Arthritis Rheumatoid (AR)
adalah penyakit inflamasi sistemik kronik yang menyebabkan tulang sendi
destruksi, deformitas, dan menyebabkan ketidakmampuan, merupakan penyakit
autoimun yang tidak diketahui penyebabnya (Meiner, 2006). Peradangan kronis dipersendian menyebabkan kerusakan
struktur sendi yang terkena, biasanya mengenai beberapa persendian sekaligus.
Peradangan terjadi akibat proses sinovitis (radang selaput sendi) serta
pembentukan pannus yang mengakibatkan kerusakan pada rawan sendi dan tulang di
sekitarnya, terutama di persendian tangan dan kaki yang sifatnya simetris
(terjadi pada kedua sisi). Penyebab artritis rematoid belum diketahui dengan
pasti. Berbagai faktor termasuk kecenderungan genetik, bisa mempengaruhi reaksi
autoimun.
Patofisiologi
Sistem imun merupakan bagian pertahanan tubuh yang
dapat membedakan komponen self dan
non-self. Pada arthritis rheumatoid sistem imun tidak mampu lagi membedakan keluanya dan menyerang jaringan
sinovial serta jaringan penyokong lain. Inflamasi berlebihan merupakan
manifestasi utama yang tampak pada arthritis rheumatoid. Inflamasi terjadi karena
adanya paparan antigen. Antigen dapat berupa antigen eksogen, seperti protein
virus atau protein antigen endogen (Schuna, 2005).
Paparan antigen akan memicu pembentukan antibodi oleh
sel B. Pada pasien arthritis
rheumatoid ditemukan antibodi yang dikenal dengan Rheumatoid
Factor (RF). Rheumatoid
Factor mengaktifkan
komplemen kemudian memicu kemotaksis, fagositosis dan pelepasan sitokin oleh
sel mononuklear sehingga dapat mempresentasikan antigen kepada sel T CD4+.
Sitokin yang dilepaskan merupakan sitokin proinflamasi dan kunci terjadinya
inflamasi pada arthritis
rheumatoid seperti TNF-α, IL-1 dan
IL-6. Aktivasi sel T CD4+ akan memicu sel-sel inflamasi datang ke area yang
mengalami inflamasi. Makrofag akan melepaskan prostaglandin dan sitotoksin yang
akan memperparah inflamasi. Protein vasoaktif seperti histamin dan kinin juga
dilepaskan yang menyebabkan edema, eritema, nyeri dan terasa panas. Selain itu,
aktivasi makrofag, limfosit dan fibroblas juga dapat menstimulasi angiogenesis
(pembentukan pembuluh darah baru) sehingga terjadi peningkatan vaskularisasi
yang ditemukan pada sinovial penderita arthritis rheumatoid. Inflamasi
kronis yang dialami pasien arthritis
rheumatoid menyebabkan membran
sinovial mengalami proliferasi berlebih yang dikenal dengan pannus. Pannus akan menginvasi kartilago dan permukaan tulang yang
menyebabkan erosi tulang dan akhirnya kerusakan sendi (Schuna, 2005).
Proses awalnya, antigen (bakteri, mikroplasma atau
virus) menginfeksi sendi akibatnya terjadi kerusakan lapisan sendi yaitu pada
membran sinovial dan terjadi peradangan yang berlangsung terus menerus.
Peradangan ini akan menyebar ke tulang rawan, kapsul fibroma sendi, ligamen dan
tendon. Kemudian terjadi penimbunan sel darah putih dan pembentukan pada
jaringan parut sehingga membran sinovium menjadi hipertrofi dan menebal.
Terjadinya hipertrofi dan penebalan ini menyebabkan aliran darah yang masuk ke
dalam sendi menjadi terhambat. Keadaan seperti ini akan mengakibatkan
terjadinya nekrosis (rusaknya jaringan sendi), nyeri hebat dan deformitas
(Schuna, 2005).
Etiologi
Penyebab pasti arthritis
rheumatoid tidak diketahui, diperkirakan merupakan kombinasi dari faktor
genetik, lingkungan, hormonal dan faktor sistem reproduksi. Namun faktor
pencetus terbesar adalah faktor infeksi seperti bakteri, mikoplasma dan virus.
Menurut Smith dan Haynes (2002), ada beberapa faktor risiko yang dapat
menyebabkan seseorang menderita arthritis
rheumatoid yaitu :
Faktor
genetik. Beberapa penelitian yang
telah dilakukan melaporkan terjadinya arthritis
rheumatoid sangat terkait dengan
faktor genetik. Delapan puluh persen orang kulit putih yang menderita arthritis rheumatoid mengekspresikan
HLA-DR1 atau HLA-DR4 pada MHC yang terdapat di permukaan sel T. Pasien yang
mengekspresikan antigen HLA-DR4 3,5 kali lebih rentan terhadap arthritis rheumatoid.
Usia dan
jenis kelamin. Insidensi arthritis rheumatoid lebih banyak
dialami oleh wanita daripada laki-laki dengan rasio 2:1 hingga 3:1. Perbedaan
ini diasumsikan karena pengaruh dari hormon namun data ini masih dalam
penelitian. Wanita memiliki hormon estrogen sehingga dapat memicu sistem imun.
Onset arthritis rheumatoid terjadi pada orang – orang usia
sekitar 50 tahun.
Infeksi. Infeksi dapat memicu arthritis rheumatoid pada host
yang mudah terinfeksi secara genetik. Virus merupakan agen yang
potensial memicu arthritis rheumatoid seperti
parvovirus, rubella, EBV, borellia burgdorferi.
Lingkungan
Faktor lingkungan dan gaya hidup juga dapat memicu arthritis rheumatoid seperti merokok.
Manifestasi
Klinik
Gejala
awal rematik biasanya ditandai dengan gangguan keadaan umum berupa malaise,
penurun berat badan, rasa capek, demam dan anemia.Gejala lokal berupa
pembengkakan sendi, nyeri dan pergerakan sendi yang dapat menggangu aktifitas
dari pasien.
Kriteria
Gejala menurut ACR 1987
No
|
Gejala dan Tanda
|
Definisi
|
1.
|
Kaku pagi hari (morning stiffness)
|
Kaku pada sendi dan sekitarnya di pagi
hari, yangberlangsung dalam waktu minimal 1 jam sebelum perbaikan maksimal.
|
2.
|
Artritis pada 3 sendi atau lebih
|
Minimal 3 area sendi mengalami
pembengkakan jaringan lunak atau efusi sendi (bukan penulangan saja) yang
diamati oleh dokter secara simultan. Keempat belas sendi yang mungkin terkena
adalah sendi PIP, sendi metakarpofalangeal, pergelangan tangan, siku, lutut,
pergelangan kaki, dan sendi metatarsofalangeal kiri dan kanan.
|
3.
|
Artritis pada sendi tangan
|
Minimal 1 area sendi mengalami
pembengkakan, pada pergelangan tangan, metakarpofalangeal, atau interfalang
proksimal.
|
4.
|
Artritis simetrik
|
Keterlibatan sendi secara bersamaan di
area yang sama pada kedua sisi tubuh
(artritis bilateral pada sendi interfalangeal proksimal,
metakarpofalangeal, atau metatarsofalangeal dapat diterima tanpa simetris
absolut).
|
5.
|
Nodul reumatoid
|
Nodul subkutan di atas penonjolan
tulang, permukaan ekstensor atau di
regio juxta-artikular, yang diamati oleh dokter.
|
6.
|
Faktorreumatoidserum positif
|
Faktor reumatoid yang abnormal dengan
metode pemeriksaan apapun yang menunjukkan hasil positif <5% subjek
kontrol normal.
|
7.
|
Perubahan gambaran radiologis
|
Khas pada AR adalah perubahan radiografi pada tangan
bagian posteroanterior dan pergelangan tangan, yang mencakup erosi atau
dekalsifikasi tulang pada sendi yang terlibat (perubahan akibat osteoartritis
tidak termasuk).
|
Tata
Laksana Terapi
Terapi
Non Farmakologi: Istirahat yang cukup karena pada pasien
rheumatoid artritis disertai dengan rasa lelah yang hebat. Mengurangi bebart badan berlebih atau obesitas bertambahnya berat
badan. Dapat menambah tekanan pada
sendi panggul, lutut, dan sendi- sendi pada kaki. Kompres panas dingin proses ini mungkin dapat mengurangi rasa
sakit dan bengkak yang terjadi pada persendian. Latihan- latihan fisik dapat bermanfaat dalam mempertahankan funsi
sendi.Latihan ini mencakup gerakan aktif dan gerakan pasif pada semua sendi
yang sakit sedikitnya dua kali sehari. Pendidikan
pasien tentang penyakit dan keuntungan dan pembatasan terapi obat sangat
penting dilakukan. Pembedahan untuk
memperbaiki deformitas.(Carter,2002)
Menurut “Clinical Guidelines for the Diagnosis and
Management of Early arthritis rheumatoid ” mengontrol berat badan dapat
dilakukan dengan beberapa cara, yaitu: Diet sehat dan olahraga teratur sangat
penting dalam pengendalian berat badan jangka panjang. Diet yang disarankan
untuk arthritis rheumatoid hampir sama dengan makanan sehat pada umumnya,
dengan penekan khusus pada pencegahan risiko kardiovaskular, yaitu: banyak
makan buah, sayuran, dan sereal gandum. Makanan yang kaya akan minyak ikan
(omega-3). Makan diet rendah lemak. Membatasi asupan alkohol. Membatasi asupan
gula. Memilih makanan rendah garam.
Tindakan terapi
non farmakologi mencakup perubahan gaya hidup dan penggunaan agen-agen fisik.
Tujuannya adalah mengubah presepsi penderita tentang penyakit, mengubah perilaku,
dan memberikan rasa percaya diri pada pasien (Perry and Potter, 2006).
Terapi
Farmakologi. Ada dua kelas obat yang digunakan untuk
mengobati arthritis rheumatoid,
yaitu obat fast acting (lini pertama)
dan obat slow acting (lini kedua).
Obat - obat fast acting digunakan
untuk mengurangi nyeri dan peradangan, seperti aspirin dan kortikosteroid
sedangkan obat - obat slow acting
adalah obat antirematik yang dapat memodifikasi penyakit (DMARD), seperti garam
emas, metotreksat dan hidroksiklorokuin yang digunakan untuk remisi penyakit
dan mencegah kerusakan sendi progresif, tetapi tidak memberikan efek
anti-inflamasi (Shiel, 2011).
NSAID (Non Steroid Anti-Inflamasi Drug). NSAID
antara lain, aspirin, ibuprofen dan obat analgesik lainnya, yang pada umumnya
diberikan terhadap penderita arthritis
rheumatoid dari awal penyakit
dengan tujuan untuk mengatasi rasa nyeri sendi akibat peradangan. Tetapi
golongan NSAID ini tidak memiliki khasiat yang dapat melindungi tulang rawan
(kartilago) dan tulang sendi akibat proses kerusakan arthritis rheumatoid. Seluruh golongan NSAID umumnya mempunyai
efek samping yang merugikan terutama bila digunakan dalam jangka panjang. Efek
samping dari NSAID yang umum dijumpai adalah gangguan pada saluran pencernaan,
gangguan fungsi hati dan ginjal (Darlina dan Wahyuni, 2004).
Prinsip mekanisme NSAID sebagai
analgetik adalah blokade sintesa prostaglandin melalui hambatan cyclooxcigenase (enzim COX-1 dan COX-2),
dengan mengganggu lingkaran cyclooxygenase.
Enzim COX-1 adalah enzim yang terlibat dalam produksi prostaglandin gastroprotective
untuk
mendorong aliran darah di gastrik dan menghasilkan bikarbonat. COX-1 berada
secara terus menerus di mukosa gastrik, sel vaskular endotelial, platelets, renal collecting tubules, sehingga
prostaglandin hasil dari COX-1 juga berpartisipasi dalam hemostasis dan aliran
darah di ginjal. Sebaliknya COX-2 tidak selalu ada di dalam jaringan, tetapi
akan cepat muncul bila dirangsang oleh mediator inflamasi, cedera/luka
setempat, sitokin, interleukin, interferon dan tumor nekrosis faktor. Blokade
COX-1 (terjadi dengan NSAID nonspesifik) tidak diharapkan karena mengakibatkan
tukak lambung dan meningkatnya risiko pendarahan karena adanya hambatan
agregasi platelet. Hambatan dari COX-2 spesifik dinilai sesuai dengan kebutuhan
karena tidak memiliki sifat di atas, hanya mempunyai efek antiinflamasi dan
analgesik (Hansen dan Elliot, 2005).
DMARDs (Disease Modifying Antirheumatic Drugs).
Pengobatan
arthritis rheumatoid
menggunakan kombinasi beberapa obat dikenal dengan istilah terapi DMARDs (Disease Modifying Antirheumatic Drugs).
DMARDs berdaya anti erosif, artinya dapat menghentikan atau memperlambat
progres kerusakan tulang. Selain itu memiliki khasiat anti radang kuat, karena
tidak bekerja analgetis, maka biasanya dikombinasikan dengan NSAID (Tjay dan
Rahardja, 2007). Terapi DMARDs dalam jangka panjang mempunyai efek samping yang
merugikan yaitu menyebabkan kerentanan terhadap infeksi, gangguan saluran
pencernaan, fungsi hati dan ginjal (Darlina dan Wahyuni, 2004).
Metotreksat
(MTX). MTX bekerja sebagai antagonis asam folat. MTX
bekerja menghambat enzim dihidrofolat reduktase. Dihidrofolat reduktase adalah
enzim yang mengkatalis dihidrofolat menjadi tetrahidrofolat pada sintesis asam
folat (Rahardjo, 2001).
Sulfasalazin.
Sulfasalazin
digunakan untuk mengobati rasa sakit dan bengkak pada arthritis rheumatoid, termasuk dalam golongan sulfa.
Sulfasalazin merupakan kombinasi dari salisilat (baham utama untuk aspirin) dan
antibiotika sulfa (Cannon, 2012). Efek samping yang sering terjadi dari
pemakaian sulfasalazin adalah mual, pusing, diare, ruam, stomatitis, dan
gangguan hati.
Leflunomid.
Leflunomid
adalah kelas baru dalam DMARDs dan mengalami first-pass metabolism di hati menjadi metabolit aktif (Amaroso et al, 2003). Mekanisme kerja
leflunomid pada arthritis rheumatoid
saat ini belum diketahui dengan pasti, akan tetapi diduga berhubungan dengan
kemampuannya menekan aktivitas enzim tirosinekinase dan menghambat biosintesis
pirimidin melalui hambatan pada enzim dihidroorotat dehidrogenase (Sudoyo,
2006).
Klorokuin.
Mekanisme
kerja klorokuin berdasarkan pengikatan pada DNA atau RNA di dalam inti sel,
penghambatan sintesa protein dan autoimun (Tjay dan Rahardja, 2007). Menurut Suroso (2007) ada beberapa
DMARDs digunakan untuk terapi “kausal” karena
bisa menghambat progresi penyakit, tetapi efek terlihat setelah 4-16
minggu.
Tabel. Beberapa DMARDs yang digunakan
sebagai terapi “kausal” pada Arthritis
Rheumatoid
DMARDs
/ dosis
|
Efek samping (sering)
|
Efek samping (jarang)
|
Pemantauan
|
Keuntungan
|
Klorokuin
200-400mg/hr
|
Mual, pusing
|
Leukopenia,
trombopenia,
hiperpigmentasi,
deposisi retina
|
Cek retina tiap 6 bulan
|
Tidak perlu pemantauan ketat,murah.
Bisa digunakan jika diagnosa belum pasti
Angka remisi ± 50%
|
Sulfasalazin
500-2000 mg/hr
|
Mual, pusing,
Diare, ruam,
Stomatitis,
Gangguan hati
|
Leukopenia
|
Tes faal hati
|
Onset lebih cepat (8012 minggu)
Bisa digunakan jika diagnosa belum
pasti
Angka remisi ± 60%
|
Metotreksat
5-30 mg/minggu
|
Mual, pusing,
diare, ruam,
gangguan hati
|
Leukopenia,
Trombopenia,
Pneumonitis,
Sepsis,Hepatitis
|
Tes faal hati dan ginjal,hindari
alkohol
Tambahkan asam folat 1 mg/hr
|
Onset lebih cepat (6-10 minggu)
Bisa digunakan pada diagnosa yang
belum pasti
Angka remisi ± 65%
|
Leflunomid
10-20 mg/hr
|
Alopesia, diare, mual, ruam
|
Leukopenia,
Hepatitis, trombopenia
|
Tes faal hati dan ginjal, tensi
|
Angka remisi ± 50%
|
Kortikosteroid.
Kortikosteroid yang disebut juga
glukokortikoid adalah golongan obat-obatan anti inflamasi steroid. Hormon
steroid yang dihasilkan oleh tubuh mempunyai efek terhadap peradangan, oleh
karena itu kortikosteroid seringkali digunakan oleh dokter untuk anti
peradangan. Kortikosteroid juga mempunyai efek samping antara lain dapat
menyebabkan diabetes, katarak, kerentanan terhadap infeksi, penipisan massa
tulang yang dikenal dengan osteoporosis, menaikan tekanan darah dan berat badan
karena penumpukan cairan intrasel (Darlina dan Wahyuni, 2004).
Aktivitas
farmakologi kortikosteroid adalah meningkatkan sitesis protein anti inflamasi
dan menurunkan sintesis protein proinflamasi (Baratawidjaja dan Iris, 2010).
Kortikosteroid
bekerja dengan menembus membran sel dan berikatan dengan reseptor
kortikosteroid dalam sitosol sel dengan mekanisme: Mekanisme direk yang
mengikat kompleks antara kortikosteroid dengan reseptor pada tempat GCR (Glucocorticoid Cytosolic Receptor)
untuk menimbulkan represi gen yang menyandi protein transkriptase untuk protein
proinflamasi (Baratawidjaja dan
Iris, 2010). Mekanisme indirek yang
melibatkan kompleks kortikosteroid dengan reseptor dengan sasaran gene transcription factors untuk
mencegah transcription coding
untuk sintesis protein inflamasi (Baratawidjaja
dan Iris, 2010).
Agen
Biologi. Tumor Necrosis Factor alpha
(TNF-α) adalah sitokin pro-inflamasi yang diproduksi oleh makrofag dan
limfosit. TNF dapat dijumpai dalam jumlah yang besar dalam sendi pasien arthritis rheumatoid yang diproduksi
secara lokal oleh sel makrofag dan limfosit yang menginfiltrasi ruang sinovial.
Dengan demikian, hambatan TNF-α akan sangat berguna secara klinis dalam
pengobatan arthritis rheumatoid.
Walaupun data menunjukkan hasil yang sangat memuaskan, akan tetapi terdapat
beberapa kendala dalam penggunaan obat ini dalam jangka waktu yang lama. Efek
samping golongan obat ini dalam hal peningkatan prevalensi infeksi,penyakit
keganasan hingga kini belum dapat dipastikan. Dua jenis penghambat TNF-α yang
telah digunakan pengobatan arthritis
rheumatoid saat ini adalah etanercept dan infliximab (Sudoyo, 2006). Etanercept
(Eta) adalah versi rekombinan dari reseptor TNF-α yang larut dan terikat
pada bagian Fc dari IgGI manusia. Eta merupakan protein yang terdiri dari
urutan asam amino manusia murni sehingga sangat kecil potensinya untuk
membentuk antibodi anti etanercept.
Obat ini bekerja dengan mengikat TNF-α dalam sirkulasi secara kompetitif
sehingga TNF-α tidak dapat menempati reseptornya pada permukaan sel secara
kompetitif, dan dengan demikian aktivitas biologis TNF-α akan terhambat
(Sudoyo, 2006). Infliximab (IFX) merupakan antibodi monoklonal yang mengikat TNF-α
dengan afinitas yang tinggi. IFX bekerja dengan mengikat TNF-α dalam sirkulasi
dan mencegah terjadinya interaksi antara TNF-α dengan reseptornya pada sel
inflamasi dan akhirnya dapat membersihkan TNF-α dari sirkulasi (Sudoyo, 2006).
KIE
Kompres panas dingin untuk meredakan nyeri sendi. Usahakan sendi
tetap hangat pada malam hari dan waktu udara dingin, misal : gunakan baju/ kaos
lengan panjang, kaos kaki, dan selimut. Istirahatkan sendi sampai rasa nyeri
berkurang. Jika nyeri sudah mereda, gerakan kembali sendi untuk beraktivitas
agar tidak muncul rasa kaku. Melakukan pemeriksaan cairan sinovial setelah
pemakaian selama 3 bulan. Melakukan pemeriksaan fungsi hati setiap 1-2 bulan
untuk memonitor efek samping dari metotrexat yang bersifat hepatotoksik. Rutin
dalam konsumsi obat dan melakukan pengecekan terhadap perubahan yang terjadi
pada sendi maupun tulang. Lakukan pengontrolan
berat badan, usahakan untuk mengurangi berat badan yang berlebihan dengan cara
mengatur pola makan. Hindari makanan dengan kadar gula tinggi, makanan berlemak
dan makanan asin. Mengurangi aktivitas fisik
yang berat agar tidak memperparah kondisi tulang. Misalnya mengangkat barang
yang berat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar