Untuk
bisa menemukannya dan untuk bisa mendapatkannya. Kamu harus dideterminasi dulu,
diskrining dulu, difraksi dulu, dan di KLT dulu.
Nah,
kalau cinta abal-abal itu seperti residu. Tidak ada kandungan zat aktifnya.
Tidak ada zat khasiatnya. Residu itu adalah ampas. Mau cintamu sekedar ampas?
Nah,
kalau orang ketiga itu ibaratnya N-heksan dan Etil Asetat. Fungsinya hanya untuk
memisahkan. Memisahkan isolat dari residunya. Memisahkan mana cinta yang ampas
dan mana cinta yang berkelas.
Kalau
sekarang hidupmu masih dalam proses ekstraksi. Pastikan kamu adalah isolat yang
menjadi zat aktif di dalamnya. Jangan menjadi residu! Apalagi seperti N-heksan
dan Etil Asetat. (Ali Ridwan, Bandung, 2015)
~ ### ~
Bicara soal cinta. Tidak akan ada yang
bisa menandingi cinta mereka berdua. Ialah kedua orang tua yang telah
melahirkan kita ke dunia. Mebesarkan kita dengan keringat dan air mata. Terutama
sekali ibu? Ingat waktu kecil, saat kamu belajar menghafal bacaan shalat atau
saat kamu belajar mengeja tulisan arab, siapa guru pertamamu, jawabannya ialah
ibumu. Lima bulan pertama saat kertas masih putih. Ibulah yang akan mengisi
lembaran-lembaran itu. Catet, 80 % gen anak itu diturunkan oleh ibunya. Maka
jelas, laki-laki baik pasti akan memilihkan calon ibu yang baik untuk
anak-anaknya
Itu yang sudah dilakukan ayahku.
Terimakasih, ayah telah memilih calon ibu yang baik untuk melahirkan aku ke
dunia. Meski aku tahu, perjalanan hidup keluarga kecil ini tak selalu indah,
penuh cobaan, aral melintang, berliku penuh duri. Tapi lihatlah wahai ayah dan
ibu, kita akkhirnya mampu. Ayah, yang mencintai keluarganya dengan caranya
sendiri.
Ayah, ibu. Dengarlah kabar gembira ini. Alhamdulillah,
sekarang skripshit sudah berubah menjadi skripsweet, gelar keramat itupun sudah
tersemat. Ada S.Farm di belakang namaku. Kini namaku bukan lagi Ali Ridwan,
Amd.Farm. Tapi sudah berubah jadi Ali Ridwan, S.Farm. Ibu doakan anakmu ini
selalu. Ayah, restui anakmu ini senaantiasa. Meski sudah yudisium dan sebentar
lagi wisuda. Tepi sebetulnya perjuangan belumlah usai. Bahwa sesungguhnya
S.Farm saja tanpa Apt itu belumlah lengkap. Seperti mendaki ke Mahameru kalau
hanya sampai kalimati bererti belum selesai, sebab tujuan utamanya adalah
puncak. Profesi Apoteker yang jadi Mahameruku.
Hal paling membahagiakan di wisuda tahun
ini adalah ayah ibuku yang akhirnya bisa datang ke acara wisudaku. Ayah dan ibu
akan datang langsung dari Papua untuk bisa duduk di dalam ruang tamu undangan
hanya untuk melihat anaknya dilantik di mimbar kehormatan menjadi seorang
sarjana.
Tiket pesawat dari Papua ke Suarabaya
sudah di pesan jauh-jauh hari. Setelah singgah di Ponorogo, tiket kereta Madiun
– Nganjuk juga sudah dipesan. Ongkot transport yang mahal akan tetap sebanding
dengan moment sakral itu. Sampai di Bandung masih harus menemani kedua orang
tua berjalan-jalan ke pasar, membeli baju untuk acara hari H. Ah, senangnya
bisa jalan-jalan keliling kota sama kedua orang tua. Selain prosesi wisuda,
inilah moment langka lainnya itu. Mereka yang semakin tua dan aku yang semakin
dewasa. Jalan-jalan bersama itu seperti sebuah kejadian yang agar bisa
teelaksana kita harus membayarnya dengan harga yang tentunya tidak murah. Itulah
harga sebuah kebersamaan.
Semua siap, orang tua sudah di Bandung,
udangan di tangan, geladi resik beres, dan tibalah di hari yang bersejarah itu
pada 27 Oktober 2015 di Hotel Harris, Jalan Kepatihan Bandung. Saat sambutan
pembukaan oleh ketua senat, aku kaget bukan kepalang, saat ketua WK menyebut
nama saya sebagai mahasiswa terjauh. Ya, dari papua. Lumayan, prestasi hiburan
lagi. Hahaii..
Hal tak kalah seru saat qorik dan
saritilawah membacakan ayat suci Al Quran. Intinya dalam ayat itu difirmankan “Barang siapa yang menghabiskan waktunya untuk
menuntut ilmu, niscaya derajatnya akan ditinggikan oleh Allah SAW” Sungguh,
beruntunglah orang-orang yang sama Allah diberi kesempatan untuk menghabiskan
masa mudanya untuk menuntut ilmu. Percaya, selain mengangkat derajatmu, ilmu
itu juga akan mengankat derajat kedua orang tuamu. Karena keistimewaan ini
Allah sampai menjanjikan, siapa yang hafal Quran beserta isinya, Allah akan
memakaikan jubah kebesaran kepada kedua orang tuanya di akherat nanti. Ada
dalilnya, tapi aku lupa ayat berapa surat apa. Search sendiri aja di mbah
google yah. Hehehe..
Seremonial selesai. Ayah dan ibu sedah
kembali ke Papua. Saatnya aku kembali melanjtkan perjuangan. Ini masalahnya
sekarang. Sudah resmi mendapat gelar S.Farm tapi belum pasti lanjut Apt dimana?
Selamat, kamu resmi jadi seorang pengangguran. Hahaha..
Kembali ke topik awal, soal cinta tadi.
Iya, bicara soal cinta serasa ada yang kurang saat kita membicarakan cinta di
hadapan kedua orang tua kita. Sedang kita belum punya calon pendamping hidup.
Selalu sedih kalau Bayah sering menyinggung soal jodoh. Tapi untungnya ibu
tidak. Ibu malah bersikap sebaliknya, ibu malah ingin aku lanjut kuliah dulu
sampai S2 apa S3 bila perlu kuliahnya di luar negeri sekalian. Yaaa, aku suka
dengan cita-cita besar ibu yang disematkan di pundakku itu, itu sama dengan
doa. Tinggal akunya mau apa tidak, sudah ada restu kalau ada kemauan pasti
bisa. Isya Allah..
Begitulah, sebab menuntut ilmu itu
wajib. Siapa menjalankan kewajibannya pasti Allah akan memenuhi hak-haknya. Itu
nyata. “Ingat! Tidak akan menjadi miskin seseorang yang menginvestasikan
uangnya untuk kepentingan pendidikan. Allah akan meninggikan derajat
orang-orang yang gemar menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu” Dua kata
mutiara inilah yang kemudian melahirkan satu prinsip dalam hiduku. “Bekerjalah
untuk mencari ilmu, bukan mencari ilmu untuk mendapatkan pekerjaan.” Setuju?
Apa? Enggak?! Sak karepmu!!
Saat sebelum pulang,sempat kaget saat ayah
melontarkan pertanyaan “Kamu sudah punya pacar belum Wan?” Pertanyaan itu seperti menohok ulu hatiku.
Jujur aku jawab belum, dan keadaan justru tidak menjadi lebih baik. Ayah malah
menyarankan aku mendekati seorang wanita pilihannya. Perjodohan itu, ah
sudahlah, mungkin itu isyarak kalau sudah sepantasnya seorang sarjana itu
memikirkan siapa calon pendamping hidupnya. Memang, aku tidak suka dijodoh-jodohin,
tapi aku juga tidak bisa tiba-tiba langsung menolak begitu saja. Cara menolak
paling halus adalah memilih pilihan aku sendiri dengan kualitas calon yang
tidak kalah dengan calon yang disiapkan ayahku. Masih ada waktu, santai. Tapi
aku tetap berpedoman pada ibuku, kuliah dulu setinggi-tingginya. Jodoh pasti
disiapkan Allah tapi ilmu kita harus mencarinya.
Sepakat, jodoh tak perlu dikejar.
Dikejar tidak dikejar kalau sudah waktunya toh pasti akan ketemu dengan
sendirinya, sebab jodoh itu pasti sudah disiapkan sama Allah. Beda dengan ilmu
dan pengetahuan, harus dikejar kalau tidak dikejar ya pasti tidak akan didapat
jatah dan bagiannyanya. Makannya berulang-ulang selalu aku bilang. “Kejarlah
cita-cita sebelum cinta!!” Percaya di ujung sana nanti, sudah ada cinta
berkelas yang sudah dipersiapkan Tuhan untuk menyambut hari kesuksesanmu kelak.
Kata Afgan “Jodoh pasti bertemu” dan kata aku “Ilmu dan pengetahuan tidak akan
bertemu, kalau tidak dicari!” Sekian dan selamat menempuh pendidikan profesi
apotekernya! (Ali Ridwan, 10/12/2015)

Assalamu'alaikum mas Iwan. Salam kenal dari Rifdah. Tadi nyari nyari info farmasi. Yang keluar malah blognya mas Iwan. Beberapa tulisan sempat dibaca. Mulai dari perjuangan menjadi TNI hingga kuliah DIII Farmasi. Tulisannya bagus-bagus. Kisah pribadi yang dirangkai menjadi sebuah cerita yang penuh motivasi dan penuh hikmah.
BalasHapusMaaf mas. Apakah mas tidak kesulitan ketika masuk di dunia farmasi? Apakah SMK dulu belajar Kimia, Biologi dan sejenisnya? Oh iya. Sekarang lanjut profesi di mana, mas?
Wlkm wr wb dan salam kenal kembali..
HapusKesulitan itu pasti, tapi kalau mau berusaha yakin pasti bisa..
Waktu di SMK Otomotif ada fisika dan kimia, tapi lebih ke arah tekhnik dan disesuikan dg jurusan. Kalau Biologi dan semacamnya belajarnya saat SMP aja..
Saya di STIFAR Semarang. Kalau rekan2 saya banyak yg tetap di STFB, banyak jg yg di UAD dan USB. Ada juga yg keterima di UI dan ITB..