Senin, 28 November 2016

Konjungtivitis

 
Konjungtivitis adalah radang konjungtiva yangditandai dengandischarge (sekret) dapat berair, mukoid,mukopurulen ataupun purulent dapat disebabkan oleh mikroorganisme (virus, bakteri), iritasi, atau reaksi alergi.

Patofisiologi
Jaringan pada permukaan mata dikolonisasi oleh flora normal seperti streptococci, staphylococci dan jenis Corynebacterium. Perubahan padamekanisme pertahanan tubuh ataupun pada jumlah koloni flora normaltersebut dapat menyebabkan infeksi klinis. Perubahan pada flora normal dapatterjadi karena adanya kontaminasi eksternal, penyebaran dari organ sekitarataupun melalui aliran darah (Rapuano, 2008).

Penggunaan antibiotik topikal jangka panjang merupakan salah satu penyebab perubahan flora normal pada jaringan mata, serta resistensi terhadapantibiotik (Visscher, 2009).

Mekanisme pertahanan primer terhadap infeksi adalah lapisan epitel yang meliputi konjungtiva sedangkan mekanisme pertahanan sekundernya adalahsistem imun yang berasal dari perdarahan konjungtiva, lisozim danimunoglobulin yang terdapat pada lapisan air mata, mekanisme pembersihanoleh lakrimasi dan berkedip. Adanya gangguan atau kerusakan pada mekanisme pertahanan ini dapat menyebabkan infeksi pada konjungtiva(Amadi, 2009).

Gejala Klinis
Merasa seperti ada benda asing. Merasa panas. Mata bengkak. Gatal. Fotofobia (jika terkena kornea).

Penatalaksanaan
Umumnya konjungtivitis dapat sembuh tanpa pengobatan dalam waktu 10-14 hari, dan dengan pengobatan, sembuh dalam waktu 1-3 hari.

Pemberian obat mata topikal :
Pada infeksi bakteri: Kloramfenikol tetes sebanyak 1 tetes 6 kali sehari atau salep mata 3 kali sehari selama 3 hari. Pada alergi: Flumetolon tetes mata dua kali sehari selama 2 minggu. Pada konjungtivitis gonore: Kloramfenikol tetes mata 0,5-1% sebanyak 1 tetes tiap jam dan suntikan pada bayi diberikan 50.000 U/kgBB tiap hari sampai tidak ditemukan kuman GO pada sediaan apus selama 3 hari berturut-turut. Pada konjungtivitis viral: Salep Acyclovir 3%, 5 kali sehari selama 10 hari. Pemeriksaan Penunjang Lanjutan : Umumnya tidak diperlukan, kecuali pada kecurigaan konjungtivitis gonore, dilakukan pemeriksaan sediaan apus dengan pewarnaan Gram

Konseling dan Edukasi
Konjungtivitis mudah menular, karena itu sebelum dan sesudah membersihkan atau mengoleskan obat, penderita harus mencuci tangannya bersih-bersih. Jangan menggunakan handuk atau lap bersama-sama dengan penghuni rumah lainnya. Menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitar.

Pustaka :
Rapuano,    C.J.,    et    al.,    2008.    Conjunctivitis.    American    Academy    of    Ophthalmology.  Available  from:  http://one.aao.org/asset.axd.

Visscher,   K.L.,et   al.,   2009.   Evidence-based   Treatment   of   Acute   Infective   Conjunctivitis.      Canadian      Family      Physician.      Available      from: http://171.66.125.180/content/55/11/1071.short.

Amadi,  A., et al., 2009. Common Ocular Problems in  Aba Metropolis of Albia  State, Eastern Nigeria. Federal Medical Center Owerri. Availablfrom: http://docsdrive.com/pdfs/medwelljournals/pjssci/2009/32-35.pdf.

Panduan Praktis Klinik Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer, 2014, http://fk.unila.ac.id/wp-content/uploads/2015/10/PPK-Dokter-di-Fasyankes-Primer.pdf, diakses pada tanggal 7 Mei 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar