“Cinta
itu, saat kamu sudah memilih dia, dan ketika kamu dikelilingi gadis-gadis manis
yang lebih cantik dari dia, sedikitpun kamu tidak berpaling dari menatap
matanya. Iya, seperti kamu yang terkagum ketika tengah memandangi wajah
rembulan malam lima belas”
Jujur saja. Awalnya aku memang menyesali
kepergian senja. Kemudian atas nama pelarian, akupun larut dalam pengharapan
akan datangnya Sang Fajar, keindahan terbit mentari pagi yang selalu aku
nanti-nanti, berharap bisa jadi pengobat rinduku pada cakrawala di langit sore,
rona keemasan yang menguning kemerah-merahan, dan selalu menyuguhkan kenangan
juga memupuk kerinduan.
Tapi, setelah melihat keindahan purnama
di atas sana. Malam itu, aku justru ingin berlama-lama bisa terlelap di
peraduannya. Aku nyaman bersama peluknya. Aku hangat di dalam dekapnya.
Lupakan cakrawala senja, lupakan pula terbit
mentari pagi. Mantap hatiku di pangkuan rembulan malam.
Remang di malam itu tiba-tiba berubah
gelap. Langit tak lagi berbintang, rembulan malam lima belas mulai menyipit
kemudian ikut lenyap. Hari menjelang fajar dan dingin mulai menggigit, tajam
mencabik-cabik kulit. Aku terbangun, kaget tak kepalang tanggung.
Kubuka mataku, kuarahkan pandangku
kepada langit malam tak berbintang di atas sana. Purnama malam lima belas
diam-diam telah pergi, tinggalkan aku seorang diri, kedinginan sampai hampir
mati berdiri. Aku yang seperti dikhianati, sendiri mematri diri bersama sunyi
dan sepi.
Sambil menunggu pagi, bersama tetes-tets
embun, sendiri aku masih mematri diri, meratapi nasib diri yang begini. Aku
sendirian dan aku kesepian, purnama yang tak berperasaan, langit gelap yang tak
punya pengertian, dan kabut hitam yang tidak berperikecintaan. Sama jahatnya
dengan cakrawala dan langit senja yang selalu jadi bayang-bayang di dalam
kenangan.
Tak mau mati berdiri, di atas
butir-butir pasir pantai aku bentangkan tubuhku, aku biarkan kulit-kulit
keramku bermandikan hangat cahaya mentari kala pagi. Si Raja Siang yang mulai
menampakkan batang hidungnya, sinarnya tampak menyembur dari ufuk timur, langit
tampak memerah, kemudian menguning, dan hari pun menjadi terang benderang.
Terimakasih mentari pagi, meski hanya
sebentar aku berjemur, setitik sinarmu telah menghilangkan kulit keramku yang
shubuh tadi sudah membeku. Aku jadi gembira sampai hatiku pun berbunga-bunga.
Pengharapan itu bukan lagi hanya sebatas impian. Sebentar lagi malah akan
berubah jadi kenyataan. Terimakasih kepada mentari pagi yang akan mempertemukan
aku kembali pada senja. Cahaya merah keemasan yang meremang dalam diri. Sudah
terlalu kronis menjadi rindu, aku ingin segera bertemu. (Ali Ridwan,
22/06/14)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar