Senin, 31 Maret 2014

Satu Hati Tiga Cinta (Sebuah Cerpen)

 
Cinta.. Apa itu cinta..?
Siapa? Bagaimana? Darimana? Seperti apa?
Cinta oh cinta. Mengapa oh mengapa?
Keberadaanmu selalu penuh dengan tanda tanya...?

Hati-hati dengan hati..
Salah-salah jatuh hati bisa sakit hati!!
Hati-hati dengan cinta..
Salah-salah bermain cinta bisa sakit jiwa!!

Bahagianya hati karena cinta.
Hampanya jiwa bila tak ada cinta..

Cinta.. Suci hakekatnya.
Hakiki sifatnya. Sejati rupa wujudnya...
Ikhlas tulus mencintai.
 Itulah arti cinta hakiki yang benar-benar sejati..

Cinta ibarat derita.
Andai kesucian cinta bernoda nafsu..
Cinta hakiki pada sang kekasih hati yang benar-benar sejati...
Selamanya tak akan pernah bisa terwujud.
Tanpa adanya jiwa yang suci...

Sikapilah cinta dengan cara yang mudah..
Syukuri kedatangannya dan ikhlaskan kepergiannya..
Sandarkan hati hanya kepada Allah semata..
Sebab Dialah cinta sejati yang benar-benar hakiki..
~ ### ~

Menitih senja beserta nikmatnya dzikrullah. Shalawat serta salam iringi lantunan ayat-ayat Allah yang terangkum dalam nikmatnya tafakkur. Di balik rintihan jiwa yang menyepi, tersimpan berjuta kalimat cinta. Buah penghambaan yang tulus pada yang Maha Mencinta. Andai dapat sempurna ia pahami. Tentang arti keindahan cinta yang sejati. Musnah sudah segala benci di hati, yang ada dan tersisa kini tinggalan kedamaian yang abadi.

Kuat bayang-bayang cinta redup terang di hatinya. Faris, pria lajang paruh baya. Sibuk memilah-milah tumpukan barang dalam sebuah kamar kosong di rumahnya. Sepi, telah ditinggal pergi pemiliknya. Faris, seketika trenyuh hatinya, mendadak pias wajahnya. Foto gadis cantik berjilbab ungu yang tepampang di atas meja belajar sudut kamar. Foto si pemilik kamar. Tersenyum manis dengan bibir merah yang merekah. Seperti melirik ke arah matanya. Faris membalas senyuman itu. “Kamu apa kabar Raina?”

Sabtu malam itu deras hujang mengguyur kota Jakarta. Udara dingin menyusup di sela-selanya. Beringsut di bawah selimut, bisa jadi satu alternatif ternikmat untuk mencari kehangatan. Tapi Faris, ia tidak ingin melakukannya. Faris masih ingin berlama-lama di dalam kamar itu. Memilah – milah barang milik Raina. Membungkusnya dalam karton. Menyimpannya sementara dalam gudang. Semua beres. Tiba-tiba ia kembali terbayang pada sosok Raina. Sambil melepas lelah. Rebahan, lalu duduk santai di tepian ranjang tidur. Tanpa bantal dan tanpa selimut. Lepas pandangannya. Lagi, ia melirik foto di meja belajar sudut kamar itu. Rasanya, seperti melihat Raina tengah jatuh tertidur di atas meja belajarnya karena kelelahan mengerjakan tugas.

Pelan Faris berjalan menghampiri meja belajar sudut kamar. Hanya sedikit tumpukan barang yang ada di meja itu dan belum ia bereskan. Semua tumpukan itu akan ia bereskan, tapi tidak untuk foto pemiliknya. Biarkan foto itu tetap terpampang pada tempatnya. Asyik mengais-ngais tumpukan buku. Tiba-tiba mata Faris tertuju pada satu buku yang tersimpan di laci dalam. Sungguh ia tak menyangka dengan temuannya malam ini. Diary, itu adalah buku diary milik Raina. Faris lalu membacanya. Sepertinya malam ini ia akan bermalam di kamar Raina. Tak peduli seberapa deras hujan mengguyur. Tak peduli sebarapa dingin udara menembus kulit. Malam ini, Faris hanya ingin tidur bersama cerita Raina yang tertulis dalam buku diary-nya. Tidak begitu tebal catatannya. Coretannya pun tak sampai penuh terisi. Raina, hanya sempat menggoreskan tinta hatinya di tujuh lembar halaman dalam buku diary-nya.
~ ### ~

Raina. Tak banyak orang yang tahu. Kesendirian hidupnya laksana magis. Seperti angin. Seketika, berada di hiruk pikuknya keramaian. Sekejap, menghilang bagai ditelan masuk ke dasar perut bumi. Sendiri, menyendiri di kesunyian hidup yang tak kunjung bisa ia pahami. Hingga, suatu ketika. Tiba-tiba semuanya berubah, saat ia bermetaformosis bak seorang penyelamat bagi tiga orang lelaki yang mencintai kepribadiannya. Cacat pita suaranya. Tak memudarkan kecantikan hatinya. Auranya memancar terang dari kepolosan akhlaknya yang terpupuk dengan cahaya iman dalam dadanya. Hati yang selalu mengucap dzikir padaNya. Allah Azza Wazzalla.

Lembar pertama.
Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan pada malam.
Tapi semua hanya bisa aku pendam.
Wahai temaram.
Sanksikanlah kerinduan yang makin tenggelam.
Dalam tak sempurnanya rajutan bohlam.
Seperti membenam bara dalam sekam.
Seperti itulah rindu yang tak pernah padam.
Antara aku dan dirimu.
Siapa sebenarnya yang sudah membisukan waktu dan membekukan rindu?
Aku atau dirimu?
(Raina)

Pekan Sastra akhir tahun. Hilir mudik ribuan mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai kampus dengan berbagai fakultas. Hadir dalam acara tahunan itu. Acara tahunan yang diselenggarakan oleh himpunan Mahasiswa Sastra di salah satu kampus tekemuka di Jakarta. Ragam pameran koleksi sastra ada di situ. Dari sekedar lembaran puisi, kumpulan cerpen, berbagai jenis karya novel sampai koleksi buku karya sastrawan – sastrawan besar dunia. Semua juga ada di situ. Selain menyelenggarakan pameran sastra, panitia juga mengadakan berbagai macam jenis lomba. Mulai lomba pentas seni drama, tari, musik, membaca dan menulis puisi, sampai menulis cerpen bahkan novel juga ada. Hadiahnya cukup menggiurkan. Tak mengherankan. Sebab, kali ini panitia berhasil menggaet banyak sponsor berkelas. Acara berjalan lancar. Sukses besar, Bayu sebagai ketua panitia senang hatinya bukan main.

Sebenarnya Bayu tak sendiri, selain seluruh anggota panitia yang bekerja sebagai team. Bayu juga ditemani oleh seorang wanita cantik sebagai sekretarisnya. Gadis itu yang banyak membantu Bayu dalam merencanakan segala hal, menuntaskan berbagai jenis masalah yang timbul, bahkan sampai ikut menalangi beberapa masalah yang sebanarnya berada di luar jangkauan kemampuannya.

“Raina, nanti kita ada acara pembubaran panitia. Jam 3 sore di Aula, jangan telat yaahhh!” Ujarnya pelan. Bayu mengingatkan Reina perihal jadwal meeting seusai kuliah pagi.

Sambil tersenyum, Reina menggaukkan kepalanya. Pertanda iya.

Bayu adalah pria yang tampan. Bertubuh atletis, dingin, dan juga kalem. Hampir setiap wanita pasti suka padanya. Tapi Bayu, ia hanya melirik pada satu titik. Diam di situ, dan terus menunggu. Diam-diam sebenarnya Bayu juga menaruh hati pada Raina. Namun, sikap dingin Raina padanya membuat Bayu sering bertanya – tanya dalam hatinya. “Adakah sedikit cinta dalam hatimu untukku Raina?”

Terkadang, Bayu juga merasa tak pantas untuk Raina. Menurutnya Raina terlalu baik untuk lelaki macam dirinya. Benar, dikampus memang Bayu dikenal sebagi lelaki yang baik, ramah, sopan, santun, dan suka membantu siapapun yang memerlukan bantuannya. Tapi, dibalik itu semua sebenarnya Bayu punya masalah besar dalam pribadinya. Ketercanduannya pada alkohol sudah mendarah daging dalam nadinya. Kepalanya seperti mau pecah, pusing rasanya bukan kepalang, badannya seperti disetrum listrik ribuan volt. Sakhau. Bukan hanya narkotik dan psikotropik yang bisa menyebabkan candu. Alkohol pun juga bisa menjadi candu yang mengerikan dan mematikan. Sebab itu, diam – diam dalam tasnya Bayu selalu membawa botol kecil. Diamanapun berada minuman beralkohol tak boleh jauh darinya. Jaga-jaga jangan sampai ia sakhau.

Lembar kedua.
Terpancar di matamu.
Terlukis di wajahmu. Terbias dalam senyummu.
Ketulusan hatimu. Kelembutan jiwamu. Keramahan sikapmu.
Tercermin dalam paras tampan mu.
Aura cintamu, Menusuk hatiku. Luluhkan jiwaku. Merubah sikapku.
Walau cinta ini, tak seputih cinta yang suci.
Tak semurni cinta yang sejati. Tak seabadi cinta yang hakiki.
Namun kan seindah cinta yang lebih dari sekedar sempurna.
(Raina)

Diam-diam juga sebenarnya Raina suka curi -curi pandang meski tanpa sepengetahuan Bayu. Raina, sungguh hanya bisa memujanya dalam diam, mengaguminya dalam sepi, dan mencintainya dalam sunyi. Cinta memang sulit diterka, sukar diraba, dan tak bisa hanya sekedar dirasa. Kepura-puraan dan logika yang kadang suka menarik ulur kembang kempisnya rasa dalam dada. Sulit untuk mengatakanya, apalagi sampai berucap jujur. Tantang cinta yang sebenarnya tulus dan suci. Murni dan sama sekali tidak membutuhkan suatu alasan apapun. Mereka hanya bisa saling mencintai dalam diam, saling mengagumi dalam lamunan, saling menyayangi dan mengasihi dalam satu khayalan yang membingungkan. Akankah cinta bisa tersatukan dalam kenyataan dan tanpa adanya satupun hambatan.

Lembar ketiga.
Aku mencintai caramu mencintaiku.
Cintamu terselip dalam sikap yang tak aku sadari.
Bodohnya aku yang tak pernah peka terhadapnya.
Cintamu masih misteri. Cintanya besar dan pasti.
Cintaku terdiam dan terpatri. Cinta yang rumit.
Di sisi lain aku ingin bahagia. Di sisi lain tak ingin aku ada yang terluka.
Tentang rasa cintaku padamu. Biarlah hanya aku dan kamu yang tahu.
Andai Tuhan tahu. Semoga Allah memberikan yang terbaik.
Untukmu, untukku, dan untuknya.
Andai Tuhan tak tahu, jelas sekali itu mustahil.
(Raina)

Satu lagi alasan mengapa cinta Raina dan Bayu masih mengapung hingga kini, ialah Radit. Sahabat dekat Bayu, anggota geng motor, juga seorang playboy. Sudah lama juga ia mengincar cinta Raina. Tapi tak pernah berhasil, sebab cinta Raina hanya tertuju pada Bayu. Sedangkan Bayu, selain masih merasa diri tak pantas untuk Raina, ia juga merasa tak enak hati pada sahabat dekatnya itu. Hati bayu bahkan sering menjerit kesal saat Radit bercerita banyak tentang Raina padanya. “Bay... Gue emang playboy. Tapi cinta gue untuk Raina. Gue berani jamin kalau itu seratus persen murni. Gue mau tobat jadi playboy kalau gue bisa ngedapetin hatinya. Loe bantuin gue yaah!”

“Aminnn.. Moga bukan hanya sekedar isapan jempol aja”

“Beneran, ini gue enggak main – main bray. Raina emang cacat, ia bisu. Tapi dia baik, cantik, lucu, imut, shalehah lagi. Kali aja ntar kalau aku deket sama dia gue bisa tobat”

“Yaaa.. Amiinn.. Moga ini bukan hanya sekedar isapan jempol lagi!” Bayu menyambut baik niat Radit untuk berubah. Tapi emosi di hatinya makin meledak saat Radit terus membicarakan Raina.

“Eh Bay, elo kan temen sekelasnya. Loe juga kan temen gue dari SMP. Masa’ loe gak mau bantuin gue sih?”

“Iyaaa.. Iyaa.. Entar gue bantuin! Udah gue ke kelas dulu!”

“Yesss, thanks brooo! Udah masuk sana, ini punya loe biar gue yang bayar” Bayu lalu bergegas meninggalkan kantin menuju kelas. Wajahnya tampak kesal, tapi Radit hanya mengira kalau kesal di wajahnya bukan karena ia telah membicarakan Raina di hadapannya.

Masalah yang sama juga mendera Raina. Satu alasan mengapa Raina selalu menjaga jarak kepada Bayu. Raina merasa kalau dirinya juga tak pantas untuk Bayu. Banyak orang yang mencemooh saat terdengar gosip kalau dirinya tengah dekat dengan Bayu. Tapi, gosip itu cepat ia klarifikasi sehingga tak cepat menyebar sampai seantero kampus. Sungguh, hati Raina seperti remuk tertindih jutaan ton material vulkanik saat tanpa sengaja ia mendengar percakapan beberapa gadis yang tengah membicarakannya.”Eh, tau enggak? Si bisu Raina itu enggak tau diri banget deh. Bayu kan genteng, cerdas, tajir, pokoknya perfeck lah. Mana cocok sama Raina. Bagus juga sama Nadine. Nadine itu kan cantik, baik, pinter, juga dari kalangan beranda”

“Eh, tapi Raina bilang dia kan enggak ada apa – apa sama Bayu!” Timpal salah satu teman gosipnya yang lain.

“Yah bagus donk. Berarti si bisu Raina emang tahu diri!”

Selain merasa diri tak pantas. Raina juga merasa tak enak hati dengan Nadine. Meski tak begitu akrab dengan Nadine, tapi Raina pernah mengenal dan dekat dengannya saat Nadine berada satu team dengan Raina, tepatnya saat Nadine menjadi bendahara di panitia acara pekan sastra beberapa minggu lalu. Nadine memang gadis yang baik juga ramah. Bayu juga sebenarnya suka pada Nadine, tapi cintanya pada Raina jauh lebih besar lagi dari sedikit rasa yang ai punya untuk Nadine.

Lembar Keempat
Aku pikir engkau sabar menunggu, ternyata aku salah. Aku pikir engkau sabar menantiku, ternyata itu hanya prasangka yang gegabah. Gemuruh guntur berkepanjangan. Hujan angin datang tanpa henti. Lebatnya badai terus bernyanyi. Aku di sini masih betah sendiri meratap dalam sepi. Cinta telah pergi. Baru sekali ini kurasakan sakit yang separah ini. Hancur hatiku bagai tersayat sembilu. Darah mengalir deras dalam luka gores sayatan penantian yang sia – sia. Tahukah apa yang paling menyakitkan dari hidupku dahulu. Adalah menangis tanpa iringan air mata. Dan kini lebih menyakitkan lagi, aku harus menangis dalam senyumanku sendiri. 

Tegak kokohnya pendirian kini seakan rapuh. Hidup yang dulu berwarna kini menjadi kelabu. Mungkin inilah yang disebut dengan istilah kehilangan. Lebih sakit dari yang kubayangkan. Lebih menyiksa dari yang kuperkirakan. Aku harus kuat menghadapinnya. 

Aku pikir aku akan ikhlas begitu saja saat sisa – sisa harapan tak akan pernah lagi ada. Aku pikir aku akan bahagia melihat kebahagiaanmu sedang aku tahu itu tidak denganku. Sabar, sabar, dan sabar. Ikhlas, ikhlas, dan ikhlas. Mungkin hanya itu yang bisa kulakukan. Tapi sampai kapan? Aku harus melakukan tindakan agar aku tak hancur berkepanjangan. 

Wahai Allah. Semalam, mengapa kau hadirkan lagi dia dalam mimpiku. Sengajakah Kau mengingatkan aku akan dirinya. Ah, menyakitkan sekali. Jika harus Kau hadirkan dia dalam mimpiku. Mengapa juga harus Kau hadirkan dia yang bersamanya hadir menemaninya dalam mimpiku yang seburuk itu. Aku tahu, rahasiaMu memang selalu indah. Dimana di akhir mimpi, kau pertemukan lagi aku pada cinta yang dulu pernah ada dan tercipta hanya untuk diriku. Mungkinkah ini isyarat dariMu ya Tuhanku. Agar aku lekas berlalu. Pergi meninggalkan cinta yang bertalu – talu. Menguburnya dalam timbunan luka cinta dari kelamnya kisah di masa lalu. (Raina)

Dunia malam, Bayu, Radit, dan beberapa teman sedang berkumpul-kumpul  di malam minggu. Radit menagih janji Bayu padanya. “Bay, gimana Raina? Lo udah janji mau bantuin gue kan?”

“Loe kan playboy, pasti jago lah nakhlukin hati cewek. Napa mesti minta bantuan gue?”

“Yaaa elaahhh. Gue kan udah bilang, Reina itu beda. Gue mau serius kali ini broo. Janji, Raina gak bakal gue mainin dah hatinya! Pisss bantuin gue yaaa. Loe kan temen gue yang paling baik Bay?”

“Apa yang bisa gue bantuu..?”

“Gini Bay, minggu depan kan acara ulang tahunnya Nadine, kesempatan emas buat loe. Nah disaat Loe deketin Nadine, di saat itulah gue nyamperin Reina. Gue ada sureprise buat dia”

“Itu ajaa..?”

“Yesss.. Gampang kan...!!”

Bayu menenggak botolnya mentah -mentah. Hatinya selalu panas saat Radit membicarakan Raina di hadapannya. Tapi Bayu hanya bisa memendam rasa cemburunya.

Malam acara di hari ulang tahun Nadine. Di luar dugaan Bayu. Malam itu malah Nadien yang lebih dulu memberikan surpries kepada Bayu. Nadine mengutarakan isi hatinya pada Bayu. Nadine begitu berani, ia begitu yakin, sebab ia mendapat banyak dukungan, Nadine pun juga merasakan ada sedikit sinyal cinta di mata Bayu. Lagi, perasaan Bayu kembali tertekan. Menolak tidak mungkin, ia tak ingin ada kekecewaan di hati Nadine. Apalagi malam ini adalah malam spesial untuknya. Balasan cinta Bayu, bisa jadi adalah kado terindah di hari ulang tahunnya yang ke dua puluh satu itu. Tapi, jika Bayu menerima Nadine, bisa jadi ia akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan cinta Raina. Apalagi malam ini Radit juga sudah menyiapkan recana dan strategi untuk mengutarakan isi hatinya pada Raina. Bayu benar-benar frustasi.

Riuh tepuk tangan saut bersautan, saling bersambut satu sama lain. Saat Bayu akhirnya mengangguk dan mengatakan “Iya”. Malam itu Bayu resmi telah menjadi kekasih Nadine. Tak kalah seru, setelah cinta Nadine dan Bayu berpadu, kini giliran Radit yang melancarkan aksinya. Rayuan super romantis, aksi yang dramatis, sebuah konsep yang dirancang dengan memadukan antara lagu cinta klasik dan beberapa penyanyi bayaran, bunga – bunga bertaburan, petasan bergemeletuk, kembang api menyala – nyala, dan balon – balon udara beterbangan. Radit mengutarakan cintanya pada Raina. Beda dengan Bayu, Raina meminta waktu untuk keputusan hatinya.

Bagaimana tidak. Hati Raina yang sedang remuk rendam. Kekecewaan di raut wajahnya terlihat begitu mendalam. Raina tak mengira kalau akhirnya Bayu menerima cinta Nadine. Radit akhirnya bisa menerima keputusan Raina, memberinya waktu untuk memikirkan jawabannya. Tak lama kemudian Raina sudah menghilang dari acara ulang tahun Nadine di malam itu. Raina hanya ingin cepat pulang, meluapkan emosi dan amarah yang menggumpal di hatinya, mengurung diri di kamar, menangis sejadinya sampai air mata kering, menangis sampai bola mata dan kelopaknya letih, menangis dan terus menangis sampai tak sadar dirinya telah pulas tertidur.

Lembar kelima.
Pukul 02.20 aku bersamaNya bicara empat mata. Pilih mana? Kedua mata berkaca - kaca dan menangis tapi hati tertawa sambil terbahak atau bibir tersenyum lebar padahal hati sedang kalut dan larut dalam kesedihan?Aku tak pilih keduanya. Aku mau saat bahagia bibirku akan tersenyum lebar dan hatiku bisa tertawa lepas. Jikalau harus menangis. Aku mau mataku bebas meneteskan air mata saat hati sedang kalut dan larut dalam kesedihan.

Di ujung sajadah malamku aku merengkuh kedinginan. Sebilah tasbih kehangatan jadi sajian ternikmat kala hati sedang dirundung kegelisahan. Kegelisahan hati yang telah mengusik ketenangan jiwa dan bathinku. Kuresapi dalam-dalam rasa sakit hatiku hingga perih di kedua bola mataku. Dada serasa semakin sesak saat air mata tertahan dalam isak yang tak kunjung tangis. Aku menggerutu dalam hati. “Tuhan, tak kau gubriskah hambamu yang butuh pelampiasan ini?

Tangisku pun pecah seketika. Rupanya Tuhan mendengar rintihanku. Tuhan mengabulkan permintaanku. Tuhan mengijinkan aku bebas meneteskan linangan demi linangan air mata. Bahkan hingga kering air mataku pun sepertinya Tuhan memperbolehkan. Bukan, bukan. Aku tak menangisi apa yang telah terjadi, ataupun menyesali apa yang telah pergi. Aku menangis karena aku memang ingin menangis. Aku akan menangis hingga aku tertidur kemudian aku terbangun dengan semangat baru yang kembali meletup-letup.

Tuhan, peluk aku dalam lindunganMu. Jauhkanlah aku dari cahaya cinta yang sia-sia. Belailah aku dengan pancaran-pancaran nur Mu yang agung nan suci. Jaga aku selalu di jalanMu agar aku selalu bersyukur atas nikmat yang telah Engkau berikan padaku. Kembalikan aku seperti aku yang dulu. Mengejar cinta Allah sebagai yang terutama. Berharap Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang akan kembali menitipkan sinar cintanya pada makhluk terindah ciptaanNya. Menghapus semua duka lara hatiku yang kini semakin hari semakin meradang.”Yaa Allah..”. (Raina)

Pagi menjelang. Walau mendung di hatinya belum seutuhnya berlalu, Raina mencoba membuka hari dengan lembar baru. Mencoba mengesampingkan dan melupakan bayang – bayang Bayu yang masih lekat dalam benaknya. Cinta datang dan cinta pergi, Raina memutuskan untuk tetap sendiri. Istiqomah dalam naungan cintaNya yang pasti akan berbuah dengan manis. Begitu sesampainya di kampus Raina langsung menuju kelas Radit. “Eh Raina! Hmmm... Mimpi apa aku semalam. Pagi – pagi udah disamperin bidadari”

“Radit, aku mau bicara sama kamu!” Raina menunjukkan sebuah pesan yang ia tuliskan di selembar kertas.

“Oke, di sini terlalu ramai. Kita biacara di luar” Radit dan Raina akhirnya menuju taman kampus. Berteduh di bawah rindangnya pohon pinus di pinggiran tamannya.

“Setelah aku pikir-pikir. Sepertinya aku tidak bisa memenuhi permintaan kamu. Aku enggak bisa nerima dan membalas cinta dari kamu. Maafin aku ya Diit. Aku bener-bener minta maaf” Lagi Raina menunjukkan tulisan dalam selembar kertasnya pada Radit.

“Okee.. Okee.. Bisa kamu jelaskan kenapa?”

“Aku pikir kamu cukup tahu jawaban dari pertanyaan kamu itu” Setelah menunjukkan tulisan di kertasnya untuk Radit, Raina langsung bergegas pergi. Dengan sedikit rasa bersalah dalam hatinya, Raina mencoba menguatkan langkahnya. Tanpa sedikitpun bermaksud untuk mengecewakan hati Radit, Raina hanya berusaha mengutarakan kejujuran hatinya. Menyakitkan, tapi itu lebih baik daripada memilih menjalaninya dengan kebohongan, penuh kepalsuan, sekedar pelampiasan, atau hanya untuk mencari pelarian. Sementara Radit, tubuhnya langsung lunglai seketika.

Pengalaman pertama bagi Radit. Sepanjang karier profesionalnya sebagai seorang playboy jempolan. Baru kali ini ada wanita yang berani menolak cintanya, dan itu adalah Raina. Gadis bisu yang mungkin semua orang hanya bisa melihat dari segi kecacatan fisiknya. Radit benar-benar kacau. Hancur hatinya berkeping – keping. Sungguh, pertama dalam hidupnya ia merasakan sakitnya patah hati dan kecewa. Radit tak dapat berbuat banyak selain hanya diam. Tidak mungkin ia melakukan hal bodoh. Cinta di hatinya tak akan pernah mengijinkannya. Radit tak akan pernah tega melakukannya. Radit mencoba menerima keputusan Raina, meski sepenuhnya harapan tidak seutuhnya pudar. Radit hanya ingin menginstropeksi diri. Mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang pernah ia ajukan pada Raina. “Mengapa sampai hati Raina menolak cintanya?”

Lembar Keenam.
Demi cinta Allah yang aku kejar.
Berikan hamba kecerdasan lahir dan kepandaian bathin.
Untuk senantiasa berfikir tentang kuasaMu.
Hulurkan pertolonganMu, disaat-saat aku ragu dan bimbang.
Sinarkan nur hidayahMu, untuk aku terus di jalanMu.
(Raina)

Raina kembali menata hatinya yang sempat porak-poranda. Menautkan cinta Allah sebagai yang terutama dalam hidupnya. Mempriorotaskannya sebagai yang nomor satu dan yang terdahulu. Bahwa cinta yang sempat hadir manyapa hidupnya adalah sedikit buah cinta dariNya yang Maha Indah. Saat melihat Bayu bersama Nadine, bukan lagi cemburu yang ia rasakan, melainkan bahagia. Bukankah sejatinya cinta adalah melihat orang yang dicintainya hidup bahagia meski itu tidak dengannya. Cinta kadang memang tak harus memiliki. Sementara Radit, semenjak gagal mendapatkan cinta Raina, ia lebih suka menyendiri. Jika sebelumnya ia begitu alergi bila tak punya kekasih, kali ini ia malah ingin berlama – lama dalam kesednririan. Ia sadar, ternyata cinta yang suci, murni, dan sejati itu memang tidak mudah untuk mendapatkannya.

Lembar Ketujuh.
Ceritaku sederhana. Datanglah dengan cinta dan rawatlah dengan setia. Aku akan senantiasa menjaganya. Menjaga kesetiaan cinta yang kita punya. Namun apa hendak dikata jika semua tak sesuai harapan yang ada. Aku dan dirimu hanya bisa saling cinta meski hanya sebatas maya, fatamorgana, dan tak pernah menjadi nyata.

Ketahuilah bahwa sebenarnya akupun masih sangat mengharapkanmu walau hanya sebatas angan semu. Cukuplah dalam sepinya waktu yang membisu aku mencintamu. Walau sebenarnya aku tahu bahwa kasih dan sayangmu kini bukanlah untukku. Sejauh ini hanya itu yang kutahu atas isyarat cinta darimu. Ya, hanya sebatas menerka. Isi hati orang siapa yang tahu.

Cinta itu peduli, masihkah aku mempedulikanmu semenjak kepergianmu? Aku tak bisa bilang aku seorang yang sangat peduli karena mungkin kau pergi karena merasa bahwa kau tak pernah aku pedulikan. Kau salah, jika memang anggapanmu seperti itu.

Selagi aku masih di sini, datanglah kembali jika kau akhirnya kecewa dengan cinta yang kini kau bina dengannya. Namun, jika ternyata aku sudah tak lagi di sini untuk menanti. Jangan pernah sesali atas apa yang telah terjadi, karena itulah suratan dari Sang Illahi yang harus kita jalani. Biarlah cinta itu tetap utuh dalam bingkaian kenangan yang selamanya tetap akan abadi. Aku pergi. Mungkin lama dan tak akan pernah kembali. (Raina)

Catatan terakhir Raina. Sebelum akhirnya ajal menjemputnya, sebelum akhirnya kecelakaan tunggal merenggut nyawanya. Tragis, benar-benar tragis. Semua sahabat baiknya, kerabatnya dekatnya, keluarganya, sanak saudaranya, orang-orang yang mengenalnya, bahkan nyaris tak percaya kalau sampai musibah itu menimpa gadis sebaik Raina. Apa salahnya? Mengapa orang baik selalu cepat perginya? Terlepas dari semua benih cinta yang pernah Raina tanam pada setiap hati manusia yang pernah dikenalnya. Pertemuan denganNya sebenarnya adalah akhir dari perjuangan cinta yang sebenar-benarnya cinta Maha Mulia. Hakiki, suci, murni, dan tak mungkin bisa lagi ternodai. Sebab cintaNya adalah bentuk dari kefanaan diri yang abadi. Nur Illahi yang asalnya dariNya akan kembali menyatu padaNya.
~ ### ~

Sehari sebelum tragedi. Hari itu suasana hati Raina sungguh riang sekali. Tak ada tanda-tanda kalau ia akan pergi dan tak akan pernah kembali lagi. Faris, Bi Salamah, Mang Jejen, kedua orang tua Faris, Tuan JK dan Nyonya JK akan mengadakan liburan ke puncak di akhir pekan awal bulan. Sebenarnya ini hanyalah kegiatan rutin bulanan. Tapi entahlah, kali ini rasanya spesial sekali untuk Raina.

Raina, sebenarnya adalah kerabat jauh dari Bi Salamah, ia di Jakarta tinggal di rumah Tuan JK atas permintaan Bi Salamah. Raina adalah gadis desa yang telah memenangkan beasiswa untuk kuliah di universitas terkemuka di Jakarta. Sebenarnya beasiswa itu hanya sebatas paket uang semester. Tempat tinggal dan biaya hidup adalah tanggung jawab dari mahasiswa itu sendiri, karena itu Bi Salamah memintanya untuk tinggal bersamanya. Selain bisa mendapat tempat tinggal gratis Raina juga bisa membantu mengerjakan beberapa pekerjaan Bi Salamah saat senggang. Tuan JK dan Nyonya JK sama sekali tidak keberatan. Malah keluarga kaya yang dermawan itu akhirnya meminta Raina untuk mengelola beberapa butik yang dikembangkan oleh Nyonya JK. Dengan senang hati Raina menerimanya. Raina mengerjakan tugasnya dengan baik serta dengan ketulusan pengabdian yang ikhlas.

Sejak pertama kali Faris berjumpa Raina, ia sudah jatuh hati pada kepolosan hatinya. Tapi, ia hanya bisa memendamnya. Tak jarang Faris memberikan sinyal-sinyal cintanya melalui perhatian – perhatian kecil, kejutan-kejutan, atau hanya sekedar rayuan-rayuan ringan, tapi Raina selalu menanggapinya dengan dingin. Lagipula tidak mungkin Raina berani mencoreng wajah Tuan JK dengan berani mencintai anak simata wayangnya. Siapa Raina, sedang mereka adalah keluarga terpandang. Cinta memang tak mengenal kasta. Tapi keluarga Faris sudah terlalu baik untuk Raina.

Tuan JK dan Nyonya JK bahkan sudah menganggap Raina sebagai putrinya sendiri. Sebab itu perhatian lebih yang diberikan Faris pada Raina, ia lebih mengaggapnya sebagai bentuk kasih sayang abangnya Faris pada seorang adik perempuannya Raina.

Faris sebenarnya adalah anak yang pintar dan berbakat, punya tubuh yang tegap, wajah maskulin. Muda, pekerja keras, sukses, dan rendah hati, percis seperti ayahnya. Akan tetapi, meski yang tertera dalam Kartu Tanda Penduduknya adalah Islam, tapi Faris sebenarnya adalah seorang atheis yang masih meragukan adanya keberadaan Tuhan. Faris lebih mendewakan kecerdasan otaknya dibanding iman yang menyala dalam hatinya. Hidupnya seperti orang linglung, kadang sampai stress sendiri bila sedang memikirkan hal – hal tak masuk akal dan memang tak akan pernah bisa dijangkau oleh nalar.

Tak jarang Faris menanyai Raina tentang banyak hal soal agama. Ayah ibunya memang islam, tapi mereka juga buta kepada agama, karena itu sejak kecil anaknya sudah kehilangan pegangan dalam menjalankan berbagai tuntunan agamanya. Sampai akhirnya Faris tumbuh dewasa dan tak pernah mempercayai Tuhannya. Sebab semakin dipikir, semakin tak masuk di akal. Religiusitas baginya hanyalah sebatas omong kosong.

Sesampainya di puncak, Bi Salamah langsung sibuk menyiapkan menu untuk makan malam. Sementara Faris, ia mengajak Raina untuk mengunjungi “Rumah Kurcaci” yang ada di belakang villa. Sebenarnya itu adalah para-para kecil yang digunakan hanya untuk bersantai. Duduk-duduk di atasnya sambil menikmati kopi dan sedikit makanan ringan sambil membaca novel, mendengarkan musik, atau hanya sekedar mengobrol ringan. Entahlah, hari ini mengapa Raina bersahaja sekali. Sepanjang jalanan, senyumnya terus mengembang. Raina seperti seorang yang sedang kasmaran.

“Mas, Novel yang mau aku baca ketinggalan di mobil. Aku turun sebentar ya?” Raina menunjukkan coretan pena dalam selembar kertas pada Faris yang sedang mengaduk kopi hangatnya.

“Iyaahh, hati-hati yah Raina!” Raina mengangguk dengan senyum yang santun.

Tiba-tiba. “Srrruuutttttttttttt.... Bruuuaakhhh....”

Raina terpelesat dan terpelanting dari atas “Rumah Kurcaci” yang tingginya mencapai 10 M di atas pohon. “Rainaaaa.. Ya Allah, Rainaaa..” Refleks, Faris langsung bergegas turun untuk menyelamatkan Raina, membawanya ke Rumah Sakit terdekat. Sayang sekali, usahanya sia – sia. Raina menghembuskan nafas terakhirnya di perjalanan saat Faris, Bi Salamah, Mang Jejen, Tuan JK, dan Nyonya JK membawanya ke Rumah Sakit.

Seminggu setelah kejadiaan na’as itu. Meskipun peristiwa yang terjadi adalah murni kecelakaan. Tapi Faris tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri yang lalai menjaga Raina. Untuk mengusir penat di hatinya, Faris memutuskan untuk mengunjungi kamar Raina dan membereskan barang-barang milik Raina. Memaketkannya dan mengirimkannya pada pihak keluarga Raina yang tinggal di Cimahi. Saat itulah akhirnya tanpa sengaja Faris menemukan buku diary milik Raina dalam kamarnya.

Terjawab sudah berjuta pertanyaan yang sempat berjubel dalam kepalanya. Tentang sikap diam Raina padanya, juga tentang misteri Tuhan yang sulit ia pecahkan dengan otak di kepalanya. Tuhan, tidak bisa didekati dan dilihat dengan logika di kepala. Tuhan, hanya bisa didekati dan dilihat dengan kualitas mata hati yang selalu terang benderang memancarkan cahaya cinta dariNya yang Maha Kuasa. Faris baru teringat. Saat ia berusaha menyelamatkan Raina. Faris menyebut namaNya. Refleks, langsung dari dalam hatinya. Itulah sebutan untuk yang Maha Bijaksana, “Ya, Allah

Masih di kamar Raina. Hujan makin lebat. Dingin makin menjadi. Faris mengerubuti tubuhnya dengan selimut dan menaruh bantal di kepalanya. Di dingin sepinya ruangan. Sayup-sayup dari kejauhan Faris kembali memandangi foto Raina. Dalam hatinya ia berkata “Raina, semua catatanmu benar. Cinta suci dan hakiki yang telah kau jalin dengan-Nya di satu pertiga malam-Nya kini tetap hakiki meski nafasmu tak abadi. Kesuciannya pun tetap utuh terjaga meski penanamnya kini telah tiada. Benih cinta yang telah kau tanam, kini telah tumbuh bermekaran, manis buahnya, lezat aromanya. Oh ya, kemarin sewaktu jasadmu dikebumikan. Radit dan Bayu ikut hadir di pemakaman. Mereka berbisik lirih di telingaku. Kau tahu Raina? Apa yang Bayu dan Radit bisikan? Bayu mengaku, kalau dia sudah lepas dari candu alkohol yang menderanya. Sementara Radit, dia sudah pensiun dan membubarkan geng motor yang bernaung di bawah organisasi binaannya, dan dia juga sudah tidak lagi suka mengumbar cinta seenaknya pada setiap wanita”

Sembil membetulkan selimutnya. Faris melindungi tubuhnya dari terjangan dingin yang semakin menggigit. Lagi, matanya melirik ke arah foto Raina. Dalam hati kembali ia berkata. “Satu lagi Raina. Kau sadari atau tidak, sebenarnya aku juga turut merasakan manis buah cinta yang kau tanam di satu pertiga malam-Nya. Tiap kali aku melihat kamu bangun tengah malam, membasahi sebagian tubuh dengan air wudhu, lalu bermunajad dengan-Nya. Terus terang aku iri. Kecerdasan otakku tak bisa membeli ketenangan dan ketentraman dalam hidup. Harta benda keluargaku bahkan tak bisa membeli sedikit cinta yang sedari dulu selalu aku harap darimu. Aku janji Raina. Aku akan melakukan semua seperti yang kau lakukan. Aku akan meraih cinta-Nya yang suci dan hakiki terlebih dulu. Sebelum berharap lebih pada manisnya buah cinta dari-Nya. Sekarang aku percaya, bahwa Tuhan itu memang ada” (Ide cerita : Farisya Latief/Eva Apriliyana Rizki, Penulis cerita : Ali Ridwan, 30/03/14)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar