Sabtu, 22 Maret 2014

Praformulasi dan Formulasi Sediaan Steril (Obat Tetes Mata)

 
Praformulasi
Praformulasi merupakan tahap awal dalam serangakaian proses pembuatan sediaan farmasi dengan mengumpulkan keterangan-keterangan tentang sifat-sifat fisika dan kimia zat aktif yang dapat mempengaruhi penampilan obat dan perkembangan suatu bentuk sediaan farmasi.
1.      Tujuan praformulasi
Proses optimasi suatu obat melalui penentuan atau defenisi sifat-sifat fisika dan kimia yang dianggap penting dalam menyusun formulasi sediaan stabil, efektif dan aman. Membantu dalam memberikan arah yang lebih sesuai untuk membuat suatu rencana bentuk sediaan.
2.      Data praformulasi
Data praformulasi dikumpulkan dan dikaji dari berbagai pustaka yang ada. Semakin lengkap data yang dikumpulkan akan semakin memudahkan dalam formulasi. Dengan data yang lengkap, formulasi dapat dilakukan lebih cermat, tepat, efektif dan efisien dalam rangka memenuhi tujuan pembuatan sediaan farmasi yang secara fisikokimia dan biofarmasetika bagus.
3.      Awal dan sasaran studi praformulasi
Studi praformulasi awal didesain untuk mempelajari sifat-sifat fisika dan  kimia senyawa dengan pemilihan formulasi sediaan. Studi praformulasi dimulai setelah menemukan zat aktif baru yang dapat dipasarkan, tetapi studi praformulasi berlaku untuk semua zat aktif baru atau lama yang akan dikembangkan menjadi suatu produk sediaan obat.
4.      Cakupan studi praformulasi untuk sediaan tetes mata.
a.       Organoleptis
Oragnoleptis adalah studi praformulasi yang harus dilakukan untuk mengetahui pemerian zat aktif terdiri dari warna, bentuk, aroma dan rasa zat aktif dengan menggunakan terminologi deskriptif. Uji organoleptis sangat berguna dalam melakukan identifikasi awal mengenai suatu zat yang akan dibuat suatu sediaan. Uji ini dilakukan dengan tujuan mengetahui bentuk dari bahan yang akan digunakan dalam formulasi, agar tidak salah dalam mengambil bahan-bahan untuk formulasi.
Dalam menentukan zat yang akan digunakan, dapat mengamatinya dari segi bentuk, warna, rasa juga aroma. Warna memegang peranan penting dalam identifikasi suatu sediaan sebelum membuat suatu sediaan tetes mata. Karena hal yang akan dilihat pertama kali adalah warna dari bahan-bahan itu. Selain warna, bentuk juga memegang peranan yang sangat penting dalam identifikasi. Setelah menentukan warna, biasanya yang dilihat terlebih dahulu adalah bentuk dari bahan itu.
Sehingga akan benar-benar yakin bahwa yang digunakan dalam formulasi adalah bahan-bahan yang tepat. Sebagian zat memiliki aroma yang khas. Dengan uji organoleptis, dapat mempermudah identifikasi suatu bahan. Terutama bahan yang mengandung aroma yang khas. Daftar beberapa istilah organoleptik dalam FI Ed. IV.
Warna
Rasa
Aroma
Bentuk
Putih
Hampir putih
Putih kekuningan
Kuning
Kuning pucat
Kuning kecoklatan
Krem
Krem pucat
Keabu-abuan
Merah tua
Merah muda
Merah jingga
Merah
Coklat
Asam
Asin
Pahit
Manis
Membakar
Dingin
Pedas
Tidak berasa
Sedikit pahit
Sangat pahit
Aroma minyak permen
Sedikit beraroma cuka
Aroma Khas
Aroma menusuk
Aroma aromatik
Aroma lemah
Aroma seperti sulfida
Praktis tidak beraroma
Tidak beraroma
Aroma amin ringan
Aroma tidak enak seperti merkapton
Aroma asam klorida lemah
Hablur
Berserat
Granul
Serbuk halus
Partikel seperti pasir
Serbuk ruah
Higroskopis
Serbuk amorf
Serpihan
Bentuk jarum

b.      Analisis fisikokimia
Data analitik zat aktif, yang mencakup data kualitatif, data kuantitatif dan kemurnian.
Data kualitatif dan data kuantitatif. Analisis ini merupakan bagian penting dalam studi praformulasi yaitu untuk penetapan identitas dan kadar zat aktif. Untuk penetapan kualitatif biasanya digunakan kromatografi lapis tipis, spectrum serapan inframerah, reaksi warna, spectrum serapan ultraviolet dan reaksi lainnya. Penetapan kadar zat aktif biasanya dilakukan dengan metode spektrofotometri, kromatografi gas, kromatografi cair kinerja tinggi (KCKK), titrasi kompleksometri, asam basa, argentometri, iodometri, dan sebagainya. Penetapam kadar dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kadar dari zat aktif yang akan digunakan dalam pembuatan sediaan.
c.       Kemurnian
Praformulasi harus mempunyai daya memahami kemurnian suatu zat aktif. Ketidakmurnian dapat mempengaruhi stabilitas, misalnya kontaminasi logam dengan kadar seperjuta (ppm) dapat merusak beberapa golongan senyawa tertentu. Kemurnian juga dapat memberikan efek yang lain bagi untuk efek terapi yang di harapkan. Metode lain yang berguna dalam menilai kemurnian adalah analisis termal gravimetri dan diferensial. Mengetahui kemurnian suatu bahan dimaksudkan untuk agar bahan aktif atau bahan tambahan yang digunakan tidak mengalami kontaminan sehingga sediaan steril yang dihasilkan memiliki efek terapi yang maksimal.
d.      Sifat-sifat fisikomekanik / karakteristik fisik
Sifat-sifat fisikomekanik mencakup ukuran partikel, luas permukaan, pembahasan higroskopisitas, aliran serbuk, karakteristik pengempaan dan bobot jenis.
Uraian Fisik. Uraian fisik dari suatu obat sebelum pengembangan bentuk sediaan penting untuk dipahami, kebanyakan zat obat yang digunakan sekarang adalah bahan padat. Kebanyakan obat tersebut merupakan senyawa kimia murni yang berbentuk amorf atau kristal. Obat cairan digunakan dalam jumlah yang lebih kecil, gas bahkan lebih jarang lagi. Untuk mengembangkan bentuk sediaan maka perlu diketahui tentang uraian fisik suatu bahan agar mempermudah dalam menentukan metode membuat sediaan.
Pengujian Mikroskopik. Pengujian mikroskopik dari zat murni (bahan obat) merupakan suatu tahap penting dalam kerja (penelitian) praformulasi. Pengujian ini memberikan indikasi atau petunjuk tentang ukuran partikel dari zat murni seperti juga struktur kristal. Pengujian mikroskopik bertujuan untuk mengetahui tentang ukuran partikel. Sehingga pada saat pembuatan sediaan tetes mata akan diketahui ukuran partikel jika memang bentuk sediaan adalah suspensi.
Ukuran Partikel. Sifat-sifat fisika dan kimia tertentu dari zat obat dipengaruhi oleh distribusi ukuran partikel, termasuk laju disolusi obat, bioavailabilitas, keseragaman isi, rasa, tekstur, warna dan kestabilan. Sifat-sifat seperti karateristik aliran dan laju sedimentasi juga merupakan faktor-faktor penting yang berhubungan dengan ukuran partikel. Ukuran partikel dari zat murni dapat mempengaruhi formulasi produk. Khususnya efek ukuran partikel terhadap absorpsi obat. Keseragaman isi dalam bentuk sediaan padat sangat tergantung kepada ukuran partikel dan distribusi bahan aktif pada seluruh formulasi yang sama.
Koefisien Partisi dan Konstanta Disosiasi. Untuk memproduksi suatu respon biologis molekul obat pertama-tama harus melewati suatu membrane biologis yang bertindak sebagai pembatas lemak. Kebanyakan obat yang larut lemak akan lewat dengan proses difusi pasif sedangakn yang tidak larut lemak akan melewati pembatas lemak dengan transport aktif. Karena hal ini maka perlu mengetahui koefisien partisi dari suatu obat. Khusus untuk obat yang bersifat larut air maka perlu pula diketahui konstanta disosiasi agar diketahui bentuknya molekul atau ion. Bentuk molekul lebih muda terabsorpsi daripada bentuk ion.
Polimerfisme. Suatu formulasi yang penting adalah bentuk kristal atau bentuk amorf dari zat obat tersebut. Bentuk-bentuk polimorfisme biasanya menunjukkan sifat fisika kimia yang berbeda termasuk titik leleh dan kelarutan. Bentuk polimorfisme ditunjukkan oleh paling sedikit sepertiga dari senua senyawa-senyawa organik.
Kelarutan. Suatu sifat kimia fisika yang penting dari suatu zat obat adalah kelarutan, terutama kelarutan sistem dalam air. Suatu obat harus memiliki kelarutan dalam air agar manjur dalam terapi. Agar suatu obat masuk kedalam sistem sirkulasi dan menghasilkan suatu efek terapeutik, obat pertama-tema harus berada dalam bentuk larutan. Senyawa-senyawa yang relative tidak larut seringkali menunjukkan absorpsi yang tidak sempurna atau tidak menentu. Dalam pembuatan sediaan steril tetes mata harus mengetahui kelarutan bahan aktifnya, sehingga dapat membuat sediaan larutan. Sediaan larutan diutamakan agar tetes mata yang dibuat tidak mengandung partikel-partikel yang besar sehingga dapat mengiritasi mata dan penyerapannya pun cepat.
Disolusi. Perbedaan aktivitas biologis dari suatu zat obat mungkin diakibatkan oleh laju disolusi. Laju disolusi adalah waktu yang diperlukan bagi obat untuk melarut dalam cairan pada tempat absorpsi. Untuk obat yang diberikan secara oral dalam bentuk padatan, laju disolusi adalah tahap yang menentukan laju absorpsi. Akibatnya laju disolusi dapat mempengaruhi onset, intensitas dan lama respon serta bioavailabilitas.
Kestabilan. Salah satu aktivitas yang paling penting dalam praformulasi adalah evaluasi kestabilan fisika dari zat obat murni. Pengkajian awal dimulai dengan menggunakan sampel obat dengan kemurnian yang diketahui. Adanya pengotoran akan menyebabkan kesimpulan yang salah dalam evaluasi tersebut. Pengkajian praformulasi yang dihubungkan dengan fase praformulasi termasuk kestabilan obat itu sendiri dalam keadaan padat, kestabilan fase larutan dan kestabilan dengan adanya bahan penambah.
Ketidak stabilan kimia dari zat obat dapat mengambil banyak bentuk, karena obat-obat yang digunakan sekarang adalah dari konstituen kimia yang beraneka ragam. Secara kimia, zat obat adalah alcohol, fenol, aldehid, keton, ester-ester, asam-asam, garam-garam, alkaloid, glikosida, dan lain-lain. Masing-masing dengan gugus kimia relative yang mempunyai kecenderungan berbeda terhadap ketidak stabilan kimia. Secara kimia proses kerusakan yang paling sering meliputi hidrolisis dan oksidasi.
5.      Karakteristik Larutan
a.       Konstanta disosiasi
Konstanta disosiasi digunakan untuk mengetahui Ph dalam proses pembuatan sediaan steril.  Saat suatu asam HA larut dalam air, sebagian asam tersebut terurai (terdisosiasi) membentuk ion hidronium dan basa konjugasinya. Hubungan dengan pembuatan sediaan tetes mata yaitu sediaan  harus sesuai dengan pH yang hampir sama dengan mata agar tidak terjadi iritasi.
HA(aq) + H2O(l) H3O+(aq) + A(aq)
b.      Kelarutan
Semua sifat fisika atau kimia bahan aktif langsung atau tidak langsung akan dipengaruhi oleh kelarutan. Dalam larutan ideal, kelarutan bergantung  pada suhu lebur. Hubungan dengan pembuatan sediaan tetes mata yaitu sediaan harus larut dalam zat pembawa sehingga tidak terjadi iritasi pada mata.
c.       Disolusi
Disolusi merupakan tahap pembatas laju absorbsi suatu obat menuju sirkulasi sistemik.Uji ini digunakan untuk mengetahui waktu zat aktif mulai dilepaskan untuk memperoleh kadar yang tinngi dalam darah.
d.      Stabilitas
Penting  sekali mengevaluasi stabilitas fisika dan kimia dari bahan aktif murni. Keberadaan pengotor dapat menyebabkan kesimpulan yang keliru (salah). Hubungan dengan pembuatan tetes mata karena pada sediaan tetes mata keadaan harus steril dan bebas dari keberadaan pengotor.
Studi praformulasi pada dasarnya berguna untuk menyiapkan dasar yang rasional untuk pendekatan formulasi, Untuk memaksimalkan kesempatan keberhasilan memformulasi produk yang dapat diterima oleh pasien dan akhirnya menyiapkan dasar untuk mengoptimalkan produksi obat dari segi kualitas dan penampilan.

Formulasi

Secara umum komposisi tetes mata terdiri dari :
1.      Zat aktif (active ingredients)
2.      Zat pembantu (nonactive ingredients/ excipients)
Macam-macam zat pembantu atau excipients dalam pembuatan sediaan tetes mata meliputi pengawet, pengisotonis, antioksidan, pendapar, peningkat viskositas, pensuspensi dan surfaktan.
1.      Zat Aktif
Zat aktif merupakan bahan yang diharapkan memberikan efek terapetik atau efek lain yang diharapkan. Sebagian besar zat aktif yang digunakan untuk sediaan mata bersifat larut air atau dipilih bentuk garamnya yang larut air. Sifat-sifat fisikokimia yang harus diperhatikan dalam memilih garam untuk formulasi larutan optalmik yaitu:
a.       Kelarutan
b.      Stabilitas
c.       pH stabilitas dan kapasitas dapar
d.      Kompatibilitas dengan bagan lain dalam formula.
Sebagian besar zat aktif untuk sediaan optalmik adalah basa lemah. Bentuk garam yang biasa digunakan garam hidroklorida, sulfat dan nitrat. Sedangkan untuk zat aktif yang berupa asam lemah biasanya digunakan garam natrium. (codex hal 161)
Suspensi mata dapat dipakai untuk meningkatkan waktu kontak zat aktif dengan kornea sehingga memberi kerja lepas lambat yang lebih lama (Ansel, 559). Menurut Codex, pemilihan bentuk suspensi disebabkan:
a.       Rendahnya bioavailabilitas zat aktif dalam bentuk larutannya.
b.      Toksisitas atau stabilitas zat aktif dalam bentuk larutan.
Karena mata adalah organ yang sangat sensitif, maka partikel-partikel dalam suspensi dapat mengiritasi dan meningkatkan laju lakrimasi dan kedipan. Maka solusinya digunakan partikel yang sangat kecil yaitu dengan memakai zat aktif yang dimikronisasi (micronized).
Masalah utama suspensi optalmik adalah kemungkinan terjadinya perubahan ukuran partikel menjadi lebih besar selama penyimpanan. Oleh karena itu, surfaktan diperlukan untuk membasahi zat aktif hidrofob dan untuk memperlambat pengkristalan. Pensuspensi yang digunakan biasanya sama dengan bahan peningkat viskositas.
2.      Zat Tambahan
a.      Pengawet
Larutan obat mata dapat dikemas dalam wadah takaran ganda bila digunakan secara perorangan pada pasien dan bila tidak terdapat kerusakan pada permukaan mata. Wadah larutan obat mata harus tertutup rapat dan disegel untuk menjamin sterilitas pada pemakaian pertama. Sedangkan untuk penggunaan pembedahan, disamping steril, larutan obat mata tidak boleh mengandung antibakteri karena dapat mengiritasi jaringan mata. (FI IV hal 13)
Kontaminasi pada sediaan mata dapat menyebabkan kerusakan yang serius. Misalnya menyebabkan radang kornea mata. Kontaminan yang terbesar adalah Pseudomonas aeruginosa. Organisme lain yang bisa mengjasilkan infeksi pada kornea seperti golongan proteus yang telah diketahui sebagai kontaminan dalam larutan metil selulosa. Selain bakteri, fungi juga merupakan kontaminan. Misalnya Aspergilus fumigatus. Virus juga merupakan kontaminan seperti herpes simplex. Umumnya pengawet tidak cocok dengan virus.
Pengawet yang dipilih seharusnya mencegah dan membunug pertumbuhan mikroorganisme selama penggunaan. Pengawet yang sesuai untuk larutan obat tetes mata hendaknya memiliki sifat sebagai berikut:
a)      Bersifat bakteriostatik dan fungistatik. Sifat ini harus dimiliki terutama terhadao Pseudomonas aeruginosa.
b)      Non iritan terhadap mata (jaringan okuler yaitu kornea dan konjungtiva)
c)      Kompatibel terhadap bahan aktif dan zat tambahan lain yang dipakai.
d)     Tidak memiliki sifat alergen dan mensensitisasi.
e)      Dapat mempertahankan aktivitasnya pada kondisi normal penggunaan sediaan.
Golongan pengawet pada sediaan tetes mata (DOM hal 148: Diktat kuliah teknologi steril, 291-293; Codex, 161-165; Benny Logawa, 43):
Jenis
Konsentrasi
Inkompatibilitas
Keterangan
Senyawa amonium kuartener:
Benzalkonium klorida
0,004-0,02% (biasanya 0,01 %)
Sabun, surfaktan anionik, salisilat, nitrat, fluoresecin natrium.
Paling banyak dipakai untuk sediaan optalmik.
Efektivitasnya ditingkat-kan dengan penambahan EDTA 0,02%
Senyawa merkur nitrat:
Fenil merkuri nitrat
Thiomersal

0,01-0,005 %
0,005 %
Halida tertentu dengan fenilmerkuri asetat
Biasanya digunakan seba-gai pengawet dari zat aktif yang OTT dengan Benzalkonium Klorida
Parahidroksi benzoat:
Nipagin, Nipasol
Nipagin 0,18% + Nipasol 0,02%
Diadsorpsi oleh makro-molekul, interaksi dg surfaktan nonionik
Jarang digunakan, banyak digunakan untuk mence-gah pertumbuhan jamur, dalam dosis tinggu mem-punyai sifat antimikroba yang lemah
Fenol:
Klorobutanol

0,5-0,7 %
Stabilitasnya pH depen-dent; aktivitasnya tercapai pada konsen-trasi dekat kelarutan max
Akan berdifusi melalui kemasan polietilen low-density.

Kombinasi pengawet yang biasanya digunakan adalah:
a)      Benzalkonium klorida + EDTA
b)      Benzalkonium klorida + Klorobutanol/ feniletilalkohol/ fenilmerkuri nitrat
c)      Klorobutanol +EDTA / paraben
d)     Tiomerasol + EDTA
e)      Feniletilalkohol + paraben
Catatan:
a)      Garam merkuri dan thimerosal merupakan pengawet alternatif untuk mengganti benzalkonium klorida jika benzalkonium klorida tidak bisa dipakai.
b)      Garam fenil merkuri digunakan sebagai pengawet untuk salisilat dan nitrat dan larutan garam fisostigmine dan efinefrin yang mengandung 0,1% Na-sulfit.
c)      Zink sulfat OTT dengan semua pengawet kecuali asam borat, tapu asam borat dilarang penggunaannya oleh POM.
b.      Pengisotonis
Pengisotonis yang dapat digunakanadalah NaCl, KCl, glukosam gliserol dan dapar (Codex, 161-165). Rentang tonisitas yang masih dapat diterima oleh mata:
FI IV    : 0,6-2,0 %                               RPS dan RPP              : 0,5-1,8 %
AOC    : 0,9-1,4 %                               Codex dan Husa         : 0,7-1,5 %
Tapi usahakan berada pada rentang 0,6-1,5% (Diktat kuliah teknologi steril)
c.       Pendapar
Secara ideal larutan obat mata mempunyai pH dan isotonisitas yang sama dengan air mata. Hal ini tidak selalu dapat dilakukan karena pada pH 7,4 banyak obat yang tidak cukup larut dalam air. Sebagian besar garam alkaloid mengendap sebagai alkaloid bebas pada pH ini. Selain itu banyak obat tidak stabil secara kimia pada pH mendekati 7,4 (FI III 13). Tetapi larutan tanpa dapar antara pH 3,5 – 10,5 masih dapat ditoleransi walaupun terasa kurang nyaman. Di luar rentang pH ini dapat terjadi iritasi sehingga mengakibatkan peningkatan lakrimasi (Codex, 161-165).
Rentang pH yang masih dapat ditoleransi oleh mata menurut beberapa pustaka: 4,5-9,0 menurut AOC; 3,5-8,5 menurut FI IV
Syarat dapar (Codex, 161-165):
a)      Dapat menstabilkan pH selama penyimpanan
b)      Konsentrasinya tidak cukup tinggi sehingga secara signifikan dapat mengubah pH air mata
c)      Menurut Codex, dapar yang dapat digunakan adalah dapar borat, fosfat dan sitrat. Tapi berdasarkan Surat Edaran Dirjen POM tanggal 12 Oktober 1999, asam borat tidak boleh digunakan untuk pemakaian topikal/lokal karena resiko toksisitasnya lebih besar dibandingkan khasiatnya untuk penggunaan topikal. Jadi, dapar yang boleh digunakan untuk sediaan optalmik hanya dapar fosfat dan sitrat.
d)     Dapar yang digunakan sebaiknya dapar yang telah dimodifikasi dengan oenambahan NaCl yang berfungsi untuk menurunkan kapasitas daparnya.
d.      Peningkat Viskositas
Beberapa hal yang harus diperhatikan pada pemilihan bahan peningkat viskositas untuk sediaan optalmik adalah:
a)      Sifat bahan peningkat viskositas itu sendiri. Misalkan Polimer mukoadhesif (asam hyaluronat dan turunannya; carbomer) secara signifikan lebih efektif dari pada polimer non mukoadhesif pada konsentrasu equiviscous.
b)      Perubahan pH dapat mempengaruhi aktivitas bahan peningkat viskositas.
c)      Penggunaan produk dengan viskositas tinggi kadang tidak ditoleransi oleh mata dan menyebabkan terbentuknya deposit pada kelopak mata; sulit bercampur dengan air mata; atau mengganggu difusi obat.
d)     Penggunaan peningkat viskositas dimaksudkan untuk memperpanjang waktu kontak antara sediaan dengan kornea sehingga jumlah bahan aktif yang berpenetrasi dalam mata akan semakin tinggi sehingga menambag efektivitas terapinya.
Viskositas untuk larutan obat mata dipandang optimal jika berkisar antar 15-25 cps. Peningkatan viskositas yang biasa dipakai adalah metilselulosa 4000 cps sebanyak 0,25% atau 25 cps sebanyak 1%, HPMC atau polivinil alkohol (Ansel, 548-552). Menurut Codex, dapat digunakan metil selulosa, polivinil alkohol, PVP, dekstran and makrogol.
CMC Na jarang digunakan karena tidak tahan terhadao elektrolit sehingga kekentalan menurun, kadang tidak tercampurkan dengan zat aktif. Pada umumnya penggunaan senyawa selulosa dapat meningkatkan penetrasi obat dalam tetes mata, demikian juga dengan PVP dan dekstran. Jadi, pemilihan bahan pengental dalam obat tetes mata didasarkan pada:
a)      Ketahanan pada saat sterilisasi
b)      Kemungkinan dapat disaring
c)      Stabilitas
d)     Ketidak bercampuran dengan bahan-bahan lain.
Contoh peningkat viskositas:
a)      Hidroksipropil metilselulosa = hypromellose (HPMC)
b)      Metilselulosa
c)      Polivinil alkohol
e.       Antioksidan
Zat aktif untuk sediaan mata ada yang dapat teroksidasi oleh udara. Untuk itu kadang dibutuhkan antioksidan. Antioksidan yang sering digunakan adalah Na metabisulfit atau Na sulfit dengan konsentrasi sampai 0,3%. Vitamin C (asam askorbar) dan asetilsistein pun dapat dipakai terutama untuk sediaan fenilfrin. Dengan oksidatif seringkali dikatalisa oleh adanya logam berat, maka dapat ditambahkan pengkelat seperti EDTA. Penggunaan wadah plastik yang permeabel terhadap gas dapat meningkatkan proses oksidatif selama penyimpanan (Codex, 161-165)
Contoh antioksidan
a)      Natrium metabisulfit
b)      Natrium bisulfit
c)      Natrium sulfit
d)     Asam askorbat
f.       Surfaktan
Pemakaian surfaktan dalam obat tetes mata harus memenuhi berbagai aspek:
a)      Sebagai antimikroba (surfaktan golongan kationik seperti benzalkonium klorida, setil piridinium klorida, dll)
b)      Menurunkan tegangan permukaan antara obat mata dan kornea sehingga meningkatkan aksi terapiutik zat aktif.
c)      Meningkatkan ketercampuran antara obat tetes mata dengan cairan lakrimal. Meningkatkan kontak zat aktif dengan kornea dan konjungtiva sehingga meningkatkan penembusan penyerapan obat.
d)     Tidak boleh meningkatkan pengeluaran air mata, tidak boleh iritan dan merusak kornea. Surfaktan golongan non ionik lebih dapat diterima dibandingkan dengan surfaktan golongan lainnya.
e)      Penggunaan surfaktan dalam sediaan optalmik terbatas. Surfaktan non ionik yang paling tidak toksik dibanding golongan lain, digunakan dalam konsentrasi yang rendah dalam suspensi steroid dan sebagai pembatu untuk membentuk larutan yang jernih.
f)       Surfaktan dapa juga digunakan sebagai kosolben untuk meningkatkan solubilitas (jarang dilakukan). Surfaktan nin ionik dapat mengadsorpsi senyawa pengawet antimikroba dan menginaktifkannya. Menurut codex, surfaktan non ionik yang sering dipakai adalah polisorbat 80 (Tween 80). Sedangkan menurut diktat kuliah teknologi steril daoat juga digunakan Tween 20, benzetonium klorida, miristil-gamma-picolinium klorida, polioxil 40-stearat, alkil-aril-polietil alkohol, dioktil sodium sulfosuksinat, dll.

Pustaka
1.      Ansel. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi.  Jakarta : UI press
2.      Anonim. 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Jakarta : Departemen Kesehatan RI
3.      Anonim. 1995. Farmakope Indonesia ediai IV. Jakarta : Departemen Kesehatan RI
4.      Pharmacopee  Ned edisi V
5.      Soetopo dkk. 2002. Ilmu Resep Teori. Jakarta : Departemen Kesehatan
6.      Voigt. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta : UGM Press
7.      Lachman dkk. 1994. Teori Dan Praktek Farmasi Industri. Jakarta : UI Press
8.      Departemen Kesehatan RI. 1978. Formularium Nasional edisi II. Jakarta
9.      Van Duin. 1947. Ilmu Resep. Jakarta : Soeroengan
10.  Anonim. Farmakope Herbal
11.  Anief. 2006. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : UGM Pres
12.  Martindale, The Extra Pharmacopeia Twenty-eight Edition. The Parmaceutical Press, London. 1982.
13.  MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi. Jakarta: PT Infomaster.
14.  Departement of pharmaceutical Science. 1982. Martindale the Extra Pharmacoeia 28th edition. London: The Pharmaceutical Press.
15.  Badan Pengawas Obat dan Makanan. ISFI. 2006. ISO Indonesia, volume IV. Jakarta: PT. Anem Kosong Anem (AKA).
16.  Wade, Ainley and Paul J Weller.Handbook of Pharmaceutical excipients.Ed II.1994.London; The Pharmaceutical Press.
17.  Hardjasaputra, S. L. Purwanto, Dr. dkk. 2002. Data Obat di Indonesia (DOI), edisi 10. Jakarta: Grafidian medi press. (#Akfar PIM/2010)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar