Menusuk
dingin malam dengan jeruji runcing lapis emas. Tameng gelap serupa baja makin
mengerat, memekat, dan menjerat. Langit, akan aku ceritakan sebuah cerita pilu
padamu. Kemudian dengarlah keluh kesahku.
Ada
seorang buruh tani miskin meringkih di tepi desa. Gubuknya sama seperti kandang
ternaknya. Diding-dindingnya terbuat dari anyaman bambu dan atap-atapmya
terbuat dari jerami. Berlantai tanah, tanpa listrik, dan tidak ada kompor gas.
Hanya suara radio tua jadi penghiburnya.
Hari
itu simpanan beras sudah habis. Musim tanam sudah lewat, musim panen masih
jauh, buruh tani itu menganggur.Makan apa ia hari ini? Ia tidak makan, ia
memilih puasa, ia terpaksa berpuasa.
Langit,
di ketinggianmu dari atas sana. Apa kamu bisa melihat penderitaan buruh tani
miskin seperti ini? Langit, apalah arti tempat-tempat tinggi kalau pada
akhirnya hanya membuat seseorang buta pada tempat-tempat rendah yang sebenarnya
ia berkedudukan tinggi?
Langit,
kau tahu kalau Tuhanmu itu memang selalu tepat janji. Buruh tani miskin yang
kelaparan itu, yang saat berbuka puasa hanya makan keladi rebus itu, malamnya
dapat makanan cuma-cuma dari tetangga yang kebetulan tengah mengadakan kenduri.
Bingkisan berkat yang ia bawa pulang, ia kukus lagi, buat sahur nanti shubuh.
Langit,
buruh tani itu terpaksa harus berpuasa lagi. Musim panen masih lama, jasanya
tak akan dibutuhkan orang dalam waktu lama, ia tidak akan dapat penghasilan
tetap dalam beberapa bulan ke depan. Dengan tubuh lemah kurang asupan gizi
seperti itu, buruh tani miskin itu harus terus menyisir hutan-hutan belantara
untuk mencari pakan kambing ternaknya.
Begitu
seterusnya, selama satu bulan lamanya. Tapi masalahnya, tidak setiap hari ada
tetangga yang mengadakan kenduri. Ia lebih sering buka pakai keladi rebus dan
sahur pakai keladi rebus basi sisa kemarin. Kasihan, tubuh buruh tani miskin
itu makin hari makin ceking saja.
Langit,
apa Tuhan akan selalu menjamin
keberlangsungan hidup buruh tani miskin itu? Langit, Tuhanmu rupanya tepat
janji lagi. Allah menjamin tidak akan ada makhluknya di muka bumi ini yang akan
mati karena kelaparan. Itu benar, tidak bohong. Buruh tani miskin itu masih
terus hidup.
Langit,
sore tadi kambing ternaknya ditawar orang, laku dengan harga tinggi, uangnya
cukup untuk membeli cadangan beras selama tiga bulan, juga minyak dan bumbu. Setidaknya buruh tani
miskin itu bisa makan sedikit layak sampai jasanya nanti diperlukan lagi oleh
para petani.
Langit,
beban hariannyanya juga sedikit berkurang. Ternaknya yang sepasang tinggal
seekor, kerjanya mencari pakan tidak seberat kemarin. Saat musim panen tiba
nanti, tubuhnya akan menjadi kuat lagi. Cukup kuat untuk membantu para petani
memanen padi.
Tragis
Langit, beras hasil panen para majikannya hanya terjual dengan harga murah,
semurah upah buruhnya. Tragisnya lagi, beras-beras itu dijual murah hanya untuk
memberi makan orang-orang kota yang sombong kelewat batas itu,sedang si buruh
tani hanya pasrah menerima kalau di bulan-bulan tertentu ia malah hanya bisa makan keladi rebus.
Kejam
langit!! Hukum alam ini kadang memang kejam!!!
Langit,
di tempatmu yang berada di atas sana apa kamu turut menyaksikan cerita pilu
ini? Ah, sepertinya gedung-gedung tinggi pencakar langit di kota-kota besar
sana sudah mengalihkan perhatianmu. Dunia semakin gila dan mungkin kau sudah
muak dengan mereka semua. Aku pun sebenarnya sama. Tapi lihat buruh tani miskin
itu, ia malah bahagia dengan ketatabahannya.
Langit,
jujur aku malu. Sungguh malu pada buruh tani miskin itu. Menyaksikan cerita itu.
Mendengar cerita itu. Aku dibuatnya nyaris sekarat, kulambaikan tangan ke tuan
sutradara dan jujur aku katakan sudah tidak kuat. Aku terhempas jauh,, jauhh,,
jauuhhh sekali.. Aku sadar langit, aku harusnya bersyukur dengan hidupku yang
sekarang.
Langit.
Jangan pikir aku tak pernah merasakan apa yang dirasakan si buruh tani miskin
itu. Aku bisa menceritakan karena aku tahu rasanya kekurangan, karena itu
cerita ini akan terus aku cerita-ceritakan. Supaya orang-orang juga akhirnya
merasa malu pada buruh tani miskin itu. Tapi entahlah Langit, sepertiya sekarang rasa malu sudah tak seberharga dulu.
Langit,
ceritakan kepada Tuhan. Katakan! Kalau aku tidak mengapa mataku jadi minus
karena kebanyakan membaca. Aku tidak mengapa kalau badanku menjadi kurus karena
kebanyakan puasa. Aka tidak mengapa kalau perutku jadi lemah karena jarang olah
raga.
Aku
tak mengapa harus makan keladi asal aku bisa menghasilkan panenan beras yang
memberi hidup ke orang banyak.
Maka
Langit, sampaikan kepada yang Maha Kuasa itu, aku tidak rela kalau sampai ilmu
yang aku punya manfaatnya tidak ada. Aku tidak mau pengetahuan itu mati begitu
saja bersama ragaku nanti. Sampaikan letupan air mata tak bertuanku ini Langit.
Kamu satu-satunya ciptaan Tuhan yang keberadaannya paling tinggi. Walau mungkin
jawaban itu bisa aku ketahui lewat nurani dalam hati. Lewat diriku sendiri. (Ali
Ridwan, 28/12/15)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar