Rabu, 23 Agustus 2017

Sebuah Cerita Motivasi dari Tanah Rantau

 
Hidup di pedalaman Papua pada masa pemerintahan Soeharto adalah berkah sekaligus musibah. Berkah, sebab hanya pada masa itu dua petak tanah bisa diperoleh secara cuma-cuma lewat program transmigrasi. Musibah, sebab pembangunan hanya terpusat di Pulau Jawa, luar Jawa dibiarkan terbengkalai begitu saja, padahal kekayaan alam yang melimpah ruah seperti di Papua tiap tahun jadi penghasilan terbesar bagi devisa negara.

Hidup di tengah rimba belantara seperti itu, tertinggal dan terkucilkan begitu, cita-cita apa yang bisa diimpikan oleh  bocah-bocah kecil dari pedalaman. Tidak ada rumah sakit, tidak anak-anak yang terisnpirasi menjadi dokter, suster, dan perawat. Tidak ada kantor-kantor megah dengan gedung bertingkat, tidak ada anak-anak yang terisnpirasi jadi pebisnis-pebisnis muda dengan pakaian rapi dan berdasi. Tidak ada itu cita-cita yang ingin berprofesi sebagai pengacara, psikolog, penulis, arsistektur, sutradara, atlit, pelukis, apalagi bintang iklan. Paling tinggi bocah-bocah fakir pengetahuan itu cuma bisa bercita-cita jadi polisi, tentara, dan pegawai negeri. Padahal kalau mau maju suatu negara, anak-anak mudanya harus berjiwa pengusaha bukan bermental babu, anak-anak mudanya harus punya karier profesional bukan jadi pekerja serebutan.

Pada masa itu, pada tahun sembilan puluhan itu, hiburan paling merakyat ialah sandiwara radio yang sering diperdengarkan melalui saluran RRI. Cerita kolosal Tutur Tinular jadi salah satu paling digemari, dan aku salah satu pendengar setianya, sebab itu aku kecil punya cita-cita yang berbeda dari anak-anak lain pada umumnya.  Bila anak-anak lain dengan polosnya bilang ingin jadi petani, nelayan, sopir, dan semacamnya. Aku dengan percaya dirinya bilang “Aku ingin jadi seperti Arya Kamandanu dan Arya Dwipangga”.

Ya, aku ingin jadi tokoh fiksi putra Empu Hanggareksa ciptaan S. Tijap dalam cerita sandiwara radio itu. Sewaktu kecil aku memang ingin sekali menjadi seorang pendekar kesatria seperti Arya Kamandanu, aku pun ingin sekali menjadi seorang pujangga yang lihai bersyair dan berpuisi seperti Arya Dwipangga. Bisa memadukan kedua karakternya, bukankah itu keren?

Waktu berlalu, sewaktu aku duduk di bangku SMK, kelakon sudah cita-citaku yang pertama. Dua tahun setengah, sambil sekolah aku mendalami ilmu beladiri pencak silat. Aku sadar betul, untuk menjadi seorang pendekar kesatria sejati, nanti setelah lulus SMK mau tak mau aku harus merantau, atau istilah lain dalam cerita masa kerajaan itu ialah mengembara. Sebagaimana Kamandanu yang harus mengembara setelah berguru pada Empu Ranubaya, aku pun akan mengembara setelah menjadi master silat yang saripati ilmunya dikembangkan oleh Ki Ngabahi Suro Diwiryo saat mengembara dari Tanah Jawa bagian timur dan barat, bahkan sampai ke Sumatra dan Bali.  Berbekal ijazah SMK dan ilmu silat yang aku miliki, aku siap menapaki tanah rantau. Desa kecil tengah rimba di tepi teluk, aku akan sangat merindukan tempat ini kelak.

Waktu terus berlalu, semakin besar aku semakin dipaksa untuk realistis terhadap jalan hidup. Pertengahan 2009 aku merantau untuk mendaftar sebagai calon prajurit TNI, jelas ini bertentangan dengan nuraniku. Arya Kamandanu, meski ia salah seorang panglima Majapahit, tapi statusnya tetap sebagai pendekar. Hal itu ia buktikan dengan pendiriannya, ia tak mau terlibat dalam percaturan politik kerajaan. Kamandanu tidak memihak pada Ranggalawe, Lembu Sora, Nambi, bahkan Halayuda. Kamandanu hanya setia mengabdi pada negerinya Majapahit. Benar, dalam militer nanti saat aku menjadi prajurit ksatria, mungkin aku tak tersentuh politik. Tapi dengan menjadi prajurit murni, sama artinya aku akan terikat dan aku harus memihak sebagaimana prajurit Tuban yang harus patuh dan setia di bawah pimpinan Adipati Ranggalawe atau prajurit Lumajang yang harus patuh dan setia pada Patih Nambi, lalu atas dasar itu mereka kemudian dicap pemberontak oleh Majapahit. Aku tidak mau jadi prajurit penguasa, aku mau jadi pendekar yang tetap cinta pada negaranya tanpa terikat oleh suatu kepentingan apapun seperti panglima besar Majapahit Arya Kamandanu.

Pada pertengahan 2010, pertama aku menginjakkan kaki di Tanah Jawa setelah 18 tahun hidup di pedalaman Papua, dan itulah awal pengembaraanku menyusuri Pulau Jawa dari timur, barat, lalu ke tengah.

Di zaman yang modern dan semakin maju begini, tidak mungkin aku mengembara hanya sambil luntang-lantung begitu saja. Maka aku putuskan, sambil mengembara aku akan menjadi seorang mahasiswa, dan kampus pertamaku adalah DIII Akademi Farmasi P.I Malang. Harusnya aku masuk fakultas sastra, supaya bisa seperti Arya Dwipangga, tapi garis tangan barkata lain, aku malah belajar ilmu obat seperti Nyai Paricara. Bukan jalan hidup yang buruk, toh tahbib pun merupakan profesi yang mulia.

Malang, aku pikir bukan tanpa sebab aku akhirnya terdampar di sini. Malang, kota pendidikan yang juga kota wisata ini adalah setting lokasi utama dari cerita sejarah Tutur Tinular itu. Malang, bila ke arah Tumpang identik dengan wisata alam pegunungan dari Bromo sampai Sumeru, ke arah Turen identik dengan wisata Pantai dari Balaikambang sampai Sendang Biru, ke arah Batu identik dengan wisata air terjun dari Coban Rondo sampai Cangar, dan ke arah Surabaya sudah pasti Singhasari dan Tumapel, dua tempat yang sering dissebut-sebut dalam cerita kolosal itu. Singghasari, tempat dimana dulu Ken Arok mendirikan kerajaannya setelah mengkudeta Tunggul Ametung dari kerajaan Kediri. Singghasari, yang kemudian jatuh setelah Prabu Kartanegara diserbu mendadak oleh Prabu Jayakatwang dari trah Tunggul Ametung. Singghasari yang kemudian runtuh setelah Prabu Wijaya menantu Prabu Kartanegara berhasil memperdaya prajurit Mongol untuk menghabisi kekuasaan Prabu Jayakatwang dari Tanah Singghasari, hingga berdirilah kerajaan Majapahit.

Di tempat bersejarah ini, aku menikmati hari-hariku dengan imajinasiku. Peperangan demi peperangan, sudah berapa ribu bala tentara yang tumpah darahnya dan menjadi tumbal di atas tanah keramat yang sedang aku pijak ini. Dalam pengembaraan ini, kadang dengan tanpa cacat aku sedang memerankan sosok Kamandanu dari dunia modern. Hanya saja bedanya, kalau Kamandanu dari desa Kurawan di daerah Dolopo, sebuah kota kecil diantara Madiun dan Ponorogo. Aku dari pedalaman Papua, dari sebuah desa pedalaman di Teluk Bintuni. Tapi aku pikir sama saja, meski tinggal dan besar di Papua, aktaku kelahiran ponorogo dan aku juga masih suku Jawa asli dari Ponorogo.

Cerita terpahit selama tiga tahun aku napak tilas di Bumi Arema ini, ialah saat pertengahan tahun 2011. Kala itu, hidupku layaknya roda yang berputar secara monoton dan membosankan. Kuliah, awal bulan saldo ATM tebal, akhir bulan merana dan harus berhutang hanya sekedar untuk makan. Untuk mendobrak itu, saya berfikir kalau aku harus punya bisnis sendiri buat sampingan. Kebetulan waktu itu sedang ramai-ramainya bisnis MLM (Multi Level Marketing). Secara kebetulan juga, ayah mengirim uang jajankan untuk dua bulan dalam satu kali kiriman. Tergiur kata-kata manis seorang kawan yang kalau boleh kusebut karakternya mungkin mirip dengan Halayuda itu, kuputuskan uang kiriman orang tua untuk jatah makan selama dua bulan itu sebagai investasi awal gabung di bisnis jaringan itu. Setelah transaksi itu terjadi, aku baru sadar kalau bisnis ini tak menghasilkan dalam waktu dekat itu artinya selama dua bulan kedepan aku akan bertahan hidup hanya dengan uang Rp 50.000,- saja, itu uang sisa dari uang ajankau bulan lalu. Mampukah? Jujur aku sangsi.

Satu minggu pertama, aku coba siasati kekurangan uang itu dengan menerima apapun pekerjaan sampingan asal bisa dikerjakan sambil kuliah. Aku pernah berjualan jam tangan dengan model marketing sistem, aku pernah menjadi pekerja lepas sebagai pialang saham, dan telah bergabung di bisnis jaringan tentu aku pun harus berupaya mengembang jaringan dengan mencari orang melalui prospek-prospek yang dilakukan oleh tim. Dengan pekerjaan seperti itu, jujur aku muak. Aku seorang pendekar kesatria pembela kebajikan, harusnya memburu penjahat, bukan pembela materi yang memburu konsumen. Sehingga pada minggu ketiga itu aku katakan “Sudah cukup, aku selesai dengan semua ini!”

Pada minggu ketiga itu, cadangan berasku sudah habis. Ikan asin, teri, telur, minyak goreng, semua habis, uang di dompet pun sudah tidak ada. Dan aku akan bertahan hidup karena percaya dengan kata-kata dari Sudjiwo Tejo ini “Menghina Tuhan, tidak harus dengan menginjak-injak kitab sucinya, khawatir besok tidak makan saja, itu sudah menghinakannya”. Aku percaya kebesaran Sang Pencipta, aku tak menghinakannya sebab itu aku tak khawatir dengan apa yang akan mengisi perutku di esok hariku.

Aku tak suka merepotkan kawan, aku tak mau hidup dengan menjadi beban buat orang lain. Jika itu saja pantangan buatku, apalagi sampai berpikir untuk berbuat yang tidak-tidak, melakukan pekerjaan haram sekedar untuk mengganjal perut. Tidak. Aku lebih baik mati kelaparan daripada hidup kenyang tapi sebagai maling. Aku akan bisa menahan rasa lapar ini seharian nanti. Setidaknya dengan tidur dan mata terpejam.

Keesokan harinya aku kembali terbangun. Sial, baru kali ini aku merasakan kelaparan, lapar, sungguh lapar sekali rasanya setelah seharian kemarin tidak makan, hari ini pun aku terancam tak makan. Aku benar-benar menyesali kecerobohanku, tapi tidak dengan kenekatanku. Seorang pendekar, harus berani mengambil keputusan, dan menerima segala resiko yang terjadi. Inilah musuh yang harus dihadapinya dalam pengembaraanya.

Malam berikutnya aku tidak bisa tidur, gelisah di tempat tidur sambil beringsut ke sana dan kemari saraya menahan lapar. Ah lapar sekali, makanan mana makanan aku butuh makan.

Jangan pikir aku mulai gila, aku masih waras, dalam kewarasan itu aku pun berfikir, dalam pengembaraan ini ternyata musuh beratku bukan pendekar bertongkat seperti Empu Tong Bajil, kalaupun Empu Tong Bajil itu ada aku pun tak memiliki pusaka maha sakti Pedang Nagapuspa untuk menandinginya. Di tanah perantauan ini, musuh terbesarku adalah gengsi dan idealisme dalam egoku sendiri. Aku terlalu kaku dengan prinsipku. Di sini, nampaknya aku harus meniru Pangeran Rama Wijaya, menuruti nasehat Prabu Arya Wiraraja dari Sumenep. Menggunakan kebesaran hati, mengalahkan ego, sambil kembali membangun motivasi dan kepercayaan diri dalam hidup yang runtuh.

Untuk pertama kalinya, aku membolos kuliah. Sungguh aku tak akan pernah melakukan ini andai saja tubuhku tidak terlalu letih hanya sekedar untuk berjalan keluar kamar. Aku tak kuasa menitihkan air mata, saat sahabat-sahabatku menjenguk sambil membawakan nasi bubur. Aku bilang aku baik-baik saja, dan akan segera pulih itu sebabnya aku menolak saat akan dirujuk ke rumah sakit.

Bila Kamandanu punya sahabat setia bernama Wirot, akupun punya, namanya Kharis Zuhud. Saat sahabat-sahabat lain sudah pulang, ia masih menungguiku, ia tahu aku dalam kesulitan, dan ia memaksaku untuk menceritakan segalanya. Aku ceritakan semunya, ia bersimpati kepadaku, ia pikul satu karung beras untukku, pria Bojonegoro itu pulang tiap dua bulan sekali, tiap pulang ia dijatah sekarung beras oleh ibunya, tapi sekali lagi aku katakan dengan tegas padanya, nanti kalau keuanganku sudah pulih akan aku ganti beras itu. Sekali lagi, Kharis tetap bersikeras. Ia bahkan mengancam tak akan sudi mengunjungiku lagi bila aku tetap menganggap beras itu sebagai hutang. Aku mengiyakan dan tidak menganggap beras itu sebagai pinjaman yang harus dikembalikan.

Tidak cuma beras, Kharis bahkan memberiku sejumlah uang. Kali ini aku tegaskan, aku tidak bisa menerima uang itu, bahkan sebagai pinjaman hutang sekalipun. Biarlah aku makan nasi campur garam, daripada harus makan enak pakai lauk yang uangnya dibeli dengan  berhutang dari sesama anak kost yang sama-sama butuh uang. Aku tak sudi hidup dengan terus-terusan menjadi beban buat orang lain, meski terkadang orang itu tidak merasa terbebani. Aku bersyukur, akhirnya ia memahami sebagian idealismeku yang masih tersisa.

Aku seorang pendekar, aku tahu apa itu tapa patigeni. Sambil menyelam minum air, sambil melewati masa paceklik dengan tirakat tentu tak ada salahnya. Puasa atau tidak pada hakekatnya sama saja, empat puluh hari ke depan aku akan terus mengalami kelaparan seperti ini. Sekali lagi, tak ada salahnya jika aku sebarkan berita kalau aku sedang melakukan tapa puasa empat puluh harian. Kecuali Kharis Zuhut yang tahu, kalau aku melakukan puasa ini karena keadaan, sahabatku yang lain tentu akan mengira kalau aku sedang meruat raga setelah aku sakit kemarin.Itu, karena mereka tahu kalau aku seorang pesilat.

Beras sudah ada, tapi aku masih tidak punya uang sama sekali. Tapi sungguh, aku tidak pernah melecehkan kebesaran Tuhan. Sedikit rejeki itu datang saat salah seorang dosen menugasiku mengcopy materi untuk semua mahasiswa seangkatan. Harga copyan sebesar Rp 5.700,-, kemudian aku bulatkan saja jadi Rp 6000,- percopy. Dari 70 mahasiswa yang membayar aku dapat untung Rp 21.000,- enam ribu aku belikan pulsa, dua ribu aku belikan garam dapur, sisanya aku simpan dalam dompet, untuk jaga-jaga kalau ada iuran kelas.

Tiap shubuh, aku selalu sahur dengan nasi garam, siangnya aku harus menahan lapar dan haus, saat maghrib nasi garam dan air putih lagi yang aku makan. Tak mau terkena gizi buruk, apalagi sampai mengindap busung lapar, aku harus cari cara supaya tetap mendapat asupan gizi seimbang. Aku dekati kaum-kaum terfakir dari kalangan mahasiswa, manusia-manusia yang makan di dengan cara bon di warung milik Bu Tie. Aku datang ke Bu Tie tiap menjelang maghrib, Bu Tie sempat curiga mengapa aku datang hanya tiap jelang maghrib, aku ceritakan pada Bu Tie kalau aku sedang puasa empat puluh harian, mendengar itu pada hari-hari berikutnya, tiap buka puasa di Bu Tie, ia menggratiskan es teh untukku. Aku tak menolak dengan segala keadaanku yang sekarang. 

Aku anggap keadaanku ini seperti keadaan Kamandanu saat ia terkena pukulan ajian segoro geni dari Empu Tong Bajil dan pukulan aji tapak wisa dari Dewi Sambi. Aku tidak butuh bunga tunjung biru untuk memulihkan keadaanku ini. Aku hanya perlu sabar, tabah, dan yakin. Semua akan terlewati dengan penuh kemukzizatan, dan aku yakin betul akan hal itu. Sebab aku tidak hanya sekedar tirakat, tapi juga riyadho. Setiap maghrib susudah berbuka sehabis shalat maghrib, aku selalu baca surat Yasin sebanyak empat puluh kali. Setiap shubuh sesudah sahur dan setelah shalat, aku pun selalu membaca surah Al Waqiah selama empat puluh kali. Rutinitas ini aku lakukan secara istiqomah selama empat puluh hari berturut-turut sambil menjalankan puasa empat puluh harian.

Riyadho dengan membaca surah Yasin dan surah Al Waqiah masing-masing selama 40 kali selama 40 hari itu bagiku adalah bentuk keseriusan do’a yang aku panjatkan. Sebagaimana diketahui bahwa keutamaan surah Yasin ialah untuk memudahkan segala urusan dan kesulitan, sedangkan keutamaan surah Al Waqiah untuk melancarkan aliran rejeki dari segala pintu di langit dan di bumi. Aku lakukan itu sebanyak 40 kali dan selama 40 hari, bukan tanpa alasan. Rosulullah Muhammad SAW uzlah di gua Hira sampai turunnya wahyu setelah 40 hari lamanya, nabi Musa As dijanjikan turunnya kitab Taurat setelah 40 malam. Mutiara hikmah baru akan keluar dari lubuk hati manusia setelah ia konsisten pada amalannya secara ikhlas selama 40 hari berturut-turut.

Saat siang hari bila tak ada kuliah, aku isi waktu luangku hanya dengan mencorat-coret kertas kosong dengan tulisan ala kadarnya, lama kelamaan aku jadi suka menulis sebait demi sebait, sampai lama-lama jadi puisi. Uniknya, syair-syair dalam puisiku itu bukan bernada cinta, tapi lebih pada suara-suara penderitaan dan motivasi hidup. Bermula dari sinilah, aku jadi suka menulis. Lewat keterpepetan ini telah kutemukan bakat terpendamku, rupanya keahlian Arya Dwipangga juga ada pada diriku. Secara simbolis, impian masa kecilku sebetulnya sudah terwujudkan saat ini. Pendekar Ksatria yang pandai bersyair, perpaduan antara Kamandanu dan Dwipannga, itulah diriku sekarang. 

Malam terakhir, sebelum puasa 40 harian itu berakhir. Di dompetku masih tersisa uang Rp 12.000,- sebelum pada senin esok aku akan menerima kiriman seperti dua bulan sebelumnya, malam itu aku hanya ingin sahur dengan lauk yang sedikit enak. Ayam goreng tepung, pecel lele, atau apapun jenis ikan-ikanan yang sesuai buget di dompet. Malam itu sudah jam 12 lewat, aku berjalan mencari warung yang masih buka. Pada suatu pertigaan, aku dijumpai seorang bocah cilik, badannya kurus tinggal tulang, bajunya lusuh dan kumal, bibirnya gemeteran, mungkin bocah itu sedang kelaparan. Bocah itu memanggilku, aku pikir dia akan meminta sedekah dan belas kasih. Kalau ia, sungguh anak ini salah orang. Badanku saja sudah tak kalah kurus dengan bocah ini, tapi aku beruntung masih ada beras dan garam, masih ada warung milik Bu Tie yang jadi langganan bon. Ternyata bocah itu cuma tanya arah jalan menuju Blitar, bocah ini sedang dalam perjalanan dari Surabaya ke Blitar, jalan kaki.

Aku sarankan bocah itu menumpang saja sam truck, pick up, atau kereta api arah Blitar. Bilang saja terus terang tidak punya uang dan butuh tumpangan, pasti akan ada sopir yang bersedia menolong, apalagi sekedar memberi tumpangan. Bocah itu benar-benar keras kepala, katanya tetap ingin jalan kaki saja. Aku membathin dalam hati, menyoal tentang prinsip ternyata masih ada yang jauh lebih kolot dari aku. Tak aku lanjutkan saranku itu, setelah kuberi tahu ancer-ancer jalan, bocah itu mohon diri. Entah ada angin dari mana, lalu kupanggil lagi bocah itu “Dek, dek, sini dek..”

“Iya, mas..”

“Ini ambil, buat kamu..” Kuselipkan uang Rp 10.000,- dari dompetku ke dalam saku bajunnya.

“Enggak usah mas, enggak usah..” Bocah itu ingin menolak.

“Sudah, ambil saja buat beli minum di jalan..” Aku kemudian berlalu.

Anehnya, tujuh langkah setelah aku berlalu, ketika aku menengok ke belakang untuk memastikan keadaan bocah itu, ternyata ia sudah menghilang seperti tersapu angin, aku tak mau fikir macam-macam.

Sisa uang di dompet masih Rp 2000,-, aku mampir ke warung kaki lima, aku belikan kedelai goreng dalam bungkusan plastik-plastik kecil, dapat empat bungkus, lumayan tak jadi makan ikat, sahur pakai kedelai goreng pun sudah jauh lebih nikmat daripada sekedar makan nasi sama garam. Kadang bahagia itu timbul bukan karena bisa makan enak setelah lama isi perut sering kosong, tapi karena bisa membantu meringankan beban orang lain. Membantu bukan atas dasar karena mampu, tapi karena tahu rasanya butuh pertolongan.

Malam penutupan itu, sengaja aku tidak tidur semalaman. Nanti maghrib, setelah berbuka, sudah kupersiapkan kasur yang baru diganti sprainya, bantal dan guling yang baru dijemur, dan selimut yang baru dicuci. Ritual membaca surah Yasin sudah genap 40 hari maghrib kemarin, surah Al Waqiah pun sudah genap 40 hari shubuh kemarin, Setelah shalat isya, aku akanlangsung berlayar menuju pulau kapuk, kemudian terlelap sampai shubuh menjalang.

Keesokan paginya, pada senin pagi itu, aku mendapat kabar gembira yang tak kusangka-sangka. Ayah mengirimiki uang yang nominalnya sampai puluhan juta, uang itu dikirim ayah untuk modal usaha, mulai bulan ini dan bulan-bulan berikutnya aku punya bisnis menerima orderan barang-barang pertanian seperti benih-benihan, aneka pestisida, herbisida, dan berbagai pupuk organik dari Surabaya yang dikirim dan akan dijual di Bintuni. Mutiara hikmah bukan hanya sudah keluar dari dalam qalbu, satu pintu rejeki telah terbuka, dan satu kesulitan telah terlewati. The Power of 40 Day itu sungguh benar adanya.

Semenjak kejadian itu, tak jarang oleh kawan-kawanku, aku diklaim manusia paling mistis di kampus, padahal aku adalah orang yang paling realistis. Klaim itu aku pikir wajar adanya. Apalagi tiap ada kost teman yang konon angker, selalu saja aku yang diundang untuk dimintai bantuan. Aku mengiyakan, bermodal ayat kursi dan air yang dicampur garam, aku ciprat-cipratkan air itu di pojokan-pojokan rumah. Aku lihat metode ini dari acara reality show di televisi, dan kata kawan-kawanku berhasil. Aku hanya ketawa dalam hati, padahal aku cuma asal saja. Mungkin keberhasilan itu cuma kebetulan belaka.

Aku cukup nyaman dengan klaim seperti itu, walau sebenarnya aku tidak ssemsistis itu. Tapi setidaknya dengan klaim seperti itu tidak ada teman yang berani mengajakku berbuat aneh-aneh, ini akan menjagaku dari pergaulan yang tidak-tidak, dengan begini aku bisa kuliah dan berbisnis dengan tenang.

Setelah lulus kuliah DIII dan bergelar Amd.Farm, pada 2013 aku lalu melanjutkan pengembaraan menuju Tanah Pasundan, sambil mengembara sambil menjadi mahasiswa, kali ini aku kuliah si Sekolah Tinggi Farmasi Bandung, transfer sekaligus alih jenjang dari DIII ke S1.

Bandung, ternyata tak seramah orang-orangnya. Sebuah kota yang diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum ini langsung menyambutkun dengan kesulitan dan kesulitan baru. Biaya kuliah S1 tak semurah DIII, biaya hidup di Bandung pun tak semurah di Malang. Nampaknya, tak akan ada warung yang bisa aku mintai bon kalau-kalau aku kehabisan uang. Terpaksa, kupakai lagi jurus lama dengan puasa dan tirakat selama empat pulu hari berturut-turut. Sekali lagi, aku berpuasa empat puluh hari ini bukan untuk ngasah ilmu, bukan juga buat ruatan. Bagi aku itu adalah trik bagaimana cara berhemat dengan topeng kemistisan. Pada puasa kali ini tak ada cerita spesial, aku puasa dengan menu sahur dan berbuka yang bergizi. Tapi rampung empat puluh hari, bersyukurnya aku apa yang semula terasa berat dan sulit jadi seperti ada kemudahan.

Jujur, aku sama sekali tidak merasa bangga pernah hidup menderita seperti itu sebab aku tahu, di negara perang timur tengah sana, di negara-negara tertinggal dari Afrika, atau bahkan di Indonesia sendiri. Jauh lebih banyak yang lebih menderita lagi. Dari sini kalau ada pepatah bilang “Kita memberi bukan karena kaya, kita memberi karena tahu rasanya tak punya.” Itu benar adanya. Ada lagi satu pepatah mengatakan, kalau ada 100 orang diuji dengan kemiskinan dan kelaparan, lebih dari 90 orang pasti lulus. Tapi bila diuji dengan harta dan kekuasaan, dipastikan kurang dari 10 orang saja yang akan lulus. Dengan adanya bunyi pepatah yang semacam ini, salah besar aku kalau sampai merasa hebat dengan sedikit kesulitan yang pernah aku rasai.

Rampung studi S1 setelah tinggal di Tanah Pasundan selama dua tahun, aku kemudian melanjutkan pengembaraan ke Jawa Tengah. Seorang farmasis bergelar S.Farm itu rasanya belum lengkap kalau belum ada gelar Apt yang menyertainya. Maka wajib hukumnya aku harus merampungkan pengembaraan ini, sebagaimana Kamandanu harus merampungkan tingkatan jurus naga puspa dari semula hanya tingkat 2, lalu menjenjang sampai ke tingkat 5, supaya bisa makin digdaya ketika akan memainkan jurus dengan pusaka Pedang Nagapuspa.

Jatah hidup di Semarang akan aku lalui kurang lebih setahun lamanya, ambil profesi apoteker hanya butuh dua semester. Selama di sini, pelan perlahan aku hapus kesan mistis pada diriku. Sekalipun aku tak pernah melakukan puasa 40 harian, aku jadi manusia normal pada umumnya. Hidup di Semarang tak sekeras Bandung. Biaya hidup tak semahal Bandung. Bagiku, Semarang tak jauh beda dengan Malang. Aku sudah lebih paham bagaimana cara hidup di sini.

Sebetulnya, aku sudah berkomitment kalau aku tidak akan menceritakan cerita sedih ini, sebelum aku sukses menjadi apoteker. Berhubung 4 April 2017 lalu aku sudah disumpah dan sudah sah sebagai aopoteker muda, maka cerita paling sedih ini pun aku tulis. “Ingat, ketika kamu mengalami masa-masa sulit, simpan cerita itu untukmu sendiri. Namun ketika kamu telah sukses melewatinya, ceritkan pada orang-orang bagaimana cara kamu melewatinya. Itu!

Meski telah berhasil menjadi seorang apoteker. Tapi sesungguhnya pengembaraan hidup belum berakhir, ke depan tantangan-tantangan yang lebih berat lagi sudah terpampang di depan mata. Dan ingat, ketika dihadapkan pada ujian yang berat, jangan minta pada Allah supaya diberi keringanan, tapi mohonlah untuk diberi kekuatan lebih suapaya bisa melewatinya. Dengan begitu seseorang akan jadi manusia yang lebih berkualitas lagi dari sebelumnya. Namun pada akhirnya nanti, tiap pendekar pengembara yang turun gunung harus kembali naik ke gunung. Pengembaraanku telah khatam, dari timur, barat, lalu ke tengah, Jawa sudah aku jelajahi. Sedangkan menjadi apoteker, sebetulnya adalah bonus buatku. Impian kecilku menjadi pendekar pengembara, sebetulnya tuntas sudah. Entah kemana aku setelah ini, sementara aku coba untuk kembali ke Papua. Sungguh luar biasa, perkembangan kampungku itu sudah sedemikian pesatnya, perkembangan kampung pedalaman tepi teluk setelah lima kali ganti penguasa, kemajuannya sangat-sangat pesat. Tapi sejujurnya, aku merindukan kampung halamanku yang dulu, kampung ku yang masih alami dan tidak berisik.

Buah delapan tahun merantau, setelah aku pikir-pikir, cinta Kamandanu pada Nari Ratih, itu seperti cintaku pada sastra, banyak melahirkan puisi-puisi indah. Cinta Kamandanu pada Nyai Paricara alias May Xin, itu seperti cintaku pada dunia farmasi, pengabdiannya sangat berguna bagi banyak pasien yang membutuhkan pertolongan. Kamandanu bisa kuibaratkan sebagai hati nuraniku dan Dwipangga sebagai akal nafsuku. Arya Dwipangga, sering kali ia menyoyak keputihan sang nurani, tapi berkali-kali pula keikhlasan dan jiwa besar Arya Kamandanu akan kembali membersihkan noda yang ditinggalkan oleh akal nafsu itu. Bukankah cerita ini mirip sekali dengan ajaran kebathinan. Mungkin karena itulah cerita fiksi sejarah ini ditulis oleh pengarangnya.

Lain lagi bila menyoal cinta Kamandanu pada Sakawuni, itu seperti cintaku pada dunia tulis menulis. Ia merupakan suatu keniscayaan, tresno jalaran soko  kulino, aku mencintai dunia tulis menulis karena kebiasaan. Saat kuliah, aku sering dipaksa menulis berlembar-lembar jurnal di buku, dalam berpuisi pun tidak mungkin aku akan mengabadikan syair-syair itu cuma melalui lisan, tapi harus lewat tulisan. Tak mengapa Kamandanu gagal memiliki Nari Ratih, juga kemudian cerai dengan May Xin, tapi ia bahagia dengan Sakawuni.

Arya Kamandanu, ia menerima Sakawuni tanpa harus menggeser Nari Ratih dan Mai Xin dari hatinya. Sebagaimana aku yang menjadi seorang penulis yang tak harus menggeser profesiku sebagai apoteker atau hobiku dalam bersyair. Pada akhir cerita, Kamandanu dan Nyai Paricara menyepi di gunung. Seperti pada aku dan dunia farmasiku kelak. Kemana aku setelah ini, pada akhirnya aku pasti pulang, sang pendekar pengembara pasti kembali naik gunung, mendirikan padepokan, mengabdikan ilmu dan pengalamannya di sana. (Ali Ridwan, 2017)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar