Konjungtivitis
adalah radang konjungtiva yangditandai dengandischarge (sekret) dapat berair,
mukoid,mukopurulen ataupun purulent dapat disebabkan oleh mikroorganisme
(virus, bakteri), iritasi, atau reaksi alergi.
Patofisiologi
Jaringan pada
permukaan mata dikolonisasi oleh flora normal seperti streptococci,
staphylococci dan jenis Corynebacterium. Perubahan padamekanisme pertahanan
tubuh ataupun pada jumlah koloni flora normaltersebut dapat menyebabkan infeksi
klinis. Perubahan pada flora normal dapatterjadi karena adanya kontaminasi
eksternal, penyebaran dari organ sekitarataupun melalui aliran darah (Rapuano,
2008).
Penggunaan
antibiotik topikal jangka panjang merupakan salah satu penyebab perubahan flora
normal pada jaringan mata, serta resistensi terhadapantibiotik (Visscher,
2009).
Mekanisme
pertahanan primer terhadap infeksi adalah lapisan epitel yang meliputi
konjungtiva sedangkan mekanisme pertahanan sekundernya adalahsistem imun yang
berasal dari perdarahan konjungtiva, lisozim danimunoglobulin yang terdapat
pada lapisan air mata, mekanisme pembersihanoleh lakrimasi dan berkedip. Adanya
gangguan atau kerusakan pada mekanisme pertahanan ini dapat menyebabkan infeksi
pada konjungtiva(Amadi, 2009).
Gejala
Klinis
Merasa seperti
ada benda asing. Merasa panas. Mata bengkak. Gatal. Fotofobia (jika terkena
kornea).
Penatalaksanaan
Umumnya konjungtivitis dapat sembuh
tanpa pengobatan dalam waktu 10-14 hari, dan dengan pengobatan, sembuh dalam
waktu 1-3 hari.
Pemberian obat
mata topikal :
Pada infeksi
bakteri: Kloramfenikol tetes sebanyak 1 tetes 6 kali sehari atau salep mata 3
kali sehari selama 3 hari. Pada alergi: Flumetolon tetes mata dua kali sehari
selama 2 minggu. Pada konjungtivitis gonore: Kloramfenikol tetes mata 0,5-1% sebanyak
1 tetes tiap jam dan suntikan pada bayi diberikan 50.000 U/kgBB tiap hari
sampai tidak ditemukan kuman GO pada sediaan apus selama 3 hari berturut-turut.
Pada konjungtivitis viral: Salep Acyclovir 3%, 5 kali sehari selama 10 hari. Pemeriksaan
Penunjang Lanjutan : Umumnya tidak diperlukan, kecuali pada kecurigaan
konjungtivitis gonore, dilakukan pemeriksaan sediaan apus dengan pewarnaan Gram
Konseling
dan Edukasi
Konjungtivitis
mudah menular, karena itu sebelum dan sesudah membersihkan atau mengoleskan
obat, penderita harus mencuci tangannya bersih-bersih. Jangan menggunakan
handuk atau lap bersama-sama dengan penghuni rumah lainnya. Menjaga kebersihan
lingkungan rumah dan sekitar.
Pustaka
:
Rapuano, C.J.,
et al., 2008.
Conjunctivitis. American Academy
of Ophthalmology. Available
from: http://one.aao.org/asset.axd.
Visscher, K.L.,et
al., 2009. Evidence-based Treatment
of Acute Infective
Conjunctivitis. Canadian Family Physician. Available from: http://171.66.125.180/content/55/11/1071.short.
Amadi, A., et al., 2009. Common Ocular Problems in Aba Metropolis of Albia State, Eastern Nigeria. Federal Medical
Center Owerri. Availablfrom: http://docsdrive.com/pdfs/medwelljournals/pjssci/2009/32-35.pdf.
Panduan Praktis Klinik
Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer, 2014, http://fk.unila.ac.id/wp-content/uploads/2015/10/PPK-Dokter-di-Fasyankes-Primer.pdf,
diakses pada tanggal 7 Mei 2016.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar