Sakit
adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan terkait dengan
aktual atau kerusakan jaringan potensial. Sakit kepala bisa merupakan keluhan
primer maupun sekunder. Keluhan primer jika sakit kepala merupakan diagnosis
utama, bukan disebabkan karena adanya penyakit lain. Dan keluhan sekunder jika
sakit kepala tersebut merupakan gejala ikutan karena adanya penyakit lain
seperti hipertensi, sinus, premenstrual disorder.
Klasifikasi
Migrain,
adalah jenis sakit kepala kambuhan (recurrent) dengan intensitas ringan
sampai berat yang terkait syndrom anatomis, neurologis dan saluran cerna.
Tension/tegangan
(Tension-type headache). Merupakan jenis sakit
kepala primer yang paling lazim terjadi dan lebih sering ditemui pada wanita
dibandingkan pria. Nyeri nya biasanya ringan sampai sedang dan tidak
berdenyut-denyut, disebabkan kontraksi otot dikepala. Disebut episodic
tension-type headaches jika seseorang menderita sedikitnya 10 kali sakit kepala
yang lamanya berkisar 30 menit – 7 hari. Disebut chronic tension-type headache
jika seseorang menderita sakit kepala dengan frekuensi rata-rata 15 hari dalam
sebulan (atau 180 hari dalam setahun) selama 6 bulan, dan memiliki tanda-tanda
seperti episodic tension-type headache.
Kelompok (Cluster headache). Merupakan sakit kepala
yang kurang sering terjadi
dibandingkan migrain dan tension
Epidemiologi
Migrain: Terjadi pada pria dan
wanita pada usia 25-55th. Sering terjadi pada
wanita karena adanya faktor hormonal. Penderita migrain
sebagian besar memiliki riwayat keluarga migrain, dan sebagian besar juga
sering mengalami sakit kepala tegang otot
Tension: Merupakan yg sering
terjadi dengan prevalensi 69% pd pria dan 88% pada wanita. 40%
memiliki riayat keluarga sakit kepala tegang otot. Umumnya sakit kepala
berkurang dengan meningkatnya usia. 25% pasien juga
mengidap migrain
Cluster: Kurang sering terjadi
dibandingkan migrain dan sakit kepala tegang otot. Tidak ada riwayat
keluarga. Pengobatan mungkin akan merubah dr sakit
kepala kronis ke episodik, tetapi tidak menyembuhkan
Patofisiologi
Migrain. Syaraf tidak berfungsi
(neuronal dysfunction) merupakan
penyebab dasarnya. Nyeri migren merupakan
hasil dari aktivitas di dalam sistem trigeminovaskuler yg menyebabkan peepasan
neuropeptida vasoaktif sehingga terjadi vasodilatasi, ekstravasasi plasma
dural, dan peradangan perivaskuler. Ketidakseimbangan
aktivitas sel syaraf (neuron) yg mengandung serotonin dan atau jalur
noradrenergik di inti (nuclei) batang otak yg mengatur pembuluh darah
intrakranial serta aktivasi sistem trigeminovaskular. Disebabkan
karena aktivitas sistem trigeminal yang menyebabkan pelepasan neuropetida
vasoaktif menjadi vasodilatasi, plasma
protein extravasation, dan nyeri. Aktivitas di dalam
sistem trigeminal diregulasi oleh saraf noradrenergik dan serotonergik. Reseptor
5-HT, terutama 5-HT1 dan 5-HT2
terlibat dalam patofisiologi migraine.
Tension. Nyeri diduga berasal
dari jaringan myofascial. Setelah aktivasi
struktur persepsi nyeri supraspinal, sakit kepala terjadi karena modulasi
sentral akibat datangnya rangsangan perifer. Rasa nyeri tumpul yg
konstan atau perasaan menekan yg tidak enak pada leher, pelipis, dahi, atau
disekitar kepala, leher terasa kaku. Umumnya terjadi secara
bilateral (terjadi pada kedua belah sisi pada waktu bersamaan)
Cluster. Nyeri yang jarang sekali terjadi. Pengobatan
mungkin akan mengubah dari sakit kepala kronik menjadi episodic. Terjadi
dalam satu rangkaian, umumnya sekitar 30-45 menit, dapat timbul dalam beberapa
kali sehari, dan lenyap secara spontan. Agak mirip dengan
migrain, samasama bersifat vaskuler = disebabkan karena aktivitas pembuluh
darah yang tidak normal. Terjadi dilatasi
pembuluh darah yang berlebihan disekitar salah satu mata.
Gejala
Migrain. Nyeri kepala berulang yg
terasa seperti gelombang yg menghantam (throbbing/pulsating) dan biasanya hanya
terjadi di sebelah kepala saja (unilateral). Prodome:
suatu rangkaian, peringatan sebelum terjadinya serangan, meliputi perubahan
mood, perasaan, lelah dan ketegangan otot. Aura: gangguan visual
yang mendahului serangan sakit kepala Sakit kepala: umumnya satu sisi,
berdenyut-denyut, disertai mual dan muntah, sensitif terhadap cahaya dan suara.
Terjadi antara 4 – 72 jam. Berhentinya
sakit kepala: meskipun tidak diobati, nyeri biasanya akan menghilang dengan
tidur. Postdrome: tanda-tanda
lain migrain seperti tidak bisa makan, tidak konsentrasi, kelelahan
Tension. Nyeri
ringan sampai berat, tidak sampai berdenyut-denyut dan berulang-ulang. Rasa menekan/berat yang
berlokasi di kedua belah sisi kepala. Sakit
dengan intensitas ringan sampai sedang. Tidak
bertambah berat dengan aktivitas fisik rutin. Tidak
mual atau muntah. Mungkin
sensitif terhadap cahaya atau suara, tapi tidak keduanya.
Cluster. Wajah kemerahan secara
unilateral (sebelah sisi). Keluar air mata, hidung
berair. Tidak ada gejala mual atau sensitivitas
terhadap cahaya, suara, dll. spt terjadi pada migrain
Terapi
Migren
Terapi non Farmakologi: Menempelkan
es di kepala dan beristirahat atau tidur sejenak, biasanya diruangan yg agak
gelap dan tenang. Merubah gaya hidup,
perilaku, dan psikis pasien (istirahat cukup, tidak stress, jangan sampai
kelelahan). Hindari makanan dan minuman yg
mengandung kafein, coklat, alkohol, sulfit (pd udang), nitrat (pada daging
olahan), tiramin, produk ragian.
Terapi Farmakologi: Terapi migrain akut
paling efektif jika diberikan pada sat awal serangan migraine. Terapi
sebelum serangan dengan antiemetik (misal : proklorperazin, metoklopamid) 15
sampai 30 menit sebelum memberikan terapi abortif atau pengobatan non oral
dianjurkan jika mual atau muntah parah. Terapi migren akut
harus dibatasi hanya untuk 2hari/minggu untuk mencegah penyalahgunaan obat atau
efek rebound.
Sasaran terapi: Menghindari atau
menghilangkan pemicu. Terapi abortif dimulai
pada saat terjadinya serangan. Terapi profilaksis
diperlukan jika serangan terjadi lebih dari 2-3 kali sebulan, serangan berat
dan menyebabkan gangguan fungsi, terapi simptomatik gagal atau menyebabkan efek
samping serius.
Tatalaksana terapi. Terapi profilaksis:
menghindari pemicu, menggunakan obat profilaksis secara teratur ( profilaksis :
bukan analgesik, memperbaiki pengaturan proses fisiologis yang mengontrol
aliran darah dan aktivitas sistem syaraf). Terapi abortif:
menggunakan obat-obat penghilang nyeri dan/atau vasokonstriktor
Obat-obat untuk terapi abortif. Analgesik
ringan aspirin (drug of choice),
parasetamol. NSAID’s: menghambat
sintesis prostaglandin, agregasi platelet, dan pelepasan 5-HT. Golongan
triptan : merupakan agonis reseptor 5HT yg dapat menyebabkan vasokontriksi,
menghambat pelepasan takikinin, dan memblok inflamasi neurogenik. Efikasinya
setara dengan dihidroergotamin, tetapi onsetnta lebih cepat. Ergotamin:
memblokade inflamasi neurogenik dgn menstimulasi reseptor 5-HT1 presinaptik.
Pemberian i.v dpt dilakukan untuk serangan yang
berat. Metoklopramid:
digunakan untuk mencegah mual muntah. Diberikan 15-30 menit sebelum terapi anti
migrain, dapat diulang setelah 4-6 jam. Kortikosteroid: dapat
mengurangi inflamasi. Analgesik opiat :
co.butorphanol.
Obat-obat untuk terapi profilaksis. Beta
bloker: merupakan drug of choice untuk prevensi migrain. Seperti atenolol,
propanolol, metoprolol, nadolol. Antidepresan trisiklik:
punya efek antikolinergik, tidak boleh digunakan untuk pasien glaukoma atau
hiperplasia prostat. Seperti imipramin, doksepin, nortriptilin. Metisergid:
merupakan senyawa ergot semisintetik, antagonis 5-HT2. Asam/Na
valproat: dapat menurunkan keparahan, frekuensi dan durasi pd 80% penderita migraine. Verapamil:
merupakan terapi lini kedua atau ketiga. Topiramat: mengurangi
kejadian migrain
Tension
Terapi non Farmakologi: Istirahat
yang cukup. Tidak
stress dan kelelahan. Terapi tanpa obat
meliputi konseling dan usaha meyakinkan serta pengelolaan stress, pelatihan relaksasi,
dan terapi fisik. Melakukan
latihan peregangan leher atau otot bahu sedikitnya 20 sampai 30 menit. Perubahan posisi tidur. Pernafasan dengan
diafragma atau metode relaksasi otot yang lain. Penyesuaian lingkungan
kerja maupun rumah: pencahayaan
yang tepat untuk membaca, bekerja, menggunakan komputer, atau saat menonton televise, hindari eksposur
terus-menerus pada suara keras dan bising, dan hindari
suhu rendah pada saat tidur pada malam hari
Terapi Farmakologi: Analgesik sederhana
(tunggal atau kombinasi dengan kafein), AINS merupakan terapi pilihan saat
serangan atau akut. AINS dosis tinggi dan
kombinasi aspirin atau asetaminofen dengan butalbital atau dengan kodein
(jarang dikombinasi) merupakan pilihan yg efektif. Pemakaian kombinasi
butalbital dan kodein sebaiknya dihindari. Golongan TCA lebih
sering dipakai untuk pencegahan. Obat pencegahan harus
dipertimbangkan jika peningkatan frekuensi sakit kepala (lebih dari 2x perminggu), lamanya
(lebih diri 3-4 jam), atau
keparahan akan menyebabkan penggunaan obat secara berlebihan
Cluster
Terapi non Farmakologi: Istirahat
yg cukup. Tidak stress dan kelelahan. Penyesuaian
lingkungan kerja dan rumah. Jaga pola makan.
Terapi Farmakologi. Sasaran terapi:
menghilangkan nyeri (terapi abortif), mencegah serangan (profilaksis). Strategi
terapi: menggunakan obat NSAID’s, vasokonstriktor, cerebral. Obat-obat
abortif: oksigen, ergotamin (dosis sama dengan dosis untuk migrain),
sumatriptan. Obat-obat
untuk terapi profilaksis : verapamil, litium, metisergid, kortikosteroid,
topiramat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar