Rabu, 09 Desember 2015

Seminar Kolokium (Skripsi of Story Part 2)

Kawan.. Kau sudah punya bekal apa? Celurit, golok, atau pistol..

Sebentar lagi kamu akan dilepas di kandang macan. Tiga singa meraung kelaparan. Siapkah kamu jadi santapan seminar kolokium??

Kawan.. Jangan senang dulu kalau kamu akhirnya bisa lepas dari terkaman tiga singa itu. Setelah ini kamu akan diceburkan ke dalam kolam penangkaran buaya liar..

Hmm.. Kamu harus ingat kawan. Di rawa berair kamu tidak bisa main-main dengan senjata api, apalagi kalau cuma golok dan celurit. Sidang kompre itu tak sejinak kandang macan kawan..

Tapi kawan, kamu tidak perlu berkecil hati. Pelaut yang hebat tidak dilahirkan dari laut yang tenang. Peternak macan dan buaya yang berdedikasi tidak dilatih di kandang sapi atau kandang ayam..

Kamu mengertikan maksud aku?! Ya udah.. Semangat skripsi yaa!! Sesungguhnya gelar sarjana itu sudah berada di depan mata!!
~ ### ~

Halo pemirsa blogger mania dimanapun anda sedang berada dan kapanpun anda sedang membaca, aku lanjutkan cerita yang kemarin, sampai dimana kemarin? Ya, TA II. Jadi TA II itu SKS nya baru diambil setelah semester delapan. Nanti dalamprosesnya juga para mahasiswa harus melakukan upload kemajuan secara on line setiap sebulan sekali. Tujuannya sama pasti, untuk pemantauan. Selain TA II sebetulanya masih ada SKS mata kuliah lain, jadi totalnya masih sekitar dua puluhan SKS, cuma khusus TA II itu porsinya sampai empat SKS, jadi kalau nilainya bagus cukup mendongkrak IPK, kalau jelek ya sebaliknya. Tapi kalau dikerjakan dengan baik dan tuntas biasanya sih pasti A.

Selama prosesnya dalam melakukan penelitian secara garis besar aku lakukan dengan dua tim partner akau. Partner pertama dengan dua orang yang zat ujinya sama, yaitu ekstrak kubis. Jadi selama proses ekstraksi sampai fraksinasi kami selalu kompak bekerja bersama, saling membantu, saling mengingatkan, saling melengkapi, intinya kekompakan dan kerja sama itu penting.

Well, penelitian dimulai dengan mencari kubis segar langsung dari habitatnya di Pangalengan, Bandung. Setelah itu kita rajang dan langsung kita maserasi dengan etanol 90% selama 1x24 jam. Setelah filtrat kita dapatkan langsung kita evaporasi di lab kampus sampai menjadi ekstrak kental. Ini keuntungan dari curi start, evaporator di lab belum banyak yang makai, jadi tidak perlu antri. Sssttt.. Diam-diam aja ya, jangan bilang siapa-siapa, ini konspirasi gelap kita. Hahaa.. Setelah jadi ekstrak kental, tahap selanjutnya ya difraksinasi. Soalnya pengujiannya nanti bukan cuma sampai di ekstrak saja, tapi sampai ke fraksi, yaitu fraksi Air, fraksi Etil Asetat, dan fraksi N-Heksan.

Oke. Ekstrak jadi, ketiga fraksi juga jadi, sekarang tahap selanjutnya. Pengujian anti bakterinya, ini yang paling menentukan. Prosesnya juga tidak mudah. Pertama tiga bakteri yang aku pakai tidak semua laboratorium kesehatan menyediakan, sudah tanya ke lab kampus-kampus besar juga tidak ada. Tapi alhamdulillah, karena kerja sama tim yang baik dengan para partner kedua aku, partner untuk tahap pengujian, semuanya bisa teratasi. Satu bakteri, Acinetobacter Baumannii aku dapat dapat dari UI, dan dua bakteri lainnya ada seperti Baccilus Cereous dan Salmonella Thypi ada di Mikro Unpad

Bakteri dapat, masalah berikutnya adalah tempat pengujian. Masalahnya di kampus aku itu sudah penuh, penggunaan labnya sudah antri, masalahnya juga pengujian aku itu pakai metode mikrodilusi, namanya mikro kalau pipetasinya kurang pas dan kalau ruangannya kurang steril kemungkinan gagalnya lebih besar daripada bershasilnya. Sayang buuaanget kalau penelitian mahal-mahal harus gagal hanya karena faktor non teknis.

Oh ya, penelitian aku itu termasuk mahal loh. Ekstraksi aja habis 500 ribu. Satu bakteri dari UI 500 rb dan dua bakteri dari UnPad 300 rb, belum lagi nanti biaya penelitiannya, karena akhirnya kami melakukan penelitian di luar, di Balai Laboratorium Kesehatan, Jawa Barat. Itu belum termasuk uji SEM (Scanning Elektrone Microscopi) yang per samplenya 450 rb, sedangkan kami rata-rata ada empat sampai lima sample. Hitung sendiri totalnya berapa, itu belum termasuk transport dll. Coba dikira-kira ambil bakteri di UI Jakarta dan uji SEM nya harus ke UGM Jogjakarta, hmm. Lumayan. :D

Memang, untuk menyelesaikan TA II itu membutuhkan semangat yang harus terus konstan. Faktor biaya adalah farltor keduanya, semangat ada tapi kalau biaya penelitian kurang juga jadi males-malesan biasanya, akibatnya penelitian rawan kedodoran dan akibatnya bisa gagal deh ikut sidang TA II, gagal pula yudisium, jadi gagal wisuda, naudzubillah. Jangan sampai ya Allah. Harus lulus tahun ini dong. Jujur, selama TA II semangat aku memang naik turun. Boleh di bilang mahasiswa paling bandel di antara teman-teman sebimbingan. Soalnya paling telat upload kemajuan, paling jarang ikut bimibingan, baru mau konsul kalau sudah kepepat. Nah, yang ini jangan ditiru ya pemirsa blogger mania.

Tapi biar begitu, aku selalu tetap berusaha untuk selalu intens terus berkomunikasi dengan sang dosen pembimbing. Intinya itu sebagai mahasiswa harus jaga etitude itu aja. Atitude sama dosen, sama orang tua, dan tentunya dam Tuhan yang Maha Kuasa. Pasti, nanti akan dimudahkan sama Allah dan sama dospemnya pasti. Hehe.. Oke, setelah sebulan ekstraksi, sebulan penelitian, dan sebulan uji SEM, kemudian sisa dua bulan untuk merekap hasil dan menyusun pembahasan. Sampailah kembali pada saat yang mendebarkan itu. Pakai kameja putih, celana kain, dasi, sepatu pantovel, dan jas hitam. Kita akan dimintai pertanggung jawaban atas penelitian kami di depan para dosen penguji.

Mau tahu apa hasilnya pemirsa blogger mania. Untuk nilai praktikum TA II nya yang empat SKS allhamdulillah dapet A. Hasil yang menurut aku begitu gilang gemilang. Soalnya pas aku sidang, yang nguji itu empat dosen dengan satu dosen pendamping padahal aturannya hanya dua penguji dengan satu dosen pendamping. Itupun tanpa pendampingan dari pembimbing utama yang bergelar doktor. Pembimbing kedua aku baru bergelar S.Farm., Apt. Sedangkan keempat dosen penguji, tiga orang bergelar Dr dan hanya satu orang bergelar M.,Msi Apt. Hmm, maha benar dosen dengan sagala kesemau-mauannya. Hahaha. Tapi alhamdulillah semua udah terlewati dengan hati yang ceria. Tinggal sidang komprehensif ini yang konon paling serem. Di situ ada enam penguji. Hihii.. Mau tahu bagaimana nanti aku di sidang komprehensif nanti, ya tunggu aja kelanjutan dari cerita Skripsi of Story ini yah. :D (Ali Ridwan, 09/12/15)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar