Senin, 15 Februari 2016

Memecah Tangis di Penghujung Malam

 
“Jika pernah tertawa menerjang badai, mengapa harus menangis meleati gerimis?”

Akhir-akhir ini, jalan hidupku seperti orang linglung. Aku bingung, ya aku bingung pada diriku sendiri, diri yang sedang diambang bimbang. Entah karena apa, aku yang dulu punya semangat tinggi kenapa jadi lemah begini. Kemana aku yang dulu buas, aku yang selalu haus pada tantangan, aku yang dulu punya daya juang level dewa, aku yang selalu antusias dengan segala aral rintang yang siap menghadang. Serumit dan seberat apapun itu.

Akhir-akhir ini, aku sedang dihadapkan pada dua pilihan sulit. Antara ingin fokus menjadi diri sendiri atau secara totalitas tanpa batas menuntas tuntas apa-apa yang sudah terlanjur aku mulai. Memang betul, apa yang aku senangi belum tentu menjadi seperti yang aku amini. Tapi apa yang harus terus aku jalani sudah pasti akan menjadi seperti apa yang mereka ridhai. Tidak ada jalan lain selain harus terus fokus, menyelesaikan apa yang sudah aku mulai.

Memang, sebetulnya itu sepele. Bukan pilihan yang sulit dan rumit. Tapi entahlah, ada yang di luar kuassaku hingga aku merasa sedikit kehilangan semangat. Hatiku jadi lemah, sinar semangatnya redup. Suluh yang dulu terang benderang seolah meremang dan nyaris padam. Aku dan logika fikirku bisa menerima itu, tapi tidak dengan hatiku. Nurani ini selalu tak kuasa untuk mendustai itu.

Teringat sebuah quote “Lepaskan orang yang sedang jatuh hati ke tengah lautan, niscaya ia akan membawa sekeranjang ikan. Masukkan orang yang sedang patah hati ke dalam segudang roti, niscaya ia akan mati kelaparan

Aku dulu kuat, bisa sambil tertawa menerjang badai. Tapi lihatlah sekarang, baru melewati gerimis sedikit saja sudah merengek-rengek.

Malam tadi ibuku SMS. Air mataku menitih. Aku tahu ibuku sedang rindu. Apakah ibuku juga sedang menangis untuk mendoakan kesuksesanku di dalam tahajudnya tadi? Sepertinya iya. Pastinya iya. Do’a itu kemudian tak cukup untuk mengobati rasa rindunya seorang ibu kepada putra simata wayangnya sampai akhirnya malam-malam begitu ibu sampai berkirim SMS kepadaku. “Ibu, anakmu baik-baik saja di sini. Meski sebenarnya kini sedang didera luka akibat kegagalan yang sebenarnya tidak sebarapa dan tidak ada apa-apanya.”

Usai membaca isi pesan singkat berisi tulisan yang mengurai air mata itu, aku kemudian tersenyum. Lalu menitih lagi, tak lama kemudian tangisku pun pecah lagi, aku tersedu sedan di atas sajadahku, di dalam tahajudku.

Mataku menangis, tapi hatiku gembira ria. Sebab aku menangis bukan karena cinta, aku menangis karena malu. Malu kepada diriku yang dulu. “Ibu, aku janji. Anakmu ini tidak lama lagi akan menemukan semangatnya kembali. Bara cinta itu boleh redup dan padam dalam hati, meski lukanya masih mememar dan terasa perih. Tapi suntikan motivasi diri dari doa tulus seorang ibu, dengan sendirinya akan membawa ruang hati yang kosong melomping ini kembali terisi. Sinar cintanya akan benderang lagi. Ambisinya akan buncah lagi. Semangatnya akan bangkit lagi. Aku akan segera kembali”

Patah hati boleh membuatmu terjatuh, tersandung, dan terluka. Tapi ketika itu juga yang hanya harus kamu lakukan ialah berdiri lagi. Iya, itu saja. Berdiri lagi. Tak peduli perihnya seperti apa, kamu harus berdiri lagi, mencoba berjalan lagi, berjalan lagi, dan berjalan lagi. Terus mendaki dan mendaki. Luka itu akan malu sendiri, saat melihat kamu dengan duduk santai menopang kaki, di atas batu besar dari atas bukit sambil menyeruput secangkir kopi.”

Sudah terlanjur basah. Gerismis makin deras. Hujan makin lebat. Sebentar lagi badai, topan, lesus datang ikut mengacaukan. Aku akan hanyut bila terus bersikap sama seperti saat melewati gerimis. Mau tidak mau. Suka tidak suka. Aku harus kembali menjadi aku yang dulu lagi. Aku harus menjadi aku yang seribu kali lebih kuat bahkan dari aku yang dulu itu. Aku yang bisa sambil tertawa, aku yang bisa sambil ternbahak, dan aku yang bisa sambil terkekeh. Di saat menerjang badai. Di kala melewati topan lesus nanti. (Ali Ridwan, 02/02/16)

2 komentar:

  1. Moga kita selalu dalam Iman dan Islam..amiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin allahumma amiiin.. Dengan iman dan islam, semoga kita bisa menjadi orang yang ihsan..

      Hapus