Aku mengenalmu sebagai sesosok gadis yang amat teramat
manis. Semanis sirupus simplex yang memiliki
kadar sukrosa sebanyak enam puluh persen dan hanya dengan sedikit
kandungan metil paraben.
Sikap manismu tercermin dalam
sempurnanya hasil evaluasi sediaan suspensi emulsi dengan kombinasi kosentrasi
corigen odoris, corigen saporis dan corigen coloris yang sesuai
literatur.
Di sini, hanya dapat aku mengagumimu dari kejauhan dan
berharap akan ada emulgator yang nantinya dapat menyatukan dua fase cinta kita.
Dua fase yang jelas dan tak mungkin dapat tersatukan. Kecuali mewujudkan dua
fase cinta itu dalam bentuk sediaan emulsi dengan label cinta pada etiketnya.
Akupun berharap bila suatu saat nanti partikel – partikel cintaku akan dapat terdispersi merata dalam pekatnya larutan cinta dalam hatimu. Aku akan berusaha menjadi penyalut sebagaimana salut yang selalu berada dalam dekapan tablet, sebagaimana zat pendapar senantiasa dapat menstabilkan pH injeksi, dan sebagaimana cangkang kapsul dapat selalu melindungi serbuk simplisia yang berada dalam cangkangnya.
Namun bila akhirnya cinta itu harus berakhir dengan
bertepuk sebelah tangan. Hancur dan
tergerus oleh sikap acuhmu. Dengan ikhlas dan sabar akan kuracik kembali cinta
itu menjadi butiran - butiran serbuk kecil yang meski telah hancur lebur namun akan tetap homogen dan terbungkus rapi
dalam tulusnya perkamen cinta kasih dalam tiap sudut ruang hatiku.
Ketahuilah, walau tak selembut krim dan tak sekeras pasta, namun cintaku padamu kan tetap sebening gel dan sejernih obat tetes mata. Aku mencintaimu dari segala macam bentuk sediaan yang telah aku formulasikan khusus untukmu. Entah itu solid, liquid, ataupun semi solid. Semua aku persembahkan hanya untumu seorang.
Tapi apalah arti dari semua sediaan yang telah aku
preformulasikan bila kau tak bersedia menjadi zat aktif dalam formula
standarku. Kalaupun akhirnya harus kuminum obat itu sudah pasti tak akan dapat
memberikan efek therapi dalam sakitnya hatiku tanpa adanya cinta
darimu. Metabolisme hidupku pun akan terasa hampa tanpamu.
Haruskah aku biarkan cinta itu terabsorbsi dan
terdistribusi begitu saja walau tanpa adanya kau yang tak pernah sudi hadir
dalam sepinya hidupku. Kemudian akan terus aku biarkan termetabolisme hingga
pada akhirnya dengan terpaksa aku harus terekskresi keluar dari jeratan
belenggu cintamu yang sungguh penuh derita. (Ali Ridwan, 2013)
Pmkran dan hoby yg sangat kreatif, alur yg bgus dan ssuai dgn jrusan... :)
BalasHapushmm, bca dong karyaku kak, aku jga ada uplode tlsan mngnai srat cnta versi fska dan kmia, karya waktu aku SMA dulu, bca tlsan kk jdi inget karyaku dluu...
lanjutiin kak... :)
Hmmmm.......
HapusMakasih ya monaaa...
Oke dech, meluncuurrr...
:)