Kelompok
kerja World Health Organisation (WHO) dan konsensus ahli mendefinisikan
osteoporosis sebagai penyakit yang ditandai dengan rendahnya massa
tulang dan memburuknya mikrostruktural jaringan tulang, menyebabkan kerapuhan
tulang sehingga meningkatkan risiko terjadinya fraktur dimana keadaan
tersebut tidak memberikan keluhan klinis, kecuali apabila telah terjadi fraktur
(thief in the night). (Consensus development conference, 1993).
Osteoporosis
adalah kelainan di mana terjadi penurunan massa tulang total. Terdapat
perubahan pergantian tulang homeostasis normal, kecepatan resorpsi tulang
lebih besar dari kecepatan pembentukan tulang, pengakibatkan penurunan masa
tulang total. Tulang secara progresif menjadi porus, rapuh dan mudah patah; tulang
menjadi mudah fraktur dengan stres yang tidak akan menimbulkan pengaruh
pada tulang normal. (Scottish Intercolligiate, 2003)
Klasifikasi
Osteoporosis
Osteoporosis
primer
Osteoporosis
primer dapat terjadi pada tiap kelompok umur. Faktor resiko dari
osteoporosis primer ini meliputi merokok, aktifitas, pubertas tertunda, berat
badan rendah, alkohol, ras kulit putih/asia, riwayat keluarga, postur
tubuh, dan asupan kalsium yang rendah (Kaltenborn, 1992).
Tipe
I (post manopausal): Terjadi
15-20 tahun setelah menopause (53-75 tahun). Ditandai oleh fraktur tulang
belakang tipe crush dan berkurangnya gigi geligi (Riggs & Melton, 1986).
Hal ini disebabkan luasnya jaringan trabekular pada tempat tersebut. Dimana
jaringan terabekular lebih responsif terhadap defisiensi estrogen (Kaltenborn,
1992).
Tipe
II (senile). Terjadi pada pria dan wanita usia diatas
70 tahun. Osteoporosis tipe ini ditandai oleh fraktur panggul dan tulang
belakang tipe wedge (Riggs & Melton, 1986) dan hilangnya massa
tulang kortikal terbesar terjadi pada usia tersebut.
Osteoporosis
sekunder
Osteoporosis
sekunder, dapat terjadi pada tiap kelompok umur. Penyebabnya meliputi
ekses kortikosteroid, hipertirodisme, multipel mieloma, malnutrisi,
defisiensi estrogen, hiperparatiroidisme, faktor genetik, dan obatobatan. (Kaltenborn,
1992).
Patogenesis
Dalam keadaan normal terjadi proses yang
terus menerus dan terjadi secara seimbang yaitu proses resorbsi dan proses
pembentukan tulang (remodelling). Setiap ada perubahan dalam
keseimbangan ini, misalnya proses resorbsi lebih besar dari proses pembentukan,
maka akan terjadi penurunan massa tulang.
Proses konsolidasi secara maksimal akan
dicapai pada usia 30-35 tahun untuk tulang bagian korteks dan lebih dini pada
bagian trabekula. Pada usia 40-45 tahun, baik wanita maupun pria akan mengalami
penipisan tulang bagian korteks sebesar 0,3-0,5 %/tahun dan bagian trabekula
pada usia lebih muda. Pada pria seusia wanita menopause mengalami penipisan
tulang berkisar 20 - 30% dan pada wanita 40-50 %. Penurunan massa tulang lebih
cepat pada bagian-bagian tubuh seperti metakarpal, kolum femoris, dan korpus
vertebra. Bagian-bagian tubuh yang sering fraktur adalah vertebra, paha bagian proksimal
dan radius bagian distal.
Etiologi
Determinan
Massa Tulang
Faktor
genetik. Perbedaan genetik mempunyai pengaruh terhadap
derajat kepadatan tulang. Beberapa orang mempunyai tulang yang cukup
besar dan yang lain kecil. Sebagai contoh, orang kulit hitam pada
umumnya mempunyai struktur tulang lebih kuat/berat daripada pacia bangsa
Kaukasia. Jadi, seseorang yang mempunyai tulang kuat (terutama kulit
Hitam Amerika), relatif imun terhadap fraktur karena osteoporosis.
Faktor mekanis. Beban
mekanis berpengaruh terhadap massa tulang di samping faktor genetik. Bertambahnya
beban akan menambah massa tulang dan berkurangnya beban akan mengakibatkan
berkurangnya massa tulang. Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa ada
hubungan langsung dan nyata antara massa otot dan massa tulang. Kedua
hal tersebut menunjukkan respon terhadap kerja mekanik. Beban mekanik
yang berat akan mengakibatkan massa otot besar dan juga massa tulang yang
besar. Sebagai contoh, pemain tenis atau pengayuh becak, akan dijumpai
adanya hipertrofi baik pada otot maupun tulangnya terutama pada lengan
atau tungkainya; sebaliknya atrofi baik pada otot maupun tulangnya akan
dijumpai pada pasien yang harus istrahat di tempat tidur dalam waktu
yang lama, poliomielitis atau pada penerbangan luar angkasa. Walaupun demikian,
belum diketahui dengan pasti berapa besar beban mekanis yang diperlukan
dan berapa lama untuk meningkatkan massa tulang di samping faktor
genetik.
Faktor makanan dan hormon. Pada
seseorang dengan pertumbuhan hormon dengan nutrisi yang cukup (protein dan mineral),
pertumbuhan tulang akan mencapai maksimal sesuai dengan pengaruh genetik
yang bersangkutan. Pemberian makanan yang berlebih (misainya kalsium) di
atas kebutuhan maksimal selama masa pertumbuhan, disangsikan dapat
menghasilkan massa tulang yang melebihi kemampuan pertumbuhan tulang
yang bersangkutan sesuai dengan kemampuan genetiknya.
Determinan
penurunan Massa Tulang
Faktor
genetik. Faktor genetik berpengaruh terhadap risiko
terjadinya fraktur. Pada seseorang dengan tulang yang kecil akan lebih
mudah mendapat risiko fraktur dari pada seseorang dengan tulang yang
besar. Sampai saat ini tidak ada ukuran universal yang dapat dipakai
sebagai ukuran tulang normal. Setiap individu mempunyai ketentuan normal
sesuai dengan sitat genetiknya serta beban mekanis den besar badannya.
Faktor
mekanis. Di lain pihak, faktor mekanis mungkin merupakan
faktor yang terpenting dalarn proses penurunan massa tulang sehubungan dengan
bertambahnya usia. Walaupun demikian, telah terbukti bahwa ada interaksi
penting antara faktor mekanis dengan faktor nutrisi hormonal. Pada umumnya,
aktivitas fisik akan menurun dengan bertambahnya usia dan karena massa tulang
merupakan fungsi beban mekanis, maka massa tulang tersebut pasti akan menurun
dengan bertambahnya usia.
Kalsium.
Faktor
makanan ternyata memegang peranan penting dalam proses penurunan massa tulang
sehubungan dengan bertambahnya usia, terutama pada wanita pasca menopause.
Kalsium merupakan nutrisi yang sangat penting. Wanita-wanita pada masa pasca
menopause, masukan kalsiumnya rendah dan absorbsinya tidak baik, sehingga
mengakibatkan keseimbangan kalsiumnya menjadi negatif. Dari keadaan ini jelas,
bahwa pada wanita masa menopause ada hubungan yang erat antara masukan kalsium
dengan keseimbangan kalsium dalam tubuhnya. Pada wanita dalam masa menopause,
keseimbangan kalsiumnya akan terganggu akibat masukan serta absorbsinya kurang
serta eksresi melalui urin yang bertambah. Hasil akhir kekurangan/kehilangan estrogen
pada masa menopause adalah pergeseran keseimbangan kalsium yang negatif,
sejumlah 25 mg kalsium sehari.
Protein.
Protein
juga merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhi penurunan massa tulang.
Makanan yang kaya protein akan mengakibatkan ekskresi asam amino yang mengandung
sulfat melalui urin, hal ini akan meningkatkan ekskresi kalsium. Pada umumnya,
protein tidak dimakan secara tersendiri, tetapi bersama makanan lain. Apabila
makanan tersebut mengandung fosfor, maka fosfor tersebut akan mengurangi
ekskresi kalsium melalui urin. Sayangnya fosfor tersebut akan mengubah
pengeluaran kalsium melalui tinja. Hasil akhir dari makanan yang mengandung
protein berlebihan akan mengakibatkan
kecenderungan
untuk terjadi keseimbangan kalsium yang negatif.
Estrogen.
Berkurangnya atau hilangnya estrogen dari dalam tubuh akan mengakibatkan
terjadinya gangguan keseimbangan kalsium. Hal ini disebabkan karena
menurunnya eflsiensi absorbsi kalsium dari makanan dan menurunnya konservasi
kalsium di ginjal.
Rokok
dan kopi. Merokok dan minum kopi dalam jumlah banyak
cenderung akan mengakibatkan penurunan massa tulang, lebih-lebih bila disertai
masukan kalsium yang rendah. Mekanisme pengaruh merokok terhadap penurunan massa
tulang tidak diketahui, akan tetapi kafein dapat memperbanyak ekskresi kalsium
melalui urin maupun tinja.
Alkohol.
Alkoholisme akhir-akhir ini merupakan masalah yang sering ditemukan. Individu
dengan alkoholisme mempunyai kecenderungan masukan kalsium rendah, disertai
dengan ekskresi lewat urin yang meningkat. Mekanisme yang jelas belum diketahui
dengan pasti.
Manifestasi
Klinis
Nyeri
dengan atau tanpa fraktur yang nyata. Nyeri timbul mendadak. Sakit hebat dan
terlokalisasi pada tulang belakang yang terserang. Nyeri berkurang pada saat
istirahat di tempat tidur. Nyeri ringan pada saat bangun tidur dan akan
bertambah oleh karena melakukan aktivitas. Deformitas vertebra thorakalis yang
menyebabkan penurunan tinggi badan.
Beberapa
orang tidak perhatian dengan osteoporosis yang terjadi pada dirinya dan hanya
perhatian ketika terjadi fraktur. Fraktur dapat terjadi oleh berbagai aktivitas.
Umumnya osteoporosis berkaitan dengan fraktur termasuk vertebrata, femur
proximal dan radius distal (fraktur pregelangan tangan). Tingkatan atau gejala
klinis pada osteoporosis yang biasa terjadi adalah berkurangnya tinggi badan,
kiposis, lordosis, nyeri tulang atau patah tulang paling sering tulang rusuk,
pinggul, atau lengan/tangan. Patah tulang rusuk adalah gejala yang paling
sering terjadi dan patah tulang yang parah memungkinkan terjadinya kiposis
bahkan lordosis. Patah tulang yang akut biasanya hilang antara 2 sampai 3
bulan. Nyeri patah tulang kronik mungkin akan muncul sebagai nyeri yang dalam,
lambat dan menjengkelkan disekitar tulang yang patah.
Pemeriksaan
Diagnostik
Pemeriksaan
non-invasif yaitu; Pemeriksaan
analisis aktivasi neutron yang bertujuan untuk memeriksa kalsium total dan
massa tulang. Pemeriksaan absorpsiometri. Pemeriksaan komputer tomografi (CT).
Pemeriksaan biopsi. Pemeriksaan
biopsi yaitu bersifat invasif dan berguna untuk memberikan informasi mengenai
keadaan osteoklas, osteoblas, ketebalan trabekula dan kualitas meneralisasi
tulang. Biopsi dilakukan pada tulang sternum atau krista iliaka.
Pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan
laboratorium dilakukan melalui pemeriksaan kimia darah dan kimia urin biasanya
dalam batas normal.sehingga pemeriksaan ini tidak banyak membantu kecuali pada
pemeriksaan biomakers osteocalein (GIA protein).
Pencegahan
Pencegahan
sebaiknya dilakukan pada usia pertumbuhan atau pada dewasa muda. Hal ini
bertujuan agar, antara lain: Mencapai massa tulang dewasa proses konsolidasi
yang optimal. Mengatur makanan dan life style yang menjadi seseorang
tetap bugar seperti: Diet mengandung tinggi kalsium (1000 mg/hari). Latihan
teratur setiap hari. Hindari : Makanan tinggi protein, minum alcohol, merokok,
minum kopi, minum antasida yang mengandung aluminium.
Pengobatan
Prinsip
Pengobatan
Meningkatkan pembentukan tulang. Obat-obatan yang
dapat meningkatkan pembentukan tulang adalah Natrium fluorida dan steroid
anabolik
Menghambat resorbsi tulang. Obat-obatan yang
dapat mengahambat resorbsi tulang adalah kalsium, kalsitonin, estrogen dan
difosfonat.
Pencegahan
dan Pengobatan Non farmakologi
Harus
mempunyai keseimbangan diet dengan asupan kalsium dan vitamin D yang cukup.
Jika asupan makanan yang memadai tidak dapat dicapai, suplemen kalsium
diperlukan. Dengan aerobik dan latihan penguatan dapat mencegah keropos tulang,
kurangnya risiko jatuh dan patah tulang.
Asupan
kalsium cukup. Mempertahankan atau meningkatkan
kepadatan tulang dapat dilakukan dengan mengkonsumsi kalsium yang cukup. Minum
2 gelas susu dan vitamin D setiap hari, bisa meningkatkan kepadatan tulang pada
wanita setengah baya yang sebelumya tidak mendapatkan cukup kalsium. Sebaiknya
konsumsi kalsium setiap hari. Dosis yang dianjurkan untuk usia produktif adalah
1000 mg kalsium per hari, sedangkan untuk lansia 1200 mg per hari. Kebutuhan
kalsium dapat terpenuhi dari makanan sehari-hari yang kaya kalsium seperti ikan
teri, brokoli, tempe, tahu, keju dan kacang-kacangan.
Paparan
sinar matahari. Sinar matahari terutama UVB membantu
tubuh menghasilkan vitamin D yang dibutuhkan oleh tubuh dalam pembentukan massa
tulang. Berjemurlah dibawah sinar matahari selama 20-30 menit, 3x/minggu.
Sebaiknya berjemur dilakukan pada pagi hari sebelum jam 9 dan sore hari sesudah
jam 4. Sinar matahari membantu tubuh menghasilkan vitamin D yang dibutuhkan
oleh tubuh dalam pembentukan massa tulang (Ernawati, 2008).
Melakukan
olahraga dengan beban. Selain olahraga menggunakan alat
beban, berat badan sendiri juga dapat berfungsi sebagai beban yang dapat
meningkatkan kepadatan tulang. Olahraga beban misalnya senam aerobik, berjalan
dan menaiki tangga. Olahraga yang teratur merupakan upaya pencegahan yang
penting. Tinggalkan gaya hidup santai, mulailah berolahraga beban yang ringan,
kemudian tingkatkan intensitasnya. Yang penting adalah melakukannya dengan
teratur dan benar. Latihan fisik atau olahraga untuk penderita osteoporosis
berbeda dengan olahraga untuk mencegah osteoporosis.
Berikut
ini latihan olahraga yang boleh dilakukan oleh penderita osteoporosis : Jalan
kaki secara teratur, karena memungkinkan sekitar 4,5 km/jam selama 50 menit,
lima kali dalam seminggu. Ini diperlukan untuk mempertahankan kekuatan tulang.
Jalan kaki lebih cepat (6 km/jam) akan bermanfaat untuk jantung dan paru-paru. Latihan
beban untuk kekuatan otot, yaitu dengan mengangkat ”dumbble” kecil untuk
menguatkan pinggul, paha, punggung, lengan dan bahu. Latihan untuk meningkatkan
keseimbangan dan kesigapan. Latihan untuk melengkungkan punggung ke belakang,
dapat dilakukan dengan duduk dikursi, dengan atau tanpa penahan. Hal ini dapat menguatkan
otot-otot yang menahan punggung agar tetap tegak, mengurangi kemungkinan
bengkok, sekaligus memperkuat punggung.
Pengobatan
Farmakologi
Obat
antiresorptif : Kalsium, vitamin D dan metabolit, biofosfonat, terapi
estrogen dan hormon, modulator reseptor estrogen selektif, testosteron dan
steroid anabolik, kalsitonin.
Kalsium.
Kalsium harus dikonsumsi dalam jumlah besar untuk mencegah hiperparatiroidisme
dan kerusakan tulang. Penggunan kalsium dalam jumlah besar diketahui dapat
mencegah atau mengganti kerusakan atau kehilangan tulang pada orang dewasa.
Efek akan meningkat jika dikombinasikan.
Vitamin D dan Metabolit.
Tambahan vitamin D telah terbukti meningkatkan BMD, dan mungkin mengurangi
patah tulang. Vitamin D dalam dosis tinggi dapat menyebabkan hiperkalsemia dan hiperkalsiuria.
Bifosfonat (Actonel).
Osteoclas tidak dapat menempel pada permukaan tulang yang mengandung
bifosfonat. Bifosfonat memberikan peningkatan BMD terbesar dari agen
antiresorptif. Penggunaan bifosfonat harus hati-hati untuk menghindari efek
samping serius pada saluran pencernaan serta untuk mengoptimalkan
bioavailbilitas. Efek merugikan yang paling sering terjadi adalah, mual, nyeri
pada perut, kembung, diare, dan iritasi pada esofagus, lambung atau usus dua
belas jari, perforasi, maag atau pendarahan.
Estrogen.
Estrogen menurunkan pembentukan dan aktifitas osteoklas, menghambat sekitaran
hormon para tiroid (HPT), menaikkan kadar kalsitriol dan penyerapan kalsium
pada intestinal dan menurunkan eksresi kalsium pada ginjal. Penggunaan estrogen
secara oral dan transdermal dengan dosis yang tepat dan berkala atau bergantian
ERT/HRT memiliki efek yang sama terhadap BMD.
Modulator Reseptor Estrogen
Selektif (SERMs). Raloxifen (Evista) 60 mg per hari dapat
digunakan sebagai pencegahan dan pengobatan osteoporosis postmenopausal
(setelah menopause). Raloxifen dikontraindikasikan pada wanita penderita
tromboemboli. Efek samping lainnya adalah demam dan kram pada kaki.
Testosteron dan steroid anabolik.
Efek utamanya adalah meningkatkan penyerapan tulang, yang dapat menyebabkan
meningkatnya massa dan kekuatan otot. Perubahan BMD secara umum kecil dan pada
kebanyakan wanita menimbulkan efek samping (contohnya efek kelaki-lakian
seperti hisutism, jerawat dan suara serak).
Kalsitonin.
Kalsitonin (Miakalsin) semprot hidung, diindikasikan untuk pengobatan osteoporosis
pada wanita yang telah menopause lebih dari 5 tahun. Karena obat ini memiliki
efektifitas yang lebih sedikit dibandingkan pengobatan osteoporosis lainnya,
obat ini paling sering digunakan pada pasien dengan nyeri tulang (pengkroposan)
atau pada penderita yang tidak cocok dengan pengobatan yang lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar