Pengertian
Gout merupakan
jenis dari radang persendian yang muncul ketika terlalu banyak jumlah asam urat
yang ada di dalam tubuh (manifestasinya hiperurisemia), menyebabkan deposisi
kristal urat di sendi. Gout disebabkan oleh kristal monosodium urat monohidrat.
Patofisiologi
spesifik penyakit.
Gout dapat
disebut sebagai gangguan metabolisme yang menyebabkan asam urat atau urat
terakumulasi di dalam darah dan jaringan. Ketika jaringan menjadi
supersaturasi, garam urat mengendap dan membentuk kristal. Sebagai tambahan,
kristalnya sedikit terlarut dalam kondisi pH asam dan suhu yang rendah, seperti
dingin, pada sendi daerah tepi.
Selain itu
kecenderungan genetik untuk hiperurisemia juga muncul, namun selain gangguan
genetik yang langka, perkembangan dari gout muncul karena diperantarai oleh
faktor lingkungan.
Keberadaan
kristal urat bisa di jaringan lunak maupun jaringan sinovial sebagai prasyarat
terjadinya serangan gout. Kristal ini juga dapat ditemukan di cairan sinovial
atau pada permukaan kartilago sebagai dasar terjadinya inflamasi pada sendi.
Serangan gout
dapat dipicu oleh pelepasan kristal atau pengendapan kristal dalam lingkungan
super tersaturasi. Kristal urat juga dapat berinteraksi dengan reseptor
permukaan maupun reseptor intraseluler dari sel dendrit lokal atau makrofag,
memicu sinyal berbahaya untuk mengaktivkan sistem imun bawaan.
Interaksi ini
bisa ditingkatkan oleh ikatan imunoglobulin G. Memicu reseptor-reseptor ini
termasuk reseptor Toll-like, diikuti
dengan pemberian sinyal intraseluler NLRP 3 inflamasom, menghasilkan pelepasan
interleukin-1β, dimana sebagai hasilnya dimulainya jalur sitokin
proinflamatori, termasuk IL-6, IL-8, faktor neutrofil kemotaktik, dan tumor necrosis factor (TNF)-α. Fagositosis
neutrofil mengarah ke produksi mediator nyeri lainnya.
Serangan gout
akut dihasilkan dari banyak mekanisme, termasuk pengeluaran dari neutrofil yang
rusak, perubahan sifat dari kristal urat, dan produksi dari sitokin
antiinflamasi seperti antagonis reseptor IL-1, IL-10, dan transforming growth factor (TGF)-β.
Gejala-gejala
spesifik penyakit.
Podagra
(benjolan). Radang sendi pada daerah
pergelangan/mata kaki, sendi jari, pinggang, dan lutut. Terjadi pada satu sendi umumnya, tapi bisa juga berkembang menjadi
banyak sendi. Serangan gout yang
maksimal intensitasnya dalam 8-12 jam. Tanpa
perawatan, serangan bisa menjadi banyak sendi (pada sendi kaki maupun tangan)
dan menjadi lebih sering, serta bertahan lebih lama. Bisa berkembang menjadi kronik poliartikular artritis yang
menyerupai rheumatoid artritis.
Gejala
fisik: Ditemukan pada satu (umumnya) atau banyak sendi. Tanda-tanda
inflamasi. Demam (dipertimbangkan artritis infeksius). Adanya kristal asam urat
di jaringan lunak (telinga, jari, telapak kaki, olecranon). Gangguan pada mata (gangguan penglihatan, skleritis,
keropati pita, anterior uveitis). Migratory
polyarthritis (jarang). Posterior
interosseous nerve syndrome (jarang).
Data-data
laboratorium dan tanda-tanda vital (terkait penyakit): Kadar
serum urat lebih dari 6,8 atau 7,0 mg/dL.
Diagnosis: Pemeriksaan gambaran
sendi (Plain radiograf, USG, CT, MRI).
Pengukuran serum asam urat. Evaluasi
24 jam urin asam urat. Pemeriksaan darah
(sel darah putih, TG, HLD, glukosa, tes fungsi hati dan ginjal).
Golongan
obat untuk terapi:
Penanganan dari
gout berfokus pada pengobatan serangan akut serta mengatasi hiperurisemia untuk
mengurangi serangan yang akan datang. Penanganan akut dari gout yaitu dengan
meredakan rasa nyeri dan pembengkakan yang ada dengan menggunakan obat-obat :
1. NSAID
2. Kortikosteroid
3. Colchicine
(sedikit digunakan). Menghambat induksi monosodium urat terhadap aktivitas
NALP3 inflamasom di makrofag dan perubahan pada ekspresi molekul adesi pada sel
endtelial dan neutrofil sehingga mengurangi adesi neutofil dan penggabungan
dalam sendi yang bengkak.
4. Kombinasi
obat. Obat-obat ini sebagai first-line
dengan target kadar asam urat kurang dari 6 mg/dL.
Penanganan jangka panjang yaitu dengan
menggunakan agen penurun kadar asam urat :
1. Allopurinol
dan Febuxostat
2. Mengurangi
produksi asam urat.
3. Probenesid
dan Benzbromarone. Meningkatkan ekskresi renal urat.
Obat-obat tersebut sebagai second-line. Karena dapat mengubah kadar
asam urat pada serum dan jaringan, bisa menyebabkan serangan akut dari gout. Efek
ini bisa dikurangi dengan menggunakan:
1. Colchicine
atau dosis rendah NSAID
2. Dosis
rendah prednison
Agen terapetik lain:
1. Uricase
dan pegloticase. Memecah urat menjadi alantoin senyawa yang larut air.
2. Vitamin
C
3. Anakinra
Dosis
dan kekuatan obatnya.
1. Allupurinol
100 mg (50 mg pada pasien gangguan ginjal) dititrasi ditingkatkan sampai 300 mg.
2. Colchicine
untuk pasien gangguan ginjal (Klirens Kreatinin <50 mL/menit) paling tidak
0,5 mg/hari selama 6 bulan dan kreatin kinase harus dicek 6 bulan. Dosis umum
untuk pengobatan : 1,2 mg diikuti 0,6 mg 1 jam kemudian, dosis diulangi tidak
lebih awal dari 3 hari. Untuk profilaksis : 0,6 mg 1-2 kali sehari.
3. Febuxostat.
10-20 mg/hari.
Efek
samping dari obat yang muncul dan penanganannya dengan apa
1. Colchicine. Gastrointestinal (diare berat) terutama bagi pasien dengan mobilitas
terbatas è dipakai untuk pencegahan saja atau sebagai pilihan
terakhir. Efek samping lain yakni disfungsi sumsum tulang belakang, disfungsi
neuromuscular dan rhabdomiolisis, lebih sering terjadi pada pasien dengan
gangguan ginjal atau hati dan manula. Kolkhisin sebagai vasokonstriktor dan
mempunyai efek stimulasi pada pusat vasomotor, hati hati bagi pasien dengan
gagal jantung kronis.
2. Allopurinol. Rash, gangguan saluran cerna,
hipersensitivitas (eosinofilia, leukositosis, demam, hepatitis dan gagal
ginjal), demam, dan gangguan muskuloskeletal.
3. Pegloticase. Sakit kepala dan nausea.
4. Aspirin.
Pemakaian
aspirin dihindarkan sebab mengakibatkan retensi asam urat, kecuali kalau
dipakai dalam dosis tinggi.
5. Indometasin (NSAID).
Dapat sebabkan
toksisitas gastrointestinal, dosis dikurangi bertahap hingga nyeri hilang.
Pasien dengan riwayat PUD harus diikuti dengan H2RA, misoprostol atau PPI.
Pasien dengan gangguan ginjal diberi dosis sangat rendah. Penggunaannya dapat
diganti dengan COX-2 selektif NSAIDs yakni Celecoxib 200 mg 2x sehari.
Interaksi
obat dengan obat
1.
Interaksi
antara
allopurinol dengan probenecid : alopurinol akan meningkatkan waktu paruh probenecid,
sementara probenecid meningkatkan ekskresi alopurinol. Pengatasan : alopurinol
diberikan dalam dosis sedikit lebih tinggi sedangkan dosis probenecid lebih
rendah.
2.
Interaksi
antara
allopurinol dengan Aspirin® (asetosal). Jika digunakan secara bersamaan
Aspirin® dapat meningkatkan kadar asam urat dan menurunkan efikasi allopurinol
sehingga menyebabkan efek yang diharapkan tidak maksimal.
3.
Interaksi antara allopurinol dengan obat-obat dari golongan ACE inhibitor,
yaitu kaptopril dan ramipril. Penggunaan obat-obat ini secara bersamaan akan
meningkatkan potensiasi efek hipersensitifitas allopurinol, terutama pada
pasien dengan gagal ginjal kronik. Harus
selalu dimonitor jika terdapat tanda-tanda hipersensitifitas (seperti reaksi
pada kulit) atau rendahnya jumlah sel darah putih (nyeri tenggorokan, demam),
terutama pada pasien dengan gangguan ginjal. Diberi jeda 1-2 jam.
4.
Interaksi
antara Kolkhisin dengan atorvastatin, simvastatin, pravastatin, fluvastatin,
gemfibrozil, fenofibrat, siklosporin, digoksin. Keduanya akan meningkatkan
toksisitas satu sama lain, dapat meningkatkan resiko rhabdomiolisis.
5.
Ibuprofen
beriteraksi dengan probenecid, prednisone, indometasin, celecoxib akan
meningkatkan kadar dari probenecid, meningkatkan toksisitas dari prednisone,
meningkatkan kadar kalium dalam serum dan efek antikoagulasi dari antikoagulan
dari indometasin dan celecoxib.
6.
Interaksi
antara prednisone dengan kolkhisin : prednisone akan menurunkan efek kolkhisin
dengan mempengaruhi metabolism enzim CYP3A4.
7.
Interaksi
antara prednisone dengan celecoxib : keduanya akan meningkatkan toksisitas satu
sama lain.
8.
Interaksi
antara probenecid dengan celecoxib : celecoxib akan meningkatkan efek dari
probenecid oleh kompetisi obat asam (anionic) untuk klirens tubular renal.
9.
Interaksi
antara indometasin dengan celecoxib : keduanya meningkatkan kadar kalium serum
dan efek antikoagulasi.
10. Interaksi antara indometasin dengan probenecid :
indometasin akan meningkatkan efek dari probenecid oleh kompetisi obat asam
(anionic) untuk klirens tubular renal.
11. Interaksi antara indometasin dengan prednisone :
keduanya akan meningkatkan toksisitas satu sama lain dan meningkatkan risiko
ulserasi GI.
12. Kolkhisin dapat merusak penyerapan vitamin B12.
Terapi
non farmakologi spesifik.
1. Menghindari
konsumsi makanan tinggi purin
(jeroan hati, ginjal, makanan laut (ikan sarden), daging kambing, roti manis,
ekstrak ragi).
2. Mengurangi
dan menghindari alkohol.
3. Mengurangi
dan menghindari pemanis makanan dan minuman soda dan minuman lain.
4. Membatasi
penggunaan pemanis alami dari jus buah-buahan, gula.
5. Minum
banyak air ≥8 gelas karena
pengeluaran urin 2L/hari atau lebih akan membantu pengeluaran asam urat dan
mengurangi pembentukan endapan di saluran kemih.
6. Diet
rendah kolesterol dan rendah lemak.
7. Mengurangi
berat badan.
8. Hindari obat-obat yang mengakibatkan hiperurisemia
seperti tiazid, diuretic, aspirin dan asam nikotinat yang menghambat ekskresi
asam urat dari ginjal.
KIE
spesifik penyakit.
Hati-hati pada
pasien yang mengalami: Myeloproliferative
disease maupun terapinya.. Terapi yang memproduksi hiperurisemia. Gagal
ginjal. Gangguan tubuler ginjal. Keracunan timbal. Gangguan kulit
hiperproliferatif. Kekurangan enzim. Kelaparan dan dehidrasi. Dapat meningkatkan
kejadian gout atau menyebabkan perkembangan hiperurisemia yang mengakibatkan
gout sekunder.
Pasien dengan
kondisi penyakit ini memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami gout. Hipertensi: Penyakit kardiovaskular. Diabetes
melitus. Gangguan ginjal. Hipertrigliseridemia. Hiperkolesterolemia. Obesitas. Anemia
KIE
pengunaan obat (harus paham kapan digunakan, pagi malam sore, setelah, saat
atau sebelum makan). Obat
gout sebagian besar bersifat asam yang akan menimbulkan efek samping nyeri lambung,
maka sebaiknya diminum setelah makan. Obat antiinflamasi (prednisone,
prednisolon, metilprednisolon) harus diminum setelah makan.
Toksisitas
1. Colchicine.
Myotoxicity
(pada pria 50-70
tahun dengan gangguan ginjal menggunakan dosis rendah colchicine (1,2 mg/hari). Efek toksik untuk gastrointestinal berupa diare, mual, muntah, ketidakseimbangan
elektrolit, alopesia, efek hematologi, pancreatitis, gagal ginjal, hati dan
sistem respirasi. Dosis tinggi akan berakibat fatal yakni merusak sumsum tulang
dan anemia. Kerusakan otot dan neuropati perifer atau mati rasa dan kesemutan
pada tangan dan kaki akibat kerusakan perifer.
2. Allopurinol. Paling sering terjadi adalah ruam (1-2%), lebih sering
terjadi pada pasien gagal ginjal. Muncul Allopurinol
Hypersensitivity Syndrome (AHS) meski sangat jarang tapi berpotensi fatal,
dengan ciri : demam, ruam, eosinofilia, hepatitis dan gagal ginjal. Efek ini
terjadi pada dosis berapa pun.
3. Febuxostat. Abnormalitas fungsi hati, diare, sakit kepala, mual
dan ruam. Diare, mual dan muntah sering terjadi pada pasien yang menerima
terapi kolkhisin. Berakibat fatal pada sistem kardiovaskuler hati hati pada
pasien jantung iskemik atau gagal jantung kongestif. Awal pengobatan dapat
mengakibatkan encok karena terjadi perubahan kadar asam urat dalam serum,
perpindahan urat dari jaringan deposit è dicegah setidaknya 6 bulan dengan NSAID / kolkhisin.
4. Kortikosteroid. Penggunaan jangka panjang berakibat osteoporosis, penekanan
kelenjar hipotalamus, pituitary dan adrenal, sindrom Cushing, berat badan,
emosi tidak stabil, depresi, hipertensi, disfungsi ereksi, miopati, gangguan
penyembuhan luka, gastritis, colitis, intoleransi glukosa, DM dan atropi kulit,
kerusakan mata permanen (katarak dan glaucoma). Pemberian kalsium dan vitamin D
bias mencegah efek kortikosteroid.
Perbedaan
kondisi dan penanganan untuk pasien neonatus-anak; dewasa; lansia; ibu
hamil-menyusui; gagal ginjal-hati; gawat darurat; malnutrisi-obesitas serta
masyarakat umum. Pasien
dengan gangguan fungsi ginjal dan hati yang mengkonsumsi obat kolkhisin harus
dengan dosis rendah kolkhisin karena dosis tinggi dapat mengakibatkan efek
toksik (beracun) (Parle Milind, 2013). Pada
ibu hamil kadar asam urat dengan eklampsia atau pre-eklampsia bias mencapai
9,1-11,0 mg/dL atau lebih. Serangan gout dapat terjadi karena kadar asam urat
darah menurun tiba-tiba. Biasa terjadi pada pasien eklampsia atau pre-eklampsia
dan pada 12 minggu setelah melahirkan. Jika kadar asam urat semula tinggi
mendadak menurun, serangan gout akut akan berisiko muncul. Untuk mengurangi
efek nyeri, bias diberikan kompres es atau obat antinyeri. Namun, hati-hati
karena obat antinyeri justru bias mengurangi kontraksi rahim ibu dan
menimbulkan gangguan kehamilan. Untuk ibu yang telah melahirkan, boleh
mengkonsumsi antinyeri sesuai dengan dosisnya. Penggunaan
indometasin dikontraindikasikan pada wanita hamil, menyusui, anak dibawah 14
tahun. Penggunaan kortikosteroid pada kehamilan menunjukkan efek teratogenik
kecil tapi signifikan dapat menyebabkan cacat lahit.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar