Hidup di pedalaman Papua pada masa
pemerintahan Soeharto adalah berkah sekaligus musibah. Berkah, sebab hanya pada
masa itu dua petak tanah bisa diperoleh secara cuma-cuma lewat program
transmigrasi. Musibah, sebab pembangunan hanya terpusat di Pulau Jawa, luar
Jawa dibiarkan terbengkalai begitu saja, padahal kekayaan alam yang melimpah
ruah seperti di Papua tiap tahun jadi penghasilan terbesar bagi devisa negara.
Hidup di tengah rimba belantara seperti itu,
tertinggal dan terkucilkan begitu, cita-cita apa yang bisa diimpikan oleh bocah-bocah kecil dari pedalaman. Tidak ada
rumah sakit, tidak anak-anak yang terisnpirasi menjadi dokter, suster, dan
perawat. Tidak ada kantor-kantor megah dengan gedung bertingkat, tidak ada
anak-anak yang terisnpirasi jadi pebisnis-pebisnis muda dengan pakaian rapi dan
berdasi. Tidak ada itu cita-cita yang ingin berprofesi sebagai pengacara,
psikolog, penulis, arsistektur, sutradara, atlit, pelukis, apalagi bintang
iklan. Paling tinggi bocah-bocah fakir pengetahuan itu cuma bisa bercita-cita
jadi polisi, tentara, dan pegawai negeri. Padahal kalau mau maju suatu negara,
anak-anak mudanya harus berjiwa pengusaha bukan bermental babu, anak-anak
mudanya harus punya karier profesional bukan jadi pekerja serebutan.
Pada masa itu, pada tahun sembilan
puluhan itu, hiburan paling merakyat ialah sandiwara radio yang sering diperdengarkan
melalui saluran RRI. Cerita kolosal Tutur Tinular jadi salah satu paling
digemari, dan aku salah satu pendengar setianya, sebab itu aku kecil punya
cita-cita yang berbeda dari anak-anak lain pada umumnya. Bila anak-anak lain dengan polosnya bilang ingin
jadi petani, nelayan, sopir, dan semacamnya. Aku dengan percaya dirinya bilang
“Aku ingin jadi seperti Arya Kamandanu
dan Arya Dwipangga”.
Ya, aku ingin jadi tokoh fiksi putra Empu
Hanggareksa ciptaan S. Tijap dalam cerita sandiwara radio itu. Sewaktu kecil
aku memang ingin sekali menjadi seorang pendekar kesatria seperti Arya
Kamandanu, aku pun ingin sekali menjadi seorang pujangga yang lihai bersyair
dan berpuisi seperti Arya Dwipangga. Bisa memadukan kedua karakternya, bukankah
itu keren?
Waktu berlalu, sewaktu aku duduk di
bangku SMK, kelakon sudah cita-citaku yang pertama. Dua tahun setengah, sambil
sekolah aku mendalami ilmu beladiri pencak silat. Aku sadar betul, untuk
menjadi seorang pendekar kesatria sejati, nanti setelah lulus SMK mau tak mau
aku harus merantau, atau istilah lain dalam cerita masa kerajaan itu ialah
mengembara. Sebagaimana Kamandanu yang harus mengembara setelah berguru pada
Empu Ranubaya, aku pun akan mengembara setelah menjadi master silat yang
saripati ilmunya dikembangkan oleh Ki Ngabahi Suro Diwiryo saat mengembara dari
Tanah Jawa bagian timur dan barat, bahkan sampai ke Sumatra dan Bali. Berbekal ijazah SMK dan ilmu silat yang aku
miliki, aku siap menapaki tanah rantau. Desa kecil tengah rimba di tepi teluk,
aku akan sangat merindukan tempat ini kelak.
Waktu terus berlalu, semakin besar aku
semakin dipaksa untuk realistis terhadap jalan hidup. Pertengahan 2009 aku
merantau untuk mendaftar sebagai calon prajurit TNI, jelas ini bertentangan
dengan nuraniku. Arya Kamandanu, meski ia salah seorang panglima Majapahit,
tapi statusnya tetap sebagai pendekar. Hal itu ia buktikan dengan pendiriannya,
ia tak mau terlibat dalam percaturan politik kerajaan. Kamandanu tidak memihak
pada Ranggalawe, Lembu Sora, Nambi, bahkan Halayuda. Kamandanu hanya setia
mengabdi pada negerinya Majapahit. Benar, dalam militer nanti saat aku menjadi
prajurit ksatria, mungkin aku tak tersentuh politik. Tapi dengan menjadi
prajurit murni, sama artinya aku akan terikat dan aku harus memihak sebagaimana
prajurit Tuban yang harus patuh dan setia di bawah pimpinan Adipati Ranggalawe
atau prajurit Lumajang yang harus patuh dan setia pada Patih Nambi, lalu atas
dasar itu mereka kemudian dicap pemberontak oleh Majapahit. Aku tidak mau jadi
prajurit penguasa, aku mau jadi pendekar yang tetap cinta pada negaranya tanpa
terikat oleh suatu kepentingan apapun seperti panglima besar Majapahit Arya
Kamandanu.
Pada pertengahan 2010, pertama aku
menginjakkan kaki di Tanah Jawa setelah 18 tahun hidup di pedalaman Papua, dan
itulah awal pengembaraanku menyusuri Pulau Jawa dari timur, barat, lalu ke
tengah.
Di zaman yang modern dan semakin maju
begini, tidak mungkin aku mengembara hanya sambil luntang-lantung begitu saja.
Maka aku putuskan, sambil mengembara aku akan menjadi seorang mahasiswa, dan
kampus pertamaku adalah DIII Akademi Farmasi P.I Malang. Harusnya aku masuk fakultas
sastra, supaya bisa seperti Arya Dwipangga, tapi garis tangan barkata lain, aku
malah belajar ilmu obat seperti Nyai Paricara. Bukan jalan hidup yang buruk,
toh tahbib pun merupakan profesi yang mulia.
Malang, aku pikir bukan tanpa sebab aku
akhirnya terdampar di sini. Malang, kota pendidikan yang juga kota wisata ini
adalah setting lokasi utama dari cerita sejarah Tutur Tinular itu. Malang, bila
ke arah Tumpang identik dengan wisata alam pegunungan dari Bromo sampai Sumeru,
ke arah Turen identik dengan wisata Pantai dari Balaikambang sampai Sendang
Biru, ke arah Batu identik dengan wisata air terjun dari Coban Rondo sampai
Cangar, dan ke arah Surabaya sudah pasti Singhasari dan Tumapel, dua tempat
yang sering dissebut-sebut dalam cerita kolosal itu. Singghasari, tempat dimana
dulu Ken Arok mendirikan kerajaannya setelah mengkudeta Tunggul Ametung dari
kerajaan Kediri. Singghasari, yang kemudian jatuh setelah Prabu Kartanegara
diserbu mendadak oleh Prabu Jayakatwang dari trah Tunggul Ametung. Singghasari
yang kemudian runtuh setelah Prabu Wijaya menantu Prabu Kartanegara berhasil
memperdaya prajurit Mongol untuk menghabisi kekuasaan Prabu Jayakatwang dari
Tanah Singghasari, hingga berdirilah kerajaan Majapahit.
Di tempat bersejarah ini, aku menikmati
hari-hariku dengan imajinasiku. Peperangan demi peperangan, sudah berapa ribu
bala tentara yang tumpah darahnya dan menjadi tumbal di atas tanah keramat yang
sedang aku pijak ini. Dalam pengembaraan ini, kadang dengan tanpa cacat aku
sedang memerankan sosok Kamandanu dari dunia modern. Hanya saja bedanya, kalau
Kamandanu dari desa Kurawan di daerah Dolopo, sebuah kota kecil diantara Madiun
dan Ponorogo. Aku dari pedalaman Papua, dari sebuah desa pedalaman di Teluk
Bintuni. Tapi aku pikir sama saja, meski tinggal dan besar di Papua, aktaku
kelahiran ponorogo dan aku juga masih suku Jawa asli dari Ponorogo.
Cerita terpahit selama tiga tahun aku
napak tilas di Bumi Arema ini, ialah saat pertengahan tahun 2011. Kala itu, hidupku
layaknya roda yang berputar secara monoton dan membosankan. Kuliah, awal bulan
saldo ATM tebal, akhir bulan merana dan harus berhutang hanya sekedar untuk
makan. Untuk mendobrak itu, saya berfikir kalau aku harus punya bisnis sendiri
buat sampingan. Kebetulan waktu itu sedang ramai-ramainya bisnis MLM (Multi Level Marketing). Secara kebetulan
juga, ayah mengirim uang jajankan untuk dua bulan dalam satu kali kiriman.
Tergiur kata-kata manis seorang kawan yang kalau boleh kusebut karakternya
mungkin mirip dengan Halayuda itu, kuputuskan uang kiriman orang tua untuk
jatah makan selama dua bulan itu sebagai investasi awal gabung di bisnis
jaringan itu. Setelah transaksi itu terjadi, aku baru sadar kalau bisnis ini
tak menghasilkan dalam waktu dekat itu artinya selama dua bulan kedepan aku
akan bertahan hidup hanya dengan uang Rp 50.000,- saja, itu uang sisa dari uang
ajankau bulan lalu. Mampukah? Jujur aku sangsi.
Satu minggu pertama, aku coba siasati
kekurangan uang itu dengan menerima apapun pekerjaan sampingan asal bisa
dikerjakan sambil kuliah. Aku pernah berjualan jam tangan dengan model
marketing sistem, aku pernah menjadi pekerja lepas sebagai pialang saham, dan
telah bergabung di bisnis jaringan tentu aku pun harus berupaya mengembang
jaringan dengan mencari orang melalui prospek-prospek yang dilakukan oleh tim.
Dengan pekerjaan seperti itu, jujur aku muak. Aku seorang pendekar kesatria
pembela kebajikan, harusnya memburu penjahat, bukan pembela materi yang memburu
konsumen. Sehingga pada minggu ketiga itu aku katakan “Sudah cukup, aku selesai
dengan semua ini!”
Pada minggu ketiga itu, cadangan berasku
sudah habis. Ikan asin, teri, telur, minyak goreng, semua habis, uang di dompet
pun sudah tidak ada. Dan aku akan bertahan hidup karena percaya dengan
kata-kata dari Sudjiwo Tejo ini “Menghina
Tuhan, tidak harus dengan menginjak-injak kitab sucinya, khawatir besok tidak
makan saja, itu sudah menghinakannya”. Aku percaya kebesaran Sang Pencipta,
aku tak menghinakannya sebab itu aku tak khawatir dengan apa yang akan mengisi
perutku di esok hariku.
Aku tak suka merepotkan kawan, aku tak
mau hidup dengan menjadi beban buat orang lain. Jika itu saja pantangan buatku,
apalagi sampai berpikir untuk berbuat yang tidak-tidak, melakukan pekerjaan
haram sekedar untuk mengganjal perut. Tidak. Aku lebih baik mati kelaparan
daripada hidup kenyang tapi sebagai maling. Aku akan bisa menahan rasa lapar
ini seharian nanti. Setidaknya dengan tidur dan mata terpejam.
Keesokan harinya aku kembali terbangun.
Sial, baru kali ini aku merasakan kelaparan, lapar, sungguh lapar sekali rasanya
setelah seharian kemarin tidak makan, hari ini pun aku terancam tak makan. Aku
benar-benar menyesali kecerobohanku, tapi tidak dengan kenekatanku. Seorang
pendekar, harus berani mengambil keputusan, dan menerima segala resiko yang
terjadi. Inilah musuh yang harus dihadapinya dalam pengembaraanya.
Malam berikutnya aku tidak bisa tidur,
gelisah di tempat tidur sambil beringsut ke sana dan kemari saraya menahan
lapar. Ah lapar sekali, makanan mana makanan aku butuh makan.
Jangan pikir aku mulai gila, aku masih
waras, dalam kewarasan itu aku pun berfikir, dalam pengembaraan ini ternyata
musuh beratku bukan pendekar bertongkat seperti Empu Tong Bajil, kalaupun Empu
Tong Bajil itu ada aku pun tak memiliki pusaka maha sakti Pedang Nagapuspa
untuk menandinginya. Di tanah perantauan ini, musuh terbesarku adalah gengsi
dan idealisme dalam egoku sendiri. Aku terlalu kaku dengan prinsipku. Di sini,
nampaknya aku harus meniru Pangeran Rama Wijaya, menuruti nasehat Prabu Arya Wiraraja
dari Sumenep. Menggunakan kebesaran hati, mengalahkan ego, sambil kembali
membangun motivasi dan kepercayaan diri dalam hidup yang runtuh.
Untuk pertama kalinya, aku membolos
kuliah. Sungguh aku tak akan pernah melakukan ini andai saja tubuhku tidak
terlalu letih hanya sekedar untuk berjalan keluar kamar. Aku tak kuasa
menitihkan air mata, saat sahabat-sahabatku menjenguk sambil membawakan nasi
bubur. Aku bilang aku baik-baik saja, dan akan segera pulih itu sebabnya aku menolak
saat akan dirujuk ke rumah sakit.
Bila Kamandanu punya sahabat setia
bernama Wirot, akupun punya, namanya Kharis Zuhud. Saat sahabat-sahabat lain
sudah pulang, ia masih menungguiku, ia tahu aku dalam kesulitan, dan ia
memaksaku untuk menceritakan segalanya. Aku ceritakan semunya, ia bersimpati
kepadaku, ia pikul satu karung beras untukku, pria Bojonegoro itu pulang tiap
dua bulan sekali, tiap pulang ia dijatah sekarung beras oleh ibunya, tapi
sekali lagi aku katakan dengan tegas padanya, nanti kalau keuanganku sudah
pulih akan aku ganti beras itu. Sekali lagi, Kharis tetap bersikeras. Ia bahkan
mengancam tak akan sudi mengunjungiku lagi bila aku tetap menganggap beras itu
sebagai hutang. Aku mengiyakan dan tidak menganggap beras itu sebagai pinjaman
yang harus dikembalikan.
Tidak cuma beras, Kharis bahkan
memberiku sejumlah uang. Kali ini aku tegaskan, aku tidak bisa menerima uang
itu, bahkan sebagai pinjaman hutang sekalipun. Biarlah aku makan nasi campur
garam, daripada harus makan enak pakai lauk yang uangnya dibeli dengan berhutang dari sesama anak kost yang
sama-sama butuh uang. Aku tak sudi hidup dengan terus-terusan menjadi beban
buat orang lain, meski terkadang orang itu tidak merasa terbebani. Aku bersyukur,
akhirnya ia memahami sebagian idealismeku yang masih tersisa.
Aku seorang pendekar, aku tahu apa itu
tapa patigeni. Sambil menyelam minum air, sambil melewati masa paceklik dengan
tirakat tentu tak ada salahnya. Puasa atau tidak pada hakekatnya sama saja,
empat puluh hari ke depan aku akan terus mengalami kelaparan seperti ini.
Sekali lagi, tak ada salahnya jika aku sebarkan berita kalau aku sedang
melakukan tapa puasa empat puluh harian. Kecuali Kharis Zuhut yang tahu, kalau
aku melakukan puasa ini karena keadaan, sahabatku yang lain tentu akan mengira
kalau aku sedang meruat raga setelah aku sakit kemarin.Itu, karena mereka tahu
kalau aku seorang pesilat.
Beras sudah ada, tapi aku masih tidak
punya uang sama sekali. Tapi sungguh, aku tidak pernah melecehkan kebesaran
Tuhan. Sedikit rejeki itu datang saat salah seorang dosen menugasiku mengcopy
materi untuk semua mahasiswa seangkatan. Harga copyan sebesar Rp 5.700,-,
kemudian aku bulatkan saja jadi Rp 6000,- percopy. Dari 70 mahasiswa yang
membayar aku dapat untung Rp 21.000,- enam ribu aku belikan pulsa, dua ribu aku
belikan garam dapur, sisanya aku simpan dalam dompet, untuk jaga-jaga kalau ada
iuran kelas.
Tiap shubuh, aku selalu sahur dengan
nasi garam, siangnya aku harus menahan lapar dan haus, saat maghrib nasi garam
dan air putih lagi yang aku makan. Tak mau terkena gizi buruk, apalagi sampai
mengindap busung lapar, aku harus cari cara supaya tetap mendapat asupan gizi
seimbang. Aku dekati kaum-kaum terfakir dari kalangan mahasiswa,
manusia-manusia yang makan di dengan cara bon di warung milik Bu Tie. Aku
datang ke Bu Tie tiap menjelang maghrib, Bu Tie sempat curiga mengapa aku
datang hanya tiap jelang maghrib, aku ceritakan pada Bu Tie kalau aku sedang
puasa empat puluh harian, mendengar itu pada hari-hari berikutnya, tiap buka puasa
di Bu Tie, ia menggratiskan es teh untukku. Aku tak menolak dengan segala
keadaanku yang sekarang.
Aku anggap keadaanku ini seperti keadaan
Kamandanu saat ia terkena pukulan ajian segoro geni dari Empu Tong Bajil dan
pukulan aji tapak wisa dari Dewi Sambi. Aku tidak butuh bunga tunjung biru
untuk memulihkan keadaanku ini. Aku hanya perlu sabar, tabah, dan yakin. Semua
akan terlewati dengan penuh kemukzizatan, dan aku yakin betul akan hal itu.
Sebab aku tidak hanya sekedar tirakat, tapi juga riyadho. Setiap maghrib
susudah berbuka sehabis shalat maghrib, aku selalu baca surat Yasin sebanyak
empat puluh kali. Setiap shubuh sesudah sahur dan setelah shalat, aku pun
selalu membaca surah Al Waqiah selama empat puluh kali. Rutinitas ini aku
lakukan secara istiqomah selama empat puluh hari berturut-turut sambil
menjalankan puasa empat puluh harian.
Riyadho dengan membaca surah Yasin dan
surah Al Waqiah masing-masing selama 40 kali selama 40 hari itu bagiku adalah
bentuk keseriusan do’a yang aku panjatkan. Sebagaimana diketahui bahwa
keutamaan surah Yasin ialah untuk memudahkan segala urusan dan kesulitan,
sedangkan keutamaan surah Al Waqiah untuk melancarkan aliran rejeki dari segala
pintu di langit dan di bumi. Aku lakukan itu sebanyak 40 kali dan selama 40 hari,
bukan tanpa alasan. Rosulullah Muhammad SAW uzlah di gua Hira sampai turunnya
wahyu setelah 40 hari lamanya, nabi Musa As dijanjikan turunnya kitab Taurat
setelah 40 malam. Mutiara hikmah baru akan keluar dari lubuk hati manusia
setelah ia konsisten pada amalannya secara ikhlas selama 40 hari
berturut-turut.
Saat siang hari bila tak ada kuliah, aku
isi waktu luangku hanya dengan mencorat-coret kertas kosong dengan tulisan ala
kadarnya, lama kelamaan aku jadi suka menulis sebait demi sebait, sampai lama-lama
jadi puisi. Uniknya, syair-syair dalam puisiku itu bukan bernada cinta, tapi
lebih pada suara-suara penderitaan dan motivasi hidup. Bermula dari sinilah,
aku jadi suka menulis. Lewat keterpepetan ini telah kutemukan bakat
terpendamku, rupanya keahlian Arya Dwipangga juga ada pada diriku. Secara
simbolis, impian masa kecilku sebetulnya sudah terwujudkan saat ini. Pendekar
Ksatria yang pandai bersyair, perpaduan antara Kamandanu dan Dwipannga, itulah
diriku sekarang.
Malam terakhir, sebelum puasa 40 harian
itu berakhir. Di dompetku masih tersisa uang Rp 12.000,- sebelum pada senin
esok aku akan menerima kiriman seperti dua bulan sebelumnya, malam itu aku
hanya ingin sahur dengan lauk yang sedikit enak. Ayam goreng tepung, pecel
lele, atau apapun jenis ikan-ikanan yang sesuai buget di dompet. Malam itu
sudah jam 12 lewat, aku berjalan mencari warung yang masih buka. Pada suatu
pertigaan, aku dijumpai seorang bocah cilik, badannya kurus tinggal tulang,
bajunya lusuh dan kumal, bibirnya gemeteran, mungkin bocah itu sedang
kelaparan. Bocah itu memanggilku, aku pikir dia akan meminta sedekah dan belas
kasih. Kalau ia, sungguh anak ini salah orang. Badanku saja sudah tak kalah
kurus dengan bocah ini, tapi aku beruntung masih ada beras dan garam, masih ada
warung milik Bu Tie yang jadi langganan bon. Ternyata bocah itu cuma tanya arah
jalan menuju Blitar, bocah ini sedang dalam perjalanan dari Surabaya ke Blitar,
jalan kaki.
Aku sarankan bocah itu menumpang saja
sam truck, pick up, atau kereta api arah Blitar. Bilang saja terus terang tidak
punya uang dan butuh tumpangan, pasti akan ada sopir yang bersedia menolong,
apalagi sekedar memberi tumpangan. Bocah itu benar-benar keras kepala, katanya
tetap ingin jalan kaki saja. Aku membathin dalam hati, menyoal tentang prinsip
ternyata masih ada yang jauh lebih kolot dari aku. Tak aku lanjutkan saranku
itu, setelah kuberi tahu ancer-ancer jalan, bocah itu mohon diri. Entah ada
angin dari mana, lalu kupanggil lagi bocah itu “Dek, dek, sini dek..”
“Iya, mas..”
“Ini ambil, buat kamu..” Kuselipkan uang
Rp 10.000,- dari dompetku ke dalam saku bajunnya.
“Enggak usah mas, enggak usah..” Bocah
itu ingin menolak.
“Sudah, ambil saja buat beli minum di
jalan..” Aku kemudian berlalu.
Anehnya, tujuh langkah setelah aku berlalu,
ketika aku menengok ke belakang untuk memastikan keadaan bocah itu, ternyata ia
sudah menghilang seperti tersapu angin, aku tak mau fikir macam-macam.
Sisa uang di dompet masih Rp 2000,-, aku
mampir ke warung kaki lima, aku belikan kedelai goreng dalam bungkusan
plastik-plastik kecil, dapat empat bungkus, lumayan tak jadi makan ikat, sahur
pakai kedelai goreng pun sudah jauh lebih nikmat daripada sekedar makan nasi
sama garam. Kadang bahagia itu timbul bukan karena bisa makan enak setelah lama
isi perut sering kosong, tapi karena bisa membantu meringankan beban orang
lain. Membantu bukan atas dasar karena mampu, tapi karena tahu rasanya butuh
pertolongan.
Malam penutupan itu, sengaja aku tidak
tidur semalaman. Nanti maghrib, setelah berbuka, sudah kupersiapkan kasur yang
baru diganti sprainya, bantal dan guling yang baru dijemur, dan selimut yang
baru dicuci. Ritual membaca surah Yasin sudah genap 40 hari maghrib kemarin,
surah Al Waqiah pun sudah genap 40 hari shubuh kemarin, Setelah shalat isya, aku
akanlangsung berlayar menuju pulau kapuk, kemudian terlelap sampai shubuh
menjalang.
Keesokan paginya, pada senin pagi itu,
aku mendapat kabar gembira yang tak kusangka-sangka. Ayah mengirimiki uang yang
nominalnya sampai puluhan juta, uang itu dikirim ayah untuk modal usaha, mulai
bulan ini dan bulan-bulan berikutnya aku punya bisnis menerima orderan
barang-barang pertanian seperti benih-benihan, aneka pestisida, herbisida, dan
berbagai pupuk organik dari Surabaya yang dikirim dan akan dijual di Bintuni.
Mutiara hikmah bukan hanya sudah keluar dari dalam qalbu, satu pintu rejeki
telah terbuka, dan satu kesulitan telah terlewati. The Power of 40 Day itu sungguh benar adanya.
Semenjak kejadian itu, tak jarang oleh
kawan-kawanku, aku diklaim manusia paling mistis di kampus, padahal aku adalah
orang yang paling realistis. Klaim itu aku pikir wajar adanya. Apalagi tiap ada
kost teman yang konon angker, selalu saja aku yang diundang untuk dimintai
bantuan. Aku mengiyakan, bermodal ayat kursi dan air yang dicampur garam, aku
ciprat-cipratkan air itu di pojokan-pojokan rumah. Aku lihat metode ini dari
acara reality show di televisi, dan kata kawan-kawanku berhasil. Aku hanya
ketawa dalam hati, padahal aku cuma asal saja. Mungkin keberhasilan itu cuma
kebetulan belaka.
Aku cukup nyaman dengan klaim seperti
itu, walau sebenarnya aku tidak ssemsistis itu. Tapi setidaknya dengan klaim
seperti itu tidak ada teman yang berani mengajakku berbuat aneh-aneh, ini akan
menjagaku dari pergaulan yang tidak-tidak, dengan begini aku bisa kuliah dan
berbisnis dengan tenang.
Setelah lulus kuliah DIII dan bergelar
Amd.Farm, pada 2013 aku lalu melanjutkan pengembaraan menuju Tanah Pasundan, sambil
mengembara sambil menjadi mahasiswa, kali ini aku kuliah si Sekolah Tinggi
Farmasi Bandung, transfer sekaligus alih jenjang dari DIII ke S1.
Bandung, ternyata tak seramah
orang-orangnya. Sebuah kota yang diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum ini
langsung menyambutkun dengan kesulitan dan kesulitan baru. Biaya kuliah S1 tak
semurah DIII, biaya hidup di Bandung pun tak semurah di Malang. Nampaknya, tak
akan ada warung yang bisa aku mintai bon kalau-kalau aku kehabisan uang.
Terpaksa, kupakai lagi jurus lama dengan puasa dan tirakat selama empat pulu
hari berturut-turut. Sekali lagi, aku berpuasa empat puluh hari ini bukan untuk
ngasah ilmu, bukan juga buat ruatan. Bagi aku itu adalah trik bagaimana cara
berhemat dengan topeng kemistisan. Pada puasa kali ini tak ada cerita spesial,
aku puasa dengan menu sahur dan berbuka yang bergizi. Tapi rampung empat puluh
hari, bersyukurnya aku apa yang semula terasa berat dan sulit jadi seperti ada
kemudahan.
Jujur, aku sama sekali tidak merasa
bangga pernah hidup menderita seperti itu sebab aku tahu, di negara perang
timur tengah sana, di negara-negara tertinggal dari Afrika, atau bahkan di
Indonesia sendiri. Jauh lebih banyak yang lebih menderita lagi. Dari sini kalau
ada pepatah bilang “Kita memberi bukan
karena kaya, kita memberi karena tahu rasanya tak punya.” Itu benar adanya.
Ada lagi satu pepatah mengatakan, kalau ada 100 orang diuji dengan kemiskinan
dan kelaparan, lebih dari 90 orang pasti lulus. Tapi bila diuji dengan harta
dan kekuasaan, dipastikan kurang dari 10 orang saja yang akan lulus. Dengan
adanya bunyi pepatah yang semacam ini, salah besar aku kalau sampai merasa
hebat dengan sedikit kesulitan yang pernah aku rasai.
Rampung studi S1 setelah tinggal di
Tanah Pasundan selama dua tahun, aku kemudian melanjutkan pengembaraan ke Jawa
Tengah. Seorang farmasis bergelar S.Farm itu rasanya belum lengkap kalau belum
ada gelar Apt yang menyertainya. Maka wajib hukumnya aku harus merampungkan
pengembaraan ini, sebagaimana Kamandanu harus merampungkan tingkatan jurus naga
puspa dari semula hanya tingkat 2, lalu menjenjang sampai ke tingkat 5, supaya
bisa makin digdaya ketika akan memainkan jurus dengan pusaka Pedang Nagapuspa.
Jatah hidup di Semarang akan aku lalui
kurang lebih setahun lamanya, ambil profesi apoteker hanya butuh dua semester.
Selama di sini, pelan perlahan aku hapus kesan mistis pada diriku. Sekalipun
aku tak pernah melakukan puasa 40 harian, aku jadi manusia normal pada umumnya.
Hidup di Semarang tak sekeras Bandung. Biaya hidup tak semahal Bandung. Bagiku,
Semarang tak jauh beda dengan Malang. Aku sudah lebih paham bagaimana cara
hidup di sini.
Sebetulnya, aku sudah berkomitment kalau
aku tidak akan menceritakan cerita sedih ini, sebelum aku sukses menjadi
apoteker. Berhubung 4 April 2017 lalu aku sudah disumpah dan sudah sah sebagai
aopoteker muda, maka cerita paling sedih ini pun aku tulis. “Ingat, ketika kamu mengalami masa-masa
sulit, simpan cerita itu untukmu sendiri. Namun ketika kamu telah sukses
melewatinya, ceritkan pada orang-orang bagaimana cara kamu melewatinya. Itu!”
Meski telah berhasil menjadi seorang apoteker.
Tapi sesungguhnya pengembaraan hidup belum berakhir, ke depan
tantangan-tantangan yang lebih berat lagi sudah terpampang di depan mata. Dan
ingat, ketika dihadapkan pada ujian yang berat, jangan minta pada Allah supaya
diberi keringanan, tapi mohonlah untuk diberi kekuatan lebih suapaya bisa
melewatinya. Dengan begitu seseorang akan jadi manusia yang lebih berkualitas
lagi dari sebelumnya. Namun pada akhirnya nanti, tiap pendekar pengembara yang
turun gunung harus kembali naik ke gunung. Pengembaraanku telah khatam, dari
timur, barat, lalu ke tengah, Jawa sudah aku jelajahi. Sedangkan menjadi
apoteker, sebetulnya adalah bonus buatku. Impian kecilku menjadi pendekar
pengembara, sebetulnya tuntas sudah. Entah kemana aku setelah ini, sementara
aku coba untuk kembali ke Papua. Sungguh luar biasa, perkembangan kampungku itu
sudah sedemikian pesatnya, perkembangan kampung pedalaman tepi teluk setelah
lima kali ganti penguasa, kemajuannya sangat-sangat pesat. Tapi sejujurnya, aku
merindukan kampung halamanku yang dulu, kampung ku yang masih alami dan tidak
berisik.
Buah delapan tahun merantau, setelah aku
pikir-pikir, cinta Kamandanu pada Nari Ratih, itu seperti cintaku pada sastra,
banyak melahirkan puisi-puisi indah. Cinta Kamandanu pada Nyai Paricara alias
May Xin, itu seperti cintaku pada dunia farmasi, pengabdiannya sangat berguna
bagi banyak pasien yang membutuhkan pertolongan. Kamandanu bisa kuibaratkan
sebagai hati nuraniku dan Dwipangga sebagai akal nafsuku. Arya Dwipangga, sering
kali ia menyoyak keputihan sang nurani, tapi berkali-kali pula keikhlasan dan
jiwa besar Arya Kamandanu akan kembali membersihkan noda yang ditinggalkan oleh
akal nafsu itu. Bukankah cerita ini mirip sekali dengan ajaran kebathinan. Mungkin
karena itulah cerita fiksi sejarah ini ditulis oleh pengarangnya.
Lain lagi bila menyoal cinta Kamandanu
pada Sakawuni, itu seperti cintaku pada dunia tulis menulis. Ia merupakan suatu
keniscayaan, tresno jalaran soko kulino, aku mencintai dunia tulis menulis
karena kebiasaan. Saat kuliah, aku sering dipaksa menulis berlembar-lembar
jurnal di buku, dalam berpuisi pun tidak mungkin aku akan mengabadikan
syair-syair itu cuma melalui lisan, tapi harus lewat tulisan. Tak mengapa
Kamandanu gagal memiliki Nari Ratih, juga kemudian cerai dengan May Xin, tapi
ia bahagia dengan Sakawuni.
Arya Kamandanu, ia menerima Sakawuni
tanpa harus menggeser Nari Ratih dan Mai Xin dari hatinya. Sebagaimana aku yang
menjadi seorang penulis yang tak harus menggeser profesiku sebagai apoteker
atau hobiku dalam bersyair. Pada akhir cerita, Kamandanu dan Nyai Paricara
menyepi di gunung. Seperti pada aku dan dunia farmasiku kelak. Kemana aku
setelah ini, pada akhirnya aku pasti pulang, sang pendekar pengembara pasti kembali
naik gunung, mendirikan padepokan, mengabdikan ilmu dan pengalamannya di sana.
(Ali Ridwan, 2017)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar