Sabtu, 24 Februari 2018

Senjakala di Kota Surabaya


Pada akhirnya, raga pun menagih haknya. Ia butuh rehat, supaya kembali sehat. Lagipula, untuk apa gelar tinggi-tinggi kalau umur tak panjang. Toh, gelar terakhir seorang manusia tetap saja almarhum.

Mimpi itu belum pupus, hanya ditangguhkan sebentar. Seperti pendaki yang kelelahan, lalu memasang tenda, mengisi perut dan istirahat. Esok setelah tubuh tak lagi letih, setelah energi telah kembali pulih, ia akan melanjutkan pendakiannya, menuju puncak yang dicita-citakannya!!
###

Bisa kerja sambil kuliah, itu cita-cita aku banget pas waktu dulu. Tapi cita-cita ini tidak pernah kesampaian karena selama kuliah segala kebutuhan sudah dipenuhi sama orang tua. Alih-alih bisa kuliah sambil kerja, yang ada malah kuliah sambil nekunin passion di dunia bisnis dan nulis. Kebiasaan ini mungkin yang paling cocok sama jalan hidup aku, buktinya bisa rampung kuliah tepat waktu dan bisa menerbitkan beberapa novel, dan tentunya dikit-dikit sudah pernah icip-icip dunia bisnis, boleh dibilang lumayan sukses lah yaaah.

Mungkin karena kebiasaan ini, pada akhirnya aku gagal menjalani hidup seperti apa yang pernah aku cita-citakan, yaitu kuliah sambil kerja.

Pertengahan 2017 lalu, hidup benar-benar seperti mimpi. Aku kuliah S2 Farmasi Klinik di salah satu kampus di Surabaya, dan aku juga bekerja sebagai apoteker di salah satu rumah sakit swasta di Sidoarjo.

Tapi nyatanya, bukan bahagia yang aku dapati. Seperti ada yang mengganjal di fikiran, seperti ada yang meronta-ronta di dalam nurani. Bekerja di rumah sakit, ternyata bukan pekerjaan aku idamkan. Kuliah di S2 Farmasi Klinik apalagi, ilmu ini akan berguna kalau aku fokus meniti karier sebagai apoteker klinik dan tentu bila aku tetap ingin bekerja dan menyematkan karier di rumah sakit selamanya. Keadaan ini terus mengganggu hati dan fikiranku tiap hari, tiap malam, terus saja dating dan menghantui seperti dedemit.

Mungkin karena mindset yang sudah terlanjur terbentuk saat masih D3, S1, atau bahkan saat masih kuliah Apoteker. Aku ternyata lebih menikmati hidup sebagai farmasis, pebisnis, dan penulis. Kalau boleh ditekankan lagi, sebenarnya aku lebih nyaman dan bahagia jika bisa focus di dunia bisnis dan menulis. Tapi gelar apoteker itu, yang sudah dengan susah payah aku dapatkan itu, tak mungkin akan aku buang begitu saja. Dengan mengambil solusi yang berimbang, aku pakai saja ketiga-tiganya dengan mengusung tema entrepreneur (pebisnis), writerprenuer (penulis), dan pharmaprenuer (farmasis) sebagai passion hidup yang akan aku geluti dan akan terus aku jalani selama aku hidup di dunia ini.

Moment itu akhirnya tiba. Bermula saat aku sering merasakan nyeri yang hebat di bagian lambung, itu asam lambung. Penyebabnya bisa karena sering telat makan, mengingat kalau di hari kerja (senin siang – jumat pagi aku sempat makan hanya di jam 12.00 dan jam 23.00) dan di hari kuliah (jum’at pagi – minggu malam baru sempat makan kalau maghrib saja). Penyebab lainnya adalah stress, iyaa mungkin karena tidak pernah piknik. Bisa jadi karena sering capek kerja, capek nugas, capek kuliah, dan yang paling berpengaruh capek hati dan fikiran karena terus-terusan mengerjakan sesuatu yang bukan passion.

Saat nyeri itu makin parah, aku putuskan pulang ke Papua, bahaya kalau sampai jatuh sakit dan harus masuk rumah sakit, dan aku tidak punya siapa-siapa di kota ini. Kuliah S2 sudah tidak seperti S1 atau apoteker dulu yang dengan beberapa teman bisa ngontrak rumah sama-sama, berjuang sama-sama, susah sedih sama-sama. Mahasiswa S2 itu kebanykan adalah kumpulan orang-orang yang punya kesibukan tinggi dan tetep berupaya meluangkan waktunya untuk mengejar karier dengan kuliah lagi. Kawan kerja pun demiakian, semua super sibuk, aku tak sampai hati ingin merepoti mereka semua. Pulang jauh labih baik. Lebih tepatnya pulang sambil melarikan diri. Biarkan jadi pecundang, asal diri tak terus-terusan mengingkari jatidiri dan hati nurani. Buat orang lain mungkin akulah yang kalah, tapi buatku akulah akan menang.

Benar saja, sampai rumah aku terkapar sakit dan hanya makan tiduran di kamar saja selama seminggu. Ketika badan mulai baikan, ada nyeri hebat lagi di bagian kanan. Nyeri sampai tak tertahankan, kali ini aku harus dirawat inap di rumah sakit. Sial, seumur-umur baru kali ini aku merasakan rasanya diinfus. Sungguh tidak enak betul. Setelah melalui serangkaian tes medis, fiks aku divonis terkena batu ginjal. Bersyukur, batunya masih kecil-kecil. Ada kemungkinan masih bisa dihancurkan dan dikeluarkan tanpa harus operasi.

Setelah kejadian ini, pada malam pergantian tahun 2018 aku mulai bertekad untuk mengentrapkan resolusi pola hidup sehat 2018. Kesehatan itu penting, ia asset paling berharga dalam investasi kehidupan.

Tiap hari aku atur pola makan dan pola tidur secara teratur untuk meredakan asam lambung yang kambuh-kambuhan. Tiap hari aku konsumsi minimal 3 liter air mineral plus tiga gelas rebusan air daun kejibeling, daun tempuyung, dan daun kumis kucing untuk meluruhkan batu-batu di ginjal. Tak lupa olahraga jadi rutinitas wajib. Diet mengatur pola makan, jamu, dan olahraga adalah terapi non farmakologi yang paling ampuh untuk menerapkan pola hidup sehat yang baik.

Setelah tubuh dirasai lebih baik, lebih sehat, dan lebih bugar. Saat kembali ke Surabaya, aku memeriksakan kembali batu ginjal itu di RSUD Dr Soetomo sebulan kemudian. Sujud syukurku pada Allah saat hasil CT Scan menyatakan sudah tidak ada batu baik di ginjal maupun di saluran ureter.

Momentum ini aku pakai untuk kembali ke jatidiri. Aku putuskan berhenti bekerja dari rumah sakit, aku putuskan cuti dari kuliah S2 Farmasi Klinik. Mungkin aku akan pulang kampung dulu sementara ini, mendirikan apotek sendiri dan bekerja sebagai pharmaprenuer, lenjut menulis dan berkarya sebagai writerprenuer, dan tak lupa mulai merintis usaha lain entah kuliner, perdagangan, atau yang lainnya sebagai seorang entrepreneur. Soal kuliah S2, suatu hari nanti akan aku teruskan lagi, tapi tidak dengan jurusan yang tidak relevan dengan pekerjaan yang cocok dengan ketiga passion hidupku itu tadi.

Yaa, benar sekali. Bahwa tidak ada kebahagian hidup selain daripada bisa kembali hidup dengan menjadi diri sendiri, kembali kepada jati diri, serta tidak mendustai nurani dalam hati.

Jangan pernah sekali-kali menyangkal apa yang ada dalam isi hati, jangan pernah. Itu yang akan membuat hidup seseorang jadi tak bahagia, cendrung derundung gelisah, resah yang menggundah. Apa hidup mau selamanya diselimuti awan kegalauan dan jauh dari mentari kebahagian. Ingat, hal terpenting dalam hidup itu adalah ketenangan hati dan ketentraman jiwa, dan itu semua tidak mungkin diraih kalau diri dilukai dengan nurani yang terus didustai. (Ali Ridwan, 25/02/18)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar