Kira-kira
pertengahan dua tahun lalu, sekitar bulan Oktober, Bandung sedang
dingin-dinginnya, musim hujan sedang ganas-ganasnya. Tepatnnya pertengahan
2013. Apa kesan pertama saat pertama menginjakkan kaki di Kota Kembang ini?
Hmm, ternyata Bandung itu kumuh, jorok, dan kotor. Tapi alhamdulillah, akhir 2015
saat saya hendak meninggalkan Tanah Pasundan ini, Bandung mulai tertata rapi
dan dapat meraih kembali gelar adipura. Respek buat Pak Ridwan Kamil, yang
prestasinnya tidak hanya sukses membuli kaum jomblo lewat kemesraan cintanya
dengan sang istri yang meni geulis pisan euy. Hehe..
Malam
ini, hujan turun lagi. Musim hujan ini adalah musim hujan ketiga salama saya menetap
di Bandung, musim hujan terakhir sebelum saya harus meninggalkan Bandung, sebab
Sang Pengembara kecil ini harus melanjutkan petualangannya. Bandung, meski
musim hujan tahun ini telat beberapa bulan dari jadwalnya, dampak adanya badai
El Nino, tapi hujan tetaplah hujan, rintiknya menyimpan kenangan,
tetes-tetesnya seperti petikan gitar, angin-angin kecil yang menyertainya
adalah suara seruling penentram jiwa.
Di
satu sore yang mendung, saat kupedengarkan lagu-lagu tentang hujan, sambil
berharap munculnya pelangi di penghujung senja. Mendung di luar, mendung pula
di dalam. Mendung di luar bikin hujan turun, mendung di dalam bikin hati rindu
makin merundung. Teringat tentang sekelumit kisah bernuansa nostalgia soal hujan dan pelangi. Ada sebingkai memori
indah. Tersibak di sehelai daun pisang dan payung lusuh bermotif bunga-bunga. Guntur dan halilintar. Teriakan
hati terbakar cemburu. Kau yang lebih memilih dia.
Apa
kamu tahu? Kenapa rembulan begitu kesepian? Karena dulunya ia punya kekasih. Kenapa
mentari terlihat begitu gagah? Karena selama hidupnya ia belum pernah punya
kekasih. Lalu, kenapa bintang gemintang hidupnya berkerlap-kelip? Kadang terang
kadang redup? Karena semua bintang punya pasangan. Masing-masing dengan
kekasinya sendiri-sendiri. Susah sedih sama-sama mereka jalani. Iya, menjadi
sendiri itu sedih, tapi sebenarnya kalau kamu tahu apa yang lebih menyakitkan
dari kebersamaan yang menjadi kesendirian, atau niat bersama dan berbuah
penolakan, jawabannya ialah sebuah pengharapan yang digantung.
Di
musim hujan yang dingin ini, akan kuseduh malam dengan secangkir kenangan .Aroma
kerinduannya begitu menyengat. Menyumpal kerongkongan sampai sulit bernafas. Kuhisap
sebuah cerutu dari masa lalu. Asapnya mengepul serupa wajahmmu. Ternyata,
senyum itu telah pudar, ditelah oleh sang waktu. Cerutu itu sudah menjadi
puntung. Hilang semua tak tersisa. Hanya tinggal menyisakan bau asap yang tidak
sedap.
Duhai
rembulan malam lima belas, media pelarut rinduku, kenangan masa indah dulu,
dengan kamu yang menjadi masa lalu. Sampai kapan akan terus melarung diri dalam
kesendirian, sampai dimana nanti akan tiba suatu masa ketika pengembara kecil
ini akan lebih banyak memiliki masa lalu daripada masa depan, kemudian akan
tetap bersikukuh dengan doktrin lamanya, soal perasaan yang tak akan bisa
disamakan dengan logika. Cinta yang dipendam dalam diam adalah puisi-puisi
indah tengah malam pengantar tidur.
Camkan
kata-kataku hai para pengembara. Jika kamu tidak bisa melihat fajar pagi
sebagai harapan? Jangan samakan hujan dengan kenangan! Dan jangan pernah samakan
senja dengan kerinduan! Bila kamu tidak dapat melihat pelangi sebagai
keindahan? Jangan pernah samakan mendung dengan kegalauan! Dan jangan samakan
halilintar dengan pesakitan!! Tapi kenyatannya, pengembara tetaplah pengembara,
ia bisa jadi bagian dari apapun dan siapapun tapi ia tidak akan pernah terikat
oleh apapun dan siapapun. Pengembara hanya akan pulang, pada satu hati yang akan
ia menangkan.
Semangat
pagi para pemuja mimpi. Tterus mendaki, terus berlari, dan jangan berhenti.
Perjuangan itu belum selesai. Seninya hidup adalah berjuang. Tidak suka seni,
tidak usah berjuang. Nikmati saja jalan hidupmu yang monoton dan membosankan
itu. Tapaki saja jalan hidupmu seperti ayam, tidak usah berlagak sok bisa hidup
seperti elang.
Ingatlah
hai para pejuang mimpi, para pengorban cinta, dan para pemendam rindu. Kalau
kamu bisa terbang seperti elang, kenapa kamu kepakkan sayapmu seperti ayam.
Ketahuilah, ayam itu hanya hidup mengandalkan ceker dan paruhnya. Sementara kau
hai burung elang, selain dengan cakar dan paruhmu, kamu juga menggunakan
sayapmu. Tapi kalau ternyata kamu sedang hidup diantara ayam-ayam itu, usahakan
jangan pernah berfikiran kalu kamu itu sama seperti mereka, kamu itu beda, kamu
itu elang bukan ayam. Waspadalah, elang saja bisa lupa kalau dirinya adalah
elang, sang predator ulung, karena terlalu lama hidup seperti ayam.
Hai
pemuda, para musafir pencari ilmu. Tanamkan lekat-lekat kalimat ini dibenakmu “Bahwa
semanis-manisnya cinta pada perempuan, tetap lebih manis cinta kepada ilmu dan
pengetahuan”, Novel Api Tauhid, oleh H El Shirazy. Maka utamakanlah mengejar
cinta kepada ilmu dan pengetahuan niscaya cinta pada perempuan dengan
sendirinya akan mengejarmu. Ilmu dan pengetahuan harus dikejar, karena Allah
belum pasti memberikan jatah itu untukmu. Tak perlu kau risaukan hatimu untuk
mengejar cinta perempuan, tidak perlu kau kejar, Allah sudah menyiapkannya
untukmu, sudah tercatat di lauhul mahfudnya. Simpelnya, kejarlah cita-cita
sebelum cinta!! Terimakasih kepada
Bandung di musim hujan. Hawa dinginmu yang menusuk lapis kulit selalu bisa
mengobarkan semangat yang kurang stabil dan sering pasang surut ini.
(Ali Ridwan, 07/12/15)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar