Senin, 07 Desember 2015

Bandung di Musim Hujan

Kira-kira pertengahan dua tahun lalu, sekitar bulan Oktober, Bandung sedang dingin-dinginnya, musim hujan sedang ganas-ganasnya. Tepatnnya pertengahan 2013. Apa kesan pertama saat pertama menginjakkan kaki di Kota Kembang ini? Hmm, ternyata Bandung itu kumuh, jorok, dan kotor. Tapi alhamdulillah, akhir 2015 saat saya hendak meninggalkan Tanah Pasundan ini, Bandung mulai tertata rapi dan dapat meraih kembali gelar adipura. Respek buat Pak Ridwan Kamil, yang prestasinnya tidak hanya sukses membuli kaum jomblo lewat kemesraan cintanya dengan sang istri yang meni geulis pisan euy. Hehe..

Malam ini, hujan turun lagi. Musim hujan ini adalah musim hujan ketiga salama saya menetap di Bandung, musim hujan terakhir sebelum saya harus meninggalkan Bandung, sebab Sang Pengembara kecil ini harus melanjutkan petualangannya. Bandung, meski musim hujan tahun ini telat beberapa bulan dari jadwalnya, dampak adanya badai El Nino, tapi hujan tetaplah hujan, rintiknya menyimpan kenangan, tetes-tetesnya seperti petikan gitar, angin-angin kecil yang menyertainya adalah suara seruling penentram jiwa.

Di satu sore yang mendung, saat kupedengarkan lagu-lagu tentang hujan, sambil berharap munculnya pelangi di penghujung senja. Mendung di luar, mendung pula di dalam. Mendung di luar bikin hujan turun, mendung di dalam bikin hati rindu makin merundung. Teringat tentang sekelumit kisah bernuansa nostalgia soal hujan dan pelangi. Ada sebingkai memori indah. Tersibak di sehelai daun pisang dan payung lusuh bermotif bunga-bunga. Guntur dan halilintar. Teriakan hati terbakar cemburu. Kau yang lebih memilih dia.

Apa kamu tahu? Kenapa rembulan begitu kesepian? Karena dulunya ia punya kekasih. Kenapa mentari terlihat begitu gagah? Karena selama hidupnya ia belum pernah punya kekasih. Lalu, kenapa bintang gemintang hidupnya berkerlap-kelip? Kadang terang kadang redup? Karena semua bintang punya pasangan. Masing-masing dengan kekasinya sendiri-sendiri. Susah sedih sama-sama mereka jalani. Iya, menjadi sendiri itu sedih, tapi sebenarnya kalau kamu tahu apa yang lebih menyakitkan dari kebersamaan yang menjadi kesendirian, atau niat bersama dan berbuah penolakan, jawabannya ialah sebuah pengharapan yang digantung.

Di musim hujan yang dingin ini, akan kuseduh malam dengan secangkir kenangan .Aroma kerinduannya begitu menyengat. Menyumpal kerongkongan sampai sulit bernafas. Kuhisap sebuah cerutu dari masa lalu. Asapnya mengepul serupa wajahmmu. Ternyata, senyum itu telah pudar, ditelah oleh sang waktu. Cerutu itu sudah menjadi puntung. Hilang semua tak tersisa. Hanya tinggal menyisakan bau asap yang tidak sedap.

Duhai rembulan malam lima belas, media pelarut rinduku, kenangan masa indah dulu, dengan kamu yang menjadi masa lalu. Sampai kapan akan terus melarung diri dalam kesendirian, sampai dimana nanti akan tiba suatu masa ketika pengembara kecil ini akan lebih banyak memiliki masa lalu daripada masa depan, kemudian akan tetap bersikukuh dengan doktrin lamanya, soal perasaan yang tak akan bisa disamakan dengan logika. Cinta yang dipendam dalam diam adalah puisi-puisi indah tengah malam pengantar tidur.

Camkan kata-kataku hai para pengembara. Jika kamu tidak bisa melihat fajar pagi sebagai harapan? Jangan samakan hujan dengan kenangan! Dan jangan pernah samakan senja dengan kerinduan! Bila kamu tidak dapat melihat pelangi sebagai keindahan? Jangan pernah samakan mendung dengan kegalauan! Dan jangan samakan halilintar dengan pesakitan!! Tapi kenyatannya, pengembara tetaplah pengembara, ia bisa jadi bagian dari apapun dan siapapun tapi ia tidak akan pernah terikat oleh apapun dan siapapun. Pengembara hanya akan pulang, pada satu hati yang akan ia menangkan.

Semangat pagi para pemuja mimpi. Tterus mendaki, terus berlari, dan jangan berhenti. Perjuangan itu belum selesai. Seninya hidup adalah berjuang. Tidak suka seni, tidak usah berjuang. Nikmati saja jalan hidupmu yang monoton dan membosankan itu. Tapaki saja jalan hidupmu seperti ayam, tidak usah berlagak sok bisa hidup seperti elang.

Ingatlah hai para pejuang mimpi, para pengorban cinta, dan para pemendam rindu. Kalau kamu bisa terbang seperti elang, kenapa kamu kepakkan sayapmu seperti ayam. Ketahuilah, ayam itu hanya hidup mengandalkan ceker dan paruhnya. Sementara kau hai burung elang, selain dengan cakar dan paruhmu, kamu juga menggunakan sayapmu. Tapi kalau ternyata kamu sedang hidup diantara ayam-ayam itu, usahakan jangan pernah berfikiran kalu kamu itu sama seperti mereka, kamu itu beda, kamu itu elang bukan ayam. Waspadalah, elang saja bisa lupa kalau dirinya adalah elang, sang predator ulung, karena terlalu lama hidup seperti ayam.

Hai pemuda, para musafir pencari ilmu. Tanamkan lekat-lekat kalimat ini dibenakmu “Bahwa semanis-manisnya cinta pada perempuan, tetap lebih manis cinta kepada ilmu dan pengetahuan”, Novel Api Tauhid, oleh H El Shirazy. Maka utamakanlah mengejar cinta kepada ilmu dan pengetahuan niscaya cinta pada perempuan dengan sendirinya akan mengejarmu. Ilmu dan pengetahuan harus dikejar, karena Allah belum pasti memberikan jatah itu untukmu. Tak perlu kau risaukan hatimu untuk mengejar cinta perempuan, tidak perlu kau kejar, Allah sudah menyiapkannya untukmu, sudah tercatat di lauhul mahfudnya. Simpelnya, kejarlah cita-cita sebelum cinta!!  Terimakasih kepada Bandung di musim hujan. Hawa dinginmu yang menusuk lapis kulit selalu bisa mengobarkan semangat yang kurang stabil dan sering pasang surut ini. (Ali Ridwan, 07/12/15)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar