Otitis Media
adalah penyakit telinga tengah yang dominan di derita anak anak. Otitis media
merupakan peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba
Eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid.
Patofisiologi
Otitis media sering
diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek
yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius. Saa bakteri melalui
saluran eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut
sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran dan
datangnya sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan
membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya
terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan
sekitar saluran eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di
telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga. Jika lendir dan nanah
bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan
tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di
telinga dalam tidak dapat bergerak bebas.
Klasifikasi
Otitis Media
Dalam klasifikasnya, Otitis media dikelompokan
berdasarkan durasi penyakit yaitu Otitis media akut dan otitis media kronis, bila
berdasarkan keadaan sekret maka otitis media dibedakan atas Otitis media
supuratif dan otitis media non-supuratif. Namun pada umumnya otitis media
dibedakan atas OMA (Otitis Media Akut), OMK (Otitis Media Kronis) dan OME
(Otitis Media dengan Efusi).
Otitis Media
Akut (OMA). Secara genetis, Otitis Media Akut (OMA) dapat
dipengaruhi oleh bentuk tengkorak atau defek imunologis. Umur predominan antara
6-18 bulan, dan menurun pada umur 7 tahun; jarang terjadi pada orang dewasa dan
selain itu OMA lebih sering di derita oleh pria daripada wanita. Otitis Media
Akut (OMA) biasanya diakibatkan oleh infeksi bakteri dengan ko-infeksi virus
dari saluran pernapasan atas; ditandai dengan awitan mendadak. OMA disebut
kambuhan atau recurrent adalah ketika 3 atau lebih episode OMA dalam 6 bulan
atau 4 atau lebih episode OMA dalam 1 tahun. Keluhan utama penderita OMA adalah
otalgia atau telinga sakit. Selain itu dapat ditemukan keluhan tambahan berupa
demam, demam bisa sangat tinggi mencapai 40-41°C. Selain itu terdapat penurunan
pendengaran, mobilitas gendang telinga menurun (pada pemeriksaan otoskop
pneumatik), membran timpani bulging, opaque, kadang tampak kekuningan atau
hiperemis. Pada bayi berumur <3 tahun, keluhan yang tampak dapat berupa
iritabilita, demam, bangun tengah malam, hidung berair, nafsu makan turun dan
konjungtivitis. Bayi yang sudah bisa berjalan atau duduk tegak dapat kehilangan
keseimbangan.
Otitis Media
Efusi (OME) adalah peradangan persisten yang mengakibatkan
penumpukan cairan di telinga tengah yang asimptomatis dapat diawali atau tidak
dapat diawali dengan OMA. Patogenesisnya di awali dengan gangguan tuba eustachi
yaitu terjadinya aerasi yang buruk pada telinga tengah dan buruknya drainase
dari sekret. Kemudian, keadaan ini menghasilkan hiperaktifitas telinga tengah
yang mengakibatkan akumulasi dari secret mucus. Seperti halnya OMA, OME juga
merupakan masalah predominan pada anak anak. Biasanya sering terjadi pada umur
dibawah lima tahun. Biasanya pada pemeriksaan timpanometri dapat kita
perkirakan keadan ini. Efek tekanan dari efusi dapat mengakibatkan otalgia.
Lebih jauh lagi, awitan dini dari OME dapat mengakibatkan gangguan wicara.
Otitis Media Kronis (OMK) adalah
abnormalitas permanent dari membran timpani dikarenakan infeksi telinga tengah
yang lama dan berkelanjutan dari fase OMA, OME atau tekanan negatif dalam
telinga tengah. Dalam sejumlah buku OMK merujuk kepada otitis media kronik
supuratif yaitu ketika ditemukan sekret supuratif. Dikatakan kronik adalah
infeksi kronik di telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan sekret
yang keluar dari telinga tengah terus menerus atau hilang timbul selama batasan
waktu 12 minggu (menurut WHO). Otitis media kronis dapat menjadi kelanjutan
dari OMA dan OME yang tidak di management dengan baik.
Otitis
media supuratif kronik diklasifikasikan menjadi otitis media supuratif kronis
tipe benigna dan otitis media supuratif kronis tipe maligna. Perbedaan kedua
tipe tersebut tersaji dalam tabel berikut ini:
OMSK Tipe Benigna
|
OMSK Tipe Maligna
|
Proses
peradangan terbatas pada mukosa
|
Proses
peradangan tidak terbatas pada mukosa
|
Proses
peradangan tidak mengenai tulang
|
Proses
peradangan mengenai tulang
|
Perforasi
membran timpani tipe sentral
|
Perforasi
membran timpani paling sering tipe marginal dan atik. Kadang-kadang tipe sub
total (sentral) dengan kolesteatoma
|
Jarang
terjadi komplikasi yang berbahaya
|
Sering
terjadi komplikasi yang berbahaya
|
Kolesteatoma
tidak ada
|
Kolesteatoma
(kerusakan tulang) ada
|
Gejala
Gejala umum yang
harus diwaspadai adalah adanya: Demam, sakit telinga, merasa
kelelahan, sedikit kehilangan indera pendengaran, dan keluar cairan dari dalam
telinga.
Data
Laboratorium dan Tanda-Tanda Vital
Pemerisaan fisik
Inspeksi :
Auricula
|
|
Deskuamasi
|
-
|
Otore (secret/ cairan)
|
+
|
Serumen (cairan lengket, kuning)
|
-
|
Tumor (benjolan)
|
-
|
Edema (bengkak)
|
-
|
Hiperemis (kemerahan)
|
-
|
Kelainan Kongenital
|
-
|
Benjolan pada telinga luar
|
-
|
Palpasi :
Auricula
|
|
Tragus Pain
|
+
|
Nyeri Tarik Auricula
|
-
|
Pembesaran kelenjar limfe retroaurikuler dan preaurikuler
|
-
|
Otoskopi
: untuk melakukan inspeksi pada bagian telinga luar
Auricula
|
|
Laserasi
Meatus Eksternus
|
-
|
Serumen
|
-
|
Otore
|
-
|
Furunkel
|
-
|
Hiperemis
|
+
|
Membrana
timpani
|
Perforasi
sentral
|
Sekret
|
+
|
Reflek
Cahaya (cone of light)
|
Menghilang
|
Udema
|
+
|
Terapi
Farmakologi
Otitis
Media Akut (OMA).
Pengobatan OMA
berdasarkan pengobatan simtomatis yaitu berdasarkan gejala yang dikeluhkan
pasien. Lini pertama pengobatan OMA adalah menggunakan antibiotik yaitu
Amoxicillin dengan dosis tinggi. Bila pasien sensitif terhadap amoksisilin,
dapat digunakan azitromisin.
Lini
Pertama
Amoksisilin
mekanisme
kerja: merusak sintesis dinding sel bakteri.
untuk
pasien dengan resiko rendah atau < 2 tahun
Anak
: 20-40mg/kg/hari terbagi dalam 3 dosis
Dewasa
:40mg/kg/hari terbagi dalam 3 dosis
untuk
pasien dengan resiko tinggi
Anak
:80mg/kg/hari terbagi dlm 2 dosis
Dewasa
:80mg/kg/hari terbagi dlm 2 dosis
Lini
Kedua
Amoksisilin-klavulanat
mekanisme
kerja: menghambat sintesa dinding sel (klavulanat menghambat enzim beta laktam
yang dapat menguraikan amoksisilin)
Anak:25-45mg/kg/hari
terbagi dlm 2 dosis
Dewasa:2x875mg
Kotrimoksazol (TMX-SMX)
mekanisme
kerja : sulfametoksazol menghambat sintsa asam dihidrofolat bakteri,
trimetropim menghambat produksi asam tetrahidrofolat yang menghambat enzim
dehidrofolat reduktase.
Anak:
6-12mg TMP/30-60mg SMX/kg/hari terbagi dlm 2 dosis
Dewasa:
2 x 1-2 tab
Cefuroksim
mekanisme
kerja: menghambat sintesis dinding sel mikroba (termasuk ceftriakson,
cefprozil, cefixime)
Anak:
40mg/kg/hari terbagi dlm 2 dosis
Dewasa:2
x 250-500 mg
Ceftriaxone
Anak: 50mg/kg; max 1 g;i.m.
Cefprozil
Anak:
30mg/kg/hari terbagi dlm 2 dosis
Dewasa:
2 x 250-500mg
Cefixime
Anak:8mg/kg/hari
terbagi dlm 1-2 dosis
Dewasa:
2 x 200mg
CATATAN
Terapi OMA tergantung stadium penyakit, yaitu :
Stadium
oklusi. Tujuan
terapi dikhususkan untuk membuka kembali tuba eustachius. Diberikan obat tetes
hidung HCl efedrin 0,5% dalam larutan fidiologik untuk anak < 12 tahun dan
HCl efedrin 1% dalam larutan fisiolofik untuk anak yang berumur > 12 tahun
atau dewasa. Selain itu, sumber infeksi juga harus diobati dengan memberikan
antibiotik.
Stadium
hiperemis (presupurasi), diberikan
antibiotik, obat tetes hidung, dan analgesic. Bila membrane timpani sudah
hiperemi difus, sebaiknya dilakukan miringotomi. Antibiotic yang diberikan
ialah penisilin atau eritromisin. Jika terdapat resistensi, dapat diberikan
kombinasi dengan asam klavunalat atau sefalosoprin. Untuk terapi awal diberikan
penisilin IM agar konsentrasinya adekuat di dalam darah. Antibiotic diberikan
minimal selama 7 hari. Pada anak diberikan ampisilin 4×50-100 mg/kgBB,
amoksisilin 4×40 mg/kgBB/hari, atau eritromisin 4×40 mg/kgBB/hari.
Stadium
supurasi. Selain antibiotic, pasien harus dirujuk untuk dilakukan miringotomi
bila membran timpani masih utuh. Selain itu, analgesik juga perlu diberikan
agar nyeri dapat berkurang.
Stadium
perforasi. Diberikan obat cuci
telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu.
Stadium
resolusi. Biasanya akan tampak
secret mengalir keluar. Pada keadaan ini dapat dilanjutkan antibiotik sampai 3
minggu, namun bila masih keluar secret diduga telah terjadi mastoiditis.
Otitis
Media Efusi (OME)
Anak-anak
dengan OME tidak seharusnya diberi antibiotik. Terapi penunjang dengan
analgesik dan antipiretik memberikan kenyamanan khususnya pada anak. Terapi
penunjang lain dengan menggunakan dekongestan, antihistamin, dan kortikosteroid
pada otitis media akut tidak direkomendasikan, mengingat tidak memberikan
keuntungan namun justru meningkatkan risiko efek samping. Dekongestan dan
antihistamin hanya direkomendasikan bila ada peran alergi yang dapat berakibat
kongesti pada saluran napas atas. Sedangkan kortikosteroid oral mampu
mengurangi efusi pada otitis media kronik lebih baik daripada antibiotika
tunggal. Penggunaan Prednisone 2x5mg selama 7 hari bersama-sama antibiotika
efektif menghentikan efusi.
Otitis Media Kronik (OMSK)
Pada
OMSK benigna diusahakan epitelisasi tepi perforasi melalui tindakan poliklinik
dengan melukai pinggir perforasi secara tajam atau dengan mengoleskan zat
kaustik seperti nitras argenti 25%, asam trichlor asetat 12%, alkohol absolut,
dll. Dalam pemilihan antibiotik harus diingat: pada OMSK telah terjadi
perubahan yang menetap, resolusi spontan sangat sulit terjadi dan biasanya ada
gangguan vaskularisasi di telinga tengah sehingga antibiotik sistemik sukar
mencapai sasaran dengan optimal. Obat tetes antibiotik dapat dipakai sebagai
lini pertama dan obat tunggal. Keuntungannya adalah memberi dosis adekuat,
tetapi penggunaannya harus ototoksik bila masuk ke telinga dalam, karena itu
tidak dianjurkan pemakaian lebih dari dua minggu. Obat tetes telinga jenis
Ofloxacin terbukti aman, tidak toksik terhadap labirin, efektif sebagai obat
tunggal, sehingga direkomendasikan sebagai obat lini pertama untuk dewasa dan
anak-anak.
Pada
OMSK tipe Maligna pengobatan yang harus dilakukan adalah dengan operasi untuk
eradikasi kolesteatoma. Teknik operasi yang dipilih tergantung luas kerusakan
dan pilihan ahli bedah. Tindakan atikotomi anterior dipilih apabila
kolesteatoma masih sangat terbatas di atik. Bila kolesteatoma tidak dapat
dibersihkan secara total dengan tindakan tersebut, dapat dipilih berbagai
variasi tehnik eradikasi kolesteatoma, biasanya diikuti dengan rekonstruksi
fungsi pendengaran pada saat yang sama.
Aturan pemberian obat tetes hidung :
Bahan. HCl efedrin 0,5% dalam larutan
fisiologis untuk anak berusia dibawah 12 tahun. HCl efedrin 1% dalam larutan
fisiologis untuk anak berusia diatas 12 tahun dan orang dewasa.
Tujuan. Untuk membuka kembali tuba
Eustachius yang tersumbat sehingga tekanan negatif dalam telinga tengah akan
hilang.
Aturan pemberian obat cuci telinga :
Bahan: Berikan H2O22 3% selama 3-5 hari.
Efek:
Bersama pemberian antibiotik yang adekuat, sekret akan hilang dan perforasi
membran timpani akan menutup kembali dalam 7-10 hari
KIE
Spesifik untuk Penyakit
Pasien
disarankan untuk menjaga agar liang telinga tidak kemasukan air saat mandi,
yang bisa dilakukan dengan menggunakan kapas. Menjaga kebersihan telinga dengan
menjaga telinga tetap kering. Mencegah tertular ISPA karena dapat menjadi
predisposisi terjadinya OMSK berulang. Kontrol rutin ke poliklinik THT dan
minum obat sesuai anjuran dokter. Menjaga kebersihan lingkungan sekitar,
lingkungan rumah dan kerja. Makan makanan bergizi, olahraga dan cukup istirahat
untuk menjaga kondisi optimal tubuh sehingga tidak mudah terjadi infeksi.
KIE
Penggunaan Obat
Dikarenakan
pasien otitis media mayoritas adalah anak-anak maka disarankan kepada orang tua
untuk rutin memberikan obat sesuai petunjuk dokter. Untuk antibiotika, diminum
pada jam dan dosis yang sama tiap kali minum dan dihabiskan. Penggunaan
analgesik adalah p.r.n, maka dibutuhkan komunikasi yang baik antara anak dengan
orang tua untuk meningkatkan kesembuhan. Hindari kortikosteroid pada pasien
dengan OME terutama untuk pasien anak-anak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar