Senin, 28 November 2016

Otitis Media

 
Otitis Media adalah penyakit telinga tengah yang dominan di derita anak anak. Otitis media merupakan peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid.

Patofisiologi
Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius. Saa bakteri melalui saluran eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran dan datangnya sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga. Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas.

Klasifikasi Otitis Media
Dalam klasifikasnya, Otitis media dikelompokan berdasarkan durasi penyakit yaitu Otitis media akut dan otitis media kronis, bila berdasarkan keadaan sekret maka otitis media dibedakan atas Otitis media supuratif dan otitis media non-supuratif. Namun pada umumnya otitis media dibedakan atas OMA (Otitis Media Akut), OMK (Otitis Media Kronis) dan OME (Otitis Media dengan Efusi).

Otitis Media Akut (OMA). Secara genetis, Otitis Media Akut (OMA) dapat dipengaruhi oleh bentuk tengkorak atau defek imunologis. Umur predominan antara 6-18 bulan, dan menurun pada umur 7 tahun; jarang terjadi pada orang dewasa dan selain itu OMA lebih sering di derita oleh pria daripada wanita. Otitis Media Akut (OMA) biasanya diakibatkan oleh infeksi bakteri dengan ko-infeksi virus dari saluran pernapasan atas; ditandai dengan awitan mendadak. OMA disebut kambuhan atau recurrent adalah ketika 3 atau lebih episode OMA dalam 6 bulan atau 4 atau lebih episode OMA dalam 1 tahun. Keluhan utama penderita OMA adalah otalgia atau telinga sakit. Selain itu dapat ditemukan keluhan tambahan berupa demam, demam bisa sangat tinggi mencapai 40-41°C. Selain itu terdapat penurunan pendengaran, mobilitas gendang telinga menurun (pada pemeriksaan otoskop pneumatik), membran timpani bulging, opaque, kadang tampak kekuningan atau hiperemis. Pada bayi berumur <3 tahun, keluhan yang tampak dapat berupa iritabilita, demam, bangun tengah malam, hidung berair, nafsu makan turun dan konjungtivitis. Bayi yang sudah bisa berjalan atau duduk tegak dapat kehilangan keseimbangan.

Otitis Media Efusi (OME) adalah peradangan persisten yang mengakibatkan penumpukan cairan di telinga tengah yang asimptomatis dapat diawali atau tidak dapat diawali dengan OMA. Patogenesisnya di awali dengan gangguan tuba eustachi yaitu terjadinya aerasi yang buruk pada telinga tengah dan buruknya drainase dari sekret. Kemudian, keadaan ini menghasilkan hiperaktifitas telinga tengah yang mengakibatkan akumulasi dari secret mucus. Seperti halnya OMA, OME juga merupakan masalah predominan pada anak anak. Biasanya sering terjadi pada umur dibawah lima tahun. Biasanya pada pemeriksaan timpanometri dapat kita perkirakan keadan ini. Efek tekanan dari efusi dapat mengakibatkan otalgia. Lebih jauh lagi, awitan dini dari OME dapat mengakibatkan gangguan wicara.

Otitis Media Kronis (OMK) adalah abnormalitas permanent dari membran timpani dikarenakan infeksi telinga tengah yang lama dan berkelanjutan dari fase OMA, OME atau tekanan negatif dalam telinga tengah. Dalam sejumlah buku OMK merujuk kepada otitis media kronik supuratif yaitu ketika ditemukan sekret supuratif. Dikatakan kronik adalah infeksi kronik di telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus menerus atau hilang timbul selama batasan waktu 12 minggu (menurut WHO). Otitis media kronis dapat menjadi kelanjutan dari OMA dan OME yang tidak di management dengan baik.

Otitis media supuratif kronik diklasifikasikan menjadi otitis media supuratif kronis tipe benigna dan otitis media supuratif kronis tipe maligna. Perbedaan kedua tipe tersebut tersaji dalam tabel berikut ini:
OMSK Tipe Benigna
OMSK Tipe Maligna
Proses peradangan terbatas pada mukosa
Proses peradangan tidak terbatas pada mukosa
Proses peradangan tidak mengenai tulang
Proses peradangan mengenai tulang
Perforasi membran timpani tipe sentral
Perforasi membran timpani paling sering tipe marginal dan atik. Kadang-kadang tipe sub total (sentral) dengan kolesteatoma
Jarang terjadi komplikasi yang berbahaya
Sering terjadi komplikasi yang berbahaya
Kolesteatoma tidak ada
Kolesteatoma (kerusakan tulang) ada

Gejala
Gejala umum yang harus diwaspadai adalah adanya: Demam, sakit telinga, merasa kelelahan, sedikit kehilangan indera pendengaran, dan keluar cairan dari dalam telinga.

Data Laboratorium dan Tanda-Tanda Vital
Pemerisaan fisik
Inspeksi :

Auricula
Deskuamasi
-
Otore (secret/ cairan)
+
Serumen (cairan lengket, kuning)
-
Tumor (benjolan)
-
Edema (bengkak)
-
Hiperemis (kemerahan)
-
Kelainan Kongenital
-
Benjolan pada telinga luar
-

Palpasi :

Auricula
Tragus Pain
+
Nyeri Tarik Auricula
-
Pembesaran kelenjar limfe retroaurikuler dan preaurikuler
-

Otoskopi : untuk melakukan inspeksi pada bagian telinga luar

Auricula
Laserasi Meatus Eksternus
-
Serumen
-
Otore
-
Furunkel
-
Hiperemis
+
Membrana timpani
Perforasi sentral
Sekret
+
Reflek Cahaya (cone of light)
Menghilang
Udema
+

Terapi Farmakologi

Otitis Media Akut (OMA).
Pengobatan OMA berdasarkan pengobatan simtomatis yaitu berdasarkan gejala yang dikeluhkan pasien. Lini pertama pengobatan OMA adalah menggunakan antibiotik yaitu Amoxicillin dengan dosis tinggi. Bila pasien sensitif terhadap amoksisilin, dapat digunakan azitromisin.

Lini Pertama
Amoksisilin
mekanisme kerja: merusak sintesis dinding sel bakteri.
untuk pasien dengan resiko rendah atau < 2 tahun
Anak : 20-40mg/kg/hari terbagi dalam 3 dosis
Dewasa :40mg/kg/hari terbagi dalam 3 dosis
untuk pasien dengan resiko tinggi
Anak :80mg/kg/hari terbagi dlm 2 dosis
Dewasa :80mg/kg/hari terbagi dlm 2 dosis

Lini Kedua
Amoksisilin-klavulanat
mekanisme kerja: menghambat sintesa dinding sel (klavulanat menghambat enzim beta laktam yang dapat menguraikan amoksisilin)
Anak:25-45mg/kg/hari terbagi dlm 2 dosis
Dewasa:2x875mg
Kotrimoksazol (TMX-SMX)
mekanisme kerja : sulfametoksazol menghambat sintsa asam dihidrofolat bakteri, trimetropim menghambat produksi asam tetrahidrofolat yang menghambat enzim dehidrofolat reduktase.
Anak: 6-12mg TMP/30-60mg SMX/kg/hari terbagi dlm 2 dosis
Dewasa: 2 x 1-2 tab
Cefuroksim
mekanisme kerja: menghambat sintesis dinding sel mikroba (termasuk ceftriakson, cefprozil, cefixime)
Anak: 40mg/kg/hari terbagi dlm 2 dosis
Dewasa:2 x 250-500 mg
Ceftriaxone
 Anak: 50mg/kg; max 1 g;i.m.
Cefprozil
Anak: 30mg/kg/hari terbagi dlm 2 dosis
Dewasa: 2 x 250-500mg
Cefixime
Anak:8mg/kg/hari terbagi dlm 1-2 dosis
Dewasa: 2 x 200mg

CATATAN
Terapi OMA tergantung stadium penyakit, yaitu :
Stadium oklusi. Tujuan terapi dikhususkan untuk membuka kembali tuba eustachius. Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0,5% dalam larutan fidiologik untuk anak < 12 tahun dan HCl efedrin 1% dalam larutan fisiolofik untuk anak yang berumur > 12 tahun atau dewasa. Selain itu, sumber infeksi juga harus diobati dengan memberikan antibiotik.

Stadium hiperemis (presupurasi), diberikan antibiotik, obat tetes hidung, dan analgesic. Bila membrane timpani sudah hiperemi difus, sebaiknya dilakukan miringotomi. Antibiotic yang diberikan ialah penisilin atau eritromisin. Jika terdapat resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan asam klavunalat atau sefalosoprin. Untuk terapi awal diberikan penisilin IM agar konsentrasinya adekuat di dalam darah. Antibiotic diberikan minimal selama 7 hari. Pada anak diberikan ampisilin 4×50-100 mg/kgBB, amoksisilin 4×40 mg/kgBB/hari, atau eritromisin 4×40 mg/kgBB/hari.

Stadium supurasi. Selain antibiotic, pasien harus dirujuk untuk dilakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh. Selain itu, analgesik juga perlu diberikan agar nyeri dapat berkurang.

Stadium perforasi. Diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu.

Stadium resolusi. Biasanya akan tampak secret mengalir keluar. Pada keadaan ini dapat dilanjutkan antibiotik sampai 3 minggu, namun bila masih keluar secret diduga telah terjadi mastoiditis.

Otitis Media Efusi (OME)
Anak-anak dengan OME tidak seharusnya diberi antibiotik. Terapi penunjang dengan analgesik dan antipiretik memberikan kenyamanan khususnya pada anak. Terapi penunjang lain dengan menggunakan dekongestan, antihistamin, dan kortikosteroid pada otitis media akut tidak direkomendasikan, mengingat tidak memberikan keuntungan namun justru meningkatkan risiko efek samping. Dekongestan dan antihistamin hanya direkomendasikan bila ada peran alergi yang dapat berakibat kongesti pada saluran napas atas. Sedangkan kortikosteroid oral mampu mengurangi efusi pada otitis media kronik lebih baik daripada antibiotika tunggal. Penggunaan Prednisone 2x5mg selama 7 hari bersama-sama antibiotika efektif menghentikan efusi.

Otitis Media Kronik (OMSK)
Pada OMSK benigna diusahakan epitelisasi tepi perforasi melalui tindakan poliklinik dengan melukai pinggir perforasi secara tajam atau dengan mengoleskan zat kaustik seperti nitras argenti 25%, asam trichlor asetat 12%, alkohol absolut, dll. Dalam pemilihan antibiotik harus diingat: pada OMSK telah terjadi perubahan yang menetap, resolusi spontan sangat sulit terjadi dan biasanya ada gangguan vaskularisasi di telinga tengah sehingga antibiotik sistemik sukar mencapai sasaran dengan optimal. Obat tetes antibiotik dapat dipakai sebagai lini pertama dan obat tunggal. Keuntungannya adalah memberi dosis adekuat, tetapi penggunaannya harus ototoksik bila masuk ke telinga dalam, karena itu tidak dianjurkan pemakaian lebih dari dua minggu. Obat tetes telinga jenis Ofloxacin terbukti aman, tidak toksik terhadap labirin, efektif sebagai obat tunggal, sehingga direkomendasikan sebagai obat lini pertama untuk dewasa dan anak-anak.

Pada OMSK tipe Maligna pengobatan yang harus dilakukan adalah dengan operasi untuk eradikasi kolesteatoma. Teknik operasi yang dipilih tergantung luas kerusakan dan pilihan ahli bedah. Tindakan atikotomi anterior dipilih apabila kolesteatoma masih sangat terbatas di atik. Bila kolesteatoma tidak dapat dibersihkan secara total dengan tindakan tersebut, dapat dipilih berbagai variasi tehnik eradikasi kolesteatoma, biasanya diikuti dengan rekonstruksi fungsi pendengaran pada saat yang sama.

Aturan pemberian obat tetes hidung :
Bahan. HCl efedrin 0,5% dalam larutan fisiologis untuk anak berusia dibawah 12 tahun. HCl efedrin 1% dalam larutan fisiologis untuk anak berusia diatas 12 tahun dan orang dewasa.

Tujuan. Untuk membuka kembali tuba Eustachius yang tersumbat sehingga tekanan negatif dalam telinga tengah akan hilang.

Aturan pemberian obat cuci telinga :
Bahan: Berikan H2O22 3% selama 3-5 hari.
Efek: Bersama pemberian antibiotik yang adekuat, sekret akan hilang dan perforasi membran  timpani akan menutup kembali dalam 7-10 hari

KIE Spesifik untuk Penyakit
Pasien disarankan untuk menjaga agar liang telinga tidak kemasukan air saat mandi, yang bisa dilakukan dengan menggunakan kapas. Menjaga kebersihan telinga dengan menjaga telinga tetap kering. Mencegah tertular ISPA karena dapat menjadi predisposisi terjadinya OMSK berulang. Kontrol rutin ke poliklinik THT dan minum obat sesuai anjuran dokter. Menjaga kebersihan lingkungan sekitar, lingkungan rumah dan kerja. Makan makanan bergizi, olahraga dan cukup istirahat untuk menjaga kondisi optimal tubuh sehingga tidak mudah terjadi infeksi.

KIE Penggunaan Obat
Dikarenakan pasien otitis media mayoritas adalah anak-anak maka disarankan kepada orang tua untuk rutin memberikan obat sesuai petunjuk dokter. Untuk antibiotika, diminum pada jam dan dosis yang sama tiap kali minum dan dihabiskan. Penggunaan analgesik adalah p.r.n, maka dibutuhkan komunikasi yang baik antara anak dengan orang tua untuk meningkatkan kesembuhan. Hindari kortikosteroid pada pasien dengan OME terutama untuk pasien anak-anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar