Rabu, 30 November 2016

Sakit Kepala (Headeche)

 
Sakit adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan terkait dengan aktual atau kerusakan jaringan potensial. Sakit kepala bisa merupakan keluhan primer maupun sekunder. Keluhan primer jika sakit kepala merupakan diagnosis utama, bukan disebabkan karena adanya penyakit lain. Dan keluhan sekunder jika sakit kepala tersebut merupakan gejala ikutan karena adanya penyakit lain seperti hipertensi, sinus, premenstrual disorder.

Klasifikasi
Migrain, adalah jenis sakit kepala kambuhan (recurrent) dengan intensitas ringan sampai berat yang terkait syndrom anatomis, neurologis dan saluran cerna.

Tension/tegangan (Tension-type headache). Merupakan jenis sakit kepala primer yang paling lazim terjadi dan lebih sering ditemui pada wanita dibandingkan pria. Nyeri nya biasanya ringan sampai sedang dan tidak berdenyut-denyut, disebabkan kontraksi otot dikepala. Disebut episodic tension-type headaches jika seseorang menderita sedikitnya 10 kali sakit kepala yang lamanya berkisar 30 menit – 7 hari. Disebut chronic tension-type headache jika seseorang menderita sakit kepala dengan frekuensi rata-rata 15 hari dalam sebulan (atau 180 hari dalam setahun) selama 6 bulan, dan memiliki tanda-tanda seperti episodic tension-type headache.

Kelompok (Cluster headache). Merupakan sakit kepala yang kurang sering terjadi dibandingkan migrain dan tension

Epidemiologi
Migrain: Terjadi pada pria dan wanita pada usia 25-55th. Sering terjadi pada wanita karena adanya faktor hormonal. Penderita migrain sebagian besar memiliki riwayat keluarga migrain, dan sebagian besar juga sering mengalami sakit kepala tegang otot

Tension: Merupakan yg sering terjadi dengan prevalensi 69% pd pria dan 88% pada wanita. 40% memiliki riayat keluarga sakit kepala tegang otot. Umumnya sakit kepala berkurang dengan meningkatnya usia. 25% pasien juga mengidap migrain

Cluster: Kurang sering terjadi dibandingkan migrain dan sakit kepala tegang otot. Tidak ada riwayat keluarga. Pengobatan mungkin akan merubah dr sakit kepala kronis ke episodik, tetapi tidak menyembuhkan

Patofisiologi
Migrain. Syaraf tidak berfungsi (neuronal dysfunction) merupakan penyebab dasarnya. Nyeri migren merupakan hasil dari aktivitas di dalam sistem trigeminovaskuler yg menyebabkan peepasan neuropeptida vasoaktif sehingga terjadi vasodilatasi, ekstravasasi plasma dural, dan peradangan perivaskuler. Ketidakseimbangan aktivitas sel syaraf (neuron) yg mengandung serotonin dan atau jalur noradrenergik di inti (nuclei) batang otak yg mengatur pembuluh darah intrakranial serta aktivasi sistem trigeminovaskular. Disebabkan karena aktivitas sistem trigeminal yang menyebabkan pelepasan neuropetida vasoaktif  menjadi vasodilatasi, plasma protein extravasation, dan nyeri. Aktivitas di dalam sistem trigeminal diregulasi oleh saraf noradrenergik dan serotonergik. Reseptor 5-HT, terutama 5-HT1 dan 5-HT2 􀃆 terlibat dalam patofisiologi migraine.

Tension. Nyeri diduga berasal dari jaringan myofascial. Setelah aktivasi struktur persepsi nyeri supraspinal, sakit kepala terjadi karena modulasi sentral akibat datangnya rangsangan perifer. Rasa nyeri tumpul yg konstan atau perasaan menekan yg tidak enak pada leher, pelipis, dahi, atau disekitar kepala, leher terasa kaku. Umumnya terjadi secara bilateral (terjadi pada kedua belah sisi pada waktu bersamaan)

Cluster. Nyeri yang jarang sekali terjadi. Pengobatan mungkin akan mengubah dari sakit kepala kronik menjadi episodic. Terjadi dalam satu rangkaian, umumnya sekitar 30-45 menit, dapat timbul dalam beberapa kali sehari, dan lenyap secara spontan. Agak mirip dengan migrain, samasama bersifat vaskuler = disebabkan karena aktivitas pembuluh darah yang tidak normal. Terjadi dilatasi pembuluh darah yang berlebihan disekitar salah satu mata.

Gejala
Migrain. Nyeri kepala berulang yg terasa seperti gelombang yg menghantam (throbbing/pulsating) dan biasanya hanya terjadi di sebelah kepala saja (unilateral). Prodome: suatu rangkaian, peringatan sebelum terjadinya serangan, meliputi perubahan mood, perasaan, lelah dan ketegangan otot. Aura: gangguan visual yang mendahului serangan sakit kepala Sakit kepala: umumnya satu sisi, berdenyut-denyut, disertai mual dan muntah, sensitif terhadap cahaya dan suara. Terjadi antara 4 – 72 jam. Berhentinya sakit kepala: meskipun tidak diobati, nyeri biasanya akan menghilang dengan tidur. Postdrome: tanda-tanda lain migrain seperti tidak bisa makan, tidak konsentrasi, kelelahan

Tension. Nyeri ringan sampai berat, tidak sampai berdenyut-denyut dan berulang-ulang. Rasa menekan/berat yang berlokasi di kedua belah sisi kepala. Sakit dengan intensitas ringan sampai sedang. Tidak bertambah berat dengan aktivitas fisik rutin. Tidak mual atau muntah. Mungkin sensitif terhadap cahaya atau suara, tapi tidak keduanya.

Cluster. Wajah kemerahan secara unilateral (sebelah sisi). Keluar air mata, hidung berair. Tidak ada gejala mual atau sensitivitas terhadap cahaya, suara, dll. spt terjadi pada migrain


Terapi

Migren
Terapi non Farmakologi: Menempelkan es di kepala dan beristirahat atau tidur sejenak, biasanya diruangan yg agak gelap dan tenang. Merubah gaya hidup, perilaku, dan psikis pasien (istirahat cukup, tidak stress, jangan sampai kelelahan). Hindari makanan dan minuman yg mengandung kafein, coklat, alkohol, sulfit (pd udang), nitrat (pada daging olahan), tiramin, produk ragian.

Terapi Farmakologi: Terapi migrain akut paling efektif jika diberikan pada sat awal serangan migraine. Terapi sebelum serangan dengan antiemetik (misal : proklorperazin, metoklopamid) 15 sampai 30 menit sebelum memberikan terapi abortif atau pengobatan non oral dianjurkan jika mual atau muntah parah. Terapi migren akut harus dibatasi hanya untuk 2hari/minggu untuk mencegah penyalahgunaan obat atau efek rebound.

Sasaran terapi: Menghindari atau menghilangkan pemicu. Terapi abortif dimulai pada saat terjadinya serangan. Terapi profilaksis diperlukan jika serangan terjadi lebih dari 2-3 kali sebulan, serangan berat dan menyebabkan gangguan fungsi, terapi simptomatik gagal atau menyebabkan efek samping serius.

Tatalaksana terapi. Terapi profilaksis: menghindari pemicu, menggunakan obat profilaksis secara teratur ( profilaksis : bukan analgesik, memperbaiki pengaturan proses fisiologis yang mengontrol aliran darah dan aktivitas sistem syaraf). Terapi abortif: menggunakan obat-obat penghilang nyeri dan/atau vasokonstriktor

Obat-obat untuk terapi abortif. Analgesik ringan  aspirin (drug of choice), parasetamol. NSAID’s: menghambat sintesis prostaglandin, agregasi platelet, dan pelepasan 5-HT. Golongan triptan : merupakan agonis reseptor 5HT yg dapat menyebabkan vasokontriksi, menghambat pelepasan takikinin, dan memblok inflamasi neurogenik. Efikasinya setara dengan dihidroergotamin, tetapi onsetnta lebih cepat. Ergotamin: memblokade inflamasi neurogenik dgn menstimulasi reseptor 5-HT1 presinaptik. Pemberian i.v dpt dilakukan untuk serangan yang berat. Metoklopramid: digunakan untuk mencegah mual muntah. Diberikan 15-30 menit sebelum terapi anti migrain, dapat diulang setelah 4-6 jam. Kortikosteroid: dapat mengurangi inflamasi. Analgesik opiat : co.butorphanol.

Obat-obat untuk terapi profilaksis. Beta bloker: merupakan drug of choice untuk prevensi migrain. Seperti atenolol, propanolol, metoprolol, nadolol. Antidepresan trisiklik: punya efek antikolinergik, tidak boleh digunakan untuk pasien glaukoma atau hiperplasia prostat. Seperti imipramin, doksepin, nortriptilin. Metisergid: merupakan senyawa ergot semisintetik, antagonis 5-HT2. Asam/Na valproat: dapat menurunkan keparahan, frekuensi dan durasi pd 80% penderita migraine. Verapamil: merupakan terapi lini kedua atau ketiga. Topiramat: mengurangi kejadian migrain

Tension
Terapi non Farmakologi: Istirahat yang cukup. Tidak stress dan kelelahan. Terapi tanpa obat meliputi konseling dan usaha meyakinkan serta pengelolaan stress, pelatihan relaksasi, dan terapi fisik. Melakukan latihan peregangan leher atau otot bahu sedikitnya 20 sampai 30 menit. Perubahan posisi tidur. Pernafasan dengan diafragma atau metode relaksasi otot yang lain. Penyesuaian lingkungan kerja maupun rumah: pencahayaan yang tepat untuk membaca, bekerja, menggunakan komputer, atau saat menonton televise, hindari eksposur terus-menerus pada suara keras dan bising, dan hindari suhu rendah pada saat tidur pada malam hari

Terapi Farmakologi: Analgesik sederhana (tunggal atau kombinasi dengan kafein), AINS merupakan terapi pilihan saat serangan atau akut. AINS dosis tinggi dan kombinasi aspirin atau asetaminofen dengan butalbital atau dengan kodein (jarang dikombinasi) merupakan pilihan yg efektif. Pemakaian kombinasi butalbital dan kodein sebaiknya dihindari. Golongan TCA lebih sering dipakai untuk pencegahan. Obat pencegahan harus dipertimbangkan jika peningkatan frekuensi sakit kepala (lebih dari 2x perminggu), lamanya (lebih diri 3-4 jam), atau keparahan akan menyebabkan penggunaan obat secara berlebihan

Cluster
Terapi non Farmakologi: Istirahat yg cukup. Tidak stress dan kelelahan. Penyesuaian lingkungan kerja dan rumah. Jaga pola makan.

Terapi Farmakologi. Sasaran terapi: menghilangkan nyeri (terapi abortif), mencegah serangan (profilaksis). Strategi terapi: menggunakan obat NSAID’s, vasokonstriktor, cerebral. Obat-obat abortif: oksigen, ergotamin (dosis sama dengan dosis untuk migrain), sumatriptan. Obat-obat untuk terapi profilaksis : verapamil, litium, metisergid, kortikosteroid, topiramat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar