Ekstrak tumbuhan
obat yang dibuat dari simplisia nabati dapat dipandang sebagai bahan awal,
bahan antar, atau bahan produksi jadi. Terpenuhinya standar mutu produk/bahan
ekstrak menjamin terstandarisasinya suatu produk. Faktor yang mempengaruhi mutu ekstrak yaitu faktor biologi dan
faktor kimia.
Faktor
Biologi, meliputi : Identitas jenis (spesies), lokasi tumbuhan asal, periode
hasil pemanenan, penyimpanan bahan tumbuhan, umur tumbuhan dan bagian yang
digunakan. Faktor Kimia, meliputi : Faktor Internal : Jenis senyawa aktif
dalam bahan, komposisi kualitatif senyawa aktif, komposisi kuantitatif senyawa
aktif, dan kadar total rata-rata senyawa aktif. Faktor Eksternal : Metode ekstraksi, perbandingan ukuran alat
ekstraksi (ukuran, kekerasan, dan kekeringan bahan), pelarut yang digunakan
dalam ekstraksi, kandungan logam berat, dan kandungan pestida.
Parameter
Non Spesifik
Susut
Pengeringan : Pengukuran sisa zat setelah pengeringan pada temperatur 1050
C selama 30 menit atau sampai berat konstan, yang dinyatakan dalam nilai
prosen. Tujuan : Memberikan batasan maksimal (rentang) tentang besarnya senyawa
yang hilang pada proses pengeringan
Bobot
Jenis adalah massa per satuan volume pada suhu kamar
tertentu (250 C) yang ditentukan dengan alat khusus. Tujuan : Untuk
memberikan batasan tentang besarnya massa per satuan volume yang merupakan
parameter khusus ekstrak cair sampai ekstrak kental yang masih dapat dituang.
Kadar
Air.
Pengukuran kandungan air yang berada di
dalam bahan dilakukan dengan cara yang tepat diantaranya cara titrasi, destilasi, atau gravimetri. Tujuan
: memberikan batasan minimal atau rentang tentang besarnya kandungan air di
dalam bahan.
Kadar
Abu.
Bahan dipanaskan pada temperatur dimana senyawa organik dan turunannya
terdestruksi dan menguap. Sehingga tinggal unsur mineral dan anorganiknya. Tujuan
: Memberikan gambaran kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal
dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak
Sisa
Pelarut. Menentukan kandungan sisa pelarut tertentu ( yang
memang ditambahkan) yang secara umum dengan kromatografi gas. Untuk ekstrak
cair berarti kadar pelarutnya , misalnya kadar
alkohol.
Residu
Pestisida. Menentukan kandungan sisa pestisida yang mungkin
saja pernah ditambahkan atau mengkontaminasi pada bahan simplisia pembuatan
ekstrak. Tujuan : Memberikan jaminan bahwa ekstrak tidak mengandung pestisida
melebihi nilia yang ditetapkan karena berbahaya (toksik) bagi kesehatan.
Cemaran
Logam Berat. Menentukan kandungan logam berat
secara spektroskopi serapan atom atau lainnya yang lebih valid. Tujuan :
memberi jaminan bahwa ekstrak tidak mengandung logam berat tertentu (Hg, Pb, Cd, dll) melebihi nilai yang
ditetapkan karena berbahaya bagi kesehatan.
Cemaran
Mikroba. Menentukan (identifikasi) adanya mikroba yang
patogen secara analisis mikrobiologis. Tujuan : Memberikan jaminan bahwa
ekstrak tidak boleh mengandung mikroba patogen dan tidak mengandung mikroba non
patogen yang melebihi batas yang ditetapkan karena berpengaruh pada stabilitas
ekstrak dan berbahaya bagi kesehatan .
Cemaran
kapang, khamir dan aflatoksin. Menetukan adanya
jamur secara mikrobiologis dan adanya aflatoksin dengan KLT. Tujuan :
memberikan jaminan bahwa ekstrak tidak mengandung cemaran jamur melebihi batas
yang ditetapkan karena berpengaruh pada stabilitas ekstrak dan aflatoksin yang
berbahaya bagi kesehatan
Parameter
Spesifik
Parameter
Identitas Ekstrak meliputi Deskripsi tata nama : Nama ekstrak
(generik, dagang, paten), nama latin tumbuhan (sistematika botani), bagian
tumbuhan yang digunakan, nama Indonesia tumbuhan, dan identitas ekstrak artinya
senyawa tertentu yang menjadi petunjuk spesifik dengan metode tertentu. Tujuan
: memberikan identitas obyektif dari nama dan spesifik identitas senyawa .
Organoleptik.
Penggunaan pancaindra mendeskripsikan bentuk, warna, bau, rasa. Tujuan :
Pengenalan awal yang sederhana seobyektif mungkin. Senyawa terlarut dalam
pelarut tertentu. Melarutkan ekstrak
dengan suatu pelarut (air atau
alkohol) untuk menentukan jumlah solut yang identik dengan jumlah senyawa
kandungan dengan gravimetri.
Kadar sari larut air dan Kadar sari
larut etanol. Tujuan : Memberikan gambaran awal
jumlah senyawa kandungan.
Uji Kandungan Kimia Ekstrak.
Pola Kromatogram : Ekstrak ditimbang, diekstraksi dengan pelarut dan cara
tertentu, kemudian dilakukan analisis kromatografi sehingga memberikan pola
kromatogram yang jelas. Tujuan : Memberikan gambaran awal komposisi kandungan
kimia berdasarkan pola kromatogram (KLT, KCKT, KG). Nilai : Kesamaan pola
dengan data baku yang ditetapkan terlebih dahulu
Kadar Total Golongan Kandungan
Kimia. Dengan penerapan metode spektrofotometri,
titrimetri, volumetri, gravimetri, atau lainnya. Metode harus teruji validitasnya terutama
selektivitas dan linieritas. Beberapa golongan senyawa yang dapat dikembangkan
dan ditetapkan metodenya : Golongan minyak atsiri, Golongan steroid, Golongan
tannin, Golongan flavonoid, Golongan triterpenoid (saponin), Golongan alkaloid,
dan Golongan antrakinon. Tujuan : Memberikan informasi kadar golongan kandungan
kimia sebagai parameter mutu ekstrak dalam kaitannya dengan efek farmakologis.
Kadar Kandungan kimia tertentu.
Adanya senyawa identitas dalam suatu sampel ekstrak/simplisia , maka secara
kromatografi instrumen dapat dilakukan penetapan kadar kandungan kimia
tersebut. Instrumen yang dapat digunakan adalah Densitometer, KG, KCKT, atau
lainnya yang telah teruji validitasnya, yaitu batas deteksi, selektiitas,
linieritas, ketelitian, ketepatan, dll. Tujuan : Memberikan data kadar
kandungan kimia tertentu sebagai suatu identitas atau senyawa yang diduga
bertanggungjawab pada efek farmakologi. (Sekolah Tinggi Farmasi Bandung, Kelas
Ekstensi 2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar