Minggu, 27 Desember 2015

Letupan Air Mata Tak Bertuan (Tangisan Buruh Tani Miskin)

 
Menusuk dingin malam dengan jeruji runcing lapis emas. Tameng gelap serupa baja makin mengerat, memekat, dan menjerat. Langit, akan aku ceritakan sebuah cerita pilu padamu. Kemudian dengarlah keluh kesahku.

Ada seorang buruh tani miskin meringkih di tepi desa. Gubuknya sama seperti kandang ternaknya. Diding-dindingnya terbuat dari anyaman bambu dan atap-atapmya terbuat dari jerami. Berlantai tanah, tanpa listrik, dan tidak ada kompor gas. Hanya suara radio tua jadi penghiburnya.

Hari itu simpanan beras sudah habis. Musim tanam sudah lewat, musim panen masih jauh, buruh tani itu menganggur.Makan apa ia hari ini? Ia tidak makan, ia memilih puasa, ia terpaksa berpuasa.

Langit, di ketinggianmu dari atas sana. Apa kamu bisa melihat penderitaan buruh tani miskin seperti ini? Langit, apalah arti tempat-tempat tinggi kalau pada akhirnya hanya membuat seseorang buta pada tempat-tempat rendah yang sebenarnya ia berkedudukan tinggi?

Langit, kau tahu kalau Tuhanmu itu memang selalu tepat janji. Buruh tani miskin yang kelaparan itu, yang saat berbuka puasa hanya makan keladi rebus itu, malamnya dapat makanan cuma-cuma dari tetangga yang kebetulan tengah mengadakan kenduri. Bingkisan berkat yang ia bawa pulang, ia kukus lagi, buat sahur nanti shubuh.

Langit, buruh tani itu terpaksa harus berpuasa lagi. Musim panen masih lama, jasanya tak akan dibutuhkan orang dalam waktu lama, ia tidak akan dapat penghasilan tetap dalam beberapa bulan ke depan. Dengan tubuh lemah kurang asupan gizi seperti itu, buruh tani miskin itu harus terus menyisir hutan-hutan belantara untuk mencari pakan kambing ternaknya.

Begitu seterusnya, selama satu bulan lamanya. Tapi masalahnya, tidak setiap hari ada tetangga yang mengadakan kenduri. Ia lebih sering buka pakai keladi rebus dan sahur pakai keladi rebus basi sisa kemarin. Kasihan, tubuh buruh tani miskin itu makin hari makin ceking saja.

Langit, apa Tuhan akan selalu  menjamin keberlangsungan hidup buruh tani miskin itu? Langit, Tuhanmu rupanya tepat janji lagi. Allah menjamin tidak akan ada makhluknya di muka bumi ini yang akan mati karena kelaparan. Itu benar, tidak bohong. Buruh tani miskin itu masih terus hidup.

Langit, sore tadi kambing ternaknya ditawar orang, laku dengan harga tinggi, uangnya cukup untuk membeli cadangan beras selama tiga bulan, juga  minyak dan bumbu. Setidaknya buruh tani miskin itu bisa makan sedikit layak sampai jasanya nanti diperlukan lagi oleh para petani.

Langit, beban hariannyanya juga sedikit berkurang. Ternaknya yang sepasang tinggal seekor, kerjanya mencari pakan tidak seberat kemarin. Saat musim panen tiba nanti, tubuhnya akan menjadi kuat lagi. Cukup kuat untuk membantu para petani memanen padi.

Tragis Langit, beras hasil panen para majikannya hanya terjual dengan harga murah, semurah upah buruhnya. Tragisnya lagi, beras-beras itu dijual murah hanya untuk memberi makan orang-orang kota yang sombong kelewat batas itu,sedang si buruh tani hanya pasrah menerima kalau di bulan-bulan tertentu ia  malah hanya bisa makan keladi rebus.

Kejam langit!! Hukum alam ini kadang memang kejam!!!

Langit, di tempatmu yang berada di atas sana apa kamu turut menyaksikan cerita pilu ini? Ah, sepertinya gedung-gedung tinggi pencakar langit di kota-kota besar sana sudah mengalihkan perhatianmu. Dunia semakin gila dan mungkin kau sudah muak dengan mereka semua. Aku pun sebenarnya sama. Tapi lihat buruh tani miskin itu, ia malah bahagia dengan ketatabahannya.

Langit, jujur aku malu. Sungguh malu pada buruh tani miskin itu. Menyaksikan cerita itu. Mendengar cerita itu. Aku dibuatnya nyaris sekarat, kulambaikan tangan ke tuan sutradara dan jujur aku katakan sudah tidak kuat. Aku terhempas jauh,, jauhh,, jauuhhh sekali.. Aku sadar langit, aku harusnya bersyukur dengan hidupku yang sekarang.

Langit. Jangan pikir aku tak pernah merasakan apa yang dirasakan si buruh tani miskin itu. Aku bisa menceritakan karena aku tahu rasanya kekurangan, karena itu cerita ini akan terus aku cerita-ceritakan. Supaya orang-orang juga akhirnya merasa malu pada buruh tani miskin itu. Tapi entahlah Langit, sepertiya  sekarang rasa malu sudah tak seberharga dulu.

Langit, ceritakan kepada Tuhan. Katakan! Kalau aku tidak mengapa mataku jadi minus karena kebanyakan membaca. Aku tidak mengapa kalau badanku menjadi kurus karena kebanyakan puasa. Aka tidak mengapa kalau perutku jadi lemah karena jarang olah raga.

Aku tak mengapa harus makan keladi asal aku bisa menghasilkan panenan beras yang memberi hidup ke orang banyak.

Maka Langit, sampaikan kepada yang Maha Kuasa itu, aku tidak rela kalau sampai ilmu yang aku punya manfaatnya tidak ada. Aku tidak mau pengetahuan itu mati begitu saja bersama ragaku nanti. Sampaikan letupan air mata tak bertuanku ini Langit. Kamu satu-satunya ciptaan Tuhan yang keberadaannya paling tinggi. Walau mungkin jawaban itu bisa aku ketahui lewat nurani dalam hati. Lewat diriku sendiri. (Ali Ridwan, 28/12/15)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar