Analgesik ialah istilah yang
digunakan untuk mewakili sekelompok obat yang digunakan sebagai penahan sakit.
Obat analgesik termasuk obat antiradang non-steroid (NSAID) seperti salisilat,
obat narkotika seperti morfin dan obat sintesis bersifat narkotik seperti
tramadol.
NSAID seperti
aspirin, naproksen, dan ibuprofen bukan saja melegakan sakit, malah obat ini
juga bisa mengurangi demam dan kepanasan. Analgesik bersifat narkotik seperti
opioid dan opidium bisa menekan sistem saraf utama dan mengubah persepsi
terhadap kesakitan (noisepsi). Obat jenis ini lebih berkesan mengurangi rasa
sakit dibandingkan NSAID.
Analgesik
seringkali digunakan secara gabungan serentak, misalnya bersama parasetamol dan
kodein dijumpai di dalam obat penahan sakit (tanpa resep). Gabungan obat ini
juga turut dijumpai bersama obat pemvasocerut seperti pseudoefedrin untuk obat
sinus, atau obat antihistamin untuk alergi. Jenis-jenis obat analgesik ialah: Aspirin,
Asetaminofen, Kodein
Aspirin
Aspirin atau asam asetilsalisilat
(asetosal) adalah sejenis obat turunan dari salisilat yang sering digunakan
sebagai senyawa analgesik (penahan rasa sakit atau nyeri minor), antipiretik
(terhadap demam), dan anti-inflamasi (peradangan). Aspirin juga memiliki efek
antikoagulan dan dapat digunakan dalam dosis rendah dalam tempo lama untuk
mencegah serangan jantung. Kepopuleran penggunaan aspirin sebagai obat dimulai
pada tahun 1918 ketika terjadi pandemik flu di berbagai wilayah dunia.
Awal mula
penggunaan aspirin sebagai obat diprakarsai oleh Hippocrates yang menggunakan
ekstrak tumbuhan willow untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Kemudian senyawa
ini dikembangkan oleh perusahaan Bayer menjadi senyawa asam asetilsalisilat
yang dikenal saat ini.
Aspirin adalah
obat pertama yang dipasarkan dalam bentuk tablet. Sebelumnya, obat
diperdagangkan dalam bentuk bubuk (puyer). Dalam menyambut Piala Dunia FIFA
2006 di Jerman, replika tablet aspirin raksasa dipajang di Berlin sebagai
bagian dari pameran terbuka Deutschland, Land der Ideen ("Jerman, negeri
berbagai ide").
Sejarah penemuan
: Senyawa alami dari tumbuhan yang digunakan sebagai obat ini telah ada sejak
awal mula peradaban manusia. Di mulai pada peradaban Mesir kuno, bangsa
tersebut telah menggunakan suatu senyawa yang berasal dari daun willow untuk
menekan rasa sakit. Pada era yang sama, bangsa Sumeria juga telah menggunakan
senyawa yang serupa untuk mengatasi berbagai jenis penyakit. Hal ini tercatat
dalam ukiran-ukiran pada bebatuan di daerah tersebut. Barulah pada tahun 400
SM, filsafat Hippocrates menggunakannya sebagai tanaman obat yang kemudian
segera tersebar luas.
Zaman modern
: Reverend Edward Stone dari Chipping Norton, Inggris, merupakan orang pertama
yang mempublikasikan penggunaan medis dari aspirin. Pada tahun 1763, ia telah
berhasil melakukan pengobatan terhadap berbagai jenis penyakit dengan
menggunakan senyawa tersebut. Pada tahun 1826, peneliti berkebangsaan Italia, Brugnatelli
dan Fontana, melakukan uji coba terhadap penggunaan suatu senyawa dari daun
willow sebagai agen medis. Dua tahun berselang, pada tahun 1828, seorang ahli
farmasi Jerman, Buchner, berhasil mengisolasi senyawa tersebut dan diberi nama
salicin yang berasal dari bahasa latin willow, yaitu salix.
Senyawa ini
memiliki aktivitas antipiretik yang mampu menyembuhkan demam. Penelitian
mengenai senyawa ini berlanjut hingga pada tahun 1830 ketika seorang ilmuwan
Perancis bernama Leroux berhasil mengkristalkan salicin. Penelitian ini kemudian dilanjutkan oleh ahli
farmasi Jerman bernama Merck pada tahun 1833. Sebagai hasil penelitiannya, ia
berhasil mendapatkan kristal senyawa salicin dalam kondisi yang sangat murni.
Senyawa asam salisilat sendiri baru ditemukan pada tahun 1839 oleh Raffaele
Piria dengan rumus empiris C7H6O3.
Bayer : Bayer meupakan
perusahaan pertama yang berhasil menciptakan senyawa aspirin (asam
asetilsalisilat). Ide untuk memodifikasi senyawa asam salisilat
dilatarbelakangi oleh banyaknya efek negatif dari senyawa ini. Pada tahun 1945,
Arthur Eichengrun dari perusahaan Bayer mengemukakan idenya untuk menambahkan
gugus asetil dari senyawa asam salisilat untuk mengurangi efek negatif
sekaligus meningkatkan efisiensi dan toleransinya. Pada tahun 1897, Felix
Hoffmann berhasil melanjutkan gagasan tersebut dan menciptakan senyawa asam
asetilsalisilat yang kemudian umum dikenal dengan istilah aspirin. Aspirin
merupakan akronim dari:
A
|
: Gugus asetil
|
spir
|
: nama bunga tersebut dalam
bahasa Latin
|
spiraea
|
: suku kata tambahan yang sering
kali digunakan
|
in
|
: untuk zat pada masa tersebut.
|
Aspirin adalah
zat sintetik pertama di dunia dan penyebab utama perkembangan industri
farmateutikal. Bayer mendaftarkan aspirin sebagai merek dagang pada 6 Maret 1899.
Felix Hoffmann bukanlah orang pertama yang berusaha untuk menciptakan senyawa
aspirin ini. Sebelumnya pada tahun 1853, seorang ilmuwan Perancis bernama
Frederick Gerhardt telah mencoba untuk menciptakan suatu senyawa baru dari
gabungan asetil klorida dan sodium salisilat. Aspirin dijual sebagai obat pada
tahun 1899 setelah Felix Hoffmann berhasil memodifikasi asam salisilat, senyawa
yang ditemukan dalam kulit kayu dedalu.
Bayer kehilangan
hak merek dagang setelah pasukan sekutu merampas dan menjual aset luar
perusahaan tersebut setelah Perang Dunia Pertama. Di Amerika Serikat (AS), hak
penggunaan nama aspirin telah dibeli oleh AS melalui Sterling Drug Inc., pada
1918. Walaupun masa patennya belum berakhir, Bayer tidak berhasil menghalangi
saingannya dari peniruan rumus kimia dan menggunakan nama aspirin. Akibatnya,
Sterling gagal untuk menghalangi "Aspirin" dari penggunaan sebagai
kata generik. Di negara lain seperti Kanada, "Aspirin" masih dianggap
merek dagang yang dilindungi.\
Kerja Aspirin
: Menurut kajian John Vane, aspirin menghambat pembentukan hormon dalam tubuh
yang dikenal sebagai prostaglandins. Siklooksigenase, sejenis enzim yang
terlibat dalam pembentukan prostaglandins dan tromboksan, terhenti tak berbalik
apabila aspirin mengasetil enzim tersebut.
Prostaglandins
ialah hormon yang dihasilkan di dalam tubuh dan mempunyai efek pelbagai di
dalam tubuh termasuk proses penghantaran rangsangan sakit ke otak dan
pemodulatan termostat hipotalamus. Tromboksan pula bertanggungjawab dalam
pengagregatan platlet. Serangan jantung disebabkan oleh penggumpalan darah dan
rangsangan sakit menuju ke otak. Oleh itu, pengurangan gumpalan darah dan
rangsangan sakit ini disebabkan konsumsi aspirin pada kadar yang sedikit
dianggap baik dari segi pengobatan.
Namun, efeknya
darah lambat membeku menyebabkan pendarahan berlebihan bisa Terjadi. Oleh itu,
mereka yang akan menjalani pembedahan atau mempunyai masalah pendarahan tidak
diperbolahkan mengonsumsi aspirin.
Aspirin ini
dibuat dengan cara esterifikasi, dimana bahan aktif dari aspirin yaitu asam
salisitat direaksikan dengan asam asetat anhidrad atau dapat juga direaksikan
dengan asam asetat glacial bila asam asetat anhidrad sulit untuk ditemukan.
Asam asetat anhidrad ini dapat digantikan dengan asam asetat glacial karena
asam asetat glacial ini bersifat murni dan tidak mengandung air selain itu asam
asetat anhidrad juga terbuat dari dua asan asetat galsial sehingga pada
pereaksian volumenya semua digandakan. Pada proses pembuatan reaksi
esterifikasi ini dibantu oleh suatu katalis asam untuk mempercepat reaksi.
Tetapi pada penambahan katalis ini tidak terlalu berefek maka dilakukan lah
pemanasan untuk mempercepat reaksinya. Pada pembuatan aspirin juga ditambahkan
air untuk melakukan rekristalisasi berlangsung cepat dan akan terbentuk
endapan. Endapan inilah yang merupakanaspirin.
Parasetamol
Parasetamol atau asetaminen adalah
obat analgesik dan antipiretik yang populer dan digunakan untuk melegakan sakit
kepala, sengal-sengal dan sakit ringan, serta demam. Digunakan dalam sebagian
besar resep obat analgesik selesma dan flu. Ia aman dalam dosis standar, tetapi
karena mudah didapati, overdosis obat baik sengaja atau tidak sengaja sering
terjadi.
Berbeda dengan
obat analgesik yang lain seperti aspirin dan ibuprofen, parasetamol tak
memiliki sifat antiradang. Jadi parasetamol tidak tergolong dalam obat jenis
NSAID. Dalam dosis normal, parasetamol tidak menyakiti permukaan dalam perut
atau mengganggu gumpalan darah, ginjal, atau duktus arteriosus pada janin.
Asal kata : Kata
asetaminofen dan parasetamol berasal dari singkatan nama kimia bahan tersebut: Versi
Amerika N-asetil-para-aminofenol asetominofen. Versi Inggris
para-asetil-amino-fenol parasetamol
Sejarah : Sebelum
penemuan asetaminofen, kulit sinkona digunakan sebagai agen antipiretik, selain
digunakan untuk menghasilkan obat antimalaria, kina. Karena pohon sinkona
semakin berkurang pada 1880-an, sumber alternatif mulai dicari. Terdapat dua
agen antipiretik yang dibuat pada 1880-an; asetanilida pada 1886 dan fenasetin pada
1887. Pada masa ini, parasetamol telah disintesis oleh Harmon Northrop Morse
melalui pengurangan p-nitrofenol bersama timah dalam asam asetat gletser.
Biarpun proses
ini telah dijumpai pada tahun 1873, parasetamol tidak digunakan dalam bidang
pengobatan hingga dua dekade setelahnya. Pada 1893, parasetamol telah ditemui
di dalam air kencing seseorang yang mengambil fenasetin, yang memekat kepada
hablur campuran berwarna putih dan berasa pahit. Pada tahun 1899, parasetamol
dijumpai sebagai metabolit asetanilida. Namun penemuan ini tidak dipedulikan
pada saat itu.
Pada 1946,
Lembaga Studi Analgesik dan Obat-obatan Sedatif telah memberi bantuan kepada
Departemen Kesehatan New York untuk mengkaji masalah yang berkaitan dengan agen
analgesik. Bernard Brodie dan Julius Axelrod telah ditugaskan untuk mengkaji
mengapa agen bukan aspirin dikaitkan dengan adanya methemoglobinemia, sejenis
keadaan darah tidak berbahaya. Di dalam tulisan mereka pada 1948, Brodie dan
Axelrod mengaitkan penggunaan asetanilida dengan methemoglobinemia dan
mendapati pengaruh analgesik asetanilida adalah disebabkan metabolit
parasetamol aktif. Mereka membela penggunaan parasetamol karena memandang bahan
kimia ini tidak menghasilkan racun asetanilida.
Penggunaan
1. Demam
Parasetamol telah disetujui
sebagai penurun demam untuk segala usia. WHO hanya merekomendasikan penggunaan
parasetamol sebagai penurun panas untuk anak-anak jika suhunya melebihi 38.5 C.
Namun efektivitas parasetamol sendiri untuk demam anak masih dipertanyakan,
jika dibandingkan dengan efektivitas ibuprofen.
2. Nyeri
Parasetamol digunakan
untuk meredakan nyeri. Obat ini mempunyai aktivitas sebagai analgesik, tetapi
aktivitas antiinflamasinya sangat lemah. Parasetamol lebih dapat ditoleransi
oleh pasien yang mempunyai riwayat gangguan pencernaan, seperti pengeluaran
asam lambung berlebih dan pendarahan lambung, dibandingkan dengan aspirin.
Efek Samping : Pada
dosis yang direkomendasikan, parasetamol tidak mengiritasi lambung, memengaruhi
koagulasi darah, atau memengaruhi fungsi ginjal. Namun, pada dosis besar (lebih
dari 2000 mg per hari) dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan bagian
atas. Hingga tahun 2010, parasetamol dipercaya aman untuk digunakan selama masa
kehamilan.
Kelebihan Dosis : Penggunaan parasetamol di atas rentang
dosis terapi dapat menyebabkan gangguan hati. Pengobatan toksisitas parasetamol
dapat dilakukan dengan cara pemberian asetilsistein (N-asetil sistein) yang
merupakan prekusor glutation, membantu tubuh untuk mencegah kerusakan hati
lebih lanjut.
Mekanisme Aksi
Mekanisme aksi
utama dari parasetamol adalah hambatan terhadap enzim siklooksigenase (COX:
cyclooxigenase), dan penelitian terbaru menunjukkan bahwa obat ini lebih
selektif menghambat COX-2. Meskipun mempunyai aktivitas antipiretik dan
analgesik, tetapi aktivitas antiinflamasinya sangat lemah karena dibatasi
beberapa faktor, salah satunya adalah tingginya kadar peroksida dapat lokasi
inflamasi. Hal lain, karena selektivitas hambatannya pada COX-2, sehingga obat
ini tidak menghambat aktivitas tromboksan yang merupakan zat pembekuan darah.
Kodein
Kodeina atau kodein (bahasa
Inggris: codeine, methylmorphine) ialah asam opiat alkaloid yang dijumpai di
dalam candu dalam konsentrasi antara 0,7% dan 2,5%. Kebanyakan kodein yang
digunakan di Amerika Serikat diproses dari morfin melalui proses metilasi.
Kodein yang
terkonsumsi akan teraktivasi oleh enzim CYP2D6 di dalam hati menjadi morfin,
sebelum mengalami proses glusuronidasi, sebuah mekanisme detoksifikasi bagi
xenobiotik. Walau bagaimanapun, morfin tersebut tidak dapat digunakan,
mengingat 90% kodein yang diambil akan dimusnahkan dalam usus halus (rembesan
dari hati) sebelum berhasil memasuki peredaran darah. Oleh itu, kodein
seolah-olah tidak berpengaruh atas penggunanya, namun efek samping seperti analgesia,
sedasi, dan kemurungan pernapasan masih terasa.
Kodein digunakan
sebagai peredam sakit ringan. Kodein selalu dibuat dalam bentuk pil atau cairan
dan bisa diambil baik secara sendirian atau gabungan dengan kafein, aspirin,
asetaminofen, atau ibuprofen. Kodein sangat berperan untuk meredakan batuk. Seperti
semua jenis opioid, penggunaan kodeina yang berkelanjutan mengakibatkan
ketergantungan secara fisik dan psikologi. Sebuah kelompok yang bernama Codeine
Free didirikan untuk membantu mereka yang mengalami ketergantungan pada
kodeina. Kodein merupakan obat yang paling banyak digunakan dalam perawatan
kesehatan. (Akfar PIM, 2010)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar