“Jika
pernah tertawa menerjang badai, mengapa harus menangis meleati gerimis?”
Akhir-akhir ini, jalan hidupku seperti
orang linglung. Aku bingung, ya aku bingung pada diriku sendiri, diri yang
sedang diambang bimbang. Entah karena apa, aku yang dulu punya semangat tinggi
kenapa jadi lemah begini. Kemana aku yang dulu buas, aku yang selalu haus pada
tantangan, aku yang dulu punya daya juang level dewa, aku yang selalu antusias
dengan segala aral rintang yang siap menghadang. Serumit dan seberat apapun
itu.
Akhir-akhir ini, aku sedang dihadapkan
pada dua pilihan sulit. Antara ingin fokus menjadi diri sendiri atau secara
totalitas tanpa batas menuntas tuntas apa-apa yang sudah terlanjur aku mulai.
Memang betul, apa yang aku senangi belum tentu menjadi seperti yang aku amini.
Tapi apa yang harus terus aku jalani sudah pasti akan menjadi seperti apa yang
mereka ridhai. Tidak ada jalan lain selain harus terus fokus, menyelesaikan apa
yang sudah aku mulai.
Memang, sebetulnya itu sepele. Bukan
pilihan yang sulit dan rumit. Tapi entahlah, ada yang di luar kuassaku hingga
aku merasa sedikit kehilangan semangat. Hatiku jadi lemah, sinar semangatnya
redup. Suluh yang dulu terang benderang seolah meremang dan nyaris padam. Aku
dan logika fikirku bisa menerima itu, tapi tidak dengan hatiku. Nurani ini
selalu tak kuasa untuk mendustai itu.
Teringat sebuah quote “Lepaskan orang yang sedang jatuh hati ke
tengah lautan, niscaya ia akan membawa sekeranjang ikan. Masukkan orang yang
sedang patah hati ke dalam segudang roti, niscaya ia akan mati kelaparan”
Aku dulu kuat, bisa sambil tertawa
menerjang badai. Tapi lihatlah sekarang, baru melewati gerimis sedikit saja
sudah merengek-rengek.
Malam tadi ibuku SMS. Air mataku
menitih. Aku tahu ibuku sedang rindu. Apakah ibuku juga sedang menangis untuk
mendoakan kesuksesanku di dalam tahajudnya tadi? Sepertinya iya. Pastinya iya.
Do’a itu kemudian tak cukup untuk mengobati rasa rindunya seorang ibu kepada
putra simata wayangnya sampai akhirnya malam-malam begitu ibu sampai berkirim
SMS kepadaku. “Ibu, anakmu baik-baik saja di sini. Meski sebenarnya kini sedang
didera luka akibat kegagalan yang sebenarnya tidak sebarapa dan tidak ada
apa-apanya.”
Usai membaca isi pesan singkat berisi
tulisan yang mengurai air mata itu, aku kemudian tersenyum. Lalu menitih lagi,
tak lama kemudian tangisku pun pecah lagi, aku tersedu sedan di atas sajadahku,
di dalam tahajudku.
Mataku menangis, tapi hatiku gembira
ria. Sebab aku menangis bukan karena cinta, aku menangis karena malu. Malu
kepada diriku yang dulu. “Ibu, aku janji. Anakmu ini tidak lama lagi akan
menemukan semangatnya kembali. Bara cinta itu boleh redup dan padam dalam hati,
meski lukanya masih mememar dan terasa perih. Tapi suntikan motivasi diri dari
doa tulus seorang ibu, dengan sendirinya akan membawa ruang hati yang kosong
melomping ini kembali terisi. Sinar cintanya akan benderang lagi. Ambisinya
akan buncah lagi. Semangatnya akan bangkit lagi. Aku akan segera kembali”
“Patah
hati boleh membuatmu terjatuh, tersandung, dan terluka. Tapi ketika itu juga
yang hanya harus kamu lakukan ialah berdiri lagi. Iya, itu saja. Berdiri lagi.
Tak peduli perihnya seperti apa, kamu harus berdiri lagi, mencoba berjalan
lagi, berjalan lagi, dan berjalan lagi. Terus mendaki dan mendaki. Luka itu
akan malu sendiri, saat melihat kamu dengan duduk santai menopang kaki, di atas
batu besar dari atas bukit sambil menyeruput secangkir kopi.”
Sudah terlanjur basah. Gerismis makin
deras. Hujan makin lebat. Sebentar lagi badai, topan, lesus datang ikut
mengacaukan. Aku akan hanyut bila terus bersikap sama seperti saat melewati
gerimis. Mau tidak mau. Suka tidak suka. Aku harus kembali menjadi aku yang
dulu lagi. Aku harus menjadi aku yang seribu kali lebih kuat bahkan dari aku
yang dulu itu. Aku yang bisa sambil tertawa, aku yang bisa sambil ternbahak,
dan aku yang bisa sambil terkekeh. Di saat menerjang badai. Di kala melewati
topan lesus nanti. (Ali Ridwan, 02/02/16)

Moga kita selalu dalam Iman dan Islam..amiin.
BalasHapusAmin allahumma amiiin.. Dengan iman dan islam, semoga kita bisa menjadi orang yang ihsan..
Hapus