Mendaki, adalah tentang bagaimana kita
mengalahkan diri kita sendiri.
Pendakian, bukan hanya soal puncak. Lebih
daripada itu. Pendakian adalah tentang kebersamaan, persaudaraan, dan juga
kepedulian.
Samudra awan yang biasa kau lihat di atas
sana. Bisa kau sentuh dan kau jamah dengan kedua tanganmu sendiri. Asal kau
bersedia untuk mendaki..
Catat!! Kau tak akan pernah mengerti
indahnya cinta, jika kau tidak pernah jatuh hati. Kau tak akan pernah mengerti
indahnya puncak, jika kau tidak pernah mendaki. (Ali Ridwan, 12/05/15)
~ ### ~
Setelah nge camp semalam di Panyangcangan, pagi-pagi sekali kami sudah
terbangun oleh gaduh riuhnya para pedaki lain yang juga singgah di tempat kami
membangun tenda. Pukul 06.00 kami menyiapkan sarapan, lalu berkemas. Pukul
08.00 kami kembali melakukan pendakian. 8,5 KM menuju Puncak Gede. Jika kondisi
fisik mumpuni dan kondisi medan bersahabat, kita bisa mencapai puncak hanya
dengan 8 – 9 jam pendakian.
Jalur pendakian ke Puncak Gede adalah
jalur yang ramai. Di sepanjang jalan banyak dijumpai para pendaki yang akan
naik ataupun yang sudah turun. Medan pendakian yang seperti tangga dan sudah
dilapisi batu-batu besar, jalur pendakian sengaja didesain sebaik mungkin untuk
para pemula. Kendati demikian, jika tidak menyiapkan fisik yang siap tempur,
siapapun bisa kedodoran di tengah jalan. Mengingat sepanjang jalur pendakian
adalah jalan menanjak, dan terus menanjak, kadang malah membentuk semacam
tebing.
Sepanjang jalan pendakian, tidak ada
satupun pendaki yang berjalan secara konstan. Jalur pendakian memang
benar-benar menguras tenaga. Harus pandai mengatur nafas, mengatur langkah
kaki, dan mengatur barang bawaan dalam carrier agar tak menyulitkan. Meski
meletihkan, namun karena keramahan antar sesama pendaki yang saling
menyemangati, senantiasa bertegur sapa. Peristiwa yang jarang sekali dijumpai
bila sedang berada di kota. Membuat pendakian yang berat jadi terasa lebih
ringan.
Sepuluh menit mendaki, tiga menit
istirahat. Lima belas menit mendaki, empat menit istirahat. Sampai ke Shalter
Rawa Denok 1 kami tidak singgah, terus melakukan pendakian, baru di Shalter Rawa
Denok 2 kami memutuskan untuk istirahat selama lima belas menit. Supaya kami
bisa meluruskan kaki, melepaskan ransel di pundak yang terasa seperti tempurung
kura-kura. Oh, bahagia itu sangat-sangat sederhana kawan. Kamu kelelahan dan
kamu bisa melepas keletihanmu dengan hati penuh syukur. Kami benar-benar
menikmati jalur pendakian ini dengan hati yang damai.
Eitss, jangan lupa foto-foto dulu.
Ingat! Jangan ambil apapun kecuali gambar! Jangan tinggalkan apapun kecuali
jejak! Kami apresiasi para pendaki yang turun dan membawa sampahnya kembali.
Setelah dirasa cukup. Kami melanjutkan
kembali pendakian. Luar biasa, ternyata jalur pendakian makin menanjak,
sementara nafas sudah mulai putus-putus. Ah yah, terlalu banyak istirahat
justru membuat energi banyak tersita. Pantat seperti lengket dengan tanah.
Enggan beranjak dan ingin tetap berada di situ. Tapi tidak! Ini harus dipaksa!
Supaya kami lekas sampai ke puncak. Ingat! Puncak!! Puncak!! Puncak! Yakin dan
percaya, kita pasti bisa! Filosofi pendakian ini jadi mengingatkan aku
bagaimana aku harus menyeselaikan sebuah novel. Ya, aku hanya perlu terus
menulis dan menulis. Sama halnya dengan pendakian ini, kami hanya perlu terus
mendaki dan mendaki.
Sepanjang jalur pendakian, kami sering
menjumpai banyak pendaki yang menggigit sesachet madu rasa. Mungkin akan
berfungsi sebagai penambah stamina. Aku sendiri menyelipkan sebotol
keratingdaeng dan beberapa potong cokelat pengganjal perut. Sebotol Aqua kecil
itu pasti, setiap break seteguk air putih
adalah wajib untuk membasahi tenggorokan yang pasti kering. Terus mendaki
dengan keringat bercucuran meski udara sekitar berhawa dingin, kami dibuat
lebih bersemangat begitu sampai di
perlintasan air terjun beruap. Selain karena airnya panas, medan
diselimuti kabut pekat berwarna putih. Mengaburkan jarak pandang hanya dua
meter saja. Uap-uap panas itu seperti merelaksasi tubuh kami yang keletihan.
Membasuh peluh yeng menetes di dahi sampai ke sekujur tubuh. Kami benar-benar mencintai
pendakian ini.
Melihat betapa eksotisnya air terjun
yang beruap, kami memutuskan untuk beristirahat di persinggahan, Shalter di
atas air panas. Sepuluh menit terbaring di bebatuan, rupanya kami mulai
kelaparan. Beruntung, siang itu ada penjual nasi uduk. Satu bungkusnya Rp
10.000,- Isinya ada nasi sama telur goreng, nasinya cuma lima sendok dan sudah
dingin, tapi tetap nikmat. Namanya juga kelaparan. Saking laparnya diantara
teman-teman semua hanya aku sendiri yang habis dua bungkus. Hehe, maklum
perutku belum kemasukan nasi semenjak kemarin sore. Rencana ngecamp sebentar
dan masak nasi di Kandang Batu sepertinya akan batal, sebab kami terlanjur kenyang
dengan nasi uduk yang dijual oleh bapak-bapak yang mendaki hanya untuk
berdagang.
Pukul 12.00 siang sampai juga kami di
Kandang batu. Banyak orang mendirikan tenda di sini, rencana kami ngecamp di
sini akhirnya benar-benar batal. Kami melanjutkan
sampai ke Kandang Badak. Jalur pendakian dari Kandang Batu sampai ke Kandang
Badak sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya saja mendannya jadi terkesan lebih
ganas. Semakin ke atas, jalur pendakian semakin sulit, menanjak dan terus
menanjak, dua rekan kami yang perempuan bahkan sampai hampir menangis
dibuatnya. Tubuh yang makin letih ditambah tanjakan yang makin terjal adalah
penyebabnya. Tapi lagi-lagi, di perjalanan kami disuguhi dengan eksotisnya
pemandangan alam. Yah, ada air terjun lagi. Siapkan kamera, dan jangan lupa
diabadikan dulu momentnya, yuk foto-foto dulu. Eh, tapi jangan kelamaan, jalan
masih panjang.
Akhirnya, sampai juga kami di Kandang
Badak. Kira-kira sekitar pukul 13.22 siang. Ternyata, ada penjual kopi,
gorengan, sama pop mie di atas. Tapi harganya lumayan gila-gilaan. Gorengan per
potong Rp 2000,- kopi seduh Rp 5000,- Aqua kecil dan pop mie seduh Rp 15,000,-.
Untuk mengganjal perut kami membeli beberapa potong gorengan dan secangkir
kopi. Pukul 15.00 setelah menemukan tempat kosong kami memutuskan membangun tenda
di sini. Beristirahat lalu masak nasi untuk makan malam.
Memutuskan untuk ngecamp di kandang
Badak, membuat rencana kita berburu sunsite
dan sunrise di puncak harus
direlakan. Tapi tak mengapa, sebab puncak bukan satu-satunya tujuan. Bisa
mendaki dan bisa turun dengan selamat tanpa kurang suatu apapun saja sudah
bersyukur. Mengingat sebagian besar dari kami adalah pendaki pemula dan seperti
yang dikatakan petugas jaga di Pos pertama tempo hari “Satu dekade trakhir
sudah ada empat pendaki yang tewas dan beberapa pendaki dilarikan ke rumah
sakit. Akhirnya, setelah 7 jam pendakian hanya sampai ke kandang Badak.
Sedangkan untuk sampai ke puncak butuh sekitar 2-3 jam pendakian lagi. Karena kondisi
fisik mulai lemah. Pendakian Puncak Gede, dilanjutkan besok pagi. (Ali Ridwan,
17/05/15)








Tidak ada komentar:
Posting Komentar