Sabtu, 13 Juni 2015

Rindu Ketinggian, Rindu Pendakian

 

Aku rindu ketinggian itu. Aku rindu keramahan para pendaki yang saling bertegur sapa di sepanjang jalur pendakian “Duluan bang..” Sambil tetap menyumbar senyum, meski nafasnya terengah-engah.

Aku rindu pendakian itu. Pendaki yang saling menyemangati. “Puncak sebentar lagi bang, semangat!!” Padahal, bohong. Puncak masih jauh, masih sangat jauh. Wajah-wajah tenang itu membuatku semakin penasaran. Sepertinya puncak telah memberikan kepuasan bathin kepadanya.

Aku rindu pemandangan itu. Lelaki muda terhuyun-huyun. Memikul kantong hitam besar berisi sampah bawaannya dari puncak. Merekalah pecinta alam yang sejatinya. Bukan hanya sekedar penikmat alam saja.

Aku rindu melihat wajah-wajah putus asa itu. Ingin menangis saja, ingin pulang saja, ingin mati saja. Tapi, begitu sampai ke puncak. Berubah semua. Wajah jadi ceria, bibir terus mengumbar tawa, senyumnya kian merona-rona di mukanya. Puncak sudah mencairkan bonusnya untuk mereka semua.

Aku rindu kebersamaan itu. Satu sakit semua sakit, satu lelah semua lelah, satu tertawa semua tertawa. Kita mendaki bersama, mendirikan tenda bersama, memasak bersama, sampai ke puncak bersama, turun juga bersama. Kita saling menjaga satu sama lainnya.

Aku rindu kekompakan itu. Rasa persaudaraan itu, rasa kepedulian itu, sampai pada konflik-konflik kecil itu, sekelompok anak muda yang menyimpan modus untuk cinta. Menjadikan pendakian hanya sebagai sarana saja. Alam jadi saksi bisu atas cinta yang tersembunyi dalam bilik-bilik hatinya.

Aku rindu keceriaan itu. Keceriaan yang hanya bisa kita temukan di perkemahan. Tidak ada media sosial, tidak ada jaringan seluler, yang ada hanya setumpuk kartu domino. Kemudian kita membuat permainan sederhana sambil meneguk secangkir kopi dan sepotong cokelat. Permainan tebak-tebakan yang dimainkan oleh mereka yang masih kekanak-kanakan.

Aku rindu berada di puncak itu. Berpose penuh gaya di atas gulungan samudra awan. Hawa dingin, bau belerang, hamparan edelwais, kawasan hutan lindung, kicauan burung-burung, pancuran air yang sedingin es, sampai padang pasir dan aneka babatuan khas pegunungan.

Aku cinta keindahan alam indonesia. Nikmati dan tolong, jagalah kelestariannya. Supaya bukan hanya kita yang bisa menikmati karunia Tuhan ini. Ingat juga untuk anak cucu kita nanti. “Salam pendaki!!” (Ali Ridwan, 12/06/15)

1 komentar: