Sabtu, 22 Maret 2014

Tekhnologi Sediaan Solid (Tablet)

 
Tablet adalah sediaan padat, dibuat secara kempa - cetak berbentuk rata atau cembung rangkap, umumnya bulat mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai zat pengisi, zat pengembang, zat pengikat, zat pelican, zat pembasah atau zat lain yang cocok.
Adapun keuntungan bentuk sediaan tablet adalah :
a.       Merupakan bentuk sediaan yang utuh dan mempunyai ketepatan ukuran serta variabilitas kandungan yang paling rendah daripada bentuk yang lain.
b.      Merupakan bentuk sediaan oral yang paling ringan
c.       Merupakan bentuk sediaan yang paling mudah dan murah dalam pembuatan, pengemasan dan pengeringan.
d.      Merupakan bentuk sediaan oral yang mudah pemakaiannya
e.       Pemberian tanda pengenal produk pada tablet paling mudah dan murah
f.       Dapat dijadikan produk dengan pelepasan khusus, seperti pelepasan terkendali/produk lepas lambat.
Adapun kekurangan bentuk sediaan tablet adalah :
a.       Beberapa obat tidak dapat dikempa menjadi padat dan kompak, tergantung pada keadaan amorfnya, flokulasi/rendahnya berat jenis
b.      Obat yang mempunyai sifat sukar dibasahkan, lambat melarut, dosisnya sedang/tinggi, atau kombinasi dari sifat diatas akan suakr diformualsi dalam bentuk tablet yang mempunyai bioavailabilitas yang cukup
c.       Obat yang rasanya pahit dan obat dengan bau tidak enak tidak dapat dihilangkan, obat yang peka terhadap oksigen/lembab terhadap udara perlu pengapsulan, penyelubungan/penyalutan dahulu sebelum dikempa.

Metode Pembuatan Tablet
Tablet bisa dibuat dengan cara dicetak dan dikempa (kompresi). Metode yang umum digunakan dalam pembuatan tablet adalah metode granulasi basah, granulasi kering dan kempa langsung.
1.      Metode granulasi basah (wet granulation)
Metode ini merupakan metode yang paling sering dan banyak digunakan dalam memproduksi tablet, langkah yang harus diperhatikan dalam pembuatan tablet dengan metode ini dapat dibagi sebagai berikut : penimbangan dan pencampuran bahan, penambahan bahan pengikat, pengayakan adonan lembab menjadi granul, pengeringan, pengayakan granul kering, pencampuran bahan pelican, pengempaan tablet. Sejumlah bahan yang akan ditambahkan kedalam campuran obat harus memberikan kelembaban yang cukup supaya serbuk dapat bercampur dengan meremas menggunakan tangan sampai secukupnya. Campuran granul yang terlalu basah juga dapat menyebabkan tablet keras dan waktu hancur yang panjang.
Keuntungan dari metode ini adalah :
a.       Menaikkan kohesifitas dan kompresibilitas serbuk sehingga diharapkan tablet yang dibuat dengan mengempa sejumlah granul pada tekanan kompresi tertentu akan menjadi massa yang kompak, mempunyai penampilan bagus, cukup keras dan tidak rapuh
b.      Untuk obat dengan sifat kompaktibilitas rendah dalam takaran tinggi dibuat dengan metode ini
c.       Sistem granulasi basah mencegah terjadinya segresi komponen penyusun tablet yang telah homogen selama proses pencampurannya
d.      Untuk zat yang hidrofob maka granulasi basah dapat memperbaiki kecepatan pelarutan obat dengan memilih pengikat yang cocok.
2.      Metode granulasi kering (Dry granulation)
Pada metode granulasi kering, granul terbentuk oleh penambahan bahan pengikat kedalam campuran serbuk obat tetapi dengan cara memadatkan masa yang jumlahnya besar dari campuran serbuk dan setelah itu memecahkannya menjadi pecahan-pecahan kedalam granul yang lebih kecil.
3.      Metode kempa langsung (Direct compression)
Metode kempa langsung dapat diartikan sebagai pembuatan tablet dengan cara mengempa langsung campuran bahan-bahan yang terbentuk kristal/serbuk tanpa mengubah karakteristik fisiknya.
Pembuatan tablet dengan metode kempa langsung khususnya digunakan untuk bahan-bahan kimia yang mempunyai sifat mudah mengalir dan mempunyai sifat kohesif yang memungkinkan untuk cetak langsung dalam mesin tablet.

Penggolongan Obat
Penggolongan obat dapat dibedakan berdasarkan atas :
1.      Berdasarkan Metode Pembuatan
Berdasarkan metode pembuatannya, dikenal dua jenis tablet, yaitu tablet cetak dan tablet kempa.
Tablet cetak dibuat dari bahan obat dan bahan pengisi yang umumnya mengandung laktosa dan serbuk sukrosa dalam berbagai perbandingan. Massa serbuk dibasahi dengan etanol persentase tinggi. Kadar etanol tergantung pada kelarutan zat aktif dan bahan pengisi dalam sistem pelarut, serta derajat kekerasan tablet yang diinginkan. Massa serbuk tablet yang lembab ditekan dengan tekanan rendah ke dalam lubang cetakan. Kemudian dikeluarkan dan dibiarkan kering.
Tablet kempa dibuat dengan memberikan tekanan tinggi pada serbuk atau granul menggunakan cetakan baja. Umumnya tablet kempa mengandung zat aktif, bahan pengisi, bahan pengikat, desintegran, dan lubrikan, tetapi dapat juga mengandung bahan pewrna dan lak (pewarna yang diabsorpsikan pada aluminium hidroksida yang tidak larut) yang diizinkan, bahan pengaroma, dan bahan pemanis.
2.      Berdasarkan Distribusi Obat dalam Tubuh
Berdasarkan distribusi obat dalam tubuh, tablet dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu:
a.       bekerja lokal : misalnya tablet isap untuk pengobatan pada rongga mulut, ovula untuk pengobatan pada infeksi di vagina.
b.      bekerja sistemik : per oral. Tablet yang bekerja sistemik dapat dibedakan menjadi : short acting (angka pendek) : dalam satu hari memerlukan beberapa kali menelan obat, long acting (jangka panjang) : dalam satu hari cukup menelan satu tablet.
3.      Berdasarkan Jenis Bahan Penyalut
Berdasarkan jenis bahan penyalut, tablet dapat dibedakan menjadi:
a.       Tablet salut biasa / salut gula (dragee), disalut dengan gula dari suspensi dalam air mengandung serbuk yang tidak larut, seperti pati, kalsium karbonat, talk, atau titanium dioksida yang disuspensikan dengan gom akasia atau gelatin.
b.      Tablet salut selaput (film-coated tablet), disalut dengan hidroksi propil metil selulosa, metil selulosa, hidroksi propil selulosa, Na-CMC, dan campuran selulosa asetat ftalat dengan PEG yang tidak mengandung air atau mengandung air.
c.       Tablet salut kempa adalah tablet yang disalut secara kempa cetak dengan massa granulat yang terdiri atas laktosa, kalsium fosfat, dan zat lain yang cocok. Mula-mula dibuat tablet inti, kemudian dicetak lagi bersama granulat kelompok lain sehingga terbentuk tablet berlapis.
d.      Tablet salut enteric (enteric-coated tablet), atau lepas tunda, yakni jika obat dapat rusak atau menjadi tidak aktif akibat cairan lambung atau dapat mengiritasi mukosa lambung, maka diperlukan penyalut enterik yang bertujuan untuk menunda pelepasan obat sampai tablet melewati lambung.
e.       Tablet lepas lambat, atau tablet dengan efek diperpanjang, yang dibuat sedemikian rupa sehingga zat aktif akan tetap tersedia selama jangka waktu tertentu setelah obat diberikan.
4.      Berdasarkan Cara Pemakaian
Berdasarkan cara pemakaiannya, tablet dapat dibagi menjadi:
a.       Tablet biasa / tablet telan. Dibuat tanpa penyalut, digunakan per oral dengan cara ditelan, pecah di lambung.
b.      Tablet kunyah. Bentuknya seperti tablet biasa, cara pakainya dikunyah dulu dalam mulut kemudian ditelan, umumnya tidak pahit.
c.       Tablet isap (lozenges, trochisi, pastiles), adalah sediaan padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat, umumnya dengan bahan dasar beraroma dan manis, yang membuat tablet melarut atau hancur perlahanlahan dalam mulut.
d.      Tablet larut (effervescent tablet). Contohnya Ca-D-Redoxon, tablet efervesen Supradin.
e.       Tablet implant (pelet). Tablet kecil, bulat atau oval putih, steril, dan berisi hormon steroid, dimasukkan ke bawah kulit dengan cara merobek kulit sedikit, kemudian tablet dimasukkan, dan kulit dijahit kembali. Zat khasiat akan dilepas perlahan-lahan.
f.       Tablet hipodermik (hypodermic tablet). Tablet steril, umumnya berbobot 30 mg, larut dalam air, digunakan dengan cara melarutkan ke dalam air untuk injeksi secara aseptik dan disuntikkan di bawah kulit (subkutan).
g.      Tablet bukal (buccal tablet), digunakan dengan cara meletakkan tablet di antara pipi dan gusi, sehingga zat aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut.
h.      Tablet sublingual, digunakan dengan cara meletakkan tablet di bawah lidah sehingga zat aktif secara langsung melalui mukosa mulut, diberikan secara oral.
i.        Tablet vagina (ovula).

Syarat Tablet
Menurut Farmakope Ed.III (1979) tablet harus memenuhi syarat sebagai berikut:
1.      Keseragaman Ukuran. Diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 Vz tebal tablet.
2.      Keseragaman Bobot. Tablet tidak bersalut harus memenuhi syarat keseragaman bobot yang ditetapkan.
3.      Waktu hancur tablet tidak bersalut enteric

Pembuatan Tablet
Untuk pembuatan tablet diperlukan zat tambahan berupa :
1.      Zat pengisi dimaksudkan untuk memperbesar volume tablet. Biasanya digunakan Saccharum Lactis, Amylum Manihot, Calcii Phoshas, Calcii Carbonas dan zat lain yang cocok.
2.      Zat pengikat dimaksudkan agar tablet tidak pecah atau retak, dapat merekat. Biasanya digunakan adalah mucilage Gummi Arabica 10 - 20% (panas), Solutio Methylcellulosum 5%.
3.      Zat penghancur, dimaksudkan agar tablet dapat hancur dalam perut. Biasanya yang digunakan adalah Amylum Manihot kering, Gelatinum, Agar - agar. Natrium Alginat.
4.      Zat pelicin, dimaksudkan agar tablet tidak lekat pada cetakan. Biasanya digunakan Talcum 5%, Magnesii Stearas, Acidum Stearanicum.
Persyaratan yang ditempatkan pada sebuah granulat adalah sebagai berikut:
1.      Dalam bentuk dan warna yang sedapat mungkin teratur
2.      Sedapat mungkin memiliki distribusi butir yang sempit dan mengandung bagian berbentuk serbuk lebih dari 10%
3.      Memiliki daya luncur yang baik
4.      Menunjukkan kekompakan mekanis yang memuaskan - Tidak terlampau kering (sisa lembab 3 - 5 %)
5.      Hancur baik didalam air. (Akfar PIM/2010)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar