Praformulasi
merupakan langkah awal dalam proses pembuatan sediaan farmasi dengan
mengumpulkan keterangan-keterangan dasar tentang sifat kimia fisika dari zat
aktif bila dikombinasikan dengan zat atau bahan tambahan menjadi suatu bentuk
sediaan farmasi yang stabil, efektif dan aman. Penelitian atau pemeriksaan
sifat-sifat fisika dan kimia zat aktif tersendiri dan jika dikombinasikan
dengan zat lain merupakan data-data studi praformulasi. Data-data tersebut
meliputi:
1. Sifat Fisika
a. Uraian Fisik. Uraian fisik dari suatu obat sebelum
pengembangan bentuk sediaan penting untuk dipahami, kebanyakan zat obat yang
digunakan sekarang adalah bahan padat. Kebanyakan obat tersebut merupakan
senyawa kimia murni yang berbentuk amorf atau kristal. Obat cairan digunakan dalam
jumlah yang lebih kecil, gas bahkan lebih jarang lagi.
b. Pengujian Mikroskopik. Pengujian mikroskopik dari zat murni
(bahan obat) merupakan suatu tahap penting dalam kerja (penelitian)
praformulasi. Pengujian ini memberikan indikasi atau petunjuk tentang ukuran
partikel dari zat murni seperti juga struktur kristal.
c. Ukuran Partikel. Sifat-sifat fisika dan kimia
tertentu dari zat obat dipengaruhi oleh distribusi ukuran partikel, termasuk
laju disolusi obat, bioavailabilitas, keseragaman isi, rasa, tekstur, warna dan
kestabilan. Sifat-sifat seperti karateristik aliran dan laju sedimentasi juga
merupakan faktor-faktor penting yang berhubungan dengan ukuran partikel. Ukuran
partikel dari zat murni dapat mempengaruhi formulasi produk. Khususnya efek
ukuran partikel terhadap absorpsi obat. Keseragaman isi dalam bentuk sediaan
padat sangat tergantung kepada ukuran partikel dan distribusi bahan aktif pada
seluruh formulasi yang sama.
d. Koefisien Partisi dan Konstanta
Disosiasi. Untuk
memproduksi suatu respon biologis molekul obat pertama-tama harus melewati
suatu membrane biologis yang bertindak sebagai pembatas lemak. Kebanyakan obat
yang larut lemak akan lewat dengan proses difusi pasif sedangakn yang tidak
larut lemak akan melewati pembatas lemak dengan transport aktif. Karena hal ini
maka perlu mengetahui koefisien partisi dari suatu obat. Khusus untuk obat yang
bersifat larut air maka perlu pula diketahui konstanta disosiasi agar diketahui
bentuknya molekul atau ion. Bentuk molekul lebih muda terabsorpsi daripada bentuk
ion.
e. Polimerfisme. Suatu formulasi yang penting adalah
bentuk kristal atau bentuk amorf dari zat obat tersebut. Bentuk-bentuk
polimorfisme biasanya menunjukkan sifat fisika kimia yang berbeda termasuk
titik leleh dan kelarutan. Bentuk polimorfisme ditunjukkan oleh paling sedikit
sepertiga dari senua senyawa-senyawa organik.
f. Kelarutan. Suatu sifat kimia fisika yang
penting dari suatu zat obat adalah kelarutan, terutama kelarutan sistem dalam
air. Suatu obat harus memiliki kelarutan dalam air agar manjur dalam terapi.
Agar suatu obat masuk kedalam sistem sirkulasi dan menghasilkan suatu efek
terapeutik, obat pertama-tema harus berada dalam bentuk larutan.
Senyawa-senyawa yang relative tidak larut seringkali menunjukkan absorpsi yang
tidak sempurna atau tidak menentu.
g. Disolusi. Perbedaan aktivitas biologis dari
suatu zat obat mungkin diakibatkan oleh laju disolusi. Laju disolusi adalah
waktu yang diperlukan bagi obat untuk melarut dalam cairan pada tempat
absorpsi. Untuk obat yang diberikan secara oral dalam bentuk padatan, laju
disolusi adalah tahap yang menentukan laju absorpsi. Akibatnya laju disolusi
dapat mempengaruhi onset, intensitas dan lama respon serta bioavailabilitas.
h. Kestabilan. Salah satu aktivitas yang paling
penting dalam praformulasi adalah evaluasi kestabilan fisika dari zat obat
murni. Pengkajian awal dimulai dengan menggunakan sampel obat dengan kemurnian
yang diketahui. Adanya pengotoran akan menyebabkan kesimpulan yang salah dalam
evaluasi tersebut.
2. Sifat Kimia
a. Kestabilan. Pengkajian praformulasi yang
dihubungkan dengan fase praformulasi termasuk kestabilan obat itu sendiri dalam
keadaan padat, kestabilan fase larutan dan kestabilan dengan adanya bahan
penambah.
Ketidak
stabilan kimia dari zat obat dapat mengambil banyak bentuk, karena obat-obat
yang digunakan sekarang adalah dari konstituen kimia yang beraneka ragam.
Secara kimia, zat obat adalah alcohol, fenol, aldehid, keton, ester-ester,
asam-asam, garam-garam, alkaloid, glikosida, dan lain-lain. Masing-masing dengan
gugus kimia relative yang mempunyai kecenderungan berbeda terhadap ketidak
stabilan kimia. Secara kimia proses kerusakan yang paling sering meliputi
hidrolisis dan oksidasi.
Studi
praformulasi pada dasarnya berguna untuk menyiapkan dasar yang rasional untuk
pendekatan formulasi, Untuk memaksimalkan kesempatan keberhasilan memformulasi
produk yang dapat diterima oleh pasien dan akhirnya menyiapkan dasar untuk
mengoptimalkan produksi obat dari segi kualitas dan penampilan.
Komponen
Tablet
1. Zat
Aktif dan Pengaruh kelarutan
Ada dua golongan zat aktif yang diberikan secara
oral dalam bentuk sediaan tablet, yaitu zat aktif tidak larut dimaksudkan untuk
penggunaan efek lokal dalam saluran cerna seperti antasid, adsorben, dan zat
aktif terlarut dimaksudkan untuk penggunaan efek obat sistemik setelah
disolusinya dalam usus halus dan selanjutnya di adsorbsi. Untuk tiap golongan
zat aktif tersebut, perhatian yang sangat seksama harus diberikan terhadap
formulasi dan desain sediaan tablet dan juga metode pembuatannya untuk
memproduksi suatu sediaan yang berkhasiat dan handal. Sasaran dalam mendesain
bentuk sediaaan tablet untuk kedua golongan zat aktif ini berbeda.
Jika mengolah zat aktif tidak larut yang kerja
terapinya sangat dipengaruhi oleh fenomena permukaan seperti antasid dan
adsorben, sediaan harus didesain untuk segera terdisintegrasi dan terdispersi
kembali menghasilkan ukuran partikel halus dan luas permukaan yang luas.
Sesuai dengan efek formulasi, granulasi dan
pengempaan pada sifat permukaan zat aktif dan kemampuan untuk memeperbaiki atau
memeperbarui suatu zat dalam usus dengan sifat-sifat permukaan yang optimal
merupakan hal yang sangat penting.
Dalam hal sediaan tablet yang dimaksudkan untuk
memberikan efek sistemik, desain bentuk sediaan tablet yang cepat
terdisintregasi dan terdisolusi dapat atau tidak kritis, tergantung pada tempat
zat aktif diabsorbsi yaitu dalam saluran cerna atas atau lebih umum diseluruh
saluran ussu halus, dan juga didasarkan pada sifat-sifat kelarutan zat aktif
pada atau diatas tempat absorsi. Oleh karena itu, sediaan harus didesain
menjadi terdisintegrasi atau terlarut untuk melepaskan zat aktif dalam suatu
bentuk yang tersedia ada atau diatas daerah absorbsi dalam usus. (Siregar 2010
:139-140
2. Sifat
Zat Aktif
Sifat-sifat fisik dan
fisikokimia zat aktif harus dimengerti sepenuhnya selama mematangkan formula.
Sifat-sifat ini dapat meemberikan dasar yang rasional untuk desain tablet
tertentu, seperti disolusi tepat untuk zat aktif yang mungkin diabsorbsi lebih
besar dalam ussu halus atas, atau memerlukan bentuk enterik atau bentuk lain
untuk perlindungan lambung dan untuk suatu zat aktif yang tidak stabil dalam
cairan asam lambung.
3. Zat
Tambahan
a. Bahan
Pengisi. Adalah zat yang ditambahkan ke dalam
massa tablet untuk mencapai bobot tablet yang diinginkan. Zat pengisi
biasanya diperlukan bila dosis obat tidak cukup untuk membuat bulk. Pada obat
berdosis tinggi tidak dibutuhkan pengisi (misalnya aspirin, antibiotic
tertentu), Suatu pengisi harus memiliki criteria inert, memiliki biaya yang
murah, dan dapat memperbaiki daya kohesi dan daya alir sehingga dapat dikempa
langsung. Pengisi yang sering digunakan adalah berasal dari bahan organic dan
anorganik. Contoh bahan pengisi dalah laktosa, starch 1500,
manitol, sorbitol, selulosa, mikro kristal, dikalsium fosfat dihidrat, kalsium
sulfat dihidrat, emdex dan selutam, zat berupa gula, dextrose. (Lachman 1994 :
697)
b. Sifat
Umum : Pada umumnya adalah zat inert dan
dapat mempengaruhi sifat biofarmasi, kimia, disolusi zat aktif. Misalnya ,
garam Ca dalam Tetrasiklin mempengaruhi absorpsinya, karena terjadi kompleks,
Laktosa bila dicampurkan dengan basa amin garamnya maka lama-kelamaan tablet
menjadi hitam.
Adanya
kelembapan akan mempengaruhi zat aktif, oleh karena itu sifat higroskopis
merupakan hal penting dalam pemilihan eksipien dengan alasan :
a. Air yang diserap zat aktif dan
eksipien tidak selalu dapat dilepas kembali.
b. Kandungan lembab dalam granul
mempengaruhi sifat-sifat fisik dan kimia zat
aktif
c. Zat aktif yang peka terhadap lembab
hendaknya tidak dikombinasikan dengan eksipien yang higroskopis
d. Pengemas harus dipilih yang cocok
terhadap zat aktif yang higroskopis
e. Data higroskopis dapat membantu
dalam mendesain tablet
Alasan
Pemilihan Bahan
1. Teofilin (Bahan Aktif)
a.
Golongan
: Alkaloida
b.
Penggunaan : Berdaya spasmolitis
terhadap otot polos, khususnya otot bronchi, menstimulasi jantung dan
mendilatasinya. Teofilin juga menstimulasi SSP dan pernapasan, serta bekerja
diuretis lemah dan singkat.
c.
Identifikasi
bahaya : Efek
broncohodilatasinya tidak berkolelasi baik dengan dosis, tetapi tidak memperlihatkan hubungan jelas dengan kadar
darahnya (dan kadar di air liur).
d.
Toksisitas : Luas
terapeutisnya sempit, artinya dosis efektifnya terletak berdekatan dengan dosis
toksisnya. Untuk efek optimal diperlukan kadar dalam darah dari 10-15 mcg/ml,
sedangkan pada 20 mcg/ml sudah terjadi efek toksis. Oleh karena itu di anjurkan
untuk menetapkan dosis secara individual berdasarkan tuntutan kadar dalam
darah. Hal ini terutama perlu pada anak-anak usia 2 tahun dan pada manula di atas 60 tahun, yang sangat
peka terhadap overdosis, juga pada pasien gangguan hati dan ginjal.
e.
Efek
Samping : Efek sampingnya
yang terpeting berupa mual dan muntah, baik penggunaan oral maupun rektal atau
parenteral. Pada overdoses terjadi efek sentral (gelisah, sukar tidur, tremor,
dan konvulsi) serta gangguan pernapasan, juga efek kardiovaskuler, sepati
tachycardia, aritmia, dan hipotensi.
f.
Mekanisme : merelaksasi secara langsung
otot polos bronki dan
pembuluh darah, pulmonal,
merangsang SSP, menginduksi diuresis, meningkatkan sekresi asam lambung,
menurunkan tekanan sfinkter esofageal bawah dan menghambat kontraksi uterus.
Teofilin juga merupakan stimulan pusat pernafasan. Aminofilin mempunyai efek
kuat pada kontraktilitas diafragma pada orang sehat dan dengan demikian mampu
menurunkan kelelahan serta memperbaiki kontraktilitas pada pasien dengan
penyakit obstruksi saluran pernapasan kronik.
g.
Tabel Pemberian dosis Teophyllin
berdasarkan umur.
Usia
|
Dosis Harian Maksimum
|
1-9 tahun
9-12 tahun
12-16 tahun
> 16 tahun
|
24 mg/kg/hari
20 mg/kg/hari
18 mg/kg/hari
13 mg/kg/hari
|
2.
Laktosa (pengisi)
Sinonim : CapsuLac, GranuLac, Lactochem, lactosum monohydricum,
Monohydrate, Pharmatose, PrismaLac, SacheLac, SorboLac, SpheroLac, SuperTab
30GR, Tablettose.
Pengisi yang paling umum, ada 2 bentuk laktosa :
hidrat dan anhidrat untuk granulasi basah dipakai laktosa hidrat
karena menyerap lembab secara umum tablet menunjukkan release rate yang baik,
granulnya cepat kering, disintegrasi tablet tidak banyak dipengaruhi oleh
kekerasan(Handbook of Pharm Excipient) selain itu dapat mengalami deformasi yang praktis didalam
pencetakan sehingga penggunaannya sebagai bahan pengisi tablet sangat
menguntungkan, sifat alir yang baik, serta stabilitas laktosa baik dalam
gabungan zat aktif.
Pati jika digunakan
dalam konsentrasi tinggi seringkali lunak dan sulit kering khususnya pengering
flidized hed.
Selulosa (Avicel) sulit dikempa, diduga menimbulkan
perubahan bentuk yang melepaskan stress menurut beberapa mekanisme. Proses ini
akan menghasilkan tablet keras dengan pengempaan rendah
3. Amylum Manihot. (Penghancur)
Sinonim : Pati ketela. Karena pati mengadung amilopektin
yang dapat menyerap air yang lebih banyak dan dapat mengembang hingga bisa
menghancurkan tablet. Keunggulan dari
amilum manihot dibandingkan dengan pati lain pati singkong memiliki satu gelatinasi
terendah. Suhu gelatinasi pati singkong berkisar antara 49-64oc sampai 62-73oc.
Tetapi menurut kofler dalam swinkls suhu gelatinasi pati singkong adalah 68-92
oc. Pati singkong memiliki viskositas paling tinggi bila dibandingkan dengan
pati-pati yang lain. karakteristik viskositas ini dipengaruhi oleh perbedaan
varietas, faktor lingkungan, laju pemanasan.
Selulosa menghasilkan tablet yang kuat tetapi sedikit
keras. Sukrosa
mengakibatkan ikatan akan kuat tetapi rapuh dan keras .
4. Talk (Glidan)
Sinonim :
Altalc, E553b, hydrous magnesium calcium silicate, hydrous magnesium silicate,
Imperial, Luzenac Pharma, magnesium hydro-gen metasilicate, Magsil Osmanthus,
Magsil Star, powdered talc, purified
French chalk, Purtalc, soapstone, steatite, Superiore, talcum.
Talkum digunakan
dikarenakan talkum tidak OTT dengan komponen lain, akan menutupi
partikel yang tidak beraturan, tablet mudah dicetak dan tidak lengket.
Pemilihan talkum sebagai glidan
adalah karena talkum merupakan glidan yang baik dan dapat dikombinasikan dengan
Mg stearat untuk memperbaiki sifat aliran dari granul. Konsentrasi talkum
adalah 1-10%. Karena sifat fisika kimianya sangat halus, tidak berbau, mudah
digunakan, berbentuk bubuk, kristal. Ini mudah melekat dan melapisi
granul dan lembut jika disentuh dan bebas dari bongkahan kecil.
5.
Asam
stearat
Tidak dapat
digunakan sebagai lubrikan akibat masalah inkompabilitas fisika dan kimia.
Na-stearil fumarat.
Kurang peka terhadap pencampuran secara berlebihan.
Lemak tanaman
dihidrogenasi. Ukuran partikel relatif besar dan sifatnya sedang sebagai
lubrikan.
Minyak mineral. Tidak terlalu populer karena sulit mendapatkan campuran dengan serbuk dan granul yang homogen.
6.
Mg stearat
Magnesium stearat dalam konsentrasi 0,2 sampai
1% adalah bahan
pelicin yang baik. Magnesium stearat dapat menambah waktu hancur dari
tablet karena bentuk lapisan permukaannya yang tidak mudah dipenetrasi dengan cairan lambung. Magnesium stearat digunakan secara luas dalam kosmetik, makanan
dan formulasi farmasi. Utamanya digunakan sebagai pelicin pada
kapsul dan tablet dengan konsentrasi antara 0,25-50%.
Sifat fisika kimianya sangat halus, tidak berbau, mudah
digunakan, berbentuk bubuk, kristal. Ini mudah melekat dan melapisi
granul dan lembut jika disentuh dan bebas dari bongkahan kecil.
7. PGA (pengikat)
PGA atau gom arab karena memiliki
daya kohesi yang tinggi sehingga dapat membentuk granul yang bagus. Akasia
membentuk tablet dengan kekerasan yang moderat. Memiliki sifat fisika kimia
berupa bentuk tipis sehingga cepat dibuat mucilago karena luas permukaannya
besar. Serta tidak berbau serta berasa sehingga tidak merubah sediaan
Sukrosa mengakibatkan ikatan akan
kuat tetapi rapuh dan keras. Pati menghasilkan tablet yang umumnya lunak dan
rapuh. Selulosa
menghasilkan tablet yang kuat tetapi sedikit keras.
Tabel Monografi Bahan
No
|
Sediaan
|
Bentuk
|
Warna
|
Bau
|
Rasa
|
Kelarutan
|
Konsentrasi
|
1
|
Theophyllin
|
Serbuk
hablur putih
|
Putih
|
Tidak
berbau
|
Pahit
|
Sukar
larut dalam air, tetapi mudah larut dalam air panas, mudah larut dalam alkali
hidroksida dan ammonium hidroksida,
agak sukar larut dalam etanol
|
|
2
|
Talk
|
Serbuk
hablur sangat halus licin
|
Putih/putih
kelabu
|
Tidak
berbau
|
Rasa
kelat
|
Tdk
larut dlm hampir semua pelarut
|
5-30%
|
3
|
SL
|
Serbuk
hablur
|
Putih
|
Tidak
berbau
|
Rasa
agak manis
|
Larut
dlm 6 bag air, larut dlm 1 bag air mendidih, sukar larut dlm etanol, praktis
tdk larut dlm kloroform dan eter
|
|
4
|
Amylum
manihot
|
Serbuk
halus, kadang2 berupa gumpalan kecil
|
Putih
|
Tidak
berbau
|
Tidak
berasa
|
Praktis
tdk larut dlm air dingin dan etanol
|
5-15%
|
5
|
Sukrosa
|
Serbuk
hablur putih
|
Putih
|
Tidak
berbau
|
Manis
|
Sangat
mudah larut dalam air, lebih mudah dalam air mendidih, sukar larut dalam
etanol.
|
2-20%
|
Formulasi
R/ Theopphyllin 250mg (Bahan Aktif)
Amylum manihot 10%
(Penghancur)
Talk 5% (Glidan)
PGA 10% (Pengikat)
Mg Stearat 1% (Antiadheren)
SL ad 100% (Pengisi)
1. Perhitungan
untuk 1 tablet :
a. Theophyllin
= 250mg
b. Amylum
manihot = 10/100 x 500 = 50mg
c. Talk
= 5/100 x 500
= 25mg
d. PGA = 10/100 x 500
= 50mg
e. Mg
Stearat = 1/100 x
500 = 5mg
f. SL
= 500mg – 380mg = 120mg
2. Penimbangan
untuk 100 tablet Theophyllin :
a. Theophyllin
= 250mg x 100 tab = 25.000mg (25g)
b. Amylum
manihot = 125mg x 100 tab = 12.500mg (12,5g)
c. Talk
= 25mg x
100 tab = 2.500mg (2,5g)
d. PGA =
50mg x 100 tab = 5.000mg (5g)
e. Mg Stearat =
5mg x 100 tab = 500mg (0,5g)
f. SL
= 120mg x 100 tab = 12.000mg
(12g)
3. Prosedur
pembuatan tablet Theophyllin :
a. Bahan
aktif (Theophyllin) dan bahan tambahan (amylum manihot, talk dan SL) ditimbang
sesuai dengan perhitungan bahan
b. Membuat muchilago dari PGA dengan cara: menambahkan air
dua kali berat PGA, gerus ad muchilago.
c. Theophyllin,
SL dimasukkan dalam mortir, kemudian digerus ad halus dan homogeny
d. Muchilago PGA ditambahkan ke dalam
bahan no.3 kemudian gerus sampai terbentuk massa yang lembab dan homogen.
e. Massa
yang lembab diayak dengan ayakan 12 mesh dan dikeringkan di oven dengan suhu 500-600
C selama 30 menit
f. Setelah
granul kering, kemudian di ayak dengan ayakan 14 mesh
g. Dilakukan
uji granul
h. Tambahkan
Talk, Mg Stearat
dan Amylum Manihot, campur
sampai homogeny
i.
Dilakukan pencetakan tablet
j.
Dilakukan uji mutu fisik tablet
4. Pengujian
Granul :
a. Uji
waktu alir
a) Memasukkan
granul dalam corong (150g)
b) Tutup
bagian bawah corong
c) Nyalakan
stopwatch
d) Lepas
tutup pada bagian bawah corong
e) Catat
waktu yang ditempuh granul melewati corong (waktu alir tidak lebih dari 10 detik)
b. Uji
pembentukan sudut
a) Granul
yang telah melewati corong akan membentuk gundukan seperti gunung
b) Ukur
tinggi tumpukan granul (h)
c) Ukur
jari-jari tumpukan granul (r)
d) Hitung
besar susut
yang dibentuk dengan rumus :
Tan
α = h/r
c. Uji
kompresibilitas / kemampatan
a) Masukkan
granul dalam gelas ukur
b) Ukur
tinggi awal dari granul
c) Ketuk
gelas ukur sampai tidak terjadi perubahan tinggi
d) Ukur
tinggi akhir dari granul
e) Hitung
prosentase nilai kemampatannya dari selisih tinggi akhir dan awal
f) Kompresibilitas =
x 100 %
Vo
= Volume awal granul
Vi
= Volume granul setelah diketukkan
Tabel
2.1 Kompressibilitas dan daya alir. (Lachman, 1989: 400)
%
Kompressibilitas
|
Daya
Alir
|
5-15
12-16
18-21
23-35
33-38
>40
|
Baik
sekali
Baik
Sedang-
dapat lewat
buruk
sangat
buruk
sangat
buruk sekali
|
5. Pengujian
mutu fisik tablet :
a. Uji
keseragaman bobot
a) Diambil
20 butir tablet
b) Ditimbang
satu per satu
c) Dihitung
bobot rata-rata tablet
b. Uji
kekerasan
a) Diambil
5 tablet
b) Tablet
diletakkan ditengah dan tegak lurus dengan plan penekan hardness tester
c) Atur
skala pada skala 0 setelah itu putar pelan-pelan sampai tablet pecah
c. Uji
waktu hancur
a) Diambil
6 tablet
b) Diambil
kira-kira 1,5 L air,panaskan pada suhu 370 C selama 15 menit
c) Dimasukkan
masing-masing tablet pada alat disintegrator
d) Dimasukkan
pada air yang telah dipanaskan
e) Amati
dan catat waktu sampai semua tablet pada tabung disintegrator terlarut sempurna
d. Uji
kerapuhan
a) Ditimbang
20 tablet bersama-sama masukkan dalam alat friabilator
b) Tunngu
samapai 100 putaran
c) Diambil
tablet, kemudian ditimbang
d) Hitung
kerapuhan tablet
e. Uji
keseragaman ukuran
a) Diambil
10 tablet
b) Hitung
diameter dan ketebalan dari masing-masing tablet dengan menggunakan jangka
sorong
c) Catat
hasilnya
Daftar Pustaka
1. Anonim.
1979. Farmakope Indonesia edisi III.
Jakarta : Departemen Kesehatan RI
2. Anonim.
1995. Farmakope Indonesia ediai IV.
Jakarta : Departemen Kesehatan RI
3. Pharmacopee Ned edisi V
4. Departemen
Kesehatan RI. 1978. Formularium
Nasional edisi II. Jakarta
5. Ansel.
1989. Pengantar Bentuk Sediaan
Farmasi. Jakarta : UI press
6. Voigt.
1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi.
Yogyakarta : UGM Press
7. Lachman
dkk. 1994. Teori Dan Praktek Farmasi
Industri. Jakarta : UI Press
8. Van
Duin. 1947. Ilmu Resep.
Jakarta : Soeroengan
9. Soetopo
dkk. 2002. Ilmu Resep Teori.
Jakarta : Departemen Kesehatan
10. Anief.
2006. Ilmu Meracik Obat.
Yogyakarta : UGM Press. (#Akfar
PIM/2010)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar