Jika kamu paling bisa pamer kekayaan harta
orang tua. Apa daya, aku bisanya cuma pemer kakayaan alam Indonesia. :)
Lelaki sejati itu yang gemaranya naik gunung. Bukan yang hobinya raba-raba gunung. Wanita sejati itu yang suka mendaki gunung. Bukan yang senang pamer gunung. :D
Lelaki sejati itu yang gemaranya naik gunung. Bukan yang hobinya raba-raba gunung. Wanita sejati itu yang suka mendaki gunung. Bukan yang senang pamer gunung. :D
Buat
cerita mudamu lebih dari sekedar indah. Supaya kamu tua nanti. Bukan hanya selembar ijazah yang bisa
kau jadikan kenangan. Masih muda dan cuma tahu Mall itu menyedihkan bin
kasian!! :P
Sekali-kali
cobalah pergi mendaki dan hiduplah bersama alam!!
Biarkan
pikiranmu terbuka. Sampai hatimu benar-benar sadar. Di puncak sana, uang
bukanlah satu-satunya benda yang paling berharga. Hanya rasa persaudaraan dan kebersamaan,
adalah harta yang bisa membuat hatimu merasa bahagia. (Ali Ridwan, 12/05/15)
~ ### ~
Mentari sore mulai menyingsing.
Sisa-sisa sinarnya menembus celah-celah pepohonan hutan. Senja itu, setelah
mendirikan tenda dan membersihkan diri. Air yang sedingin es dan karena pendaki
tidak diijinkan membawa peralatan mandi. Kami hanya membasuh muka dan menggosok
gigi tanpa pasta. Lalu kumur dengan listerin. Tak jauh dari situ terdapat
sumber air bersih. Air yang digunakan para pendaki untuk berwudhu, menanak
nasi, membuat mie rebus dan kopi, kami ambil dari pancuran itu.
Senja yang ceria. Setelah ibadah shalat
maghrib dan isya’ nasi yang dinanak,
sosis yang goreng, dan ikan sarden yang dipanaskan, akhirnya sudah
masak. Di perkemahan Kandang Badak, kami bersantap malam bersama. Sederhana
tapi bahagia, begitulah menu utama pada tema makan malam kami kali ini. Selepas
makan malam, beberapa di antara kami langsung mendengkur dalam balutan sleeping bag. Ada yang masih terjaga
sambil bermain kartu dan tebak-tebakan, sampai jelang tengah malam.
Kelelahan setelah seharian mendaki.
Belum lagi dinginnya hawa pegunungan yang khas. Membuat mataku cepat sayup. Aku
terlelap begitu cepat. Meski sudah dibalut dengan berlapis-lapis jecket,
ditambah dengan tebalnya sliming bag, rupanya
itu masih bisa tertembus dingin saat hari menjelang shubuh. Hawa dingin yang
makin ganas telah membangunkanku dini hari sekali. paksa untuk kembali
memejamkan mata, tapi tak bisa. Aku terus bangun dan terjaga. Sampai pagi
akhirnya tiba. Anak-anak tenda sebelah yang masih terlelap karena semalamaman
begadang, sepertinya rencana kita berburu sunrise
di Puncak Gede gagal. Rencana pendakian sebelum shubuh terpaksa batal.
Pukul 06.00 semua sudah bangun. Ada yang
terpaksa harus berjuang melawan hawa dingin untuk mengambil wudhu, bahkan ada
yang memilih betayamum daripada nanti terserang hipotermia, ada yang memanaskan air, menyeduh secangkir kopi dan mengunyah
sepotong roti. Kami akan memulai pendakian pada pukul 08.00, semua barang
bawaan kami tinggal di tenda, kecuali barang-barang berharga seperti dompet dan
handphone. Asal masih sesama pendaki,
barang bawaan dijamin aman bila ditinggal di tenda.
Meninggalkan barang bawaan di Kandang
Badak. Membuat kami bisa mendaki ke puncak tanpa harus menenteng ransel seberat
20 kg di pundak, pendakian ke puncak akan terasa lebih ringan. Dengan menenteng
tas kecil, kemudian sebotol air mineral, salah satu diantara kami membawa
ransel kecil berisi air minum dan roti. Kami siap memulai pendakian ke puncak.
Setelah berdoa, pendakian diawali dengan semangat senyum penuh suka cita. Dua
hari sudah kami berjalan. Dan hari ini, puncak semakin dekat. Sudah tak sabar
rasanya bisa berfoto sambil berpose di balik samudra awan.
Sekitar seratus meter dari perkemahan di
Kandang Badak. Kami menjumpai persimpangan. Satu arah menuju Puncak Gede, satu
arah lagi menuju Puncak Pangrango. Tentu saja kami mengambil jalur yang menuju
Puncak Gede. Sebab itu tujuan kami mendaki. Konon, kalau soal puncak, Gunung
Gede lebih indah dari Pangrango, tapi kalau soal taman bunga edelwaiss,
Pangrango dengan Lembah Mandalawangi nya tentu jauh lebih indah.
Mendaki dan terus mendaki. Meski tanpa
menenta]eng carrier di pundak, medan yang terjal dan terus menanjak, lebih
curam dan lebih kejam. Membuat kami tidak bisa melakukan pendakian secara
konstan, harus istirahat dan break
berkali-kali. Maklum, kami beregu, tidak semuanya laki-laki, tidak semuanya
berpengalaman, tidak semuanya kuat. Jadi kami harus saling mengimbangi satu
sama lainnya. Tak lama kemudian sampai juga kami di medan yang paling ditakuti.
Selamat datang di “Tanjakan Setan”.
Tanjakan setan. Tanjakan ini sebenarnya
dibuat boleh dibilang sebagai bonus buat para pecinta hiking. Ada tali temali
di dindingnya, Tanjakan Setan membuat prosesi pendakian jadi sedikit lebih
berwarna. Pendakian ini jadi terkesan bukan hanya olahraga tapi juga wisata. Di
sela-sela tanjakan, kami berdiri di antara bebatuan. Dari situ kamu melihat Puncak
Pangrango, rimbun diselimuti pepohonan hutan lindung. Melihat pemandangan ini,
seperti mengingatkan aku saat sedang berada di pesawat saat sedang terbang di
atas hutan-hutan tropis dari Tanah Papua yang masih perawan.
Setelah dua jam melakukan pendakian.
Akhirnya, pada pukul 10.00 Sampai juga kami di puncak. Keluh kesah, peluh
lelah, semua pudar seketika. Bagitu kami sampai di puncaknya. Pemandangan kawan
gunung berapi, samudra awan, bunga-bunga edelwain di lereng-lereng Gede.
Pendakian kami sampai juga pada klimaksnya. Luar biasa nikmatnya. Inilah
kepuasan bathin yang tak bisa kami ceritakan pada mereka yang tak pernah
melakukan pendakian. Mendakilah maka kamu akan tahu bagaimana rasanya puncak.
Tiga jam kami di puncak. Berfoto-foto
sambil menikmati pemandangan alam. Kabut yang semakin siang semakin pekat.
Kalaupun kami sampai sore di atas sini, kami tak akan mendapatkan sunsite yang
kita incar. Pada pukul 13.00 kami pun turun
dan kembali ke Kandang Badak. Terisnpirasi dengan film Shinobie, sewaktu turun
aku dan salah satu teman yang memiliki basic bela diri memutuskan turun sambil
berlari, meliauk dan menikung seperti ninja asashin, aku turun satu jam lebih
cepat dari yang lainnya. Bersantai di Tenda sambil memask mie untuk makan
siang, aku dan beberapa teman yang sudah sampai duluan berkesempatan untuk
santai sejenak. Pukul 15.15 semua anggota rombongan sudah sampai ke tenda. Kami
pun bersantap siang bersama, kemudian membereskan tenda, lalu berkemas. Setelah
berdoa, tepat pukul 16.00 kami mulai turun, meninggalkan perkemahan Kandang
Badak. (Ali Ridwan, 25/05/15)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar