Pengertian
Pembekuan Darah ( Koagulasi )
Gangguan pembekuan darah diartikan sebagai keadaan dimana terjadi gangguan
pada proses sumbat terhadap perdarahan yang terjadi. Gangguan pembekuan darah
dapat disebabkan oleh faktor genetik, supresi komponen genetik, atau konsumsi
komponen pembekuan.
Mekanisme
Mekanisme pembekuan darah merupakan hal yang kompleks.
Mekanisme ini dimulai bila terjadi trauma pada dinding pembuluh darah dan jaringan
yang berdekatan, pada darah, atau berkontaknya darah dengan sel edotel yang
rusak atau dengan kolagen atau unsure jaringan lainnya di luar sel endotel
pembuluh darah. Pada setiap kejadian tersebut, mekanisme ini menyebabkan
pembentukan activator protrombin, yang selanjutnya akan mengubah protrombin
menjadi thrombin dan menimbulkan seluruh langkah berikutnya.
Mekanisme secara umum, pembekuan terjadi melalui tiga
langkah utama:
1.
Sebagai respon terhadap rupturnya pembuluh darah yang
ruak, maka rangkaian reaksi kimiawi yang kompleks terjadi dalam darah yang
melibatkan lebih dari selusin factor pembekuan dara. Hasil akhirnya adalah
terbentuknya suatu kompleks substansi teraktivasi yang disebut activator
protrombin.
2.
Aktivator protrombin mengkatalisis pengubahan
protrombin menjadi thrombin.
3.
Trombin bekerja sebagai enzim untuk mengubah
fibrinogen menjadi benang fibrin yang merangkai trombosit, sel darah, dan
plasma untuk membentuk bekuan.
Mekanisme Koagulasi, terdiri dari
dua jalur yaitu :
1.
Melalui jalur Ekstrinsik yang dimulai dengan
terjadinya trauma pada dinding pembuluh dan jaringan sekitarnya.
2.
Melalui jalur Instrinsik yang berawal di dalam darah
itu sendiri.Pada kedua jalur ini, baik Ekstrinsik maupun Instrinsik, berbagai
protein plasma, terutama betaglobulin, memegang peranan utama. Bersama dengan
factor-faktor lain yang telah diuraikan dan terlibat dalam proses pembekuan,
semuanya disebut factor-faktor pembekuan darah, dan pada umumnya, semua itu
dalam bentuk enzim-enzim proteolitik yang inaktif. Bila berubah menjadi aktif,
kerja enzimmatiknya akan menimbulkan proses pembekuan berupa reaksi-reaksi yang
beruntun dan bertingkat.
Dalam proses pembekuan darah, diperlukan faktor-faktor
pembekuan darah, antara lain: Factor VIII merupakan molekul kompleks yang
terdiri atas tiga sub unit yang berbeda:
1.
Bagian prokoagulan yang mengandung factor antihemofilia
, VIII AHG, yang tidak dijumpai pada pasien pasien hemofilia klasik
2.
Sub unit lain yang mengandung tempat antigenic
3.
Factor Von Willebrand, VIII VWF, yang diperlukan untuk
adhesi trombosit pada dinding pembuluh darah. Faktor Von Willebrand terus-menerus
mengalir dan berlalu-lalang ke seluruh penjuru aliran darah. Protein ini
berpatroli, dengan kata lain bertugas memastikan bahwa tidak ada luka yang
terlewatkan oleh trombosit.
Selain itu
masih ada Prakalikrein dan kininogen dengan berat molekul tinggi (HMWK),
bersama factor XII dan XI, disebut factor-faktor kontak dan diaktivasi pada
saat cedera dengan berkontak dengan permukaan jaringan, factor-faktor tersebut
berperan dalam pemecahan bekuan-bekuan pada saat terbentuk.
Aktivasi faktor-faktor koagulasi diyakini terjadi
karena enzim-enzim memecahkan fragmen bentuk precursor yang tidak aktif, oleh
karena itu disebut prokoagulan. Tiap factor yang diaktivasi, kecuali factor V,
VIII, XIII, dan I (fibrinogen), merupakan enzim pemecah protein (protease
serin), yang mengaktivasi prokoagulan berikutnya.
Tahapan
proses pembekuan darah :
1.
Fase koagulasi. Koagulasi diawali dalam keadaan
homeostasis dengan adanya cedera vascular. Vasokonstriksi merupakan respon
segera terhadap cedera, yang diikuti dengan adhesi trombosit pada kolagen pada
dinding pembuluh yang terpajan dengan cedera. Trombosit yang terjerat di tempat
terjadinya luka mengeluarkan suatu zat yang dapat mengumpulkan trombosit-trombosit
lain di tempat tersebut. Kemudian ADP dilepas oleh trombosit, menyebabkan
agregasi trombosit. Sejumlah kecil trombin juga merangsang agregasi trombosit,
bekerja memperkuat reaksi. Trombin adalah protein lain yang membantu pembekuan
darah. Zat ini dihasilkan hanya di tempat yang terluka, dan dalam jumlah yang
tidak boleh lebih atau kurang dari keperluan. Selain itu, produksi trombin
harus dimulai dan berakhir tepat pada saat yang diperlukan. Dalam tubuh
terdapat lebih dari dua puluh zat kimia yang disebut enzim yang berperan dalam
pembentukan trombin. Enzim ini dapat merangsang ataupun bekerja sebaliknya,
yakni menghambat pembentukan trombin. Proses ini terjadi melalui pengawasan
yang cukup ketat sehingga trombin hanya terbentuk saat benar-benar terjadi luka
pada jaringan tubuh. Factor III trombosit, dari membrane trombosit juga
mempercepat pembekuan plasma. Dengan cara ini, terbentuklah sumbatan trombosit,
kemudian segera diperkuat oleh protein filamentosa (fibrin).
Produksi fibrin dimulai dengan perubahan factor X
menjadi Xa, seiring dengan terbentuknya bentuk aktif suatu factor. Factor X
dapat diaktivasi melalui dua rangkaian reaksi. Rangkaian pertama memerlukan
factor jaringan, atau tromboplastin jaringan, yang dilepaskan oleh endotel
pembuluh darah pada saat cedera.. karena factor jaringan tidak terdapat di
dalam darah, maka factor ini merupakan factor ekstrinsik koagulasi, dengan
demikian disebut juga jalur ekstrinsik untuk rangkaian ini.
Rangkaian lainnya yang menyebabkan aktivasi factor X
adalah jalur intrinsic, disebut demikian karena rangkaian ini menggunakan
factor-faktor yang terdapat dalam system vascular plasma. Dalam rangkaian ini,
terjadi reaksi “kaskade”, aktivasi satu prokoagulan menyebabkan aktivasi bentuk
pengganti. Jalur intrinsic ini diawali dengan plasma yang keluar terpajan
dengan kulit atau kolagen di dalam pembuluh darah yang rusak. Factor jaringan
tidak diperlukan, tetapi trombosit yang melekat pada kolagen berperan. Faktor
XII, XI, dan IX harus diaktivasi secara berurutan, dan faktor VIII harus
dilibatkan sebelum faktor X dapat diaktivasi. Zat-zat prakalikrein dan HMWK
juga turut berpartisipasi, dan diperlukan ion kalsium.
Dari hal ini, koagulasi terjadi di sepanjang apa yang
dinamakan jalur bersama. Aktivasi aktor X dapat terjadi sebagai akibat reaksi
jalur ekstrinsik atau intrinsik. Pengalaman klinis menunjukkan bahwa kedua
jalur tersebut berperan dalam hemostasis. Langkah selanjutnya pada pembentukan
fibrin berlangsung jika faktor Xa, dibantu fosfolipid dari trombosit yang
diaktivasi, memecah protrombin, membentuk trombin. Selanjutnya trombin
memecahkan fibrinogen membentuk fibrin. Fibrin ini pada awalnya merupakan jeli
yang dapat larut, distabilkan oleh faktor XIIIa dan mengalami polimerasi
menjadi jalinan fibrin yang kuat, trombosit, dan memerangkap sel-sel darah.
Untaian fibrin kemudian memendek (retraksi bekuan), mendekatkan tepi-tepi
dinding pembuluh darah yang cederadan menutup daerah tersebut.
2. Penghentian
pembekuan bekuan. Setelah pembentukan bekuan, sangat penting untuk melakukan
pengakhiran pembekuan darah lebih lanjut untuk menghindari kejadian trombotik
yang tidak diinginkan.yang disebabkan oleh pembentukan bekuan sistemik yang
berlebihan. Antikoagulan yang terjadi secara alami meliputi antitrombin III
(ko-faktor heparin), protein C dan protein S. Antitrombin III bersirkulasi
secara bebas di dalam plasma dan menghambat sistem prokoagulan, dengan mengikat
trombin serta mengaktivasi faktor Xa, IXa, dan XIa, menetralisasi aktivitasnya
dan menghambat pembekuan. Protein C, suatu polipeptida, juga merupakan suatu
antikoagulan fisiologi yang dihasilkan oleh hati, dan beredar secara bebas
dalam bentuk inaktif dan diaktivasi menjadi protein Ca. Protein C yang
diaktivasi menginaktivasi protrombin dan jalur intrinsik dengan membelah dan
menginaktivasi faktor Va dan VIIIa. Protein S mempercepat inaktivasi
faktor-faktor itu oleh protein protein C. Trombomodulin, suatu zat yang
dihasilkan oleh dinding pembuluh darah, diperlukan untuk menimbulkan pengaruh
netralisasi yang tercatat sebelumnya. Defisiensi protein C dan S menyebabkan
spisode trombotik. Individu dengan faktor V Leiden resisten terhadap degradasi
oleh protein C yang diaktivasi.
3. Resolusi
bekuan. Sistem fibrinolitik merupakan rangkaian yang fibrinnya dipecahkan oleh
plasmin (fibrinolisin) menjadi produk-produk degradasi fibrin, menyebabkan
hancurnya bekuan. Diperlukan beberapa interaksi untuk mengubah protein plasma
spesifik inaktif di dalam sirkulasi menjadi enzim fibrinolitik plasmin aktif.
Protein dalam bersirkulasi, yang dikenal sebagai proaktivator plasminogen,
dengan adanya enzim-enzim kinase seperti streptokinase, stafilokinase, kinase
jaringan, serta faktor XIIa, dikatalisasi menjadi aktivator plasminogen. Dengan
adanya enzim-enzim tambahan seperti urokinase, maka aktivator-aktivator
mengubah plasminogen, suatu protein plasma yang sudah bergabung dalam bekuan
fibrin, menjadi plasmin. Kemudian plasmin memecahkan fibrin dan fibrinogen
menjadi fragmen-fragmen (produk degradasi fibrin-fibrinogen), yang mengganggu
aktivitas trombin, fungsi trombosit, dan polimerisasi fibrin, menyebabkan
hancurnya bekuan. Makrofag dan neutrofil juga berperan dalam fibrinolisis
melalui aktivitas fagositiknya.
Penyakit yang berhubungan dengan gangguan darah
1. Hemofilia. Hemofilia merupakan penyakit
kelainan koagulasi yang sering kita jumpai.Hemofilia adalah gangguan koagulasi
herediter akibat terjadinya mutasi atau cacat genetik pada kromosom X.
Kerusakan kromosom ini menyebabkan penderita kekurangan faktor pembeku darah
sehingga mengalami gangguan pembekuan darah. Dengan kata lain, darah pada
penderita hemofilia tidak dapat membeku dengan sendirinya secara normal.
Hemofilia
tak mengenal ras, perbedaan warna kulit ataupun suku bangsa. Namun mayoritas
penderita hemofilia adalah pria karena mereka hanya memiliki satu kromosom X.
Sementara kaum hawa umumnya hanya menjadi pembawa sifat (carrier). Seorang
wanita akan benar-benar mengalami hemofilia jika ayahnya seorang hemofilia dan
ibunya pun pembawa sifat. Akan tetapi kasus ini sangat jarang terjadi. Meskipun
penyakit ini diturunkan, namun ternyata sebanyak 30 persen tak diketahui
penyebabnya. Ada dua jenis utama Hemofilia , yaitu:
a. Hemofilia A. Disebut Hemofilia Klasik. Pada
hemofilia ini, ditemui adanya defisiensi atau tidak adanya aktivitas faktor
antihemofilia VIII, protein pada darah yang menyebabkan masalah pada proses
pembekuan darah.
b. Hemofilia B. Disebut Christmas Disease.
Ditemukan untuk pertama kalinya pada seorang bernama Steven Christmas yang berasal
dari Kanada. pada Christmas Disease ini, dijumpai defisiensi atau tidak adanya
aktivitas faktor IX.
Penyakit hemofilia diklasifikasikan menjadi
tiga, yaitu :
1. Hemofilia berat, jika kadar aktivitas faktor
kurang dari 1 %.
2. Hemofilia sedang, jika kadar aktivitas faktor
antara 1-5 %.
3. Hemofilia ringan, jika kadar aktivitas faktor
antara 6-30 %.
Gangguan
pembekuan darah terjadi karena kadar aktivitas faktor pembeku darah jenis
tertentu kurang dari jumlah normal, bahkan hampir tidak ada. Sementara tingkat
normal faktor VIII dan IX adalah 50-200 %. Pada orang normal, nilai rata-rata
kedua faktor pembeku darah adalah 100%.
Faktor penyebab Hemofilia
1. Faktor Genetik. Hemofilia atau pennyakit
gangguan pembekuan darah memang menurun dari generasi ke generasi lewat wanita
pembawa sifat (carier) dalam keluarganya, yang bisa secara langsung, bisa
tidak. Seperti kita ketahui, di dalam setiap sel tubuh manusia terdapat 23
pasang kromosom dengan bebagai macam fungsi dan tugasnya. Kromosom ini
menentukan sifat atau ciri organisme, misalnya tinggi, penampilan, warna
rambut, mata dan sebagainya. Sementara, sel kelamin adalah sepasang kromosom di
dalam initi sel yang menentukan jenis kelamin makhluk tersebut. Seorang pria
mempunyai satu kromosom X dan satu kromosom Y, sedangkan wanita mempunyai dua
kromosom X. Pada kasus hemofilia, kecacatan terdapat pada kromosom X akibat
tidak adanya protein faktor VIII dan IX (dari keseluruhan 13 faktor), yang
diperlukan bagi komponen dasar pembeku darah (fibrin).
Berikut
ini adalah peta pedigree bagaimana penyakit hemofilia dapat diturunkan dari
orang tua kepada anaknya:
a. Jika seorang laki- laki normal memiliki anak
dari seorang wanita pembawa sifat hemofilia hemofilia.Jika mereka mendapatkan
anak laki -laki, maka anak tersebut 50% kemungkinan terkena hemofilia. Ini
tergantung dari mana kromosom X pada anak laki – laki itu didapat. Jika ia
mewarisi kromoson X normal dari sang ibu, maka ia tidak akan terkena hemofilia.
Jika ia mewarisi kromosom X dari sang ibu yang mengalami mutasi, maka ia akan
terkena hemofilia. Dengan jalan yang sama, sepasang anak perempuan memiliki 50%
kemungkinan adalah pembawa sifat hemofilia. Ia akan normal jika ia mewarisi
kromosom X normal dari sang ibu. Dan sebaliknya ia dapat mewarisi kromosom X
dari sang ibu yang memiliki sifat hemofilia, sehingga ia akan menjadi pembawa
sifat hemofilia. (Gugun,2007).
b. Pria
penderita hemofilia menikah dengan wanita normal, maka kemungkinan anak mereka
adalah 50% anak laki-laki normal dan 50% anak perempuan carrier (pembawa sifat)
hemofilia.Karena seorang carrier hanya memiliki satu buah kromosom X normal
yang dapat memproduksi sejumlah Faktor VIII atau Faktor IX didalam susunan
pembeku darah, maka mereka dapat terhindar dari segala jenis hemofilia berat
yang jumlah kadar zat pembekunya kurang dari 1 %. Bagaimanapun juga, tingkatan
dalam zat pembeku darah yang bervariatif pada seorang pembawa sifat sangatlah
luas. Jumlah kadar zat pembeku darah seorang carrier hemofilia akan memiliki
jumlah yang sama dengan penderita hemofilia hanya saja mereka masih dalam taraf
yang normal. Hal ini terjadi karena adanya 2 buah kromosom X, salah satu gennya
memiliki pembawa sifat hemofilia sehingga fungsinya tidak seimbang. Bila
kromosom X hemofilia fungsionilnya terjadi di setiap sel, maka seorang carrier
akan memiliki aktifitas pembeku darah dengan tingkatan yang paling rendah.
c. Kebanyakan
dari seorang carrier hemofilia memiliki tingkatan pembeku darah antara 30 % dan
70 % dari angka normal dan tidak selalu mengalami perdarahan yang berlebihan.
Namun beberapa carrier hemofilia memiliki kadar faktor VIII atau IX 30% lebih
rendah dari keadaan normalnya. Dan para wanita ini dapat di kategorikan
setengah hemofilia.Dalam hal ini , semua carrier hemofilia harus lebih menaruh
perhatian pada perdarahan yang tidak wajar. Tanda -tandanya antara lain :
menstruasi yang berkepanjangan dan berlebihan (menorrhagia), mudah terluka,
sering mengalami perdarahan pada hidung (mimisan).
2.
Faktor komunikasi antar sel. Sel-sel di dalam tubuh
manusia juga mempunyai hubungan antara sel satu dengan sel lain yang dapat
saling mempengaruhi. Penelitian menunjukkan, peristiwa pembekuan darah terjadi
akibat bekerjanya sebuah sistem yang sangat rumit. Terjadi interaksi atau
komunikasi antar sel, sehingga hilangnya satu bagian saja yang membentuk sistem
ini, atau kerusakan sekecil apa pun padanya, akan menjadikan keseluruhan proses
tidak berfungsi. Jalur intrinsik menggunakan faktor-faktor yang terdapat dalam
sistem vaskular atau plasma. Dalam rangkaian ini, terdapat reaksi air terjun,
pengaktifan salah satu prokoagulan akan mengakibatkan pengaktifan bentuk
seterusnya. Faktor XII, XI, dan IX harus diaktivasi secara berurutan, dan
faktor VIII harus dilibatkan sebelum faktor X dapat diaktivasi. Zat prekalikein
dan kiininogen berat molekul tinggi juga ikut serta dan juga diperlukan ion
kalsium. Koagulasi terjadi di sepanjang apa yang dinamakan jalur bersama.
Aktivasi faktor X dapat terjadi sebagai akibat reaksi jalur ekstrinsik atau
intrinsik. Pengalaman klinis menunjukkan bahwa kedua jalur tersebut berperan
dalam hemostasis. Pada penderita hemofilia, dalam plasma darahnya kekurangan
bahkan tidak ada faktor pembekuan darah, yaitu faktor VIII dan IX. Semakin
kecil kadar aktivitas dari faktor tersebut maka, pembentukan faktor Xa dan
seterusnya akan semakin lama. Sehingga pembekuan akan memakan waktu yang lama
juga (terjadi perdarahan yang berlebihan).
3.
Faktor epigenik. Hemofilia A disebabkan kekurangan
faktor VIII dan hemofilia B disebabkan kekurangan faktor IX. Kerusakan dari
faktor VIII dimana tingkat sirkulasi yang fungsional dari faktor VIII ini
tereduksi. Aktifasi reduksi dapat menurunkan jumlah protein faktor VIII, yang
menimbulkan abnormalitas dari protein. Faktor VIII menjadi kofaktor yang
efektif untuk faktor IX yang aktif, faktor VIII aktif, faktor IX aktif,
fosfolipid dan juga kalsium bekerja sama untuk membentuk fungsional aktifasi
faktor X yang kompleks (”Xase”), sehigga hilangnya atau kekurangan kedua faktor
ini dapat mengakibatkan kehilangan atau berkurangnya aktifitas faktor X yang
aktif dimana berfungsi mengaktifkan protrombin menjadi trombin, sehingga jiaka
trombin mengalami penurunan pembekuanyang dibentuk mudah pecah dan tidak
bertahan mengakibatkan pendarahan yang berlebihan dan sulit dalam penyembuhan
luka.
Patogenesis
Penyakit Hemofilia
Proses kejadian dimulai dari terjadinya cedera pada
permukaan jaringan, kemudian dilanjutkan pada permukaan fosfolipid trombosit
yang mengalami agregasi. Ada proses utama homeostatis pada pembekuan darah :
1.
Fase konstriksi sementara (respon langsung terjadi
cedera)
2.
Reaksi trombosit yang terdiri dari adhesi, seperti
faktor III dari membran trombosit juga mempercepat pembekuan darah
3.
Pengaktifan faktor-faktor pembekuan, seperti faktor
III dari membran trombosit, juga mempercepat pembekuan darah dengan cara ini,
terbentuklah sumbatan sumbat trombosit yang kemudian diperkuat oleh protein
filamentosa yang dikenal dengan fibrin. Produksi fibrin dimulai dengan
perubahan faktor X menjadi Xa (belum aktif). Rangkaian reaksi pertama
memerlukan faktor jaringan (tromboplastin) yang dilepas endotel pembuluh saat
cedera. Faktor jaringan ini tidak terdapat dalam darah, sehingga disebut faktor
ekstrinsik. Sedangkan faktor VIII dan IX terdapat dalam darah, sehingga disebut
jalur intrinsik. Dalam proses ini,
pengaktifan salah satu prokoagulan akan mengakibatkan pengaktifan bentuk
penerusnya. Jalur intrinsik diawali dengan keluarnya plasma atau kolagen
melalui pembuluh yang rusak dan mengenai kulit. Faktor-faktor koagulasi XII,
XI, dan IX harus diaktifkan berurutan. Faktor VIII harus dilibatkan sebelum
faktor X diaktifkan. Namun pada penderita hemofilia faktor VIII mengalami
defisiensi, akibatnya proses pembekuan darah membutuhkan waktu yang lama untuk
melanjutkan ke tahap berikutnya.Kondisi seperti inilah yang menghambat
pengaktifan jalur intrinsik. Secara tidak langsung juga menghambat jalur bersama,
karena faktor X tidak bisa diaktifkan.Pembentukan fibrin, walaupun dibantu oleh
fosfolipid, trombosit tidak berarti tanpa faktor Xa. Untaian fibrin tidak
terbentuk maka dinding pembuluh yang cedera menutup. Dan perdarahanpun sulit
dihentikan, hal ini dapat diuji dengan tingginya (lamanya) PTT (partial
tromboplastin time).
Hemofilia A
Hemofilia A atau hemofilia klasik berkarakteristik
perdarahan berlebihan sebagian besar bagian tubuh. Hematoma dan Hemarthroses
dapat terjadi pada penyakit ini. Gejala klinis dapat berupa perdarahan spontan
yang berulang dalam sendi, otot, maupun anggota tubuh yang lain. Hal ini dapat
berakibat kecacatan pada sendi dan otot, bahkan perdarahan berlanjut dapat
menyebabkan kematian pada usia dini.
Di sisi lain jika luka sobek di permukaan kulit, darah
akan terlihat mengalir keluar perlahan kemudian pasti menjadi kumpulan darah
yang lembek. Tetapi bila lukanya di bawah kulit, akan terjadi memar atau lebam
kebiruan kendati luka itu berasal dari benturan. Beda lagi jika perdarahan
terjadi di persendian dan otot. Jaringan di sekitarnya bisa rusak. Itulah
sebabnya mengapa hemofilia bisa menyebabkan kelumpuhan.
Hemofilia A dapat diklasifikasi menjadi tiga, yaitu :
ringan, sedang, dan berat. Berikut ini
akan menjelaskan manifestasi klinis berdasarkan
klasifikasi hemofilia:
Hemofilia berat tingkat faktor VIII : ≤ 1% dari normal
(≤ 0,01 U/ml). Manifestasi Klinis:
1.
Perdarahan spontan sejak awal masa pertumbuhan (masa
infant).
2.
lamanya perdarahan spontan dan perdarahan lainnya
membutuhkan faktor pembekuan pengganti.
3.
Frekuensi perdarahan sering dan terjadi secara tiba-tiba.
Hemofilia
sedang Tingkat faktor VIII : 1-5 % dari normal (0,01-0,05 U/ml) Manifestasi
klinis:
1.
Perdarahan karena trauma atau pembedahan.
2.
Frekuensi perdarahan terjadi kadang-kadang.hemofilia.
Hemofilia
ringan. Tingkat faktor VIII : 6-30 % dari normal (0,06-0,30 U/ml)
Manifestasi klinis:
Manifestasi klinis:
1.
Perdarahan karena trauma atau pembedahan.
2.
Frekuensi perdarahan jarang.
Gejala Penyakit Hemofilia
1.
Apabila terjadi benturan pada tubuh akan mengakibatkan
kebiru-biruan (pendarahan dibawahkulit).
2.
Apabila terjadi pendarahan di kulit luar maka pendarahan
tidak dapat berhenti.
3.
Pendarahan dalam kulit sering terjadi pada persendian
seperti siku tangan maupun lutut kaki sehingga mengakibatkan rasa nyeri yang
hebat. Sendi dan otot yang mengalami pendarahan terlihat bengkak dan nyeri bila
disentuh.(andra. 2007).
Dampak
Psikologis Penderita
Timbulnya suatu penyakit yang kronis seperti pada
hemofilia dalam suatu keluarga memberikan tekanan pada system keluarga tersebut
dan menuntut adanya penyesuaian antara si penderita sakit dan anggota keluarga
yang lain. Penderita sakit ini sering kali harus mengalami hilangnya otonomi
diri, peningkatan kerentanan terhadap sakit, beban karena harus berobat dalam
jangka waktu lama. Sedangkan anggota keluarga yang lain juga harus mengalami
“hilangnya” orang yang mereka kenal sebelum menderita sakit (berbeda dengan
kondisi sekarang setelah orang tersebut sakit), dan kini (biasanya) mereka
mempunyai tanggungjawab pengasuhan terhadap anggota keluarga yang mengalami
penyakit hemofilia.
Kondisi penyakit yang kronis ini menimbulkan depresi
pada anggota keluarga yang lain dan mungkin menyebabkan penarikan diri atau
konflik antar mereka. Kondisi ini juga menuntut adaptasi yang luar biasa dari
keluarga.Hemofilia tidak hanya merupakan masalah medis atau biologis semata,
namun juga mempunyai dampak psikososial yang dalam.Pengaruh orang dengan
hemofilia sebaiknya tidak hanya memperhatikan masalah fisiologi-nya saja, misal
mengontrol perdarahannya dan mencegah timbulnya disabilitas fisik tetapi juga
diharapkan mempunyai perhatian pada berbagai gangguan alam perasaannya, rasa
tidak amannya, rasa terisolasi dan masalah keluarga terdekatnya (orangtua,
istri, anak dan saudara kandung).
KIE
Pasien dengan hemofilia pasien tidak boleh diberikan
aspirin. Kebersihan mulut sangat penting sebagai pencegahan, karena pencabutan
gigi akan sangat berbahaya.
Penyakit Von
Willebrand
Penyakit von willebrand adalah suatu penyakit yang
diakibatkan oleh kekurangan atau kelainan pada vaktor von willebrand di dalam darah
yang sifatnya diturunkan. Faktor von willebrand adalah suatu protein yang
mempengaruhi fungsi trombosit. Gen yang membuat VWF bekerja pada dua jenis sel
yaitu: Sel endotel yaitu yang melapisi pembuluh darah, dan trombosit. Jika
tidak terdapat cukup VWF dalam darah, atau tidak bekerja dengan baik, maka
dalam proses pembekuan darah memerlukan waktu lebih lama. Penyakit ini tidak
sama dengan hemofilia dan sering dialami oleh wanita.
Patogenesis
Dalam tubuh darah diangkut dalam pembuluh darah. Jika ada cedara jaringan, terjadi kerusakan pembuluh darah dan akan menyebabkan kebocoran darah melalui lubang pada dinding pembuluh darah. Pembuluh dapat rusak dekat permukaan seperti saat terpotong. Atau ia dapat rusak di bagian dalam tubuh sehingga terjadi memar atau perdarahan dalam. Trombosit adalah sel kecil yang beredar dalam darah. Setiap trombosit berukuran garis tengah kurang dari 1/10,000 centimeter. Terdapat 150 to 400 miliar trombosit dalam 1 liter darah normal. Trombosit mempunyai peranan penting untuk menghentikan perdarahan dan memulai perbaikan pembuluh darah yang cedera. Jika pembuluh darah terluka, ada empat tahap untuk membentuk bekuan darah yang normal.
Dalam tubuh darah diangkut dalam pembuluh darah. Jika ada cedara jaringan, terjadi kerusakan pembuluh darah dan akan menyebabkan kebocoran darah melalui lubang pada dinding pembuluh darah. Pembuluh dapat rusak dekat permukaan seperti saat terpotong. Atau ia dapat rusak di bagian dalam tubuh sehingga terjadi memar atau perdarahan dalam. Trombosit adalah sel kecil yang beredar dalam darah. Setiap trombosit berukuran garis tengah kurang dari 1/10,000 centimeter. Terdapat 150 to 400 miliar trombosit dalam 1 liter darah normal. Trombosit mempunyai peranan penting untuk menghentikan perdarahan dan memulai perbaikan pembuluh darah yang cedera. Jika pembuluh darah terluka, ada empat tahap untuk membentuk bekuan darah yang normal.
Tahap 1: Pembuluh darah terluka dan mulai mengalami
perdarahan.
Tahap 2:
Pembuluh darah menyempit untuk memperlambat aliran darah ke daerah yang
luka.
Tahap 3:
Trombosit melekat dan menyebar pada dinding pembuluh darah yang rusak.
Ini disebut adesi trombosit. Trombosit yang menyebar melepaskan zat yang
mengaktifkan trombosit lain didekatnya sehingga akan menggumpal membentuk
sumbat trombosit pada tempat yang terluka. Ini disebut agregasi trombosit.
Tahap 4: Permukaan trombosit yang teraktivasi menjadi
permukaan tempat terjadinya bekuan darah. Protein pembekuan darah yang beredar
dalam darah diaktifkan pada permukaan trombosit membentuk jaringan bekuan
fibrin. Protein ini (Faktor I, II, V, VII, VIII, IX, X, XI, XII dan XIII dan
Faktor Von Willebrand ) bekerja seperti kartu domino, dalam reaksi berantai.
Ini disebut cascade koagulasi. VWD dapat terjadi pada dua tahap terakhir pada
proses pembekuan darah. Pada tahap ke 3, seseorang dapat berkemungkinan tidak
memiliki cukup Faktor Von Willebrand (VWF) di dalam darahnya atau faktor
tersebut tidak berfungsi secara normal. Akibatnya VWF tidak dapat bertindak
sebagai perekat untuk menyangga trombosit di sekitar daerah pembuluh darah yang
mengalami kerusakan. Trombosit tidak dapat melapisi dinding pembuluh darah.
Pada tahap ke 4, VWF membawa Faktor VIII. Faktor VIII adalah salah satu protein
yang dibutuhkan untuk membentuk jaringan yang kuat. Tanpa adanya faktor VIII
dalam dalam jumlah yang normal maka proses pembekuan darah akan memakan waktu
yang lebih lama.
Manisfestasi
klinik
Penderita penyakit ini akan mudah mengalimi pendarahan
karena faktor perekatnya dalam proses pembekuan darah berkurang atau proses
penutupan luka berlangsung lama dikarenakan proses pembekuan darahnya
memerlukan waktu yang lebih lama dibanding orang normal.
1.
Trombositosis. Peningkatan jumlah trombosit di atas
400.000/mm3. Trombositosis dibagi menjadi dua yaitu:
a.
Trombositosis primer. Terlihat pada gangguan
mieloproliferatif seperi plosistemia vena atau leukemia grunulomasitik kronik
dimana bersama kelompok sel lainnya mengalami poliferasi abnormal sel
megakariosit dalam sumsum tulang.
b.
Trombositosis sekunder. Terjadi akibat stress atau
kerja fisik disertai pengeluaran trombosit dari pool cadangan ( dari limpa)
atau saat terjadinya peningkatan permintaan sumsum tulang seperti pada pendarahan
atau pada anemia hemolitik. Jumlah trombosit yang meningkat juga ditemukan pada
orang yang limpanya sudah dibuang dengan pembedahan. Limpa adalah tempat
penyimpanan dan penghancuran utama trombosit, splenektomi tanpa disertai
penguranga pembentukan sumsum tulang juga dapat menyebabkan trombositosis.
Patogenesis
Apabila konsentrasi trombosit tinggi, terjadi agregasi
spontan pada trombosit, menyumbat kapiler-kapiler darah yang lembut. Pada
proses ini, dinding kapiler akan rusak yang dapat menimbulkan . pemeriksaan
masa pendarahan dan fungsi trombosit lain pada umumnya dalam batas normal.
Manisfestasi
klinis
Meningkatnya jumlah trombosit di dalam plasma darah,
dapat menyebabkan pendarahan di mukosa, khususnya di dalam mukosa saluran
cerna., pendarahan juga terjadi di pembuluh darah vena dan arteri. Fungsi
abnormal dari trombosit dapat menyebabkan pendarahan yang panjang.
Trombositopenia
Trombositopenia adalah suatu penyakit yang disebabkan
oleh kekurangan trombosit. Kadar trombosit di dalam plasma darah kurang dari
200.000 permilimeter kubik. Trombosit adalah salah satu protein dalam pembekuan
darah.
Trombositopenia dapat disebabkan oleh:
1.
Sumsum tulang menghasilkan sedikit trombosit, misalnya
pada penyakit:
a.
Anemia aplastik
b.
Hemoglobinuria nokturnal paroksismal
c.
Leukimia
d.
Pemakaian alkohol yang berlebihan
e.
Anemia Megaloblastik
f.
Kelainan sumsum tulang
2.
Trombosit terperangkap dalam limpa yang membesar.
Misalnya pada penyakit:
a.
Sirosis disertai spenomegali kongestif
b.
Mielfibrosis
c.
Penyakit Gaucher
3.
Trombosit menjadi terlarut. Misalnya pada:
a.
Penggantian darah yang masif atau transfusi ganti (karena
platelet tidak dapat bertahan di dalam darah yang ditransfusikan)
b.
Pembedahan bypass kardiopulmoner
4.
Meningkatnya penggunaan ataau penghancuran trombosit.
Misalnya pada penyakit:
a.
Purpura trombositopenik idiopatik (ITP)
b.
Infeksi HIV
c.
Purpura setelah transfusi darah
d.
Obat-obatan (heparin, kunidin, kuinin, antibiotik yang
mengandung sulfa, beberapa obat diabetes per-oral, garam emas, rifamicin)
e.
Leukimia kronik pada bayi yang baru lahir
f.
Limfoma
g.
Lupus eritematosus sistemik
h.
Purpura trombositopenik trombotik
i.
Sindroma hemolitik-uremik
j.
Sindrama gawat pernapasan dewasa
k.
Infeksi berat disertai septikemia
5.
Keadaan-keadaan yang melibatkan pembekuan dalam
pembuluh darah ( komplikasi kebidanaan, kanker, keracunan darah (septikemia),
akibatbakteri gram negatif, kerusakan otak traumatik.
Manisfestasi
Klinis
Pendarahan pada kulit bisa merupakan pertanda awal
dari jumlah trombosit yang berkurang, bintuk-bintik keunguan seringkali muncul
di tungkai bawah dan cedera ringan bisa menyebabkan memar yang menyebar. Penyakit
ini dapat menyebabkan pendarahaan pada gusi. Di dalam tinja dan air kemih juga
dapat ditemukan darah. Pada penderita wanita, darah pada waktu menstruasi
sangat banyak. Pendarahan sulit berhenti sehingga pembedahan dan kecelakaan
bisa berakibat fatal bagi penderita. Jika jumlah trombosit semakin. menurun,
maka pendarahan akan semakin memburuk. Jumlah trombosit kurang dari
5.000-10.000/ml bisa menyebabkan hilangnya sejumlah besar darah melalui saluran
pencernaan atau terjadi pendarahan di otak (meskipun otaknya tidak mengalami
cedera) yang dapat berakibat sangat fatal bagi kehidupan penderita.
D.I.C
(disseminated intravascular coagulation).
Pembekuan intravaskuler tersebar (DIC) adalah sindrom
multifaset, sindrom kompleks dimana homeostatik normal dan sistem fisiologik
yang mempertahankan darah agar tetap cair berubah menjadi sistem yang
patologik, sehingga terjadi trombi fibrin yang menyumbat miovaskuler dari
tubuh. Keadaan ini sering timbul akibat banyaknya jaringan yang cedera atau
mati yang melepaskan faktor jaringan dalam jumlah besar kedalam darah,
seringkali bekuan ini ukurannya kecil-kecil tapi banyak dan bekuan ini
menyumbat sejumlah besar darah perifer yang kecil, terutama terjadi pada syok
septikemik.
Faktor
Penyebab
1.
Mikroorganisme: bakteri dan jamur Misalnya: pada syok
septikemik. Bakteri mengiritasi lapisan pembukuh darah (terutama endotoksin)
sehingga mengaktifkan mekanisme pembekuan darah.
2.
Luka Bakar. Luka bakar yang terlalu parah dapat
menyebabkan banyak sekali sumbatan pembuluh darah.
3.
Leukimia Promielositik
4.
Produk-produk tumor
5.
Cedera remuk
6.
Solusio plasenta
Patogenesis
Diawali dengan masuknya materi atau aktivasi
proakoagulasi ke dalam sirkulasi darah. Ini dapat ditemukan pada setiap keadaan
dimana tromboplastin jaringan dibebaskan karena terjadi perusakan jaringan yang
mengalami pembekuan-pembekuan ekstrinsil. Karena plasenta banyak mengandung
tromboplastin jaringan, maka salah satu penyebab DIC yang paling sering adalah
solusio plasenta (pelepasan plasenta yang prematur) sehingga menyebabkan
tertahannya hasil-hasil konsepsi (plesenta fetus) yang menyebabkan nekrosis dan
kerusakan jaringan lebih lanjut.Produk-produk tumor, luka bakar, cedera remuk
dan leukimia promielositik semuanya menyebabkan pelepasan tromboplastin. Awal
jaras intrinsik juga terjadi bila proakogulan intrinsik kontak dengan endotel
pembuluh yang rusak seperti pada vaskulitis, septic dan syok. Selama proses
pembekuan, trombosit akan beragregasi dan bersama-sama dengan faktor-faktor
pembekuan, sehingga jumlah trombosit berkurang. Hasil trombi fibrin dapat
menyebabkan sumbatan pada mikrovaskular jika jumlahnya banyak, jika jumlahnya
sedikit maka tidak akn menyebabkan sumbatan di mikrovaskular. (Sylvia A.Price
& Lloraine M.Wilson,2003)
Manisfestasi
Klinis
Manisfestasi klinis yang terjadi pada DIC tergantung
dari luas dan lamanya pembentukan trombofibrin organ-organj yang terlibat (ginjal,
jantung, hipofise, paru-paru, dan mukosa saluran cerna), nekrosis dan
pendarahan yang ditimbulkan. Dampaknya adalah, penderita akan mengalami
perdarahan pada membran mukosa dan jaringan – jaringan bagian dalam, pendarahan
disekitar bagian yang cedera, hipotensi (syok), oliguri atau anuria, kejang dan
koma, mual dan muntah, diare, nyeri abdomen, nyeri punggung, dispnea dan
sianosis.
Kelainan
Vaskular
Berbagai kelainan dapat terjadi pada tiap tingkat
mekanisme hemostatik. Pasien dengan kelainan pada system vascular biasanya
datang dengan perdarahan kulit, dan sering mengenai membrane mukosa. Perdarahan
dapat diklasifikasikan menjadi purpura alergik dan purpura nonalerik. Pada
kedua keadaan ini, fungsi trombosit dan factor koagulasi adalah normal.Terdapat
banyak bentuk purpura nonalergik, yaitu pada penyakit-penyakit ini tidak
terdapat alergi sejati tetapi terjadi berbagai bentuk vaskulitis. Yang paling sering
ditemukan adalah lupus eritematosus sistemik. Kelainan ini merupakan penyakit
vascular-kolagen, yaitu pasien membentuk autoantibody. Vaskulitis, atau
peradangan pembuluh darah terjadi dan merusak integritas pembuluh darah,
mengakibatkan purpura.
Jaringan penyokong pembuluh darah yang mengalami
perburukan, dan tidak efektif, yang terjadi seiring proses penuaan,
mengakibatkan purpura senilis. Umumnya terlihat perdarahan kulit pada dorsum
manus dan lengan bawah serta diperburuk oleh trauma. Kecuali mengganggu secara
kosmetik, keadaan ini tidak membahayakan jiwa. Manifestasi kulit yang serupa
juga terlihat pada terapi kortikosteroid jangka lama, yang diyakini diakibatkan
dari katabolisme protein di dalam jaringan penyokong pembuluh darah. Skorbut,
yang berkaitan dengan malnutrisi, dan alkoholisme, sama-sama mempengaruhi
integritas jaringan ikat dinding pembuluh darah.Bentuk purpura vascular yang
dominant autosomal, telangiektasia hemoragik herediter (penyakit
Osler-Weber-Rendu), terdapat terdapat pada epistaksis dan perdarahan saluran
cerna yang intermiten dan hebat. Telangiektasia difus umumnya terjadi pada masa
dewasa, ditemukan pada mukosa bukal, lidah, hidung dan bibir dan tampaknya
meluas ke seluruh saluran cerna. Pengobatan terutama suportif.
Sindrom Ehlers-Danlos, suatu penyakit herediter lain,
meliputi penurunan daya pengembangan (compliance) jaringan perivascular yang
menyebabkan perdarahan berat. Purpura alergik atau purpura anafilaktoid diduga
diakibatkan oleh kerusakan imunologik pada pembuluh darah, ditandai dengan
perdarahan petekie pada bagian tubuh yang tergantung dan juga mengenai bokong.
Purpura Henoch-schÖnlein, suatu trias purpura dan perdarahan mukosa,
gejala-gejala salurancerna, dan arthritis, merupakan bentuk purpura alergik yang
terutama mengenai anak-anak. Mekanisme penyakit ini tidak diketahui dengan
baik. Gejala-gejalanya sering didahului oleh keadaan infeksi. Pasien-pasien
mengalami peradangan pada cabang-cabang pembuluh darah, kapiler dan vena,
mengakibatkan pecahnya pembuluh, hilangnya sel-sel darah merah, dan perdarahan.
Glomerulonefritis merupakan komplikasi yang sering terjadi. Pengobatan bersifat
suportif dengan menghindari aspirin serta senyawa-senyawanya.
Anti
Koagulasi
Senyawa yang dapat menghambat
penggumpalan darah dinamakan antikoagulan. Antikoagulasi ada yang bekerja
dengan cara mengganggu pematangan protein factor penggumpalan yaitu antagonis
vitamin K seperti dikumorol, selain itu ada juga antikoagulan yang bekerja
dengan mengaktifkan antitrombin, yaitu Heparin, menghambat kerja thrombin yang
sudah aktif dalam mengkatalis proses penggumpalan darah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar