Sabtu, 19 Maret 2016

Membeli Mimpi Masa Depan

 
Hai impian, tetaplah menyala-nyala terang di dalam dada. Dengan tekat yang semakin membulat. Bersama geliat perjuangan beserta asam pahitnya rempah-rempah pengorbanan. Cepat atau lambat, harapan di masa depan itu akan menjadi kenyataan.

Hai kau Sang Pemimpi Ulung. Sombongkanlah kata-katamu setinggi langit. Tapi tetap, rendahkan hatimu serendah-rendah tanah. Setinggi apa kau terbang, kau akan kembali ke tanah. Catatlah! Ini bukan perkara langit yang kau idamkan, tapi soal sayap-sayap mungil yang hendak kau kepak-kepakkan.

Hai kau Merpati, hai pula kau Rajawali. Teruslah kepakkan sayapmu. Dengungkan dengan lantang kicaumu. Tajamkan pengintaian matamu. Pusatkan fokus dan pikiranmu.  Demi impian dan harapan di masa depanmu itu. Biarkan ayam-ayam berkotek. Acuhkan anjing-anjing menggonggong. Alam raya di langit biru itu adalah milikmu.

Hai burung pemimpi berbulu besi berparuh baja. Bila nanti kau temui badai kala kepak sayapmu mulai mengibas-ngibaskan awan-awan putih di atas sana. Hingga tidak kau dengar lagi kotek-kotek ayam dari kampung. Sampai tak kau dapati lagi gongong-gongong anjing di jalanan. Jangan lekas kau berputus asa, kesunyian di atas sana belumlah seberapa. Begitulah ketinggian, selalu identik dengan kesepian.

Hai unggas-unggas langit. Bila suatu ketika gelegar badai yang menggeledek tiba-tiba memporak-porandakan sunyi dan sepi di dalam hati. Sebab kepak-kepak sayapmu yang makin tinggi. Bukan lagi suara-suara sumbang pengrongrong mimpi yang akan kau dapati. Gelegar dahsyat itulah ancamanmu, sebab dalam sekejap bisa mematahkan sayap-sayapmu. Halilintar itu dapat membakar bulu-bulumu dan mematahkan tulang belulangmu.

Maka hendaklah kau berhati-hati hai burung malang yang sedang terbang sendirian di langit sana. Tapi sungguh, kau tak perlu berkecil hati, sebab guntur dan halilintar itu tidak akan lama. Asal pandai memperdayai badai, kau pasti selamat. Dan sebentar lagi, langit biru itu akan jadi kuasamu, sutuhnya milikmu, sepenuhnya bagianmu. Di atas sana kau akhirnya bisa bertengger dengan gaya, membusungkan dada, dan tak lupa tetap merundukkan kepala. (Ali Ridwan, 21/02/16)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar