Menurut FI IV halaman 12, Larutan obat mata adalah
larutan steril, bebas partikel asing, merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas
sedemikian rupa hingga sesuai digunakan pada mata. Pembuatan larutan obat mata
membutuhkan perhatian khusus dalam hal toksisitas bahan obat, nilai
isotonisitas, kebutuhan akan dapar, kebutuhan akan pengawet (dan jika perlu
pemilihan pengawet) sterilisasi dan kemasan yang tepat. Perhatian yang sama
juga dilakukan untuk sediaan hidung dan telinga.
Menurut FI III halaman 10, Tetes mata adalah
sediaan steril yang berupa larutan atau suspensi yang digunaka dengan cara
meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dari bola mata.
Menurut DOM Martin :
Tetes mata adalah seringkali dimasukkan ke dalam mata yang terluka atau
kecelakaan atau pembedahan dan mereka kemudian secara potensial lebih berbahaya
daripada injeksi intavena.
Menurut Scoville’s :
Larutan mata merupakan cairan steril atau larutan berminyak dari alkaloid
garam-garam alkaloid, antibotik atau bahan-bahan lain yang ditujukan untuk
dimasukkan ke dalam mata. Ketika cairan, larutan harus isotonik, larutan mata
digunakan untuk antibakterial, anstetik, midriatikum, miotik atau maksud diagnosa.
Larutan ini disebut juga tetes mata dan collyria (singular collyrium).
Menurut Parrot :
Larutan mata (colluria) Obat yang dimasukkan ke dalam mata
harus diformulasi dan disiapkan dengan pertimbangan yang diberikan untuk
tonisitas, pH, stabilitas, viskositas dan sterilisasi. Sterilisasi ini
diinginkan karena kornea dan jaringan bening ruang anterior adalah media yang
bagus untuk mikroorganisme dan masuknya larutan mata yang terkontaminasi ke
dalam mata yang trauma karena kecelakaan atau pembedahan dapat menyebabkan
kehilangan penglihatan.
Menurut Teks Book of
Pharmaceutics : Tetes mata adalah cairan steril atau larutan berminyak atau
suspensi yang ditujukan untuk dimasukkan ke dalam saccus conjungtival. Mereka
dapat mengandung bahan-bahan antimikroba seperti antibiotik, bahan
antiinflamasi seperti kortikosteroid, obat miotik seperti fisostigmin sulfat
atau obat midriatik seperti atropin sulfat.
Menurut Ansel INA :
Dengan definisi resmi larutan untuk mata adalah larutan steril yang dicampur
dan dikemas untuk dimasukkan dalam mata. Selain steril preparat tersebut
memerlukan pertimbangan yang cermat terhadap faktor-faktor farmasi seperti
kebutuhan bahan antimikroba, isotonisitas, dapar, viskositas dan pengemasan
yang cocok.
Sehingga dapat disimpulkan
bahwa sediaan obat mata merupakan sediaan steril, yang terdiri dari bahan bahan
berkhasiat obat dan bahan tambahan dan membutuhkan perhatian khusus dalam
pembuatannya terutama dalam hal toksisitas bahan obat, nilai isotonisitas,
kebutuhan akan dapar, pengawet, sterilitas, serta kemasan yang tepat.
Syarat-syarat Tetes Mata
Faktor-faktor dibawah ini sangat penting dalam sediaan
larutan mata :
1.
Ketelitian dan kebersihan dalam penyiapan larutan : Sterilitas
akhir dari collyrium dan kehadiran bahan antimikroba yang efektif untuk
menghambat pertumbuhan dari banyak mikroorganisme selama penggunaan dari
sediaan;
2.
Isotonisitas dari larutan; pH yang
pantas dalam pembawa untuk menghasilkan stabilitas yang optimum
Tetes mata adalah larutan berair
atau larutan berminyak yang idealnya harus memiliki sifat-sifat sebagai berikut
:
1.
Ia seharusnya steril ketika dihasilkan
2.
Ia seharusnya bebas dari partikel-partikel asing
3.
Ia seharusnya bebas dari efek mengiritasi
4.
Ia seharusnya mengandung pengawet yang cocok untuk
mencegah pertumbuhan dari mikroorganisme yang dapat berbahaya yang dihasilkan
selama penggunaan. Jika dimungkinkan larutan berair
seharusnya isotonis dengan sekresi lakrimal konsentrasi ion hidrogen sebaliknya
cocok untuk obat khusus, dan idelanya tidak terlalu jauh dari netral
5.
Ia seharusnya stabil secara kimia. Sediaan
untuk mata terdiri dari bermacan-macam tipe produk yang berbeda. Sediaan ini
basa berupa larutan (tetes mata/pencuci mata), suspensi/salep. Kadang-kadang
injeksi mata digunakan dalam kasus khusus. Sediaan mata sama dengan sediaan
steril lainnya yaitu harus steril dan bebas dari bahan partikulat. Dengan
pengecualian jumlah tertentu dari injeksi mata, sediaan untuk mata adalah
bentuk sediaan topical yang digunakan untuk efek local dan karena itu tidak
perlu untuk bebas pirogen.
Farmasis seharusnya menyiapkan larutan mata
yang :
1.
Steril.
2.
Dalam pembawa yang mengadung bahan-bahan germisidal
untuk meningkatkan sterilitas;
3.
Bebas dari partikel yang tersuspensi;
4.
Bahan-bahan yang akurat;
5.
Isotonik atau sangat mendekati isotonic;
6.
Dibuffer sebagaimana mestinya;
7.
Dimasukkan dalam wadah yang steril;
8.
Dimasukkan dalam wadah yang kecil dan praktis
9.
Secara umum disetujui sediaan mata harus steril,
menggunakan pengawet, harus memiliki tekanan osmotik yang sama dengan cairan
lakrimal normal.
Faktor
yang paling penting dipertimbangkan ketika menyiapkan larutan mata adalah
tonisitas, pH, stabilitas, viskositas, seleksi pengawet dan sterilisasi. Sayang
sekali, yang paling penting dari itu dalah sterilitas yang telah menerima
sifat/perhatian dan farmasis dan ahli mata.
Ini diinginkan bahwa larutan mata stabil, isotonis, dan sifat pH, dan tidak
ada pernah telah kehilangan mata karena larutan sebagian terurai atau
mengiritasi. Penggunaan larutan tidak steril ke dalam mata yang terluka, di
lain hal sering menyebabkan kecelakaan.
Obat yang dimasukkan ke dalam mata harus diformulasi dan disiapkan dengan
pertimbangan yang diberikan terhadap tonisitas, pH, stabilitas, viskositas dan
sterilisasi. Sterilisasi diinginkan karena kornea dan jaringan bening ruang
anterior adalah media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme dan masuknya
cairan mata yang terkontaminasi dalam mata yang trauma oleh kecelakaan atau
pembedahan dapat menyebabkan kehilangan penglihatan.
Mata manusia adalah organ yang paling sensitif. Maka bereaksi dengan cepat.
Sampai mendekati perubahan apapun dalam lingkungannya. Untuk alasan ini larutan
yang digunakan pada mata sebaik suspensi dan salep harus dibuat dengan
perhatian yang sangat teliti. Syarat-syarat harus dipertimbangkan dalam
perbuatan dan kontrol terhadap produk optalmik untuk :
1.
Sterilitas Pengawet
2.
Kejernihan Bahan aktif
3.
Buffer Viskositas
4.
pH Stabilitas
5.
Isotonisitas
Banyak
dari syarat ini saling berkaitan dan tidak dapat dipandang sebagai faktor
terisolasi yang dipertimbangkan secara individual. Sterilisasi misalnya, dapat
dihubungkan dengan pH, buffer, dan pengemasan. sistem buffer harus
dipertimbangkan dengan pemikiran tonisitas dan dengan pemikiran kenyamanan
produk.
Karakteristik
Sediaan Mata
1.
Kejernihan
Larutan mata adalah dengan definisi
bebas adari partikel asing dan jernih secara normal diperoleh dengan filtrasi,
pentingnya peralatan filtrasi dan tercuci baik sehingga bahan-bahan partikulat
tidak dikontribusikan untuk larutan dengan desain peralatan untuk
menghilangkannya. pengerjaan penampilan dalam lingkungan bersih.
Penggunaan Laminar Air Flow dan
harus tidak tertumpahkan akan memberikan kebersamaan untuk penyiapan larutan
jernih bebas partikel asing. Dalam beberapa permasalahan, kejernihan dan
streilitas dilakukan dalam langkah filtrasi yang sama. Ini penting untuk
menyadari bahwa larutan jernih sama fungsinya untuk pembersihan wadah dan
tutup. keduanya, wadah dan tutup harus bersih, steril dan tidak tertumpahkan.
Wadah dan tutup tidak membawa partikel dalam larutan selama kontak lama
sepanjang penyimpanan. Normalnya dilakukan test sterilitas.
2.
Stabilitas
Stabilitas obat dalam larutan,
seperti produk tergantung pada sifat kimia bahan obat, pH produk, metode
penyimpanan (khususnya penggunaan suhu), zaat tambahan larutan dan tipe
pengemasan.
Obat seperti pilokarpin dan
fisostigmin aktif dan cocok pada mata pada pH 6.8 namun demikian, pH stabilitas
kimia (atau kestabilan) dapat diukur dalam beberapa hari atau bulan. Dengan
obat ini, bahan kehilangan stabilitas kimia kurang dari 1 tahun. Sebaliknya pH 5,
kedua obat stabil dalam beberapa tahun.
Tambahan untuk pH optimal, jika
sensitivitas oksigen adalah satu faktor, stabilitas adekuat diinginkan
antioksidan. kemasan plastik, polietilen densitas rendah “Droptainer”
memberikan kenyamanan pasien, dapat meningkatkan deksimental untuk kestabilan
dengan pelepasan oksigen menghasilkan dekomposisi oksidatif bahan-bahan obat.
3.
Buffer dan pH
Idealnya, sediaan mata sebaiknya
pada pH yang ekuivalen dengan cairan mata yaitu 7,4. Dalam prakteknya, ini
jarang dicapai. mayoritas bahan aktif dalam optalmologi adalah garam basa lemah
dan paling stabil pada pH asam. ini umumnya dapat dibuat dalam suspensi
kortikosteroid tidak larut suspensi biasanya paling stabil pada pH asam.
pH optimum umumnya menginginkan
kompromi pada formulator. pH diseleksi jadi optimum untuk kestabilan. Sistem
buffer diseleksi agar mempunyai kapsitas adekuat untuk memperoleh pH dengan
range stabilitas untuk durasi umur produk. kapasitas buffer adalah kunci utama,
situasi ini.
4.
Tonisitas
Tonisitas berarti tekanan osmotik
yang diberikan oleh garam-garam dalam larutan berair, larutan mata adalah
isotonik dengan larutan lain ketika magnefudosifat koligatif larutan adalah
sama. larutan mata dipertimbangkan isotonik ketika tonisitasnya sama dengan
0,9% laritan Na Cl.
Sebenarnya mata lebih toleran
terhadap variasi tonisitas daripada suatu waktu yang diusulkan. Maka biasanya
dapat mentoleransi larutan sama untuk range 0,5%-1,8% NaCl. Memberikan pilihan,
isotonisitas selalu dikehendaki dan khususnya penting dalam larutan
intraokuler. Namun demikian, ini tidak dibutuhkan ketika total stabilitas
produk dipertimbangkan.
5.
Viskositas
USP mengizinkan penggunaan bahan
pengkhelat viskositas untuk memperpanjang lama kontak dalam mata dan untuk
absorpsi obat dan aktivitasnya. Bahan-bahan seperti metilselulosa, polivinil
alkohol dan hidroksi metil selulosa ditambahkan secara berkala untuk
meningkatkan viskositas.
Para peneliti telah mempelajari efek
peningkatan viskositas dalam waktu kontak dalam mata. umumnya viskositas
meningkat 25-50 cps range yang signifikan meningkat lama kontak dalam mata.
6.
Additives/Tambahan
Penggunaan bahan tambahan dalam
larutan mata diperbolehkan, namun demikian pemilihan dalam jumlah tertentu.
Antioksidan, khususnya Natrium Bisulfat atau metabisulfat, digunakan dengan
konsentrasi sampai 0,3%, khususnya dalam larutan yang mengandung garam
epinefrin. Antioksidan lain seperti asam askorbat atau asetilsistein juga
digunakan. Antioksidan berefek sebagai penstabil untuk meminimalkan oksidasi
epinefrin.
Penggunaan surfaktan dalam sediaan
mata dibatasi hal yang sama. surfaktan nonionik, kelas toksis kecil seperti
bahan campuran digunakan dalam konsentrasi rendah khususnya suspensi dan
berhubungan dengan kejernihan larutan.
Penggunaan surfaktan, khususnya
beberapa konsentrasi signifikan sebaiknya dengan karakteristik bahan-bahah.
surfaktan nonionik, khususnya dapat bereaksi dengan adsorpsi dengan komponen
pengawet antimikroba dan inaktif sistem pengawet.
Surfaktan kationik digunakan secara
bertahap dalam larutan mata tetapi hampir invariabel sebagai pengawet
antimikroba. benzalkonium klorida dalam range 0,01-0,02% dengan toksisitas
faktor pembatas konsentrasi. Benzalkonium
klorida sebagai pengawet digunakan dalam jumlah besar dalam larutan dan
suspensi mata komersial.
Keuntungan Tetes Mata dan Kerugian
1.
Keuntungan
Secara umum larutan berair seperti tetes
mata lebih stabil dari pada sediaan salep, meskipun salep dengan obat yang
larut dalam lemak diabsorpsi lebih baik dari larutan/salep yang obat-obatnya
larut dalam air .
2.
Kerugian
Kerugian yang prinsipil dari larutan tetes mata adalah waktu kontak yang elative singkat antara obat dan permukaan
yang terabsorsi (RPS 18 th : 1585 ). Bioavailabilitas obat mata diakui buruk jika
larutannya digunakan secara topical untuk kebanyakan obat kurang dari 1-3% dari
dosis yang dimasukkan melewati kornea.Sampai ke ruang anterior. Sejak
boavailabilitas obat sangat lambat, pasien mematuhi aturan dan teknik pemakaian pemakaian
yang tepat.
Penggunaan Tetes Mata
1.
Cuci tangan
2.
Dengan satu
tangan, tarik perlahan-lahan kelopak mata bagian bawah
3.
Jika
penetesnya terpisah, tekan bola karetnya sekali ketika enates dimasukkan ke
dalam botol untuk membawa larutan ke dalam enates
4.
Tempatkan penates di atas mata, teteskan obat ke dalam kelopak mata bagian bawah
sambil melihat ke atas jangan menyentuhkan enates pada mata atau jari.
5.
Lepaskan
kelopak mata, coba untuk menjaga mata tetap terbuka dan jangan berkedip paling
kurang 30 detik
6.
jika
penetesnya terpisah, tempatkan kembali pada botol dan tutup rapat
Parameter Sediaan Tetes Mata yang Baik :
1.
Kejernihan
Larutan mata adalah dengan definisi bebas
dari partikel asing dan jernih secara normal diperoleh dengan filtrasi,
pentingnya peralatan filtrasi dan tercuci baik sehingga bahan-bahan partikulat
tidak dikontribusikan untuk larutan dengan desain peralatan untuk
menghilangkannya.Pengerjaan penampilan dalam lingkungan bersih.
Penggunaan Laminar Air Flow dan harus tidak
tertumpahkan akan memberikan kebersamaan untuk penyiapan larutan jernih bebas
partikel asing. Dalam beberapa permasalahan, kejernihan dan streilitas
dilakukan dalam langkah filtrasi yang sama. Ini penting untuk menyadari bahwa
larutan jernih sama fungsinya untuk pembersihan wadah dan tutup. Keduanya,
wadah dan tutup harus bersih, steril dan tidak tertumpahkan.Wadah dan tutup
tidak membawa partikel dalam larutan selama kontak lama sepanjang penyimpanan.
Normalnya dilakukan test sterilitas.
2.
Stabilitas
Stabilitas obat dalam larutan, seperti produk
tergantung pada sifat kimia bahan obat,pH produk, metode penyimpanan (khususnya
penggunaan suhu), zat tambahan larutan dan tipe pengemasan.
3.
Tonisitas
Tonisitas berarti tekanan yang diberikan
oleh garam-garam dalam larutan berair, larutan mata adalah isotonik dengan
larutan lain ketika magnefudosifat koligatif larutan adalah sama. larutan mata
dipertimbangkan isotonik ketika tonisitasnya sama dengan 0,9% laritan Na Cl.
Sebenarnya mata lebih toleran terhadap
variasi tonisitas daripada suatu waktu yang diusulkan. Maka biasanya dapat
mentoleransi larutan sama untuk range 0,5%-1,8% NaCl. Memberikan pilihan,
isotonisitas selalu dikehendaki dan khususnya penting dalam larutan
intraokuler. Namun demikian, ini tidak dibutuhkan ketika total stabilitas
produk dipertimbangkan.
4.
Viskositas
USP mengizinkan penggunaan bahan pengkhelat
viskositas untuk memperpanjang lama kontak dalam mata dan untuk absorpsi obat
dan aktivitasnya.Bahan-bahan seperti metilselulosa, polivinil alkohol dan
hidroksi metil selulosa ditambahkan secara berkala untuk meningkatkan
viskositas.Para peneliti telah mempelajari efek peningkatan viskositas dalam
waktu kontak dalam mata.umumnya viskositas meningkat 25-50 cps range yang
signifikan meningkat lama kontak dalam mata.
5.
Tambahan
(Additives)
Penggunaan bahan tambahan dalam larutan mata
diperbolehkan, namun demikian pemilihan dalam jumlah tertentu. Antioksidan,
khususnya Natrium Bisulfat atau metabisulfat, digunakan dengan konsentrasi
sampai 0,3%, khususnya dalam larutan yang mengandung garam epinefrin.
Antioksidan lain seperti asam askorbat atau asetilsistein juga digunakan.
Antioksidan berefek sebagai penstabil untuk meminimalkan oksidasi epinefrin.
Tetes Mata Harus Steril
Sterilisasi merupakan sesuatu yang penting.Larutan
mata yang dibuat dapat membawa banyak organisme, yang paling berbahaya adalah
Pseudomonas aeruginosa.Infeksi mata dari organisme ini yang dapat menyebabkan
kebutaan.Ini khususnya berbahaya untuk penggunaan produk nonsteril di dalam
mata ketika kornea dibuka.Bahan-bahan partikulat dapat mengiritasi mata, ke
tidak nyamanan pada pasien dan metode ini tersedia untuk pengeluarannya
Jika suatu batasan pertimbangan dan
mekanisme pertahanan mata, bahwa sediaan mata harus steril. air mata, kecuali
darah, tidak mengandung antibodi atau mekanisme untuk memproduksinya. Oleh
karena itu, mekanisme pertahanan utama melawan infeksi mata secara sederhana
aksi pertahanan oleh air mata, dan sebuah enzim ditemukan dalam air mata
(lizozim) dimana mempunyai kemampuan untuk menghidrolisa polisakarida dari
beberapa organisme ini. Organisme ini tidak dipengaruhi oleh lizozim. satu yang
paling mungkin yang menyebabkan kerusakan mata adalah Pseudomonas aeruginosa
(Bacillus pyocyneas).
Pseudomonas aeruginas (B.
pyocyaneus; P. pyocyanea; Blue pas bacillus) ini merupakan mikroorganisme
berbahaya dan upportunis yang tumbuh baik pada kultur media yang menghasilkan
toksin dan zat/produk antibakteri, cenderung untuk membunuh kontaminan lain dan
membiarkan Pseudomonas aeruginosa untuk tumbuh pada kultur murni.
Bacillus gram negative menjadi sumber dari infeksi yang serius pada kornea. Ini
dapat menybabkan kehilangan penglihatan pada 24-48 jam. Pada konsentrasi yang
ditoleransi oleh jaringan mata, menunjukkan bahwa semua zat antimikroba
didiskusikan pada bagian berikut dapat tidak efektif melawan beberapa strain
dari organisme ini.
Jika suatu batasan pertimbangan dan
mekanisme pertahanan mata, bahwa sediaan mata harus steril.Air mata, kecuali darah,
tidak mengandung antibody atau mekanisme untuk memproduksinya.Oleh karena itu,
mekanisme pertahanan utama melawan infeksi mata secara sederhana aksi
pertahanan oleh air mata, dan sebuah enzim ditemukan dalam air mata (lizozim)
dimana mempunyai kemampuan untuk menghidrolisa polisakarida dari beberapa
organisme ini.Organisme ini tidak dipengaruhi oleh lizozim.Satu yang paling
mungkin yang menyebabkan kerusakan mata adalah Pseudomonas aeruginosa (Bacillus
pyocyneas).
Tetes Mata Harus Isotonis
Isotonisitas dalam larutan mata. Ketika sekresi
lakrimal sekarang dipertimbangkan untuk mempunyai tekanan smotic yang sama
sebagai cairan darah, dan kemudian menjadi isotonis dengan 0,9% larutan natrium
klorida, perhitungan untuk penyiapan larutan mata isotonis telah
disederhanakan. Farmasis selanjutnya selalu menuntut, sebagai bagian dari
praktek profesionalnya, untuk menyiapkan larutan mata yang isotonis (Scoville’s
: 234).
Tonisitas adalah tekanan osmotik
yang diberikan oleh garam dalam larutan berair. Larutan mata adalah isotonik
dengan cairan lain ketika magnetudo sifat koligatif larutan adalah sama.
Larutan yang dipertimbangkan isotonik ketika tonisitasnya sama dengan larutan
NaCl 0,9%.
Perhitungan isotonisitas dalam suatu
waktu mendapat penekanan yang lebih berat. Calon farmasis harus diajarkan
persyaratan yang lebih mendetail dan peralatan untuk mencapai tonisitas,
kadang-kadang kerusakan disebabkan oleh faktor lain seperti sterilitas dan
stabilitas.
Sebenarnya mata lebih toleran
terhadap variasi tonisitas daripada suatu waktu yang diusulkan. Mata biasanya
dapat mentoleransi larutan yang ekuivalen dalam rentang 0,5-1,8% NaCl.
Memberikan pilihan, isotonisitas selalu diinginkan dan khususnya penting dalam
larutan intraokuler. Namun demikian, ini tidak dibutuhkan menjadi perkara yang
berlebihan ketika total stabilitas produk dipertimbangkan.
Tonisitas berarti tekanan osmotik
yang dihasilkan oleh larutan dari keberadaan padatan terlarut atau tidak larut.
Cairan mata dan cairan tubuh lainnya memberikan tekanan osmotik sama dengan
garam normal atau 0,9% larutan NaCl. Larutan yang mempunyai jumlah bahan
terlarut lebih besar daripada cairan mata disebut hipertonik. Sebaliknya,
cairan yang mempunyai sedikit zat terlarut mempunyai tekanan osmotik lebih
rendah disebut hipotonik. Mata dapat mentoleransi larutan yang mempunyai nilai
tonisitas dalam range dari ekuivalen 0,5% sampai 1,6% NaCl tanpa
ketidaknyamanan yang besar.
Tonisitas pencuci mata mempunyai hal
penting lebih besar daripada tetes mata karena volume larutan yang digunakan.
Dengan pencuci mata dan dengan bantuan penutup mata, mata dicuci dengan larutan
kemudian overwhelming kemampuan cairan mata untuk mengatur beberapa perbedaan
tonisitas. Jika tonisitas pencuci mata tidak mendekati cairan mata, dapat,
menghasilkan nyeri dan iritasi.
Dalam pembuatan larutan mata,
tonisitas larutan dapat diatur sama cairan lakrimal dengan penambahan zat
terlarut yang cocok seperti NaCl. Jika tekanan osmotik dari obat diinginkan
konsentrasi melampaui cairan mata, tidak ada yang dapat dilakukan jika
konsentrasi obat yang diinginkan dipertahankan, ketika larutan hipertonik.
Contohnya 10 dan 30% larutan natrium sulfasetamid adalah hipertonik,
konsentrasi kurang dari 10% tidak memberikan efek klinik yang diinginkan. Untuk
larutan hipotonik sejumlah metode disiapkan untuk menghitung jumlah NaCl untuk
mengatur tonisitas larutan mata, salah satu metodenya adalah metode penurunan
titik beku.
pH Cairan Mata
Ada persetujuan umum tentang konsentrasi ion
hydrogen dari cairan lakrimal adalah mendekati netral.Namun demikian, variasi
nilai telah dilaporkan oleh beberapa peneliti. Kemudian Hasford dan Hicks,
Buchr dan Baeschlin, Feldman, Dekking, Byleveld, van Grosz dan Hild dan Goyan
dilaporkan telah menemukan pH cairan mata berhubungan dengan darah. Yang lain
telah mendapatkan nilai yang berbeda: Gyorffy dari 6,3-8,4, Lipschultz 8,0,
Oguchi dan Nakasima dari 8,4-8,6.
Federsen-Bjergaard menemukan pH cairan
lakrimal dari sepuluh orang normal dan menemukan nilai 8,2. Dia membuat
ketentuan dengan cara kolorimetri dan elektrometri, dan ditemukan hasil yang
sama pada kedua metode. Hind dan Goyan dalam pekerjaan terakhir, menemukan pH
air mata adalah 7,4. Berdasarkan hal itu, pH cairan lakrimal sekurang-kurangnya
7,4 dan mungkin lebih alkali. (Scoville’s : 224).
Konsentrasi ion hidrogen dari cairan
mata berkisar 7,2-7,4. Sekresi lakrimal mempunyai nilai pH
antara 7,2-7,4 dan mempunyai kapasitas membuffer yang tinggi. Akibatnya, mata
dapat mentoleransi larutan yang mempunyai nilai pH dari 3,5-10, mereka tidak
didapar dengan kuat ketika cairan mata akan dengan cepat memperbaiki nilai pH
normal dari mata.
pH Sediaan Tetes Mata
Larutan lakrimal normalnya pH 7,4 dengan rentang
5,2-8,3. Ini masih bisa ditoleransi oleh larutan mata dengan range pH ini,
disebabkan oleh (1) volume kecil larutan, (2) buffer cairan mata, dan (3)
peningkatan produksi air mata. (Parrot : 223). Dalam banyak
perumpamaan, kita dapat mencapai obat dengan seratus kali lebih stabil pada pH
5,0 dan kemudian pH 7,0. pH dari larutan mata sebaiknya
antara 4,5 dan 9
Pewadahan
Wadah untuk larutan mata.Larutan mata sebaiknya
digunakan dalam unit kecil, tidak pernah lebih besar dari 15 ml dan lebih disukai
yang lebih kecil. Botol 7,5 ml adalah ukuran yang menyenangkan untuk penggunaan
larutan mata. Penggunaan wadah kecil memperpendek waktu pengobatan akan dijaga
oleh pasien dan meminimalkan jumlah pemaparan kontaminasi. Botol lastic untuk
larutan mata juga dapat digunakan.Meskipun beberapa botol lastic untuk larutan
mata telah dimunculkan dalam pasaran, mereka masih melengkapi dan yang terbaik
adalah untuk menulis secara langsung produksi untuk menghasilkan informasi
teknik dalam perkembangan terakhir.
Tipe wadah yang biasa digunakan
untuk tetes mata adalah vertikal dilipat ambar atau gelas botol hijau layak
dengan tutup bakelite yang membawa tube tetes dengan sebuah pentil dan
kemampuan untuk ditutup sebagaimana untuk menahan mikroorganisme. Sifat-sifat
yang penting sebagai berikut :
1.
Mereka (wadah) dilengkapi dengan uji untuk membatasi
alkali gelas. Copper (1963) menunjukkan bahwa kadang-kadang botol dapat
dibebasalkalikan tetapi tube tetes tidak. Ini dapat dicontohkan oleh tetes mata
fisostigmin dalam larutan dalam botol tidak berwarna tetapi pada tube tetes
berwarna merah muda.
2.
Mereka melindungi isi bahan terhadap cahaya. Banyak
bahan obat sensitif terhadap cahaya.
3.
Mereka mempunyai segel yang memuaskan. Norton (1963)
menunjukkan test warna.
4.
Pentil karet atau pentil dari bahan-bahan lain adalah
penyerap dan sebaiknya dijenuhkan dengan pengawet yang digunakan dalam larutan
mata dimana mereka digunakan.
5.
Mereka menyiapkan
penetes yang siap digunakan dan melindungi terhadap kerusakan dan kontaminasi.
6.
Mereka dilengkapi dengan pengaturan racun. Banyak obat
mata adalah racun.
7.
Wadah non gelas tidak bereaksi dengan obat-obat atau
partikel lain yang menjadi isi larutan.
Wadah
untuk larutan mata. Larutan mata sebaiknya digunakan dalam unit kecil, tidak
pernah lebih besar dari 15 ml dan lebih disukai yang lebih kecil. Botol 7,5 ml
adalah ukuran yang menyenangkan untuk penggunaan larutan mata. Penggunaan wadah
kecil memperpendek waktu pengobatan akan dijaga oleh pasien dan meminimalkan
jumlah pemaparan kontaminasi.
Botol plastik untuk larutan mata juga dapat digunakan. Meskipun beberapa
botol plastik untuk larutan mata telah dimunculkan dalam pasaran, mereka masih
melengkapi dan yang terbaik adalah untuk menulis secara langsung produksi untuk
menghasilkan informasi teknik dalam perkembangan terakhir.
Larutan mata disiapkan secara terus-menerus dikemas dalam wadah tetes
(droptainers) polietilen atau dalam botol tetes gelas. Untuk mempertahankan
sterilitas larutan, wadah harus steril. Wadah polietilen disterilkan dengan
etilen oksida, sementara penetes gelas dapat dengan dibungkus dan diotoklaf.
Secara komersial disiapkan unit dosis tunggal dengan volume 0,3 ml atau kurang
dikemas dalam tube polietilen steril dan disegel dengan pemanasan.
Wadah gelas sediaan mata tradisional dengan dilengkapi penetes gelas telah
dilengkapi hampir sempurna dengan unit penetes polietilen densitas rendah yang
disebut “Droptainer”. Hanya sejumlah kecil wadah gelas yang masih digunakan,
biasanya karena pembatasan sterilitas. Larutan intraokuler volume besar 250-500
ml telah dikemas dalam gelas, tetapi bahkan sediaan parenteral mulai dikemas
dalam pabrik khusus wadah polietilen/polipropilen. Satu yang masih perlu
dipikirkan adalah wadah plastik, biasanya polietilen densitas rendah, adalah
tidak dengan alat tergantikan dengan gelas.
Wadah plastik adalah permeabel terhadap beberapa bahan termasuk cahaya dan
air. Wadah plastik dapat mengandung variasi bahan-bahan ekstraneous seperti
bahan pelepas jamur, antioksidan, reaksi quenchers dan yang mirip, siap dapat
menggunakan plastik dalam wadah larutan. Lem label, tinta dan warna juga dapat
berpenetrasi polietilen dengan cepat, sebaliknya bahan-bahan menguap dapat
menyerap dari larutan ke dalam atau melalui wadah plastik.
Wadah gelas memberikan bahan yang menyenangkan untuk penyiapan
terus-menerus larutan mata. Tipe I digunakan. Wadah sebaiknya dicuci dengan air
destilasi steril kemudian disterilisasi dengan otoklaf. Penetes normalnya disterilkan dan dikemas dalam blister pack yang
menyenangkan.
Komposisi Tetes Mata
Selain bahan obat, tetes mata dapat mengandung
sejumlah bahan tambahan untuk mempertahankan potensi dan mencegah peruraian.
Bahan tambahan itu meliputi :
1.
Pengawet
Sebagaimana yang telah dikatakan, ada bahan
untuk mencegah perkembangan mikroorganisme yang mungkin terdapat selama
penggunaan tetes mata. Larutan untuk tetes mata khusus, yang paling banyak
tetes mata dan yang lain menggunakan fenil merkuri nitrat, fenil etil alcohol
dan benzalkonium klorida.
2.
Isotonisitas
dengan Sekresi Lakrimal
NaCl normalnya digunakan untuk mencapai
tekanan osmotik yang sesui dengan larutan tetes mata.
3.
Oksidasi Obat
Banyak obat mata dengan segera dioksidasi
dan biasanya dalam beberapa kasus termasuk bahan pereduksi. Natrium metasulfit
dalam konsentrasi 0,1% umumnya digunakan untuk tujuan ini.
4.
Konsentrasi
Ion Hidrogen
Butuh untuk kestabilan konsentrasi ion
hidrogen, dan beberapa buffer telah digambarkan.Sodium sitrat digunakan dalam
tetes mata fenilefrin.
5.
Bahan
Pengkhelat
Ketika ion-ion dan logam berat dapat
menyebabkan peruraian obat dalam larutan digunakan bahan pengkhelat yang
mengikat ion dalam kompleks organik, akan memberikan perlindungan. Na2EDTA,
satu yang paling dikenal sebagai pengkhelat.
6.
Viskositas
Untuk menyiapkan larutan kental dengan
memberi aksi yang lama pada larutan mata dengan tetap kontak lebih lama pada
permukaan mata, bahan pengental dapat digunakan, metilselulosa 1% telah
digunakan untuk tujuan ini.
Nilai isotonisitas.
Cairan mata isotonik dengan darah dan mempunyai
nilai isotonisitas sesuai dengan larutan Natrium Klorida P 0.9%.Secara ideal
larutan obat mata harus mempunyai nilai isotonis tersebut, tetapi mata tahan
terhadap nilai isotonis rendah yang setara dengan larutan NaCl P 2.0 % tanpa
gangguan nyata.
Beberapa larutan obat mata perlu hipertonik
untuk meningkatkan daya serap dan menyediakan kadar bahan aktif yang cukup
tinggi untuk menghasilkan efek obat yang cepat dan efektif. Apabila larutan
obat seperti ini digunakan dalam jumlah kecil, pengenceran dengan air mata
cepat terjadi sehingga rasa perih akibat hipertonisitas hanya sementara.Tetapi
penyesuaian isotonisitas oleh pengenceran dengan air mata tidak berarti, jika
digunakan larutan hipertonik dalam jumlah besar sebagai koliria untuk membasahi
mata.
Jadi yang penting
adalah larutan obat mata untuk keperluan ini harus mendekati isotonik.
Pendaparan.
Banyak obat, khususnya garam alkaloid, paling
efektif pada pH optimal bagi pembentukan basa bebas tidak berdisosiasi.Tetapi
pada pH ini obat mungkin menjadi tidak stabil, sehingga pH harus diatur dan
dipertahankan dengan penambahan dapar.
Salah satu maksud pendaparan larutan obat
mata adalah untuk mencegah kenaikan pH yang disebabkan pelepasan lambat ion
hidroksil dari wadah kaca.Kenaikan pH dapat mengganggu kelarutan dan stabilitas
obat.Penambahan dapar dalam pembuatan obat mata harus didasarkan pada beberapa
pertimbangan tertentu.Air mata normal memiliki Ph lebih kurang 7.4 dan
mempunyai kapasitas dapar tertentu. Penggunaan obat mata akan merangsang pengeluaran
air mata dan penetralan cepat setiap kelebihan ion hidrogen atau ion hidroksil
dalam kapasitas pendaparan air mata.
Berbagai obat mata seperti garam alkaloid
bersifat asam lemah dan hanya mempunyai kapasitas dapar yang lemah.Jika hanya
satu atau dua tetes larutan yang mengandung obat tersebut diteteskan pada mata,
pendaparan oleh air mata biasanya cukup untuk menaikkan Ph sehingga tidak
terlalu merangsang mata.Dalam beberapa hal, Ph dapat berkisar antara 3.5 dan
8.5.
Beberapa obat, seperti Pilokarpin HCl dan
Epinefrin Bitartrat, lebih asam sehingga melebihi kapasitas dapar air mata.
Secara ideal larutan obat mata mempunyai Ph dan isotonisitas yang sama dengan
air mata. Hal ini tidak selalu dapat dilakukan karena pada Ph 7.4 banyak obat
yang tidak cukup larut dalam air.Sebagian besar garam alkaloid bebas pada ph
ini.
Selain itu banyak obat yang tidak stabil
secara kimia pada ph mendekati 7.4.Ketidakstabilan ini lebih nyata pada suhu
tinggi yang digunakan pada sterilisasi dengan pemanasan.Oleh karena itu sistem
dapar harus dipilih sedekat mungkin dengan pH fisiologis yaitu 7.4 dan tidak
menyebabkan pengendapan obat atau mempercepat kerusakan obat.
Bahan Pengawet.
Larutan obat mata dapat dikemas dalam wadah takaran
ganda bila digunakan secara perorangan pada pasien dan bila tidak terdapat
kerusakan pada permukaan mata.Wadah larutan obat mata harus tertutup rapat dan
disegel untuk menjamin sterilitas pada pemakaian pertama.Larutan harus
mengandung zat atau campuran zat sesuai untuk mencegah pertumbuhan atau
memusnahkan bakteri yang mungkin masuk pada waktu wadah dibuka saat
penggunaan.Sedangkan untuk penggunaan pada pembedahan, disamping steril,
larutan obatmata tidak boleh mengandung bahan antibakteri karena dapat
menimbulkan iritasi pada jaringan mata.
Penjelasan prosedur pembuatan tetes mata
:
Dalam pembuatan sediaan tetes mata ada
beberapa tahapan yang dilakukan yaitu pertama melakukan kalibrasi botol sebagai
wadah sediaan. Kemudian alat – alat praktikum yang akan digunakan disterilkan ke dalam oven dengan suhu 121ᵒC
selama 15 menit. Dilanjutkan dengan Mensterilkan bahan yang dibutuhkan dengan
memasukkannya ke dalam oven suhu 45ᵒC selama 15 menit.
Bahan aktif yang
digunakan yaitu dexamethasoni ditimbang sebanyak 50 mg dan dilarutkan dalam 50
ml API (Aqua Pro Injectione) untuk pengenceran, lalu diambil 1,2 ml dimasukkan
dalam beaker glass. Kemudian DitimbangNaCl 89 mg, Asam Sitrat 200 mg, Natrium
Fosfat 490 mg, dan dilarutkan masing masing bahan yang ditimbang dengan API qs
ad larut dan dimasukkan kedalam hasil pelarutan dexamethasone. Selanjutnya
diambil Metil Merkuri 1 tetes, di teteskan kedalam campuran sampai homogeny dan
dimasukkan hasil campuran kedalam botol tetes samba disaring serta ditambahkan
API ad 10 ml
Perhitungan
1.
Untuk
mendapatkan pH yang optimal
pH optimal untuk darah atau cairan tubuh yang lain adalah 7,4 dan disebut
isohidri. Karena tidak semua bahan obat stabil pada pH cairan tubuh, tetes mata
sering dibuat dengan pH diluar tubuh dan berdasarkan kestabilan bahan tersebut.
pH dapat
diatur dengan cara :
a.
Penambahan
zat tunggal, misalnya asam untuk alkaloid, basa untuk golongan sulfa
b.
Penambahan
larutan dapar, misalnya dapar fosfat untuk injeksi, dapar borat untuk obat
tetes mata.
2.
Untuk
mendapatkan larutan yang isitonis
Larutan obat tetes mata dikatakan isotonis, jika :
a.
Mempunyai
tekanan osmosis yang sama dengan tekanan osmosis cairan tubuh (darah, cairan
lumbar, air mata) bernilai sama dengan tekanan osmosis larutan NaCl 0,9 % b/v.
b.
Mempunyai
tekanan titik beku sama dengan titik beku cairan tubuh, yaitu -0,52oC.
3.
Perhitungan
isotonis:
Isotonis adalah suatu keadaan pada saat tekanan osmosis larutan obat sama
dengan tekanan osmosis cairan tubuh kita ( darah, air mata ).
Hipotonis adalah tekanan osmosis larutan obat < tekanan osmosis cairan
tubuh.
Hipertonis adalah tekanan osmosis larutan obat > tekanan osmosis caiaran
tubuh.
Cara menghitung tekanan osmosis
Banyak rumus yang dapat di pakai tetapi pada umumnya berdasarkan
perhitungan terhadap penurunan titik beku ( PTB ). Penurunan titik beku darah
dan air mata adalah -0,520C.
Larutan NaCl 0,9% b/v adalah larutan garam fisiologis yang isotonis dengan
cairan tubuh.
Beberapa cara menghitung tekanan osmosis :
a.
Cara
penurunan titik beku ( PTB ) air yang disebabkan oleh 1% b/v zat khasiat dengan
rumus menurut FI
Keterangan :
B : bobot zat tambahan ( NaCl ) dalam
satuan gram untuk tiap 100 ml larutan
0,52 : titik beku cairan tubuh ( -0,520C
)
b1 : PTB zat aktif
C : konsentrasi dalam satuan % b/v zat
aktif
b2 : PTB zat tambahan ( NaCl )
Tiga jenis
keadaan tekanan osmosis larutan obat :
Keadaan
isotonis adalah jika nilai B = 0, maka b1C = 0,52
Keadaan
hipotonis adalah jika nilai B positif, maka b1C < 0,52
Keadaan
hipertonis adalah jika nilai B negative, maka b1C > 0,52
b.
Cara
Ekuivalensi NaCl
Yang dimaksud dengan ekuivalensi NaCl (E) adalah banyaknya gram NaCl yang
memberikan efek osmosis yang sama dengan 1 g zat terlarut tertentu.
Jika Eefedrin
HCl= 0,28; berarti setiap 1 g Efedrin HCl ̴ 0,28 g NaCl
Jadi dpat dianalogikan sebagai berikut.
Ex=
a; artinya tiap 1 g zat X ̴ a g NaCl
Ex=
E`; artinya tiap 1 g zat X ̴ E g NaCl
Jika bobot zat X = W g →maka ekuivalensinya adalah W x E g NaCl
Larutan isootonik NaCl 0,9 % b/v ; artinya tiap 100ml NaCl ̴ 0,9 g NaCl
Jika bobot NaCl = W x E g ; maka volume yang isotonis adalah (W x E)
100/0,9 ; sehingga dapat kita rumuskan sebagai berikut
Rumus 2 V= (W xE) 100/0,9 =
(WxE) 111,1
Keterangan :
V = volume lautan yang sudah isotonis
dalam satuan ml
W = bobot zat aktif dalam satuan gram
E = nilai ekuivalen zat aktif
Jika volume larutan = V ml dan volume yang sudah isotonis = V ml ; maka
=-volume yang belum isotonis adalah (V-V’)ml, sedangkan volume untuk tiap 100
ml NaCl agar isotonis ̴ 0,9 g NaCl,
maka bobot NaCl (B) yang masih diperlukan agar larutan menjadi isotonis adalah
(V-V) x 0,9/100, maka B = (V-V) x 0,9 /100 atau B =(0,9/100 x V)-(0,9/100 x V).
Jika V kita ganti dengan (WxE) 100/0,9 maka B = [0,9/100xV]-[0,9/100x(WxE)
100/0,9] dan akhirnya kita dapatkan rumus sebagai berikut.
Rumus 3 B = 0,9/100 x V – (WxE)
Keterangan :
B = bobot zat tambahan dalam satuan gram
V = volume larutan dalam satuan ml
W = bobot zat khasiat dalam satuan gram
E = ekuivalensi zat aktif terhadap NaCl
Tiga jenis keadaan tekanan osmosis larutan obat:
Keadaan
isotonis jika nilai B = 0 ; maka 0,9/100 xV = (WxE)
Keadaan
hipotonis jika nilai B positif ; maka 0,9/100 x V > (WxE)
Keadaan
hipertonis jika nilai B negatif ; maka 0,9/100 x V < (WxE)
c.
Cara
faktor disosiasi (Farmakope Belanda VI)
Sudah ditetapkan bahwa larutan NaCl 0,9% b/v isotonis dengan cairan tubuh.
Tekanan osmosis larutan sebanding dengan jumlah bagian-bagian dalam larutan.
Dalam larutan encer, dapat dikatakan bahwa garam-garam terdisosiasi sempurna.
NaCl Na+
+ Cl-
(Fa/Ma)xa
|
Dari sebuah molekul NaCl
terbentuk 2 (dua) ion. Jadi faktor disosiasi NaCl = 2; lebih tepat sebetulnya
1,8 karena ada sedikit kesetimbangan reaksi.
Jadi faktor isotonisnya adalah:
Keterangan:
fa
= faktor disosiasi zat-zat yang mendekati keadan yang sebenarnya; untuk zat-zat
yang tidak terdisosiasi seperti glukosa dan gliserin = 1 ; untuk asam lemah dan
basa lemah = 1,5 dan untuk asam kuat dan basa kuat =1,8
Ma=
bobot molekul zat.
a, b, c,....
dan seterusnya adalah kadar zat dalam larutan dalam satuan g/liter.
Jadi larutan
isotonis dapat dihitug dari NaCl 0,9% b/v tersebut, yaitu:
= (f.NaCl/M.NaCl)x
kadar NaCl ( dalam satuan gram/liter)
= (1,8/
58,5)x9 = 0,28 (berarti setiap larutan yang mempunyai faktor isontonis
= 0,28 adalah
isotonis).
Dapat kita turunkan rumus sebagai berikut
(fa/Ma)x
a + (fb/Mb)x b + (fc/Mc) x
c......dst= 0,28
(fa/Ma)x
a + (fb/Mb)x b + (fc/Mc) x
c......dst= 0,28
(fa/Ma)x
a + (fb/Mb)x b + (fc/Mc) x
c......dst= 0,28
|
Rumus 4
Untuk menghitung banyaknya zat penambah (h) dalam membuat larutan isotonis
dapat dirumuskan sebagai berikut:
(fa/Ma
)x a + (fb/Mb)x b
............dst + (fh/Mh)x h = 0,28.
(fh/Mh)x
h ={ 0,28- [(fa/Ma )x a]+[ (fb/Mb)x
b]+ ......dst}
h= (Mh/fh)x
{ 0,28-[(fa/Ma )x a] + [(fb/Mb)x
b]+.....dst}
Rumus 5
h = (Mh/fh)x
{ 0,28-[(fa/Ma )x a] + [(fb/Mb)x
b]+.....dst}
|
harga = (Mh/fh)untuk:
Nacl =32
Glukosa = 198
Etanol 96% b/v = 43
Na nitrat = 42
Gliserin = 81
Evaluasi Sediaan Tetes Mata
Evaluasi sediaan merupakan tahap akhir
dalam serangkaian proses pembuatan sediaan farmasi tetes mata dengan cara
melihat bentuk sediaan. Pada sediaan tetes mata, harus dilakukan uji evaluasi terlebih
dahulu untuk mengetahui apakah sediaan tetes mata tersebut layak untuk di
gunakan dalam pengobatan atau tidak.
1. Uji
Organoleptis
Uji organoleptik atau
uji indera atau uji sensori merupakan cara pengujian dengan menggunakan indera
manusia sebagai alat utama untuk pengukuran daya penerimaan terhadap suatu
produk. Pengujian organoleptik mempunyai peranan penting dalam penerapan mutu
suatu sediaan. Pengujian organoleptik dapat memberikan indikasi kebusukan,
kemunduran mutu dan kerusakan lainnya dari produk.
Uji organoleptik
biasanya dilakukan untuk menilai mutu bahan mentah yang digunakan untuk
pengolahan dan formula yang digunakan untuk menghasilkan produk. Selain itu,
dengan adanya uji organoleptik, produsen dapat mengendalikan proses produksi
dengan menjaga konsistensi mutu dan menetapkan standar tingkat atau kelas-kelas
mutu. Produsen juga dapat meningkatkan keuntungannya dengan cara mengembangkan
produk baru, meluaskan pasaran, atau dengan mengarah ke segmen pasar tertentu.
Dengan uji organoleptik, produsen juga dapat membandingkan mutu produknya
dengan produk pesaingnya sehingga dapat memperbaiki kekurangan produknya dengan
cara menyeleksi bahan mentah atau formulasi dari berbagai pilihan atau tawaran.
Pengujiannya dilakukan
dengan mengamati bau, rasa, warna serta kelarutan bahan dalam sediaan larutan
tetes mata. Setelah itu hasil pengamatan dicatat dan dilaporkan dalam bentuk
tabel.
2. Kejernihan
Kejernihan adalah suatu batasan yang
relatif, artinya sangat dipengaruhi oleh penilaian subjektif dari pengamat.Uji
kejernihan larutan sangat penting untuk memastikan tidak ada partikel padat
yang belum terdispersi kecuali sediaan yang dibuat dalam bentuk suspensi, serta
untuk mengidentifikasi partikel-partikel yang tidak diinginkan dalam sediaan
larutan tetes mata tersebut.Tidak dapat diragukan, suatu larutan bersih yang
sangat mengkilap, membawa pengaruh bagi pengamat untuk menyimpulkan bahwa
produk tersebut istimewa baik dalam mutu maupun kemurniannya.
Uji kerjernian di tujukan untuk
memastikan tidak ada partikel padat kecuali berbentuk suspensi.Pengamatan
dilakukan di bawah cahaya yang terdifusi, tegak lurus ke arah bawah
tabung.Penetapan dilakukan dengan menggunakan tabung reaksi alas datar diameter
15 mm hingga 25 mm, tidak berwarna, transparan, dan terbuat dari kaca netral.
Masukkan ke dalam dua tabung reaksi masing-masing larutan zat uji dan Suspensi
padanan yang sesuai secukupnya, dibuat segar sehingga volume larutan dalam
tabung reaksi terisi setinggi tepat 40 mm. Bandingkan kedua isi tabung setelah
5 menit pembuatan suspensi padanan dengan latar belakang yang hitam.
Larutan mata adalah
dengan definisi bebas dari partikel asing dan jernih secara normal diperoleh
dengan filtrasi.Tentunya, pentingnya peralatan filtrasi agar jernihdan tercuci
baik sehingga bahan-bahan partikulat tidak dikontribusikan untuk larutan dengan
desain peralatan untuk menghilangkannya.Pengerjaan penampilan untuk larutan
dalam lingkungan yang bersih, penggunaan LAF dan harus tidak tertumpah
memberikan kebersihan untuk penyiapan larutan jernih bebas dari partikel
asing.Dalam beberapa permasalahan, kejernihan dan sterilisasi dilakukan dalam
langkah filtrasi yang sama. Ini penting untuk menyadari bahwa larutan jernih
sama fungsinya untuk pembersihan wadah dan tutup. Keduanya, wadah dan tutup
harus bersih, steril dan tak tertumpahkan.Wadah atau tutup tidak membawa
partikel dalam larutanselama kontak lama dalam
penyimpanan.Normalnya
dilakukan tes sterilisasi.
Prosedur Pengujian (FI
IV, 881) :
Lakukan penetapan
menggunakan tabung reaksi alas datar diameter 15 mm hingga
25 mm, tidak berwarna, transparan, dan terbuat dari kaca netral.
a. Masukkan
ke dalam 2 tabung reaksi, masing-masing larutan zat uji dan suspense padanan yang sesuai secukupnya, yang
dibuat segar sehingga volume larutan dalam
tabung reaksi terisi setinggi tepat 40 mm.
b. Bandingkan
kedua isi tabung setelah 5 menit pembuatan Suspensi padanan, dengan latar belakang hitam.
c. Pengamatan
dilakukan di bawah cahaya yang terdifusi, tegak lurus ke arah bawah tabung. Difusi cahaya harus sedemikian
rupa sehingga Suspensi padanan
I dapat langsung dibedakan dari air dan dari suspensi padanan II.
3. Buffer
dan pH
Buffer dan pH
dalam sediaan tetes mata sangat penting
untuk memperbaiki daya tahan sediaan, mengoptimasi kerja zat aktif, dan juga
untuk mencapai kelarutann yang memuaskan. Mirip seperti darah, cairan mata
menunjukan kapasitas dapar tertentu.Yang sedikit lebih rendah oleh karena system
yang terdapat pada darah seperti asam karbonat, plasma, protein amfoter dan
fosfat primer – sekunder, juga dimilikinya kecuali system – hemoglobin – oksi
hemoglobin. Harga pHnya juga seperti darah 7,4 akan tetapi hilangnya
karbondioksida dapat meningkatkannya smapai harga pH 8 – 9. pada pemakain tetes
biasa yang nyari tanpa rasa nyeri adalah larutan dengan harga pH 7,3 – 9,7.
daerah pH dari 5,5 – 11,4 masih dapat diterima.
Tetes mata didapar atas
dasar beberapa alasan yang sangat berbeda.Misalnya untuk memperbaiki daya tahan
(penisilina), untuk mengoptimasikan kerja (misalnya oksitetrasiklin) atau untuk
mencapai kelarutan yang memuaskan (misalnya kloromfenikol). Pengaturan larutan
pada kondisi isohidri (pH = 7,4) adalah sangat berguna untuk mencapai rasa
bebas nyeri yang sempurna, meskipun hal ini sangat sulit direalisasikan. Oleh
karena kelarutan dan stabilitas bahan obat dan sebagian bahan pembantu juga
kerja optimum disamping aspek fisiologis (tersatukan) turut berpengaruh.
Aspek-aspek tersebut
sangat jarang dalam kondisi optimal pada harga pH fisiologis.Harga pH yang
tepat yang dimiliki larutan, merupakan harga kompromis antara faktor-faktor
yang telah disebutkan tadi.Harga itu disebut sebagai harga euhidris misalnya
garam alkaloida yang umumnya dipakai sebagai tetes mata memiliki stabilitas
maksimal dalam daerah pH 2 – 4, yang jelas sangat tidak fisiologis. Hal yang
sama terjadi pada anestetikal lokal untuk terapi mata (stabilitas maksimumnya
pada harga pH 2,3 -5,4). Yang terakhir ini dengan menaiknya harga ph juga
menunjukan peningkatan efektifitas atas dasar membaiknya penetrasi pada kornea.
Dengan mempertimbangkan keseimbangan fisiologisnya, larutan ini dieuhidritkan
sampai pada harga pH 5, 5 – 6,5.
Penyeimbangan pH pada
umumnya dilakukan dengan larutan dapar isotonis. Larutan dapar berikut
digunakan secara internasional:
a. Dapar
natrium asetat – asam borat, kapasitas daparnya tinggi dalam daerah asam.
b. Dapar
fospat, kapasitas daparnya tinggi dalam daerah alkalis.
c. Jika
harga pH yang ditetapkan atas dasar stabilitas berada diluar daerah yang dapat
diterima secara fisiologis, diwajibkan untuk menambahkan dapar dan melakukan
pengaturan pH melalui penambahan asam atau basa.Larutan yang dibuat seperti itu
praktis tidak menunjukan kapasitas dapar sehingga oleh cairan air mata lebih
mudah diseimbangkan pada harga fisiologis dari pada larutan yang didapar.Antara
isotonis dan euhidri terdapat kaitan yang terbatas dalam hal tersatukannya
secara fisiologis.Yakni jika satu larutan mendekati kondisi isotonis, meskipun
tidak berada pada harga pH yang cocok masih dapat tersatukan tanpa rasa nyeri.
d. Idealnya,
sediaan tetes mata sebaiknya diformulasi pada pH yang ekivalen dengan cairanair
mata yaitu 7,4 dan prakteknya jarang dicapai. Mayoritas bahan aktif dalam
optalmology adalah garam basa lemah dan paling stabil pada pH asam.Ini umumnya
dapat dibuat dalam suspensi kortikosteroid tidak larut.Suspensi biasanya paling
stabilpada pH asam, pH optimum umumnya menginginkan kompromi pada formulator.pH
diseleksi jadi optimum untuk stabil. Sistem dapar diseleksi agar mempunyai
kapasitas adekuat untuk memperoleh pH dengan range stabilitas untuk durasi umur
produk. Kapasitas buffer adalah kunci utama situasi ini
Prosedur
Pengujian :
a. Kertas
indikator pH. Kertas
dicelupkan ke dalam larutan dan hasil warna yang terbentuk dibandingkan terhadap warna standar. pH meter (FI IV, <1071>)
b. Harga
pH adalah harga yan gdiberikan oleh alat potensiometrik (pH meter) yang sesuai, yang telah dibakukan
terhadap Baku larutan dapar, yang mampu
mengukur harga pH sampai 0,02 unit pH. Pelarut untuk Larutan dapar harus sama dengan pelarut sediaan.
4. Tonisitas
Tonisitas berarti
tekanan osmotik yang diberikan oleh garam-garam dalam larutan berair. Larutan
mata adalah isotonik dengan larutan lain ketika magnitude sifat koligatif larutan
adalah sama. Larutan
tetesmata dipertimbangkan isotonik
ketika tonisitasnya sama dengan 0,9 % larutan NaCl. Sebenarnya mata
lebih toleran terhadap variasi tonisitas dari suatu waktu yang
diusulkan.Sediaan tetes mata sebaiknya dibuat mendekati isotonis agar dapat
diterima tanpa rasa nyeri dan tidak dapat menyebabkan keluarnya air mata, yang
dapat mencuci keluar bahan obatnya. Untuk membuat larutan mendekati isotonis,
dapat digunakan medium isotonis atau sedikit hipotonis, umumnya digunakan
natrium-klorida (0,7-0,9%) atau asam borat (1,5-1,9%) steril. Mata biasanya
dapat mentoleransi larutan sama untuk range 0,5 % – 1,8 %NaCl intraokuler.
Namun demikian ini tidak dibutuhkan ketika stabilitas produk dipertimbangkan.
5. Viskositas
Tetes mata dalam air
mempunyai kerugian, oleh karena mereka dapat ditekan keluar dari saluran
konjunktival oleh gerakan pelupuk mata.Oleh karena itu waktu kontaknya pada
mata menurun.Melalui peningkatan viskositas larutan tetes mata dapat dicapai
distribusi bahan aktif yang lebih baik didalam cairan dan waktu kontak yang
lebih panjang dengan mata.Lagi pula sediaan tersebut memiliki sifat lunak dan
licin sehingga dapat mengurangi rasa nyeri.Oleh Karena itu sediaan ini sering
dipakai pada pengobatan kerato konjunktifitis.USP mengizinkan penggunaan
peningkat viskositas untuk memperpanjang waktu kontak dalam mata dan untuk
absorpsi obat dan aktivitasnya.Bahan-bahan seperti metil selulose, polivinil
alkohol dan hidroksil metil selulose ditambahkan secara berkala untuk
meningkatkan viskositas.Para peneliti telah mempelajari efek peningkatan
viskositas dalam waktu kontak dalam mata.umumnya viskositas meningkat 25-50 cps
range yang signifikan meningkat lama kontak dalam mata.
Prosedur Uji :
a. Masukan larutan tetes mata dalam
viskosimeter ostwald melalui pipa yang berdiameter lebih besar/yang mempunyai
labu.
b. Larutan tetes mata dihentikan
dimasukan apabila ½ ruang yang berbentuk tabung terisi.
c. Tutup labu yang berdiameter kecil
dengan bola hisap
d. Hisap larutan tetes mata dengan bola
hisap hingga naik diatasnya garis yang paling atas
e. Lepaskan bola hisap,bila larutan
tetes mata turun tampak pada garis pertama,hidupkan stopwatch.
f. Matikan stopwatch ketika larutan
tetes mata tepat pada garis ke 2
g. Hitung kekentalanya,lakukan percoban
diatas 3 kali
h. Hitung waktu alir larutan tetes
mata.hitung kekentalannya:
6. Uji
Sterilitas
Semua produk tetes mata
yang diberi label steril harus melewati uji sterilitas setelah mengalami suatu
proses sterilisasi efektif. Uji sterilisasi sangat penting untuk membersihkan
larutan tetes mata dari pencemaran (kontaminasi) mikroorganisme yang merugikan
(patogen) dan juga untuk mengetahui tingkat sterilitas dari larutan tetes mata
tersebut.Sediaan tetes mata dinyatakan steril apabila bebas dari mikroorganisme
hidup yang patogen maupun yang tidak, baik dalam bentuk vegetatif maupun dalam
bentuk tidak vegetatif.
Prosedur Uji:
a. Inokulasi
langsung ke dalam media perbenihan lalu diinkubasi pada suhu 2 sampai 25°C.
Volume tertentu spesimen ditambahkan volume tertentu media uji, diinkubasi
selama tidak kurang dari 14 hari, kemudian amati pertumbuhan secara visual
sesering mungkin sekurang-kurangnya pada hari ke-3atau ke-4 atau ke-5, pada
hari ke-7 atau hari ke-8 dan pada hari terakhir dari masa uji.
b. Pada
interval waktu tertentu dan pada akhir periode inkubasi, semua isi wadah akan diamat untuk menunjukkan ada atau
tidaknya pertumbuhan mikroba seperti kekeruhan dan atau pertumbuhan pada
permukaan. Jika tidak terjadi pertumbuhan, maka sediaan tetes mata yang telah
diuji memenuhi syarat.
Pustaka
1.
Ansel. 1989. Pengantar
Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta
: UI press
2.
Anonim. 1979.
Farmakope Indonesia edisi III. Jakarta : Departemen Kesehatan RI
3.
Anonim. 1995. Farmakope
Indonesia ediai IV. Jakarta : Departemen Kesehatan RI
4.
Pharmacopee Ned
edisi V
5.
Soetopo dkk. 2002. Ilmu
Resep Teori. Jakarta : Departemen Kesehatan
6.
Voigt. 1995. Buku
Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta : UGM Press
7.
Lachman dkk. 1994. Teori
Dan Praktek Farmasi Industri. Jakarta : UI Press
8.
Departemen Kesehatan RI. 1978. Formularium Nasional edisi II. Jakarta
9.
Van Duin. 1947. Ilmu
Resep. Jakarta : Soeroengan
10.
Anonim. Farmakope Herbal
11.
Anief. 2006.
Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : UGM Pres
12.
Martindale, The Extra Pharmacopeia Twenty-eight
Edition. The Parmaceutical Press, London. 1982.
13.
MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi. Jakarta: PT
Infomaster.
14.
Departement of pharmaceutical Science. 1982. Martindale the Extra Pharmacoeia 28th
edition. London: The Pharmaceutical Press.
15.
Badan Pengawas Obat dan Makanan. ISFI. 2006. ISO Indonesia, volume IV.
Jakarta: PT. Anem Kosong Anem (AKA).
16.
Wade, Ainley and Paul J Weller.Handbook of Pharmaceutical excipients.Ed II.1994.London; The
Pharmaceutical Press.
17.
Hardjasaputra, S. L. Purwanto, Dr. dkk. 2002. Data Obat di Indonesia (DOI), edisi 10. Jakarta:
Grafidian medi press. (#Akfar PIM/2010)

Lengkap kak, trimakasih ilmunya 😊
BalasHapusBtw, lagunya bikin pengen balik lagi ke jayapura 😂😂
Iya, sama2 dek. Belajar yg rajin yaa. Kalau udah pinter jangan lupa balik ke Jayapura. Ilmu kamu akan sangat bermanfaat nanti di Papua nanti. :)
Hapus