Iya, di rawa nanti ada enam jenis buaya
liar, ukurannya besar-besar, dan ganas-ganas.Catat ini kawan!! Jarang ada mahasiswa
akhir lulus sidang kompre dengan mulus..
Kawan, buaya itu beda dengan macan.
Karakternya jelas-jelas beda. Jenis pertarungannya juga beda. Lantas. Kau sudah
punya bekal apa saja? Sudah ada senjata apa saja? Sudah kuasai jurus berapa
saja?
Semangat berjuang kawan. Sesungguhnya S.Farm
itu sudah begitu dekat, nampak sangat jelas, dan semakin nyata. (Ali Ridwan,
Juli, 2015)
~ ### ~
Setelah sidang TA II bukan berarti bisa
leha-leha. Kurang dari satu bulan ke depan akan ada enam bidang ilmu yang akan
diujikan di depan sidang. Jika sebelumnya pada TA I dan TA II kita
dipersilahkan mempresentasikan penelitian kita dengan power point, di sidang
kompre nanti saat presentasi kita hanya membawa selembar kertas abstrak. Dari
presentasi itu, kemudian keenam dosen penguji akan mempereteli pemahaman dan
keilmuan kita sesuai bidang keilmuan dosen penguji dan pertanyaan dimulai dari
apa yang tertulis di naskah skripsi kita. Tidak akan meluber jauh-jauh dari
situ.
Ada enam bidang ilmu yang akan diujikan
di sidang kompre yaitu, ilmu dasar, Farmakologi, Farmakokimia, Farmakognosi,
Farmasi Komunitas, dan terkahir Fisikokimia. Benar-benar tidak ada waktu santai
di hari-hari jelang sidang kala itu. Kegiatan sehari-hari ya hanya meresum
materi dari keenam bidang ilmu tadi. Mau tidak mau harus menghabiskan waktu
untuk belajar, belajar, dan belajar. Belajar sehari semalam, belajar
mati-matian, belajar sampai ketiduran. Inilah klimaksnya kami sebagi seorang
calon sarjana farmasi.
Jelang hari H, sebaiknya tidak perlu diporsir
lagi belajarnya. Gunakan waktu serileks mungkin. Sesekali lihat-lihat
konsep-konsep materi di kertas-kertas rangkuman tidak apa-apa. Sambil
memprediksi pertanyaan-pertanyaan yang berpotensi muncul lewat naskah
penelitian yang sudah dibuat. Tapi memang, sidang kompre itu bukan hanya soal
kecerdasan, kepintaran, kepandaian dan kepiawaian, saja. Faktor keberuntungan
juga bisa sangat menenetukan. Belum lagi soal isu kompetisi antar dosen
penguji. Dosen A yang tidak terima
karena anak bimbingannya tidak diluluskan oleh dosen B, dan seterusnya. Tapi
kita sebagai mahasiswa baiknya husnuzon saja. Semua itu proses yang harus kita
lalui, dan imbasnya adalah kebaikan untuk diri kita sendiri.
~ ### ~
Kawan,
betul kan?
Kandang
buaya itu lebih ganas dari kandang macan. Ada yang tergigit tangannnya,
kakinya, kupingnya, sampai hidungnya.
Beruntung
kalau yang digigit bukan kepalanya, artinya masih punya kesempatan melanjutkan
hidup. Tapi juga ada yang lolos dengan goresan ringan.
Kalau
ada yang bilang “Orang pinter masih kalah sama orang bejo” ya di sidang kompre
ini terbukti. Pinter kalau tidak bejo? Ya no!!
Bejo
kalau tidak pinter? Bisa yes!! Tapi kalau sudah pinter terus bejo? Ya yes, yes,
yes!! :D (Ali Ridwan, Juli, 2015)
~ ### ~
Dua minggu Sidang Kompre berlalu. Tiap
hari setiap sehabis sidang. Tiap sore setiap habis sidang diumumkan, Dari kelima
ruang sidang, selalu ada yang dinyatakan lulus dan selalu ada yang dinyatakan
belum lulus. Ada yang tersangkut di satu bidang ilmu, dua bidang ilmu, paling
banyak ada yang sampai lima bidang ilmu. Ya, mau tidak mau harus mengulang. Aku
sendiri dengan sedih hati harus terjungkal di bidang ilmu Farmakokimia.
Sedih iya, sedikit. Menyesal iya,
menyesal sekali. Jadi selama belajar sambil meresume materi itu, ada satu
bidang ilmu dasar dari kimia organik yang luput dan tidak saya pelajari.
Sialnya materi itu muncul dan jadi bahan pertanyaan dari dosen penguji dari
bidang ilmu Farmakokimia, , karena jawabab saya kurang memuaskan dan di bidang
ilmu itu hanya dapat nilai 65. Mau tidak mau dengan terpaksa aku harus sidang
ulang sama Pak Indro, dosen yang menguji aku di bidang ilmu Farmakokimia.
Dari kegagalan itu aku belajar satu hal.
Ada satu falasafah menarik yang aku kutip dari film Fast and Farious Tokyo
Drift yang diucapkan oleh si ketua Geng Yakuza. Aku sendiri menyebutnya dengan
Falsafah Tepal Kuda. Begini bunyinya. Karena satu paku terlepas, satu tepal
kuda tidak terpasang. Satu tepal kuda tidak terpasang, satu kuda lepas. Satu
kuda lepas, satu pesan tidak tersampaikan. Satu pesan tidak tersampaikan, jadi
kalah perang. Bayangkan, hanya karena satu paku jadi kalah perang. Perkara
detail itu penting. Dengan kegagalan ini aku percaya kalau gagal sekalipun sebenarnya
adalah sebuah keberhasilan, asal kita bisa mengambil hikmah dari kegagalan itu.
Baiklah, tidak ada waktu melarut dalam
kesedihan dan penyesalan. Aku langsung bangkit, setidaknnya di sidang ulang
nanti aku bisa fokus belajar di Farmakokimia, sebab hanya di bidang itu saya
belum lulus. Seperti biasa, ngeresum, lagi belajar semalaman lagi, membaca
seharian lagi. Itu semua perlu suapaya bisa langsung lulus saat sidang ulang
nanti. Sebab hanya dengan belajar nantinya aku bisa berargument saat ditanya pak
penguji.
Jadwal sidang ulang sudah di pasang.
Hari itu ada tujuh belas mahasiswa remidial Farmakokimia ke Pak Indro. Sore
hari setelah sidang selesai, hasil diumumkan. Alhamdulillah lulus semuanya
dengan tiga mahasiswa yang mendapat nilai tertinggi mencapai angka sempurna 70,
ya karena nilai maksimal saat mengulang hanya sampai 70, dan nama saya ada di
salah satu ketiga mahasiswa itu. Lumayan, prestasi hiburan. Ternyata, hal
tersulit pun kalau mau belajar dan tidak malas-malasan pasti bisa kok. Tidak
ada yang sulit asal mau berusaha. Itulah seninya suatu perjuangan, ngeri-ngeri
sedap dan bikin nagih.
Ada satu pelajaran lagi yang perlu temen-teman
blogger mania harus tau. The power of do’a ibu itu sungguh sangat penting. Di
sidang kompre kala itu aku ada yang tidak lulus karena jujur waktu itu aku keasyikan
belajar sampai lupa tidak minta doa ke
ibu saat sebelum maju sidang. Kalau di TA I dan TA II aku bisa dapat A dan
diberi kelancaran selama sidang karena sebelum sidang saya mohon doa dulu.
Untuk sidang kompre ini aku benar-benar kedodoran. Hal ini menyadarkan aku
kalau belajar itu memang penting tapi doa ibu juga penting. Fungsinya jelas
untuk menutupi celah dan mecegah terjadinya tragedi seperti tepal kuda itu
tadi. Tapi alhamdulillah, di sidang komprehensif ini biar hanya dapat nilai AB,
tapi harus tatap disyukuri dengan hati penuh tawadhu. Sekarang tinggal nunggu
waktunya wisuda. (Ali Ridwan, 10/12/15)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar