Pengertian
Dermatitis kontak adalah kondisi peradangan pada kulit
yang disebabkan oleh faktor eksternal, substansi-substansi partikel yang
berinteraksi dengan kulit (National Occupational Health and Safety Commision,
2006). Dikenal dua macam jenis
dermatitis kontak yaitu dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergik;
keduanya dapat bersifat akut maupun kronis.
Dermatitis
kontak iritan adalah efek sitotosik lokal langsung
dari bahan iritan baik fisika maupun kimia, yang bersifat tidak spesifik, pada
sel-sel epidermis dengan respon peradangan pada dermis dalam waktu dan
konsentrasi yang cukup (Health and Safety Executive, 2004).
Dermatitis kontak alergi
adalah dermatitis yang disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas tipe lambat
terhadap bahan-bahan kimia yang kontak dengan kulit dan dapat mengaktivasi
reaksi alergi (National Occupational Health and Safety Commision, 2006).
Reaksi obat pada kulit
Letusan makulopapular adalah manifestasi paling umum
dari obat diinduksi reaksi kulit. Lesi cenderung mirip
dengan campak, sering melibatkan batang atau tekanan
daerah, dan sering simetris. Letusan ini diklasifikasikan sebagai
awal , muncul dalam beberapa jam sampai 3 hari setelah
konsumsi obat, atau akhir, muncul sampai 9 hari
setelah paparan. Kebanyakan reaksi menghilang dalam beberapa hari
setelah
menghentikan agen, dan kontrol sehingga gejala dari
daerah yang
terkena adalah intervensi utama. kortikosteroid topikal dan
antihistamin
oral yang dapat meredakan pruritus. Pada letusan berat, pendek
Tentu saja
kortikosteroid sistemik dapat dibenarkan.
Patofisiologi
Kelainan kulit
timbul akibat kerusakan sel yang disebabkan oleh bahan iritan melalui kerja
kimiawi atau fisis. Bahan iritan merusak lapisan tanduk, denaturasi keratin,
menyingkirkan lemak lapisan tanduk dan mengubah daya ikat air kulit. Kebanyak
bahan iritan (toksin) merusak membran lemak keratinosit tetapi sebagian dapat
menembus membran sel dan merusak lisosom, mitokondria atau komplemen inti
(Streit, 2001).
Kerusakan
membran mengaktifkan fosfolipase dan melepaskan asam arakidonat (AA),
diasilgliserida (DAG), faktor aktivasi platelet, dan inositida (IP3). AA
dirubah menjadi prostaglandin (PG) dan leukotrien (LT). PG dan LT menginduksi
vasodilatasi, dan meningkatkan permeabilitas vaskuler sehingga mempermudah
transudasi komplemen dan kinin. PG dan LT juga bertindak sebagai kemotraktan
kuat untuk limfosit dan neutrofil, serta mengaktifasi sel mast melepaskan
histamin, LT dan PG lain, dan PAF, sehingga memperkuat perubahan vaskuler
(Beltrani et al., 2006; Djuanda, 2003).
Gejala
klinis
Gejala klinis
dermatitis iritan dibedakan atas dermatitis kontak iritan akut dan dermatitis
iritan kronik.
1. Dermatitis
kontak iritan akut. Reaksi ini bisa beraneka ragam dari nekrosis (korosi)
hingga keadaan yang tidak lebih daripada sedikit dehidrasi (kering) dan
kemerahan.
2. Dermatitis
kontak iritan kronis. DKI kronis disebabkan oleh kontak dengan iritan lemah
yang berulang-ulang, dan mungkin bisa terjadi oleh karena kerjasama berbagai
macam faktor.
Gejala Klinis dermatitis alergi
Penderita pada umumnya mengeluh gatal.
Kelainan kulit bergantung pada keparahan dermatitis. Pada yang akut dimulai
dengan bercak eritema berbatas jelas, kemudian diikuti edema, papulovesikel,
vesikel atau bula. Vesikel atau bula dapat pecah menimbulkan erosi dan eksudasi
(basah). Pada yang kronis terlihat kulit kering, berskuama, papul, likenifikasi
dan mungkin juga fisur, batasnya tidak jelas. Kelainan ini sulit dibedakan
dengan dermatitis kontak iritan kronis; mungkin penyebabnya juga campuran
(Djuanda, 2003). Sifat alergen dapat
menentukan gambaran klinisnya. Bahan kimia karet tertentu (phenyl-isopropyl-p-phenylenediamine)
bisa menyebabkan dermatitis purpura, dan derivatnya dapat megakibatkan
dermatitis granulomatosa. Dermatitis pigmentosa dapat disebabkan oleh parfum
dan kosmetik.
Data
Laboratorium dan Tanda-tanda Vital
Dermatitis
Kontak Iritan didasarkan anamnesis yang cermat dan
pengamatan gambaran klinis. DKI akut lebih mudah diketahui karena munculnya
lebih cepat sehingga penderita pada umumnya masih ingat apa yang menjadi
penyebabnya. Sebaliknya DKI kronis timbul lambat serta mempunyai variasi
gambaran klinis yang luas, sehingga kadang sulit dibedakan dengan DKA. Untuk
ini diperlukan uji tempel dengan bahan yang dicurigai.
Dermatitis
Kontak Alergen untuk menetapkan bahan alergen penyebab
dermatitis kontak alergik diperlukan anamnesis yang teliti, riwayat penyakit
yang lengkap, pemeriksaan fisik dan uji tempel.
Pertanyaan mengenai kontaktan yang dicurigai
didasarkan kelainan kulit yang ditemukan. Misalnya, ada kelainan kulit berupa
lesi numular di sekitar umbilikus berupa hiperpigmentasi, likenifikasi, dengan
papul dan erosi, maka perlu ditanyakan apakah penderita memakai kancing celana
atau kepala ikat pinggang yang terbuat dari logam (nikel). Data yang berasal
dari anamnesis juga meliputi riwayat pekerjaan, hobi, obat topikal yang pernah
digunakan, obat sistemik, kosmetika, bahan-bahan yang diketahui menimbulkan
alergi, penyakit kulit yang pernah dialami, serta penyakit kulit pada
keluarganya (misalnya dermatitis atopik).
Pemeriksaan fisik sangat penting, karena dengan
melihat lokalisasi dan pola kelainan kulit seringkali dapat diketahui
kemungkinan penyebabnya. Misalnya, di ketiak oleh deodoran, di pergelangan
tangan oleh jam tangan, dan di kedua kaki oleh sepatu. Pemeriksaan hendaknya
dilakukan pada seluruh permukaan kulit, untuk melihat kemungkinan kelainan
kulit lain karena sebab-sebab endogen.
Pada Pemeriksaan fisik didapatkan adanya eritema,
edema dan papula disusul dengan pembentukan vesikel yang jika pecah akan
membentuk dermatitis yang membasah. Lesi pada umumnya timbul pada tempat
kontak, tidak berbatas tegas dan dapat meluas ke daerah sekitarnya. Karena
beberapa bagian tubuh sangat mudah tersensitisasi dibandingkan bagian tubuh
yang lain maka predileksi regional akan sangat membantu penegakan diagnosis
Pelaksanaan uji
tempel dilakukan setelah dermatitisnya sembuh (tenang), bila mungkin setelah 3
minggu. Tempat melakukan uji tempel biasanya di punggung, dapat pula di bagian
luar lengan atas. Bahan uji diletakkan pada sepotong kain atau kertas,
ditempelkan pada kulit yang utuh, ditutup dengan bahan impermeabel, kemudian
direkat dengan plester. Setelah 48 jam dibuka. Reaksi dibaca setelah 48 jam
(pada waktu dibuka), 72 jam dan atau 96 jam. Untuk bahan tertentu bahkan baru
memberi reaksi setelah satu minggu. Hasil positif dapat berupa eritema dengan
urtikaria sampai vesikel atau bula. Penting dibedakan, apakah reaksi karena
alergi kontak atau karena iritasi, sehubungan dengan konsentrasi bahan uji
terlalu tinggi. Bila oleh karena iritasi, reaksi akan menurun setelah 48 jam
(reaksi tipe decresendo), sedangkan reaksi alergi kontak makin meningkat
(reaksi tipe crescendo).
Mekanisme Kerja Dermatitis Kontak Alergi
Mekanisme terjadinya kelainan kulit pada dermatitis
kontak alergi adalah mengikuti respons imun yang diperantarai oleh sel (cell-mediated
immune respons) atau reaksi hipersensitivitas tipe IV. Reaksi
hipersensitivitas di kulit timbul secara lambat (delayed hypersensitivity),
umumnya dalam waktu 24 jam setelah terpajan dengan alergen. Patogenesis
hipersensitivitas tipe IV ini sendiri dibagi menjadi dua fase, yaitu fase
sensitisasi dan fase elisitasi (Trihapsoro, 2003).
Sebelum seorang pertama kali menderita dermatitis
kontak alergik, terlebih dahulu mendapatkan perubahan spesifik reaktivitas pada
kulitnya (Djuanda, 2003). Perubahan ini terjadi karena adanya kontak dengan
bahan kimia sederhana yang disebut hapten (alergen yang memilik berat molekul
kecil yang dapat menimbulkan reaksi antibodi tubuh jika terikat dengan protein
untuk membentuk antigen lengkap). Antigen ini kemudian berpenetrasi ke
epidermis dan ditangkap dan diproses oleh antigen presenting cells (APC),
yaitu makrofag, dendrosit, dan sel langerhans (Hogan, 2009; Crowe, 2009).
Selanjutnya antigen ini dipresentasikan oleh APC ke sel T. Setelah kontak
dengan antigen yang telah diproses ini, sel T menuju ke kelenjar getah bening
regional untuk berdeferensiasi dan berproliferasi membentuk sel T efektor yang
tersensitisasi secara spesifik dan sel memori. Sel-sel ini kemudian tersebar
melalui sirkulasi ke seluruh tubuh, juga sistem limfoid, sehingga menyebabkan
keadaan sensitivitas yang sama di seluruh kulit tubuh. Fase saat kontak pertama
alergen sampai kulit menjadi sensitif disebut fase induksi atau fase
sensitisasi. Fase ini rata-rata berlangsung selama 2-3 minggu.
Fase elisitasi atau fase eferen terjadi apabila timbul
pajanan kedua dari antigen yang sama dan sel yang telah tersensitisasi telah
tersedia di dalam kompartemen dermis. Sel Langerhans akan mensekresi IL-1 yang
akan merangsang sel T untuk mensekresi IL-2. Selanjutnya IL-2 akan merangsang
INF (interferon) gamma. IL-1 dan INF gamma akan merangsang keratinosit
memproduksi ICAM-1 (intercellular adhesion molecule-1) yang langsung
beraksi dengan limfosit T dan lekosit, serta sekresi eikosanoid. Eikosanoid
akan mengaktifkan sel mast dan makrofag untuk melepaskan histamin sehingga
terjadi vasodilatasi dan permeabilitas yang meningkat. Akibatnya timbul
berbagai macam kelainan kulit seperti eritema, edema dan vesikula yang akan
tampak sebagai dermatitis. Proses peredaan atau penyusutan peradangan terjadi
melalui beberapa mekanisme yaitu proses skuamasi, degradasi antigen oleh enzim
dan sel, kerusakan sel langerhans dan sel keratinosit serta pelepasan
prostaglandin E-1dan 2 (PGE-1,2) oleh sel makrofag akibat stimulasi INF gamma.
PGE-1,2 berfungsi menekan produksi IL-2 dan sel T serta mencegah kontak sel T
dengan keratisonit. Selain itu sel mast dan basofil juga ikut berperan dengan memperlambat
puncak degranulasi setelah 48 jam paparan antigen, diduga histamin berefek
merangsang molekul CD8 (+) yang bersifat sitotoksik. Dengan beberapa mekanisme
lain, seperti sel B dan sel T terhadap antigen spesifik, dan akhirnya menekan
atau meredakan peradangan.
Efek
Samping Obat dan Penanganannya
Efek samping
yang dilaporkan dari penggunaan topikal kortikosteroid rendah. Efek samping
kulit termasuk purpura, telangiectasia, striae, hipertrikosis fokus, dan
acneiform atau letusan rosacea. Efek samping ini dapat dihentikan setelah
menghentikan topikal kostikosteroid.
Terapi
Non Farmakologi
1. Menghindari
alergen
2. Menggunakan
sarung tangan plastik yang terbuat dari laminasi proprietary.
3. Menggunakan
krim pelindung jika mungkin tersedia untuk membantu pasien tersebut. Namun,
krim ini tersedia untuk alergen tertentu saja (terutama poison ivy dan poison
oak), dan hanya efektif jika area yang dilindungi dicuci dalam beberapa jam
setelah kontak dengan alergen.
KIE
1. Kortikosteroid
topikal digunakan tidak lebih dari dua kali sehari. Peningkatan aplikasi dari
dua kali sehari menjadi empat kali sehari dapat menyebabkan peningkatan
frekuensi efek samping topikal dan sistemik
2. Penggunaan
secara topikal sebaiknya setelah mandi pada saat kulit lembab sehingga
meningkatkan efek penyerapan secara topikal.
3. Anak-anak, pasien usia lanjut, dan pasien dengan gagal hati
beresiko terkena toksisitas kortikosteroid sistemik. Sebagai tambahan, pasien
yang menggunakan kortikosteroid lebih dari 2 minggu berpotensi tinggi mengalami
penyerapan perkutan dan toksisitas sistemik.
4. Pimecrolimus
krim dan tacrolimus salep dapat menyebabkan pembakaran kulit dan pruritus,
khususnya bila diterapkan kulit yang meradang. Pengobatan awal pasien dengan AD
menggunakan kortikosteroid topikal harus dipertimbangkan untuk meminimalkan
TCI.
Daftar Pustaka
1. Dipiro, J.T., Robert L.T., Gary C.Y., Gary R.M., Barbara G.W., L.Michael Posey. 2008. Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach.7th Ed., New York : McGraw-Hill.
2.
Esperanza
Welsh, dkk. 2014. Contact Dermatitis: Therapeutics When Avoidance Fails.
Mexico : Dermatology Department, Centro de Especialidades
Medicas, Monterrey.
3.
Lawrence F. Eichenfield, MD (Co-chair),
dkk. 2014. Management and treatment of atopic dermatitis with topical
therapies. San Diego. Guidelines of care for the management of atopic
dermatitis.
4.
J. Bourke, I. Coulson and J. English.
2008. Guidelines for the management of contact dermatitis Department of
Dermatology, South Infirmary, Victoria Hospital, Cork, Ireland

Tidak ada komentar:
Posting Komentar