Dinginnya
hawa pegunungan...
Sunsite
dan sunrise dari puncak bukit...
Gumpal-gumpalan
awan putih bergelombang indah,
Tumpah
ruah, menghampar tepat di depan matamu..
Lansekap
tersingkap...
Di
bawah langit berbintang..
Dari kejauhan samudra biru membentang...
Dari kejauhan samudra biru membentang...
Pendakian adalah candu..
Bagi para pemuja keindahan semesta..
Jika
kau jumpai butiran-butiran salju...
Bila
kabut pagi sampai mengaburkan pandanganmu...
Jangan biarkan dingin di gelap malam
membangunkan tidurmu..
Jangan
relakan, bila semua itu ternyata
hanyalah mimpi belaka..
hanyalah mimpi belaka..
Mendakilah!
Supaya kau paham dan mengerti...
Supaya kau paham dan mengerti...
Betapa sulitnya naik.
Betapa mudahnya turun, terjatuh, dan terperosok..
Lelah
memang. Tapi percaya!
Puncak akan membayarnya dengan tuntas.
Puncak akan membayarnya dengan tuntas.
(Ali
Ridwan, 06/05/15)
~
### ~
Dimulai dari Sekolah Tinggi Farmasi
Bandung. Cerita ini adalah tentang sekelompok anak muda yang mengaku dirinya
adalah pecinta alam sejati. Bukan! Ini bukan kegiatan ekskul kampus. Kegiatan
ini bebas dari cempur tangan pihak akademik. Kegiatan ini adalah murni,
panggilan jiwa, kesadaran yang tumbuh dari dalam diri, sadar bahwa alam
Indonesia, terlalu disayangkan jika keindahan dari pesonanya harus dilewatkan
begitu saja.
Satu minggu, setelah masa-masa ujian
tengah semester berlalu. Curi-curi waktu di akhir pekan yang sibuk. Sebelum
skripsi dan penelitian semakin membenamkan kita pada kepenatan yang
berkepanjangan. Soal skripsi? Yah, tetap dikerjakan dengan terukur dan biarkan
terselesaikan tepat pada waktunya!! Tak ada salahnya, kita menyisihkan sedikit
waktu jeda. Ganti suasana yang berbeda. Refresh
kan pikiran, kembali jadi cemerlang.
Delapan belas pendaki. Perwakilan nusantara,
Indonesia Raya. Dua dari Jakarta, tiga dari Bandung, dua dari Jambi, delapan
dari Kalimantan, satu dari Kediri, satu dari Sulawesi, dan satu lagi dari
Papua. Bukankah kami adalah tim yang
hebat! Perwakilan dari Sumatra, Jakarta, Jabar, Jatim, Kalimantan, Sulawesi,
sampai Papua, semuanya ada.
Jum’at, delapan Mei, 2015. Kita akan
memulai pendakian ke Gunung Gede, Pangrango, Jawa Barat. Perorang, kita siapkan
buget kisaran Rp 250,000,- Kebanyakan, ongkos lebih mahal untuk transportasi
dan perlengkapan. Untuk kelengkapan adminitrasi yang dibutuhkan, hanya selembar
fotocopy KTP. Juga uang adminitrasi sebesar Rp 35.000,-. Berhubung kuota 500 pendaki dari Cibodas telah
ludes, jadi kita langsung beli ke Green
Ranger dengan tarif yang lebih mahal dua kali lipatnya Rp 70,000,-. Tapi, karena
kami memesan langsung ke kantor jadi dapat harga lebih murah Rp 65.000,-
Peralatan pribadi yang perlu disiapkan
ialah jeket, jas hujan, mie isntan, kopi, beras, air mineral, senter, carrier, sliming bag, sarung tangan, handuk, matras, snack, sampai kelengkapan P3K. Untuk carrier, tenda, dan sliming
bag. Karena tidak semuanya punya. Kita bisa menyewa di tempat penyewaan
peralatan camping di daerah Dago. Sementara
transport, kita menyewa minibus dengan sistem antar jemput. Rincian biaya tidak
bisa kemi jelentrehkan seutuhnya. Selain karena tiap tahunnya bisa berubah.
Semua tergantung lobi dan diplomasi. Pindai-pandai menawar saja. Pasti dapat
murah.
Jumat sore, pukul 17.00 kami start dari
Panyileukan. Berhubung ini adalah akhir pekan. Diprediksi perjalanan menuju
Cibodas akan memakan waktu lima sampai enam jam. Padahal, jika ditempuh dengan
motor pada siang hari dan bila tidak macet, perjalanan bisa ditempuh hanya
dengan tiga jam perjalanan saja. Yah, nikmati saja. Perjalanan ini indah, jika
kita menghiasinya dengan kebersamaan, kebersahajaan, dan persaudaraan.
Sekitar pukul 21.00. Perjalanan kita
sampai ke Pom Bensin Padalarang, sementara minibus mengisi bensin dan
mendinginkan mesin. Kami bisa mengganjal perut di minimarket sambil bersantai
di berandanya. Puas melepas lelah, lima belas menit kemudian kami melanjutkan
perjalanan menuju Cibodas, Cianjur, Bogor, Jawa Barat. Setelah melewati jalan
yang terus menanjak, sekitar pukul 22.00 sampai juga kami di Cibodas. Lelah
menerjang kemacetan terbayar sudah, begitu hawa dingin menyambut kedatangan
kami di pintu pertama jalur pendakian ke Puncak Gunung Gede. Kami langsung
menuju pos peristirahatan kita di Green
Ranger, tempat kami mengurus kelengkapan simaksi.
Di Grenn
Ranger, kami sempat kaget. Saat mendaki nanti, kami tidak diperbolehkan
membawa kelengkapan mandi yang mengandung detergent seperti odol, shampo, sikat
gigi, sabun mandi, apalagi sabun cuci. Kami sedikit kelimpungan membayangkan
bagaimana nanti tiga hari tidak mandi dan tidak gosok gigi. Terpaksa, kami
harus menitipkan peralatan mandi kami di pos. Namun, kami sedikit lega,
diam-diam dari kami ada yang menyelipkan obat kumur, parfum, sikat tanpa odol.
Sebenarnya itu tidak apa-apa, asal tidak mencemari lingkungan. Terutama air
gunung yang masih murni. Selain kelengkapan mandi, kami juga tidak
diperkenankan membawa senjata tajam dan spidol. Semua kami titipkan di pos.
Kami sadar, semua bertujuan baik. Agar alam tetap terjaga, agar alam tidak tercemar.
Setelah menjamak shalat maghrib, lalu
shalat isya berjamaah. Pukul 11.30 kami meninggalkan Green Ranger. Di Pos Pendakian pertama, kami melapor kepada petugas
jaga, kemudian dilakukan sweeping kelengkapan.
Tidak boleh membawa spidol, bahan detergent, sampai pakaian ganti yang harus
dibungkus pelastik. Petugas di pos mengingatkan bahwa pendakian bukanlah
wisata, pendakian adalah olahraga yang ekstream,
petugas di pos pun mengingatkan bahwa dalam satu dekade sudah ada empat pendaki
yang tewas di atas. Hipotermia alias kedinginan hebat adalah penyebabnya. Pesan dari petugas jaga itu bisa kami jadikan
bahan acuan. Bahwa kita harus tetap menjaga kekompakan, apalagi sebagian dari
kami adalah pemula.
Pukul 00.00, kami memulai pendakian.
Sepuluh menit mendaki, tiga menit istirahat, lima belas menit mendaki, dua
menit istirahat. Medan yang sudah dilapisi batu-batu besar tersusun seperti
anak tangga tidak begitu menyulitkan. Hanya saja, kami harus memorsir energi
lebih besar. Medan yang menanjak jauh lebih meletihkan dari pada jalanan datar.
Di balik gulitanya malam kami terus mendaki. Tengah hutan yang sunyi, bingarnya
makin terasa seiring dengan lalu lalangnya para pendaki yang hilir mudik.
Satu orang satu senter, penerangan di
sepanjang perjalanan tidak terkesan mencekam meski sedang mengarungi malam di tengah
belantara, bersama purnama yang cahayanya tidak kentara, karena dilebur oleh
lebatnya pepohonan hutan lindung. Pukul 02.00 kami sampai di Persinggahan
Panyangcangan. Malam sudah makin larut. Kami memutuskan untuk memasang tenda di
sini. Kami akan bermalam di sini, mengumpulkan energi secukupnya. Besok,
sekitar pukul 08.00 pagi, baru kita lanjutkan kembali pendakiannya. Puncak
masih sekitar 8,5 km lagi. Normalnya bisa ditempuh 8-9 jam pendakian. Bisa
lebih tergantung kondisi medan jalan dan fisik pendaki. (Ali Ridwan, 15/03/15)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar