| Senja di Pantai Bandengan, Jepara, Jawa Tengah |
Hai, wajah rembulan yang tampak muram. Kusapa hadirmu lewat panggilan
sepi di tepian temaram. Kau tak menoleh, kau acuh dan tak peduli, kau kejam.
Rembulan, pandanglah pedihku yang makin melebam. Masih menganga lebar,
seberkas luka sayatan kerikil tajam. Prasasti kumal, dari ke-tak elokan jejak
di kisah masa silam.
Rembulan, gelap kian larut dan aku makin tenggelam. Kau sengaja menabur
beling, supaya robekan hati ini terhujam. Sengaja melilitkan kawat duri, agar
jiwa ini makin runyam
Rembulan, angin dingin menyelinap, aku dikecam. Silau yang memapar di
beranda sunyi, kilatan rindunya makin menikam. Aku coba kabur, lekas tertidur,
tapi mata tak kunjung terpejam.
Rembulan, sejujurnya aku sudah mulai geram. Tapi sesal takkan kuumbar,
akan tetap kusimpan dalam-dalam. Biar saja sampai ndower bibir para pencoleng
itu bergumam.
Rembulan, sejuk teduh di wajah mu tetap akan aku idam-idam. Seterusnya
tetap akan jadi angan-agnan walau tak kunjung kuenyam. Aku akan tetap berdiri
dengan segenap rasa yang tak akan padam. Aku akan tetap menanti dengan secuil
harapan yang terlalu kuyup direndam.
Rembulan, berulang kali pada diri aku mengancam. Kebodohan dan ketololan
yang memilih bertahan dan sering bikin naik
pitam. Aku sungguh tak menyesal, sebab aku percaya pada semboyan alam.
Rembulan, tak lekang bayangmu berkelabatan di tiap detik dan jam. Andai
bisa kau rasai apa yang kurasai, andai bisa hatiku kau pinjam. Kau pasti akan mengetahui
apa yang selama ini tertimbun dalam sekam. Ialah sebuah kerinduan tanpa
pelampiasan yang terlalu lama diredam. (Ali Ridwan, 30/11/16)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar