Mulai merantau 2009. Mudik pertama 2014 (1 minggu di rumah). Mudik kedua 2017 (1 bulan di rumah). Mudik berikut dan berikutnya lagi moga bukan mudik namanya, tapi pulang kampung. Hehee.. Kalau mudik 2014 waktu itu saya mudik naik kapal putih, sekarang naik pesawat dari
Surabaya ke Manokwari. Jadi Surabaya – Makassar – Manokwari.
Sampai di Bandara Rendani, Manokwari langsung
menuju ke Pasar Wosi. Di sana banyak mobil-mobil Hilux apa Strada yang biasa
angkut penumpang dari jalur Manokwari – Bintuni.
Sebenarnya Manokwari – Bintuni naik
pesawat Susi Air juga bisa. Tapi kalau naik mobil kelebihannya bisa bayar
setelah sampai di rumah. Hehee..
Nih, piaraan aku di rumah. Dipiara dari
kecil. Induknya mati di tangan pemburu, anaknya aku rawat. Jadi kepikiran
pengen ternak rusa. Haha
Jangan ngaku orang Papua kalau belum
terbiasa makan pinang sama sirih.
Nama lain dari Kota Bintuni adalah Kota
Kepiting, sampai bosen kamu makan kepiting di sini. Maklum, namanya juga Teluk
Bintuni. Kawasan teluk, kawasan rawa. Banyak kepiting di sini. Semoga saja
ekosistemnya terus terjaga sampai anak cucu. Pembangunan mulai menggeliat
soalnya di sini.
Daging rusa juga sampai bosen di sini.
Rusa melimpah, tapi sebaiknya satwa satu ini harus diberi perhatian kusus
supaya tidak langka terus punah seperti di Jawa.
Tugu silat yang di barak belakang rumah.
Salam persaudaraan.. :D
Beda generasi, tapi tetap dengan cerita
yang sama. Dulu aku angkatan pertama, anggotanya baru belasan. Sekarang sudah
ratusan. Jaya terus PSHT !!
Sebulan di rumah, aku balik lagi ke
Jawa. Lewat Manokwari lagi, tidak naik pesawat, tapi naik kapal putih.
Perjalanan darat yang memanjakan mata.
Perjalanan Bintuni – Manokwari.
Siap-siap, lima hari kita akan
mengarungi laut. Papua – Maluku – Sulawesi – Kalimantan – Jawa.
Laut biru, sepanjang jauh mata memandang
hanya laut biru membentang.
Sepoi-sepoi angin laut. Asin dan semilir.
Sunsite di tengah laut. Indah bukan?
Waktu kapal akan sandar di Balikpapan,
Kalimantan.
Wajah-wajah bahagia ini dilatar
belakangi karena sebentar lagi kapal sandar di Pelabuhan Tanjung Perak,
Surabaya. Akhirnya, turun ke darat juga setelah lima hari terapung-apung di
lautan. Oh senangnya. Perjalanan Papua – Jawa kalau sendirian memang paling
enak naik pesawat, tapi kalau rame-rame banyak kawan paling asyik ya naik kapal
putih. (Ali Ridwan, 2017)

















Tidak ada komentar:
Posting Komentar