Hai impian, tetaplah menyala-nyala
terang di dalam dada. Dengan tekat yang semakin membulat. Bersama geliat
perjuangan beserta asam pahitnya rempah-rempah pengorbanan. Cepat atau lambat,
harapan di masa depan itu akan menjadi kenyataan.
Hai kau Sang Pemimpi Ulung.
Sombongkanlah kata-katamu setinggi langit. Tapi tetap, rendahkan hatimu
serendah-rendah tanah. Setinggi apa kau terbang, kau akan kembali ke tanah.
Catatlah! Ini bukan perkara langit yang kau idamkan, tapi soal sayap-sayap
mungil yang hendak kau kepak-kepakkan.
Hai kau Merpati, hai pula kau Rajawali.
Teruslah kepakkan sayapmu. Dengungkan dengan lantang kicaumu. Tajamkan pengintaian
matamu. Pusatkan fokus dan pikiranmu.
Demi impian dan harapan di masa depanmu itu. Biarkan ayam-ayam berkotek.
Acuhkan anjing-anjing menggonggong. Alam raya di langit biru itu adalah
milikmu.
Hai burung pemimpi berbulu besi berparuh
baja. Bila nanti kau temui badai kala kepak sayapmu mulai mengibas-ngibaskan
awan-awan putih di atas sana. Hingga tidak kau dengar lagi kotek-kotek ayam dari
kampung. Sampai tak kau dapati lagi gongong-gongong anjing di jalanan. Jangan
lekas kau berputus asa, kesunyian di atas sana belumlah seberapa. Begitulah
ketinggian, selalu identik dengan kesepian.
Hai unggas-unggas langit. Bila suatu
ketika gelegar badai yang menggeledek tiba-tiba memporak-porandakan sunyi dan
sepi di dalam hati. Sebab kepak-kepak sayapmu yang makin tinggi. Bukan lagi
suara-suara sumbang pengrongrong mimpi yang akan kau dapati. Gelegar dahsyat
itulah ancamanmu, sebab dalam sekejap bisa mematahkan sayap-sayapmu. Halilintar
itu dapat membakar bulu-bulumu dan mematahkan tulang belulangmu.
Maka hendaklah kau berhati-hati hai
burung malang yang sedang terbang sendirian di langit sana. Tapi sungguh, kau
tak perlu berkecil hati, sebab guntur dan halilintar itu tidak akan lama. Asal
pandai memperdayai badai, kau pasti selamat. Dan sebentar lagi, langit biru itu
akan jadi kuasamu, sutuhnya milikmu, sepenuhnya bagianmu. Di atas sana kau
akhirnya bisa bertengger dengan gaya, membusungkan dada, dan tak lupa tetap merundukkan
kepala. (Ali Ridwan, 21/02/16)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar