Kamis, 27 Agustus 2015

Sebab, Tiap Cinta Punya Waktu

 

Butuh berapa tahun lagi untuk memahami hal yang sebenarnya sederhana? Mungkin benar. Bahwa cinta punya waktu. Dan waktu di kala itu bukanlah waktu yang menjadi milik cinta kita. Tapi sampai saat ini. Hingga sekarang ini. Ternyata waktu belum jua menjadi milik cinta kita

Denganmu aku hidup. Tanpamu aku redup. Hanya cintamu yang bisa buat jantung hatiku terus berdegup. Heh.. pagi-pagi kau suda memaksa imajinasiku terbang membumbung sampai ke angkasa tinggi. Membingkai kisah langit menjadi guratan aksara dalam bingkisan kata-kata dan sastra.

Entahlah. Cintalah yang menciptakan jarak. Namun jaraklah yang justru membuat kita merasa dekat. Tetaplah bertahan. Teruslah menunggu, menunggu, dan terus menunggu. Menunggu sampai waktunya tiba. Cinta yang akan menjadi milik kita berdua. Aku, kau, kita. Satu selamanya.

Menunggu cinta darimu. Seperti menunggu pelangi muncul di malam hari. Tak mungkin pernah terjadi. Jangan kejar cinta pengembara! Jangan tunggu cinta pengelana! Sayang. Akan aku ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa janji kuingkari? Mengapa aku tak jadi pulang bulan Juli.

Gemerlap bintang, rembulan, malam, dan hujan. Aku bercerita pada mereka. Bercerita betapa cantiknya kamu, manisnya senyummu, beningnya matamu, lesumnya pipimu, hitamnya rambutmu, sampai putihnya hatimu. Mereka percaya ceritaku, terkagum dengan kisahku, tersenyum pada jalan cintaku. Tidakkah dari kedalaman hatimu kutemukan sumber mata airku. Mata air kasih yang mengaliri segenap rasa sayangku padamu.

Lupakan aku sayang. Aku tak bisa pulang. Ketepatan janji makin gersang. Cinta harus kita buang. Cerita kita telah usang. Api asmara sudah menjadi arang. Maaf, telah buat hatimu lama mengerang. Akupun sebenarnya bimbang. Mimpiku makin benderang. Tapi cintaku tersangkut karang. Mengapa cinta jadi terkesan rumit begitu kedewasaan makin tumbuh. Cinta tak lagi semudah kala masih remaja dulu. Remaja cinta hanya sebatas rasa. Kita bicara, kita setia, kita bersama, kita bahagia. Dewasa lebih dari sekedar itu.

Menunggu itu menjemukan. Lebih menjemukan lagi setelah cinta akhirnya tak ada kepastian. Hati yang tak punya sandaran. Seperti angin yang tak punya pusaran. Arah cintanya tak beraturan.

Andai rembulan tak seteduh wajahmu. Andai pelangi tak secantik perangaimu. Andai aku tak pernah membenam rasa di hatimu. Ingin kulukis langit dengan senyum termanis darimu. Ingin kuukir malam dengan sendu tatap matamu. Benih cinta terus berkecambah. Keputusan hati harus berubah. Apa daya, komitment dan janji yang kita tanam gagal berbuah. Kamu menikah. Kupaksa mengalah. Bukan aku menyerah. Aku percaya tetapan Allah. Semoga sakinah, mawahdah, warohmah.

Kurestui. Allah meridhoi. Kita pernah saling mencintai. Tapi, cinta kadang tak harus memiliki. Tak perlu ada yang disesali. Sayang. Kamu telah jadi milik orang. Jujur, sakit di hatiku makin meradang. Sungguh, sesak di jantungku makin mengerang. Kuikhlaskan meski menyakitkan. Kurelakan walau memilukan. Kenyataan kau harus aku lupakan!! (27/08/15)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar