Pendahuluan
Perbedaan Metabolit Primer dan Sekunder
Metabolit
primer
|
Metabolit
skunder
|
|
Distribusi
|
Merata dalam
tiap organisme
|
Tidak merata
|
Fungsi
|
Universal,
anatara lain sumber energi, pertumbuhan.
|
Ekologis,
antara lain penarik serangga, pertahanan
|
Struktur kimia
|
Perbedaan
kecil
|
Berbeda - beda
|
Fisiologis
|
Berkaitan
dengan struktur kimia
|
Tidak
berkaitan
|
Hubungan metabolit primer (biokimia) dan metabolit sekunder (fitokimia) : Metabolit sekunder terbentuk dari metabolit primer
melalui berbagai jalur metabolisme yang disesuaikan dengan tujuan dan kondisi
lingkungan tumbuhan tersebut tumbuh.
Contoh metebolit
primer misalnya glikosida, karbohidrat, dll. Sedangkan contoh metabolit skunder
misalnya terpenoid, alkoloid, flavonoid, dll
Ciri – ciri
alkaloid, flavonoid, dan terpenoid : Ciri alkaloid (ada senyawa N di dalam
struktur). Ciri Flavonoid (bentuk strukturnya C6C3C6).
Ciri Terpenoid (kelipatan lima C5C10C15C20,
dst).
Ekstraksi,
Fraksinasi, dan Kromatografi
Bahan awal – Ekstraksi
– Fraksinasi – Kristalisasi, presipitasi – Purifikasi (kolom kromatografi) –
standarisasi
Sifat fisika
yang umum dimanfaatkan unruk ekstraksi dan fraksinasi yaitu: Kelarutan :
kecendrunga molekul untuk melrut dalam cairan (ECC). Kepolaran: kecendrungan
molekul untuk bercampur yang polaritasnya sama (Kromatografi). Keatsirian:
kecendrungan molekul untuk menguap atau berubah ke keadaan uap (destilasi dan
sublimasi)
Beberapa metode
ekstraksi yaitu: Cara panas (refluks,
soxhlet, infus, destilasi, dll). Cara dingin (Maserasi, perkolasi, enfluoreasi,
dll)
Fraksinasi
adalah proses memisahkan suatu campuran menjadi sekurang-kurangnya dua fraksi
yang berbeda komponennya. Tujuan fraksinasi adalah mendapatkan suatu fraksi yang
lebih sederhana dari ekstrak dengan memisahkan senyawa-senyawa yang ada dalam
campuran ekstrak awal.
Teknik pemisahan:
Ekstraksi padat-cair (kelarutan zat dalam pelarut). Ekstraksi cair-cair (koefisien
distribusi dan rasio distribusi analit dalam pelarut organik/air). Tekhnik
destilasi (rasio distribusi kelarutan analit dalam fase uap pelarut terhadap
kelarutan analit dalam pelarut). Kromatografi (tekhnik pemisahan fisika yang
didasarkan pada migrasi senyawa pada fase diam akibat pengaruh fase gerak).
Elekforesis (tekhnik pemisahan ion (spesi bermuatan) yang didasarkan pada
kecepatan migrasinya akibat medn listrik)
Klasifikasi
Kromatografi
Berdasarkan
tujuan analisis: Kualitatif (indentifikasi), Kuantitatif (penetapan kadar), Preparatif
(isolat murni).
Berdasrkan fase
gerak: Kromatografi cair, kromatografi gas, dan romatografi fluida.
Berdasarkan
bentuk kemasan/geometri fase diam: Kromatografi planar/datar, kromatografi
kolom, dan kromatografi kapiler
Berdasarkan
mekanisme pemisahan: Adsorpsi, partisi, penukaran ion, afinitas, dan ekslusi
molekul/ukuran.
HPLC selain
digunakan sebagai kualitatif (identifikasi) sehingga dapat juga digunakan
sebagai kuantitatif (penetapan kadar) karena adanya detektor.
Sampel
kromatografi dan senyawa yang didpisahkan meliputi: Fase diam (yang mengikat
senyawa). Fase gerak (pelarut dan gas). Fase pendukung (kaca plastik atau
tempat menempelnya fase diam).
Tiga unsur
definisi kromatografi: Pemisahan, distribusi (interaksi dan mobilisasi), fase diam,
dan fase gerak.
Parameter uji
kromatografi: Rf = a/b. Dimana a = fase gerak, b = fase diam
Perbedaan
kualitatif (identifikasi) dan preparatif (isolat murni)
kualitatif
|
Preparatif
|
|
Lebar
permukaan
|
100 – 250 um
|
0,5 – 2 mm
|
Titik awal
penotolan
|
1.5 cm
|
2-3 cm
|
Konsentrasi
sample
|
1 ng/ul
|
200 mg/ml
|
Jarak
perpindahan
|
10 – 15 cm
|
20 cm
|
Penyemprotan
reagen
|
Di tengah plat
|
Di pinggir
plat
|
Fase diam
(polar) – sampel – fase gerak (non polar)
Pemurnian
Pemurnian adalah
metode untuk memperoleh isolat. Macam – macam metode pemurnian yaitu: Kristalisasi,
pengendapan, KLT preparatif, KKt preparatif, kolom kromatografi, sublimas, dll.
Tekhnik
kristalisasi: Rekristalisasi (larutkan sejumlah serbuk/kristal dalam pelarut
tertentu, biarkan pelarut menguap dan terbentuk kristal). Pencucian (tambahkan sejumlah kristal dengan sedikit
pelarut tertentu, sehingga kristal larut sedangkan pengotor tidak larut, atau
sebaliknya tambahkan sejumlah kristal dengan sedikit pelarut tertentu sehingga
pengotor larut sedangkan kristal tidak larut). Pengendapan kristal (larutkan
kristal dalam pelarit tertenti (I), ubah kepolaran kristal dengan pelarut lain
(II) dengan kepolaran yang sangat berbeda dengan pelarut, kristal akan
mengandap)
Pengendapan
serbuk amorf. Beberapa senyawa mudah mengendap dan berbentuk amorf adalah: penguapan
pelarut (larutkan sejumlah serbuk dalam pelarut tertentu, biarkan pelarut
menguap dan terbentuk endapan amorf). Pencucian (tambahkan sejumlah serbuk
dengan sedikit pelarut tertentu, sedangkan pengotor tidak larut, atau sebaliknya
tambahkan sejumlah serbuk dengan sedikit pelarut tertentu sehingga pengotor
larut sedangkan serbuk tidak larut). Pengendapan serbuk (biarkan beberapa waktu
atau sentrifuse sampai terbentuk endapan serbuk yang terpisah , jika perlu
dialakukan penyaringan)
KLT preparatif
Siapkan bejana
(chamber), lapisi bejana dengan kertas saring, siapkan eluen/fase gerak
(pelarut tunggal atau campuran), masukkan eluen ke dalam bejana dan tutup rapat
lalu biarkan bejana jenuh dengan uap eluen, sejumlah fraksi/subfraksi kental
dilarutkan dalam beberapa mL pelarut sampai diperoleh ekstrak yang tidak
terlalu kental dan tidak terlalu encer, totolkan fraksi/subfraksi secara tidak
terputus pada plat KLT preparatif dengan menggunakan pipa kapiler sehingga
terbentuk pita (tebal pita maksimum 5 mm), biarkan totolan fraksi/subfraksi
mengering (pelarut menguap), masukkan plat yang sudah ditotolkan ke dalam
bejana (perhatian : tinggi permukaan eluen dalam bejana harus lebih rendah
daripada totolan bercak), biarkan eluen/fase gerak naik sampai sekitar 2 cm
sebelum pinggir plat, dan anngkat plat lalu biarkan plat mengering (pelarut
menguap)
Langkah
selanjutnya lihat warna-warna pita secar visual atau di bawah lampu
ultraviolet. Jika pita tidak berwarna atau tidak berflourosensi di bawah lampu
ultraviolet, semprot bagian pinggir kiri dan kanan plat dengan penampak bercak
universal asam sulfat 10% dalam metanol. (pada saat penyemprotan, tutup bagian
tengah plat). Kerok pita senyawa yang akan diisolasi, kumpulkan pada satu
wadah. Masukkan pelarut teretentu kedalam wadah yang berisi kerokan pita, aduk
sehingga senyawa yang akan diisolasi larut sedangkan serbuk silica gel tidak
larut. Saring dengan kertas saring, sehingga sebagian besar serbuk silika gel
akan tertahan di kertas saring. Ulangi penyaringan berkali-kali dengan kapas,
sehingga tidak terdapat partikel serbuk silika gel dalam larutan senyawa.
Kromatografi
kertas preparatif
Siapkan eluen. Siapkan
bejana (chamber). Lapisi bejana dengan kertas saring. Masukkan eluen ke dalam
bejana dan tutup rapat. Biarkan bejana jenuh dengan dengan uap eluen sekitar 24
jam. Sejumlah fraksi/subfraksi kental dilarutkan dalam beberpa mL pelarut, sampai
diperoleh ekstrak yang tidak terlalu kental dan tidak terlalu encer. Totolkan
fraksi/subfraksi secara tidak terputus pada kertas Whatman No 3 dengan menggunakan pipa kapiler sehingga
berbentuk pita (tebal pita maksimum 5 mm). Biarkan totolan fraksi/subfraksi
mengering (pelarut menguap) masukkan kertas Whatman yang sudah ditotolkan ke
dalam bejana. (perhatian : tinggi
permukaan eluen dalam bejana harus lebih rendah daripada totolan bercak). Biarkan
eluen/fase gerak naik sampai sekitar 2 cm sebelum pinggir kertas. Biarkan
eluen/fase gerak naik sampai sekitar 2 cm sebelum pinggir kertas. Angkat
kertas, biarkan kertas mengering (pelarut menguap)
Langkah
selanjutnya lihat warna-warna pita secar visual atau di bawah lampu
ultraviolet. Jika pita tidak berwarna atau tidak berflourosensi di bawah lampu
ultraviolet, semprot bagian pinggir kiri dan kanan plat dengan penampak bercak
khusus. (pada saat penyemprotan, tutup bagian tengah plat). Gunting pita
senyawa yang akan diisolasi menjadi bagian – bagian kecil, kumpulkan pada satu
wadah. Masukkan pelarut teretentu kedalam wadah yang berisi guntingan pita,
aduk sehingga senyawa yang akan diisolasi larut sedangkan kertas tidak larut. Saring
dengan kertas saring, sehingga guntingan kertas akan tertahan di kertas saring.
Ulangi penyaringan berkali-kali dengan kapas, sehingga tidak terdapat partikel
serbuk silika gel dalam larutan senyawa.
Pengemasan kolom
Pemasukan
cuplikan: cuplikan disuspensikan dalam sedikit mungkin pelarut yang sama dengan
fase gerak yang dipakai. Kemudian dituang perlahan-lahan di atas permukaan
adsorben sampai merata. Pengelusian (pembilas lepas): penambahan/penetesan fase
gerak harus hati-hati, jangan samapai mengganggu permukaan adsorben.
Pengumpulan fraksi: penumpulan fraksi dapat dilakukan dengan manual, dan dapat
juga dengan alat pengumpul fraksi otomatik. Volume setiap fraksi tergantung
kepada banyaknya cuplikan dan banyaknya jenis senyawa yang dipisah. (Eks, STFB
2013)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar