Pada
akhirnya, raga pun menagih haknya. Ia butuh rehat, supaya kembali sehat. Lagipula,
untuk apa gelar tinggi-tinggi
kalau umur tak panjang. Toh, gelar terakhir seorang manusia tetap saja almarhum.
Mimpi
itu belum pupus, hanya ditangguhkan sebentar. Seperti pendaki yang kelelahan,
lalu memasang tenda, mengisi perut dan istirahat. Esok setelah tubuh tak lagi
letih, setelah energi telah kembali pulih, ia akan melanjutkan pendakiannya,
menuju puncak yang dicita-citakannya!!
###
Bisa kerja
sambil kuliah, itu cita-cita aku banget pas waktu dulu. Tapi cita-cita ini tidak
pernah kesampaian karena selama kuliah segala kebutuhan sudah dipenuhi sama
orang tua. Alih-alih bisa kuliah sambil kerja, yang ada malah kuliah sambil
nekunin passion di dunia bisnis dan nulis. Kebiasaan ini mungkin yang paling
cocok sama jalan hidup aku, buktinya bisa rampung kuliah tepat waktu dan bisa
menerbitkan beberapa novel, dan tentunya dikit-dikit sudah pernah icip-icip
dunia bisnis, boleh dibilang lumayan sukses lah yaaah.
Mungkin karena
kebiasaan ini, pada akhirnya aku gagal menjalani hidup seperti apa yang pernah
aku cita-citakan, yaitu kuliah sambil kerja.
Pertengahan 2017
lalu, hidup benar-benar seperti mimpi. Aku kuliah S2 Farmasi Klinik di salah
satu kampus di Surabaya, dan aku juga bekerja sebagai apoteker di salah satu
rumah sakit swasta di Sidoarjo.
Tapi nyatanya,
bukan bahagia yang aku dapati. Seperti ada yang mengganjal di fikiran, seperti
ada yang meronta-ronta di dalam nurani. Bekerja di rumah sakit, ternyata bukan
pekerjaan aku idamkan. Kuliah di S2 Farmasi Klinik apalagi, ilmu ini akan
berguna kalau aku fokus meniti karier sebagai apoteker klinik dan tentu bila
aku tetap ingin bekerja dan menyematkan karier di rumah sakit selamanya.
Keadaan ini terus mengganggu hati dan fikiranku tiap hari, tiap malam, terus saja
dating dan menghantui seperti dedemit.
Mungkin karena
mindset yang sudah terlanjur terbentuk saat masih D3, S1, atau bahkan saat
masih kuliah Apoteker. Aku ternyata lebih menikmati hidup sebagai farmasis,
pebisnis, dan penulis. Kalau boleh ditekankan lagi, sebenarnya aku lebih nyaman
dan bahagia jika bisa focus di dunia bisnis dan menulis. Tapi gelar apoteker
itu, yang sudah dengan susah payah aku dapatkan itu, tak mungkin akan aku buang
begitu saja. Dengan mengambil solusi yang berimbang, aku pakai saja
ketiga-tiganya dengan mengusung tema entrepreneur (pebisnis), writerprenuer
(penulis), dan pharmaprenuer (farmasis) sebagai passion hidup yang akan aku geluti
dan akan terus aku jalani selama aku hidup di dunia ini.
Moment itu
akhirnya tiba. Bermula saat aku sering merasakan nyeri yang hebat di bagian
lambung, itu asam lambung. Penyebabnya bisa karena sering telat makan,
mengingat kalau di hari kerja (senin siang – jumat pagi aku sempat makan hanya
di jam 12.00 dan jam 23.00) dan di hari kuliah (jum’at pagi – minggu malam baru
sempat makan kalau maghrib saja). Penyebab lainnya adalah stress, iyaa mungkin
karena tidak pernah piknik. Bisa jadi karena sering capek kerja, capek nugas,
capek kuliah, dan yang paling berpengaruh capek hati dan fikiran karena
terus-terusan mengerjakan sesuatu yang bukan passion.
Saat nyeri itu
makin parah, aku putuskan pulang ke Papua, bahaya kalau sampai jatuh sakit dan
harus masuk rumah sakit, dan aku tidak punya siapa-siapa di kota ini. Kuliah S2
sudah tidak seperti S1 atau apoteker dulu yang dengan beberapa teman bisa
ngontrak rumah sama-sama, berjuang sama-sama, susah sedih sama-sama. Mahasiswa
S2 itu kebanykan adalah kumpulan orang-orang yang punya kesibukan tinggi dan
tetep berupaya meluangkan waktunya untuk mengejar karier dengan kuliah lagi.
Kawan kerja pun demiakian, semua super sibuk, aku tak sampai hati ingin
merepoti mereka semua. Pulang jauh labih baik. Lebih tepatnya pulang sambil
melarikan diri. Biarkan jadi pecundang, asal diri tak terus-terusan mengingkari
jatidiri dan hati nurani. Buat orang lain mungkin akulah yang kalah, tapi
buatku akulah akan menang.
Benar saja,
sampai rumah aku terkapar sakit dan hanya makan tiduran di kamar saja selama
seminggu. Ketika badan mulai baikan, ada nyeri hebat lagi di bagian kanan.
Nyeri sampai tak tertahankan, kali ini aku harus dirawat inap di rumah sakit.
Sial, seumur-umur baru kali ini aku merasakan rasanya diinfus. Sungguh tidak
enak betul. Setelah melalui serangkaian tes medis, fiks aku divonis terkena
batu ginjal. Bersyukur, batunya masih kecil-kecil. Ada kemungkinan masih bisa
dihancurkan dan dikeluarkan tanpa harus operasi.
Setelah kejadian
ini, pada malam pergantian tahun 2018 aku mulai bertekad untuk mengentrapkan
resolusi pola hidup sehat 2018. Kesehatan itu penting, ia asset paling berharga
dalam investasi kehidupan.
Tiap hari aku
atur pola makan dan pola tidur secara teratur untuk meredakan asam lambung yang
kambuh-kambuhan. Tiap hari aku konsumsi minimal 3 liter air mineral plus tiga
gelas rebusan air daun kejibeling, daun tempuyung, dan daun kumis kucing untuk
meluruhkan batu-batu di ginjal. Tak lupa olahraga jadi rutinitas wajib. Diet
mengatur pola makan, jamu, dan olahraga adalah terapi non farmakologi yang
paling ampuh untuk menerapkan pola hidup sehat yang baik.
Setelah tubuh
dirasai lebih baik, lebih sehat, dan lebih bugar. Saat kembali ke Surabaya, aku
memeriksakan kembali batu ginjal itu di RSUD Dr Soetomo sebulan kemudian. Sujud
syukurku pada Allah saat hasil CT Scan menyatakan sudah tidak ada batu baik di
ginjal maupun di saluran ureter.
Momentum ini aku
pakai untuk kembali ke jatidiri. Aku putuskan berhenti bekerja dari rumah
sakit, aku putuskan cuti dari kuliah S2 Farmasi Klinik. Mungkin aku akan pulang
kampung dulu sementara ini, mendirikan apotek sendiri dan bekerja sebagai
pharmaprenuer, lenjut menulis dan berkarya sebagai writerprenuer, dan tak lupa
mulai merintis usaha lain entah kuliner, perdagangan, atau yang lainnya sebagai
seorang entrepreneur. Soal kuliah S2, suatu hari nanti akan aku teruskan lagi,
tapi tidak dengan jurusan yang tidak relevan dengan pekerjaan yang cocok dengan
ketiga passion hidupku itu tadi.
Yaa, benar
sekali. Bahwa tidak ada kebahagian hidup selain daripada bisa kembali hidup
dengan menjadi diri sendiri, kembali kepada jati diri, serta tidak mendustai
nurani dalam hati.
Jangan pernah
sekali-kali menyangkal apa yang ada dalam isi hati, jangan pernah. Itu yang
akan membuat hidup seseorang jadi tak bahagia, cendrung derundung gelisah,
resah yang menggundah. Apa hidup mau selamanya diselimuti awan kegalauan dan
jauh dari mentari kebahagian. Ingat, hal terpenting dalam hidup itu adalah
ketenangan hati dan ketentraman jiwa, dan itu semua tidak mungkin diraih kalau
diri dilukai dengan nurani yang terus didustai. (Ali Ridwan, 25/02/18)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar