“Hakekat
cinta yang suci, murni, sejati, dan hakiki. Adalah cinta yang terbebas dari
kontaminan nasfsu manusia. Cinta tulus ikhlas itu tidak akan pernah jauh-jauh
dari kata merelakan dan mengiklaskan. Sebab hakekat cinta sebenarnya adalah
melihatnya dan membuatnya bahagia. Meskipun alasan dari kebahagiaanya itu
ternyata bukanlah dirimu. Ya, cinta itu tidak mengenal ego dan seorang pecinta
tidak boleh egois”
Tengah malam di tepian Semarang. Bumi
Pucang Gading yang panas menyengat, gerah bukan main. Berniat mengusir gerah aku
berusaha mencari angin.
Kubuka jendela kamar, sampai lepas pandangku menatap langit, gelap gulita di atas sana. Ada guntur tapi hujan tak kunjung turun. Lalu kupejamkan mataku, dan kutemukan rembulan di wajahmu, seketika gelap di langit sana seperti berubah menjadi remang. Ah sial betul, rupa-rupanya aku masih belum bisa melupakanmu, hai Gadis Teduh Berwajah Rembulan.
Kubuka jendela kamar, sampai lepas pandangku menatap langit, gelap gulita di atas sana. Ada guntur tapi hujan tak kunjung turun. Lalu kupejamkan mataku, dan kutemukan rembulan di wajahmu, seketika gelap di langit sana seperti berubah menjadi remang. Ah sial betul, rupa-rupanya aku masih belum bisa melupakanmu, hai Gadis Teduh Berwajah Rembulan.
Dear Gadis Teduh Berwajah Rembulan,
kalau boleh aku mengibaratkan, kisah kita itu seumpama rembulan, mentari, dan
bumi.
Gadis teduh berwajah rembulan. Coba kamu
pikir dulu, kamu renungi dulu, apa kamu kuat seperti rembulan dan mentari? Seperti
fenomena gerhana matahari total tempo hari? Bayangkan! Tiga puluh tiga tahun
capek-capek memendam rasa rindu, begitu bertemu durasinya tidak lebih dari dua
menit, setelah itu berpisah lagi, dan tunggu tiga puluh tiga tahun lagi baru
bisa bertemu lagi.
Betul. Kalau orang bilang mentari tetap
bersinar walau sendiri, itu benar. Faktanya, gelap itu langsung terjadi kala
pertemuan itu sedang berlangsung.
Asal kamu tau saja hai Gadis Teduh
Berwajah Rembulan, karena dengan menjalin hubungan jarak jauh itulah Mentari
bisa terus menjadi sumber penerang utama bagi Bumi. Bahkan karena terangnya
itu, dengan membiaskan cahaya dari Sang Mentari, Rembulan bisa jadi penerang
pula bagi bumi saat malam hari, kala sahabatnya mentari sedang terbenam pergi.
Kalau saja Mentari itu egois dan memaksa
Rembulan untuk hidup bersama, sudah pasti akan sirna semua segala yang ada di
muka bumi, musnah semuan segala makhluk yang menggantungkan hidupnya di kolong
langit ciptaan Tuhan bernama planet Bumi yang hijau dengan pasokan air melimpah
ini. Menjadi beku semua, Bumi akan berubah jadi pelanet es yang tak berpenghuni
lagi.
Hai Gadis Teduh Berwajah Rembulan, apa
kamu tau kalau mentari dan bumi itu adalah sepasang sahabat yang baik. Rembulan
pun tau, tanpa Mentari ia tak akan pernah bisa menerangi gulitanya malam di
pelanet bumi. Mentari pun juga menyadari, hanya dengan memilih sendiri ia akan
menjadi sumber penerangan untuk kehidupan di pelanet Bumi dan satelitnya
bernama Rembulan. Dengan kebesaran hati yang murni, juga dengan ketulusan cinta
yang suci, mentari harus rela melepas Rembulan jatuh ke pelukan Bumi. Biarkan Rembulan
berevolusi pada Bumi. Sebab, dengan berevolusi pada Bumi, secara tidak langsung
Rembulan juga ikut bersama Bumi berevolusi pada Matahari.
Begitu naas nasib Rembulan, ia
hanyalah satelit, sudah ditakdirkan dengan jodohnya si pelanet Bumi. Sedang si
Bintang Terang bernama Mentari, karena terangnya itu, siapapun pasti akan
terbakar dibuatnya, jika coba-coba berani mendekatinya, tetap sendiri memang
adalah pilihan terbaik baginya.
Hai Gadis Teduh Berwajah Rembulan,
menurut aku keputusan Mentari melepas Rembulan kepada Bumi itu sudah tepat.
Sebab hanya dengan seperti itu maka hidup akan terus berlanjut. Sebab cinta
bukan hanya soal memiliki, lebih daripada itu, cinta adalah soal bagaimana bisa
melihatnya dan membuatnya bahagia. Cinta adalah membuat hidupnya cerah
bersinar. Secerah rembulan di malam lima belas. Ya, ketulusan cinta yang
berfokus pada kebahagiannya walau harus jauh dan terpisah darinya adalah cinta yang
mencerminkan ketulusan Si Bintang Terang bernama Mentari yang selalu
mengiklaskan sinarkan dibiaskan sang Rembulan untuk menerangi Bumi di malam
hari, padahal Bumi sudah merenggutnya dari genggaman tangannya.
Mentari yang bersinar terang meski
sendirian. Tetaplah bertemu dengan matan pujaan hatimu bernama Rembulan itu.
Meski hanya kurang dari dua menit setelah kurun waktu tiga puluh tiga tahun
lamanya memendam rasa. Kau tidak perlu takut tak enak hati kepada Bumi. Gelap sesaat di Bumi
karena cemburu justru akan akan semakin menyadarkannya. Betapa Bumi itu tidak
akan pernah bisa hidup kalau seandainya Rembulan berpaling darinya, dan lebih memilih
Mentari.
Mentari si Raja Siang, teruslah
berpatokan pada pendirian cintamu yang menganut faham klasik nan sakral, bahwa
cinta itu tidak harus memiliki. Sebab yang berkeinginan memiliki itu adalah
nafsumu, bukan cintamu. Cinta hanya ingin melihatnya bahagia, itu saja.
Hai, gadis teduh berwajah rembulan.
Kalau malam ini aku merindukan tatap matamu yang seteduh rembulan. Itu tak
lebih seperti kerinduan mentari pada rembulan. Melihatmu bahagia dengannya
kurang dari dua menit setelah tiga puluh tiga tahun tanpa kabar, akan membuatku
semangat memancarkan sinar-sinarku lagi selama tiga puluh tiga tahun ke depan.
Aku tak lebih seperti mentari yang ingin memastikan kalau hubunganmu dengan
kekasihmu itu baik-baik saja. Syukur-syukur kalau pertemuan sesaat itu telah
membuatnya cemburu, hingga ia makin menyadari betapa berharganya dirimu
untuknya. Yah, dia harus bersyukur karena telah ditakdirkan Tuhan berjodoh
denganmu. (Ali Ridwan, 11/03/16)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar