Sabtu, 26 September 2015

AKTIVITAS ANTIBAKTERI KUBIS (Brassica olaraceae Var. Capitata alba) DAN SINGAWALANG (Petiveria alliacea L) TERHADAP BAKTERI PENYEBAB INFEKSI NOSOKOMIAL

 
AKTIVITAS ANTIBAKTERI KUBIS (Brassica olaraceae Var. Capitata alba) DAN SINGAWALANG (Petiveria alliacea L) TERHADAP BAKTERI PENYEBAB INFEKSI NOSOKOMIAL

Ali Ridwan dan Pistiyani Tri Wahyuni
September 2015

Sekolah Tinggi Farmasi Bandung, Jalan Soekarno Hatta No. 754 Bandung.

ABSTRAK
Latar belakang: Infeksi nosokomial adalah infeksi yang mulai menunjukkan suatu gejala selama pasien itu dirawat atau setelah selesai dirawat di rumah sakit. Kubis (Brassica oleraceae) dan singawalang (Petiveria alliacea L) diketahui memiliki khasiat sebagai antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri kubis dan singawalang terhadap bakteri penyebab infeksi nosokomial. Metode: Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan menentukan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) menggunakan metode mikrodilusi. Kemudian data KBM terbaik dilanjutkan ke uji Scanning Electron Microscopi (SEM). Hasil: Konsentrasi hambat minimum ekstrak etanol kubis dari ketiga bakteri yaitu Baccilus cereous (1024 µg/mL), Salmonella thypi (4096 µg/mL), dan Acinetobacter baumanni (1024 µg/mL). Konsentrasi hambat minimum fraksi etanol kubis terhadap bakteri Acinetobacter baumannii yaitu fraksi N-heksan (128 µg/mL), fraksi Etil asetat (256 µg/mL), dan fraksi air (512 µg/mL). KBM untuk ekstrak kubis dari ketiga bakteri yaitu Baccilus cereous (2048 µg/mL), Salmonella thypi (8192 µg/mL), dan Acinetobacter baumanni (1024 µg/mL). Konsentrasi bunuh minimum fraksi kubis terhadap bakteri Acinetobacter baumannii yaitu fraksi   N-heksan (512 µg/mL), fraksi etil asetat (1024 µg/mL), dan fraksi air (512 µg/mL). KHM ekstrak etanol singawalang terhadap Salmonella typhi (4096 µg/mL), pada Bacillus cereus dan Acinetobacter baumannii (1024 µg/mL). KBM pada ekstrak untuk semua bakteri lebih dari 1024 µg/mL. Pengujian fraksi untuk bakteri Acinetobacter baumannii KHM semua fraksi (1024 µg/mL), pada Bacillus cereus KHM fraksi n-heksan (32 µg/mL), fraksi etil asetat (256 µg/mL), dan fraksi air (1024 µg/mL). KBM semua fraksi pada bakteri Acinetobacter baumannii lebih dari (2048 µg/mL), KBM Bacillus cereus pada fraksi n-heksan (256 µg/mL) sedangkan fraksi etil asetat dan air lebih dari (2048 µg/mL). Hasil uji SEM pada fraksi kubis pada Acinetobacter baumannii dan fraksi singawalang pada Bacciuls Cerreous menunjukkan adanya perubahan marfologi bakteri sebelum dan sesudah dipapar ekstrak. Kesimpulan: Ekstrak etanol dan fraksi dari kubis (Brassica oleraceae) dan singawalang (Petiveria alliacea L.) memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri penyebab infeksi nosokomial tetapi daya hambatnya lebih lemah dari Amoksisilin.

Kata Kunci : Antibakteri, Ekstrak Etanol dan Fraksi, Kubis (Brassica Oleraceae) dan singawalang (Petiveria alliacea L), Infeksi Nosokomial



ANTIBACTERIAL ACTIVITY OF CABBAGE (Brassica oleracea Var. Capitata alba) AND  SINGAWALANG (Petiveria alliacea L) AGAINST BACTERIA COUSE INFECTION NOSOCOMIAL

Ridwan, Ali and Wahyuni, Pistiyani Tri
September 2015

Sekolah Tinggi Farmasi Bandung, Jalan Soekarno Hatta No. 754 Bandung.

ABSTRACT
Background: Nosocomial infections are infections that begin to show symptoms for a patient was treated or after completion hospitalized. Cabbage (Brassica oleraceae) and singawalang (Petiveria alliacea L) is known to have antimicrobial properties. This study aimed to determine the antibacterial activity of cabbage and singawalang against bacteria that cause nosocomial infections. Methods: The test of antibacterial activity was done by determining the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bactericidal Concentration (MBC) using the microdilution method. Then best data MBC continued to test Microscopi scanning electron (SEM). Results: Minimum inhibitory concentration of cabbage ethanol extract against three bacteria were Baccilus cereous (1024 µg/mL), Salmonella thypi (4096 µg/mL), and Acinetobacter baumanni (1024 µg/mL). Minimum inhibitory concentration fraction of cabbage against bacteria Acinetobacter baumannii were N-hexane fraction (128 µg/mL), ethyl acetate fraction (256 µg/mL), and water fraction (512 µg/mL). Minimum bactericidal concentration of cabbage ethanol extract against three bacteria were Baccilus cereous (2048 µg/mL), Salmonella thypi (8192 µg/mL), and Acinetobacter baumanni (1024 ug/mL). Minimum bactericidal concentration fraction of cabbage to the bacteria Acinetobacter baumannii were  N-hexane fraction (512 µg/mL), ethyl acetate fraction (1024 µg/mL), and water fraction (512 µg/mL). MIC ethanol extract singawalang against Salmonella typhi (4096 µg/mL), the Bacillus cereus and Acinetobacter baumannii (1024 µg/mL). MBC in for all bacterial extract more than (1024 µg/mL). Testing for bacteria Acinetobacter baumannii fraction MIC all fractions (1024 µg/mL), the Bacillus cereus MIC n-hexane fraction (32 µg/mL), ethyl acetate fraction (256 µg/mL) and water fractions (1024 µg/mL). MBC all fractions in bacteria Acinetobacter baumannii more than (2048 µg/mL), MBC Bacillus cereus the n-hexane fraction was (256 µg/mL), while the fraction of ethyl acetate and water more than (2048 µg/mL). SEM results indicated there were morphological changed of cobbage to Acinetobacter baumannii and singawalang to Baccilus cereous when before and after exposure to cobbage and singawalang fraksion. Conclusion: Ethanol extract and fractions of cabbage (Brassica oleraceae) and singawalang (Petiveria alliacea L.)  has antibacterial activity against bacteria that cause nosocomial infections but weaker than Amoxicillin.

Keywords: Antibacterials, Ethanol Extract and Fraction, Cabbage (Brassica Oleraceae) and singawalang (Petiveria alliacea L), Nosocomial Infection.



Pendahuluan

Latar Belakang
Infeksi nosokomial adalah infeksi yang muncul selama pasien dirawat di rumah sakit dan mulai menunjukkan suatu gejala selama pasien itu dirawat atau setelah selesai dirawat disebut infeksi nosokomial (Hidayat, 2008). Nosokomial atau infeksi rumah sakit adalah infeksi yang terjadi pada pasien selama proses perawatan di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya yang tidak ada saat masuk rumah sakit. Berdasarkan data dari sejumlah negara, dapat diperkirakan bahwa setiap tahun, ratusan juta pasien di seluruh dunia dipengaruhi oleh infeksi ini. Infeksi ini lebih tinggi di negara-negara berkembang dibandingkan dengan negara maju (WHO, 2011).

Infeksi Nosokomial saat ini merupakan salah satu penyebab meningkatnya angka kesakitan (morbidity) dan angka kematian (mortality) di rumah sakit, sehingga dapat menjadi masalah kesehatan baru, baik di negara berkembang maupun di negara maju. Angka kejadian infeksi nosokomial telah dijadikan salah satu tolak ukur mutu pelayanan rumah sakit. Izin operasional sebuah rumah sakit bisa saja dicabut karena tingginya angka kejadian infeksi nosokomial. Bahkan pihak asuransi tidak mau membayar biaya yang ditimbulkan akibat infeksi nosokomial sehingga pihak penderita sangat dirugikan (Darmadi, 2008).

Infeksi nosokomial banyak terjadi di seluruh dunia dengan kejadian terbanyak di negara miskin dan negara yang sedang berkembang  karena penyakit-penyakit infeksi masih menjadi penyebab utama.  Suatu penelitian yang yang dilakukan oleh WHO menunjukkan bahwa sekitar 8,7% dari 55 rumah sakit dari 14 negara yang berasal dari Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara dan Pasifik tetap menunjukkan adanya infeksi nosokomial dengan Asia Tenggara sebanyak10,0% (Ducel, G, 2002).

Sebagai perbandingan, bahwa tingkat infeksi nosokomial yang terjadi di beberapa negara Eropa dan Amerika rendah yaitu sekitar 1% dibandingkan dengan kejadian di negera-negara Asia, Amerika Latin dan Sub-Sahara Afrika yang tinggi hingga mencapai lebih dari 40%. Menurut data WHO, angka kejadian infeksi di RS sekitar 3 – 21% (rata-rata 9%). Infeksi nosokomial merupakan persoalan serius yang dapat menjadi penyebab langsung maupun tidak langsung kematian pasien (Depkes, 2010).

Prevalensi infeksi nosokomial di negara-negara berpendapatan tinggi (high income countries) lebih kecil daripada di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah (low and middle income countries). Berdasarkan data dari beberapa penelitian pada tahun 1995-2010, prevalensi infeksi nosokomial di negara-negara berpendapatan tinggi berkisar antara 3,5% - 12%; sementara prevalensi di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah berkisar antara 5,7% - 19,1% (Wikansari et al., 2012).

Semua mikroorganisme termasuk bakteri, virus, jamur dan parasit dapat menyebabkan infeksi nosokomial. Infeksi ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme yang didapat dari orang lain (cross infection) atau disebabkan oleh flora normal dari pasien itu sendiri (endogenous infection). Kebanyakan infeksi yang terjadi di rumah sakit ini lebih disebabkan karena faktor eksternal, yaitu penyakit yang penyebarannya melalui makanan, udara, dan benda, atau bahan-bahan yang tidak steril. Penyakit yang didapat dari rumah sakit saat ini kebanyakan disebabkan oleh mikroorganisme yang umumnya selalu ada pada manusia yang sebelumnya tidak atau jarang menyebabkan penyakit pada orang normal (Ducel, G, 2002).

Agen infeksi nosokomial sebagian besar adalah mikroorganisme. Sembilan puluh persen dari penyebab infeksi nosokomial disebabkan oleh bakteri, sedangkan mikobakteri, virus, jamur atau protozoa tidak umum menyebabkan infeksi nosokomial. Bakteri yang sering menyebabkan infeksi nosokomial yaitu Staphylococcus aureus, Streptococcus spp., Bacillus cereus, Acinetobacter spp., koagulase staphylococcus negative, Enterococci, Pseudomonas aeruginosa, Legionella dan keluarga Enterobacteriaceae seperti Erchericia coli, Proteus mirabilis, Salmonella spp., Serratia marcescens dan Klebsiella pneunomonia (Bereket dkk, 2012).

Salah satu tumbuhan obat yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengatasi masalah infeksi karena bakteri dan jamur adalah kubis (Brassica oleracea var. capitata alba). Dilaporkan bahwa kubis dapat dimanfaatkan untuk mengobati gatal akibat jamur candida (candidiasis), jamur di kulit kepala, tangan, dan kaki, radang sendi (artritis), Antidote pada mabuk alkohol (hangover), racun di hati, menghilangkan keluhan prahaid (premenstrual sindrom), mencegah tumor membesar, mencegah kanker kolon dan rektum, borok (ulcus) pada saluran cerna, dan sulit buang air besar (sembelit). (Dalimartha, 2000).

Selain kubis, salah satu bahan alam yang terlihat aktivitas antibakteri dengan baik adalah bahan alam singawalang (Petiveria alliacea L.). Singawalang adalah tanaman dari Keluarga Phytolaccaceae, dikenal dengan nama yang berbeda di berbagai negara di Amerika Tengah dan Selatan, Karibia dan Afrika ( Pacheco, dkk, 2013). Di Indonesia tanaman ini dikenal dengan nama singawalang. Di Amerika selatan dan tengah singawalang sudah popular digunakan sebagai obat untuk gangguan penyakit (Gomes dkk, 2008). Berbagai penggunaan farmakologis dari tanaman ini telah dibuktikan, seperti analgesik, insect repellent, acaricide, antibakteri, dan antijamur (Soares, dkk, 2014).

Dari beberapa hasil studi juga diketahui bahwa Brassica oleraceae dan Petiveria alliacea memiliki khasiat sebagai antimikroba secara in vitro terhadap berbagai patogen, termasuk pada bakteri penyebab infeksi nosokomial. Untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari ekstrak kubis dan ekstrak singawalang ini peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai aktivitas daya antibakteri ekstrak kubis dan ekstrak singawalang terhadap bakteri penyebab penyakit infeksi nosokomial, dalam hal ini digunakan tiga jenis bakteri yaitu Bacillus cereus, Salmonella thypi, dan Acinetobacter baumannii.


Metode Penelitian

Penentuan aktivitas antibakteri ekstrak etanol dan fraksi dari kubis dan singawalang terhadap bakteri penyebab infeksi nosokomial ini dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu persiapan alat dan bahan, determinasi tanaman, pembuatan ekstrak menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96% yang dilanjutkan pemekatan ekstrak dengan menggunakan alat rotary evaporator. Uji karakteristik simplisia meliputi skrining fitokimia, karakterisasi, dan fraksinasi. Skrining fitokimia dan karakterisasi dilakukan untuk mengetahui golongan senyawa kimia yang terkandung dalam bahan tanaman.

Skrining fitokimia dari ekstrak etanol terdiri dari pemeriksaan kualitatif senyawa golongan alkoloid, saponin, tanin, flavonoid, kuinon, dan steroid/triterpenoid. Karakterisasi dari ekstrak etanol ialah kadar air, kadar sari larut air, dan kadar sari larut etanol. Fraksinasi dilakukan untuk memisahkan fase N-heksan, fase Etil asetat dan  fase air.

Pengujian aktivitas antimikroba ekstrak etanol dan fraksi dari kubis dan singawalang terhadap bakteri Salmonella typhi, Acinetobacter baumannii, dan Bacillus cereus   dilakukan dengan menentukan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) dengan menggunakan metode mikrodilusi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan membandingkan antara bahan uji dengan antibiotika yang umumnya digunakan dalam aplikasi klinis yaitu Amoksisilin. Kemudian dilakukan uji Scanning Electron Microscopi (SEM) untuk mengetahui perubahan marfologi bakteri uji.


Alat, Bahan, dan Bakteri

Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini meliputi autoklaf, erlenmeyer 250 mL, erlenmeyer 500 mL, beaker gelas 250 mL, beaker gelas 250 mL, beaker gelas 500 mL, tabung reaksi, cawan petri, spatel, pipet volum 1 mL, 2 mL, dan 5 mL, mikropipet, lampu spirtus, ingkubator, spektrofotometer, silika gel, evaporator, mikro plate, dan jarum ose.

Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian yaitu tanaman kubis dan simplisia tumbuhan singawalang, dimetil sulfoksida (DMSO), Nutrien agar, Muller-hilton broth, etanol 96, Pereaksi Mayer, pereaksi Dragendorf, pereaksi Wagner, pereaksi Lieberman Burchardat, kloroform, ammonia, air suling, eter, H2SO4, FeCl3 1%, metanol 30%. Media MHA, media MHB, antibiotik amoksisilin.

Bakteri
Bakteri yang digunakan ada tiga yaitu Bacillus cereus, Salmonella thypi, dan Acinetobacter baumannii


Prosedur

Pengumpulan Bahan dan Determinasi
Tanaman Brassica oleraceae di peroleh dari daerah Lembang, Bandung dan simplisia tumbuhan singawalang (Petiveria alliacea L.) diperoleh dari daerah Gumuruh Bandung. Determinasi tanaman dilakukan di departemen FMIPA Biologi, Universitas Padjajaran, Bandung.

Pembuatan Ekstrak
Pada penelitian ini dilakukan ekstraksi dengan cara maserasi terhadap tanaman kubis segar dan simplisia tumbuhan singawalang

Ekstraksi Tanaman Kubis
Tanaman kubis sebanyak 2 kg dirajang kemudian dimasukkan ke dalam bejana lalu ditambahkan 5 liter etanol 96% sampai terendam, ditutup dan dibiarkan selama 1 hari terlindung dari cahaya sambil diaduk berulang-ulang. Setelah 1 hari, filtrat dikumpulkan dan ampas direndam dengan pelarut etanol 96% yang baru, maserasi ini dilakukan 3x24 jam. Setelah 3x24 jam filtrat yang didapat diuapkan dengan menggunakan evaporator hingga diperoleh ekstrak kental.

Ekstraksi Tumbuhan Singawalang
Sebanyak 800 gram tanaman, yaitu daun, bunga dan batang singawalang dicuci hingga bersih dan dilakukan sortasi basah, setelah bebas air (kering) kemudian dirajang dengan alat perajang. Bahan dikeringkan dengan cara dioven pada suhu 400C - 500C, pada bahan kering dilakukan sortasi kering kemudian diserbukkan menggunakan blender. Ekstrak singawalang dibuat dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dimaserasi selama 3 hari (setiap hari digojok ). Ekstrak kemudian disaring menggunakan kertas saring hingga didapat filtrat 1, kemudian residu diekstraksi kembali selama 2 hari menggunakan etanol 96% didapat filtrat 2. Selanjutnya filtrat 1 dan 2 dikumpulkan, diuapkan menggunakan Vacuum evaporator pada suhu 70 0C sampai volumenya menjadi ¼ dari volume awal, dan dilanjutkan dengan pengentalan yang dilakukan dengan menggunakan waterbath dengan suhu 60 0C sampai menjadi ekstrak kental.

Fraksinasi
Fraksinasi dilakukan terhadap ekstrak etanol kubis dan singawalang dilakukan dengan menggunakan 2 jenis pelarut, yaitu n-heksan dan etil asetat. Ekstrak etanol dilarutkan dengan metanol-air (2:10) lalu ditempatkan dalam corong pisah, ke dalamnya ditambahkan pelarut n-heksan dengan perbandingan 1 : 1, kemudian dikocok secara perlahan hingga tercampur, kemudian didiamkan hingga tepat memisah menjadi 2 fase yang terdiri dari fase n-heksan dan fase air. Fase n-heksan dipisahkan dan fase air difraksinasi kembali hingga tiga kali. Fase n-heksan yang telah terkumpul dipekatkan menggunakan alat rotary evaporator dan penangas air. Fase air difraksinasi kembali dengan menggunakan pelarut etil asetat dengan perbandingan 1 : 1, proses fraksinasi ini dilakukan tiga kali hingga diperoleh fase etil asetat dan fase air, yang masing-masing dipekatkan dengan alat rotary evaporator dan penangas air. Dari fraksinasi, diperoleh 3 fraksi , yaitu fraksi n-heksan, etil asetat dan air (Mulyani dkk, 2011).

Karakterisasi Ekstrak
Karakterisasi ekstrak dilakukan dengan melakukan uji non spesifik dan uji spesifik.  

Uji non spesifik
Uji non spesifik ini meliputi uji kadar air, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, dan kadar abu total.

Penetapan kadar air
Penetapan kadar air dilakukan dengan cara destilasi. Tabung penerima pendingin dibersihkan dengan asam, dibilas dengan air, lalu dikeringkan. Kedalam labu kering dituangkan 200 mL toluene dan 2 mL air, disuling selama 2 jam, didinginkan selama 30 menit, kemudian volume dibaca dengan ketelitian 0,05 mL. Hasil yang diperoleh disebut dengan distilat pertama. Ekstrak yang diperkirakan mengandung 2 sampai 4 mL air dan batu didih dimasukkan kedalam labu distilasi kemudian dipanaskan perlahan hingga mendidih. Kecepatan penyulingan diatur lebih kurang 2 tetes tiap detik, setelah sebagian besar air tersuling, kecepatan penyulingan dinaikkan hingga 4 tetes tiap detik. Setelah semua air tersuling, bagian dalam pendingin dicuci dengan toluena, penyulingan dilanjutkan selama 5 menit. Tabung penerima dibiarkan mendingin hingga suhu kamar dan air yang menempel pada tabung penerima dilepaskan dengan mengetuk-ngetuk tabung. Lapisan air dan toluena dibiarkan memisah, kemudian dibaca volume airnya. Volume yang terbaca disebut sebagai volume distilat kedua. Kadar air dinyatakan dalam persen dengan persamaan. Dengan W sebagai berat ekstrak (g), n1 sebagai volume destilat kedua atau volume total air dan n sebagai volume distilat pertama atau volume air setelah penyulingan pertama (Depkes RI, 2000)

Penetapan Kadar Sari Larut Air
Sebanyak 5 gram sampel dimaserasi dengan 100 ml air-kloroform (larutan 1 mL kloroform P dengan air hingga 100 mL) selama 24 jam menggunakan labu bersumbat sambil berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama dan kemudian dibiarkan selama 18 jam. Setelah selesai, disaring dengan kertas saring dan 20 mL filtratnya diuapkan hingga kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara. Kemudian cawan tersebut dipanaskan pada suhu 1050C hingga bobot tetap. Kadar sari larut dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Depkes RI, 2000)

Penetapan Kadar Sari Larut Etanol
Sebanyak 5 gram sampel dimaserasi dengan 100 mL etanol 95% selama 24 jam menggunakan labu bersumbat sambil berkali kali dikocok 6 jam pertama kemudian dibiarkan 18 jam. Hasil maserasi disaring cepat dan 20 mL filtratnya diuapkan hingga kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara. Kemudian cawan tersebut dipanaskan pada suhu 1050C hingga bobot tetap. Kadar sari larut etanol dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Depkes RI, 2000)

Penetapan Kadar Abu Total
Sebanyak 2 gram sampel dimasukkan ke dalam krus silikat yang telah dipanaskan dan ditara. Dipijarkan sampai arang habis, didinginkan pada desikator dan ditimbang. Sampel dipanaskan hingga bobot tetap dan disimpan pada tanur (5000C). Kadar abu total dihitung terhadap berat bahan uji, dinyatakan dalam %b/b.

Uji Spesifik
Uji spesifik ini meliputi penetapan kadar alkaloid, flavonoid, kuinon, saponin, tanin, terpenoid, dan triterpenoid.

Alkaloid
Sejumlah sampel dalam mortir, dibasakan dengan amonia sebanyak 1 mL, kemudian ditambahkan kloroform dan digerus kuat.Cairan kloroform disaring, filtrat ditempatkan dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan HCl 2N, campuran dikocok, lalu dibiarkan hingga terjadi pemisahan. Dalam tabung reaksi terpisah: Filtrat 1: Sebanyak 1 tetes larutan pereaksi Dragendorff diteteskan ke dalam filtrat, adanya alkaloid ditunjukkan dengan terbentuknya endapan atau kekeruhan berwarna hingga coklat. Filtrat 2: Sebanyak 1 tetes larutan pereaksi Mayer diteteskan ke dalam filtrat, adanya alkaloid ditunjukkan dengan terbentuknya endapan atau kekeruhan berwarna putih. Filtrat 3: Sebagai blangko atau kontrol negatif (DepKes RI,1989).

Flavonoid
Ekstrak ditambah sedikit air, pindahkan dalam tabung reaksi, ditambahkan sedikit logam magnesium dan 5 tetes HCl 2N, seluruh campuran dipanaskan selama 5–10 menit. Setelah disaring panas–panas dan filtrat dibiarkan dingin, kepada filtrat ditambahkan amil alkohol, lalu dikocok kuat–kuat, reaksi positif dengan terbentuknya warna merah pada lapisan amil alkohol (DepKes RI, 1989).

Kuinon
Sampel ditambahkan dengan air, dididihkan selama 5 menit kemudian disaring dengan kapas.Pada filtrat ditambahkan larutan NaOH 1 N. Terjadinya warna merah menunjukkan bahwa dalam bahan uji mengandung senyawa golongan kuinon (Farnsworth, 1966).

Saponin
Sebanyak 10 mL filtrat A dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan dikocok vertikal selama 10 detik. Jika busa yang terbentuk stabil selama tidak kurang dari 10 menit setinggi 1-10 cm dan busa tidak hilang pada penambahan asam klorida 2 N menunjukkan adanya saponin.

Tanin
Filtrat sebanyak 5 mL dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditambahkan pereaksi besi (III) klorida, timbul warna hijau biru kehitaman, dan ditambahkan gelatin akan timbul endapan putih, bila ada tanin (DepKes RI, 1989).

Triterpenoid dan Steroid
Ekstrak ditambahkan eter, kemudian fase eter diuapkan dalam cawan penguap hingga kering, pada residu ditetesi pereaksi Lieberman-Burchard. Terbentuknya warna ungu menunjukkan kandungan triterpenoid sedangkan bila terbentuk warna hijau biru menunjukkan adanya senyawa steroid (Farnsworth, 1966).

Uji Aktivitas Antibakteri
Adapun tahap-tahapan dalam pengujian aktivitas antibakteri adalah sebagai berikut:

Sterilisasi Alat
Untuk pengujian aktivitas antibakteri diperlukan persiapan awal yaitu mensterilkan alat-alat yang akan digunakan, meliputi cawan petri, pipet volum, tabung reaksi, erlenmeyer, tip, dan eppendorf. Alat-alat ini disterilkan dalam autoklaf dengan sushu 1210 C selama 15 menit.

Pembuatan Larutan Uji
Pembuatan Larutan stok Ekstrak etanol dan antibiotik amoksisilin untuk bakteri Salmonella typhi, Bacillus cereus dan Acinetobacter baumannii ialah: sebanyak 20,48 mg ekstrak etanol singawalang/ antibiotik, dilarutkan dengan  DMSO (Dimethyl sulfoxida), ditambahkan dengan aquadest steril hingga 10 ml. Pembuatan Larutan stok ekstrak etanol kubis dan singawalang dan antibiotik untuk bakteri Salmonella typhi ialah: sebanyak 1,31 gram ekstrak etanol singawalang/ antibiotik, dilarutkan dengan DMSO (Dimethyl sulfoxida), dilarutkan dengan  DMSO (Dimethyl sulfoxida), ditambahkan dengan aquadest steril hingga 10 ml. Pembuatan Larutan stok fraksi n-heksan, etil asetat dan air untuk bakteri Bacillus cereus dan Acinetobacter baumannii ialah: sebanyak 40,96 mg fraksi dilarutkan dengan DMSO (Dimethyl sulfoxida), dilarutkan dengan  DMSO (Dimethyl sulfoxida), ditambahkan dengan aquadest steril hingga 10 ml.

Penyiapan Media Pembenihan
Media penyiapan pembenihan yang digunakan adalah Mueller hinton broth dan Nutrien agar. Mueller hinton broth: sebanyak 21 gram Muller hinton broth dilarutkan dalam 1 Litar aquadest didihkan dan diaduk hingga terbentuk larutan berwarna kekuningan dan jernih, kemudian disterilkan dalam autoklaf suhu 1210 C selama 15 menit. Nutrien agar : sebanyak 28 gram Nutrien agar dilarutkan dalam 1 liter aquadest dididihkan dan diaduk hingga terbentuk larutan berwarna kekuningan dan jernih, kemudian disterilkan dalam autoklaf 1210 C.

Pembuatan NaCl 0,9%
Sebanyak 0,9 gram NaCl dilarutkan dalam 100 ml aquades lalu didihkan dan diaduk hingga homogen, kemudian larutan NaCl disterilkan dalam autoklaf pada suhu 1210C selama 15 menit.

Penyediaan Bakteri
Bakteri ditanamkan di atas agar miring NA dalam tabung reaksi steril kemudian diingkubasi selama 18-24 jam sengan suhu 370 C.

Inokulasi Bakteri Pada Media Agar
Bakteri uji diambil dengan jarum ose steril, lalu ditanamkan pada media agar dengan cara menggores. Selanjutnya diinkubasi dalam inkubator pada suhu 370C selama 24 jam. Perlakuan yang sama dilakukan pada setiap jenis bakteri uji (Deby A. M.,dkk, 2012 ).

Pembuatan Standar Kekeruhan Larutan Mc. Farland
Suspensi Standar Mc. Farland adalah suspensi yang menunjukkan  konsentrasi kekeruhan bakteri sama dengan 108 CFU/mL. Komposisi suspensi Mc. Farland yaitu: Larutan Asam Sulfat 1% b/v 99,5 mL, Larutan Barium klorida 1,175% v/v 0,5 mL. Cara pembuatannya ialah: Larutan H2SO4 0,36 N sebanyak 99,5 ml dicampurkan dengan larutan BaCl2.2H2O 1,175% sebanyak 0,5 ml dalam erlenmeyer. Kemudian dikocok sampai terbentuk larutan yang keruh. Kekeruhan ini dipakai sebagai standar kekeruhan suspensi bakteri uji. Setelah itu diukur larutan McFarland hingga berada pada rentang absorban 0,08-0,1 pada panjang gelombang 625 nm. (Deby A. M.,dkk, 2012 ).

Pembuatan Suspensi Bakteri Uji
Bakteri uji yang telah diinokulasi diambil dengan kawat ose steril lalu disuspensikan kedalam tabung yang berisi 2 ml larutan NaCl 0,9% hingga diperoleh kekeruhan yang sama dengan standar kekeruhan larutan Mc.Farland 0,5. Perlakuan yang sama dilakukan pada setiap jenis bakteri uji (Deby A. M.,dkk, 2012).

Sterilisasi Bahan
Untuk pengujian aktivitas antibakteri diperlukan sterilisasi bahan yaitu mensterilkan Nutrien Agar, Mueller Hinton Broth, dalam autoklaf dengan suhu 1210 C selama 15 menit.

Penyediaan Suspensi Bakteri
Mikroba uji satu ose disuspensikan dalam dalam 10 mL NaCl fisiologis 0,9% dan kekeruhannya dibandingkan dengan suspensi McFarland 0,5.

Penentuan KHM dan KBM dengan Metode Mikrodilusi
Sebanyak 100 μL mueller hinton broth dimasukkan dalam pelat mikro pada kolom pertama (sebagai kontrol negatif). Suspensi mikroba sebanyak 5 μL ditambahkan ke dalam 10 mL mueller hinton broth kemudian diaduk dengan alat vortex. Sebanyak 100 μL campuran tersebut dimasukkan dalam pelat mikro pada kolom kedua sampai kedua belas. Pada kolom kedua belas, ditambahkan 100 μL larutan uji kemudian dihomogenkan. Dari kolom kedua belas, diambil 100 μL kemudian dipindahkan ke kolom kesebelas. Pengenceran terus dilakukan sampai pada kolom ketiga yang akan memiliki konsentrasi terkecil. Pelat diinkubasi pada suhu 37° C selama 24 jam kemudian diamati bagian yang jernih (tidak ada pertumbuhan mikroba). Konsentrasi terkecil di mana tidak  terlihat pertumbuhan mikroba ditetapkan sebagai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) (NCCLS, 2003). Kemudian bagian jernih dari KHM diambil masing-masing 5μL lalu ditanamkan pada media agar yaitu  MHA kemudian diinkubasi 18-24 jam. Jika tidak terlihat pertumbuhan mikroba pada media agar atau hanya tumbuh satu koloni bakteri maka konsentrasi tersebut ditetapkan sebagai Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM). Jika sediaan uji KHM kurang dari 100 µg/mL maka aktivitas antimikroba dikatakan kuat, jika KHM 100-500 µg/mL maka sediaan uji tersebut dikatakan moderat, jika KHM yang diproleh 500-1000 µg/mL maka aktivitas antimikrobanya dianggap lemah, dan jika KHM yang diperoleh lebih dari 1000 µg/mL sediaan uji dianggap tidak aktif.


Uji SEM
Sebelum dilakukan uji SEM, dilakukan preparasi pada bakteri dengan langkah-langkah sebagai berikut: Disiapkan biakan bakteri, Nacl, dan Vial, disiapkan konsentrasi ekstrak/fraksi sesuai dengan nilai KHM terbaik, dimasukan Nacl ke dalam vial 1 kemudian masukan biakan bakteri 1-3 ose sebagai kontrol positif, dimasukkan Nacl ke dalam vial 2 kemudian masukan biakan bakteri 1-3 ose. Lalu tambahkan ekstrak dengan konsentrasi yang telah ditentukan sebagai kontrol negatif, diingkubasi selama 1x24 jam. Divortex, dibuang supernantan, lalu ditambahkan formaldehid, terakhir dilakukan pengujian dengan menggunakan alat scanning elektrone. Uji SEM (Scanning Electron Microscope) ini digunakan untuk  mengetahui  gambar struktur mikro spesimen bakteri dan untuk melihat kemungkinan adanya perubahan marfologi bentuk bakteri.


Hasil dan Pembahasan

Pengujian aktivitas antibakteri terhadap ekstrak dan fraksi kubis untuk mengetahui aktivitas antibakteri terhadap bakteri penyebab infeksi nosokomial sehingga diharapkan dapat digunakan sebagai obat alternatif untuk mengobati infeksi pada infeksi nosokomial yang sudah memiliki landasan ilmiah.

Berdasarkan identifikasi yang dilakukan di Herbarium Jatinangor, Laboratorium Taksonomi Tumbuhan, Jurusan Biologi FMIPA UNPAD menunjukkan bahwa tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanaman kubis (Brassica oleraceae L) dan tumbuhan singawalang merupakan famili Phytoleaccaceae yang mempunyai nama ilmiah Petiveria Alliacea L

Kubis segar yang digunakan dalam penelitian sebanyak  2 kg dan kemudian dimaserasi menggunakan pelarut etanol 96% yang telah didestilasi selama 3x24 jam. Kemudian dilakukan evaporasi pada suhu 700 C, untuk memperoleh ekstrak yang murni dengan menguapkan pelarut yang tersisa di dalam ekstrak. Diperoleh persen rendemen sebesar: (54,27 gram/2000 gram) x 100% = 2,7135%. Sedangkan simplisia kering singawalang dimaserasi dengan pelarut etanol 96 dari 800 gram simplisia herba Singawalang diperoleg 104.1 gram ekstrak pekat dengan rendemen sebesar 13.0125%.

Setelah didapatkan ekstrak murni, dilanjutkan dengan melakukan skrining fitokimia. Berdasarkan literatur dilaporkan bahwa dalam kubis terdapat senyawa golongan alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, fenol, dan triterpenoid. Sedangkan pada tanaman singawalang terdapat alkoloid, flavonoid, tanin, terpenoid, dan saponin.


Tabel: Hasil Skrining Fitokimia dari Ekstrak Kubis
No       Golongan Senyawa                      Sampel Ekstrak
1          Alkoloid                                                     +
2          Flavonoid                                                    +
3          Tanin                                                           +
4          Saponin                                                       +
5          Triterpenoid                                                +
6          Steroid                                                         -
7          Fenol                                                           +

Tabel: Hasil Skrining Fitokimia dari Ekstrak Singawalang
No       Golongan Senyawa                      Sampel Ekstrak
1          Alkoloid                                                     +
2          Flavonoid                                                    +
3          Tanin                                                           +
4          Saponin                                                       +
5          Triterpenoid                                                +
6          Steroid                                                         -
7          Kuinon                                                         -
Keterangan : + : Terdeteksi     - : Tidak Terdeteksi


Selanjutnya dilakukan karakterisasi dengan malakukan uji kadar air, kadar sari larut air, dan kadar sari larut etanol. Untuk penentuan kadar air digunakan cara destilasi. Menurut literatur, kadar air dalam ekstrak tidak boleh lebih dari 10%. Hal ini bertujuan untuk menghindari cepatnya pertumbuhan jamur dalam ekstrak (Soetarno dan Soediro, 1997).

Pada pengujian kadar sari larut air, dilakukan pada ekstrak sebanyak 5 gram yang telah dikeringkan di udara, lalu dimaserasi selama 24 jam dalam 100 mL air kloroform (2,5 mL kloroform dalam air sampai satu liter), dalam labu bersumbat sambil sekali sekali dikocok pada 6 jam pertama. Kemudian dibiarkan selama 18 jam. Setelah disaring, 20 mL filtrat pertama diuapkan sampai kering menggunakan cawan berdasar rata yang telah ditara, sisa dipanaskan pada suhu 1050 C sampai bobot tetap. Kadar sari larut dalam air  dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara. Sedangkan  untuk pengujian kadar sari larut dalam etanol, ialah sebanyak 5 gram ekstrak yang telah dikeringkan di udara dimaserasi selama   24 jam dalam 100 mL etanol 95% dalam labu bersumbat sambil sesekali di aduk selama 6 jam pertama kemudian biarkan selama 18 jam. Setelah itu disaring cepat untuk menghindarkan penguapan etanol, 20 ml filtrat diuapkan sampai kering dalam cawan berdasar rata yang telah ditara, sisanya dipanaskan pada suhu 1050C sampai bobot tetap. Sari yang larut dalam etanol 95% dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara. (Depkes RI, 1995)


Tabel: Hasil Karakterisasi Ekstrak Kubis
No     Pengujian                                              Kadar
1        Kadar Air                                               17%
2        Kadar Sari Larut Air                                59,7%
3        Kadar Sari Larut Etanol                          85,84%

Tabel: Hasil Karakterisasi Ekstrak Singawalang
Sample
Parameter Uji
Hasil (%)
Rentang Persyaratan (%)
Simplisia
Kadar air
9.24
  10
Kadar sari larut air
24.75
  22
Kadar sari larut etanol
10.80
≥ 5
Kadar abu total
8.9
≤ 8
Ekstrak
Kadar air
 18.81
  10
Kadar sari larut air
22.60
  22
Kadar sari larut etanol
59.55
≥ 5
Kadar abu total
5.68
≤ 8


Untuk pengujian aktivitas antibakteri dari ekstrak dan fraksi kubis dilakukan terhadap 1 bakteri Gram (+) dan 2 bakteri Gram (-) penyebab infeksi nosokomial, dengan menggunakan metode mikrodilusi. Bakteri gram (+) yang digunakan adalah Baccilus Cereous dan bakteri Gram (-) yang digunakan yaitu Salmonella Thypi dan Acinetobacter Baumanni.

Pada percobaan ini digunakan 10 konsentrasi ekstrak dan fraksi kubis yang berbeda, dimulai dari 1024 ppm, 512 ppm, 256 ppm,    128 ppm, 64 ppm, 32 ppm, 16 ppm, 8 ppm, 4 ppm, dan 2 ppm. Ekstrak dan fraksi dilarutkan dengan DMSO (dimetil sulfoksi okside), karena pelarut ini dapat melarutkan senyawa polar maupun non polar di dalam ekstrak tanpa mempengaruhi aktivitas ekstrak tersebut.

KHM didefinisikan sebagai konsentrasi terendah dari senyawa yang dapat menurunkan 80% atau lebih pertumbuhan dibandingkan dengan kontrol (NCCLS). Sedangkan KBM didefinisikan sebagai konsentrasi terendah yang menujukkan tidak adanya pertumbuhan atau hanya tumbuh satu koloni.

Pada metode mikrodilusi, jika ekstrak menghasilkan KHM kurang dari 100 µg/mL, maka aktivitas antimikroba bisa dikatakan kuat, jika KHM 100-500 µg/mL maka aktivitas antimikroba dikatakan sedang, jika KHM diperoleh 500-1000 µg/mL maka aktivitas antimikroba dianggap lemah, dan jika KHM yang diperoleh lebih dari  1000 µg/mL sediaan uji dianggap tidak aktif (Holetz et all, 2002).


Tabel: Hasil Fraksinasi Ekstrak Etanol kubis
Fraksi             Ekstrak                 Fraksi kental         Rendemen
N-heksan         20 g                          0,23 g                  1,15%
Etil asetat         20 g                          0,5 g                    2,5%
Air                   20 g                          2,5 g                  12,5%

Tabel: Hasil Fraksinasi Ekstrak Etanol Singawalang
Fraksi             Ekstrak                 Fraksi kental         Rendemen
N-heksan         20 g                          2.3972 g            11,986 %
Etil asetat         20 g                          0,5 g                        2,5%
Air                   20 g                          6,91 g                  34,55%

Tabel: Hasil penentuan KHM dan KBM pada Amoksisilin dan Ekstrak
Mikroba
Amoksisilin (µg/ml)
        Ekstrak Kubis (µg/ml)
KHM
KBM
KHM
KBM
Baccilus cereous
64
256
1024
2048
Salmonella thypi
64
128
4096
8192
Acinetobacter baumannii
8
1024
1024
1024







Tabel: Hasil penentuan KHM dan KBM pada Fraksi dan Acinetobacter baumannii
Mikroba
Fraksi
n-heksan
Etil asetat
Air
KHM
KBM
KHM
KBM
KHM
KBM
Acinetobacter baumannii
128
512
256
1024
512
512


Dari pengujian yang dilakukan, pada Amoksisilin yang digunakan sebagai pembanding menunjukkan adanya aktivitas bakterisid dan bakteriostatik pada pertumbuhan bakteri, sehingga dapat dikatakan  bahwa metode yang digunakan valid. Pengujian pertama untuk mengetahui konsentrasi KHM dilakukan terhadap bakteri Baccilus cerreus. Dari hasil pengujian untuk Baccilus cerreous diperoleh KHM 1024 µg/ml untuk ekstrak kubis. Sedangkan untuk antibiotik pembanding yaitu Amoksisilin memiliki konsentrasi KHM 64 µg/mL yang berarti aktivitas antibakteri dari ekstrak kubis lebih lemah dibanding antibiotik pembanding. Pada pengujian KHM antibakteri terhadap Salmonella thypi ekstrak kubis memberikan daya hambat pada 4096 µg/mL. Sedangkan untuk antibiotik pembanding yaitu Amoksisilin memiliki konsentrsi KHM 64 µg/mL yang berarti aktivitas antibakteri dari ekstrak kubis juga lebih lemah dibanding antibiotik pembanding. Pada pengujian KHM antibakteri terhadap Acinetobacter baumanni ekstrak kubis memberikan daya hambat pada 1024 µg/mL. Sedangkan untuk antibiotik pembanding yaitu Amoksisilin memiliki konsentrasi KHM 8 µg/mL yang berarti aktivitas antibakteri dari ekstrak kubis juga masih lebih lemah dibanding antibiotik pembanding.

Pengujian kemudian dilanjutkan pada fraksi, untuk mengetahui konsentrasi KHM pada fraksi N heksan, fraksi Etil asetat, dan fraksi air dilakukan pada bakteri Acinetobacter baumannii. Dari hasil pengujian untuk Acinetobacter baumannii  diperoleh KHM 128 µg/mL untuk fraksi N-heksan, 256 µg/mL untuk fraksi Etil asetat, dan 512 µg/ml untuk fraksi air. Artinya, aktivitas antibakteri
dari ketiga fraksi yaitu fraksi N-heksan, fraksi Etil asetat, dan fraksi air lebih kuat dari ekstrak kubis, namun lebih lemah dari Amoksisilin.

Pada pengujian KBM dilakukan dengan menanam kembali sediaan uji yang telah diketahui KHM-nya ke dalam media nutrien agar tanpa senyawa uji selama 24 jam, kemudian diamati ada atau tidak adanya pertumbuhan bakteri. Pengujian KBM untuk ekstrak kubis pada  Baccilus cerreus didapat konsentrasi 2048 µg/mL, pada Salmonella thypi didapat konsentrasi 8192 µg/mL, dan pada Acinetobacter baumanni didapat konsentrasi 1024 µg/mL. Sedangkan pengujian KBM untuk ketiga fraksi terhadap Acinetobacter baumanni pada fraksi N-heksan diperoleh konsentrasi 128 µg/mL, pada fraksi Etil asetat diperoleh konsentrasi 1024 µg/mL, dan pada fraksi air diperoleh konsentrasi 512 µg/mL. Dari hasil KHM dan KBM dapat disimpulkan bahwa ketiga fraksi yaitu fraksi N-heksan, fraksi Etil asetat, dan fraksi air memiliki aktivitas antibakteri lebih kuat dari ekstrak kubis, namun lebih lemah dari amoksisilin.

Pengujian dilanjutkan dengan SEM (Screening Electrone Microscope). Uji SEM dilakukan terhadap bakteri Acinetobacter baumannii dan terhadap bakteri Acinetobacter baumanni yang dipapar dengan fraksi N-heksan pada konsentrasi 128 µg/mL, konsentrasi terkecil dari ketiga fraksi yang memilik KHM (Konsentrasi Hambat Minimum) paling tinggi dibanding fraksi Etil
asetat dan fraksi air.

Pada uji SEM, bila dilihat perbandingan antara gambar A dan gambar B terlihat perbedaan bentuk marfologi dari bakteri Acinetobacter baumanii sebelum dan sesudah dipapar dengan fraksi N-heksan dari ekstrak etanol kubis yang ditandai dengan terjadinya pemisahan beberapa koloni. Pada gambar C terlihat ada perubahan bentuk dan susunan bakteri yang sebelumnya pada Gambar A
terlihat rapi menjadi sedikit tidak beraturan. Hal ini menunjukkan adanya perubahan marfologi bantuk bakteri pada Acinetobacter baumannii setelah dipapar  N-heksan pada konsentrasi 128 µg/mL.

Sedangkan pada pengujian aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol singawalang juga dilakukan terhadap 2 bakteri gram negatif dan 1 bakteri gram positif penyebab infeksi nosokomial. Bakteri yang digunakan yaitu Salmonella typhi, Bacillus cereus dan Acinetobacter baumannii. Pada percobaan ini digunakan 10 konsentrasi ekstrak etanol yang berbeda dimulai dari 1024 ppm, 512 ppm, 256 ppm, 128 ppm, 64 ppm, 32 ppm, 16 ppm, 8 ppm, 4 ppm, 2 ppm. Ekstrak singawalang dilarutkan dengan DMSO (Dimethil Sulfoxide) karena pelarut ini dapat melarutkan senyawa polar maupun non polar tanpa mempengaruhi aktivitas ekstrak tersebut.


Tabel: Hasil penentuan KHM dan KBM dengan metode mikrodilusi
Mikroba
Amoksisilin (µg/ml)
Ekstrak Singawalang (µg/ml)
KHM
KBM
KHM
KBM
Salmonella typhi
256
256
4096
4096
Bacillus cereus
256
256
1024
>1024
Acinetobacter baumannii
512
512
1024
>1024








Dari data diatas dapat dilihat bahwa pengujian ekstrak etanol herba singawalang terhadap bakteri Bacillus cereus dan Acinetobacter baumannii memberikan nilai KHM 1024 µg/ml dan pada bakteri Salmonella typhi memberikan KHM 4096 µg/ml. Ekstrak etanol singawalang memberikan aktivitas yang lemah terhadap Bacillus cereus dan Acinetobacter baumannii sedangkan pada bakteri Salmonella typhi ekstrak etanol singawalang dianggap tidak aktif karena KHM yang didapat lebih dari 1024 µg/ml.

Pengujian dilanjutkan kepada fraksi Herba Singawalang. Bakteri yang digunakan untuk pengujian fraksi merupakan bakteri yang memiliki nilai KHM lebih kecil dari pada yang lainnya. Bakteri yang digunakan adalah Bacillus cereus dan Acinetobacter baumannii. Pengujian fraksi dimulai pada konsentrasi 2048 ppm, 1024 ppm, 512 ppm, 256 ppm, 128 ppm, 64 ppm, 32 ppm, 16 ppm, 8 ppm, 4 ppm.


Tabel: Hasil Pengujian Fraksi Terhadap Bakteri Bacillus cereus dan Acinetobacter baumannii
Mikroba
Fraksi
n-heksan
Etil asetat
Air
KHM
KBM
KHM
KBM
KHM
KBM
Acinetobacter baumannii
1024
>2048
1024
>2048
1024
>2048
Bacillus cereus
32
256
256
>2048
1024
>2048


Dari hasil yang diperoleh dari pengujian fraksi pada bakteri Acinetobacter baumannii didapat KHM 1024 µg/ml pada semua fraksi dan untuk bakteri Bacillus cereus pada fraksi n-heksan didapat KHM 32 µg/ml, fraksi etil asetat didapat KHM 256 µg/ml, dan fraksi air didapat KHM 1024 µg/ml.

Untuk penentuan KBM pada masing-masing fraksi KHM dipindahkan kedalam MHA (Mueller Hinton Agar) dan di inkubasi kembali selama 18-24 jam. Untuk bakteri Acinetobacter baumannii semua alikuot yang dipindahkan ke media agar ditumbuhi koloni bakteri sehingga KBM nya lebih dari 2048 µg/ml. Pada fraksi n-heksan untuk bakteri Bacillus cereus didapat KBM 256 µg/ml, untuk fraksi etil asetat dan air KBM lebih dari 2048 µg/ml.

Uji SEM dilakukan terhadap bakteri yang memiliki KHM yang paling baik yaitu Bacillus cereus.



Hasil dari uji SEM terlihat perubahan morfologi pada bakteri Bacillus cereus terjadi pada dinding selnya yang menjadi berlubang dan ukuran dari bakteri yang telah terpapar fraksi singawalang lebih kecil dari ukuran normal.


Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan
Dari hasil penelitian mengenai aktivitas antibakteri ekstrak dan fraksi etanol dari tanaman kubis dan tumbuhan singawalang pada bakteri penyebab infeksi nosokomial dapat desimpulan bahwa: Ketiga fraksi yaitu fraksi N Heksan, fraksi Etil Asetat, dan fraksi air memiliki aktivitas antibakteri lebih kuat dari ekstrak kubis maupun ekstrak singawalang, namun tetap lebih lemah dari amoksisilin. Sedangkan pada pengujian SEM (Scanning Electron Microscopy) terlihat bahwa fraksi kubis dan fraksi herba singawalang mempengaruhi perubahan morfologi bakteri pada dinding sel.

Saran
Pada penelitian lebih lanjut dapat dilanjutkan dengan metode ekstraksi lainnya atau dalam bentuk simplisia kering, dan dilakukan terhadap isolat senyawa aktif, serta dilakukan pengujian aktivitas antibakteri untuk KHM dan KBM terhadap bakteri lainnya. Selain itu, dapat juga dilanjutkan pada uji TEM (Transmission Electrone Microscopy) untuk mengetahui apakah ekstrak dan fraksi kubis menghambat perumbuhan bakteri dengan menghambat sintesis diniding sel atau menghambat sisntesis protein.


DAFTAR PUSTAKA

Bereket, W., K. Hemalatha, B. Getenet, T. Wondwossen, A. Solomon, A. Zeynudin, S. Kannan (2012) Update On Bacterial Nosocomial Infections. European Review for Medical and Pharmacological Sciences. 16, 1039-1044.
Wikansari, Hestiningsih, Raharjo. 2012. Pemeriksaan Total Kuman Udara dan Staphylococcus aureus  di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit X Kota Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Hal 384-392
Nelson WE, ed. Ilmu kesehatan anak. 15 th ed vol 2. 2000. Alih bahasa. Samik Wahab. EGC. Jakarta. Hal 3-561
Dalimartha, S., 2000, Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, Jilid III, Puspa Swara, Jakarta.
Gaspersz, Vicent. 1998 “Production Planning and Investory Control”. Gramedia Pustaka. Jakarta.
UPT Balai Informasi Teknologi LIPI. 2009. Laporan Tahunan UPT  Balai Informasi Teknologi Tahun anggaran 2009, Bandung.
Departemen kesehatan RI 2001. Pedoman Pengendalian Infeksi Nosokomial  Di Rumah Sakit, Dir. Jen. Pelayanan. Medik Spesialistik. Jakarta.
Cowan, M. K. and Kathleen, P. T. (2009) Microbiology A Systems Approach Second Edition. McGraw-Hill, New York.
Departemen Kesehatan (2010) Surveilans Infeksi Di Rumah Sakit.
Depkes RI. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat.Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Deby A. Mp., Fatimawali, Dan Weny I. W. (2012): Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Mayana(Coleus Atropurpureus [L] Benth) Terhadap Staphylococcus Aureus,Escherichia Coli Dan Pseudomonas Aeruginosa Secara In-Vitro. Program Studi Farmasi Fmipa Unsrat Manado, 95115.
Dorland, W. A. (2002) Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 29. EGC. Jakarta.
Gomes, P.B., Noronha, E.C.de Melo, C.T.Bezerra, J.N., Neto, M.A., Lino, C.S., Vasconcelos, S.M., Viana, G.S., de Sousa, F.C. (2008) Central effects of isolated fractions from the root of Petiveriaalliacea L. (tipi) in mice. Journal Ethnopharmacological.
Harborne, J. B. (1987) Metode Fitokimia : Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. Edisi ke-2 ITB : Bandung.
Jawetz, Melnick, Adelberg’s (2007) Medical Microbiology. Edisi ke-24 New York : McGraw Hill.
Katzung, B. G. (2004) Farmakologi Dasar dan Kinik. Edisi Pertama Jakarta : Salemba Medika.
Mulyani, Y., E. Y. Sukandar, I. K. Adnyana (2011) Kajian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Dan Fraksi Daun Singawalang (Petiveria alliace) Terhadap Bakteri Resisten. Majalah Farmasi Indonesia. (22)4.293-299.
Mycek, M. J., Richard, A. H., Pamela, C. C. (2001) Farmakologi Ulasan Bergambar. Edisi Kedua Jakarta : Widya Medika.
NCCLS (2003) Methods For Dillution Antimicrobial Susceptibility Test For Bacteria That Grow Aerobically ; Approach Standard ; Sixth Edition.
Pacheco, A. O., Jorge Marín Morán, Zenia González Giro, Adrian Hidalgo Rodríguez, Rachel Juliet Mujawimana, Karel Tamayo González, Sandra Sariego Frómeta (2013) In Vitro Antimicrobial Activity Of Total Extracts Of The Leaves Of Petiveria Alliacea L. (Anamu). Brazilian Journal of Pharmaceutical Sciences vol. 49.
Pelczar, M. J. dan Chan, E. C. S. (2005) Dasar-dasar Mikrobiologi. Universitas Indonesia : Jakarta.
Plantus (2008) Aneka Plantasia. Plants Clipping Informations From All Over Media In Indonesia.
Silma,Benita, Bambang Isbandrio, Rebriarina Hapsari (2011) Faktor Risiko Dan Pengaruh Klinis Infeksi Carbapenem resistant Acinetobacter Sp. Di Rsup Dr. Kariadi Semarang. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.
Sinkowitz, C. and William, R. J. (2001) Desinfection, Sterilization and  Preservation. Edisi 5.
Soares, B. O., Oliveira, M.B.N., Mansur, E., Dantas, F.J.S., DeMattos, J. C.  P., Caldeira-de-Araujo A. and Gagliardi, R. F. (2014) Effect Of Extracts From Field And Invitro Plants of Petiveria alliacea L. On plasmidial DNA.
Syahrurachman, dkk. (1994) Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. Bina Rupa Aksara : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Tropical Plant Database-Anamu (Petiveria alliacea), Rain Tree. http://www.rain-tree.com/anamu.htm, diakses pada 27 Desember 2014.
World Health Organization (2011) The Burden Of Health Care-Associated Infection Worldwide.
Zulkoni, A. (2010) Parasitologi. Yogyakarta : Nuha Medika.
Darmadi, 2008, Infeksi Nosokomial Problematika dan Pengendalian, Salemba  Medika, Jakarta. Hal 123-126
Ducel, G., Fabry, J. & Nicolle, L. 2002. Prevention of hospital acquired infections: a practical guide. Prevention of hospital acquired infections: apractical guide, (Ed. 2). Hal 12
CLSI ,2008. : M38-A2 Reference Method for Broth Dilution Antifungal Susceptibility Testing of Filamentou Fungi; Clinical and Laborator Standard Institute, approved Standard- Second Edition.
Begum R, Poonkothai M., In-vitro antimicrobial activity and phytochemical analysis of Brassica oleracea. International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences 2013, 5 (2), 405-408 
Backer, C. A and Bakkuizen v/d Brink R. Jr. 1963 . Flora of Java. Wolter-Noordhoff NV. Gronigen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar