Senin, 13 Januari 2014

Botani Farmasi (Simplisia Tanaman Obat)

Sumber alam senyawa obat dapat diperoleh dari tanaman (simplisia, ekstrak, isolat, metabolit/eksudat, senyawa aktif), hewan (bagian organ, ekstrak organ, metabolit/eksudat, senyawa aktif), mineral (bahan tambang), dan mikroorganisme (biomassa, metabolit, senyawa pemandu, senyawa aktif). Kandungan kimia tumbuhan dapat digolongkan menurut beberapa cara berdasarkan asal biosintesis, fifat kelarutan, dan gugus fungsi kunci tertentu.
Pada biosintesis metabolit sekunder merupakan hasil metabolisme sekunder yang hanya ditemukan pada organisme atau kelompok organisme tertentu, dihasilkan dari metabolit primer. Contoh : Alkaloid, flavonoid, tannin, terpenoid, kuinon, glikosida, saponin. Hubungan metabolit primer dan sekunder adalah metabolit sekunder terbentuk dari metabolit primer melalui berbagai jalur metabolisme yang disesuaikan dengan tujuan dan kondisi lingkungan tumbuhan tersebut tumbuh. Secara umum perbedaan metabolit primer dan metabolit sekunder adalah sebagai berikut :

Metabolit Primer
Metabolit Skunder
Distribusi
Merata dalam tiap organisme
Tidak merata
Fungsi
Universal, antara lain sumber energi pertumbuhan
Ekologis, antara lain penarik serangga, pertahanan.
Struktur Kima
Perbedaan kecil
Berbeda – beda.
Fisiologi
Berkaitan dengan struktur kimia
Tidak berkaitan dengan struktur kimia

Obat Tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dari bahan-bahan tersebut, yang secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.  Fitofarmaka adalah sediaan obat yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara klinis, bahan bakunya terdiri dari simplisia atau sediaan galenik yang telah memenuhi persyaratan yang berlaku. Fitofarmaka setaraf dengan obat modern.
Obat Tradisional merupakan bahan/ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewani, bahan mineral, sediaan sarian/galenik, atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat tradisional dan belum mengalami pengolahan apapun juga kecuali dinyatakan lain berupa bahan yang dikeringkan.
Radix : akar (root), sering tidak sama dengan konsep botani. Namanya radix ternyata merupakan rhizomes (akar tinggal). c/ Rhei radix. Rhizoma : akar tinggal (rhizome), batang di dalam tanah. c/ Curcuma rhizome. Tuber : bagian di dalam tanah yang mengandung nutrisi, yang secara botani merupakan akar/rhizoma. Tuber adalah bagian tumbuhan yang menebal, utamanya terdiri dari parenkim tempat menyimpan makanan (biasanya pati/amilum) dan dengan sedikit bagian yang berkayu.
Bulbus : onion, umbi Lapis. Secara botani umbi Lapis adalah batang, yang diselimuti dengan daun bernutrisi yang biasanya hanya sedikit mengandung klorofil. Lignum : wood, kayu. Secara botani adalah bagian xilem yang berkayu. Namun sering keliru, misalnya Quassiae Iignum juga mengandung kulit batang yang tebal, walaupun hanya sebagian kecil. c/ Sappan lignum. Cortex : bark, kulit kayu. Berupa seluruh jaringan di luar kambium. Dapat berasal dan akar, batang, dan cabang. c/ Chinconea cotex .
Folium : leaf, daun terdiri dari daun tengah pada tumbuhan. c/ Abri folium. Flos : flower, bunga yang terdiri dari bunga tunggal atau seluruh karangan bunga. c/ Jasmine flos. Fructus : fruit, buah yang berupa buah yang belum masak, sudah tua belum masak, sudah masak. c/ Cubebae fructus. Pericarpium : fruit peel, kulit buah. Semen : seed, biji terdiri dan seluruh biji atau biji tanpa kulit. c/ Coffeae semen. Herba : herb, Bagian tumbuhan di atas tanah (aerial parts) terdiri dari batang, daun, bunga, dan buah. c/ Andrographis herba.
Aetheroleum : essential oil, volatile oil. Minyak atsiri (minyak menguap, minyak terbang) adalah produk yang berasal dari tumbuhan atau bagiannya yang berbau khas yang terdiri banyak komponen yang komplek dan bersifat menguap.  Oleum : oil, minyak lemak (fixed oil) yang berasal dari tumbuhan yang dipisahkan dengan pengepresan. Pyroleum : tar, dibuat dengan destilasi kering bahan tumbuhan. Resina : resin, yaitu produk dan sekret tumbuhan tertentu atau hasil destilasi balsam, yaitu residu penyulingan balsam. Balsamum : balsam, Larutan resin dalam minyak atsiri yang dihasilkan oleh tumbuhan tertentu.
Simplisia sebagai bahan kefarmasian seharusnya memenuhi 3 parameter mutu suatu bahan (material), yaitu kebenaran jenis (identitas), kemurnian (bebas dari kontaminasi kimia dan biologis) serta aturan penstabilan (wadah, penyimpanan dan transportasi). Simplisia sebagai bahan dan produk konsumsi manusia sebagai obat tetap diupayakan memenuhi 3 paradigma seperti produk kefarmasian lainnya : Quality-Safety-Efficacy (Mutu-Aman-Manfaat). Simplisia sebagai bahan dengan kandungan kimia yang bertanggung jawab terhadap respon biologis harus memiliki spesifikasi kimia, yaitu informasi komposisi (jenis dan kadar) senyawa kandungan.
Penyiapan Simplisia : Bahan baku simplisia. Proses pembuatan simplisia. Cara pengepakan/pengemasan dan penyimpanan simplisia. Pemanenan pada Saat yang Tepat. Waktu pemanenan (kadar bahan kimia yang optimal). Kandungan kimia akan mencapai kadar optimum pada waktu tertentu. Biji (semen) dipanen pada saat sudah tua atau buah sudah mengering. Buah (fructus) dikumpulkan pada saat buah sudah masak atau sudah tua, tetapi belum terlalu masak. Daun (folia) dikumpulkan pada saat tumbuhan menjelang berbunga/ sedang berbunga tapi belum berbuah.
Bunga (flores/flos) dipanen pada saat masih kuncup (misal bunga cengkeh, melati), atau tepat mekar (Mawar). Kulit batang (cortex) diambil dari tumbuhan yang telah tua atau umur yang tepat, sebaiknya pada musim kemarau sehingga kulit kayu mudah dikelupas. Umbi lapis (bulbus) dipanen pada waktu umbi mencapai besar optimum, yaitu pada waktu bagian atas tumbuhan sudah mulai mengering. Rimpang atau “empon-empon” dipanen pada waktu pertumbuhan maksimal dan bagian diatas tanah sudah mulai mengering, yaitu pada permulaan musim kemarau.
Proses pembuatan simplisia meliputi sortasi basah, pencucian, perajangan, pengeringan, sortasi kering, pengepakan dan penyimpanan. Sortasi Basah, bertujuan menyiapkan bahan baku simplisia dan memastikan bahan tersebut benar dan murni, artinya simplisia yang dimaksud berasal dari tumbuhan yang benar. Memisahkan/membuang bahan organik asing tumbuhan/bagian tumbuhan lain yang terambil. Memisahkan dari pengotor seperti tanah, kerikil, atau pengotor lainnya (seperti serangga, dll)
Pada tahap pencucian yang harus diperhatikan : Jangan menggunakan air sungai, karena mengandung cemaran logam berat. Sebaiknya menggunakan air dari mata air, sumur, atau air ledeng (PAM). Setelah simplisia dicuci, lalu ditiriskan agar kelebihan air cucian mengalir. Kedalam air untuk mencuci rimpang, bisa ditambahkan kalium permanganat untuk menekan angka kuman kemudian dilakukan perajangan.
Tujuan perajangan adalah agar proses pengeringan berlangsung lebih cepat. Perajangan dapat dilakukan secara “manual” atau dengan mesin perajang. Perlu diperhatikan: “Jika terlalu tebal maka proses pengeringan akan terlalu lama dan kemungkinan dapat membusuk/berjamur” dan “Jika terlalu tipis, akan berakibat rusaknya kandungan kimia karena oksidasi/reduksi”. Kemudian ilakukan pengeringan.
Pengeringan merupakan proses pengawetan simplisia sehingga simplisia tahan lama dalam penyimpanan. Menghindari terurainya kandungan kimia karena pengaruh enzim. Pengeringan yang cukup akan mencegah pertumbuhan mikroorganisme dan kapang, serta jamur. Contoh: Jamur Aspergilus flavus akan menghasilkan aflatoksin yang sangat beracun dan dapat menyebabkan kanker hati. Menurut persyaratan OT (angka khamir/kapang tidak lebih dari 104). Mikroba patogen harus negatif dan kandungan aflatoksin tidak lebih dari 30 bpj. Tanda simplisia sudah kering adalah mudah meremah bila diremas/mudah patah. Menurut persyaratan OT pengeringan dilakukan sampai kadar air tidak lebih dari 10%. Selanjutnya dilakukan sortasi kering.
Simplisia yang sudah kering masih dilakukan sortasi untuk memisahkan kotoran, bahan organik asing, dan simplisia yang rusak akibat proses sebelumnya. Lalu kemudian dilakukan pengepakan dan penyimpanan. Bahan pengemas harus sesuai dengan simplisia yang dipak. Misalkan simplisia yang mengandung minyak atsiri jangan dikemas dalam wadah plastik karena akan menyerap bau. Sebaiknya menggunakan karung goni. Penyimpanan harus teratur, rapi, untuk mencegah resiko tercemar atau saling mencemari satu sama lain, memudahkan pengambilan, pemeriksaan dan pemeliharaannya. Diberi label yang mencantumkan identitas, kondisi, jumlah, mutu dan cara penyimpanan. Gudang penyimpanan harus memenuhi persyaratan antara lain : bersih, tertutup, sirkulasi udara baik, tidak lembab, cukup cahaya matahari dan penerangan, serta konstruksi baik sehingga serangga (tikus, kecoak, dll) tidak leluasa masuk, tidak mudah kebanjiran, dan dialasi kayu yang baik.
Pemeriksaan mutu dilakukan secara periodik. Buku pegangan yang digunakan sebagai pedoman adalah Materia Medika Indonesia atau Farmakope Indonesia. Penetapan Standar Analisis Simplisia. Mikroskopik yaitu mencakup pengamatan terhadap penampang melintang simplisia atau bagian simplisia dan terhadap fragmen pengenal serbuk simplisia. Organoleptis yang meliputi pengamatan wujud, rupa, warna, bau dan rasa. Penetapan Kadar senyawa tertentu dalam simplisia. Uji Identifikasi untuk membuktikan bahwa bahan yang diperiksa mempunyai identitas yang sesuai dengan yang tertera pada etiket.
Metode Analisis FI IV : Bahan organik asing, Penetapan kadar abu, Penetapan kadar abu yang larut dalam asam, Penetapan serat kasar, Penetapan kadar minyak atsiri, dan Penetapan kadar air. MMI : Penetapan Kadar Minyak Atsiri, Penetapan Kadar Abu, Penetapan Kadar Abu Larut Air, Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam, Penetapan Susut Pengeringan, Penetapan Kadar Air, Penetapan Kadar Sari Larut Air, Penetapan Kadar Sari Larut Etanol, Penetapan Bahan Organik Asing, dan Penetapan Kadar Tanin.
WHO (Quality Control Methods for Medicinal Plant Materials) : Determination of foreign matter, Macroscopic & microscopic examination, Determination of ash, Determination of extractable matter, Determination of water & volatile matter, Determination of volatile oil, Determination of bitterness value, Determination of haemolytic activity, Determination oftannins, Determination of swelling index, Determination of pestisides residues, Determination of arsenic & heavy metals, dan Determination ofmicroorganism. (Sekolah Tinggi Farmasi bandung, Kelas Ekstensi 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar