Praformulasi sangat penting dilakukan
dalam setiap pengembangan sediaan farmsi karena meliputi penelitian farmasetik
dan analitik bahan obat untuk menunjang proses pengembangan formulasi.
Sifat suatu sediaan
dapat mempengaruhi secara bermakna kecepatan onset efek terapi dari suatu obat,
lamanya efek tersebut, dan bentuk pola absorbsi yang dicapai. Oleh karena itu
pengembangan praformulasi dan formulasi untuk suatu produk steril harus diintregasikan
secara hati – hati dengan pemberian yang dimaksud pada seorang pasien.
Sifat kimia dan fisika
suatu obat harus ditentukan, interaksinya dengan tiap bahan yang diinginkan
harus dikaji, dan efek dari masing -
masing tahap kestabilannya harus diselidiki dan dimengerti.
Semua komponen harus
memiliki kualitas yang sangat baik. Kontaminasi fisika dan kimia tidak hanya
menyebabkan iritasi kejaringan tubuh, tetapi jumlah kontaminasi yang sangat
kecil tersebut juga dapat menyebabkan degradasi produk sebagai hasil dari
perubahan kimia, khususnya selama waktu pemanasan bila digunakan sterilisasi
panas.
Cakupan studi praformulasi untuk
sediaan injeksi.
1.
Organoleptis
Organoleptis adalah
studi praformulasi yang harus dilakukan untuk mengetahui pemerian zat aktif
terdiri dari warna, bentuk, aroma dan rasa zat aktif dengan menggunakan
terminologi deskriptif. Uji organoleptis sangat berguna dalam melakukan
identifikasi awal mengenai suatu zat yang akan dibuat suatu sediaan. Uji ini
dilakukan dengan tujuan mengetahui bentuk dari bahan yang akan digunakan dalam
formulasi, agar tidak salah dalam mengambil bahan-bahan untuk formulasi. Dalam
menentukan zat yang akan digunakan, dapat mengamatinya dari segi bentuk, warna,
rasa juga aroma.
a. Warna
Warna memegang peranan penting dalam identifikasi suatu sediaan sebelum
membuat suatu sediaan injeksi. Karena hal yang akan dilihat pertama kali adalah warna
dari bahan-bahan itu.Warna biasanya merupakan fungsi inheren
kimia obat karena terkait dengan ketidakjenuhan. Intensitas warna terkait
dengan keberadaan konjugasi ketidakjenuhan di samping keberadaan khromofor ,
seperti –NH2, -NO2 dan –CO- (keton) yang
mengintensifkan warna.
b. Bentuk
Bentuk juga memegang peranan yang sangat penting dalam identifikasi.
Setelah menentukan warna, biasanya yang dilihat terlebih dahulu adalah bentuk
dari bahan itu. Sehingga akan benar-benar yakin bahwa yang digunakan dalam
formulasi adalah bahan-bahan yang tepat.
c. Bau
/ Aroma
Sebagian zat memiliki aroma yang khas dan kemungkinan bau
yang inheren (terkait) dengan keberadaan gugus fugsional yang terdapat dalam
molekul obat. Adakalanya zat sama sekali tidak berbau atau dapat pula berbau pelarut residu
pelarut. Hal ini penting karena dalam farmakope ada ketentuan batas maksimal
pelarut yang diperbolehkan ada dalam obat (terutama karena alas an toksisitas).
Dengan uji organoleptis, dapat mempermudah identifikasi suatu bahan.
Terutama bahan yang mengandung aroma yang khas. Daftar beberapa istilah
organoleptik dalam FI Ed. IV.
Warna
|
Rasa
|
Aroma
|
Bentuk
|
Putih
Hampir putih
Putih kekuningan
Kuning
Kuning pucat
Kuning kecoklatan
Krem
Krem pucat
Keabu-abuan
Merah tua
Merah muda
Merah jingga
Merah
Coklat
|
Asam
Asin
Pahit
Manis
Membakar
Dingin
Pedas
Tidak berasa
Sedikit pahit
Sangat pahit
Aroma minyak permen
|
Sedikit beraroma cuka
Aroma Khas
Aroma menusuk
Aroma aromatik
Aroma lemah
Aroma seperti sulfida
Praktis tidak beraroma
Tidak beraroma
Aroma amin ringan
Aroma tidak enak seperti
merkapton
Aroma asam klorida lemah
|
Hablur
Berserat
Granul
Serbuk halus
Partikel seperti pasir
Serbuk ruah
Higroskopis
Serbuk amorf
Serpihan
Bentuk jarum
|
2.
Analisis fisikokimia
Data analitik zat aktif, yang
mencakup data kualitatif, data kuantitatif dan kemurnian.
a.
Data kualitatif dan data
kuantitatif
Analisis ini merupakan bagian penting dalam studi
praformulasi yaitu untuk penetapan identitas dan kadar zat aktif. Untuk
penetapan kualitatif biasanya digunakan kromatografi lapis tipis, spectrum
serapan inframerah, reaksi warna, spectrum serapan ultraviolet dan reaksi
lainnya. Penetapan kadar zat aktif biasanya dilakukan dengan metode
spektrofotometri, kromatografi gas, kromatografi cair kinerja tinggi (KCKK),
titrasi kompleksometri, asam basa, argentometri, iodometri, dan sebagainya.
Penetapam kadar dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kadar dari zat aktif
yang akan digunakan dalam pembuatan sediaan.
b.
Kemurnian
Praformulasi harus mempunyai
daya memahami kemurnian suatu zat aktif. Ketidakmurnian dapat mempengaruhi
stabilitas, misalnya kontaminasi logam dengan kadar seperjuta (ppm) dapat
merusak beberapa golongan senyawa tertentu. Kemurnian juga dapat memberikan
efek yang lain bagi untuk efek terapi yang di harapkan. Metode lain yang
berguna dalam menilai kemurnian adalah analisis termal gravimetri dan
diferensial. Mengetahui kemurnian suatu bahan dimaksudkan untuk agar bahan
aktif atau bahan tambahan yang digunakan tidak mengalami kontaminan sehingga
sediaan steril yang dihasilkan memiliki efek terapi yang maksimal.
Struktur
dan bobot molekul. Dari struktur molekul, peneliti dapat
membuat penilaian awal menyangkut sifat potensial dan reaktivitas fungsional
dari molekul bahan aktif obat.
Suhu
lebur.
Suhu
lebur suatu bahan secara termodinamika didefinisikan sebagai suhu dimana fase
cair dan padat berada dalam kesetimbangan. Penentuan suhu lebur merupakan
indikasi pertama dari kemurnian bahan karena keberadaan jumlah relative kecil
pengotor dapat terdeteksi dengan penurunan atau pelebaran suhu lebur.
Profil
analitik termal. Selama sintesis dan isolasi, sampel kemungkinan
diekspose terhadap perubahan suhu lingkungan proses yang dapat menunjukkan
profil termal apabila sampel dipanaskan antara suhu kamar dan suhu leburnya. Apabila
tidak ada masalah karena panas, sampel tidak akan mengabsorbsi atau melepas
panas sebelum mencapai suhu leburnya.
Higroskopisitas. Senyawa
dikatakan higroskopis jika senyawa tersebut menarik / mengambil kelembapan dan
suhu pada kondisi spesifik dalam jumlah signifikan. Tingkat higroskopis yang
tinggi dapat mempengaruhi efek yang tidak dikehendaki dari sifat fisika dan
kimia suatu bahan obat yang menyebabkan terjadinya perubahan sehingga secara
farmasetik sulit atau tidak mungkin dilakukan penanganan secara memuaskan.
Spectra
absorben. Molekul dengan struktur tidak jenuh
mampu mengabsorbsi cahaya pada rentang frekuensi spesifik. Derajat
ketidakjenuhan yang diikuti dengan keberadaan gugus khromofor akan mempengaruhi
jumlah absorbsi, baik sinar ultraviolet maupun sinar tampak akan diabsorbsi.
Konstanta
ionisasi. Memberikan
informasi tentang ketergantungan kelarutan dari senyawa pada pH formulasi. pKa
biasanya ditentukan secara titrasi potensiometrik pH atau analisis pH
kelarutan.
Aktivitas
optikal. Molekul
yang mampu memutar cahaya dan cahaya terpolarisasi secara merata dinyatakan
sebagai aktif secara optic. Jika bekerja dengan suatu senyawa yang aktif secara
optic selama penelitian praforlmulasi, maka sangat penting untuk memantau
rotasi optic tersebut karena penentuan kuantitatif secara kimia saja tidak
cukup. (Agoes, Goeswin. 2009)
3.
Sifat-sifat fisikomekanik /
karakteristik fisik
Sifat-sifat fisikomekanik
mencakup ukuran partikel, luas permukaan, pembahasan higroskopisitas, aliran
serbuk, karakteristik pengempaan dan bobot jenis.
a.
Uraian Fisik. Uraian fisik dari suatu
obat sebelum pengembangan bentuk sediaan penting untuk dipahami, kebanyakan zat
obat yang digunakan sekarang adalah bahan padat. Kebanyakan obat tersebut
merupakan senyawa kimia murni yang berbentuk amorf atau kristal. Obat cairan
digunakan dalam jumlah yang lebih kecil, gas bahkan lebih jarang lagi. Untuk
mengembangkan bentuk sediaan maka perlu diketahui tentang uraian fisik suatu
bahan agar mempermudah dalam menentukan metode membuat sediaan.
b.
Pengujian Mikroskopik. Pengujian
mikroskopik dari zat murni (bahan obat) merupakan suatu tahap penting dalam
kerja (penelitian) praformulasi. Pengujian ini memberikan indikasi atau
petunjuk tentang ukuran partikel dari zat murni seperti juga struktur kristal.
Pengujian mikroskopik bertujuan untuk mengetahui tentang ukuran partikel.
Sehingga pada saat pembuatan sediaan tetes mata akan diketahui ukuran partikel
jika memang bentuk sediaan adalah suspensi.
c.
Ukuran Partikel. Ukuran
partikel zat yang larut dalam air tidak merupakan masalah kecil, kecuali dalam bentuk agregat besar,
tetapi adakalanya diperlukan untuk meningkatkan kecepatan pelarutan untuk
mengurangi waktu proses manufaktur. Karakterstik
ukuran dan bentuk partikel dapat ditentukan melalui evaluasi dengan mikroskop
electron, optik, atau dengan alat polarisasi yang dapat membuat foto bentuk dan
ukuran partikel. Karakteristik morfologi
bahan aktif obat direkam melalui sketsa atau yang lebih teliti melalui
fotomikrograf, merupakan dokumen permananen untuk dibandingkan dengan bets
selanjutnya.
Sifat-sifat fisika dan kimia tertentu dari zat obat
dipengaruhi oleh distribusi ukuran partikel, termasuk laju disolusi obat,
bioavailabilitas, keseragaman isi, rasa, tekstur, warna dan kestabilan. Sifat-sifat
seperti karateristik aliran dan laju sedimentasi juga merupakan faktor-faktor
penting yang berhubungan dengan ukuran partikel. Ukuran partikel dari zat murni
dapat mempengaruhi formulasi produk. Khususnya efek ukuran partikel terhadap
absorpsi obat. Keseragaman isi dalam bentuk sediaan padat sangat tergantung
kepada ukuran partikel dan distribusi bahan aktif pada seluruh formulasi yang
sama.
4.
Koefisien Partisi dan Konstanta
Disosiasi
Koefisien Partisi
Merupakan ukuran lipofilisitas dari suatu senyawa. Diukur dengan menetapkan
konsentrasi kesetimbangan suatu obat dalam suatu fasa air (biasanya air) dan
suatu fasa minyak (biasanya oktanol atau chloroform) yang satu dengan lainnya
berkontak pada suhu konstan. Kebanyakan obat yang larut lemak akan
lewat dengan proses difusi pasif sedangkan yang tidak larut lemak akan melewati
pembatas lemak dengan transport aktif. Karena hal ini maka perlu mengetahui
koefisien partisi dari suatu obat.
Khusus untuk obat yang bersifat larut
air maka perlu pula diketahui konstanta disosiasi agar diketahui bentuknya
molekul atau ion. Bentuk molekul lebih muda terabsorpsi daripada bentuk ion.
a.
Polimerfisme
Suatu formulasi yang penting adalah bentuk kristal atau
bentuk amorf dari zat obat tersebut. Bentuk-bentuk polimorfisme biasanya
menunjukkan sifat fisika kimia yang berbeda termasuk titik leleh dan kelarutan.
Bentuk polimorfisme ditunjukkan oleh paling sedikit sepertiga dari senua
senyawa-senyawa organik.
b.
Kelarutan
Suatu sifat kimia fisika yang penting dari suatu zat obat
adalah kelarutan, terutama kelarutan sistem dalam air. Suatu obat harus
memiliki kelarutan dalam air agar manjur dalam terapi. Agar suatu obat masuk
kedalam sistem sirkulasi dan menghasilkan suatu efek terapeutik, obat
pertama-tema harus berada dalam bentuk larutan. Senyawa-senyawa yang relative
tidak larut seringkali menunjukkan absorpsi yang tidak sempurna atau tidak
menentu.
Dalam
pembuatan sediaan injeksi kelarutan sangat penting untuk
pengembangan larutan yang dapat disuntikkan baik secara intravena maupun
intramuscular. Garam asam atau basa mempresentasikan kelompok obat yang dapat
mencapai kelarutan obat dalam air yang dibutuhkan. Kelas obat lain, baik berupa
molekul netral maupun asam atau basa sanagt lemah umumnya tidak dapat
disolubilisasi dalam air dalam rentang pH yang sesuai, sehingga memerlukan
penggunaan pelarut non air seperti PEG 300 dan 400, propilen glikol, gliserol,
etilalkohol, minyak lemak, etiloleat, dan benzilbenzoat.
c.
Disolusi
Perbedaan aktivitas biologis dari suatu
zat obat mungkin diakibatkan oleh laju disolusi. Laju disolusi adalah waktu
yang diperlukan bagi obat untuk melarut dalam cairan pada tempat absorpsi.
Untuk obat yang diberikan secara oral dalam bentuk padatan, laju disolusi
adalah tahap yang menentukan laju absorpsi. Akibatnya laju disolusi dapat
mempengaruhi onset, intensitas dan lama respon serta bioavailabilitas.
d.
Kestabilan
Salah satu aktivitas yang paling
penting dalam praformulasi adalah evaluasi kestabilan fisika dari zat obat
murni. Pengkajian awal dimulai dengan menggunakan sampel obat dengan kemurnian
yang diketahui. Adanya pengotoran akan menyebabkan kesimpulan yang salah dalam
evaluasi tersebut.
Pengkajian praformulasi yang
dihubungkan dengan fase praformulasi termasuk kestabilan obat itu sendiri dalam
keadaan padat, kestabilan fase larutan dan kestabilan dengan adanya bahan
penambah.
Ketidak stabilan kimia dari zat obat
dapat mengambil banyak bentuk, karena obat-obat yang digunakan sekarang adalah
dari konstituen kimia yang beraneka ragam. Secara kimia, zat obat adalah
alcohol, fenol, aldehid, keton, ester-ester, asam-asam, garam-garam, alkaloid,
glikosida, dan lain-lain. Masing-masing dengan gugus kimia relative yang
mempunyai kecenderungan berbeda terhadap ketidak stabilan kimia. Secara kimia
proses kerusakan yang paling sering meliputi hidrolisis dan oksidasi.
5.
Karakteristik Larutan
a.
Konstanta disosiasi. Konstanta
disosiasi digunakan untuk mengetahui Ph dalam proses pembuatan sediaan steril. Saat suatu asam HA larut dalam
air, sebagian asam tersebut terurai (terdisosiasi) membentuk ion hidronium dan basa konjugasinya. Hubungan dengan pembuatan
sediaan injeksi yaitu sediaan harus
sesuai dengan pH yang hampir sama dengan
pH darah
supaya jika obat di suntikkan dalam tubuh dan tercampur dalam darah maka tidak
terjadi nyeri. Dan efek terapinya tercapai.
b.
Kelarutan. Semua sifat fisika atau
kimia bahan aktif langsung atau tidak langsung akan dipengaruhi oleh kelarutan.
Dalam larutan ideal, kelarutan bergantung
pada suhu lebur. Hubungan dengan pembuatan sediaan injeksi yaitu sediaan
harus larut dalam pembawanya sehingga ketika sediaan tersebut di suntikkan efek
terapinya bisa tercapai dengan cepat.
c.
Disolusi. Disolusi merupakan tahap
pembatas laju absorbsi suatu obat menuju sirkulasi sistemik.Uji ini digunakan
untuk mengetahui waktu zat aktif mulai dilepaskan untuk memperoleh kadar yang
tinngi dalam darah.
d.
Stabilitas. Stabilitas fisika dan kimia dari bahan aktif murni sangat perlu untuk dievaluasi karena jika terdapat keberadaan pengotor dapat menyebabkan kesimpulan
yang salah. Hubungan dengan pembuatan injeksi karena pada sediaan injeksi keadaan harus steril dan bebas dari keberadaan pengotor.
Studi praformulasi pada dasarnya berguna untuk menyiapkan
dasar yang rasional untuk pendekatan formulasi, Untuk memaksimalkan kesempatan
keberhasilan memformulasi produk yang dapat diterima oleh pasien dan akhirnya
menyiapkan dasar untuk mengoptimalkan produksi obat dari segi kualitas dan
penampilan.
Formulasi
Formulasi suatu produk sediaan injeksi
meliputi kombinasi dari satu atau lebih bahan dengan zat obat untuk menambahkan
kenikmatan, kemampuan terima, atau kefektifan produk tersebut. Zat terapetis
suatu senyawa kimia yang mudah mengalami karakteristik reaksi kimia dan fisika
dari golongan senyawa dimana zat tersebut termasuk didalamnya. Oleh karena itu
harus dibuat penilaian hati-hati untuk setiap kombinasi dua bahan atau lebih
untuk memastikan apakah terjadi interaksi merugikan atau tidak dan jika
terjadi, cara untuk memodifikasi formulasi sehingga reaksi dapat dihilangkan
atau dikurangi.
Jumlah keterangan yang
tersedia untuk pembuat formulasi sehubungan dengan sifat fisika dan kimia dari
suatu zat terapetis, keterangan sehubungan dengan sifat dasar harus diperoleh,
termasuk bobot molekul, kelarutan, kemurnian, sifat koligatif dan reaktifitas
kimia. Jadi dalam formulasi
sediaan injeksi dapat dirinci sebagi berikut:
a. Zat Aktif (active
ingredients)
b. Zat Pembawa/Pelarut
c. Zat pembawa berair atau zat pembawa tidak berair
d. Zat Tambahan (nonactive ingredients/ excipients)
Macam-macam zat pembantu atau
excipients dalam pembuatan sediaan injeksi meliputi Zat
antibakteri, antioksidan, dapar, dan pembantu isotonis. Sebelum mengembangkan
formulasi sediaan farmasi dalam bentuk sediaan injeksi, penting sekali
terkumpul data yang meliputi bahan:
a. Zat
aktif
b. Zat
tambahan
c. Zat
terlarut
Zat terlarut harus
bebas dari kontaminasi mikroba dan pirogen. Hal ini tidak hanya memerlukan
kualitas kimia yang sesuai seperti yang diperoleh, tetapi juga kondisi
penyimpanan yang dirancang untuk mencegah kontaminasi, terutama setelah lama
dibuka.
d. Wadah
Bahan utama dari
berbagai bahan plastik yang digunakan untuk wadah adalah polimer termoplastik.
Kebanyakan bahan plastik yang digunakan dalam bidang medis mempunyai jumlah
bahan tambahan yang relatif rendah, beberapa mengandung sejumlah pokok
plastisator, pengisi, zat antistatis, antioksidan. Wadah gelas juga biasa
digunakan untuk produk yang dapat disuntikkan, gelas pada dasarnya tersusun
dari silikon dioksida tetrahedron, dimodifikasi secra fisika kimia dengan
oksida-oksida seperti oksida natrium, kalium, kalsium, magnesium, aluminium,
boron, besi.
1. Formulasi
Umum
R/
Zat Aktif
Antibakteri
Pengisotonis
Antioksidan
Pendapar
a. Zat
Aktif
Zat aktif merupakan bahan yang
diharapkan memberikan efek terapetik atau efek lain yang diharapkan. Sebagian
besar zat aktif yang digunakan untuk sediaan injeksi bersifat larut air atau dipilih bentuk
garamnya yang larut air.
Data zat aktif yang
diperlukan, meliputi :
Kelarutan. Terutama data kelarutan dalam air dari
zat aktif sangat diperlukan, karena bentuk larutan air paling dipilih pada
pembuatan sediaan steril. Data kelarutan ini diperlukan untuk menentukan bentuk
sediaan. Zat aktif yang larut air membentuk sediaan larutan dalam air, zat
aktif yang larut minyak dibuat larutan dalam pembawa minyak. Kelarutan obat
akan berpengaruh pada volume injeksi, jika mudah larut maka volume yang
diberikan kecil. Sedangkan zat tidak larut dalam kedua pembawa tersebut dibuat
sediaan suspense atau dengan kosolven. Jika zat aktif tidak
larut dalam air ada beberapa alternatif yang dapat diambil sebelum memutuskan
untuk membuat sediaan suspensi atau larutan minyak yaitu dengan mencari bentuk garam dari zat aktif, melakukan reaksi
penggaraman, atau dicari bentuk kompleksnya.
pH
Stabilita. pH
Stabilita adalah pH dimana penguraian zat aktif paling minimal, sehingga
diharapkan kerja farmakologinya optimal. pH stabilita dicapai dengan
menambahkan asam encer, basa lemah atau dapar.
2. Stabilitas
Zat Aktif
Beberapa faktor yang
mempengaruhi penguraian zat aktif adalah
a. Oksigen
(Oksidasi). Pada
kasus ini, setelah air didihkan maka perlu dialiri gas nitrogen dan ditambahkan
antioksidan.
b. Air
(Hidrolisis). Jika
zat aktif terurai oleh air dapat dipilih alternatif : Dibuat pH stabilitanya dengan penambahan
asam basa atau buffer. Memilih
jenis pelarut dengan polaritas lebih rendah daripada air, seperti campuran
pelarut air-gliserin-propilenglikol atau pelarut campur lainnya. Dibuat dalam bentuk kering dan steril
yang dilarutkan saat disuntikkan.
c. Suhu. Jika zat aktif tidak tahan panas dipilih
metode sterilisasi tahan panas, seperti filtrasi.
d. Cahaya. Pengaruh cahaya matahari dihindari dari
penggunaan wadah berwarna coklat.
e. Tak
tersatukannya zat aktif. Dapat
ditinjau dari segi kimia, fisika, atau farmakologi.
f. Dosis. Data ini dapat menentukan tonsisitas
larutan dan cara pemberian.
g. Rute
Pemberian. Rute
formulasi yang akan digunakan dapat berpengaruh pada formulasi, dalam hal : Volume maksimal sediaan yang dapat
dibrikan pada rute tersebut. Pemilihan
pelarut dapat disesuaikan dengan rute pemberian. Isotonisitas
dri sediaan juga dipengaruhi oleh rute pemberian. Pada larutan intravena
iotonisitas menjadi kurang penting selama pemberian dilakukan dengan perlahan
untuk memberikan waktu pengenceran dan “adjust” oleh darah. Injeksi intraspinal
mutlak harus isotonis.
3. Bahan
Pelarut dan Pembawa Obat Suntik
Bahan pembawa injeksi
dapat berupa air maupun non air
a. Pelarut
dan Pembawa Air untuk Obat Suntik
Sebagian besar produk
parenteral menggunakan pembawa air. Hal tersebut dikarenakan kompabilitas air
dengan jaringan tubuh, dapat digunakan untuk berbagai rute pemberian, air
mempunyai konsta dielektrik tinggi sehingga lebih mudah untuk melarutkan
elektrolit yang terionisasi dan ikatan hidrogen yang terjadi akan memfalitasi
pelrut dari alkohol, aldehid, keton dan amin.
Syarat air untuk
injeksi menurut USP, yaitu : Harus
dibuat segar dan bebas pirogen. Tidak
mengandung lebih dari 10 ppm dari total zat padat. pH antara 5-7. Tidak mengandung ion-ion klorida,
sulfat, kalsium dan amonium, karbondioksida dan kandungan logm berat serta
meterial organik (tanin, lignnin). Partikel berada pada batas yang
diperbolehkan. Jenis pelarut
dan pembawa air yang dapat digunakan untuk obat suntik adalah WFI (Water for Injection)
Pelarut yang paling sering digunakan
dalam obat suntik secara besar– besaran adalah air untuk injeksi atau disebut WFI
(Water for Injection). Persyaratan
WFI menurut standar BP (2001) dan EP (2002) tidak boleh mengandung : Total karbonorganik tidak boleh lebih dari 0,5 mg per
liter. Klorin tidak boleh lebih dari 0,5 ppm. Ammonia tidak boleh lebih dari 0,1 ppm. Nitrat tidak noleh lebih dari 0,2 ppm. Logam berat
(Cu, Fe, Pb) tidak boleh lebih dari 0,1 ppm. Oksidator tidak
boleh lebih dari 5 ppm. Bebas pirogen. pH
5,0– 7,0.
Penyimpanan air untuk injeksi (WFI)
harus disimpan dalam wadah yang tertutup
rapat pada temperature dibawah atau diatas kisaran temperature ideal mikroba dapat tumbuh. Air untuk obat
suntik bertujuan dalam waktu 24 jam sesudah penampungan
Air
Pro Injeksi. Aqua bidest dengan pH tertentu,
tidak mengandung logam berat (timbal, besi, tembaga), juga tidak boleh
mengandung ion Ca, Ck, NO3, SO4, amonium, NO2,
CO3. Harus steril dan penggunaan diatas 10 ml harus bebas pirogen. Aqua
steril pro injeksi adalah air untuk injeksi yang disterilkan dan dikemas dengan
cara yang sesuai, tidak mengandung bahan antimikroba atau bahan tambahan
lainnya.
Cara pembuatan : didihkan air selama 30
menit dihitung dari setelah air mendidih di atas api lalu didinginkan.
Air
Pro Injeksi Bebas CO2. CO2
mampu menguraikan garam natrium dari senyawa organik seperti barbiturate dan
sulfonamide kembali membentuk asam lemahnya yang mengendap. Cara pembuatan : mendidihkan air
selama 20-30 menit lalu dialiri gas
nitrogen sambil didinginkan.
Air
Pro Injeksi Bebas O2. Dibuat untuk melarutkan zat aktif
yang mudah teroksidasi, seperti apomorfin, klorfenoiramin, klorpromazin,
ergotamine, metilergotamin, proklorperazin, promazin, promestatin, HCL,
sulfamidin, turbokukarin. Cara pembuatan : mendidihkan air
selama 20-30 menit dan pada saat pendinginannya dialiri gas nitrogen.
Bacteriostatic
Water for Injection. Merupakan air steril untuk obat suntik yag mengandungsatu
atau lebih zat antimikroba yang sesuai.
Sodium Chloride
Injection. Merupakan larutan steril dan isotonic natrium klorida dalamair untuk
obat suntik. Larutan tidak mengandung zat antimikroba.
Bacteriostatic
Sodium Chloride Injection. Merupakan larutan steril dan isotonic natriumklorida
dalam air untuk obat suntik. Larutan mengandung satu atau lebih zatantimikroba
yang sesuai dan harus tertera dalam etiket.
4. Pelarut
dan Pembawa Non Air
a. Minyak
Merupakan lemak tidak
berba uatau hampir tidak berbau, tidak tengik. Harus memenuhi persyaratan uji
paraffin padat seperti yang tertera pada minyak mineral, tangas pendingin,
dipertahankan suhu 10o C, bilangan penyabunan antara 185-200,
bilangan iodium 79-128 seperti tertera pada lemak dan minyak lemak dan memenuhi
persyaratan sebagaiberikut :
Bahan tak tersabunkan :
Memenuhi syarat Bahan Tak Tersabunkan seperti
tertera dalam lemak dan minyak lemak.
a) Asam
lemak bebas : Tidak lebih dari 2,0 mL
NaOH 0,002 N LV diperlukan untuk menetralkan asam lemak bebas dalam 10 gram
minyak lemak.
b) Monogliserida
dan gliserida sintetik dari asam lemak : Dapat digunakan jika berupa cairan dan
tetap jernih kalau didinginkan pada suhu 10o C dan bilangan iodium
tidak lebih dari 140.
Olea neutralisata ad injectionem. Setiap Farmakope mencantumkan jenis
minyak tumbuhan (nabati) yang berbeda – beda. Minyak
kacang (Oleum Arachidis), minyak
zaitun (Oleum Olivarum),
minyak mendel, minyak bunga matahari, minyak kedelai, minyak biji
kapuk,dan minyak wijen (Oleum
Sesami) adalah beberapa jenis minyak yang
digunakan sebagai pembawa injeksi. Minyak harus netral secara fisiologis dan
dapat diterima tubuh dengan baik. Persyaratan untuk tingkat ini adalah tingkat
kemurnian yang tinggi dan menunjukkan bilangan asam dan bilangan peroksida yang
rendah. Minyak setelah disterilkan disebut Olea netralisata ad injectionem.
b.
Bukan minyak
Pelarut dan pembawa bukan minyak yaitu
: Alcohol, Propylenglycol, Glycerine, dan lain – lain dicampur air
dapat dipakai sebagai pelarut obat suntik, di samping melarutkan, ternyata
mempertinggi stabilitasobat dan larutannya pula.
Pembawa non air
digunakan jika :
a) Zat
aktif tidak larut dalam air
b) Zat
aktif terurai dalam air
c) Diinginkan
kerja depo dalam sediaan
Syarat umum pembawa non air
a) Tidak
toksik, tidak mengiritasi dan menyebabkan sesitisasi
b) Dapat
tersatukan dengan zat aktif
c) Inert
secara farmakologi
d) Stabil
dalam kondisi dimana sediaan tersebut biasa digunakan
e) Viskositasnya
harus sedemikian rupa sehingga dapat disuntikkan dengan mudah
f) Harus
tetap cair pada rentang suhu yang cukup lebar
g) Mempunyai
titik didih yang tinggi sehingga dapat dilakukan sterilisasi dengan panas
h) Dapat
bercampur dengan air atau cairan tubuh
Jenis pelarut non air dan air yang dapat digunakan
sebagai pembawa sediaan injeksi adalah
a) Pelarut
non air yang dapat bercampur dengan air. Pelarut
organik yang dapat bercampur dengan air dapat dijadikan kosolven dalam sediaan
injeksi. Bertujuan untuk meningkatkan kelarutan suatu zat aktif yang kurang
larut dalam air serta meningkatkan stbilitas zat tertentu yang mudah
terhidrolisis. Pelarut yang dapat digunakan adalah etanol, propilenglikol dan
gliserin. Campuran pelarut yang dapat menyebabkan iritasi atau peningkatan
toksisitas, terutama jika digunakan dalam konsentrasi tinggi. Larutan yang
mengandung etanol dengan konsentrsi tinggi dapat menimbulkan rasa sakit ketika
disuntikkan. Beberapa produk yang dapt diberikan secara intravena dengan
kecepatan injeksi yang terlalu cepat dapat menyebabkan pengendapan obat di
dalam pembuluh darah.
b) Pelarut
air yang tidak dapat bercampur dengan air. Penggunaan
pelarut minyak bertujuan untuk meningkatkan kelarutan zat aktif dan untuk
membuat sediaan lepas lambat. Injeki pembawa minyak hanya diberikan secara
intra muskular. Salah satu persyaratan minyak untuk parenteral adalah harus
tetap jernih bila didinginkan sampai 10oC untuk menjamin kestabilan
dan kejernihan selama disimpan di lemari pendingin.
Jenis pembawa non air yang tidak dapat bercampur
dengan air dan dapat digunakan sebagai pembawa sediaan injeksi adalah Minyak lemak. Karena : Campuran
ester asam lemak dan gliserol. Minyak
berasal dari tumbuhan, seperti minyak kacang, biji kapas, jagung, wijen,
kenari, jarak dan zaitun. Pada
label sediaan harus dicantumkan jenis pembawa minyak yang digunakan karena pada
beberapa orang dapat menimbulkan reaksi alergi.
Minyak mineral tidak dapat digunakan karena tidak
dapat dimetabolisme oleh tubuh. Minyak
yang digunakan harus berbentuk cair pada suhu kamar dan tidak boleh menjadi
tengik. Untuh mencegah ketengikan akibat oksidasi maka dalam formulas dapat
ditambahkan antioksidan seperti : BHA, BHT, tokoferol, propilgalat, dll. Minyak wijen (sesame oil) lebih banyak
digunakan untuk sebagian besar injeksi pembawa minyak, karena merupakan minyak
yang paling stabil dibandingkan minyak tumbuhan lain (kecuali terhadap cahaya)
dan didalamnya sudah mengandung antioksidan alami.
Minyak tumbuhan sering menimbiulkan rasa nyeri
sehingga perlu penambahan benzil alkohol 5% sebagai anastetik lokal. Tidak boleh mengandung minyak mineral
atau parrafin cair (karena tidak dapat dimetabolisme dal tubuh dan dapat
menimbulkan rekasi terhadap jaringan atau tumor). Minyak nabati yang banyak
digunakan : Ol. Arachidis (minyak kacang), Ol. Gossypii, Ol. Sesami (minyak
wijen), Ol. Terebinthinae, Ol. Maydis, Ol. Olivarium Netral, Ol. Amigdalarum.
Isopropil
miristat. Ester
asam lemak yang mempunyai viskositas rendah. Sebagai
pembawa tunggal atau kombinasi dengan minyak lemak. Digunakan jenis yang bebas peroksida
karena mencegh teroksidasinya bahan berkhasiat dan minyak yang digunakan.
Benzil
benzoate. Merupakan cairan berminyak yang
tidak berwarna dan bau yang khas. Biasanya digunakan bersama dengan pembawa
lain (sebagai kosolven) misal pada injeksi dimerkapol dan hidroksiprogesteron.
Etil
oleat. Viskositas lebih rendah dan lebih
mudah diabsorbsi oleh jaringan dibandingkan dengan minyak lemak. Sebagai
pembawa tunggal atau kosolven dalam injeksi hormon seperti injeksi
dioksikortison asetat, estradiol monobenzoat, progesterondan testosteron
propinoat.
5. Zat
Tambahan
Zat tambahan pada
sediaan steril digunakan untuk :
a) Meningkatkan
kelarutan zat aktif
b) Menjaga
stabilitas zat aktif
c) Menjaga
sterilitas untuk sediaan multiple dose
d) Mempermudah
dan menjaga keamanan pemberian
Syarat bahan tambahan :
a) Inert
secara farmakologi , fisika, maupunkimia
b) Tidak
toksik dalam jumlah yang diberikan
c) Tidak
mempengaruhi pemeriksaan obat
a. Pengatur
Tonisitas
Isotonis
Jika suatu larutan
konsentrasinya sama besar dengan konsentrasi dalam sel darah merah sehingga
tidak terjadi pertukaran cairan diantara keduanya, maka larutan tersebut
dikatakan isotonis (ekivalen dengan 0,9% NaCl).
Sel darah merah dalam
larutan :
Hipotonis : mengembang
kemudian pecah, karena air berdifusi ke dalam sel (hemolysis). Keadaan
hipotonis kurang dapat ditoleransi, karena pecahnya sel bersifat irreversible
Hipertonis : kehilangan
air dan mengkerut (krenasi), keadaan ini cukup dapat ditoleransi.
Larutan perlu isotonis
agar : Mengurangi kerusakan jaringan dan iritasi. Mengurangi
hemolisis sel darah. Mencegah ketidakseimbangan
elektrolit. Mengurangi sakit pada daerah
injeksi
Larutan isotonis tidak
selalu mungkin karena : Konsentrasi obat tinggi, tetapi
batas volume injeksi kecil. Variasi dosis pemberian. Metode
pemberian. Pertimbangan stabilitas produk
Isoosmotik
Jika suatu larutan memiliki tekanan
osmose sama dengan tekanan osmose serum darah, maka larutan dikatakan
isoosmotik.
Hipotonis
Turunnya titik beku
kecil, yaitu tekanan osmosenya lebih rendah dari serumdarah, sehingga
menyebabkan air akan melintasi membrane
sel darah merah yang semi permeabel memperbesar volume sel darah merah dan
menyebabkan peningkatan tekanan dalam sel. Tekanan yang lebih besar menyebabkan
pecahnya sel– sel darah merah, yang disebut Hemolisa.
Hipertonis
Turunnya titik beku besar, yaitu
tekanan osmosenya lebih tinggi dari serum darah,sehingga menyebabkan air keluar
dari sel darah merah melintasi membranesemipermeabel dan mengakibatkan
terjadinya penciutan sel– sel darah merah, yangdisebut Plasmolisa.
Beberapa cara dapat menjadikan larutan
isotonis :
a)
Penurunan titik beku
W
= (0,52– a) / b
W = jumlah (g) bahan pembantu isotonic dalam 100 ml
larutan
a = turunnya titik beku air akibat zat terlarut, dihitung
denganmemperbanyak nilai untuk larutann 1% b/v.
b = turunnya titik beku air yang dihasilkan oleh 1% b/v
bahan pembantuisotonis.
b) Kesetaraan
dengan garam natrium klorida. Ekivalensi
natrium klorida memberikan jumlah
natrium klorida (g) yang
menghasilkan tekanan osmotic sama seperti 1 gram bahan obat dnegan syarat bahwa
baik natrium klorida maupun bahan obat berada dalam larutan bervolume sama.
Maka, 1 gram bahan obat ekuivalen dengan tekanan osmoticdari x gram natrium
klorida. Dengan bantuan ekuivalensi natrium klorida, kitadapat menghitung
volume air yang dibutuhkan untuk membuat larutan bahanobat isotonik.
c) Kesetaraan
volume isotonic. Perhitungan didasarkan pada kenyataan
bahwa larutan isotonic ditambahlarutan isotonic hasilnya larutan isotonic.
Rumus : V = w x E x 111,1
V = volume larutan bahan obat isotonic
yang dicari (ml)
w = masa bahan obat (g) dan larutan
yang dibuat
E = ekuivalensi natrium klorida
111,1 = volume larutan isotonic (ml)
yang mengandung 1 gram natriumklorida = 111,1 ml
Perhitungan
dengan tetapan Liso
Rumus : Dt f = Liso. C
Berlaku bila tidak ada data pada tabel
penurunan titik beku.Tahapan perhitungan : Cari bahan molekul obat. Berdasarkan struktur
kimia senyawa, tentukan tipe isotoniknya. Cari harga Liso dari tabel berdasarkan tipe isotonic. Hitung dengan
rumus Dt f = Liso. C penurunan titik beku.
Hitung selisih penurunan titik beku. Hitung
kekurangan tonisitas. Dengan melihat tabel, hitung kekurangan
zat untuk mencapai isotonic.
Cara
faktor disosiasi (Farmakope Belanda VI)
Telah ditetapkan bahwa
larutan NaCl 0,9% b/v isotonis dengan cairan tubuh. Tekanan osmosis larutan
sebanding dengan jumlah bagian-bagian dalam larutan. Dalam larutan encer, dapat
dikatakan bahwa garam-garam terdisosiasi sempurna.
NaCl Na+ + Cl-
(Fa/Ma)xa
|
fa = faktor
disosiasi zat-zat yang mendekati keadan yang sebenarnya; untuk zat-zat yang
tidak terdisosiasi seperti glukosa dan gliserin = 1 ; untuk asam lemah dan basa
lemah = 1,5 dan untuk asam kuat dan basa kuat =1,8
Ma= bobot
molekul zat.
a, b, c,.... dan
seterusnya adalah kadar zat dalam larutan dalam satuan g/liter.
Jadi larutan isotonis
dapat dihitug dari NaCl 0,9% b/v tersebut, yaitu :
= (f.NaCl/M.NaCl)x
kadar NaCl ( dalam satuan gram/liter)
= (1,8/ 58,5)x9 = 0,28
(berarti setiap larutan yang mempunyai faktor isontonis
= 0,28 adalah
isotonis).
Dapat kita turunkan
rumus sebagai berikut
Rumus :
(fa/Ma)x
a + (fb/Mb)x b + (fc/Mc) x
c......dst= 0,28
(fa/Ma)x
a + (fb/Mb)x b + (fc/Mc) x
c......dst= 0,28
(fa/Ma)x
a + (fb/Mb)x b + (fc/Mc) x
c......dst= 0,28
|
(fa/Ma
)x a + (fb/Mb)x b
............dst + (fh/Mh)x h = 0,28.
(fh/Mh)x
h ={ 0,28- [(fa/Ma )x a]+[ (fb/Mb)x
b]+ ......dst}
h= (Mh/fh)x
{ 0,28-[(fa/Ma )x a] + [(fb/Mb)x
b]+.....dst}
h = (Mh/fh)x
{ 0,28-[(fa/Ma )x a] + [(fb/Mb)x
b]+.....dst}
|
harga = (Mh/fh)
untuk:
Nacl = 32
Glukosa = 198
Etanol 96% b/v = 43
Na nitrat = 42
Gliserin = 81
b.
Pengatur pH (dapar)
Isohidris : kondisi suatu larutan zat
yang pH nya sesuai dengan pH fisiologis tubuhsekitar 7,4.
Euhidris : usaha pendekatan larutan
suatu zat secara teknis ke arah pH fisiologistubuh dilakukan pada zat yang
tidak stabil pada pH fisiologis seperti garam alkaloid,vitamin C.
Menurut BP :
a)
Dalam pembuatan obat suntik, kita perlu menetapkan pH
obat suntik.
b)
Beberapa obat suntik harus dibuat dalam jarak pH
tertentu.
c)
Untuk memperoleh pH tertentu, kita menggunakan bantuan
dapar.
Fungsi larutan dapar dalam obat suntik adalah :
a)
Meningkatkan stabilitas obat, misalnya : injeksi vitamin
C dan injeksi luminal.
b)
Mengurangi rasa nyeri dan iritasi.
c)
Dapat pula menghambat pertumbuhan bakteri (bukan tujuan
sebenarnya).
d)
Meningkatkan aktivitas fisiologis obat.
Pengaturan pH sediaan
dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu adjust
pH dan pemakaian dapar.
a. Dapar
Perubahan pH pada
penyimpanan dapat disebabkan :
a) Reaksi
degradasi produk
b) Interaksi
dengan komponen wadah (kaca atau tutup karet)
c) Pelarutan
gas dan uap
b. Tujuan
Dapar :
a) Meningkatkan
stabilitas obat. Ket
: pada pH tertentu penguraian obat menjadi minimal, misalnya pada zat aktif
berikut : antibiotic (penisilin, tetrasiklin), basasintetis (adrenalin),
polipeptida) (insulin, oksitocin, vasoprein), alkaloida (senyawa ergot),
vitamin (B12, vit C).
b)
Mengurangi rasa nyeri, iritasi,
nekrosis, saat penggunaannya. Ket
: penambahan larutan dapar dalam larutan ini hanya dilakukan untuk larutan obat
suntik dengan pH 5,5 – 7,5. Untuk pH <3 atau> I sebaiknya tidak didapar
karena sulit dinetralisasi. Peringatan ini ditujukan terutama untuk injeksi
i.m. dan s.c.
c)
Menghambat pertumbuhan mikrooganisme. Ket : bukan tujuan dapar yang
sebenarnya, tetapi larutan dalam suasana sangat asam atau sangat basa dapat
digunakan untuk mencapai maksut-maksut tersebut, misalnya injeksi insulin yang
pHnya diatur antara 3 -3,5 tidak membutuhkan penambahan antimikroba.
d)
Meningkatkan aktifitas fisiologi sobat. Ket : sebagai contoh dapat diketengahkan
misalnya campuran kering dan steril dapar pH basa dengan zat aktif atau obat
yang sifatnya asam (prokain adrenalin). Campuran kering tersebut baru
dilarutkan dalam air pro injeksi secara aseptis sesaat sebelum digunakan. Jadi
tampak bahwa peningkatan bahwa peningkatan pH dilakukan sampai batas waktu
tertentu dimana zat aktif masih stabil dengan aktifitas fisiologis yang
maksimal.
pH ideal sediaan adalah 7,4 yang sesuai dengan pH
darah, tetapi hal tersebut tidak selalu dapat dilakukan karena sediaan harus
dibuat pada pH yang mendukung stabilitas dari sediaan (disesuaikan dengan pH
stabilitas zat aktif bukan pH larutan). Dapar yang ideal memiliki kapasitas
dapar yang cukup untuk menjaga pH sediaan selama penyimpanan, namun
memungkinkan cairan tubuh beradaptasi dengan mudah. Rentang pH yang tidak dapat
ditolernsi oleh tubuh:
pH > 9 menyebabkan kematian jaringan
pH < 3 sanagat menyakitkan dan menyebabkan
flebitis
Untuk
sediaan parenteral volume kecil (<100mL), dapar dapat dibuat bila pH
stabilitas sediaan berada di dalam range :
a) IV
(SVP) = pH 3 – 10,5
b) Rute
lain = pH 4 – 9
c. Cara
penentuan pH:
a)
Memakai indicator ketasatau indicator
larutan universal baik secara langsung maupun kolorimetri
b)
Potensiometri, digunakan untuk larutan
berwarna
c)
Dengan perhitungan
d.
Contoh dapar :
a) Dapar
fosfat, dapar sitrat, asam asetat / garam pH 3,5 – 5, 7; asam sitrat / garam pH
2,5 – 6; asam glutamate pH 8,2 – 10,2.
6. Pengawet
a.
Pengawet yang ideal :
a)
Mempunyai aktivitas antimikroba yang
tinggi dan spektrumnya luas, bekerja pada temperatur dan pH yang luas
b)
Mempunyai stabilitas yang tinggi pada
range temperature dan pH yang digunakan
c)
Tidak toksik pada konsentrasi yang
digunakan
d)
Tersatukan dengan komponen lain dalam
sediaan
e)
Cepat larut pada konsentrasi yang
digunakan
f)
Bebas dari bau, rasa, warna
g)
Tidak menyebabkan keracunan,
karsiogenik, iritan, dan menyebabkan sensitisasi pada konsentrasi yang
digunakan.
b. Stabilisasi
USP mengijinkan penambahan zat– zat yang sesuai ke dalam sediaan yang resmidigunakan sebagai obat
suntik. Tujuannya adalah meningkatkan kestabilan asal sesuiadengan monografi
masing – masing, tidak
berbahaya dalam jumlah yang diberikan, dantidak mengganggu efek terapi sediaan.
Senyawa – senyawa penambah
kebanyakan adalah pengawet antimikroba, dapar, penambah kelarutan, antioksidan,
dan zat – zat pembantu
farmasi lainnya. Zat pewarna dilarang keras diberikan dalam sediaanparenteral.
Agar sediaan obat injeksi tetap stabil,
maka kita perlu memperhatikan hal – hal berikut
:
a) Untuk mencegah
reaksi oksidasi, kita hendaknya mengupayakan agar obat tidak kontak dengan
oksigen.
b) Bila oksidasi
dikatalisis oleh logam berat, maka penawarnya dilakukan reaksikomplekson dengan
penambahan garam dinatrium EDTA.
c) Bila ada
rangsangan akibat cahaya terhadap proses oksidasi, maka pembuatan dan penyimpanan
larutan injeksi sebaiknya terlindung dari cahaya.
d) Bila bahan obat
tidak dapat disterilisasi dengan panas, maka tersedia penyaring bebaskuman.
e) Bila bahan obat
rusak karena hidrolisis, maka lebih baik kita meraciknya dalamampul kering.
f) Untuk
menghindari kontaminasi bakteri ke dalam preparat injeksi, kita
memerlukanpenambahan bahan pengawet.
7.
Volume Obat Suntik
Volume yang disiapkan untuk obat suntik
tergantung pada kelarutan zat aktif,tetapi juga dipengaruhi oleh cara
pemberian. Larutan jejak presipitation dari thiocrom
atau chloroflafin terjadidengan benzilpenicillin kompatibel dengan suntikan
dekstrosa atau addictive containingmetabisulfit.
a.
Contoh Formulasi Sediaan Injeksi
R/
Thiamin HCl 100 mg
Bahan tambahan yang cocok qs
Aqua Pro Injection ad 2 ml
b.
Perhitungan
:
Isotonis. Dengan metode
Liso
BM Thiamin Hcl = 337,27
Liso Thiamin Hcl = 3,4
Berat Thiamin = 0,1
∆tf = Liso x m/BM x
1000/V
∆tf = 3,4 x 0,1/337,27 x
1000/2
∆tf = 3,4 x 0,00029 x 500
= 0,493 ( masuk rentang isotonis ) Tidak perlu penambahan NaCl
Isotonis. Dengan metode
ekivalensi NaCl
Gram Thiamin Hcl = 0,1 gram
Dari tabel diketahui 0,25 gram NaCl
setara dengan 1 gram Thiamin Hcl, jadi jumlah NaCl untuk 0,1 gram adalah 0,1 x
0,25 = 0,025
Larutan 2 ml memerlukan NaCl = 0,9 % x
2 ml = 0,018 gram
Kekurangan NaCl yang diperlukan adalah
= 0,025 – 0,018 gram = 0,007 gram
Untuk 10 ml larutan injeksi Thiamin Hcl
diperlukan NaCl sebanyak 0,035 gram. Karena jumlahnya terlalu kecil maka diabaikan ketika
pengerjaan.
Perhitungan
dapar
Untuk mendapatkan pH 7,4 dibutuhkan 90,9
ml Natrium Fosfat 0,2 M
Diketahui :
Molaritas Natrium Fosfat = 0,2 M
BM Natrium Fosfat = 358, 14
Volume = 90,9 ml
Ditanya :
Bobot Natrium Fosfat?
Jawab :
Gram = 0,2 x 358,14 x 0,0909
Gram = 6,51 gram
Dalam 90,9 ml Natrium Fosfat 0,2 M
terdapat 6,51 gram Natrium Fosfat. Maka dalam 10 ml larutan dibutuhkan 0,715
gram Natrium Fosfat.
Untuk mendapatkan pH 7,4 dibutuhkan 9,1
ml Asam Sitrat 0,1 M
Diketahui :
Molaritas Asam Sitrat = 0,1 M
BM Asam Sitrat = 210,14
Volume Asam Sitrat = 9,1 ml
Ditanya :
Bobot Asam Sitrat?
Jawab :
Bobot asam sitrat = M x BM x volume
= 0,1 x 210,14 x 0,0091 L
= 0,19 gram
Dalam 9,1 ml Asam Sitrat 0,1 M terdapat
0,19 gram Asam Sitrat. Maka dalam 10 ml larutan dibutuhkan 0,208 gram Asam
Sitrat.
Daftar
Pustaka
1. Ansel.
1989. Pengantar Bentuk Sediaan
Farmasi. Jakarta : UI press
2. Anonim.
1979. Farmakope Indonesia edisi III.
Jakarta : Departemen Kesehatan RI
3. Anonim.
1995. Farmakope Indonesia ediai IV.
Jakarta : Departemen Kesehatan RI
4. Pharmacopee Ned edisi V
5. Soetopo
dkk. 2002. Ilmu Resep Teori.
Jakarta : Departemen Kesehatan
6. Voigt.
1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi.
Yogyakarta : UGM Press
7. Lachman
dkk. 1994. Teori Dan Praktek Farmasi
Industri. Jakarta : UI Press
8. Departemen
Kesehatan RI. 1978. Formularium
Nasional edisi II. Jakarta
9. Van
Duin. 1947. Ilmu Resep.
Jakarta : Soeroengan
10. Anonim.
Farmakope Herbal
11. Departement
of pharmaceutical Science. 1982. Martindale
the Extra Pharmacoeia 28th edition. London: The Pharmaceutical Press.
12. Badan
Pengaeas Obat dan Makanan. ISFI. 2006. ISO Indonesia, volume IV. Jakarta: PT. Anem Kosong Anem
(AKA).
13. Departemen
Kesehatan RI. 1978. Formularium
Nasional, Ed II. Jakarta.
14. Wade, Ainley
and Paul J Weller.Handbook of
Pharmaceutical excipients.Ed II.1994.London; The Pharmaceutical Press.
15. Hardjasaputra,
S. L. Purwanto, Dr. dkk. 2002. Data
Obat di Indonesia (DOI), edisi 10. Jakarta: Grafidian medi press. (#Akfar PIM/2010)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar