Selama satu bulan ke depam di Kampung
Inggris nanti, setidaknya saya ada lima program di dua lembaga. Tiga di El Fast
dan dua di Excellent Camp. Ini yang membuat saya sedikit kaget. Di Excellent Camp
itu ada dua program satu dimulai jam setengah lima shubuh dan satu program lagi
setelah sholat maghrib. Masalahnya di El Fast satu program dimulai jam setengah
enam, dan dua program dimulai jam sepuluh sampai jam satu siang. Berarti setiap
hari setelah sholat shubuh harus sudah mandi, terus ikut program di Excllent,
selesai setengah enam langsung lanjut ke El Fast. Jadwal yang padet.
Saya bahas program yang di Excellent
Camp dulu. Di sini kalau maghrib biasanya diisi dengan debate atau adu argumen
pake bahasa inggris, kadang juga speech atau pidato, tapi kadang juga cuma
diskusi biasa tapi tetap pakai bahasa inggris. Jadi nanti materi ditetapkan,
terus dibuat pro dan kontra di situ. Nah kalau setelah sholat shubuh itu
seringnya ngapalin vocab alias kosa kata, kadang diselingi dengan cara
pelafalan, istilah kerennya terapi english, yah gitu deh. Kecuali malam jumat,
kalau malam jumat setelah maghrib kegiatannya diganti dengan yasinan. Saking
religiusnya para tutor-tutor kami itu saya sendiri sampai heran, ini sebenarnya
camp english area apa pesantren. Hehe..
Nah kalau program yang di El Fast itu
tujuan utama saya, karena di sini fokusnya hanya ke TOEFL. Jadi yang masuk
setengah enam itu study club bahas soal-soal TOEFL. Kalau yang siang dari jam
10.00 sampai jam 13.00 itu selang-seling. Hari ini materi besoknya skoring,
begitu. Namanya juga mengasah skil mengerjakan soal ya kebanyakan kegiatannya
mengerjakan soal. Pokoknya selama sebulan itu masuk dari senin sampai sabtu
totalnya ada tiga belas kali skoring. Karena ini kadag saya sering berfikir,
sepertinya saya ini salah ambil program, harusnya kalau mau fokus ke TOEFL,
saya harusnya ambil TOEFL Camp saji. Jadi camp dan kursusnya sama-sama fokus ke
TOEFL, tidak perlu speaking, speech, dan yang lain seperti di Excellet Camp
tadi.
Oh yah, hal perlu diketahui soal adat
istiadat kalau di Pare. Tidak ada mas apa mbak, teteh atau a’a, abang atau
adek. Kepada semua laki-laki harus manggil Mr dan kalau ke oerempuan harus
menngil Mrs. Lingkungan aman, damai, sejahtera. Lebih didominasi kaum muda atau
anak-anak kursus, penduduk sekitarnya malah seperti minoritas. Di sini penjual
makanan model prasmanan, jadi ambil, bayar, baru makan. Laundri per kg nya 3
ribu sampai 4 ribu. Kendaraan didominasi sepeda, jadi kalau mau sewa sepeda
harganya beragam. Tergantung tipe, harga dari 80 ribu sampai 150 ribu selama
sebulan.
Sekarang kalau kamu tanya, bagaimana
rasannya tinggal di Kampung Inggris. Jawabannya sama ketika kamu jawab,
bagaimana rasanya mudik ke rumah kakek nenekmu yang di kampung. Namanya saja
kampung, ya situasinya seperti di kampung. Makannya kenapa biaya kursus murah,
karena memang letaknya di kampung dan harganya harga kampung. Tapi dijamin,
biar di kampung tapi enggak akan kampungan. Biar murah tapi enggak murahan, secara
kualitas juga tetap bagus, beda dengan lembaga-lembaga kursus di perkotaan yang
mahal hanya karena recepsionisnya yang cantik-cantik, ruang belajar berAC dan
tempat duduk yang empuk. Sedangkan di Pare, belajarnya lesehan, recepsionist
yang biasa saja tapi tetap ramah ala pedesan, tapi dengan tutor-tutor yang
tetap muda-muda, kece-kece, pinter-pinter, jago ngelawak, dan gokil abis.
Di sini kemana-mana kamu tidak perlu
bersepatu, cukup pakai sendal jepit. Selama satu bulan di sini, sepatu saya
parkir total di dalam rak. Kalau etnis beragam, kebanyakan yang kursus dari
sini banyak yang dari Jawa Barat, Sumatra, Kalimantan, Makassar, Madura, NTT,
NTB, Sulawesi, sampai Papua juga ada. Pokonya komplit, plit, plitt. Satu lagi
kelebihan Kampung Inggris Pare ini yaitu situasi, kondisi, dan lingkungan yang
sangat mendukung untuk belajar bahasa inggris. Gimana enggak? Ke warung
orang-orang belajar bahasa inggris, pinggir-pinggir jalan orang belajar bahasa
inggris, tempat-tempat nongkrong tema obrolannya selalu soal belajar menguasai
bahasa inggris.
Satu hal yang paling saya suka di
Kampung Inggris. Di sini kebanyakan pemudanya itu bersepeda, kemana-mana
bersepeda, seperti di Eropa. Andai pemerintah lebih banyak membangun
transportasi umum dan meninggikan pajak kendaraan pribadi. Pasti banyak orang
yang memilih bersepeda. Betapa senangnya membayangkan kota-kota besar Indonesia
ini seperti di Pare. Pasti enggak ada itu yang namanya kemacetan. Kapan ini
bisa terwujud, apa mau nunggu saya jadi Presiden RI ke 9 aja ya. Baru mungkin
semua terealisasi. Haha.. Mimpi bolehlah selangit, kalaupun gagal presiden
terus jadi mentri, apa jadi gubernur, apa jadi bupati, apa jadi kepala dinas
kan lumayan. :P
Di Pare soal tempat-tempat olahraga
tidak perlu khawatir. Mau renang, kolam renang ada. Mau joging apa main bola,
stadion ada. Mau fitnes, tempat fitnes ada. Mau futsal, tempat futsal juga ada.
Mau belanja, di pasar atau supermarket dan minimarket juga ada. Atm segala
Bank, sudah pasti ada. Tempat ibadah, tempat nongkrong, apalagi tempat-tempat hiburan
juga ada. Pokonya kalau mau jalan ada aja deh petualangannya. Dijamin seru,
pasti akan punya banyak temen juga, apa lagi kalu sering jalan-jalan pakai
sepeda, keliling-keliling kampung mungkin sambil goda-godain cewe, weeew. Haha..
(ini khusus jomblo, yang udah punya gandengan jangan!) Haha. Nah, kalau wisata.
Tunggu tlusan Engglish village of story yang ke 3 yah. :) (Ali Ridwan,
15/12/15)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar