Kamis, 24 Maret 2016

Menatap Ketegaran Mentari (Catatan GMT 2016)

 
“Hakekat cinta yang suci, murni, sejati, dan hakiki. Adalah cinta yang terbebas dari kontaminan nasfsu manusia. Cinta tulus ikhlas itu tidak akan pernah jauh-jauh dari kata merelakan dan mengiklaskan. Sebab hakekat cinta sebenarnya adalah melihatnya dan membuatnya bahagia. Meskipun alasan dari kebahagiaanya itu ternyata bukanlah dirimu. Ya, cinta itu tidak mengenal ego dan seorang pecinta tidak boleh egois”

Tengah malam di tepian Semarang. Bumi Pucang Gading yang panas menyengat, gerah bukan main. Berniat mengusir gerah aku berusaha mencari angin. 

Kubuka jendela kamar, sampai lepas pandangku menatap langit, gelap gulita di atas sana. Ada guntur tapi hujan tak kunjung turun. Lalu kupejamkan mataku, dan kutemukan rembulan di wajahmu, seketika gelap di langit sana seperti berubah menjadi remang. Ah sial betul, rupa-rupanya aku masih belum bisa melupakanmu, hai Gadis Teduh Berwajah Rembulan.

Dear Gadis Teduh Berwajah Rembulan, kalau boleh aku mengibaratkan, kisah kita itu seumpama rembulan, mentari, dan bumi.

Gadis teduh berwajah rembulan. Coba kamu pikir dulu, kamu renungi dulu, apa kamu kuat seperti rembulan dan mentari? Seperti fenomena gerhana matahari total tempo hari? Bayangkan! Tiga puluh tiga tahun capek-capek memendam rasa rindu, begitu bertemu durasinya tidak lebih dari dua menit, setelah itu berpisah lagi, dan tunggu tiga puluh tiga tahun lagi baru bisa bertemu lagi.

Betul. Kalau orang bilang mentari tetap bersinar walau sendiri, itu benar. Faktanya, gelap itu langsung terjadi kala pertemuan itu sedang berlangsung.

Asal kamu tau saja hai Gadis Teduh Berwajah Rembulan, karena dengan menjalin hubungan jarak jauh itulah Mentari bisa terus menjadi sumber penerang utama bagi Bumi. Bahkan karena terangnya itu, dengan membiaskan cahaya dari Sang Mentari, Rembulan bisa jadi penerang pula bagi bumi saat malam hari, kala sahabatnya mentari sedang terbenam pergi.

Kalau saja Mentari itu egois dan memaksa Rembulan untuk hidup bersama, sudah pasti akan sirna semua segala yang ada di muka bumi, musnah semuan segala makhluk yang menggantungkan hidupnya di kolong langit ciptaan Tuhan bernama planet Bumi yang hijau dengan pasokan air melimpah ini. Menjadi beku semua, Bumi akan berubah jadi pelanet es yang tak berpenghuni lagi.

Hai Gadis Teduh Berwajah Rembulan, apa kamu tau kalau mentari dan bumi itu adalah sepasang sahabat yang baik. Rembulan pun tau, tanpa Mentari ia tak akan pernah bisa menerangi gulitanya malam di pelanet bumi. Mentari pun juga menyadari, hanya dengan memilih sendiri ia akan menjadi sumber penerangan untuk kehidupan di pelanet Bumi dan satelitnya bernama Rembulan. Dengan kebesaran hati yang murni, juga dengan ketulusan cinta yang suci, mentari harus rela melepas Rembulan jatuh ke pelukan Bumi. Biarkan Rembulan berevolusi pada Bumi. Sebab, dengan berevolusi pada Bumi, secara tidak langsung Rembulan juga ikut bersama Bumi berevolusi pada Matahari.

Begitu naas nasib Rembulan, ia hanyalah satelit, sudah ditakdirkan dengan jodohnya si pelanet Bumi. Sedang si Bintang Terang bernama Mentari, karena terangnya itu, siapapun pasti akan terbakar dibuatnya, jika coba-coba berani mendekatinya, tetap sendiri memang adalah pilihan terbaik baginya.

Hai Gadis Teduh Berwajah Rembulan, menurut aku keputusan Mentari melepas Rembulan kepada Bumi itu sudah tepat. Sebab hanya dengan seperti itu maka hidup akan terus berlanjut. Sebab cinta bukan hanya soal memiliki, lebih daripada itu, cinta adalah soal bagaimana bisa melihatnya dan membuatnya bahagia. Cinta adalah membuat hidupnya cerah bersinar. Secerah rembulan di malam lima belas. Ya, ketulusan cinta yang berfokus pada kebahagiannya walau harus jauh dan terpisah darinya adalah cinta yang mencerminkan ketulusan Si Bintang Terang bernama Mentari yang selalu mengiklaskan sinarkan dibiaskan sang Rembulan untuk menerangi Bumi di malam hari, padahal Bumi sudah merenggutnya dari genggaman tangannya.

Mentari yang bersinar terang meski sendirian. Tetaplah bertemu dengan matan pujaan hatimu bernama Rembulan itu. Meski hanya kurang dari dua menit setelah kurun waktu tiga puluh tiga tahun lamanya memendam rasa. Kau tidak perlu takut tak enak hati kepada Bumi. Gelap sesaat di Bumi karena cemburu justru akan akan semakin menyadarkannya. Betapa Bumi itu tidak akan pernah bisa hidup kalau seandainya Rembulan berpaling darinya, dan lebih memilih Mentari.

Mentari si Raja Siang, teruslah berpatokan pada pendirian cintamu yang menganut faham klasik nan sakral, bahwa cinta itu tidak harus memiliki. Sebab yang berkeinginan memiliki itu adalah nafsumu, bukan cintamu. Cinta hanya ingin melihatnya bahagia, itu saja.

Hai, gadis teduh berwajah rembulan. Kalau malam ini aku merindukan tatap matamu yang seteduh rembulan. Itu tak lebih seperti kerinduan mentari pada rembulan. Melihatmu bahagia dengannya kurang dari dua menit setelah tiga puluh tiga tahun tanpa kabar, akan membuatku semangat memancarkan sinar-sinarku lagi selama tiga puluh tiga tahun ke depan. Aku tak lebih seperti mentari yang ingin memastikan kalau hubunganmu dengan kekasihmu itu baik-baik saja. Syukur-syukur kalau pertemuan sesaat itu telah membuatnya cemburu, hingga ia makin menyadari betapa berharganya dirimu untuknya. Yah, dia harus bersyukur karena telah ditakdirkan Tuhan berjodoh denganmu. (Ali Ridwan, 11/03/16)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar