Sabtu, 30 Mei 2015

Pendakian Gunung Gede, Cianjur, Jawa Barat (Part 3)

Jika kamu paling bisa pamer kekayaan harta orang tua. Apa daya, aku bisanya cuma  pemer kakayaan alam Indonesia. :) 

Lelaki sejati itu yang gemaranya naik gunung. Bukan yang hobinya raba-raba gunung. Wanita sejati itu yang suka mendaki gunung. Bukan yang senang pamer gunung. :D

Buat cerita mudamu lebih dari sekedar indah. Supaya kamu tua  nanti. Bukan hanya selembar ijazah yang bisa kau jadikan kenangan. Masih muda dan cuma tahu Mall itu menyedihkan bin kasian!! :P

Sekali-kali cobalah pergi mendaki dan hiduplah bersama alam!!

Biarkan pikiranmu terbuka. Sampai hatimu benar-benar sadar. Di puncak sana, uang bukanlah satu-satunya benda yang paling berharga. Hanya rasa persaudaraan dan kebersamaan, adalah harta yang bisa membuat hatimu merasa bahagia. (Ali Ridwan, 12/05/15)
~ ### ~
Mentari sore mulai menyingsing. Sisa-sisa sinarnya menembus celah-celah pepohonan hutan. Senja itu, setelah mendirikan tenda dan membersihkan diri. Air yang sedingin es dan karena pendaki tidak diijinkan membawa peralatan mandi. Kami hanya membasuh muka dan menggosok gigi tanpa pasta. Lalu kumur dengan listerin. Tak jauh dari situ terdapat sumber air bersih. Air yang digunakan para pendaki untuk berwudhu, menanak nasi, membuat mie rebus dan kopi, kami ambil dari pancuran itu.

Senja yang ceria. Setelah ibadah shalat maghrib dan isya’ nasi yang dinanak,  sosis yang goreng, dan ikan sarden yang dipanaskan, akhirnya sudah masak. Di perkemahan Kandang Badak, kami bersantap malam bersama. Sederhana tapi bahagia, begitulah menu utama pada tema makan malam kami kali ini. Selepas makan malam, beberapa di antara kami langsung mendengkur dalam balutan sleeping bag. Ada yang masih terjaga sambil bermain kartu dan tebak-tebakan, sampai jelang tengah malam.

Kelelahan setelah seharian mendaki. Belum lagi dinginnya hawa pegunungan yang khas. Membuat mataku cepat sayup. Aku terlelap begitu cepat. Meski sudah dibalut dengan berlapis-lapis jecket, ditambah dengan tebalnya sliming bag, rupanya itu masih bisa tertembus dingin saat hari menjelang shubuh. Hawa dingin yang makin ganas telah membangunkanku dini hari sekali. paksa untuk kembali memejamkan mata, tapi tak bisa. Aku terus bangun dan terjaga. Sampai pagi akhirnya tiba. Anak-anak tenda sebelah yang masih terlelap karena semalamaman begadang, sepertinya rencana kita berburu sunrise di Puncak Gede gagal. Rencana pendakian sebelum shubuh terpaksa batal.

Pukul 06.00 semua sudah bangun. Ada yang terpaksa harus berjuang melawan hawa dingin untuk mengambil wudhu, bahkan ada yang memilih betayamum daripada nanti terserang hipotermia, ada yang memanaskan air, menyeduh secangkir kopi dan mengunyah sepotong roti. Kami akan memulai pendakian pada pukul 08.00, semua barang bawaan kami tinggal di tenda, kecuali barang-barang berharga seperti dompet dan handphone. Asal masih sesama pendaki, barang bawaan dijamin aman bila ditinggal di tenda.

Meninggalkan barang bawaan di Kandang Badak. Membuat kami bisa mendaki ke puncak tanpa harus menenteng ransel seberat 20 kg di pundak, pendakian ke puncak akan terasa lebih ringan. Dengan menenteng tas kecil, kemudian sebotol air mineral, salah satu diantara kami membawa ransel kecil berisi air minum dan roti. Kami siap memulai pendakian ke puncak. Setelah berdoa, pendakian diawali dengan semangat senyum penuh suka cita. Dua hari sudah kami berjalan. Dan hari ini, puncak semakin dekat. Sudah tak sabar rasanya bisa berfoto sambil berpose di balik samudra awan.

Sekitar seratus meter dari perkemahan di Kandang Badak. Kami menjumpai persimpangan. Satu arah menuju Puncak Gede, satu arah lagi menuju Puncak Pangrango. Tentu saja kami mengambil jalur yang menuju Puncak Gede. Sebab itu tujuan kami mendaki. Konon, kalau soal puncak, Gunung Gede lebih indah dari Pangrango, tapi kalau soal taman bunga edelwaiss, Pangrango dengan Lembah Mandalawangi nya tentu jauh lebih indah.

Mendaki dan terus mendaki. Meski tanpa menenta]eng carrier di pundak, medan yang terjal dan terus menanjak, lebih curam dan lebih kejam. Membuat kami tidak bisa melakukan pendakian secara konstan, harus istirahat dan break berkali-kali. Maklum, kami beregu, tidak semuanya laki-laki, tidak semuanya berpengalaman, tidak semuanya kuat. Jadi kami harus saling mengimbangi satu sama lainnya. Tak lama kemudian sampai juga kami di medan yang paling ditakuti. Selamat datang di “Tanjakan Setan”.

Tanjakan setan. Tanjakan ini sebenarnya dibuat boleh dibilang sebagai bonus buat para pecinta hiking. Ada tali temali di dindingnya, Tanjakan Setan membuat prosesi pendakian jadi sedikit lebih berwarna. Pendakian ini jadi terkesan bukan hanya olahraga tapi juga wisata. Di sela-sela tanjakan, kami berdiri di antara bebatuan. Dari situ kamu melihat Puncak Pangrango, rimbun diselimuti pepohonan hutan lindung. Melihat pemandangan ini, seperti mengingatkan aku saat sedang berada di pesawat saat sedang terbang di atas hutan-hutan tropis dari Tanah Papua yang masih perawan.

Setelah dua jam melakukan pendakian. Akhirnya, pada pukul 10.00 Sampai juga kami di puncak. Keluh kesah, peluh lelah, semua pudar seketika. Bagitu kami sampai di puncaknya. Pemandangan kawan gunung berapi, samudra awan, bunga-bunga edelwain di lereng-lereng Gede. Pendakian kami sampai juga pada klimaksnya. Luar biasa nikmatnya. Inilah kepuasan bathin yang tak bisa kami ceritakan pada mereka yang tak pernah melakukan pendakian. Mendakilah maka kamu akan tahu bagaimana rasanya puncak.

Tiga jam kami di puncak. Berfoto-foto sambil menikmati pemandangan alam. Kabut yang semakin siang semakin pekat. Kalaupun kami sampai sore di atas sini, kami tak akan mendapatkan sunsite yang kita incar. Pada pukul  13.00 kami pun turun dan kembali ke Kandang Badak. Terisnpirasi dengan film Shinobie, sewaktu turun aku dan salah satu teman yang memiliki basic bela diri memutuskan turun sambil berlari, meliauk dan menikung seperti ninja asashin, aku turun satu jam lebih cepat dari yang lainnya. Bersantai di Tenda sambil memask mie untuk makan siang, aku dan beberapa teman yang sudah sampai duluan berkesempatan untuk santai sejenak. Pukul 15.15 semua anggota rombongan sudah sampai ke tenda. Kami pun bersantap siang bersama, kemudian membereskan tenda, lalu berkemas. Setelah berdoa, tepat pukul 16.00 kami mulai turun, meninggalkan perkemahan Kandang Badak. (Ali Ridwan, 25/05/15)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar