Poisoning
Poisoning
atau keracunan terjadi ketika suatu zat berbahaya (racun) masuk kedalam tubuh
yang dapat melalui injeksi, inhalasi atau tertelan yang kemudian dapat
menyebabkan cidera, sakit atau bahkan kematian. Peristiwa ini disebabkan
aktivitas kimia di dalam sel. Keracunan harus dicurigai jika seseorang merasa
sakit untuk alasan yang tidak diketahui. Ventilasi yang jelek dapat memperburuk
keracunan yang terjadi melalui inhalasi. Pertolongan pertama sangat penting
dalam menyelamatkan kehidupan korban.
Cabang ilmu kedokteran
yang mempelajari mengenai deteksi dan pengobatan keracunan adalah toksikologi.
Toksikologi oleh Loomis (1978) didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari aksi
berbahaya zat kimia atas sistim biologi. Timbrel (1989), mendefinisikan
toksikologi sebagai ilmu yang mempelajari interaksi antara zat kimia dan sistem
biologi. Definisi ketoksikan atau toksisitas adalah kapsitas suatu zat kimia
atau beracun (xenobiotik) untuk dapat menimbulkan efek toksik tertentu pada
mahkluk hidup.
Paracelcus yang
dianggap sebagai bapak toksikologi tidak membedakan antara obat dengan zat
beracun berdasarkan toksisitasnya, yang membedakan antara obat dengan racun
atau zat yang bukan racun dengan racun adalah dosisnya. Obat yang diberikan
berdasarkan dosis tertentu menurut penelitian umumnya tidak menimbulkan efek
toksik atau manfaatnya jauh lebih besar dari pada efek yang merugikan.
Penyebab
Poisoning/Keracunan
Penyebab poisoning / keracuan dapat disebabkan oleh: Pengobatan. Over dosis obat. Paparan saat kerja. Membersihkan deterjan
atau cat. Gas karbon monoksida
dari pembakaran atau pemanas. Kosmetik
tertentu. Tanaman rumah tangga
tertentu, hewan. Keracunan
karena makanan (botulism)
Gejala-gejala
Poisoning / Keracunan
Gejala-gejala keracunan diantaranya
yaitu: Bibir berwarna biru. Kulit ruam. Kesulitan bernafas. Diare. Mual / Muntah. Demam. Headache. Pusing / mengantuk. Penglihatan ganda. Nyeri perut / nyeri
dada. Palpitasi / Irritability. Kehilangan nafsu makan
/ kontrol kandung kemih. Mati
rasa. Otot Kejang. Kejang. Lemah. Kehilanagn kesadaran.
Mekanisme
Efek Toksik
Keberadaan
zat kimia dalam tubuh dapat menimbulkan efek toksik melalui 2 cara,
berinteraksi secara langsung (toksik intrasel) dan secara tidak langsung
(toksik ekstrasel). Toksik intrasel adalah toksisitas yang diawali dengan
interaksi langsung antara zat kimia atau metabolitnya dengan reseptornya.
Toksisitas ekstra sel terjadi secara tidak langsung dengan mempengaruhi
lingkungan sel sasaran tetapi dapat
berpengaruh pada sel sasaran.
Mekanisme
Efek Toksik Intrasel. Zat kimia atau
metabolitnya yang telah masuk pada sel sasarannya dapat menyebabkan gangguan
sel atau organelnya melalui pendesakkan, pengikatan, subsitusi (antimetabolit)
atau peroksidasi. Gangguan yang ditimbulkan akan diresponkan oleh sel untuk
mengurangi dampaknya, dan sel akan beradaptasi atau melakukan perbaikan. Namun
bila respon pertahanan tidak mampu mengeleminir gangguan yang ada akan terjadi
efek toksik. Dampaknya terjadi perubahan atau kekacauan biokimiawi, fungsional
atau struktural yang bersifat reversibel atau irreversibel.
Berikut adalah contoh obat atau zat yang
bekerja secara langsung (toksik intrasel) dalam menimbulkan efek toksik adalah: Tetrasiklin atau
kloramfenikol bekerja mengingat ribosom dari suatu sel. Antimikroba golongan
sulfa, berfungsi sebagai antimetabolit dan menghambat sintesa asam folat. Radikal bebas
menyebabkan peroksidasi lipid atau protein sehingga fungsinya terganggu. Insektisida yang
mengikat enzim asetilkolinesterase, menyebabkan bertumpuknya ACh (asetilkolin)
dalam sinap sehingga menyebabkan efek kolinergik yang berlebihan. Sianida dapat
mengacaukan pernapasan sel dengan cara mengganggu transpor elektron, dalam hal
ini ikatan sianida dengan atom besi pada protein heme mengalami oksidasi dan
reduksi selama transfer elektron. Dengan demikian sianida dapat mengganggu
proses pernapasan sel. Toksin
botulismus berkaitan dengan ujung akson presinaptik kolinergik perifer sehingga
menghambat pelepasan ACh, sehingga terjadi hambatan kolinergik. Efek yang sama
dapat ditimbulkan oleh racun ular kobra yang dapat diberikan dengan
postsinaptik neuromuskuler sehingga tidak peka terhadap asetilkolin.
Mekanisme
Efek Toksik Ekstrasel. Kelangsungan hidup
suatu sel sangat tergantung pada lingkungannya, yang diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan sel. Karena itu adanya zat dilingkungan sel yang dapat mengganggu
aktivitas sel, mungkin akan menimbulkan perubahan struktur atau gangguan fungsi
sel. Untuk kelangsungan hidup sel, minimal dibutuhkan oksigen, zat makanan, dan
cairan ekstrasel (elektrolit asam basa) yang optimal.
Oksigen. Oksigen diperlukan
untuk produksi energi. Oksigen masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan
berdifusi dari alveoli ke pembuluh darah, eritrosit, dibawa oleh sistem
kardiovaskuler untuk keperluan sel. Semua proses (tempat) diatas merupakan
sasaran dari zat toksik untuk mengganggu sampainya oksigen kedalam sel yang
membutuhkannya. Obstruksi
saluran pernapasan dapat terjadi karena zat iritan yang kuat, atau zat yang
bersifat vasospasme (konstriksi). Jumlah eritrosit dapat berkurang karena gangguan produksi eritrosit oleh
sumsum tulang belakang. nitrit dapat menyebabkan hipoksia, dan jika tidak
ditanggulangi kekurangan oksigen menjadi lebih parah (anoksia) dan dapat
menyebabkan sel kekurangan energi dan mati.
Suplai
Zat Makanan. Zat makanan diperlukan
oleh sel agar proses metabolisme dapat berjalan normal, sehingga keperluan
energi dapat tercukupi dan proses pertumbuhan dapat berlangsung. Kecukupan zat
makanan sangat tergantung pada proses-proses seperti ingesti, digesti,
absorbsi, dan transpornya ke lingkungan sel. Dengan demikian banyak proses
(tempat) yang dapat diganggu oleh suatu zat berkaitan dengan suplai zat
makanan.
Suplai
Cairan. Cairan, keseimbangan elektrolit,
keseimbangan asam basa, dan proses ekskresi untuk mempertahankan posisi cairan
merupakan sasaran potensial dari suatu zat. Gangguan cairan seperti retensi
cairan (edema), dehidrasi, dan asidosis dapat berbahaya bagi kehidupan sel jika
tidak segera diperbaiki. Gangguan seperti diatas dapat terjadi karena banyak
faktor, seperti: kelebihan natrium, hiperglikemi atau karena adanya zat-zat
tertentu. Selain itu luka ekstrasel juga dapat terjadi jika sistem yang
mengatur fungsi-fungsi tubuh seperti sistem saraf endokrin (hormon), dan sistem
immunitas terganggu.
Terapi Keracunan
Terapi Antidotum. Secara umum, terapi
antidotum didefinisikan sebagai tata cara yang ditunjukkan untuk membatasi
intisitas efek toksik zat kimia atau menyembuhkannya sehingga bermanfaat dalam
mencegah timbulnya bahaya selanjutnya. Efek toksik suatu zat kimia dapat
terjadi jika kadar zat toksik melampaui kadar toksik minimal (KTM) nya dalam
sel sasaran. Untuk mencapai KTMnya, zat yang masuk melalui oral atau topikal
harus melalui beberapa tahap. Tahapan tersebut adalah absorbsi masuk ke
sirkulasi sistemik lalu mengalami distribusi menuju tempat kerjannya. Proses
absorbsi dan distribusi menyebabkan meningkatnya kadar obat dalam sel sasaran.
Proses berikutnya yang dapat mengurangi kadar obat dalam sel sasaran adalah
metabolisme dan eksresi. Sehingga efek toksik suatu zat kimia sangat
dipengaruhi proses absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi (ADME)
karena akan menentukan jumlah zat di sel sasarannya.
Dengan
demikian untuk mengurangi jumlah zat kimia dalam sel sasarannya sapat dilakukan
dengan cara: menghambat absorbsi dan distribusi serta mempercepat metabolisme
dan ekskresi. Meningkatkan nilai ambang toksik (KTM) juga merupakan cara untuk
mencegah efek toksik.
Terapi Non Spesifik
Terapi
non spesifik adalah suatu terapi keracunan yang bermanfaat hampir pada semua
kasus, melalui cara-cara seperti memacu muntah, bilas lambung, dan memberikan
zat adsorben, mempercepat eliminasi dengan pengasaman dan pembasaan urin atau
hemodialisis.
Menghambat Absorbsi Zat
Racun. Menghambat absorbsi zat racun dapat
disarankan dengan beberapa cara antara lain dengan membersihkan atau mencuci
kulit yang terkontaminasi zat toksik, mengeluarkan racun dalam lambung,
mencegah absorbsi, dan memberikan pencahar. Mencuci kulit dilakukan dengan air
mengalir dan jika mengenai pakaian, pakaiannya ditinggalkan. Zat toksik yang
sudah masuk kedalam lambung dapat dilakukan dengan pemberian norit (arang
aktif), memuntahkan atau memberi pencahar atau bilas lambung.
Pemberian
Arang Aktif (Norit). Arang
aktif diberikan pada kasus keracunan karena dapat mengabsorbsi zat racun atau
toksin dalam saluran pencernaan. Norit masih efektif hingga 2 jam dari racun
yang tertelan dan lebih lama lagi pada keracunan obat sediaan lepas lambat atau
keracunan obat-obat yang bersifat kolinergik. Dosis minimumnya adalah 30 gram,
dosis pada orang dewasa adalah 50 gram dapat diulang setiap 4-6 jam. Pemberian
dosis berulang juga bermanfaat mempercepat eliminasi zat toksik yang sudah
terabsorbsi. Karbon
aktif dapat menyerap zat-zat seperti salisilat, acetaminophen, karbamazepin,
dapson, teofilin, quinin, dan obat-obat antidepresan. Pemberian karbon aktif
dapat dikombinasikan dengan bilas lambung tetapi tidak dengan sirup ipekak atau
susu karena akan mengurangi efektifitasnya.
Mengeluarkan
Racun dari Lambung. Pengosongan lambung
tidak berguna jika resiko dari keracunan kecil atau pasien sudah datang
terlambat. Pengosongan dengan bilas
lambung diragukan kegunaannya bila dilakukan lebih dari 1-2 jam setelah racun
tertelan. Bahaya dari bilas lambung adalah teraspirasinya isi lambung, karena
itu tidak boleh dilakukan pada pasien yang mengantuk atau koma kecuali jika
reflek batuk sangat baik atau saluran napas dapat dilindungi dengan pipa
endotrakea. Memuntahkan isi perut
dengan pemberian ipecacuanha telah dipakai baik pada orang dewasa atau
anak-anak. Pemberian ipecacuanha hanya boleh dipertimbangkan bila pasien sadar
sepenuhnya, atau bila zat racun yang tertelan tidak korosif dan produk
petroleum tidak terjerap dengan arang aktif.
Pemberian
Pencahar. Pencahar
digunakan untuk mempercepat pengeluaran zat racun dari saluran gastrointestinal
(GI) terutama untuk racun yang sudah mencapai usus halus. Pemberian sorbitol
direkomendasikan pada penderita yang tidak ada gangguan jantung. Magnesium
sulfat dapat diberikan pada penderita yang tidak ada gangguan ginjal. Pemberian
magnesium sulfat sering kali diberikan setelah pemberian arang aktif, dosis
oral yang sering dipakai adalah 5-15 gram yang diberikan dengan segelas air.
Magnesium sulfat dikontraindisikan pada pasien obstruksi usus, mual, muntah dan
gangguan ginjal.
Mempercepat Eliminasi. Kecepatan eliminasi
akan mempengaruhi jumlah obat yang berada disel sasaran dalam melampaui nilai
KTM nya. Percepatan eliminasi dapat dilakukan dengan cara meningkatkan ekskresi
melalui pengasaman atau pembasaan urin atau diuresis paksa, pengasaman atau
pembasaan urin akan meningkatkan derajat ionisasi ditubulus sehingga akan
mengurangi reabsorbsi. Pengasaman urin dengan memberikan ammonium klorida atau
vitamin C akan mengurangi reabsorbsi zat atau obat yang bersifat basa lemah
seperti amfetamin. Pembasaan urin melalui pemberian natrium bikarbonat akan
mengurangi reabsorbsi pada obat atau zat yang berisifat asam lemah seperti
aspirin dan fenobarbital.
Hemodialisis
merupakan salah satu cara untuk mempercepat eleminasi suatu zat dan
mengembalikan keseimbangan elektrolit. Cara ini efektif jika zat nya sudah
terabsorbsi dan berada pada cairan sistemik dan tidak mempunyai volume
distribusi terlalu besar atau obat tidak terdistribusi secara ekstensif pada
jaringan. Berikut beberapa contoh obat-obatan yang laju eliminasinya efektif
dapat ditingkatkan dengan car hemodialisis yaitu salisilat, metanol,
etilenglikol, paraquat, dan litium.
Terapi
Spesifik
Terapi
antidotum spesifik adalah terapi antidotum yang hanya efektif untuk zat-zat
tertentu. Antidotum spesifik dikelompokkan menjadi antidotum yang bekerja
secara kimiawi, bekerja secara farmakologi dan yang bekerja secara fungsional.
Antidotum Yang Bekerja Secara Kimiawi. Contoh
dari antidotum jenis ini aadalah penggunaan zat pembentuk kelat. Penggunaan
antidotum jenis ini akan menyebabkan terjadinya reaksi antara antidotum dengan
zat toksik membentuk suatu produk yang kurang toksik daan mudah diekskresikan.
Selain pembentukan kelat antidotum spesifik lainnya adalah fab fragment,
dikobalt edetat dan hidrokobalamin, detoksifikasi enzimatik.
Zat-zat pembentuk kelat. Zat-zat pembentuk kelat
biasanya mengandung dua atau lebih gugus elektronegatif yang membentuk ikatan
kovalen komplek stabil dengan logam-logam atau kation menghasilkan zat komplek
yang kurang toksik sehingga mudah tereliminasi. Contoh zat-zat chelator adalah
dimercaprol, EDTA (etilen diamin tetraasetat), penisilamin (cuprin),
deferoksamin, dan trientin (cuprid).
Dimercaprol
berguna untuk keracunan arsen, merkuri dan timbal. Efek samping dari penggunaan
dimercaprol adalah takikardi, hipertensi, mual dan iritasi lambung. Sekarang
tersedia 2 obat yang mirip dengan dimercaprol yaitu dimercaptosuccinic acid
(DMSA), dan dimercaptopropane sulphonic acid (DMPS). DMSA dan DMPS dapat
diberikan secara oral dan mempunyai indeks terapi yang lebih besar. EDTA
digunakan terutama pada kasus keracunan pb. EDTA juga akan membentuk kelat
dengan Ca dalam tubuh. EDTA diberikan dalam bentuk injeksi IM atau IV dalam
bentuk garamnya Na atau Ca, dan diekskresikan melalui filtrasi glomerulus.
Penisilamin biasanya digunakan keracunan Cu pada individu yang menderita
penyakit Wilson’s. Kelebihan Cu akan toksik pada hepar dan CNS. Selain itu
penisilamin juga digunakan pada keracunan Hg serta tambahan terapi untuk keracunan
Pb dan arsen. Efek toksik dari penggunaan penisilamin pada sumsum tulang tulang
belakang dan ginjal. Deferoksamin spesifik membentuk kelat dengan logam besi,
dengan ion feri membentuk feroxamin. Deferoksamin dimetabolisme dan
diekskresikan melalui ginjal dan menyebabkan urin berwarna merah. Penggunaan
antidotum ini dapat menyebabkan neurotoksik dan kontraindikasi pada pasien
dengan gangguan ginjal. Trientin (cuprid) membentuk chelat dengan Cu+
, terapi terbatas untuk penyakit Wilson’s pada individu yang tidak dapat
mentolerir penilsilamin.
Fab Fragment. Antiserum
telah lama digunakan untuk pengobatan toksin yang berasal dari botulimus atau
ular. Fab fragment merupakan suatu antibodi monoklonal dapat mengikat digoksin
dan mempercepat ekskresinya melalui filtrasi glomerulus.
Dikobalt Edetat dan Hidrokobalamin. Penggunaan
dikobalt edetat hanya pada saat pasien akan kehilangan kesadaran atau sudah
kehilangan kesadaran bukan untuk tindakan pencegahan. Dapat diberikan melalui
injeksi IV 300 mg (20 ml) dalam 1 menit disusul dengan 50 ml infus glukosa 50%
jika tidak menunjukan perbaikan yang memadai. Jika setelah 5 menit tidak ada
perbaikan maka boleh diberikan dosis ke2.
Detoksifikasi Enzimatik. Detoksifikasi Enzimatik
dapat dilakukan dengan dua jalur, dengan memberikan kosubstrat pada reaksi yang
terjadi dan memberikan enzim dari luar untuk mempercepat metabolisme zat racun.
Etanol. Etanol
dapat digunakan untuk kracunan metanol atau etilenglikol. Metanol dan
etilenglikol didalam tubuh akan mengalami oksidasi oleh enzim alkohol
dehidrogenase menghasilkan formaldehid dan asam format. Pemberian etanol akan
menyebabkan kompetesi dengan metanol atau etilenglikol dalam memperebutkan
enzim alkohol dehidrogenase. Hasil reaksi antara etanol dengan enzim alkohol
dehidrogenase adalah asam asetat yang relatif tidak toksik dan mudah
diekskresikan dibanding formaldehid dan asam format.
Atropin dan Pralidoksim. Keracunan pestisida
organofosfat dan carbamat dapat menyebabkan timbulnya perangsangan kolinergik
yang berlebihan seperti cemas, gelisah, pusing, sakit kepala,, miosis, mual,
hipersalivasi, muntah, berkeringat, lemah otot, dan fasikulasi yang dapat
menyebabkan paralisis umum (lemas) termasuk otot mata atau pernapasan. Gejala
tersebut dapat terjadi karena pestisida dapat mengikat enzim
asetilkolinesterase yang berfungsi untuk menguraikan asetilkoline (ACh) menjadi
asetil CoA dan kolin. Atropin adalah suatu antikolinergik yang bekerja
berlawanan dengan ACh. Atropin diberikan dalam bentuk garamnya (atropin sulfat)
dengan dosis 2 mg melalui IV/IM, pemberian dapat diulang tergantunga pada
tingkat keparahan. Pralidoksim
suatu reaktivator kolineesterase yang biasanya ditambahkan pada atropin sulfat
pada keracunan pestisida sedang hingga berat. Dosis umumnya 30 mg/KgBB dilarutkan
dalam 10-15 ml air, diberikan secara IV perlahan-lahan.
N-asetilsistein
dan Metionin. Pada
keracunan paracetamol (asetaminophen), toksisitas terjadi karena paracetamol
dimetabolisme menjadi N-acetyl-p-benzoquinoneimine (NABQI). Pada dosis normal,
paracetamol tidak berbahaya karena tidak dimetabolisme menjadi NABQI, dan hanya
pada over dosis NABQI terbentuk yang dapat menyebabkan kerusakan sel terutama
sel hepar, sehingga akan meningkatkan enzim intraseluler SGPT dan SGOT.
Asetilsistein suatu obat yang digunakan juga sebagai antioksidan dan
ekspektoran yang dapat berikatan dengan NABQI membentuk senyawa non toksik. Metionin di dalam tubuh
akan mengalami metabolisme menjadi homsisten berfungsi sebagai donor sulfur
untuk diikat oleh NABQI sehingga dapat sebagai alternatif asetilsistein.
Antidotum Yang Bekerja Secara Farmakologi. Suatu
antidotum yang bekerja mirip dengan zat toksik, bekerja pada reseptor yang sama
atau berbeda.
Nalokson Hidroklorida. Keracunan opiod
menyebabkan koma, depresi pernapasan, bradikardi, dan pupil mengecil. Nalokson
adalah antagonis opiod yang bekerja pada reseptor yang sama sehingga
berkompetisi dalam memperebutkan reseptor opioid. Pemberian nalokson harus
berulang karena kerja dari nalokson yang sangat singkat, sesuai dengan
frekuensi nafas. Dosis pemberian nalokson dengan injeksi IV 0,8-2 mg dapat
diulang setiap 2-3 menit sampai dosis maksimal 10 mg.
Oksigen. Karbon
monoksida (CO) dapat menyebabkan keracunan karena kemampuannya dalam mengikat
hemoglobin (Hb) dan membentuk zat komplek yang tidak dapat berfungsi mengikat
oksigen lagi. Pemberian oksigen dalam jumlah banyak dan murni dapat mendesak
ikatan Hb-CO dan menggantikan posisi CO kembali ke oksigen.
Antidotum Yang Bekerja Sebagai Antagonis Fungsional. Antidotum
antagonis fungsional dapat juga digolongkan sebagai antidotum non spesifik
karena berguna sebagai terapi simtomatik dan mengantagonis beberapa jenis zat
toksik. Sebagai contoh penggunaan diazepam untuk menghambat kejang dan
fasciculasi yang disebabkan organofosfat, karbamat dan stimulan.
Berikut
daftar zat toksik beserta antidotum spesifiknya ;
No
|
Zat Toksik
|
Antidotum
|
1.
|
Parasetamol
|
N-asetil
sistein
|
2.
|
Arsen,
Hg, Pb, Au
|
BAL
(dimercaprol)
|
3.
|
Beta
blocker
|
Glukakon
|
4.
|
Benzodiazepin
|
Flumazemil
|
5.
|
CO
|
Oksigen
|
6.
|
Koumarin
|
Vit
K
|
7.
|
Sianida
|
Nitrit
|
8.
|
Digoksin
|
Digoksin,
Fab Fragment
|
9.
|
Metanol
dan Etilenglikol
|
Etanol
|
10.
|
Heparin
|
Protamin
|
11.
|
Zat
Besi
|
Deferoksamin
|
12.
|
INH
|
Piridoksin
|
13.
|
Narkotika
|
Nalokson
|
14.
|
Nitrit
|
Metilen
blue
|
15.
|
Organofosfat
dan Karbamat
|
Atropin,
pralidoksim
|
Mengenali
Kegawat Daruratan dan Tata Laksana
Proses pengkajian gawat darurat pada pasien terdiri dari primary assessment, secondary assessment, focused
assessment, dan diagnostic procedure.
Konsep primary assessment merupakan
proses evaluasi awal yang sistematis dan penanganan segera pada pasien dewasa
yang mengalami kondisi gawat darurat, yang meliputi; Airway, mengecek jalan nafas dengan tujuan menjaga jalan nafas
disertai kontrol servikal. Breathing, mengecek pernafasan dengan tujuan
mengelola pernafasan agar oksigenasi adekuat. Circulation, mengecek sistem sirkulasi disertai
kontrol perdarahan. Disability, mengecek status neurologis. Exposure, enviromental control,
buka baju penderita tapi cegah hipotermia.
Konsep secondary
assessment yang membahas mengenai proses anamnesis dan pemeriksaan fisik head to toe untuk
menilai perubahan bentuk, luka dan cedera yang dialami pasien dewasa. Berikut
ini adalah ringkasan tanda-tanda vital untuk pasien dewasa menurut Emergency Nurses Association, (2007).
Komponen
|
Nilai normal
|
Keterangan
|
Suhu
|
36,5-37,5
|
Dapat
di ukur melalui oral, aksila, dan rectal. Untuk mengukur suhu inti
menggunakan kateter arteri pulmonal, kateter urin, esophageal probe, atau
monitor tekanan intracranial dengan pengukur suhu. Suhu dipengaruhi oleh
aktivitas, pengaruh lingkungan, kondisi penyakit, infeksi dan injury.
|
Nadi
|
60-100x/menit
|
Dalam pemeriksaan nadi perlu dievaluais irama jantung,
frekuensi, kualitas dan kesamaan.
|
Respirasi
|
12-20x/menit
|
Evaluasi dari repirasi meliputi frekuensi, auskultasi
suara nafas, dan inspeksi dari usaha bernafas. Tada dari peningkatan usah
abernafas adalah adanya pernafasan cuping hidung, retraksi interkostal, tidak
mampu mengucapkan 1 kalimat penuh.
|
Saturasi oksigen
|
>95%
|
Saturasi oksigen di monitor melalui oksimetri nadi, dan
hal ini penting bagi pasien dengan gangguan respirasi, penurunan kesadaran,
penyakit serius dan tanda vital yang abnormal. Pengukurna dapat dilakukan di
jari tangan atau kaki.
|
Tekanan darah
|
120/80mmHg
|
Tekana darah mewakili dari gambaran kontraktilitas
jantung, frekuensi jantung, volume sirkulasi, dan tahanan vaskuler perifer.
Tekanan sistolik menunjukkan cardiac output, seberapa besar dan seberapa kuat
darah itu dipompakan. Tekanan diastolic menunjukkan fungsi tahanan vaskuler
perifer.
|
Berat badan
|
Berat badan penting diketahui di UGD karena berhubungan
dengan keakuratan dosis atau ukuran. Misalnya dalam pemberian antikoagulan,
vasopressor, dan medikasi lain yang tergantung dengan berat badan.
|
Konsep Focused assessment yang membahas
mengenai beberapa komponen pengkajian terfokus
yang penting untuk melengkapi primary
survey pada pasien dewasa di gawat
darurat. Pemeriksaan diagnostik yang dibutuhkan untuk melengkapi proses
pengkajian gawat darurat pada pasien dewasa, yang meliputi : Endoskopi,
bronkoskopi, CT scan, USG, dll.
Kegawat
daruratan sering terjadi diantaranya pada ;
Kegawat
Daruratan pada Saluran Pernafasan. Kondisi emergensi yang
berkaitan dengan asma sering terjadi, termasuk diluar rumah sakit. Pada pasien
yang hipoksia karena asma karena asma, intervensi pertama adalah diberikan
oksigen. Hipoksia yang berat atau serangan status asmatikus yang panjang,
intubasi endotrakea mungkin diperlukan. Sebagai tambahan pemberian oksigen,
terapi utama bronkospasme karena asma atau cronic
opstruktive pulmonary diseases (COPD) adalah pemberian bronkodilator.
Bronkodilator yang sering digunakan adalah B2-adrenergik, derivat xantin, dan
obat antikolinergik.
Kegawat
Daruratan pada Kardiovaskuler. Obat kardiovaskuler
meliputi obat yang berpengaruh pada jantung, pembuluh darah, dan darah.
Obat-obat kegawat daruratan untuk kardiovaskuler diantaranya yaitu digoksin,
dobutamin, dopamin, epineprin, furosemid, nitrogliserin, dan sodium bikarbonat.
Kegawat
Daruratan pada Diabetes Militus. Diabetes
militus (DM) merupakan penyakit endokrin yang paling sering menimbulkan KDM. DM
emergensi disebabkan oleh tidak adanya atau berkurangnya sekresi insulin atau
berkurangnya respon jaringan terhadap insulin. Tanpa insulin, glukosa tidak
dapat masuk kedalam sel tubuh untuk dirubah menjadi energi, sehingga tubuh
menggunakan lemak sebagai sumber energi yang dapat menyebabkan ketoasidosis.
Protein adalah sumber energi terakhir, proses konversi protein menjadi energi
seluler (glukoneogenesis) dapat meningkatkan glukosa darah. Kadar glukosa darah
yang tinggi akan menyebabkan diuresis
osmotic dan kehilangan elektrolit. Obat-obat emergensi yang berkaitan
dengan DM antara lain; larutan dektrosa 40-50%, Glukagon, dan insulin reguler.
Kegawat
Daruratan pada Neurologi. Emergensi neurologi
potensial menimbulkan kecacatan dan sering mengancam kehidupan, karena itu memerlukan
tindakan segera. Tanda-tanda atau gejala emergensi neurologi sangat bervariasi,
mulai dari perubahan sensorik, motorik, paralisis, kejang, dan koma. Dengan
demikian banyak sekali obat-obat yang masuk kategori obat emergensi untuk
neurologi, antara lain diazepam, flumazenil, lidokain, lorazepam, manitol,
nalokson, dan fenitoin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar