Praformulasi
merupakan tahap awal dalam serangakaian proses pembuatan sediaan farmasi dengan
mengumpulkan keterangan-keterangan tentang sifat-sifat fisika dan kimia zat
aktif yang dapat mempengaruhi penampilan obat dan perkembangan suatu bentuk
sediaan farmasi.
1.
Tujuan
praformulasi
Proses optimasi suatu obat melalui penentuan atau defenisi sifat-sifat
fisika dan kimia yang dianggap penting dalam menyusun formulasi sediaan stabil,
efektif dan aman. Membantu dalam memberikan arah yang lebih sesuai untuk membuat
suatu rencana bentuk sediaan.
2.
Data
praformulasi
Data praformulasi dikumpulkan dan dikaji dari berbagai pustaka yang ada.
Semakin lengkap data yang dikumpulkan akan semakin memudahkan dalam formulasi.
Dengan data yang lengkap, formulasi dapat dilakukan lebih cermat, tepat,
efektif dan efisien dalam rangka memenuhi tujuan pembuatan sediaan farmasi yang
secara fisikokimia dan biofarmasetika bagus.
3.
Awal dan sasaran studi praformulasi
Studi praformulasi awal didesain
untuk mempelajari sifat-sifat fisika dan
kimia senyawa dengan pemilihan formulasi sediaan. Studi praformulasi
dimulai setelah menemukan zat aktif baru yang dapat dipasarkan, tetapi studi
praformulasi berlaku untuk semua zat aktif baru atau lama yang akan
dikembangkan menjadi suatu produk sediaan obat.
4.
Cakupan studi praformulasi untuk
sediaan tetes mata.
a.
Organoleptis
Oragnoleptis adalah studi praformulasi yang harus dilakukan untuk
mengetahui pemerian zat aktif terdiri dari warna, bentuk, aroma dan rasa zat
aktif dengan menggunakan terminologi deskriptif. Uji organoleptis sangat
berguna dalam melakukan identifikasi awal mengenai suatu zat yang akan dibuat
suatu sediaan. Uji ini dilakukan dengan tujuan mengetahui bentuk dari bahan
yang akan digunakan dalam formulasi, agar tidak salah dalam mengambil
bahan-bahan untuk formulasi.
Dalam menentukan zat yang akan digunakan, dapat mengamatinya dari segi
bentuk, warna, rasa juga aroma. Warna memegang peranan penting dalam
identifikasi suatu sediaan sebelum membuat suatu sediaan tetes mata. Karena hal
yang akan dilihat pertama kali adalah warna dari bahan-bahan itu. Selain warna,
bentuk juga memegang peranan yang sangat penting dalam identifikasi. Setelah
menentukan warna, biasanya yang dilihat terlebih dahulu adalah bentuk dari
bahan itu.
Sehingga akan benar-benar yakin bahwa yang digunakan dalam formulasi adalah
bahan-bahan yang tepat. Sebagian zat memiliki aroma yang khas. Dengan uji
organoleptis, dapat mempermudah identifikasi suatu bahan. Terutama bahan yang
mengandung aroma yang khas. Daftar beberapa istilah organoleptik dalam FI Ed.
IV.
Warna
|
Rasa
|
Aroma
|
Bentuk
|
Putih
Hampir putih
Putih
kekuningan
Kuning
Kuning pucat
Kuning
kecoklatan
Krem
Krem pucat
Keabu-abuan
Merah tua
Merah muda
Merah jingga
Merah
Coklat
|
Asam
Asin
Pahit
Manis
Membakar
Dingin
Pedas
Tidak berasa
Sedikit
pahit
Sangat pahit
Aroma minyak
permen
|
Sedikit
beraroma cuka
Aroma Khas
Aroma
menusuk
Aroma
aromatik
Aroma lemah
Aroma
seperti sulfida
Praktis
tidak beraroma
Tidak
beraroma
Aroma amin
ringan
Aroma tidak
enak seperti merkapton
Aroma asam
klorida lemah
|
Hablur
Berserat
Granul
Serbuk halus
Partikel
seperti pasir
Serbuk ruah
Higroskopis
Serbuk amorf
Serpihan
Bentuk jarum
|
b.
Analisis fisikokimia
Data analitik zat aktif, yang
mencakup data kualitatif, data kuantitatif dan kemurnian.
Data kualitatif dan data
kuantitatif. Analisis ini merupakan bagian penting dalam studi praformulasi
yaitu untuk penetapan identitas dan kadar zat aktif. Untuk penetapan kualitatif
biasanya digunakan kromatografi lapis tipis, spectrum serapan inframerah,
reaksi warna, spectrum serapan ultraviolet dan reaksi lainnya. Penetapan kadar
zat aktif biasanya dilakukan dengan metode spektrofotometri, kromatografi gas,
kromatografi cair kinerja tinggi (KCKK), titrasi kompleksometri, asam basa,
argentometri, iodometri, dan sebagainya. Penetapam kadar dilakukan dengan
tujuan untuk mengetahui kadar dari zat aktif yang akan digunakan dalam
pembuatan sediaan.
c.
Kemurnian
Praformulasi harus mempunyai
daya memahami kemurnian suatu zat aktif. Ketidakmurnian dapat mempengaruhi
stabilitas, misalnya kontaminasi logam dengan kadar seperjuta (ppm) dapat
merusak beberapa golongan senyawa tertentu. Kemurnian juga dapat memberikan
efek yang lain bagi untuk efek terapi yang di harapkan. Metode lain yang
berguna dalam menilai kemurnian adalah analisis termal gravimetri dan diferensial.
Mengetahui kemurnian suatu bahan dimaksudkan untuk agar bahan aktif atau bahan
tambahan yang digunakan tidak mengalami kontaminan sehingga sediaan steril yang
dihasilkan memiliki efek terapi yang maksimal.
d.
Sifat-sifat fisikomekanik /
karakteristik fisik
Sifat-sifat fisikomekanik
mencakup ukuran partikel, luas permukaan, pembahasan higroskopisitas, aliran
serbuk, karakteristik pengempaan dan bobot jenis.
Uraian Fisik. Uraian fisik dari suatu obat sebelum
pengembangan bentuk sediaan penting untuk dipahami, kebanyakan zat obat yang
digunakan sekarang adalah bahan padat. Kebanyakan obat tersebut merupakan
senyawa kimia murni yang berbentuk amorf atau kristal. Obat cairan digunakan
dalam jumlah yang lebih kecil, gas bahkan lebih jarang lagi. Untuk mengembangkan
bentuk sediaan maka perlu diketahui tentang uraian fisik suatu bahan agar
mempermudah dalam menentukan metode membuat sediaan.
Pengujian Mikroskopik. Pengujian
mikroskopik dari zat murni (bahan obat) merupakan suatu tahap penting dalam
kerja (penelitian) praformulasi. Pengujian ini memberikan indikasi atau
petunjuk tentang ukuran partikel dari zat murni seperti juga struktur kristal.
Pengujian mikroskopik bertujuan untuk mengetahui tentang ukuran partikel.
Sehingga pada saat pembuatan sediaan tetes mata akan diketahui ukuran partikel
jika memang bentuk sediaan adalah suspensi.
Ukuran Partikel. Sifat-sifat fisika dan kimia tertentu
dari zat obat dipengaruhi oleh distribusi ukuran partikel, termasuk laju
disolusi obat, bioavailabilitas, keseragaman isi, rasa, tekstur, warna dan
kestabilan. Sifat-sifat seperti karateristik aliran dan laju sedimentasi juga
merupakan faktor-faktor penting yang berhubungan dengan ukuran partikel. Ukuran
partikel dari zat murni dapat mempengaruhi formulasi produk. Khususnya efek
ukuran partikel terhadap absorpsi obat. Keseragaman isi dalam bentuk sediaan
padat sangat tergantung kepada ukuran partikel dan distribusi bahan aktif pada
seluruh formulasi yang sama.
Koefisien Partisi dan Konstanta Disosiasi. Untuk
memproduksi suatu respon biologis molekul obat pertama-tama harus melewati
suatu membrane biologis yang bertindak sebagai pembatas lemak. Kebanyakan obat
yang larut lemak akan lewat dengan proses difusi pasif sedangakn yang tidak
larut lemak akan melewati pembatas lemak dengan transport aktif. Karena hal ini
maka perlu mengetahui koefisien partisi dari suatu obat. Khusus untuk obat yang
bersifat larut air maka perlu pula diketahui konstanta disosiasi agar diketahui
bentuknya molekul atau ion. Bentuk molekul lebih muda terabsorpsi daripada
bentuk ion.
Polimerfisme. Suatu formulasi yang penting adalah
bentuk kristal atau bentuk amorf dari zat obat tersebut. Bentuk-bentuk
polimorfisme biasanya menunjukkan sifat fisika kimia yang berbeda termasuk
titik leleh dan kelarutan. Bentuk polimorfisme ditunjukkan oleh paling sedikit
sepertiga dari senua senyawa-senyawa organik.
Kelarutan. Suatu sifat kimia fisika yang penting
dari suatu zat obat adalah kelarutan, terutama kelarutan sistem dalam air.
Suatu obat harus memiliki kelarutan dalam air agar manjur dalam terapi. Agar
suatu obat masuk kedalam sistem sirkulasi dan menghasilkan suatu efek
terapeutik, obat pertama-tema harus berada dalam bentuk larutan.
Senyawa-senyawa yang relative tidak larut seringkali menunjukkan absorpsi yang tidak
sempurna atau tidak menentu. Dalam pembuatan sediaan steril tetes mata harus
mengetahui kelarutan bahan aktifnya, sehingga dapat membuat sediaan larutan.
Sediaan larutan diutamakan agar tetes mata yang dibuat tidak mengandung
partikel-partikel yang besar sehingga dapat mengiritasi mata dan penyerapannya
pun cepat.
Disolusi. Perbedaan aktivitas biologis dari suatu zat obat mungkin
diakibatkan oleh laju disolusi. Laju disolusi adalah waktu yang diperlukan bagi
obat untuk melarut dalam cairan pada tempat absorpsi. Untuk obat yang diberikan
secara oral dalam bentuk padatan, laju disolusi adalah tahap yang menentukan
laju absorpsi. Akibatnya laju disolusi dapat mempengaruhi onset, intensitas dan
lama respon serta bioavailabilitas.
Kestabilan. Salah satu aktivitas yang paling penting dalam
praformulasi adalah evaluasi kestabilan fisika dari zat obat murni. Pengkajian
awal dimulai dengan menggunakan sampel obat dengan kemurnian yang diketahui.
Adanya pengotoran akan menyebabkan kesimpulan yang salah dalam evaluasi
tersebut. Pengkajian
praformulasi yang dihubungkan dengan fase praformulasi termasuk kestabilan obat
itu sendiri dalam keadaan padat, kestabilan fase larutan dan kestabilan dengan
adanya bahan penambah.
Ketidak stabilan kimia dari zat obat
dapat mengambil banyak bentuk, karena obat-obat yang digunakan sekarang adalah
dari konstituen kimia yang beraneka ragam. Secara kimia, zat obat adalah
alcohol, fenol, aldehid, keton, ester-ester, asam-asam, garam-garam, alkaloid,
glikosida, dan lain-lain. Masing-masing dengan gugus kimia relative yang
mempunyai kecenderungan berbeda terhadap ketidak stabilan kimia. Secara kimia
proses kerusakan yang paling sering meliputi hidrolisis dan oksidasi.
5.
Karakteristik Larutan
a.
Konstanta disosiasi
Konstanta disosiasi digunakan untuk mengetahui Ph dalam proses
pembuatan sediaan steril. Saat suatu asam HA larut dalam
air, sebagian asam tersebut terurai (terdisosiasi) membentuk ion hidronium dan basa konjugasinya. Hubungan dengan
pembuatan sediaan tetes mata yaitu sediaan
harus sesuai dengan pH yang hampir sama dengan mata agar tidak terjadi
iritasi.
HA(aq) + H2O(l)
⇌ H3O+(aq) + A−(aq)
b.
Kelarutan
Semua sifat fisika atau kimia
bahan aktif langsung atau tidak langsung akan dipengaruhi oleh kelarutan. Dalam
larutan ideal, kelarutan bergantung pada
suhu lebur. Hubungan dengan pembuatan sediaan tetes mata yaitu sediaan harus
larut dalam zat pembawa sehingga tidak terjadi iritasi pada mata.
c.
Disolusi
Disolusi merupakan tahap
pembatas laju absorbsi suatu obat menuju sirkulasi sistemik.Uji ini digunakan
untuk mengetahui waktu zat aktif mulai dilepaskan untuk memperoleh kadar yang
tinngi dalam darah.
d.
Stabilitas
Penting sekali
mengevaluasi stabilitas fisika dan kimia dari bahan aktif murni. Keberadaan pengotor dapat
menyebabkan kesimpulan yang keliru (salah). Hubungan dengan pembuatan tetes
mata karena pada sediaan tetes mata keadaan harus steril dan bebas dari
keberadaan pengotor.
Studi praformulasi pada dasarnya
berguna untuk menyiapkan dasar yang rasional untuk pendekatan formulasi, Untuk
memaksimalkan kesempatan keberhasilan memformulasi produk yang dapat diterima
oleh pasien dan akhirnya menyiapkan dasar untuk mengoptimalkan produksi obat
dari segi kualitas dan penampilan.
Formulasi
Secara umum komposisi tetes mata terdiri dari :
1. Zat aktif (active ingredients)
2. Zat pembantu
(nonactive ingredients/ excipients)
Macam-macam zat pembantu atau
excipients dalam pembuatan sediaan tetes mata meliputi pengawet, pengisotonis,
antioksidan, pendapar, peningkat viskositas, pensuspensi dan surfaktan.
1.
Zat Aktif
Zat aktif merupakan bahan yang
diharapkan memberikan efek terapetik atau efek lain yang diharapkan. Sebagian
besar zat aktif yang digunakan untuk sediaan mata bersifat larut air atau dipilih
bentuk garamnya yang larut air. Sifat-sifat fisikokimia yang harus diperhatikan
dalam memilih garam untuk formulasi larutan optalmik yaitu:
a.
Kelarutan
b.
Stabilitas
c.
pH stabilitas dan kapasitas dapar
d.
Kompatibilitas dengan bagan lain dalam
formula.
Sebagian besar zat aktif untuk sediaan
optalmik adalah basa lemah. Bentuk garam yang biasa digunakan garam
hidroklorida, sulfat dan nitrat. Sedangkan untuk zat aktif yang berupa asam
lemah biasanya digunakan garam natrium. (codex
hal 161)
Suspensi mata dapat dipakai untuk
meningkatkan waktu kontak zat aktif dengan kornea sehingga memberi kerja lepas
lambat yang lebih lama (Ansel, 559). Menurut Codex, pemilihan bentuk suspensi
disebabkan:
a.
Rendahnya bioavailabilitas zat aktif
dalam bentuk larutannya.
b.
Toksisitas atau stabilitas zat aktif
dalam bentuk larutan.
Karena mata adalah organ yang sangat
sensitif, maka partikel-partikel dalam suspensi dapat mengiritasi dan
meningkatkan laju lakrimasi dan kedipan. Maka solusinya digunakan partikel yang
sangat kecil yaitu dengan memakai zat aktif yang dimikronisasi (micronized).
Masalah utama suspensi optalmik adalah
kemungkinan terjadinya perubahan ukuran partikel menjadi lebih besar selama
penyimpanan. Oleh karena itu, surfaktan diperlukan untuk membasahi zat aktif
hidrofob dan untuk memperlambat pengkristalan. Pensuspensi yang digunakan
biasanya sama dengan bahan peningkat viskositas.
2.
Zat Tambahan
a. Pengawet
Larutan obat mata dapat dikemas dalam
wadah takaran ganda bila digunakan secara perorangan pada pasien dan bila tidak
terdapat kerusakan pada permukaan mata. Wadah larutan obat mata harus tertutup
rapat dan disegel untuk menjamin sterilitas pada pemakaian pertama. Sedangkan
untuk penggunaan pembedahan, disamping steril, larutan obat mata tidak boleh
mengandung antibakteri karena dapat mengiritasi jaringan mata. (FI IV hal 13)
Kontaminasi pada sediaan mata dapat
menyebabkan kerusakan yang serius. Misalnya menyebabkan radang kornea mata.
Kontaminan yang terbesar adalah Pseudomonas
aeruginosa. Organisme lain yang bisa mengjasilkan infeksi pada kornea
seperti golongan proteus yang telah
diketahui sebagai kontaminan dalam larutan metil selulosa. Selain bakteri,
fungi juga merupakan kontaminan. Misalnya Aspergilus
fumigatus. Virus juga merupakan kontaminan seperti herpes simplex. Umumnya
pengawet tidak cocok dengan virus.
Pengawet yang dipilih seharusnya
mencegah dan membunug pertumbuhan mikroorganisme selama penggunaan. Pengawet
yang sesuai untuk larutan obat tetes mata hendaknya memiliki sifat sebagai
berikut:
a)
Bersifat bakteriostatik dan
fungistatik. Sifat ini harus dimiliki terutama terhadao Pseudomonas aeruginosa.
b)
Non iritan terhadap mata (jaringan okuler yaitu kornea dan konjungtiva)
c)
Kompatibel terhadap bahan aktif dan zat
tambahan lain yang dipakai.
d)
Tidak memiliki sifat alergen dan
mensensitisasi.
e)
Dapat mempertahankan aktivitasnya pada
kondisi normal penggunaan sediaan.
Golongan pengawet pada sediaan tetes mata (DOM hal 148: Diktat kuliah teknologi steril, 291-293;
Codex, 161-165; Benny Logawa, 43):
Jenis
|
Konsentrasi
|
Inkompatibilitas
|
Keterangan
|
Senyawa amonium kuartener:
Benzalkonium klorida
|
0,004-0,02% (biasanya 0,01 %)
|
Sabun, surfaktan anionik, salisilat, nitrat,
fluoresecin natrium.
|
Paling banyak dipakai untuk sediaan optalmik.
Efektivitasnya ditingkat-kan dengan penambahan EDTA
0,02%
|
Senyawa merkur nitrat:
Fenil merkuri nitrat
Thiomersal
|
0,01-0,005 %
0,005 %
|
Halida tertentu dengan fenilmerkuri asetat
|
Biasanya digunakan seba-gai pengawet dari zat aktif
yang OTT dengan Benzalkonium Klorida
|
Parahidroksi benzoat:
Nipagin, Nipasol
|
Nipagin 0,18% + Nipasol 0,02%
|
Diadsorpsi oleh makro-molekul, interaksi dg surfaktan
nonionik
|
Jarang digunakan, banyak digunakan untuk mence-gah
pertumbuhan jamur, dalam dosis tinggu mem-punyai sifat antimikroba yang lemah
|
Fenol:
Klorobutanol
|
0,5-0,7 %
|
Stabilitasnya pH depen-dent; aktivitasnya tercapai pada
konsen-trasi dekat kelarutan max
|
Akan berdifusi melalui kemasan polietilen low-density.
|
Kombinasi
pengawet yang biasanya digunakan adalah:
a)
Benzalkonium klorida + EDTA
b)
Benzalkonium klorida + Klorobutanol/
feniletilalkohol/ fenilmerkuri nitrat
c)
Klorobutanol +EDTA / paraben
d)
Tiomerasol + EDTA
e)
Feniletilalkohol + paraben
Catatan:
a)
Garam merkuri dan thimerosal merupakan
pengawet alternatif untuk mengganti benzalkonium klorida jika benzalkonium
klorida tidak bisa dipakai.
b)
Garam fenil merkuri digunakan sebagai
pengawet untuk salisilat dan nitrat dan larutan garam fisostigmine dan
efinefrin yang mengandung 0,1% Na-sulfit.
c)
Zink sulfat OTT dengan semua pengawet
kecuali asam borat, tapu asam borat dilarang penggunaannya oleh POM.
b. Pengisotonis
Pengisotonis yang dapat digunakanadalah
NaCl, KCl, glukosam gliserol dan dapar (Codex,
161-165). Rentang tonisitas yang masih dapat diterima oleh mata:
FI IV : 0,6-2,0 % RPS dan RPP : 0,5-1,8 %
AOC : 0,9-1,4 % Codex
dan Husa : 0,7-1,5 %
Tapi usahakan berada pada rentang 0,6-1,5% (Diktat kuliah teknologi steril)
c. Pendapar
Secara ideal larutan obat mata
mempunyai pH dan isotonisitas yang sama dengan air mata. Hal ini tidak selalu
dapat dilakukan karena pada pH 7,4 banyak obat yang tidak cukup larut dalam
air. Sebagian besar garam alkaloid mengendap sebagai alkaloid bebas pada pH
ini. Selain itu banyak obat tidak stabil secara kimia pada pH mendekati 7,4 (FI III 13). Tetapi larutan tanpa dapar
antara pH 3,5 – 10,5 masih dapat ditoleransi walaupun terasa kurang nyaman. Di
luar rentang pH ini dapat terjadi iritasi sehingga mengakibatkan peningkatan
lakrimasi (Codex, 161-165).
Rentang pH yang masih dapat ditoleransi
oleh mata menurut beberapa pustaka: 4,5-9,0 menurut AOC; 3,5-8,5 menurut FI IV
Syarat dapar
(Codex, 161-165):
a)
Dapat menstabilkan pH selama
penyimpanan
b)
Konsentrasinya tidak cukup tinggi
sehingga secara signifikan dapat mengubah pH air mata
c)
Menurut Codex, dapar yang dapat
digunakan adalah dapar borat, fosfat dan sitrat. Tapi berdasarkan Surat Edaran
Dirjen POM tanggal 12 Oktober 1999, asam borat tidak boleh digunakan untuk
pemakaian topikal/lokal karena resiko toksisitasnya lebih besar dibandingkan
khasiatnya untuk penggunaan topikal. Jadi, dapar yang boleh digunakan untuk
sediaan optalmik hanya dapar fosfat dan sitrat.
d)
Dapar yang digunakan sebaiknya dapar
yang telah dimodifikasi dengan oenambahan NaCl yang berfungsi untuk menurunkan
kapasitas daparnya.
d. Peningkat Viskositas
Beberapa hal yang harus diperhatikan
pada pemilihan bahan peningkat viskositas untuk sediaan optalmik adalah:
a)
Sifat bahan peningkat viskositas itu
sendiri. Misalkan Polimer mukoadhesif (asam hyaluronat dan turunannya;
carbomer) secara signifikan lebih efektif dari pada polimer non mukoadhesif
pada konsentrasu equiviscous.
b)
Perubahan pH dapat mempengaruhi
aktivitas bahan peningkat viskositas.
c)
Penggunaan produk dengan viskositas
tinggi kadang tidak ditoleransi oleh mata dan menyebabkan terbentuknya deposit
pada kelopak mata; sulit bercampur dengan air mata; atau mengganggu difusi
obat.
d)
Penggunaan peningkat viskositas
dimaksudkan untuk memperpanjang waktu kontak antara sediaan dengan kornea
sehingga jumlah bahan aktif yang berpenetrasi dalam mata akan semakin tinggi
sehingga menambag efektivitas terapinya.
Viskositas untuk larutan obat mata
dipandang optimal jika berkisar antar 15-25 cps. Peningkatan viskositas yang
biasa dipakai adalah metilselulosa 4000 cps sebanyak 0,25% atau 25 cps sebanyak
1%, HPMC atau polivinil alkohol (Ansel,
548-552). Menurut Codex, dapat digunakan metil selulosa, polivinil alkohol,
PVP, dekstran and makrogol.
CMC Na jarang digunakan karena tidak
tahan terhadao elektrolit sehingga kekentalan menurun, kadang tidak
tercampurkan dengan zat aktif. Pada umumnya penggunaan senyawa selulosa dapat
meningkatkan penetrasi obat dalam tetes mata, demikian juga dengan PVP dan
dekstran. Jadi, pemilihan bahan pengental dalam obat tetes mata didasarkan pada:
a)
Ketahanan pada saat sterilisasi
b)
Kemungkinan dapat disaring
c)
Stabilitas
d)
Ketidak bercampuran dengan bahan-bahan
lain.
Contoh peningkat viskositas:
a)
Hidroksipropil metilselulosa =
hypromellose (HPMC)
b)
Metilselulosa
c)
Polivinil alkohol
e. Antioksidan
Zat aktif untuk sediaan mata ada yang
dapat teroksidasi oleh udara. Untuk itu kadang dibutuhkan antioksidan.
Antioksidan yang sering digunakan adalah Na metabisulfit atau Na sulfit dengan
konsentrasi sampai 0,3%. Vitamin C (asam askorbar) dan asetilsistein pun dapat
dipakai terutama untuk sediaan fenilfrin. Dengan oksidatif seringkali
dikatalisa oleh adanya logam berat, maka dapat ditambahkan pengkelat seperti
EDTA. Penggunaan wadah plastik yang permeabel terhadap gas dapat meningkatkan
proses oksidatif selama penyimpanan (Codex,
161-165)
Contoh antioksidan
a)
Natrium metabisulfit
b)
Natrium bisulfit
c)
Natrium sulfit
d)
Asam askorbat
f. Surfaktan
Pemakaian surfaktan dalam obat tetes
mata harus memenuhi berbagai aspek:
a)
Sebagai antimikroba (surfaktan golongan
kationik seperti benzalkonium klorida, setil piridinium klorida, dll)
b)
Menurunkan tegangan permukaan antara
obat mata dan kornea sehingga meningkatkan aksi terapiutik zat aktif.
c)
Meningkatkan ketercampuran antara obat
tetes mata dengan cairan lakrimal. Meningkatkan kontak zat aktif dengan kornea
dan konjungtiva sehingga meningkatkan penembusan penyerapan obat.
d)
Tidak boleh meningkatkan pengeluaran
air mata, tidak boleh iritan dan merusak kornea. Surfaktan golongan non ionik
lebih dapat diterima dibandingkan dengan surfaktan golongan lainnya.
e)
Penggunaan surfaktan dalam sediaan
optalmik terbatas. Surfaktan non ionik yang paling tidak toksik dibanding
golongan lain, digunakan dalam konsentrasi yang rendah dalam suspensi steroid
dan sebagai pembatu untuk membentuk larutan yang jernih.
f)
Surfaktan dapa juga digunakan sebagai
kosolben untuk meningkatkan solubilitas (jarang dilakukan). Surfaktan nin ionik
dapat mengadsorpsi senyawa pengawet antimikroba dan menginaktifkannya. Menurut
codex, surfaktan non ionik yang sering dipakai adalah polisorbat 80 (Tween 80).
Sedangkan menurut diktat kuliah teknologi steril daoat juga digunakan Tween 20,
benzetonium klorida, miristil-gamma-picolinium klorida, polioxil 40-stearat,
alkil-aril-polietil alkohol, dioktil sodium sulfosuksinat, dll.
Pustaka
1.
Ansel. 1989. Pengantar
Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta
: UI press
2.
Anonim. 1979.
Farmakope Indonesia edisi III. Jakarta : Departemen Kesehatan RI
3.
Anonim. 1995. Farmakope
Indonesia ediai IV. Jakarta : Departemen Kesehatan RI
4.
Pharmacopee Ned
edisi V
5.
Soetopo dkk. 2002. Ilmu
Resep Teori. Jakarta : Departemen Kesehatan
6.
Voigt. 1995. Buku
Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta : UGM Press
7.
Lachman dkk. 1994. Teori
Dan Praktek Farmasi Industri. Jakarta : UI Press
8.
Departemen Kesehatan RI. 1978. Formularium Nasional edisi II. Jakarta
9.
Van Duin. 1947. Ilmu
Resep. Jakarta : Soeroengan
10.
Anonim. Farmakope Herbal
11.
Anief. 2006.
Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : UGM Pres
12.
Martindale, The Extra Pharmacopeia Twenty-eight
Edition. The Parmaceutical Press, London. 1982.
13.
MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi. Jakarta: PT
Infomaster.
14.
Departement of pharmaceutical Science. 1982. Martindale the Extra Pharmacoeia 28th
edition. London: The Pharmaceutical Press.
15.
Badan Pengawas Obat dan Makanan. ISFI. 2006. ISO Indonesia, volume IV.
Jakarta: PT. Anem Kosong Anem (AKA).
16.
Wade, Ainley and Paul J Weller.Handbook of Pharmaceutical excipients.Ed II.1994.London; The
Pharmaceutical Press.
17.
Hardjasaputra, S. L. Purwanto, Dr. dkk. 2002. Data Obat di Indonesia (DOI), edisi 10. Jakarta:
Grafidian medi press. (#Akfar PIM/2010)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar