1. Penetapan pH
Bertujuan untuk menetapkan pH suatu sediaan larutan
agar sesuai dengan monografi.
Nilai pH dalam darah normal 7,35 – 7,45
Cara kerja :
Larutan dapar untuk pembakuan buat menurut petunjuk sesuai tabel. Simpan dalam
wadah tahan bahan bahan kimia, tertutup rapat, sebaiknya dari kaca tipe 1.
Larutan segar sebaiknya dibuat dengan interval tidak lebih dari 3 bulan. Tabel
berikut menunjukkan pH dari larutan dapar sebagai fungsi dari suhu. Petunjuk
ini digunakan untuk pembuatan larutan dapar dengan kadar molal sebagaimana
disebutkan. Untuk memudahkan, petunjuk diberikan dengan pengenceran hingga
volume 1000 ml. bukan dengan menyebutkan penggunaan 1000 g pelarut yang
merupakan dasar system molalitas dari kadar larutan. Jumlah yang disebutkan
tidak dapat secara sederhana diperhitungkan tanpa informasi tambahan.
2.
Penetapan
Volume Injeksi dalam Wadah
Bertujuan untuk
menetapkan volume injeksi yang dimaksudkan dalam wadah agar volume injeksi yang
digunakan tepat/sesuai dengan yang tertera pada penandaan (volume injeksinya
itu harus dilebihkan. Kelebihan volume yang dianjurkan dipersyaratkan dalam FI
IV).
Cara kerja
a. Pilih
satu atau lebih wadah, bila volume 10 ml atau lebih,
b. 3
wadah atau lebih bila volume lebih dari 3 ml dan kurang dari 10 ml, atau 5
wadah atau lebih bila volume 3 ml atau kurang.
c. Ambil
isi tiap wadah dngan alat suntik hipodermik kering berukuran tidak lebih dari 3
kali volume yang akan diukur dan dilengkapi dengan jarum suntik nomor 21,
panjang tidak kurang 2,5 cm.
d. Keluarkan gelembung udara dari dalam
jarum dan alat suntik dan pindahkan isi dalam alat suntik. Tanpa mengosongkan
bagian jarum kedalam gelas ukur kering volume tertentu yang telah dibakukan
sehingga volume yang diukur memenuhi sekurang-kurangnya 40% volume dari
kapasitas tertera (garis-garis penunjuk volume gelas ukur menunjuk volume yang
ditampung, bukan yang dituang).
3. Bahan Partikulat dalam Injeksi
Bertujuan untuk
larutan injeksi, termasuk larutan yang dikonstitusi dari zat padat
steril untuk penggunaan parenteral, harus bebas dari partikel yang dapat
diamati pada pemeriksan secara visual.
Cara pengerjaan : Dua prosedur untuk penetapan bahan
partikulat dicantumkan berikut ini, berbeda sesuai dengan volume yang tertera
pada etiket wadah. Semua injeksi volume besar untuk infuse dosis tunggal, dan
injeksi volume kecil yang ditetapkan dalam persyaratan monografi, harus
memenuhi batas bahan partikulat seperti yang tertera pada uji yang digunakan.
4.
Uji
Kebocoran
Bertujuan untuk memeriksa keutuhan kemasan untuk menjaga
sterilitas dan volume serta kestabilan sediaan.
Cara pembuatan : Pada
pembuatan secara kecil-kecilan hal ini dapat dilakukan dengan mata tetapi dalam
jumlah besar hal ini tidak mungkin bisa dikerjakan.
Wadah-wadah takaran
tunggal yang masih panas, setelah selesai disterilkan dimasukkan kedalam
larutan biru metilena 0,1%. Jika ada wadah-wadah yang bocor maka larutan
metilena akan masuk kedalamnya karena perbedaan tekanan di luar dan di dalam
tersebut. Sehingga cara ini tidak digunakan/dipakai untul larutan-larutan yang
sudah berwarna.
Wadah-wadah takaran
tunggal disterilkan terbalik yaitu dengan cara unjungnya di bawah.ini digunakan
pada pembuatan dalam skala kecil. Jika terjadi kebocoran maka larutan ini akan
keluar dari dalam wadah dan wadah menjadi kosong.
Wadah-wadah yang tidak
dapat disterilkan, kebocorannya harus diperiksa dengan memasukkan wadah-wadah
tersebut eksikator, yang kemudian divakumkan. Jika terjadi kebocoran larutan
akan diserap keluar. oleh karena itu, harus dijaga agar jangan sampai larutan
yang keluar, diisap kembali jika di vakum dihilangkan.
5.
Uji
Kejernihan dan Warna
Setiap larutan obat
suntik harus jernih dan bebas dari kotoran sehingga diperlukan uji kejernihan
secara visual.
Prosedur : wadah-wadah kemasan akhir diperiksa satu
persatu dengan menyinari wadah dari samping. Dengan latar belakang sehelai
papan yang separuhnya di cat berwarna hitam dan separuhnya lagi di cat berwarna
putih. Latar belakang berwarna hitam dipakai untuk menyelidiki kotoran yang
berwarna muda, sedangkan yang berlatar putih untuk kotoran-kotoran berwarna
gelap. Jika tidak ditemukan kotoran dalam larutan maka larutan tersebut sudah
memenuhi syarat.
6.
Kejernihan Larutan
Bertujuan untuk sediaan infuse atau injeksi yang berupa
larutan harus jernih dan bebas dari kotoran, maka perlu dilakukan uji
kejernihan secara visual.
Cara pengerjaan : Penetapan menggunakan tabung reaksi alas
datar berdiameter 15 mm hingga 25 mm, tidak berwarna, transparan, dan terbuat
dari kaca netral. Masukkan kedalam dua tabung reaksi masing-masing larutan zat
uji dan suspense padanan yang sesuai secukupnya. Setelah itu, bandingkan kedua
isi tabung setelah 5 menit pembutan suspense padanan, dengan dengan latar
belakang hitam. Pengamatan dilakukan dibawah cahaya yang terdifusi, tegal lurus
kearah bawah tabung.
7. Uji Keseragaman Sediaan
Ada 2 metode, yaitu keseragaman
bobot dan keseragaman kandungan.
a. Keseragaman
bobot. Sediaan
pada steril untuk parenteral : timbang secara seksama 10 vial satu persatu,
beri identitas tiap vial. Keluarkan isi dengan cara yang sesuai. Timbang
seksama tiap vial kosong, dan hitung bobot netto dari tiap isi vial dengan cara
mengurangkan bobot vial dari masing-masing bobot sediaan (bobot vial yang ada
isinya).
b. Keseragaman
kandungan. Sediaan
pada steril dalam dosis tunggal : Tetapkan kadar 10 vial satu persatu, seperti
pada penetapan kadar dalam masing-masing monografi kecuali dinyatakan lain
dalam uji keseragaman kandungan.
Evaluasi
Biologi
1.
Uji
Efektivitas Pengawet Antimikroba
Bertujuan untuk menunjukkan efektifitas pengawet
antimikroba yang ditambahkan pada sediaan dosis ganda yang dibuat dengan dasar
atau bahan pembawa air seperti produk-produk parenteral, telinga, hidung, dan
mata yang dicantumkan pada etiket produk
yang bersangkutan.
Cara pengerjaan : Jika
wadah sediaan dapat ditembus secara aseptic menggunakan jarum suntik melalui sumbat karet. Lakukan
pengujian pada 5 wadah asli sediaan.
Jika wadah sediaan tidak dapat ditembus secara
aseptic, pindahkan 20 ml sampel ke dalam masing-masing 5 tabung
bakteriologik tertutup berukuran sesuai dan steril.
2.
Uji
Kandungan Zat Antimikroba
Bertujuan
untuk menunjukkan bahwa zat yang tertera memang ada tetapi tidak lebih
dari 20% dari jumlah yang tertera pada etiket. Cara
pengerjaan :
Benzyl
alcohol. Larutan baku internal larutkan
lebih kurang 380mg fenol p dalam 10 ml etnol p dalam labu ukur 200ml tambahkan
air, sampai tanda.
Larutan
baku. Timbang seksamalebih kurang 180mg
benzyl alcohol p. larutkan dalam 20 ml etanolP dalam labu ukur 100ml. tambahkan
larutan baku internal sampai tanda.
Prosedur
: suntikan secara terpisah sejumlah volum sama (lebih
kurang 5 mikroliter), larutan baku dan larutan uji, gunakan farameter
oprasional pramatograf gas seperti yang tertera pada table. Ukur
luas puncak benzyl alcohol dan fenol larutan baku,tandai masing-masing dengan
p1 dan p2, dan luas puncak p1 dan p2 dari larutan uji.
3.
Uji
Sterilitas
Bertujuan untuk
menetapkan apakah bahan farmakope yang harus steril memenuhi persyaratan
yang berhubungan dengan uji sterilisasi yang tertera pada masing-masing
monografi. Cara pengerjaan
:
Uji
fertilitas. Tetapkan
sterilitas setiap lot media dengan mengikubasi sejumlah wadah yang mewakili,
pada suhu dan selama waktu yang tertera pada uji.
Uji
sterilitas. Prosedur
pengujian terdiri dari inokulasi langsung ke dalam media uji dan teknik
penyaringan membran.
4. Uji Pirogen
Bertujuan
untuk membatasi resiko reaksi demam pada tingkat yang dapat diterima
oleh pasien pada pemberian sediaan injeksi.
Cara pengerjaan: Lakukan
pengujian dalam ruang terpisah yang khusus untuk uji pirogan dan kondisi
lingkungan yang sama dengan ruang pemeliharaan, bebas dari keributan yang
menyebabkan kegelisahan.
Kelinci tidak diberi makan selama waktu pengujian,
apabila pengujian menggunakan termistor, masukkan kelinci kedalam kotak
penyekap, sehingga kelinci tertahan dengan letak leher yang longgar. Tidak
lebih dari 30 menit sebelum penyuntikan larutan uji, tentukan “suhu awal”
masing-masing kelinci yang merupakan dasar untuk menentukan kenaikan suhu. Suhu
tiap kelinci tidak boleh lebih dari 1°c dan suhu setiap kelinci tidak boleh
> 39,8°.
5. Penetapan Potensi Antimikroba (untuk
zat aktif antibiotik)
Bertujuan untuk mengetahui aktivitas (potensi) antibiotic
Metode : Lempeng silinder atau tabung.
Prinsip : Metode lempeng silinder berdasarkan
difusi antibiotik dari silinder yang dipasang tegak lurus pada lapisan agar
padat dalam cawan petri.sehingga mikroba yang di tamabahkan di hambat
pertumbuhannya pada daerah berupa lingkaran atau zona di sekeliling silinder
yang berisi larutan antibiotik.
6.
Uji
Endokrin Bakteri
Bertujuan untuk memperkirakan kadar endotoksin bakteri
yang mungkin ada di dalam atau pada bahan uji.
Prinsip : pengujian
dilakukan menggunakan limulus amebocyte lysate (LAL). Deteksi dilakukan dengan
metode turbidimetri atau kolorimetri, penetapan titik akhir reaksi dilakukan
dengan membandingkan langsung enceran dari zat uji dengan enceran endotosin
baku, dan jumlah endotoksin dinyatakan dalam unit endotoksin (UE).
Sebelum melakukan
pengujian dilakukan persiapan: Uji
konfirmasi kepekaan reaksi LAL.
Uji pengambatan atau pemacuan. Pengenceran
maksimum yang absah (PMA).
(Akfar PIM/2010)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar