Sabtu, 19 Maret 2016

Cinta Seperti Wajah Rembulan

 

“Cinta itu, saat kamu sudah memilih dia, dan ketika kamu dikelilingi gadis-gadis manis yang lebih cantik dari dia, sedikitpun kamu tidak berpaling dari menatap matanya. Iya, seperti kamu yang terkagum ketika tengah memandangi wajah rembulan malam lima belas”

Jujur saja. Awalnya aku memang menyesali kepergian senja. Kemudian atas nama pelarian, akupun larut dalam pengharapan akan datangnya Sang Fajar, keindahan terbit mentari pagi yang selalu aku nanti-nanti, berharap bisa jadi pengobat rinduku pada cakrawala di langit sore, rona keemasan yang menguning kemerah-merahan, dan selalu menyuguhkan kenangan juga memupuk kerinduan.

Tapi, setelah melihat keindahan purnama di atas sana. Malam itu, aku justru ingin berlama-lama bisa terlelap di peraduannya. Aku nyaman bersama peluknya. Aku hangat di dalam dekapnya.

Lupakan cakrawala senja, lupakan pula terbit mentari pagi. Mantap hatiku di pangkuan rembulan malam.

Remang di malam itu tiba-tiba berubah gelap. Langit tak lagi berbintang, rembulan malam lima belas mulai menyipit kemudian ikut lenyap. Hari menjelang fajar dan dingin mulai menggigit, tajam mencabik-cabik kulit. Aku terbangun, kaget tak kepalang tanggung.

Kubuka mataku, kuarahkan pandangku kepada langit malam tak berbintang di atas sana. Purnama malam lima belas diam-diam telah pergi, tinggalkan aku seorang diri, kedinginan sampai hampir mati berdiri. Aku yang seperti dikhianati, sendiri mematri diri bersama sunyi dan sepi.

Sambil menunggu pagi, bersama tetes-tets embun, sendiri aku masih mematri diri, meratapi nasib diri yang begini. Aku sendirian dan aku kesepian, purnama yang tak berperasaan, langit gelap yang tak punya pengertian, dan kabut hitam yang tidak berperikecintaan. Sama jahatnya dengan cakrawala dan langit senja yang selalu jadi bayang-bayang di dalam kenangan.

Tak mau mati berdiri, di atas butir-butir pasir pantai aku bentangkan tubuhku, aku biarkan kulit-kulit keramku bermandikan hangat cahaya mentari kala pagi. Si Raja Siang yang mulai menampakkan batang hidungnya, sinarnya tampak menyembur dari ufuk timur, langit tampak memerah, kemudian menguning, dan hari pun menjadi terang benderang.

Terimakasih mentari pagi, meski hanya sebentar aku berjemur, setitik sinarmu telah menghilangkan kulit keramku yang shubuh tadi sudah membeku. Aku jadi gembira sampai hatiku pun berbunga-bunga. Pengharapan itu bukan lagi hanya sebatas impian. Sebentar lagi malah akan berubah jadi kenyataan. Terimakasih kepada mentari pagi yang akan mempertemukan aku kembali pada senja. Cahaya merah keemasan yang meremang dalam diri. Sudah terlalu kronis menjadi rindu, aku ingin segera bertemu. (Ali Ridwan, 22/06/14)  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar