Sabtu, 30 Mei 2015

Pendakian Gunung Gede, Cianjur, Jawa Barat (Part 4 #TheAnd)

 
Lembah Mandalawangi, Pangrango.

Lewat syair Soe Hok Gie aku mengenalmu. Mandalawangi, sebab ingin melihat kecantikanmu dari kejauhan, adalah alasan mengapa aku tak mengunjungimu waktu itu..

Sial, kabut turun terlampau cepat. Semakin siang semakin pekat. Pandanganku tersesat. Pangrango, aku terlambat. Cantikmu yang memikat tak bisa aku lihat. Mandalawangi yang memikat, harummu akan selalu aku ingat.

Pangrango, demi rindu yang gagal aku teriakkaan dari Puncak Gede. Mohon, tetap di situ! Tunggu sampai tiba kedatanganku di Lembah Mandalawangi, nanti.

Duhai cinta, jika nanti telah aku daki Puncak Pangrango dan tidak kutemukan rindu di Lembah Mandalawangi. Terpaksa harus aku berlari ke Puncak Merapi. Lalu, kusenandungkan rinduku dari Padang Savana.

Ranukumbolo, sikapmu begitu angkuh. Aku sendirian di Bukit Telletubies. Hampir mati tertikam sepi. Sekarat di kaki Sumeru. Hai Puncak Jaya Papua, sambut aku dengan salju yang kau tebarkan dalam impian-impian dan cita-cita yang sudah kau janjikan. Demi cinta yang berkualitas. Demi rindu yang semoga tak akan berakhir dengan kesia-siaan. (Ali Ridwan, 13/05/15)
~ ### ~
Setelah puas hampir tiga jam bermain-main di puncak. Siang itu kami langsung kembali ke perkemahan di Kandang badak. Di Perkemahan Kandang Badak selepas pendakian, kami membongkar tenda, berkemas, dan mengisi perut. Selesai berkemas, pada pukul 16.00 kami pun mulai turun untuk kembali ke pos pendakian paling awal, sebelum singgah di Green Ranger, di sana Half sudah menunggu untuk membawa kami kembali ke Bandung.

 
Perjalanan turun tentu tak akan sesulit perjalanan waktu mendaki. Namun, kaki yang mulai pegal, pinggang yang sudah linu, pundak yang makin terasa sakit. Turun gunung tetap menyediakan jenis tantangannya tersendiri. Bagaimanapun keadaan dan kondisinya, pendakian yang kami lakukan secara beregu dan berjumlah delapan belas pendaki ini harus tetap kompak. Sampai ke puncak sama-sama, sampai ke bawah juga harus tetap sama-sama.

Bagi pendaki yang mengaku dirinya bukan sekedar penikmat alam, tapi juga pecinta dan penjaga alam harus punya kesadaran diri secera penuh dan utuh untuk membawa sampah-sampahnya kembali turun. Logikanya, bungkus roti, botol air mineral, dan semua perbekalan yang sudah tidak ada isinya akan membuat barang bawaan menjadi lebih ringan. Faktanya, carrier malah terasa berat. Mungkin bukan ranselnya yang terasa berat, tapi kondisi tubuh yang mulai melemah, ditambah dengan sugesti seolah-olah sampah yang dibawa turun ikut menjadi beban, padahal tidak sama sekali.

Kami terus berjalan, medan jalan yang terus turun kadang membuat kecepatan berjalan justru sulit dikendalikan. Dari sini kekompakan tim mulai terpecah, jika waktu mendaki kita mendengar istilah satu peluit tanda berhenti, dua peluit tanda jalan lagi. Di perjalanan kembali ke bawah ini sepertinya sudah tidak berlaku. Belum lagi beberapa di antara kami berencana untuk berburu gambar sebelum hari menjadi gelap di daerah rawa, sekitar Panyangcangan. Kami semakin terpisah, ada yang paling depan, bahkan ada yang paling belakang.

 
Dibebani tanggung jawab sebagai sweeper, yaitu orang yang bertugas mengontrol paling belakang, tentu aku dan salah seorang bernama Bang Yus harus berada di paling belakang, memastikan tidak ada seorang oendaki pun yang tertinggal. Mau tidak mau aku dan bang Yus harus mendampingi dua pendaki perempuan yang sepertinya sudah kelelahan, terpaksa kami berempat jalan dengan sangat-sangat pelan, cendrung tertatih, dan dipaksakan. Pelan-pelan kami berjalan, semakin berjalan semakin pelan, sebentar-sebantar istirahat, membuat kami berempat jadi orang yang tertinggal paling belakang.

 
Sekali lagi, pendakian bukan hanya soal puncak. Pendakian sebenarnya adalah tentang bagaimana kita harus bisa mengalahkan ego kita masing-masing. Ditugaskan sebagai sweeper, aku hanya ingin memastikan tidak ada satu pendaki pun yang tertinggal di belakang. Tak mengapa aku tak ikut mengambil gambar di rawa sekitar Panyangcangan, mengambil gambar di rawa. Semua harus sampai ke bawah dengan selamat.

Hari semakin gelap, kami berempat berjalan semakin kalap. Bang Yus menuntun Anggun yang sepertinya kedua kakinya benar-benar keram. Sulit digerakkan sehingga harus berjalan seperti nenek-nenek lanjut usia. Perjalanan kami berempat jadi semakin lambat. Tak hanya sampai di situ, perjalanan masih panjang, kami kehabisan air minum. Air mineral yang tinggal seteguk di dalam botol kami hemat sehemat mungkin. Belum lagi kabut yang makin pekat di tengah hutan, senter yang semakin redup. Aku dan Lukyta yang matanya sama-sama sudah minus. Membuat perjalanan semakin lambat. 

Bang Yus yang menuntun Anggun dan aku yang menuntun Lukyta sudah tidak mampu berharap banyak, semoga yang lainnya masih menunggu kami di Panyangcangan. Perjalanan sampai ke bawah masih teramat jauh. Jika prediksiku sebelumnya jam 7 malam sampai ke bawah, sekarang berubah, bisa jadi jam 9 atau jam 11 malam baru sampai bawah jika tak ada bantuan dari yang lain. Pada akhirnya, sebelum Panyangcangan, dua orang menjemput naik. Dodhi dan Adit membawakan persediaan air. Lalu, mereka membawakan ransel milik Anggun dan Lukyta, perjalanan turun jadi lebih terbantu.

 
Sampai di Panyancangan kami disambut dengan enam orang lain yang sedang menunggu. Sisanya, sepertinya sudah sampai ke bawah. Kami memutuskan untuk istirahat sebentar di Panyangcangan, tempat pertama kami mendirikan tenda waktu pendakian. Lima belas menit kami mengistirahatkan diri, dalam perjalanan turun ini, kami yang tinggal dua belas orang kembali menerapkan sistem satu peluit berhenti, dua peluit jalan lagi. Kami melintasi rawa yang sepertinya harus mengubur keinginan untuk melihat pemandangan di sekitar sini pada siang hari. Waktu mendaki kami lewat sini pada malam hari dan pada waktu perjalanan turun, lewat sini akhirnya juga pada malam hari. Hanya gelap yang kami lihat, tak mengapa asal semua pendaki selamat.

 
Sebelum pos pertama, pos terakhir sebelum kita harus kembali melapor, tiga orang kembali menjemput naik. Kaki Anggun semakin parah. Dipapah dua orang sudah, digendong Bang Yus sudah, ditawarkan tandu tidak mau, untungnya petugas jaga sebagai penyelamat datang menghampiri, kemudian petugas itu melepas sarung yang mengalung di lehernya, menggendong Anggun di belakang punggungnya, dan berlari ke bawah. Lihatlah petugas itu, betapa sudah terlatihnya ia jadi seorang penjaga gunung. 

Ada satu filosofi pendaki yang bunyinya seperti ini “Ingin tahu sifat-sifat asli dari teman-temanmu? Ajak mereka naik gunung!” Aku pernah membaca novel “Marry Riana” yang ditulis Clara Ng. Bagaimana cara Merry Riana merekrut calon sales-sales hebatnya dengan trining camp. Yah, dengan training camp yang model pelatihannya mirip-mirip dengan filosopi pendakian ini aku jadi tahu, mana orang-orang yang bisa diajak bekerja sebagai tim dan mana yang cendrung individualis, apatis, dan egois. Pendakian ini membuat aku tahu, semua dari kedelapan belas teman-temanku. Mana yang persaudaraan dan kebersamaannya bagus dan mana yang hanya pandai ngeles nyari-nyari alasan.

Pukul 20.00 kami sampai di pos pertama, ketua regu melapor sebelum akhirnya kami diperbolehkan kembali ke Green Ranger. Istirahat sebentar dan langsung menuju Half terparkir, mobil jemputan sudah lama menunggu. Pukul 22.00 kami melakukan perjalanan pulang. Oh yah, mumpung masih di Cianjur, dimusabati oleh perut yang sangat lapar. Pukul 00.00 kami mampir di Sate Marangi mengisi perut. Kemudian melanjutkan perjalanan pulang kembali ke Bandung. Pukul kami 02.00 sampai di rumah. Mandi, gosok gigi, kemudian tidur dengan nyenyak. Ah sepertinya tidak akan nyenyak. Pagi-pagi aku harus terbangun. Penelitian skripsi sudah menanti. (Ali Ridwan, 31/05/15)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar