaya  bagi kesehatan .
Cemaran kapang, khamir dan aflatoksin. Menetukan adanya jamur secara mikrobiologis dan adanya aflatoksin dengan KLT. Tujuan : memberikan jaminan bahwa ekstrak tidak mengandung cemaran jamur melebihi batas yang ditetapkan karena berpengaruh pada stabilitas ekstrak dan aflatoksin yang berbahaya bagi kesehatan

Parameter Spesifik
Parameter Identitas Ekstrak meliputi Deskripsi tata nama : Nama ekstrak (generik, dagang, paten), nama latin tumbuhan (sistematika botani), bagian tumbuhan yang digunakan, nama Indonesia tumbuhan, dan identitas ekstrak artinya senyawa tertentu yang menjadi petunjuk spesifik dengan metode tertentu. Tujuan : memberikan identitas obyektif dari nama dan spesifik identitas senyawa .
Organoleptik. Penggunaan pancaindra mendeskripsikan bentuk, warna, bau, rasa. Tujuan : Pengenalan awal yang sederhana seobyektif mungkin. Senyawa terlarut dalam pelarut tertentu. Melarutkan ekstrak  dengan suatu pelarut  (air atau alkohol) untuk menentukan jumlah solut yang identik dengan jumlah senyawa kandungan dengan gravimetri.
Kadar sari larut air dan Kadar sari larut etanol. Tujuan : Memberikan gambaran awal jumlah senyawa kandungan.
Uji Kandungan Kimia Ekstrak. Pola Kromatogram : Ekstrak ditimbang, diekstraksi dengan pelarut dan cara tertentu, kemudian dilakukan analisis kromatografi sehingga memberikan pola kromatogram yang jelas. Tujuan : Memberikan gambaran awal komposisi kandungan kimia berdasarkan pola kromatogram (KLT, KCKT, KG). Nilai : Kesamaan pola dengan data baku yang ditetapkan terlebih dahulu
Kadar Total Golongan Kandungan Kimia. Dengan penerapan metode spektrofotometri, titrimetri, volumetri, gravimetri, atau lainnya.  Metode harus teruji validitasnya terutama selektivitas dan linieritas. Beberapa golongan senyawa yang dapat dikembangkan dan ditetapkan metodenya : Golongan minyak atsiri, Golongan steroid, Golongan tannin, Golongan flavonoid, Golongan triterpenoid (saponin), Golongan alkaloid, dan Golongan antrakinon. Tujuan : Memberikan informasi kadar golongan kandungan kimia sebagai parameter mutu ekstrak dalam kaitannya dengan efek farmakologis.
Kadar Kandungan kimia tertentu. Adanya senyawa identitas dalam suatu sampel ekstrak/simplisia , maka secara kromatografi instrumen dapat dilakukan penetapan kadar kandungan kimia tersebut. Instrumen yang dapat digunakan adalah Densitometer, KG, KCKT, atau lainnya yang telah teruji validitasnya, yaitu batas deteksi, selektiitas, linieritas, ketelitian, ketepatan, dll. Tujuan : Memberikan data kadar kandungan kimia tertentu sebagai suatu identitas atau senyawa yang diduga bertanggungjawab pada efek farmakologi. (Sekolah Tinggi Farmasi Bandung, Kelas Ekstensi 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar