Sabtu, 16 Mei 2015

Pendakian Gunung Gede, Cianjur, Jawa Barat (Part 2)

Mendaki, adalah tentang bagaimana kita mengalahkan diri kita sendiri.

Pendakian, bukan hanya soal puncak. Lebih daripada itu. Pendakian adalah tentang kebersamaan, persaudaraan, dan juga kepedulian.

Samudra awan yang biasa kau lihat di atas sana. Bisa kau sentuh dan kau jamah dengan kedua tanganmu sendiri. Asal kau bersedia untuk mendaki..

Catat!! Kau tak akan pernah mengerti indahnya cinta, jika kau tidak pernah jatuh hati. Kau tak akan pernah mengerti indahnya puncak, jika kau tidak pernah mendaki. (Ali Ridwan, 12/05/15)
~ ### ~
Setelah nge camp semalam di Panyangcangan, pagi-pagi sekali kami sudah terbangun oleh gaduh riuhnya para pedaki lain yang juga singgah di tempat kami membangun tenda. Pukul 06.00 kami menyiapkan sarapan, lalu berkemas. Pukul 08.00 kami kembali melakukan pendakian. 8,5 KM menuju Puncak Gede. Jika kondisi fisik mumpuni dan kondisi medan bersahabat, kita bisa mencapai puncak hanya dengan 8 – 9 jam pendakian.

 
Jalur pendakian ke Puncak Gede adalah jalur yang ramai. Di sepanjang jalan banyak dijumpai para pendaki yang akan naik ataupun yang sudah turun. Medan pendakian yang seperti tangga dan sudah dilapisi batu-batu besar, jalur pendakian sengaja didesain sebaik mungkin untuk para pemula. Kendati demikian, jika tidak menyiapkan fisik yang siap tempur, siapapun bisa kedodoran di tengah jalan. Mengingat sepanjang jalur pendakian adalah jalan menanjak, dan terus menanjak, kadang malah membentuk semacam tebing.

Sepanjang jalan pendakian, tidak ada satupun pendaki yang berjalan secara konstan. Jalur pendakian memang benar-benar menguras tenaga. Harus pandai mengatur nafas, mengatur langkah kaki, dan mengatur barang bawaan dalam carrier agar tak menyulitkan. Meski meletihkan, namun karena keramahan antar sesama pendaki yang saling menyemangati, senantiasa bertegur sapa. Peristiwa yang jarang sekali dijumpai bila sedang berada di kota. Membuat pendakian yang berat jadi terasa lebih ringan.

Sepuluh menit mendaki, tiga menit istirahat. Lima belas menit mendaki, empat menit istirahat. Sampai ke Shalter Rawa Denok 1 kami tidak singgah, terus melakukan pendakian, baru di Shalter Rawa Denok 2 kami memutuskan untuk istirahat selama lima belas menit. Supaya kami bisa meluruskan kaki, melepaskan ransel di pundak yang terasa seperti tempurung kura-kura. Oh, bahagia itu sangat-sangat sederhana kawan. Kamu kelelahan dan kamu bisa melepas keletihanmu dengan hati penuh syukur. Kami benar-benar menikmati jalur pendakian ini dengan hati yang damai.

 
Eitss, jangan lupa foto-foto dulu. Ingat! Jangan ambil apapun kecuali gambar! Jangan tinggalkan apapun kecuali jejak! Kami apresiasi para pendaki yang turun dan membawa sampahnya kembali.

Setelah dirasa cukup. Kami melanjutkan kembali pendakian. Luar biasa, ternyata jalur pendakian makin menanjak, sementara nafas sudah mulai putus-putus. Ah yah, terlalu banyak istirahat justru membuat energi banyak tersita. Pantat seperti lengket dengan tanah. Enggan beranjak dan ingin tetap berada di situ. Tapi tidak! Ini harus dipaksa! Supaya kami lekas sampai ke puncak. Ingat! Puncak!! Puncak!! Puncak! Yakin dan percaya, kita pasti bisa! Filosofi pendakian ini jadi mengingatkan aku bagaimana aku harus menyeselaikan sebuah novel. Ya, aku hanya perlu terus menulis dan menulis. Sama halnya dengan pendakian ini, kami hanya perlu terus mendaki dan mendaki.

Sepanjang jalur pendakian, kami sering menjumpai banyak pendaki yang menggigit sesachet madu rasa. Mungkin akan berfungsi sebagai penambah stamina. Aku sendiri menyelipkan sebotol keratingdaeng dan beberapa potong cokelat pengganjal perut. Sebotol Aqua kecil itu pasti, setiap break seteguk air putih adalah wajib untuk membasahi tenggorokan yang pasti kering. Terus mendaki dengan keringat bercucuran meski udara sekitar berhawa dingin, kami dibuat lebih bersemangat begitu sampai di  perlintasan air terjun beruap. Selain karena airnya panas, medan diselimuti kabut pekat berwarna putih. Mengaburkan jarak pandang hanya dua meter saja. Uap-uap panas itu seperti merelaksasi tubuh kami yang keletihan. Membasuh peluh yeng menetes di dahi sampai ke sekujur tubuh. Kami benar-benar mencintai pendakian ini.

 
Melihat betapa eksotisnya air terjun yang beruap, kami memutuskan untuk beristirahat di persinggahan, Shalter di atas air panas. Sepuluh menit terbaring di bebatuan, rupanya kami mulai kelaparan. Beruntung, siang itu ada penjual nasi uduk. Satu bungkusnya Rp 10.000,- Isinya ada nasi sama telur goreng, nasinya cuma lima sendok dan sudah dingin, tapi tetap nikmat. Namanya juga kelaparan. Saking laparnya diantara teman-teman semua hanya aku sendiri yang habis dua bungkus. Hehe, maklum perutku belum kemasukan nasi semenjak kemarin sore. Rencana ngecamp sebentar dan masak nasi di Kandang Batu sepertinya akan batal, sebab kami terlanjur kenyang dengan nasi uduk yang dijual oleh bapak-bapak yang mendaki hanya untuk berdagang.

Pukul 12.00 siang sampai juga kami di Kandang batu. Banyak orang mendirikan tenda di sini, rencana kami ngecamp di sini akhirnya benar-benar batal. Kami  melanjutkan sampai ke Kandang Badak. Jalur pendakian dari Kandang Batu sampai ke Kandang Badak sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya saja mendannya jadi terkesan lebih ganas. Semakin ke atas, jalur pendakian semakin sulit, menanjak dan terus menanjak, dua rekan kami yang perempuan bahkan sampai hampir menangis dibuatnya. Tubuh yang makin letih ditambah tanjakan yang makin terjal adalah penyebabnya. Tapi lagi-lagi, di perjalanan kami disuguhi dengan eksotisnya pemandangan alam. Yah, ada air terjun lagi. Siapkan kamera, dan jangan lupa diabadikan dulu momentnya, yuk foto-foto dulu. Eh, tapi jangan kelamaan, jalan masih panjang.

Akhirnya, sampai juga kami di Kandang Badak. Kira-kira sekitar pukul 13.22 siang. Ternyata, ada penjual kopi, gorengan, sama pop mie di atas. Tapi harganya lumayan gila-gilaan. Gorengan per potong Rp 2000,- kopi seduh Rp 5000,- Aqua kecil dan pop mie seduh Rp 15,000,-. Untuk mengganjal perut kami membeli beberapa potong gorengan dan secangkir kopi. Pukul 15.00 setelah menemukan tempat kosong kami memutuskan membangun tenda di sini. Beristirahat lalu masak nasi untuk makan malam.

Memutuskan untuk ngecamp di kandang Badak, membuat rencana kita berburu sunsite dan sunrise di puncak harus direlakan. Tapi tak mengapa, sebab puncak bukan satu-satunya tujuan. Bisa mendaki dan bisa turun dengan selamat tanpa kurang suatu apapun saja sudah bersyukur. Mengingat sebagian besar dari kami adalah pendaki pemula dan seperti yang dikatakan petugas jaga di Pos pertama tempo hari “Satu dekade trakhir sudah ada empat pendaki yang tewas dan beberapa pendaki dilarikan ke rumah sakit. Akhirnya, setelah 7 jam pendakian hanya sampai ke kandang Badak. Sedangkan untuk sampai ke puncak butuh sekitar 2-3 jam pendakian lagi. Karena kondisi fisik mulai lemah. Pendakian Puncak Gede, dilanjutkan besok pagi. (Ali Ridwan, 17/05/15)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar