Kamis, 10 Desember 2015

Sidang Komprehensif (Skripsi of Story Part 3)

 
Halo kawan. Kawan, masih ingat dengan istilah "Lepas kandang macan, masuk kandang buaya.."?

Iya, di rawa nanti ada enam jenis buaya liar, ukurannya besar-besar, dan ganas-ganas.Catat ini kawan!! Jarang ada mahasiswa akhir lulus sidang kompre dengan mulus..

Kawan, buaya itu beda dengan macan. Karakternya jelas-jelas beda. Jenis pertarungannya juga beda. Lantas. Kau sudah punya bekal apa saja? Sudah ada senjata apa saja? Sudah kuasai jurus berapa saja?

Semangat berjuang kawan. Sesungguhnya S.Farm itu sudah begitu dekat, nampak sangat jelas, dan semakin nyata. (Ali Ridwan, Juli, 2015)
~ ### ~

Setelah sidang TA II bukan berarti bisa leha-leha. Kurang dari satu bulan ke depan akan ada enam bidang ilmu yang akan diujikan di depan sidang. Jika sebelumnya pada TA I dan TA II kita dipersilahkan mempresentasikan penelitian kita dengan power point, di sidang kompre nanti saat presentasi kita hanya membawa selembar kertas abstrak. Dari presentasi itu, kemudian keenam dosen penguji akan mempereteli pemahaman dan keilmuan kita sesuai bidang keilmuan dosen penguji dan pertanyaan dimulai dari apa yang tertulis di naskah skripsi kita. Tidak akan meluber jauh-jauh dari situ.

Ada enam bidang ilmu yang akan diujikan di sidang kompre yaitu, ilmu dasar, Farmakologi, Farmakokimia, Farmakognosi, Farmasi Komunitas, dan terkahir Fisikokimia. Benar-benar tidak ada waktu santai di hari-hari jelang sidang kala itu. Kegiatan sehari-hari ya hanya meresum materi dari keenam bidang ilmu tadi. Mau tidak mau harus menghabiskan waktu untuk belajar, belajar, dan belajar. Belajar sehari semalam, belajar mati-matian, belajar sampai ketiduran. Inilah klimaksnya kami sebagi seorang calon sarjana farmasi.

Jelang hari H, sebaiknya tidak perlu diporsir lagi belajarnya. Gunakan waktu serileks mungkin. Sesekali lihat-lihat konsep-konsep materi di kertas-kertas rangkuman tidak apa-apa. Sambil memprediksi pertanyaan-pertanyaan yang berpotensi muncul lewat naskah penelitian yang sudah dibuat. Tapi memang, sidang kompre itu bukan hanya soal kecerdasan, kepintaran, kepandaian dan kepiawaian, saja. Faktor keberuntungan juga bisa sangat menenetukan. Belum lagi soal isu kompetisi antar dosen penguji.  Dosen A yang tidak terima karena anak bimbingannya tidak diluluskan oleh dosen B, dan seterusnya. Tapi kita sebagai mahasiswa baiknya husnuzon saja. Semua itu proses yang harus kita lalui, dan imbasnya adalah kebaikan untuk diri kita sendiri.
~ ### ~

Kawan, betul kan?

Kandang buaya itu lebih ganas dari kandang macan. Ada yang tergigit tangannnya, kakinya, kupingnya, sampai hidungnya.

Beruntung kalau yang digigit bukan kepalanya, artinya masih punya kesempatan melanjutkan hidup. Tapi juga ada yang lolos dengan goresan ringan.

Kalau ada yang bilang “Orang pinter masih kalah sama orang bejo” ya di sidang kompre ini terbukti. Pinter kalau tidak bejo? Ya no!!

Bejo kalau tidak pinter? Bisa yes!! Tapi kalau sudah pinter terus bejo? Ya yes, yes, yes!! :D (Ali Ridwan, Juli, 2015)
~ ### ~

Dua minggu Sidang Kompre berlalu. Tiap hari setiap sehabis sidang. Tiap sore setiap habis sidang diumumkan, Dari kelima ruang sidang, selalu ada yang dinyatakan lulus dan selalu ada yang dinyatakan belum lulus. Ada yang tersangkut di satu bidang ilmu, dua bidang ilmu, paling banyak ada yang sampai lima bidang ilmu. Ya, mau tidak mau harus mengulang. Aku sendiri dengan sedih hati harus terjungkal di bidang ilmu Farmakokimia.

Sedih iya, sedikit. Menyesal iya, menyesal sekali. Jadi selama belajar sambil meresume materi itu, ada satu bidang ilmu dasar dari kimia organik yang luput dan tidak saya pelajari. Sialnya materi itu muncul dan jadi bahan pertanyaan dari dosen penguji dari bidang ilmu Farmakokimia, , karena jawabab saya kurang memuaskan dan di bidang ilmu itu hanya dapat nilai 65. Mau tidak mau dengan terpaksa aku harus sidang ulang sama Pak Indro, dosen yang menguji aku di bidang ilmu Farmakokimia.

Dari kegagalan itu aku belajar satu hal. Ada satu falasafah menarik yang aku kutip dari film Fast and Farious Tokyo Drift yang diucapkan oleh si ketua Geng Yakuza. Aku sendiri menyebutnya dengan Falsafah Tepal Kuda. Begini bunyinya. Karena satu paku terlepas, satu tepal kuda tidak terpasang. Satu tepal kuda tidak terpasang, satu kuda lepas. Satu kuda lepas, satu pesan tidak tersampaikan. Satu pesan tidak tersampaikan, jadi kalah perang. Bayangkan, hanya karena satu paku jadi kalah perang. Perkara detail itu penting. Dengan kegagalan ini aku percaya kalau gagal sekalipun sebenarnya adalah sebuah keberhasilan, asal kita bisa mengambil hikmah dari kegagalan itu.

Baiklah, tidak ada waktu melarut dalam kesedihan dan penyesalan. Aku langsung bangkit, setidaknnya di sidang ulang nanti aku bisa fokus belajar di Farmakokimia, sebab hanya di bidang itu saya belum lulus. Seperti biasa, ngeresum, lagi belajar semalaman lagi, membaca seharian lagi. Itu semua perlu suapaya bisa langsung lulus saat sidang ulang nanti. Sebab hanya dengan belajar nantinya aku bisa berargument saat ditanya pak penguji.

Jadwal sidang ulang sudah di pasang. Hari itu ada tujuh belas mahasiswa remidial Farmakokimia ke Pak Indro. Sore hari setelah sidang selesai, hasil diumumkan. Alhamdulillah lulus semuanya dengan tiga mahasiswa yang mendapat nilai tertinggi mencapai angka sempurna 70, ya karena nilai maksimal saat mengulang hanya sampai 70, dan nama saya ada di salah satu ketiga mahasiswa itu. Lumayan, prestasi hiburan. Ternyata, hal tersulit pun kalau mau belajar dan tidak malas-malasan pasti bisa kok. Tidak ada yang sulit asal mau berusaha. Itulah seninya suatu perjuangan, ngeri-ngeri sedap dan bikin nagih.

Ada satu pelajaran lagi yang perlu temen-teman blogger mania harus tau. The power of do’a ibu itu sungguh sangat penting. Di sidang kompre kala itu aku ada yang tidak lulus karena jujur waktu itu aku keasyikan belajar sampai lupa  tidak minta doa ke ibu saat sebelum maju sidang. Kalau di TA I dan TA II aku bisa dapat A dan diberi kelancaran selama sidang karena sebelum sidang saya mohon doa dulu. Untuk sidang kompre ini aku benar-benar kedodoran. Hal ini menyadarkan aku kalau belajar itu memang penting tapi doa ibu juga penting. Fungsinya jelas untuk menutupi celah dan mecegah  terjadinya tragedi seperti tepal kuda itu tadi. Tapi alhamdulillah, di sidang komprehensif ini biar hanya dapat nilai AB, tapi harus tatap disyukuri dengan hati penuh tawadhu. Sekarang tinggal nunggu waktunya wisuda. (Ali Ridwan, 10/12/15)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar