Cinta..
Apa itu cinta..?
Siapa? Bagaimana? Darimana?
Seperti apa?
Cinta oh cinta.
Mengapa oh mengapa?
Keberadaanmu selalu
penuh dengan tanda tanya...?
Hati-hati dengan hati..
Salah-salah jatuh
hati bisa sakit hati!!
Hati-hati dengan cinta..
Salah-salah bermain
cinta bisa sakit jiwa!!
Bahagianya hati
karena cinta.
Hampanya
jiwa bila tak ada cinta..
Cinta..
Suci hakekatnya.
Hakiki
sifatnya. Sejati rupa wujudnya...
Ikhlas tulus
mencintai.
Itulah arti cinta hakiki yang benar-benar
sejati..
Cinta ibarat derita.
Andai
kesucian cinta bernoda nafsu..
Cinta
hakiki pada sang kekasih hati yang benar-benar sejati...
Selamanya tak akan
pernah bisa terwujud.
Tanpa
adanya jiwa yang suci...
Sikapilah cinta
dengan cara yang mudah..
Syukuri
kedatangannya dan ikhlaskan kepergiannya..
Sandarkan
hati hanya kepada Allah semata..
Sebab
Dialah cinta sejati yang benar-benar hakiki..
~
### ~
Menitih
senja beserta nikmatnya dzikrullah. Shalawat serta salam iringi lantunan ayat-ayat
Allah yang terangkum dalam nikmatnya tafakkur. Di balik rintihan jiwa yang
menyepi, tersimpan berjuta kalimat cinta. Buah penghambaan yang tulus pada yang
Maha Mencinta. Andai dapat sempurna ia pahami. Tentang arti keindahan cinta
yang sejati. Musnah sudah segala benci di hati, yang ada dan tersisa kini tinggalan
kedamaian yang abadi.
Kuat
bayang-bayang cinta redup terang di hatinya. Faris, pria lajang paruh baya.
Sibuk memilah-milah tumpukan barang dalam sebuah kamar kosong di rumahnya. Sepi,
telah ditinggal pergi pemiliknya. Faris, seketika trenyuh hatinya, mendadak
pias wajahnya. Foto gadis cantik berjilbab ungu yang tepampang di atas meja
belajar sudut kamar. Foto si pemilik kamar. Tersenyum manis dengan bibir merah
yang merekah. Seperti melirik ke arah matanya. Faris membalas senyuman itu.
“Kamu apa kabar Raina?”
Sabtu
malam itu deras hujang mengguyur kota Jakarta. Udara dingin menyusup di
sela-selanya. Beringsut di bawah selimut, bisa jadi satu alternatif ternikmat
untuk mencari kehangatan. Tapi Faris, ia tidak ingin melakukannya. Faris masih
ingin berlama-lama di dalam kamar itu. Memilah – milah barang milik Raina.
Membungkusnya dalam karton. Menyimpannya sementara dalam gudang. Semua beres.
Tiba-tiba ia kembali terbayang pada sosok Raina. Sambil melepas lelah. Rebahan,
lalu duduk santai di tepian ranjang tidur. Tanpa bantal dan tanpa selimut.
Lepas pandangannya. Lagi, ia melirik foto di meja belajar sudut kamar itu.
Rasanya, seperti melihat Raina tengah jatuh tertidur di atas meja belajarnya
karena kelelahan mengerjakan tugas.
Pelan
Faris berjalan menghampiri meja belajar sudut kamar. Hanya sedikit tumpukan
barang yang ada di meja itu dan belum ia bereskan. Semua tumpukan itu akan ia
bereskan, tapi tidak untuk foto pemiliknya. Biarkan foto itu tetap terpampang
pada tempatnya. Asyik mengais-ngais tumpukan buku. Tiba-tiba mata Faris tertuju
pada satu buku yang tersimpan di laci dalam. Sungguh ia tak menyangka dengan
temuannya malam ini. Diary, itu adalah buku diary milik Raina. Faris lalu
membacanya. Sepertinya malam ini ia akan bermalam di kamar Raina. Tak peduli
seberapa deras hujan mengguyur. Tak peduli sebarapa dingin udara menembus
kulit. Malam ini, Faris hanya ingin tidur bersama cerita Raina yang tertulis
dalam buku diary-nya. Tidak begitu tebal catatannya. Coretannya pun tak sampai
penuh terisi. Raina, hanya sempat menggoreskan tinta hatinya di tujuh lembar
halaman dalam buku diary-nya.
~ ### ~
Raina.
Tak banyak orang yang tahu. Kesendirian hidupnya laksana magis. Seperti angin.
Seketika, berada di hiruk pikuknya keramaian. Sekejap, menghilang bagai ditelan
masuk ke dasar perut bumi. Sendiri, menyendiri di kesunyian hidup yang tak
kunjung bisa ia pahami. Hingga, suatu ketika. Tiba-tiba semuanya berubah, saat
ia bermetaformosis bak seorang penyelamat bagi tiga orang lelaki yang mencintai
kepribadiannya. Cacat pita suaranya. Tak memudarkan kecantikan hatinya. Auranya
memancar terang dari kepolosan akhlaknya yang terpupuk dengan cahaya iman dalam
dadanya. Hati yang selalu mengucap dzikir padaNya. Allah Azza Wazzalla.
Lembar pertama.
Ada banyak hal yang
ingin aku ceritakan pada malam.
Tapi
semua hanya bisa aku pendam.
Wahai
temaram.
Sanksikanlah
kerinduan yang makin tenggelam.
Dalam
tak sempurnanya rajutan bohlam.
Seperti
membenam bara dalam sekam.
Seperti
itulah rindu yang tak pernah padam.
Antara
aku dan dirimu.
Siapa
sebenarnya yang sudah membisukan waktu dan membekukan rindu?
Aku
atau dirimu?
(Raina)
Pekan
Sastra akhir tahun. Hilir mudik ribuan mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai
kampus dengan berbagai fakultas. Hadir dalam acara tahunan itu. Acara tahunan
yang diselenggarakan oleh himpunan Mahasiswa Sastra di salah satu kampus
tekemuka di Jakarta. Ragam pameran koleksi sastra ada di situ. Dari sekedar
lembaran puisi, kumpulan cerpen, berbagai jenis karya novel sampai koleksi buku
karya sastrawan – sastrawan besar dunia. Semua juga ada di situ. Selain
menyelenggarakan pameran sastra, panitia juga mengadakan berbagai macam jenis
lomba. Mulai lomba pentas seni drama, tari, musik, membaca dan menulis puisi,
sampai menulis cerpen bahkan novel juga ada. Hadiahnya cukup menggiurkan. Tak
mengherankan. Sebab, kali ini panitia berhasil menggaet banyak sponsor
berkelas. Acara berjalan lancar. Sukses besar, Bayu sebagai ketua panitia senang
hatinya bukan main.
Sebenarnya
Bayu tak sendiri, selain seluruh anggota panitia yang bekerja sebagai team. Bayu juga
ditemani oleh seorang wanita cantik sebagai sekretarisnya. Gadis itu yang
banyak membantu Bayu dalam merencanakan segala hal, menuntaskan berbagai jenis
masalah yang timbul, bahkan sampai ikut menalangi beberapa masalah yang
sebanarnya berada di luar jangkauan kemampuannya.
“Raina,
nanti kita ada acara pembubaran panitia. Jam 3 sore di Aula, jangan telat
yaahhh!” Ujarnya pelan. Bayu mengingatkan Reina perihal jadwal meeting seusai
kuliah pagi.
Sambil
tersenyum, Reina menggaukkan kepalanya. Pertanda iya.
Bayu
adalah pria yang tampan. Bertubuh atletis, dingin, dan juga kalem. Hampir
setiap wanita pasti suka padanya. Tapi Bayu, ia hanya melirik pada satu titik.
Diam di situ, dan terus menunggu. Diam-diam sebenarnya Bayu juga menaruh hati
pada Raina. Namun, sikap dingin Raina padanya membuat Bayu sering bertanya –
tanya dalam hatinya. “Adakah sedikit cinta dalam hatimu untukku Raina?”
Terkadang,
Bayu juga merasa tak pantas untuk Raina. Menurutnya Raina terlalu baik untuk
lelaki macam dirinya. Benar, dikampus memang Bayu dikenal sebagi lelaki yang
baik, ramah, sopan, santun, dan suka membantu siapapun yang memerlukan
bantuannya. Tapi, dibalik itu semua sebenarnya Bayu punya masalah besar dalam
pribadinya. Ketercanduannya pada alkohol sudah mendarah daging dalam nadinya.
Kepalanya seperti mau pecah, pusing rasanya bukan kepalang, badannya seperti
disetrum listrik ribuan volt. Sakhau. Bukan
hanya narkotik dan psikotropik yang bisa menyebabkan candu. Alkohol pun juga
bisa menjadi candu yang mengerikan dan mematikan. Sebab itu, diam – diam dalam
tasnya Bayu selalu membawa botol kecil. Diamanapun berada minuman beralkohol
tak boleh jauh darinya. Jaga-jaga jangan sampai ia sakhau.
Lembar kedua.
Terpancar di matamu.
Terlukis
di wajahmu. Terbias dalam senyummu.
Ketulusan
hatimu. Kelembutan jiwamu. Keramahan sikapmu.
Tercermin
dalam paras tampan mu.
Aura
cintamu, Menusuk hatiku. Luluhkan jiwaku. Merubah sikapku.
Walau
cinta ini, tak seputih cinta yang suci.
Tak
semurni cinta yang sejati. Tak seabadi cinta yang hakiki.
Namun
kan seindah cinta yang lebih dari sekedar sempurna.
(Raina)
Diam-diam
juga sebenarnya Raina suka curi -curi pandang meski tanpa sepengetahuan Bayu.
Raina, sungguh hanya bisa memujanya dalam diam, mengaguminya dalam sepi, dan
mencintainya dalam sunyi. Cinta memang sulit diterka, sukar diraba, dan tak
bisa hanya sekedar dirasa. Kepura-puraan dan logika yang kadang suka menarik
ulur kembang kempisnya rasa dalam dada. Sulit untuk mengatakanya, apalagi
sampai berucap jujur. Tantang cinta yang sebenarnya tulus dan suci. Murni dan
sama sekali tidak membutuhkan suatu alasan apapun. Mereka hanya bisa saling
mencintai dalam diam, saling mengagumi dalam lamunan, saling menyayangi dan
mengasihi dalam satu khayalan yang membingungkan. Akankah cinta bisa tersatukan
dalam kenyataan dan tanpa adanya satupun hambatan.
Lembar ketiga.
Aku mencintai caramu
mencintaiku.
Cintamu terselip
dalam sikap yang tak aku sadari.
Bodohnya aku yang tak
pernah peka terhadapnya.
Cintamu masih misteri.
Cintanya besar dan pasti.
Cintaku terdiam dan
terpatri. Cinta yang rumit.
Di sisi lain aku
ingin bahagia. Di sisi lain tak ingin aku ada yang terluka.
Tentang rasa cintaku
padamu. Biarlah hanya aku dan kamu yang tahu.
Andai Tuhan tahu. Semoga
Allah memberikan yang terbaik.
Untukmu, untukku, dan
untuknya.
Andai Tuhan tak tahu,
jelas sekali itu mustahil.
(Raina)
Satu
lagi alasan mengapa cinta Raina dan Bayu masih mengapung hingga kini, ialah
Radit. Sahabat dekat Bayu, anggota geng motor, juga seorang playboy. Sudah
lama juga ia mengincar cinta Raina. Tapi tak pernah berhasil, sebab cinta Raina
hanya tertuju pada Bayu. Sedangkan Bayu, selain masih merasa diri tak pantas
untuk Raina, ia juga merasa tak enak hati pada sahabat dekatnya itu. Hati bayu
bahkan sering menjerit kesal saat Radit bercerita banyak tentang Raina padanya.
“Bay... Gue emang playboy. Tapi cinta gue untuk Raina. Gue berani jamin kalau itu
seratus persen murni. Gue mau tobat jadi playboy kalau gue bisa ngedapetin
hatinya. Loe bantuin gue yaah!”
“Aminnn..
Moga bukan hanya sekedar isapan jempol aja”
“Beneran,
ini gue enggak main – main bray. Raina emang cacat, ia bisu. Tapi dia baik,
cantik, lucu, imut, shalehah lagi. Kali aja ntar kalau aku deket sama dia gue
bisa tobat”
“Yaaa..
Amiinn.. Moga ini bukan hanya sekedar isapan jempol lagi!” Bayu menyambut baik
niat Radit untuk berubah. Tapi emosi di hatinya makin meledak saat Radit terus
membicarakan Raina.
“Eh
Bay, elo kan temen sekelasnya. Loe juga kan temen gue dari SMP. Masa’ loe gak
mau bantuin gue sih?”
“Iyaaa..
Iyaa.. Entar gue bantuin! Udah gue ke kelas dulu!”
“Yesss,
thanks brooo! Udah masuk sana, ini punya loe biar gue yang bayar” Bayu lalu
bergegas meninggalkan kantin menuju kelas. Wajahnya tampak kesal, tapi Radit
hanya mengira kalau kesal di wajahnya bukan karena ia telah membicarakan Raina
di hadapannya.
Masalah
yang sama juga mendera Raina. Satu alasan mengapa Raina selalu menjaga jarak
kepada Bayu. Raina merasa kalau dirinya juga tak pantas untuk Bayu. Banyak
orang yang mencemooh saat terdengar gosip kalau dirinya tengah dekat dengan
Bayu. Tapi, gosip itu cepat ia klarifikasi sehingga tak cepat menyebar sampai
seantero kampus. Sungguh, hati Raina seperti remuk tertindih jutaan ton
material vulkanik saat tanpa sengaja ia mendengar percakapan beberapa gadis
yang tengah membicarakannya.”Eh, tau enggak? Si bisu Raina itu enggak tau diri
banget deh. Bayu kan genteng, cerdas, tajir, pokoknya perfeck lah. Mana
cocok sama Raina. Bagus juga sama Nadine. Nadine itu kan cantik, baik, pinter,
juga dari kalangan beranda”
“Eh,
tapi Raina bilang dia kan enggak ada apa – apa sama Bayu!” Timpal salah satu
teman gosipnya yang lain.
“Yah
bagus donk. Berarti si bisu Raina emang tahu diri!”
Selain
merasa diri tak pantas. Raina juga merasa tak enak hati dengan Nadine. Meski
tak begitu akrab dengan Nadine, tapi Raina pernah mengenal dan dekat dengannya
saat Nadine berada satu team dengan
Raina, tepatnya saat Nadine menjadi bendahara di panitia acara pekan sastra
beberapa minggu lalu. Nadine memang gadis yang baik juga ramah. Bayu juga
sebenarnya suka pada Nadine, tapi cintanya pada Raina jauh lebih besar lagi dari
sedikit rasa yang ai punya untuk Nadine.
Lembar Keempat
Aku pikir engkau
sabar menunggu, ternyata aku salah. Aku pikir engkau sabar menantiku, ternyata
itu hanya prasangka yang gegabah. Gemuruh guntur berkepanjangan. Hujan angin
datang tanpa henti. Lebatnya badai terus bernyanyi. Aku di sini masih betah
sendiri meratap dalam sepi. Cinta telah pergi. Baru sekali ini kurasakan
sakit yang separah ini. Hancur hatiku bagai tersayat sembilu. Darah mengalir
deras dalam luka gores sayatan penantian yang sia – sia. Tahukah apa yang
paling menyakitkan dari hidupku dahulu. Adalah menangis tanpa iringan air mata.
Dan kini lebih menyakitkan lagi, aku harus menangis dalam senyumanku
sendiri.
Tegak
kokohnya pendirian kini seakan rapuh. Hidup yang dulu berwarna kini menjadi
kelabu. Mungkin inilah yang disebut dengan istilah kehilangan. Lebih sakit dari
yang kubayangkan. Lebih menyiksa dari yang kuperkirakan. Aku harus kuat
menghadapinnya.
Aku
pikir aku akan ikhlas begitu saja saat sisa – sisa harapan tak akan pernah lagi
ada. Aku pikir aku akan bahagia melihat kebahagiaanmu sedang aku tahu itu tidak
denganku. Sabar, sabar, dan sabar. Ikhlas, ikhlas, dan ikhlas. Mungkin hanya
itu yang bisa kulakukan. Tapi sampai kapan? Aku harus melakukan tindakan agar
aku tak hancur berkepanjangan.
Wahai
Allah. Semalam, mengapa kau hadirkan lagi dia dalam mimpiku. Sengajakah Kau
mengingatkan aku akan dirinya. Ah, menyakitkan sekali. Jika harus Kau hadirkan
dia dalam mimpiku. Mengapa juga harus Kau hadirkan dia yang bersamanya hadir
menemaninya dalam mimpiku yang seburuk itu. Aku tahu, rahasiaMu memang selalu
indah. Dimana di akhir mimpi, kau pertemukan lagi aku pada cinta yang dulu
pernah ada dan tercipta hanya untuk diriku. Mungkinkah ini isyarat dariMu ya
Tuhanku. Agar aku lekas berlalu. Pergi meninggalkan cinta yang bertalu – talu.
Menguburnya dalam timbunan luka cinta dari kelamnya kisah di masa lalu. (Raina)
Dunia
malam, Bayu, Radit, dan beberapa teman sedang berkumpul-kumpul di malam minggu. Radit menagih janji Bayu
padanya. “Bay, gimana Raina? Lo udah janji mau bantuin gue kan?”
“Loe
kan playboy, pasti jago lah nakhlukin hati cewek. Napa mesti minta bantuan
gue?”
“Yaaa
elaahhh. Gue kan udah bilang, Reina itu beda. Gue mau serius kali ini broo.
Janji, Raina gak bakal gue mainin dah hatinya! Pisss bantuin gue yaaa. Loe kan
temen gue yang paling baik Bay?”
“Apa
yang bisa gue bantuu..?”
“Gini
Bay, minggu depan kan acara ulang tahunnya Nadine, kesempatan emas buat loe.
Nah disaat Loe deketin Nadine, di saat itulah gue nyamperin Reina. Gue ada sureprise
buat dia”
“Itu
ajaa..?”
“Yesss..
Gampang kan...!!”
Bayu
menenggak botolnya mentah -mentah. Hatinya selalu panas saat Radit membicarakan
Raina di hadapannya. Tapi Bayu hanya bisa memendam rasa cemburunya.
Malam
acara di hari ulang tahun Nadine. Di luar dugaan Bayu. Malam itu malah Nadien
yang lebih dulu memberikan surpries kepada Bayu. Nadine mengutarakan isi
hatinya pada Bayu. Nadine begitu berani, ia begitu yakin, sebab ia mendapat
banyak dukungan, Nadine pun juga merasakan ada sedikit sinyal cinta di mata
Bayu. Lagi, perasaan Bayu kembali tertekan. Menolak tidak mungkin, ia tak ingin
ada kekecewaan di hati Nadine. Apalagi malam ini adalah malam spesial untuknya.
Balasan cinta Bayu, bisa jadi adalah kado terindah di hari ulang tahunnya yang
ke dua puluh satu itu. Tapi, jika Bayu menerima Nadine, bisa jadi ia akan
kehilangan kesempatan untuk mendapatkan cinta Raina. Apalagi malam ini Radit
juga sudah menyiapkan recana dan strategi untuk mengutarakan isi hatinya pada
Raina. Bayu benar-benar frustasi.
Riuh
tepuk tangan saut bersautan, saling bersambut satu sama lain. Saat Bayu
akhirnya mengangguk dan mengatakan “Iya”. Malam itu Bayu resmi telah menjadi
kekasih Nadine. Tak kalah seru, setelah cinta Nadine dan Bayu berpadu, kini
giliran Radit yang melancarkan aksinya. Rayuan super romantis, aksi yang
dramatis, sebuah konsep yang dirancang dengan memadukan antara lagu cinta
klasik dan beberapa penyanyi bayaran, bunga – bunga bertaburan, petasan
bergemeletuk, kembang api menyala – nyala, dan balon – balon udara beterbangan.
Radit mengutarakan cintanya pada Raina. Beda dengan Bayu, Raina meminta waktu
untuk keputusan hatinya.
Bagaimana
tidak. Hati Raina yang sedang remuk rendam. Kekecewaan di raut wajahnya
terlihat begitu mendalam. Raina tak mengira kalau akhirnya Bayu menerima cinta
Nadine. Radit akhirnya bisa menerima keputusan Raina, memberinya waktu untuk
memikirkan jawabannya. Tak lama kemudian Raina sudah menghilang dari acara
ulang tahun Nadine di malam itu. Raina hanya ingin cepat pulang, meluapkan
emosi dan amarah yang menggumpal di hatinya, mengurung diri di kamar, menangis
sejadinya sampai air mata kering, menangis sampai bola mata dan kelopaknya
letih, menangis dan terus menangis sampai tak sadar dirinya telah pulas
tertidur.
Lembar kelima.
Pukul 02.20 aku
bersamaNya bicara empat mata. Pilih mana? Kedua mata berkaca - kaca dan
menangis tapi hati tertawa sambil terbahak atau bibir tersenyum lebar padahal
hati sedang kalut dan larut dalam kesedihan?Aku tak pilih keduanya. Aku mau
saat bahagia bibirku akan tersenyum lebar dan hatiku bisa tertawa lepas.
Jikalau harus menangis. Aku mau mataku bebas meneteskan air mata saat hati
sedang kalut dan larut dalam kesedihan.
Di
ujung sajadah malamku aku merengkuh kedinginan. Sebilah tasbih kehangatan jadi
sajian ternikmat kala hati sedang dirundung kegelisahan. Kegelisahan hati yang
telah mengusik ketenangan jiwa dan bathinku. Kuresapi dalam-dalam
rasa sakit hatiku hingga perih di kedua bola mataku. Dada serasa semakin sesak
saat air mata tertahan dalam isak yang tak kunjung tangis. Aku menggerutu dalam
hati. “Tuhan, tak kau gubriskah hambamu yang butuh pelampiasan ini?
Tangisku
pun pecah seketika. Rupanya Tuhan mendengar rintihanku. Tuhan mengabulkan
permintaanku. Tuhan mengijinkan aku bebas meneteskan linangan demi linangan air
mata. Bahkan hingga kering air mataku pun sepertinya Tuhan memperbolehkan. Bukan, bukan. Aku tak
menangisi apa yang telah terjadi, ataupun menyesali apa yang telah pergi. Aku
menangis karena aku memang ingin menangis. Aku akan menangis hingga aku
tertidur kemudian aku terbangun dengan semangat baru yang kembali meletup-letup.
Tuhan,
peluk aku dalam lindunganMu. Jauhkanlah aku dari cahaya cinta yang sia-sia.
Belailah aku dengan pancaran-pancaran nur Mu yang agung nan suci. Jaga aku
selalu di jalanMu agar aku selalu bersyukur atas nikmat yang telah Engkau
berikan padaku. Kembalikan
aku seperti aku yang dulu. Mengejar cinta Allah sebagai yang terutama. Berharap
Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang akan kembali menitipkan sinar cintanya
pada makhluk terindah ciptaanNya. Menghapus semua duka lara hatiku yang kini
semakin hari semakin meradang.”Yaa Allah..”. (Raina)
Pagi
menjelang. Walau mendung di hatinya belum seutuhnya berlalu, Raina mencoba
membuka hari dengan lembar baru. Mencoba mengesampingkan dan melupakan bayang –
bayang Bayu yang masih lekat dalam benaknya. Cinta datang dan cinta pergi,
Raina memutuskan untuk tetap sendiri. Istiqomah dalam naungan cintaNya yang
pasti akan berbuah dengan manis. Begitu sesampainya di kampus Raina langsung
menuju kelas Radit. “Eh Raina! Hmmm... Mimpi apa aku semalam. Pagi – pagi udah
disamperin bidadari”
“Radit,
aku mau bicara sama kamu!” Raina menunjukkan sebuah pesan yang ia tuliskan di
selembar kertas.
“Oke,
di sini terlalu ramai. Kita biacara di luar” Radit dan Raina akhirnya menuju
taman kampus. Berteduh di bawah rindangnya pohon pinus di pinggiran tamannya.
“Setelah
aku pikir-pikir. Sepertinya aku tidak bisa memenuhi permintaan kamu. Aku enggak
bisa nerima dan membalas cinta dari kamu. Maafin aku ya Diit. Aku bener-bener
minta maaf” Lagi Raina menunjukkan tulisan dalam selembar kertasnya pada Radit.
“Okee..
Okee.. Bisa kamu jelaskan kenapa?”
“Aku
pikir kamu cukup tahu jawaban dari pertanyaan kamu itu” Setelah menunjukkan tulisan
di kertasnya untuk Radit, Raina langsung bergegas pergi. Dengan sedikit rasa
bersalah dalam hatinya, Raina mencoba menguatkan langkahnya. Tanpa sedikitpun
bermaksud untuk mengecewakan hati Radit, Raina hanya berusaha mengutarakan
kejujuran hatinya. Menyakitkan, tapi itu lebih baik daripada memilih
menjalaninya dengan kebohongan, penuh kepalsuan, sekedar pelampiasan, atau
hanya untuk mencari pelarian. Sementara Radit, tubuhnya langsung lunglai
seketika.
Pengalaman
pertama bagi Radit. Sepanjang karier profesionalnya sebagai seorang playboy jempolan.
Baru kali ini ada wanita yang berani menolak cintanya, dan itu adalah Raina.
Gadis bisu yang mungkin semua orang hanya bisa melihat dari segi kecacatan
fisiknya. Radit benar-benar kacau. Hancur hatinya berkeping – keping. Sungguh,
pertama dalam hidupnya ia merasakan sakitnya patah hati dan kecewa. Radit tak
dapat berbuat banyak selain hanya diam. Tidak mungkin ia melakukan hal bodoh.
Cinta di hatinya tak akan pernah mengijinkannya. Radit tak akan pernah tega
melakukannya. Radit mencoba menerima keputusan Raina, meski sepenuhnya harapan
tidak seutuhnya pudar. Radit hanya ingin menginstropeksi diri. Mencoba mencari
jawaban atas pertanyaan yang pernah ia ajukan pada Raina. “Mengapa sampai hati
Raina menolak cintanya?”
Lembar Keenam.
Demi cinta Allah yang
aku kejar.
Berikan
hamba kecerdasan lahir dan kepandaian bathin.
Untuk
senantiasa berfikir tentang kuasaMu.
Hulurkan
pertolonganMu, disaat-saat aku ragu dan bimbang.
Sinarkan
nur hidayahMu, untuk aku terus di jalanMu.
(Raina)
Raina
kembali menata hatinya yang sempat porak-poranda. Menautkan cinta Allah sebagai
yang terutama dalam hidupnya. Mempriorotaskannya sebagai yang nomor satu dan
yang terdahulu. Bahwa cinta yang sempat hadir manyapa hidupnya adalah sedikit
buah cinta dariNya yang Maha Indah. Saat melihat Bayu bersama Nadine, bukan
lagi cemburu yang ia rasakan, melainkan bahagia. Bukankah sejatinya cinta
adalah melihat orang yang dicintainya hidup bahagia meski itu tidak dengannya.
Cinta kadang memang tak harus memiliki. Sementara Radit, semenjak gagal
mendapatkan cinta Raina, ia lebih suka menyendiri. Jika sebelumnya ia begitu
alergi bila tak punya kekasih, kali ini ia malah ingin berlama – lama dalam
kesednririan. Ia sadar, ternyata cinta yang suci, murni, dan sejati itu memang
tidak mudah untuk mendapatkannya.
Lembar Ketujuh.
Ceritaku sederhana.
Datanglah dengan cinta dan rawatlah dengan setia. Aku akan senantiasa
menjaganya. Menjaga kesetiaan cinta yang kita punya. Namun apa hendak dikata
jika semua tak sesuai harapan yang ada. Aku dan dirimu hanya bisa saling cinta
meski hanya sebatas maya, fatamorgana, dan tak pernah menjadi nyata.
Ketahuilah
bahwa sebenarnya akupun masih sangat mengharapkanmu walau hanya sebatas angan
semu. Cukuplah dalam sepinya waktu yang membisu aku mencintamu. Walau
sebenarnya aku tahu bahwa kasih dan sayangmu kini bukanlah untukku. Sejauh ini
hanya itu yang kutahu atas isyarat cinta darimu. Ya, hanya sebatas menerka. Isi
hati orang siapa yang tahu.
Cinta
itu peduli, masihkah aku mempedulikanmu semenjak kepergianmu? Aku tak bisa
bilang aku seorang yang sangat peduli karena mungkin kau pergi karena merasa
bahwa kau tak pernah aku pedulikan. Kau salah, jika memang anggapanmu seperti
itu.
Selagi
aku masih di sini, datanglah kembali jika kau akhirnya kecewa dengan cinta yang
kini kau bina dengannya. Namun, jika ternyata aku sudah tak lagi di sini untuk
menanti. Jangan pernah sesali atas apa yang telah terjadi, karena itulah
suratan dari Sang Illahi yang harus kita jalani. Biarlah cinta itu tetap utuh
dalam bingkaian kenangan yang selamanya tetap akan abadi. Aku pergi. Mungkin
lama dan tak akan pernah kembali. (Raina)
Catatan
terakhir Raina. Sebelum akhirnya ajal menjemputnya, sebelum akhirnya kecelakaan
tunggal merenggut nyawanya. Tragis, benar-benar tragis. Semua sahabat baiknya,
kerabatnya dekatnya, keluarganya, sanak saudaranya, orang-orang yang
mengenalnya, bahkan nyaris tak percaya kalau sampai musibah itu menimpa gadis
sebaik Raina. Apa salahnya? Mengapa orang baik selalu cepat perginya? Terlepas
dari semua benih cinta yang pernah Raina tanam pada setiap hati manusia yang
pernah dikenalnya. Pertemuan denganNya sebenarnya adalah akhir dari perjuangan
cinta yang sebenar-benarnya cinta Maha Mulia. Hakiki, suci, murni, dan tak
mungkin bisa lagi ternodai. Sebab cintaNya adalah bentuk dari kefanaan diri
yang abadi. Nur Illahi yang asalnya dariNya akan kembali menyatu padaNya.
~ ### ~
Sehari
sebelum tragedi. Hari itu suasana hati Raina sungguh riang sekali. Tak ada
tanda-tanda kalau ia akan pergi dan tak akan pernah kembali lagi. Faris, Bi
Salamah, Mang Jejen, kedua orang tua Faris, Tuan JK dan Nyonya JK akan
mengadakan liburan ke puncak di akhir pekan awal bulan. Sebenarnya ini hanyalah
kegiatan rutin bulanan. Tapi entahlah, kali ini rasanya spesial sekali untuk
Raina.
Raina,
sebenarnya adalah kerabat jauh dari Bi Salamah, ia di Jakarta tinggal di rumah
Tuan JK atas permintaan Bi Salamah. Raina adalah gadis desa yang telah memenangkan
beasiswa untuk kuliah di universitas terkemuka di Jakarta. Sebenarnya beasiswa
itu hanya sebatas paket uang semester. Tempat tinggal dan biaya hidup adalah
tanggung jawab dari mahasiswa itu sendiri, karena itu Bi Salamah memintanya
untuk tinggal bersamanya. Selain bisa mendapat tempat tinggal gratis Raina juga
bisa membantu mengerjakan beberapa pekerjaan Bi Salamah saat senggang. Tuan JK
dan Nyonya JK sama sekali tidak keberatan. Malah keluarga kaya yang dermawan
itu akhirnya meminta Raina untuk mengelola beberapa butik yang dikembangkan
oleh Nyonya JK. Dengan senang hati Raina menerimanya. Raina mengerjakan
tugasnya dengan baik serta dengan ketulusan pengabdian yang ikhlas.
Sejak
pertama kali Faris berjumpa Raina, ia sudah jatuh hati pada kepolosan hatinya.
Tapi, ia hanya bisa memendamnya. Tak jarang Faris memberikan sinyal-sinyal
cintanya melalui perhatian – perhatian kecil, kejutan-kejutan, atau hanya
sekedar rayuan-rayuan ringan, tapi Raina selalu menanggapinya dengan dingin.
Lagipula tidak mungkin Raina berani mencoreng wajah Tuan JK dengan berani
mencintai anak simata wayangnya. Siapa Raina, sedang mereka adalah keluarga
terpandang. Cinta memang tak mengenal kasta. Tapi keluarga Faris sudah terlalu
baik untuk Raina.
Tuan
JK dan Nyonya JK bahkan sudah menganggap Raina sebagai putrinya sendiri. Sebab
itu perhatian lebih yang diberikan Faris pada Raina, ia lebih mengaggapnya
sebagai bentuk kasih sayang abangnya Faris pada seorang adik perempuannya
Raina.
Faris
sebenarnya adalah anak yang pintar dan berbakat, punya tubuh yang tegap, wajah
maskulin. Muda, pekerja keras, sukses, dan rendah hati, percis seperti ayahnya.
Akan tetapi, meski yang tertera dalam Kartu Tanda Penduduknya adalah Islam,
tapi Faris sebenarnya adalah seorang atheis yang masih meragukan adanya
keberadaan Tuhan. Faris lebih mendewakan kecerdasan otaknya dibanding iman yang
menyala dalam hatinya. Hidupnya seperti orang linglung, kadang sampai stress
sendiri bila sedang memikirkan hal – hal tak masuk akal dan memang tak akan
pernah bisa dijangkau oleh nalar.
Tak
jarang Faris menanyai Raina tentang banyak hal soal agama. Ayah ibunya memang
islam, tapi mereka juga buta kepada agama, karena itu sejak kecil anaknya sudah
kehilangan pegangan dalam menjalankan berbagai tuntunan agamanya. Sampai
akhirnya Faris tumbuh dewasa dan tak pernah mempercayai Tuhannya. Sebab semakin
dipikir, semakin tak masuk di akal. Religiusitas baginya hanyalah sebatas omong
kosong.
Sesampainya
di puncak, Bi Salamah langsung sibuk menyiapkan menu untuk makan malam.
Sementara Faris, ia mengajak Raina untuk mengunjungi “Rumah Kurcaci” yang ada
di belakang villa. Sebenarnya itu adalah para-para kecil yang digunakan hanya
untuk bersantai. Duduk-duduk di atasnya sambil menikmati kopi dan sedikit
makanan ringan sambil membaca novel, mendengarkan musik, atau hanya sekedar
mengobrol ringan. Entahlah, hari ini mengapa Raina bersahaja sekali. Sepanjang
jalanan, senyumnya terus mengembang. Raina seperti seorang yang sedang
kasmaran.
“Mas,
Novel yang mau aku baca ketinggalan di mobil. Aku turun sebentar ya?” Raina
menunjukkan coretan pena dalam selembar kertas pada Faris yang sedang mengaduk
kopi hangatnya.
“Iyaahh,
hati-hati yah Raina!” Raina mengangguk dengan senyum yang santun.
Tiba-tiba.
“Srrruuutttttttttttt.... Bruuuaakhhh....”
Raina
terpelesat dan terpelanting dari atas “Rumah Kurcaci” yang tingginya mencapai
10 M di atas pohon. “Rainaaaa.. Ya Allah, Rainaaa..” Refleks, Faris langsung
bergegas turun untuk menyelamatkan Raina, membawanya ke Rumah Sakit terdekat.
Sayang sekali, usahanya sia – sia. Raina menghembuskan nafas terakhirnya di
perjalanan saat Faris, Bi Salamah, Mang Jejen, Tuan JK, dan Nyonya JK
membawanya ke Rumah Sakit.
Seminggu
setelah kejadiaan na’as itu. Meskipun peristiwa yang terjadi adalah murni kecelakaan.
Tapi Faris tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri yang lalai menjaga
Raina. Untuk mengusir penat di hatinya, Faris memutuskan untuk mengunjungi
kamar Raina dan membereskan barang-barang milik Raina. Memaketkannya dan
mengirimkannya pada pihak keluarga Raina yang tinggal di Cimahi. Saat itulah
akhirnya tanpa sengaja Faris menemukan buku diary milik Raina dalam kamarnya.
Terjawab
sudah berjuta pertanyaan yang sempat berjubel dalam kepalanya. Tentang sikap
diam Raina padanya, juga tentang misteri Tuhan yang sulit ia pecahkan dengan
otak di kepalanya. Tuhan, tidak bisa didekati dan dilihat dengan logika di
kepala. Tuhan, hanya bisa didekati dan dilihat dengan kualitas mata hati yang
selalu terang benderang memancarkan cahaya cinta dariNya yang Maha Kuasa. Faris
baru teringat. Saat ia berusaha menyelamatkan Raina. Faris menyebut namaNya.
Refleks, langsung dari dalam hatinya. Itulah sebutan untuk yang Maha Bijaksana,
“Ya, Allah”
Masih
di kamar Raina. Hujan makin lebat. Dingin makin menjadi. Faris mengerubuti
tubuhnya dengan selimut dan menaruh bantal di kepalanya. Di dingin sepinya
ruangan. Sayup-sayup dari kejauhan Faris kembali memandangi foto Raina. Dalam
hatinya ia berkata “Raina, semua catatanmu benar. Cinta suci dan hakiki yang
telah kau jalin dengan-Nya di satu pertiga malam-Nya kini tetap hakiki meski
nafasmu tak abadi. Kesuciannya pun tetap utuh terjaga meski penanamnya kini
telah tiada. Benih cinta yang telah kau tanam, kini telah tumbuh bermekaran,
manis buahnya, lezat aromanya. Oh ya, kemarin sewaktu jasadmu dikebumikan.
Radit dan Bayu ikut hadir di pemakaman. Mereka berbisik lirih di telingaku. Kau
tahu Raina? Apa yang Bayu dan Radit bisikan? Bayu mengaku, kalau dia sudah
lepas dari candu alkohol yang menderanya. Sementara Radit, dia sudah pensiun
dan membubarkan geng motor yang bernaung di bawah organisasi binaannya, dan dia
juga sudah tidak lagi suka mengumbar cinta seenaknya pada setiap wanita”
Sembil
membetulkan selimutnya. Faris melindungi tubuhnya dari terjangan dingin yang
semakin menggigit. Lagi, matanya melirik ke arah foto Raina. Dalam hati kembali
ia berkata. “Satu lagi Raina. Kau sadari atau tidak, sebenarnya aku juga turut
merasakan manis buah cinta yang kau tanam di satu pertiga malam-Nya. Tiap kali
aku melihat kamu bangun tengah malam, membasahi sebagian tubuh dengan air
wudhu, lalu bermunajad dengan-Nya. Terus terang aku iri. Kecerdasan otakku tak
bisa membeli ketenangan dan ketentraman dalam hidup. Harta benda keluargaku
bahkan tak bisa membeli sedikit cinta yang sedari dulu selalu aku harap darimu.
Aku janji Raina. Aku akan melakukan semua seperti yang kau lakukan. Aku akan
meraih cinta-Nya yang suci dan hakiki terlebih dulu. Sebelum berharap lebih pada
manisnya buah cinta dari-Nya. Sekarang aku percaya, bahwa Tuhan itu memang ada”
(Ide cerita : Farisya Latief/Eva Apriliyana Rizki, Penulis cerita : Ali Ridwan,
30/03/14)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar