Butuh berapa tahun lagi untuk memahami
hal yang sebenarnya sederhana? Mungkin benar. Bahwa cinta punya waktu. Dan
waktu di kala itu bukanlah waktu yang menjadi milik cinta kita. Tapi sampai
saat ini. Hingga sekarang ini. Ternyata waktu belum jua menjadi milik cinta
kita
Denganmu aku hidup. Tanpamu aku redup.
Hanya cintamu yang bisa buat jantung hatiku terus berdegup. Heh.. pagi-pagi kau
suda memaksa imajinasiku terbang membumbung sampai ke angkasa tinggi.
Membingkai kisah langit menjadi guratan aksara dalam bingkisan kata-kata dan
sastra.
Entahlah. Cintalah yang menciptakan
jarak. Namun jaraklah yang justru membuat kita merasa dekat. Tetaplah bertahan.
Teruslah menunggu, menunggu, dan terus menunggu. Menunggu sampai waktunya tiba.
Cinta yang akan menjadi milik kita berdua. Aku, kau, kita. Satu selamanya.
Menunggu cinta darimu. Seperti menunggu
pelangi muncul di malam hari. Tak mungkin pernah terjadi. Jangan kejar cinta
pengembara! Jangan tunggu cinta pengelana! Sayang. Akan aku ceritakan apa yang
sebenarnya terjadi. Mengapa janji kuingkari? Mengapa aku tak jadi pulang bulan
Juli.
Gemerlap bintang, rembulan, malam, dan
hujan. Aku bercerita pada mereka. Bercerita betapa cantiknya kamu, manisnya
senyummu, beningnya matamu, lesumnya pipimu, hitamnya rambutmu, sampai putihnya
hatimu. Mereka percaya ceritaku, terkagum dengan kisahku, tersenyum pada jalan
cintaku. Tidakkah dari kedalaman hatimu kutemukan sumber mata airku. Mata air
kasih yang mengaliri segenap rasa sayangku padamu.
Lupakan aku sayang. Aku tak bisa pulang.
Ketepatan janji makin gersang. Cinta harus kita buang. Cerita kita telah usang.
Api asmara sudah menjadi arang. Maaf, telah buat hatimu lama mengerang. Akupun
sebenarnya bimbang. Mimpiku makin benderang. Tapi cintaku tersangkut karang. Mengapa
cinta jadi terkesan rumit begitu kedewasaan makin tumbuh. Cinta tak lagi semudah
kala masih remaja dulu. Remaja cinta hanya sebatas rasa. Kita bicara, kita
setia, kita bersama, kita bahagia. Dewasa lebih dari sekedar itu.
Menunggu itu menjemukan. Lebih
menjemukan lagi setelah cinta akhirnya tak ada kepastian. Hati yang tak punya
sandaran. Seperti angin yang tak punya pusaran. Arah cintanya tak beraturan.
Andai rembulan tak seteduh wajahmu.
Andai pelangi tak secantik perangaimu. Andai aku tak pernah membenam rasa di
hatimu. Ingin kulukis langit dengan senyum termanis darimu. Ingin kuukir malam
dengan sendu tatap matamu. Benih cinta terus berkecambah. Keputusan hati harus
berubah. Apa daya, komitment dan janji yang kita tanam gagal berbuah. Kamu
menikah. Kupaksa mengalah. Bukan aku menyerah. Aku percaya tetapan Allah. Semoga
sakinah, mawahdah, warohmah.
Kurestui. Allah meridhoi. Kita pernah
saling mencintai. Tapi, cinta kadang tak harus memiliki. Tak perlu ada yang
disesali. Sayang. Kamu telah jadi milik orang. Jujur, sakit di hatiku makin
meradang. Sungguh, sesak di jantungku makin mengerang. Kuikhlaskan meski
menyakitkan. Kurelakan walau memilukan. Kenyataan kau harus aku lupakan!!
(27/08/15)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar