Rabu, 30 November 2016

Rembulan Tenggelam, di Tepian Temaram

Senja di Pantai Bandengan, Jepara, Jawa Tengah
Hai, wajah rembulan yang tampak muram. Kusapa hadirmu lewat panggilan sepi di tepian temaram. Kau tak menoleh, kau acuh dan tak peduli, kau kejam.

Rembulan, pandanglah pedihku yang makin melebam. Masih menganga lebar, seberkas luka sayatan kerikil tajam. Prasasti kumal, dari ke-tak elokan jejak di kisah masa silam.

Rembulan, gelap kian larut dan aku makin tenggelam. Kau sengaja menabur beling, supaya robekan hati ini terhujam. Sengaja melilitkan kawat duri, agar jiwa ini makin runyam

Rembulan, angin dingin menyelinap, aku dikecam. Silau yang memapar di beranda sunyi, kilatan rindunya makin menikam. Aku coba kabur, lekas tertidur, tapi mata tak kunjung terpejam.

Rembulan, sejujurnya aku sudah mulai geram. Tapi sesal takkan kuumbar, akan tetap kusimpan dalam-dalam. Biar saja sampai ndower bibir para pencoleng itu bergumam.

Rembulan, sejuk teduh di wajah mu tetap akan aku idam-idam. Seterusnya tetap akan jadi angan-agnan walau tak kunjung kuenyam. Aku akan tetap berdiri dengan segenap rasa yang tak akan padam. Aku akan tetap menanti dengan secuil harapan yang terlalu kuyup direndam.

Rembulan, berulang kali pada diri aku mengancam. Kebodohan dan ketololan yang memilih bertahan  dan sering bikin naik pitam. Aku sungguh tak menyesal, sebab aku percaya pada semboyan alam.

Rembulan, tak lekang bayangmu berkelabatan di tiap detik dan jam. Andai bisa kau rasai apa yang kurasai, andai bisa hatiku kau pinjam. Kau pasti akan mengetahui apa yang selama ini tertimbun dalam sekam. Ialah sebuah kerinduan tanpa pelampiasan yang terlalu lama diredam. (Ali Ridwan, 30/11/16)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar