Kepada Bunga Edelwais
Bunga yang tumbuh dan
bermekaran..
Di Lembah Mandalwangi,
Pangrango..
Sungguh..
Aku tak akan pernah
kehabisan kata..
Sekedar untuk melukis
keindahanmu...
Pagi itu, saat aku
sampai ke puncak..
Kabut putih mulai
bergerak ke arahku..
Aku tenggelam diantara
samudra awan..
Edelwais, bunga
teristimewa..
Hanya untuk melihatmu
dari dekat..
Aku harus mendaki dan
melawan hawa dingin..
Aku bahagia. Walau pada
akhirnya, aku gagal..
~
### ~
Terinspirasi oleh film “Gie” karya Mira
Lesmana yang dibintangi oleh Nicholas Saputra. Setelah aku melakukan pendakian
ke Puncak Gede, aku jadi tahu. Darimana inspirasi puisi itu, Soe Hok Gie dengan
syair-syair indahnya. Aku jadi punya rencana, suatu saat nanti aku juga akan
menulis puisi di sana. Di lembah kasih, Lembah Mandalawangi.
Ya beginilah. Tak perlu heran. Kenapa
tiba-tiba suka sekali aku menulis kata-kata indah tentang alam. Sebab, ketika
seorang pujangga sudah kehabisan kata-kata untuk merangkai kata tentang cinta,
maka biarkan ia berimajinasi dan menulis keindahan tentang alam semesta
.
Kebiasaan baru ini, tema baru ini, tentu
aku dapat setelah aku iseng-iseng ikut mendaki ke Gunung Gede tempo hari.
Sebenarnya tujuan pendakian itu hanya untuk mencari tahu. “Apa sih yang
sebenarnya mereka cari di puncak sana?” Jawaban itu bisa aku temukan setelah
aku sampai di puncaknya. Aku tidak akan menjelaskan jawaban itu di sini. Sebab,
klimaks dari kenikmatan saat melakukan pendakian itu tidak bisa aku tuliskan
sekedar dengan kata-kata biasa seperti ini. Seindah apapun kata-kata itu.
Aku hanya bisa menggambarkannya
sedikit-sedikit, sepenganggal-sepenggal, tak bisa utuh, tak bisa menyeluruh.
Meski, keindahan semesta itu telah memaksaku untuk menggerakkan jari-jemariku
untuk menulis keindahan-kendahannya. Keindahan tentang sunsite, sunrise, samudra awan, kabut putih, hawa dingin, sampai
bunga-bunga edelwais yang tumbuh di lereng-lerengnya. Indah, benar-benar indah.
Tapi tetap saja, aku tak mampu melukiskannya dengan kata-kata. Bahkan dengan
rangkaian paling ciamik sekalipun.
Dari petualangan itu, cintaku pun
berlabuh pada keelokan Lembah Kasih, Lembah Mandalawangi, Pangrango. Lembah
yang menginspirasi Soe Hoek Gie menulis banyak puisi. Tapi, aku belum bisa
menyambagi tempat penuh cinta itu. Aku hanya bisa memandanginya dari kejauhan.
Pangrango yang nampak perkasa dari Puncak Gunung Gede. Ah yah, suatu hari nanti
aku berharap bisa mendaratkan tapak kakiku di sana. Dan menulis puisi-puisi
indah tentang cinta sambil menghirup segar aroma khas bunga-bunga edelwais yang
tengah bermekaran di musim semi. Sambil bersennandung bersama kumbang-kumbang
berwarna kuning, mereka berdengung sambil pemburu madu. Tak lupa secangkir kopi
dan sepotong roti. Oh nikmatnya! (Ali Ridwan, 22/08/15)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar