Glaukoma berasal dari
kata yunani “glaukos” yang berarti hijau kebiruan, yang memberikan kesan warna
tersebut pada pupil penderita glaukoma. Glaukoma adalah gangguan mata yang
ditandai dengan perubahan pada saraf optik dan oleh hilangnya sensitivitas
visual dan jarak pandang. Glaukoma terjadi karena peningkatan tekanan intra
okuler (TIO) yang dapat disebabkan oleh bertambahnya produksi aqueous humor
oleh badan silia ataupun berkurangnya pengeluaran aqueous humor didaerah sudut
bilik mata atau di celah pupil. Tekanan intra okuler adalah keseimbanagan
antara produksi aqueous humor dan hambatan terhadap aliran aqueos serta tekanan
vena episklera. Ketidakseimbangan antara ketiga hal tersebut dapat menyebabkan
tekanan intra okuler. Peningkatan tekanan intraoculer terjadi karena sumbatan
aliran keluar aqueous akibat adanya oklusi anyaman trabekuluar oleh iris
perifer.
Berdasarkan mekanisme peningkatan tekanan intraokuli,
glaukoma dapat diklasifikasikan menjadi glaukoma sudut terbuka dan glaukoma sudut
tertutup. Glaukoma sudut terbuka merupakan gangguan aliran keluar aqueous
humor akibat kelainan sistem drainase sudut bilik mata depan. Sedangkan
glaucoma sudut tertutup adalah gangguan akses aqueous humor ke sistem
drainase (Salmon,2009). Glaukoma sudut terbuka terdiri dari kelainan pada
membran pratrabekular (seperti glaukoma neovaskular dan sindrom Irido
Corneal Endothelial), kelainan trabekular (seperti glaukoma sudut terbuka
primer, kongenital, pigmentasi dan akibat steroid) dan kelainan pascatrabekular
karena peningkatan tekanan episklera. Sedangkan glaukoma sudut tertutup terdiri
dari glaukoma sudut tertutup primer, sinekia, intumesensi lensa, oklusi vena
retina sentralis, hifiema, dan iris bombé (Salmon, 2009).
Glaukoma mengacu pada sekelompok kondisi mata,
yang menyebabkan kerusakan progresif pada saraf optik, kematian ganglion retina
sel (RGC), dan kerusakan karakteristik untuk bidang visual, glaukoma terkait
dengan peningkatan intraokular (Kolko, 2015). Normal-tension glaucoma atau biasa disebut juga low-tension glaucoma merupakan keadaan di mana terjadi kerusakan
optik saraf dan penurunan tajam penglihatan yang merupakan gejala dari
glaukoma, namun dengan tekanan intraokular
normal (jacobs, 2015).
Patofisiologi
Glaukoma sudut
terbuka. Glaukoma yang sering ditemukan adalah glaukoma sudut
terbuka. Glaukoma sudut terbuka terjadi karena pembendungan terhadap aliran
keluar aqueous humor, sehingga menyebabkan penimbunan. Hal ini dapat
memicu proses degenerasi trabecular meshwork, termasuk pengendapan
materi ekstrasel di dalam anyaman dan di bawah lapisan endotel kanalis Schlemm
(Salmon, 2009). Mekanisme kerusakan neuron pada glaukoma sudut terbuka dan
hubungannya dengan tingginya tekanan intraokular masih belum begitu jelas. Teori
utama memperkirakan bahwa adanya perubahan-perubahan elemen penunjang
struktural akibat tingginya tekanan intraokular di saraf optikus, setinggi
dengan lamina kribrosa atau pembuluh darah di ujung saraf optikus (Friedman dan
Kaiser, 2007). Teori lainnya memperkirakan terjadi iskemia pada mikrovaskular
diskus optikus (Kanski, 2007). Kelainan kromosom 1q-GLC1A (mengekspresikan
myocilin) juga menjadi faktor predisposisi (Kwon et al, 2009).
Glaukoma Sudut Tertutup. Glaukoma sudut
tertutup terjadi apabila terbentuk sumbatan sudut kamera anterior oleh iris
perifer. Hal ini menyumbat aliran aqueous humor dan tekanan intraokular
meningkat dengan cepat, menimbulkan nyeri hebat, kemerahan, dan penglihatan
yang kabur. Serangan akut sering dipresipitasi oleh dilatasi pupil, yang
terjadi spontan di malam hari, saat pencahayaan kurang (Salmon, 2009). Glaukoma Sudut Tertutup Akut
Pada glaukoma sudut
tertutup akut terjadi peningkatan tekanan bola mata dengan tiba-tiba akibat
penutupan pengaliran keluar aqueous humor secara mendadak. Ini
menyebabkan rasa sakit hebat, mata merah, kornea keruh dan edematus,
penglihatan kabur disertai halo (pelangi disekitar lampu). Glaukoma sudut
tertutup akut merupakan suatu keadaan darurat (Salmon, 2009). Glaukoma Sudut Tertutup Kronis. Pada glaukoma tertutup kronis,
iris berangsur-angsur menutupi jalankeluar tanpa gejala yang nyata, akibat
terbentuknya jaringan parut antara iris dan jalur keluar aqueous humor.
Glaukoma sudut tertutup biasanya bersifat herediter dan lebih sering pada hipermetropia.
Pada pemeriksaan didapatkan bilik mata depan dangkal dan pada gonioskopi
terlihat iris menempel pada tepi kornea
(Salmon, 2009).
Glaukoma Kongenital. Glaukoma kongenital
adalah bentuk glaukoma yang jarang ditemukan. Glaukoma ini disebabkan oleh
kelainan perkembangan struktur anatomi mata yang menghalangi aliran keluar aqueous
humor. Kelainan tersebut antara lain anomali perkembangan segmen anterior
dan aniridia (iris yang tidak berkembang). Anomali perkembangan segmen anterior
dapat berupa sindromRieger/ disgenesis iridotrabekula, anomali Peters/
trabekulodisgenesis iridokornea, dan sindrom Axenfeld (Salmon, 2009).
Glaukoma Sekunder. Glaukoma sekunder
merupakan glaukoma yang timbul akibat adanya penyakit mata yang mendahuluinya.
Beberapa jenis glaukoma sekunder antara lain glaukoma pigmentasi,
pseudoeksfoliasi, dislokasi lensa, intumesensi lensa, fakolitik, uveitis,
melanoma traktus uvealis, neovaskular, steroid, trauma dan peningkatan tekanan
episklera (Salmon, 2009).
Glaukoma Tekanan-Normal. Beberapa pasien dapat
mengalami glaukoma tanpa mengalami peningkatan tekanan intraokuli, atau tetap
dibawah 21 mmHg. Patogenesis yang mungkin adalah kepekaan yang abnormal
terhadap tekanan intraokular karena kelainan vaskular atau mekanis di kaput
nervus optikus, atau bisa juga murni karena penyakit vaskular. Glaukoma jenis
ini sering terjadi di Jepang. Secara genetik, keluarga yang memiliki glaukoma
tekanan-normal memiliki kelainan pada gen optineurin kromosom 10. Sering pula
dijumpai adanya perdarahan diskus, yang menandakan progresivitas penurunan
lapangan pandang (Salmon,2009).
Gejala
Sebagian besar kasus
glaukoma awal tidak memberikan gejala yang berarti bahkan asimptomatik, kalaupun ada gejala biasanya
hanya berupa rasa tidak enak di mata, pegal-pegal di mata atau sakit kepala
separuh yang ringan. Gejala-gejala
tersebut tidak menyebabkan penderita memeriksakan ke dokter atau paramedis,
sehingga sulit untuk menemukan pasien dengan glaukoma stadium awal. Gejala dan tanda yang lebih spesifik
tergantung dari jenis glaukoma, seperti berikut :
Glaukoma primer sudut terbuka. Gejala
awal : mungkin tanpa gejala, rasa lelah pada mata, rasa pegal pada mata,
fluktuasi tajam penglihatan, dan kadang-kadang melihat seperti pelangi sekitar
lampu. Gejala lanjut: penyempitan
lapang pandang – buta.
Glaukoma primer sudut tertutup. Gejala
akut : rasa sakit berat (cekot-cekot) di mata, dapat sampai sakit kepala dan
muntah-muntah, mata merah, berair, dan penglihatan kabur. Gejala kronik: gejala hampir sama dengan yang akut tetapi rasa
sakit, merah dan kabur dapat hilang dengan sendirinya, dan terjadi serangan
berulang beberapa kali. Biasanya rasa sakit kurang berat dibandingkan dengan
yang akut.
Low tension glaucoma/Normotension glaucoma. Keadaan ini mempunyai gejala dan tanda seperti glaukoma primer
sudut terbuka. Tanda yang spesifik terdapat glaukoma dengan tekanan tidak
tinggi, mungkin hanya sekitar 20 mmHg atau di bawahnya, terdapat kerusakan
papil saraf optik dan kelainan lapang pandang yang berakibat kerusakan karena
tekanan tinggi, dan pada pemeriksaan OCT terdapat penipisan serabut saraf.
Glaukoma sekunder. Gejala
tergantung kecepatan kenaikan TIO, jika kenaikan TIO terjadi perlahan-lahan
maka tidak menimbulkan gejala yang nyata. Jika TIO naik dengan cepat dan tinggi
maka dapat terjadi gejala seperti penglihatan kabur, mata merah, dan rasa sakit
di mata dan sakit kepala.
Glaukoma kongenital. Gejala dan
tanda dapat terlihat pada saat lahir atau pada tahun awal kehidupan seperti
fotofobia/takut sinar dan mata berair.
Diagnosis
Pemeriksaan Tonometri. Pemeriksaan tekanan
intraokuli dapat dilakukan dengan menggunakan tonometri. Yang sering
dipergunakan adalah tonometri aplanasi Goldmann, yang dilekatkan ke slitlamp
dan mengukur gaya yang diperlukan untuk meratakan daerah kornea tertentu.
Rentang tekanan intraokuli yang normal adalah 10-21mmHg. Namun, pada usia yang
lebih tua tekanan intraokulinya lebih tinggi sehingga batas atasnya adalah 24
mmHg. Pada glaukoma sudut terbuka primer, 32-50% individu yang terkena akan
menunjukkan tekanan intraokular yang normal saat pertama kali diperiksa,
sehingga diperlukan pula pemeriksaan diskus optikus glaukomatosa ataupun
pemeriksaan lapangan pandang (Salmon, 2009).
Pemeriksaan Gonioskopi. Pada pemeriksaan
gonioskopi, dapat dilihat struktur sudut bilik mata depan. Lebar sudut bilik
mata depan dapat diperkirakan dengan pencahayaan oblik bilik mata depan.
Apabila keseluruhan trabecular meshwork, scleral spurdan prosesus
siliaris dapat terlihat, sudut dinyatakan terbuka. Apabila hanya Schwalbe’s line
atau sebagian kecil dari trabecular meshwork yang dapat terlihat,
dinyatakan sudut sempit. Apabila Schwalbe’s line tidak terlihat, sudut
dinyatakan tertutup (Salmon, 2009).
Penilaian Diskus Optikus. Diskus optikus normal
memiliki cekungan di bagian tengahnya (depresi sentral). Atrofi optikus akibat
glaukoma menimbulkan kelainan-kelainan diskus khas yang terutama ditandai oleh
pembesaran cawan diskus optikus dan pemucatan diskus di daerah cawan. Selain
itu, dapat pula disertai pembesaran konsentrik cawan optik atau pencekungan (cupping)
superior dan inferior dan disertai pembentukan takik (notching) fokal di
tepi diskus optikus. Kedalaman cawan optik juga meningkat karena lamina
kribrosa tergeser ke belakang danterjadi pergeseran pembuluh darah di retina ke
arah hidung. Hasil akhirnya adalah cekungan bean-pot, yang tidak
memperlihatkan jaringan saraf di bagian tepinya(Salmon, 2009).Pada penilaian
glaukoma, rasio cawan-diskus adalah cara yang bergunauntuk mencatat ukuran
diskus optikus. Apabila terdapat kehilangan lapanganpandang atau peningkatan
tekanan intraokuli, rasio cawan-diskus lebih dari 0,5atau terdapat asimetri
yang bermakna antara kedua mata sangat diindikasikanadanya atrofi glaukomatosa
(Salmon, 2009).
Pemeriksaan Lapangan Pandang. Gangguan lapangan
pandang akibat glaukoma terutama mengenai 30 derajat lapangan pandang bagian
sentral. Perubahan paling dini adalah semakinnyatanya bintik buta. Perluasan
akan berlanjut ke lapangan pandang Bjerrum (15derajat dari fiksasi) membentuk
skotoma Bjerrum, kemudian skotoma arkuata.Daerah-daerah penurunan lapangan
pandang yang lebih parah di dalam daerahBjerrum dikenal sebagai skotoma Seidel.
Skotoma arkuata ganda di atas dan dibawah meridian horizontal, sering disertai
oleh nasal step (Roenne) karenaperbedaan ukuran kedua defek arkuata tersebut.
Pengecilan lapangan pandangcenderung berawal di perifer nasal sebagai
konstriksi isopter. Selanjutnya,mungkin terdapat hubungan ke defek arkuata,
menimbulkan breakthrough perifer.Lapangan pandang perifer temporal dan
5-10 derajat sentral baru terpengaruhpada stadium lanjut penyakit. Pada stadium
akhir, ketajaman penglihatan sentralmungkin normal tetapi hanya 5 derajat
lapangan pandang (Salmon, 2009).Alat-alat yang dapat digunakan untuk melakukan
pemeriksaan lapanganpandang pada glaukoma adalah automated perimeter (misalnya
Humphrey)
Terapi Farmakologi
Parasimpatomimetik,
Kolinergik agonis
Mekanisme kerja: karbakol bekerja secara langsung
sebagai obat parasimpatomimetik yang menyebabkan terjadinya konstriksi pupil,
menstimulasi otot siliari, dan meningkatkan aliran aqueous humor sehingga
menurunkan tekanan pada intraokular.
Data farmakokinetik Karbakol dan
pilokarpin
Miotik
|
Onset
|
Puncak
|
Durasi
|
Karbakol
|
|||
·
Intra okular
|
Detik
|
2-5 menit
|
1-2 jam
|
·
Topikal
|
10-20 menit
|
-
|
4-8 jam
|
Pilokarpin
|
|||
·
Topikal
|
10-30 menit
|
-
|
4-8 jam
|
Karbakol. Karbakol adalah
derivat-uretan dari kolin yang penguraiannya oleh enzim tidak secepat Ach,
sehingga kerjanya lebih lama. Khasiat muskarinik dan nikotiniknya sama kuatnya,
efek samping lebih ringan dan jarang terjadi pada dosis biasa. Digunakan
sebagai miotikum pada glaukoma dan pada atonia organ dalam. Indikasi: Menurunkan tekanan intraokuler. Efek samping: Bradikardia, hipersalivasi,
bronko-spasme, berkeringat dan kolik usus setelah penyerapan sistemik. Sediaan
beredar: Isotic Litrapres
(Pratapa Nirmala)
Pilokarpin. Merupakan suatu
alkaloid yang terdapat pada daun tanaman Amerika, Pilocarpus jaborandi. Khasiatnya terutama berkhasiat muskarinik,
efek nikotiniknya ringan sekali. SSP permulaan distimulasi kemudian ditekan
aktivitasnya. Penggunaan utamanya adalah sebagai miotikum pada glaukoma. Efek
miotisnya (dalam tetes mata dimulai sesudah 10-30 menit dan bertahan 4-8 jam). Toleransi dapat
terjadi setelah digunakan untuk waktu yang lama yang dapat ditanggulangi dengan
jalan menggunakan kolinergik lain untuk beberapa waktu, misalnya karbakol atau
neostigmin. Indikasi: Mengendalikan tekanan intraokuler. Efek samping: Bradikardia, hipersalivasi,
bronkospasme, berkeringat dan kolik usus setelah penyerapan sistemik. Sediaan yang beredar:
Epikarpin, (Cendo), Cendokarpin
(Cendo), Ximex Opticar (Konimek), PV Carpine (Darya Varia).
Dosis agonis kolinergik kerja langsung
Agonis kolinergik kerja
langsung
|
Bentuk sediaan
|
Dosis
|
Karbakol
|
Larutan 0,75; 1,5; 2,25; 3%
|
2-3 x 1 tetes perhari
|
Pilokarpin
|
Larutan 0,25; 0,5; 1; 2; 4; 8;
10
|
1 tetes 2-3 x
|
Senyawa penghambat β-adrenergik
Mekanisme kerja antihipertensif okular belum diketahui
secara pasti tapi diduga menurunkan produksi cairan mata.
Data farmakokinetika β-bloker untuk penanganan
glaukoma
Obat
|
Selektifitas pada reseptor β
|
Onset (menit)
|
Efek maksimum
|
Durasi (jam)
|
Betaksolol
|
Β1
|
≤ 30 menit
|
2
|
12
|
Levobunolol
|
Β1 dan β2
|
≤ 60 menit
|
2-6
|
≤ 24
|
Metilpranolol
|
Β1 dan β2
|
≤ 30 menit
|
≈ 2
|
24
|
Timolol
|
Β1 dan β2
|
≤ 30 menit
|
1-2 menit
|
≤ 24
|
Levobunolol hidroklorida. Indikasi :
Mengurangi tekanan intraokuler glaukoma simpleks kronik. Kontra Indikasi: Bradikardia, blokade jantung,
atau gagal jantung. Peringatan: Penting untuk menghindari asma. Efek samping: Mata
kering sementara dan blefarokonjungtivitis
alergis. Sediaan beredar: Batagan
Liquifilm (Darya Varia)
Betaksolol hidroklorida. Indikasi: Mengurangi tekanan intraokuler glaukoma
simpleks kronik. Efek samping : Mata kering sementara dan blefarokonjungtivitis
alergis. Sediaan beredar : Betoptima Alcon-couvereur Nv-Belgium.
Metil pranolol. Indikasi: Mengurangi
tekanan intraokuler glaukoma simpleks kronik, tetapi dalam glaukoma sudut lebar
kronis dibatasi pada pasien yang alergi terhadap zat pengawet atau mereka yang
memakai lensa kontak (dimana benzalkonium klorida harus dihindari). Kontra Indikasi: Bradikardia,
blokade jantung, atau gagal jantung.Peringatan: Tidak dianjurkan pada asma. Efek samping : Mata kering sementara dan blefarokonjungtivitis
alergi, uveitis anterior granulomatosa (hentikan pengobatan). Sediaan beredar: Beta Opthiole (Combiphar)
Timolol Maleat. Indikasi: Mengurangi tekanan intraokuler
glaukoma simpleks kronik. Kontra Indikasi: Bradikardia,
blokade jantung, atau gagal jantung. Peringatan: Penting untuk menghindari asma. Efek samping: Mata
kering sementara dan blefarokonjungtivitis alergis. Sediaan beredar: Timolol
maleat (Generik), XimexOpticom (Konimek), Tim-Opthal (Sanbe Farma), Timolol
maleat (Cendo). Dosis obat pada
penanganan glaukoma
Nama obat
|
Bentuk sediaan
|
Dosis
|
Penghambat
β-adrenergik
|
||
Betaxolol
|
Larutan 0.5 %
suspense 0.25 %
|
Satu tetes 2xsehari
|
Levobunolol
|
Larutan 0.25 % dan
0.5 %
|
Satu tetes 2xsehari
|
Metilpranolol
|
Larutan 0.3 %
|
Satu tetes 2xsehari
|
Timolol
|
Larutan 0.25 % dan
0.5 %
|
Satu tetes
1-2xsehari
|
Penghambat Karbonil Anhidrase
Mekanisme kerja penghambatan pada karbonik anhidrase
menurunkan kecepatan pembentukan aquaeus humor sehingga menurunkan tekanan intraokuler.
Data farmakokinetika Penghambat Karbonil Anhidrase
Penghambat Karbonil Anhidrase
|
Efek penurunan TIO
|
Potensi penghambatan relatif
|
||
Onset (jam)
|
Puncak Efek (jam)
|
Durasi (jam)
|
||
Asetazolamida
|
1
|
|||
Tablet
|
1-1,5
|
1-4
|
8-12
|
|
Kapsul lepas lamat
|
2
|
3-6
|
18-24
|
|
Injeksi (IV)
|
2 menit
|
15 menit
|
4-5
|
|
Asetazolamid. Indikasi: Pengobatan prabedah Closed Angle
Glaucoma. Peringatan: Hindari
pada kerusakan ginjal yang berat, kehamilan tidak dianjurkan untuk penggunaan
lama tetapi tetap akan diberikan diperlukan pemeriksaan hitung jenis darah;
hindari ekstravasasi pada tempat injeksi (resiko nekrosis). Efek samping : Parastesia,
hipokalemia, berkurangnya nafsu makan, rasa mengantuk dan depresi terutama pada
pasien usia lanjut, bintik-bintik merah pada kulit dan kelainan darah jarang
terjadi, dan dapat terjadi batu ginjal. Sediaan beredar: Acetazolamid (generik), diamox
(Phapros)
Agonis Prostaglandin
Mekanisme kerja obat agonis prostaglandin menurunkan
tekanan intraokuler dengan meningkatkan aliran aquaeous humor, meskipun
mekanisme pasti belum diketahui.
Latanopros. Merupakan suatu prodrug
prostaglandin-F2 (PGF2). Obat ini menembus kornea dan menurunkan TIO melalui
peningkatan aliran aquaeous uveousklera. Latanopros sangat efektif dan telah
mengurangi jumlah pasien yang membutuhkan pembedahan. Latanopros memiliki efek
samping sistemik minimal dan telah digunakan secara luas. Tekanan intraokuler
pada glaukoma sudut lebar dan hipertensi okular pada pasien yang tidak
menunjukan respon terhadap obat lain. Peringatan : Sebelum memulai
pengobatan, pasien harus diberitahu kemungkinan perubahan warna mata; monitor
perubahan warna mata; asma yang berat atau mudah kumat; tidak boleh digunakan
dalam waktu lima menit setelah penggunaan sediaan yang mengandung thiomersal,
kehamilan dan masa menyusui. Efek samping: Pigmentasi coklat yang menetap atau yang reversibel terutama pada mereka
yang warna irisnya bercampur (hentikan pengobatan bila mungkin); iritasi
okuler; hiperaeremia konjungtiva; erosi epitelial punctata (transient). Dosis: 1 tetes 2x sehari larutan 0,005%. Sediaan yang beredar: Xalatan TM (Upjohn Indonesia). Obat topical pengobatan Open-Angle
Glaucoma
Interaksi
Obat Dengan Obat
Obat A
|
Obat B
|
Efek Yang terjadi
|
Beta Optalmik
|
Digitalis
|
Penggunaan propranolol menyebabkan bradikardia pada pasien aritmia
akibat menggunakan digitalis
|
Kinidin
|
Betabloker optalmik
|
Kinidin meningkatkan kadar serum metoprolol dan timolol karena
inhibisi Enzim CYP2D6 demikian juga kadar serum propranolol naik dapat
terjadi bradikardia
|
Betabloker
|
Senyawa Fenotiazin
|
Pada penggunaan klopromazin thioridazin dengan propranolol terjadi peningkatan
kadar serum kedua obat terjadi hipotensi
|
Karbakhol, Pilokarpin
|
NSAID
|
Karbakhol, Pilokarpin menjadi tidak efektif bila digunakan bersama
NSAID topical
|
Latanoprost
|
Obat tetes mengandung timerasol
|
Terjadi pengendapan secara invitro , gunakan dengan interval 5 menit
|
Karbakhol
|
Flurbiprofen, Surprofen
|
Karbakhol menjadi tidak efektif bila digunakan dengan flurbiprofen
atau surprofen.
|
Interaksi Obat Dengan Makanan Atau Minuman
Tidak ditemukan
interaksi antara timolol dengan makanan atau minuman. Tidak ditemukan interaksi antara levobunolol
dengan makanan atau minuman. Tidak ditemukan interaksi antara carteolol dengan
makanan atau minuman. Tidak ditemukan interaksi antara metipranolol dengan
makanan atau minuman.
Terapi Non Farmakologi
Terapi Bedah dan Laser. Terapi bedah dan laser merupakan
terapi yang paling efektif dalam menurunkan tekanan intraokuli. Pada glaukoma
sudut tertutup, tindakan iridoplasti, iridektomi, iridotomi perifer merupakan
cara yang efektif mengatasi blokade pupil. Sedangkan pada glaukoma sudut
terbuka, pengguaan laser (trabekuloplasti) merupakan cara yang efektif untuk
memudahkan aliran keluar aqueous humor (Salmon, 2009). Trabekulotomi
adalah prosedur yang paling sering digunakan untuk memintas saluran-saluran
drainase normal sehingga terbentuk akses langsung aqueous humor dari
bilik mata depan ke jaringan subkonjungtiva dan orbita(Salmon, 2009).
Ada beberapa bentuk terapi laser untuk glaucoma. Laser
iridotomy (lihat bagian atas pada sudut tertutup glaukoma) melibatkan membuat
lubang di bagian berwarna dari mata (iris) untuk memungkinkan cairan mengalir
secara normal pada mata dengan sudut sempit atau tertutup. Laser
trabeculoplasty adalah prosedur laser yang dilakukan hanya pada mata dengan
sudut terbuka. Laser trabeculoplasty tidak menyembuhkan glaukoma tetapi sering
dilakukan bukannya meningkatkan jumlah obat tetes mata yang berbeda atau ketika
tekanan intraokular pasien dirasakan terlalu tinggi meskipun penggunaan
beberapa obat tetes mata (terapi medis maksimal). Dalam beberapa kasus,
digunakan sebagai terapi awal atau utama untuk glaukoma sudut terbuka. Prosedur
ini adalah metode cepat, tanpa rasa sakit, dan relatif aman menurunkan tekanan
intraokular. Dengan mata mati rasa oleh tetes anestesi, perawatan laser diterapkan
melalui lensa kontak cermin dengan sudut mata. Mikroskopis Laser luka bakar
sudut memungkinkan cairan untuk lebih keluar saluran drainase.
Laser trabeculoplasty sering dilakukan dalam dua sesi,
minggu atau bulan. Sayangnya, perbaikan drainase sebagai akibat dari pengobatan
bisa berlangsung hanya sekitar dua tahun, saat saluran drainase cenderung
menyumbat lagi. Ada dua jenis laser trabeculoplasty: Laser argon
trabeculoplasty (ALT) dan selektif Laser trabeculoplasty (SLT). ALT umumnya
tidak diulang setelah sesi kedua karena pembentukan jaringan parut di sudut.
SLT kurang kemungkinan untuk menghasilkan jaringan parut di sudut, sehingga,
secara teoritis, dapat diulang beberapa kali. Namun, kemungkinan keberhasilan
dengan perawatan tambahan ketika upaya sebelumnya telah gagal rendah. Dengan
demikian, pilihan untuk pasien pada saat itu adalah untuk meningkatkan
penggunaan obat tetes mata atau melanjutkan ke operasi.
Laser cyclo-ablasi (juga dikenal kerusakan silia
tubuh, cyclophotocoagulation atau cyclocryopexy) adalah bentuk lain dari
perawatan laser umumnya dicadangkan untuk pasien dengan bentuk parah dari
glaukoma dengan potensi visual yang miskin. Prosedur ini melibatkan menerapkan
luka bakar laser atau kedinginan bagian dari mata yang membuat cairan berair
(tubuh ciliary). Terapi ini menghancurkan sel-sel yang membuat cairan, sehingga
mengurangi tekanan mata. jenis laser biasanya dilakukan setelah terapi yang lebih
tradisional lainnya telah gagal (Bhowmik, 2012).
Operasi Glaukoma. Trabeculectomy adalah
prosedur bedah mikro halus yang digunakan untuk mengobati glaukoma. Dalam
operasi ini, sepotong kecil dari trabecular meshwork tersumbat akan dihapus
untuk membuat pembukaan dan jalur drainase baru dibuat untuk cairan untuk
keluar mata. Sebagai bagian dari sistem drainase baru ini, tas pengumpulan
kecil dibuat dari jaringan konjungtiva (konjungtiva adalah penutup yang jelas
atas putih mata.) Tas ini disebut "filtering bleb" dan tampak seperti
daerah mengangkat kista yang di bagian atas mata bawah tutup atas. Sistem
drainase yang baru memungkinkan cairan untuk meninggalkan mata, masukkan tas /
bleb, dan kemudian masuk ke dalam sirkulasi darah kapiler (dengan demikian menurunkan
tekanan mata). Trabeculectomy adalah operasi glaukoma yang paling umum
dilakukan. Jika berhasil, itu adalah cara yang paling efektif menurunkan
tekanan mata.
Perangkat shunt berair
(implan glaukoma atau tabung) adalah perangkat drainase buatan yang digunakan
untuk menurunkan tekanan mata. Mereka pada dasarnya plastik tabung mikroskopis
melekat reservoir plastik. Reservoir (atau piring) ditempatkan di bawah
jaringan konjungtiva. Tabung yang sebenarnya (yang memanjang dari reservoir)
ditempatkan di dalam mata untuk membuat jalur baru untuk cairan untuk keluar
mata. Cairan ini mengumpulkan dalam reservoir di bawah konjungtiva menciptakan
filtering bleb. Prosedur ini dapat dilakukan sebagai alternatif untuk
trabeculectomy pada pasien dengan jenis tertentu dari glaukoma.
Viscocanalostomy merupakan prosedur bedah alternatif
yang digunakan untuk menurunkan tekanan mata. Ini melibatkan mengeluarkan
sepotong sclera (dinding mata) untuk meninggalkan hanya selaput tipis dari
jaringan melalui mana cairan berair dapat lebih mudah mengalir. Meskipun kurang
invasif dibandingkan trabeculectomy dan operasi shunt berair, juga cenderung
kurang efektif. Dokter bedah kadang-kadang menciptakan jenis lain dari sistem
drainase. Sementara operasi glaukoma seringkali efektif, komplikasi, seperti
infeksi atau perdarahan, yang mungkin. Dengan demikian, operasi biasanya
dicadangkan untuk kasus-kasus yang tidak dapat dinyatakan dikendalikan
(Bhowmik, 2012).
Perbedaan kondisi dan penanganan untuk pasien
neonatus, anak dan dewasa dengan masyarakat umum. Tidak ada penanganan
khusus pada neonatus, anak dan dewasa hanya perlu penyesuaian dosis.
KIE
Penggunaan Obat
Parasimpatomimetik, Kolinergik agonis
Miotik
|
Cara
pemakaian
|
Karbakol
|
|
·
Intra
okular
|
Per
hari2-3 x 1 tetes
|
·
Topikal
|
|
Pilokarpin
|
1
tetes 2-3 kali
|
·
Topikal
|
Senyawa penghambat β-adrenergik
Obat
|
Durasi
(jam)
|
Dosis
|
Betaksolol
|
12
|
Satu tetes 2xsehari
|
Levobunolol
|
≤ 24
|
Satu tetes 2xsehari
|
Metilpranolol
|
24
|
Satu tetes 2xsehari
|
Timolol
|
≤ 24
|
Satu tetes 1-2xsehari
|
Penghambat Karbonil Anhidrase
Penghambat
Karbonil Anhidrase
|
Waktu
penggunaan
|
Asetazolamida
|
|
Tablet
|
Bersamaan
dengan makan
|
Kapsul
lepas lamat
|
Bisa
sebelum dan sesudah makan,
|
Injeksi (IV)
|
Secara intra vena
|
Agonis Prostaglandin
Latanopros : 1tetes 2x sehari
KIE
untuk glukaoma yang dapat dilakukan:
Mengontrol tekanan
darah, karena tekanan darah tinggi merupakan faktor resiko glukaoma Rutin
kesehatan terutama kesehatan mata, seperti pemeriksaan: Pemeriksaan tekanan
bola mata, pemeriksaan papil saraf optic, pemeriksaan sedut bilik mata, pemeriksaan
lapang pandang. Hindari tembakau. Kontrol gula darah. Gunakan pelindung mata
jika bekerja pada tempat seperti temapt las.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar