Minggu, 22 Mei 2016

GERD (Gastroesophageal Reflux Disease)

 
Pengertian Penyakit
GERD didefinisikan sebagai suatu gangguan di mana isi lambung mengalami refluks secara berulang ke dalam esofagus, yang menyebabkan terjadinya gejala dan/atau komplikasi yang mengganggu. GERD juga dapat dipandang sebagai suatu kelainan yang menyebabkan cairan lambung dengan berbagai kandungannya mengalami refluks ke dalam esofagus, dan menimbulkan gejala khas seperti heartburn (rasa terbakar di dada yang kadang disertai rasa nyeri dan pedih) serta gejala-gejala lain seperti regurgitasi (rasa asam dan pahit di lidah), nyeri epigastrium, disfagia, dan odinofagia.Terdapat dua kelompok pasien GERD, yaitu GERD refrakter adalah pasien yang tidak berespons terhadap terapi dengan penghambat pompa proton (Proton Pump Inhibitor/PPI) dua kali sehari selama 4-8 minggu. Pembedaan ini penting oleh karena individu dengan GERD refrakter ini harus menjalani endoskopi saluran cerna bagian atas (SCBA) untuk mengeksklusi diagnosis penyakit ulkus peptik atau kanker dan mengidentifikasi adanya esofagitis dan Refluks non-asam (Non Acid Reflux/NAR) adalah suatu kondisi di mana refluksat dapat berupa cairan empedu, cairan asam lemah atau alkali, dan/atau gas.4 NAR dapat merujuk kepada: (a) episode refluks yang terdiagnosis dengan manometri atau skintigrafi tanpa adanya penurunan pH di bawah 4; (b) kejadian GERD yang terdiagnosis dengan pemantauan metode spektrofotometri (Bilitec); (c) kejadian refluks yang terdiagnosis dengan pemantauan impedansi tanpa adanya penurunan pH atau penurunan pH yang tidak mencapai angka 4; dan (d) kejadian refluks yang terdiagnosis dengan pemantauan impedansi tanpa adanya perubahan pH atau penurunan pH kurang dari 1. (Syam A. F, 2013).

Patofisiologi Spesifik Penyakit
GERD merupakan penyakit multifaktorial, di mana esofagitis dapat terjadi sebagai akibat dari refluks kandungan lambung ke dalam esofagus apabila:
1.      Terjadi kontak dalam waktu yang cukup lama antara bahan refluksat dengan mukosa esofagus.
2.      Terjadi penurunan resistensi jaringan mukosa esofagus, walaupun waktu kontak antara bahan refluksat dengan esofagus tidak cukup lama.
3.      Terjadi gangguan sensitivitas terhadap rangsangan isi lambung, yang disebabkan oleh adanya modulasi persepsi neural esofageal baik sentral maupun perifer.

Gejala- gejala spesifik penyakit: Heartburn (rasa panas dari ulu hati dan naik ke arah dada), regurgitasi yang timbul setelah makan, nyeri dada non kardiak, kembung, mual, nyeri, menelan, mudah kenyang, nyeri ulu hati.

Diagnosis
Sebelum dilakukan pemeriksaan endoskopi untuk menegakkan diagnosis GERD, sebaiknya dilakukan pemeriksaan penunjang lain untuk menyingkirkan penyakit dengan gejala yang menyerupai GERD (laboratorium, EKG, USG, foto thoraks, dan lainnya sesuai indikasi).
1.      GERD-Q merupakan suatu perangkat kuesioner yang dikembangkan untuk membantu diagnosis GERD dan mengukur respons terhadap terapi.
2.      Endoskopi saluran cerna bagian atas (SCBA) merupakan standar baku untuk diagnosis GERD dengan esofagitis erosif adalah dengan menggunakan endoskopi SCBA dan ditemukan adanya mucosal break pada esofagus.
3.      Pemeriksaan histopatologi dalam diagnosis GERD adalah untuk menentukan adanya metaplasia, displasia, atau keganasan.
4.      Pemeriksaan pH-metri 24 jam: Mengevaluasi pasien-pasien GERD yang tidak berespons dengan terapi PPI, mengevaluasi apakah pasien-pasien dengan gejala ekstra esofageal sebelum terapi PPI atau setelah dinyatakan gagal dengan terapi PPI , memastikan diagnosis GERD sebelum operasi anti-refluks atau untuk evaluasi gejala NERD berulang setelah operasi anti-refluks.
5.      PPI test dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis pada pasien dengan gejala tipikal dan tanpa adanya tanda bahaya atau risiko esofagus Barrett. Tes ini dilakukan dengan memberikan PPI dosis ganda selama 1-2 minggu tanpa didahului dengan pemeriksaan endoskopi. Jika gejala menghilang dengan pemberian PPI dan muncul kembali jika terapi PPI dihentikan, maka diagnosis GERD dapat ditegakkan. Tes dikatakan positif, apabila terjadi perbaikan klinis dalam 1 minggu sebanyak lebih dari 50%.
6.      Penunjang diagnosis lain :
a.       Esofagografi barium: walaupun pemeriksaan ini tidak sensitif untuk diagnosis GERD, namun pada keadaan tertentu pemeriksaan ini mempunyai nilai lebih dibandingkan endoskopi, yaitu pada kondisi stenosis esofagus dan hernia hiatal.
b.      Manometri esofagus :Tes ini bermanfaat terutama untuk evaluasi pengobatan pasien-pasien NERD dan untuk tujuan penelitian.
c.       Tes impedans : Metode baru ini dapat mendeteksi adanya refluks gastroesofageal melalui perubahan resistensi terhadap aliran listrik di antara dua elektroda, pada saat cairan dan/atau gas bergerak di antaranya.
d.      Tes Bilitec :Pemeriksaan ini terutama untuk evaluasi pasien dengan gejala refluks persisten, meskipun dengan paparan asam terhadap distal esofagus dari hasil pH-metri adalah normal.
e.       Tes Bernstein : Tes ini untuk mengukur sensitivitas mukosa esofagus dengan memasang selang trans-nasal dan melakukan perfusi bagian distal esofagus dengan HCl 0,1 N dalam waktu kurang dari 1 jam.
7.      Surveilans Barett’s esophagus

Pengobatan GERD
Pengobatan GERD dapat dimulai dengan PPI setelah diagnosis GERD ditegakkan (lihat bab diagnosis). Dosis inisial PPI adalah dosis tunggal per pagi hari sebelum makan selama 2 sampai 4 minggu. Apabila masih ditemukan gejala sesuai GERD (PPI failure), sebaiknya PPI diberikan secara berkelanjutan dengan dosis ganda sampai gejala menghilang. Umumnya terapi dosis ganda dapat diberikan sampai 4-8 minggu.

Mekanisme kerja PPI adalah memblokir kerja enzim KH ATPase yang akan memecah KH ATP akan menghasilkan energi yang digunakan untuk mengeluarkan asam dari kanalikuli serta pariental ke dalam lumen lambung. Efek samping obat golongan ini jarang, meliputi sakit kepala, diare, konstipasi, muntah, dan ruam merah pada kulit. Ibu hamil dan menyusui sebaiknya menghindari penggunaan PPI (Lacy dkk, 2009).

Interaksi: Antikoagulan: Kerja warfarin ditingkatkan oleh omeprazole. Antiepileptik: Efek fenitoin ditingkatkan oleh omeprazole. Antijamur: Absorbsi ketokonazol dan itrakonazol dikurangi. Ansiolitika dan hipnotika: Metabolisme diazepam dihambat oleh omeprazole. Glikosida jantung: Kadar plasma digoksin mungkin dinaikkan . Kontrasepsi: Lansoprazole mempercepat metabolisme kontrasepsi oral.

Apabila kondisi klinis masih belum menunjukkan perbaikan harus dilakukan pemeriksaan endoskopi untuk mendapatkan kepastian adanya kelainan pada mukosa saluran cerna atas. Pengobatan selanjutnya dapat diberikan sesuai dengan ringan-beratnya kerusakan mukosa. Untuk esofagitis ringan dapat dilanjutkan dengan terapi on demand. Sedangkan untuk esofagitis berat dilanjutkan dengan terapi pemeliharaan kontinu, yang dapat diberikan sampai 6 bulan.

Untuk NERD, pengobatan awal dapat diberikan PPI dosis tunggal selama 4-8 minggu. Setelah gejala-gejala klinis menghilang, terapi dapat dilanjutkan dengan PPI on demand. Penggunaan on demand ini disarankan untuk memaksimalkan supresi asam lambung, diberikan 30-60 menit sebelum makan pagi agar mencapai hasil yang maksimal karena obat ini hanya menghambat pompa proton yang diaktifkan.

GERD yang refrakter terhadap terapi PPI (tidak berespons terhadap terapi PPI dua kali sehari selama 8 minggu) harus dikonfirmasi untuk reevaluasi diagnosis GERD dengan pemeriksaan endoskopi dalam rangka memastikan adanya esofagitis. Apabila tidak ditemukan esofagitis, dilanjutkan dengan pemeriksaan pH-metri. Dari hasil pemeriksaan pH-metri akan dapat ditentukan keterlibatan dominan refluks asam lambung oleh faktor hiperasiditas atau oleh faktor patologi anatomik (gangguan SEB, hiatus hernia, dsb). Apabila kesimpulan pH-metri menunjukkan adanya dominan faktor patologi anatomik dengan tetap ditemukan gejala klinis, maka dapat dipertimbangkan tindakan diagnostik esophageal impedance dan pH.

Penatalaksanaan endoskopik
Komplikasi GERD seperti Barret’s esophagus, striktur, stenosis ataupun perdarahan, dapat dilakukan terapi endoskopik berupa Argon plasma coagulation, ligasi, Endoscopic Mucosal Resection, bouginasi, hemostasis atau dilatasi.

Terapi endoskopi untuk GERD masih terus berkembang dan sampai saat ini masih dalam konteks penelitian. Terapi endoskopi yang telah dikembangkan adalah: Radiofrequency energy delivery, Endoscopic suturing. Namun demikian sampai saat ini masih belum ada laporan mengenai terapi endoskopi untuk GERD di Indonesia.

Penatalaksanaan bedah
Penatalaksanaan bedah mencakup tindakan pembedahan antirefluks (fundoplikasi Nissen, perbaikan hiatus hernia, dll) dan pembedahan untuk mengatasi komplikasi. Pembedahan antirefluks (fundoplikasi Nissen) dapat disarankan untuk pasien-pasien yang intoleran terhadap terapi pemeliharaan, atau dengan gejala mengganggu yang menetap (GERD refrakter). Studi-studi yang ada menunjukkan bahwa, apabila dilakukan dengan baik, efektivitas pembedahan antirefluks ini setara dengan terapi medikamentosa, namun memiliki efek samping disfagia, kembung, kesulitan bersendawa dan gangguan usus pasca pembedahan.

Terapi Non Farmakologi
Memodifikasi berat badan berlebih dan meninggikan kepala lebih kurang 15-20 cm pada saat tidur, serta faktor-faktor tambahan lain seperti menghentikan merokok, minum alkohol, mengurangi makanan dan obat-obatan yang merangsang asam lambung dan menyebabkan refluks, makan tidak boleh terlalu kenyang dan makan malam paling lambat 3 jam sebelum tidur. Contoh makanan dan minuman yang dapat memperburuk gejala GERD : makanan berlemak, kopi, cola, teh, makanan pedas, jus jeruk, jus tomat, kopi. Obat- obatan yang memperburuk gejala GERD : antikolinergik, barbiturat, benzodiazepin, kafein, dihidropiridon saluran Ca- bloker, dopamin, estrogen, etanol, isoproterenol, narkotik, nikotin, nitrat, phentolamin, progesteron, teofilin, aspirin, NSAID, kuinidin, NaCl, besi.

KIE penggunaan obat
Minum obat golongan PPI 30-60 menit sebelum makan. Efek samping  meliputi sakit kepala, diare, konstipasi, muntah, dan ruam merah pada kulit. Pasien diberitahu bahwa sakitnya akan hilang dengan sendirinya dan kalau tidak tahan dapat menggunakan obat analgetik seperti paracetamol untuk mengatasinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar