Jumat, 15 Mei 2015

Pendakian Gunung Gede, Cianjur, Jawa Barat (Part 1)

 
Kau tahu..
Dinginnya hawa pegunungan...

Sunsite dan sunrise dari puncak bukit...
Gumpal-gumpalan awan putih bergelombang indah,
Tumpah ruah, menghampar tepat di depan matamu..

Lansekap tersingkap...
Di bawah langit berbintang.. 
Dari kejauhan samudra biru membentang...

Pendakian adalah candu.. 
Bagi para pemuja keindahan semesta..

Jika kau jumpai butiran-butiran salju...
Bila kabut pagi sampai mengaburkan pandanganmu...

Jangan biarkan dingin di gelap malam 
membangunkan tidurmu..
Jangan relakan, bila semua itu ternyata 
hanyalah mimpi belaka..

Mendakilah! 
Supaya kau paham dan mengerti...

Betapa sulitnya naik. 
Betapa mudahnya turun, terjatuh, dan terperosok..
Lelah memang. Tapi percaya! 
Puncak akan membayarnya dengan tuntas.
(Ali Ridwan, 06/05/15)

~ ### ~
Dimulai dari Sekolah Tinggi Farmasi Bandung. Cerita ini adalah tentang sekelompok anak muda yang mengaku dirinya adalah pecinta alam sejati. Bukan! Ini bukan kegiatan ekskul kampus. Kegiatan ini bebas dari cempur tangan pihak akademik. Kegiatan ini adalah murni, panggilan jiwa, kesadaran yang tumbuh dari dalam diri, sadar bahwa alam Indonesia, terlalu disayangkan jika keindahan dari pesonanya harus dilewatkan begitu saja.

Satu minggu, setelah masa-masa ujian tengah semester berlalu. Curi-curi waktu di akhir pekan yang sibuk. Sebelum skripsi dan penelitian semakin membenamkan kita pada kepenatan yang berkepanjangan. Soal skripsi? Yah, tetap dikerjakan dengan terukur dan biarkan terselesaikan tepat pada waktunya!! Tak ada salahnya, kita menyisihkan sedikit waktu jeda. Ganti suasana yang berbeda. Refresh kan pikiran, kembali jadi cemerlang.

Delapan belas pendaki. Perwakilan nusantara, Indonesia Raya. Dua dari Jakarta, tiga dari Bandung, dua dari Jambi, delapan dari Kalimantan, satu dari Kediri, satu dari Sulawesi, dan satu lagi dari Papua.  Bukankah kami adalah tim yang hebat! Perwakilan dari Sumatra, Jakarta, Jabar, Jatim, Kalimantan, Sulawesi, sampai Papua, semuanya ada. 

Jum’at, delapan Mei, 2015. Kita akan memulai pendakian ke Gunung Gede, Pangrango, Jawa Barat. Perorang, kita siapkan buget kisaran Rp 250,000,- Kebanyakan, ongkos lebih mahal untuk transportasi dan perlengkapan. Untuk kelengkapan adminitrasi yang dibutuhkan, hanya selembar fotocopy KTP. Juga uang adminitrasi sebesar Rp 35.000,-.  Berhubung kuota 500 pendaki dari Cibodas telah ludes, jadi kita langsung beli ke Green Ranger dengan tarif yang lebih mahal dua kali lipatnya Rp 70,000,-. Tapi, karena kami memesan langsung ke kantor jadi dapat harga lebih murah Rp 65.000,-

Peralatan pribadi yang perlu disiapkan ialah jeket, jas hujan, mie isntan, kopi, beras, air mineral, senter, carrier, sliming bag, sarung tangan, handuk, matras, snack, sampai kelengkapan P3K. Untuk carrier, tenda, dan sliming bag. Karena tidak semuanya punya. Kita bisa menyewa di tempat penyewaan peralatan camping di daerah Dago. Sementara transport, kita menyewa minibus dengan sistem antar jemput. Rincian biaya tidak bisa kemi jelentrehkan seutuhnya. Selain karena tiap tahunnya bisa berubah. Semua tergantung lobi dan diplomasi. Pindai-pandai menawar saja. Pasti dapat murah.

Jumat sore, pukul 17.00 kami start dari Panyileukan. Berhubung ini adalah akhir pekan. Diprediksi perjalanan menuju Cibodas akan memakan waktu lima sampai enam jam. Padahal, jika ditempuh dengan motor pada siang hari dan bila tidak macet, perjalanan bisa ditempuh hanya dengan tiga jam perjalanan saja. Yah, nikmati saja. Perjalanan ini indah, jika kita menghiasinya dengan kebersamaan, kebersahajaan, dan persaudaraan.

Sekitar pukul 21.00. Perjalanan kita sampai ke Pom Bensin Padalarang, sementara minibus mengisi bensin dan mendinginkan mesin. Kami bisa mengganjal perut di minimarket sambil bersantai di berandanya. Puas melepas lelah, lima belas menit kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Cibodas, Cianjur, Bogor, Jawa Barat. Setelah melewati jalan yang terus menanjak, sekitar pukul 22.00 sampai juga kami di Cibodas. Lelah menerjang kemacetan terbayar sudah, begitu hawa dingin menyambut kedatangan kami di pintu pertama jalur pendakian ke Puncak Gunung Gede. Kami langsung menuju pos peristirahatan kita di Green Ranger, tempat kami mengurus kelengkapan simaksi.

 
Di Grenn Ranger, kami sempat kaget. Saat mendaki nanti, kami tidak diperbolehkan membawa kelengkapan mandi yang mengandung detergent seperti odol, shampo, sikat gigi, sabun mandi, apalagi sabun cuci. Kami sedikit kelimpungan membayangkan bagaimana nanti tiga hari tidak mandi dan tidak gosok gigi. Terpaksa, kami harus menitipkan peralatan mandi kami di pos. Namun, kami sedikit lega, diam-diam dari kami ada yang menyelipkan obat kumur, parfum, sikat tanpa odol. Sebenarnya itu tidak apa-apa, asal tidak mencemari lingkungan. Terutama air gunung yang masih murni. Selain kelengkapan mandi, kami juga tidak diperkenankan membawa senjata tajam dan spidol. Semua kami titipkan di pos. Kami sadar, semua bertujuan baik. Agar alam tetap terjaga, agar alam tidak tercemar.

Setelah menjamak shalat maghrib, lalu shalat isya berjamaah. Pukul 11.30 kami meninggalkan Green Ranger. Di Pos Pendakian pertama, kami melapor kepada petugas jaga, kemudian dilakukan sweeping kelengkapan. Tidak boleh membawa spidol, bahan detergent, sampai pakaian ganti yang harus dibungkus pelastik. Petugas di pos mengingatkan bahwa pendakian bukanlah wisata, pendakian adalah olahraga yang ekstream, petugas di pos pun mengingatkan bahwa dalam satu dekade sudah ada empat pendaki yang tewas di atas. Hipotermia alias kedinginan hebat adalah penyebabnya.  Pesan dari petugas jaga itu bisa kami jadikan bahan acuan. Bahwa kita harus tetap menjaga kekompakan, apalagi sebagian dari kami adalah pemula.

Pukul 00.00, kami memulai pendakian. Sepuluh menit mendaki, tiga menit istirahat, lima belas menit mendaki, dua menit istirahat. Medan yang sudah dilapisi batu-batu besar tersusun seperti anak tangga tidak begitu menyulitkan. Hanya saja, kami harus memorsir energi lebih besar. Medan yang menanjak jauh lebih meletihkan dari pada jalanan datar. Di balik gulitanya malam kami terus mendaki. Tengah hutan yang sunyi, bingarnya makin terasa seiring dengan lalu lalangnya para pendaki yang hilir mudik.

Satu orang satu senter, penerangan di sepanjang perjalanan tidak terkesan mencekam meski sedang mengarungi malam di tengah belantara, bersama purnama yang cahayanya tidak kentara, karena dilebur oleh lebatnya pepohonan hutan lindung. Pukul 02.00 kami sampai di Persinggahan Panyangcangan. Malam sudah makin larut. Kami memutuskan untuk memasang tenda di sini. Kami akan bermalam di sini, mengumpulkan energi secukupnya. Besok, sekitar pukul 08.00 pagi, baru kita lanjutkan kembali pendakiannya. Puncak masih sekitar 8,5 km lagi. Normalnya bisa ditempuh 8-9 jam pendakian. Bisa lebih tergantung kondisi medan jalan dan fisik pendaki. (Ali Ridwan, 15/03/15)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar