Lembah Mandalawangi, Pangrango.
Lewat syair Soe Hok Gie aku mengenalmu. Mandalawangi,
sebab ingin melihat kecantikanmu dari kejauhan, adalah alasan mengapa aku tak
mengunjungimu waktu itu..
Sial, kabut turun terlampau cepat. Semakin
siang semakin pekat. Pandanganku tersesat. Pangrango, aku terlambat. Cantikmu
yang memikat tak bisa aku lihat. Mandalawangi yang memikat, harummu akan selalu
aku ingat.
Pangrango, demi rindu yang gagal aku teriakkaan
dari Puncak Gede. Mohon, tetap di situ! Tunggu sampai tiba kedatanganku di
Lembah Mandalawangi, nanti.
Duhai cinta, jika nanti telah aku daki
Puncak Pangrango dan tidak kutemukan rindu di Lembah Mandalawangi. Terpaksa
harus aku berlari ke Puncak Merapi. Lalu, kusenandungkan rinduku dari Padang
Savana.
Ranukumbolo, sikapmu begitu angkuh. Aku sendirian
di Bukit Telletubies. Hampir mati tertikam sepi. Sekarat di kaki Sumeru. Hai Puncak
Jaya Papua, sambut aku dengan salju yang kau tebarkan dalam impian-impian dan
cita-cita yang sudah kau janjikan. Demi cinta yang berkualitas. Demi rindu yang
semoga tak akan berakhir dengan kesia-siaan. (Ali Ridwan, 13/05/15)
~ ### ~
Setelah puas hampir tiga jam
bermain-main di puncak. Siang itu kami langsung kembali ke perkemahan di
Kandang badak. Di Perkemahan Kandang Badak selepas pendakian, kami membongkar
tenda, berkemas, dan mengisi perut. Selesai berkemas, pada pukul 16.00 kami pun
mulai turun untuk kembali ke pos pendakian paling awal, sebelum singgah di
Green Ranger, di sana Half sudah menunggu untuk membawa kami kembali ke
Bandung.
Perjalanan turun tentu tak akan sesulit
perjalanan waktu mendaki. Namun, kaki yang mulai pegal, pinggang yang sudah
linu, pundak yang makin terasa sakit. Turun gunung tetap menyediakan jenis
tantangannya tersendiri. Bagaimanapun keadaan dan kondisinya, pendakian yang
kami lakukan secara beregu dan berjumlah delapan belas pendaki ini harus tetap
kompak. Sampai ke puncak sama-sama, sampai ke bawah juga harus tetap sama-sama.
Bagi pendaki yang mengaku dirinya bukan
sekedar penikmat alam, tapi juga pecinta dan penjaga alam harus punya kesadaran
diri secera penuh dan utuh untuk membawa sampah-sampahnya kembali turun.
Logikanya, bungkus roti, botol air mineral, dan semua perbekalan yang sudah
tidak ada isinya akan membuat barang bawaan menjadi lebih ringan. Faktanya, carrier malah terasa berat. Mungkin
bukan ranselnya yang terasa berat, tapi kondisi tubuh yang mulai melemah,
ditambah dengan sugesti seolah-olah sampah yang dibawa turun ikut menjadi
beban, padahal tidak sama sekali.
Kami terus berjalan, medan jalan yang
terus turun kadang membuat kecepatan berjalan justru sulit dikendalikan. Dari
sini kekompakan tim mulai terpecah, jika waktu mendaki kita mendengar istilah
satu peluit tanda berhenti, dua peluit tanda jalan lagi. Di perjalanan kembali
ke bawah ini sepertinya sudah tidak berlaku. Belum lagi beberapa di antara kami
berencana untuk berburu gambar sebelum hari menjadi gelap di daerah rawa,
sekitar Panyangcangan. Kami semakin terpisah, ada yang paling depan, bahkan ada
yang paling belakang.
Dibebani tanggung jawab sebagai sweeper, yaitu orang yang bertugas
mengontrol paling belakang, tentu aku dan salah seorang bernama Bang Yus harus
berada di paling belakang, memastikan tidak ada seorang oendaki pun yang
tertinggal. Mau tidak mau aku dan bang Yus harus mendampingi dua pendaki
perempuan yang sepertinya sudah kelelahan, terpaksa kami berempat jalan dengan
sangat-sangat pelan, cendrung tertatih, dan dipaksakan. Pelan-pelan kami
berjalan, semakin berjalan semakin pelan, sebentar-sebantar istirahat, membuat
kami berempat jadi orang yang tertinggal paling belakang.
Sekali lagi, pendakian bukan hanya soal
puncak. Pendakian sebenarnya adalah tentang bagaimana kita harus bisa mengalahkan
ego kita masing-masing. Ditugaskan sebagai sweeper,
aku hanya ingin memastikan tidak ada satu pendaki pun yang tertinggal di
belakang. Tak mengapa aku tak ikut mengambil gambar di rawa sekitar
Panyangcangan, mengambil gambar di rawa. Semua harus sampai ke bawah dengan
selamat.
Hari semakin gelap, kami berempat
berjalan semakin kalap. Bang Yus menuntun Anggun yang sepertinya kedua kakinya
benar-benar keram. Sulit digerakkan sehingga harus berjalan seperti nenek-nenek
lanjut usia. Perjalanan kami berempat jadi semakin lambat. Tak hanya sampai di
situ, perjalanan masih panjang, kami kehabisan air minum. Air mineral yang
tinggal seteguk di dalam botol kami hemat sehemat mungkin. Belum lagi kabut
yang makin pekat di tengah hutan, senter yang semakin redup. Aku dan Lukyta
yang matanya sama-sama sudah minus. Membuat perjalanan semakin lambat.
Bang Yus yang menuntun Anggun dan aku
yang menuntun Lukyta sudah tidak mampu berharap banyak, semoga yang lainnya
masih menunggu kami di Panyangcangan. Perjalanan sampai ke bawah masih teramat
jauh. Jika prediksiku sebelumnya jam 7 malam sampai ke bawah, sekarang berubah,
bisa jadi jam 9 atau jam 11 malam baru sampai bawah jika tak ada bantuan dari
yang lain. Pada akhirnya, sebelum Panyangcangan, dua orang menjemput naik.
Dodhi dan Adit membawakan persediaan air. Lalu, mereka membawakan ransel milik
Anggun dan Lukyta, perjalanan turun jadi lebih terbantu.
Sampai di Panyancangan kami disambut
dengan enam orang lain yang sedang menunggu. Sisanya, sepertinya sudah sampai
ke bawah. Kami memutuskan untuk istirahat sebentar di Panyangcangan, tempat
pertama kami mendirikan tenda waktu pendakian. Lima belas menit kami
mengistirahatkan diri, dalam perjalanan turun ini, kami yang tinggal dua belas
orang kembali menerapkan sistem satu peluit berhenti, dua peluit jalan lagi.
Kami melintasi rawa yang sepertinya harus mengubur keinginan untuk melihat
pemandangan di sekitar sini pada siang hari. Waktu mendaki kami lewat sini pada
malam hari dan pada waktu perjalanan turun, lewat sini akhirnya juga pada malam
hari. Hanya gelap yang kami lihat, tak mengapa asal semua pendaki selamat.
Sebelum pos pertama, pos terakhir
sebelum kita harus kembali melapor, tiga orang kembali menjemput naik. Kaki
Anggun semakin parah. Dipapah dua orang sudah, digendong Bang Yus sudah,
ditawarkan tandu tidak mau, untungnya petugas jaga sebagai penyelamat datang
menghampiri, kemudian petugas itu melepas sarung yang mengalung di lehernya,
menggendong Anggun di belakang punggungnya, dan berlari ke bawah. Lihatlah
petugas itu, betapa sudah terlatihnya ia jadi seorang penjaga gunung.
Ada satu filosofi pendaki yang bunyinya
seperti ini “Ingin tahu sifat-sifat asli dari teman-temanmu? Ajak mereka naik
gunung!” Aku pernah membaca novel “Marry Riana” yang ditulis Clara Ng.
Bagaimana cara Merry Riana merekrut calon sales-sales hebatnya dengan trining camp. Yah, dengan training camp yang model pelatihannya
mirip-mirip dengan filosopi pendakian ini aku jadi tahu, mana orang-orang yang
bisa diajak bekerja sebagai tim dan mana yang cendrung individualis, apatis,
dan egois. Pendakian ini membuat aku tahu, semua dari kedelapan belas
teman-temanku. Mana yang persaudaraan dan kebersamaannya bagus dan mana yang hanya
pandai ngeles nyari-nyari alasan.
Pukul 20.00 kami sampai di pos pertama,
ketua regu melapor sebelum akhirnya kami diperbolehkan kembali ke Green Ranger.
Istirahat sebentar dan langsung menuju Half terparkir, mobil jemputan sudah
lama menunggu. Pukul 22.00 kami melakukan perjalanan pulang. Oh yah, mumpung
masih di Cianjur, dimusabati oleh perut yang sangat lapar. Pukul 00.00 kami
mampir di Sate Marangi mengisi perut. Kemudian melanjutkan perjalanan pulang
kembali ke Bandung. Pukul kami 02.00 sampai di rumah. Mandi, gosok gigi, kemudian
tidur dengan nyenyak. Ah sepertinya tidak akan nyenyak. Pagi-pagi aku harus
terbangun. Penelitian skripsi sudah menanti. (Ali Ridwan, 31/05/15)







Tidak ada komentar:
Posting Komentar