Larutan adalah sediaan cair yang
mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut (Anonim b. 1995. Halaman 15). Larutan adalah sediaan cair yang
dibuat dengan melarutkan satu jenis obat atau lebih di dalam pelarut, dimaksudkan
ke dalam organ tubuh (Formularium Nasional hal 322). Solution atau larutan adalah sediaan yang mengandung satu
atau lebih zat kimia yang terlarut (FI IV hal. 17). Sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut kecuali dinyatakan lain, sebagai pelarut
digunakan air suling (FI III hal. 32). Kesimpulan: larutan adalah sediaan yang mengandung satu atau
lebih obat dalam pelarut ( dengan zat pelarut yang sesuai ) & digunakan
sebagai obat dalam ataupun obat luar.
Penggolongan
Larutan
Berdasarkan
cara penggunaannya
Larutan oral adalah sediaan cair
yang dibuat untuk pemberian oral, mengandung satu atau lebih zat dengan atau
tanpa bahan pengaroma, pemanis atau pewarna yang larut dalam air atau campuran
kosolven air. (Anonim b. 1995. Halaman 15).
Sirup adalah larutan oral yang
mengandung sukrosa atau gula lain dalam kadar tinggi (sirop simplex adalah
sirop yang hamper jenuh dengan sukrosa). Larutan oral yang tidak mengandung
gula tetapi bahan pemanis buatan seperti sorbitol atau aspartam, dan bahan
pengental, seperti gom selulosa, sering digunakan untuk penderita diabetes.
Eliksir adalah larutan oral yang
mengandung etanol (95%) sebagai kosolven (pelarut). Untuk mengurangi kadar
etanol yang dibutuhkan untuk pelarut, dapat ditambahkan kosolven lain seperti
gliserin dan propilen glikol.
Larutan topikal adalah larutan yang
biasanya mengandung air, tetapi sering kali mengandung pelarut lain seperti
etanol dan poliol untuk penggunaan pada kulit, atau dalam larutan lidokain oral
topikal. Lotio (larutan atau suspensi) yang digunakan secara topikal.
Larutan otik adalah larutan yang
mengandung air atau gliserin atau pelarut lain dan bahan pendispersi.
Penggunaan telinga luar, misalnya larutan otik benzokain dan antipirin, larutan
otik neomisin B sulfat, dan larutan otik hidrokortison. (Syamsuni, A. 2006)
Berdasarkan sistem pelarut dan zat
terlarut
Spirit adalah larutan yang mengandung etanol atau hidroalkohol
dari zat mudah menguap umumnya digunakan sebagai bahan pengaroma.
Tingtur adalah larutan yang mengandung etanol atau
hidroalkohol yang dibuat dari bahan tumbuhan atau senyawa kimia.
Air aromatik adalah larutan jernih dan jenuh dalam air, dari
minyak, mudah menguap atau senyawa aromatik, atau bahan mudah menguap lainnya.
Macam-Macam Sediaan Larutan Obat
Larutan
untuk telinga
Solutio
Otic / Guttae Auriculares. Larutan otik adalah larutan yang
mengandung air atau gliserin atau pelarut lain dan bahan pendispersi, untuk
penggunaan telinga luar : misalnya larutan otik benzokain dan antipirin,
larutan otik neomisin B sulfat, dan larutan otik hidrokortison.
Larutan yang dipakai ke dalam
telinga ini biasanya mengandung antibiotic, sulfonamida, anestetik local,
peroksida (H2O2), fungisida, asam borat, NaCl, gliserin
dan propilen glikol. Gliserin dan propilen glikol sering dipakai sebagai
pelarut, karena dapat melekat dengan baik pada bagian dalam telinga sehingga
obat lebih lama kontak dengan jaringan telinga, sedangkan alkohol dan minyak
nabati hanya kadang – kadang dipakai.
pH optimum untuk cairan berair yang
digunakan dalam obat tetes telinga
haruslah dalam suasana asam (pH 5 - 7,3), dan pH inilah yang sering menentukan
khasiatnya. Larutan basa umumnya tidak dikehendaki, karena tidak fisiologis dan
mempermudah timbulnya radang. Jika pH larutan telinga berubah dari asaam
menjadi basa, bakteri dan fungi akan tumbuh dengan baik, hal ini tentunya tidak
dikehendaki. (Syamsuni, A. 2006).
Larutan untuk hidung
Collunarium (obat cuci hidung). Collunarium adalah larutan yang
digunakan untuk obat cuci hidung. Biasanya berupa larutan dalam air yang
ditujukan untuk membersihkan rongga hidung. Oleh karena itu, hendaknya
diperhatikan pH dan isotonisitasnya karena dapat menimbulkan rasa pedih pada
mukosa hidung.
Guttae nasales/Nose drops (obat
tetes hidung). Guttae nasales/Nose drops (obat tetes hidung) adalah obat
tetes yang digunakan untuk hidung dengan cara meneteskan obat ke dalam rongga
hidung, dapat mengandung zat pensuspensi, pendapar, dan pengawet. Cairan pembawa umumnya menggunakan
air. Cairan pembawa sebaiknya mempunyai pH 5,5 – 7,5, kapasitas dapar sedang,
isotonis atau hampir isotonis.
Nebula/Inhalationes/Nose spray (obat
semprot hidung). Inhalations adalah sediaan yang dimaksudkan untuk disedot
melalui hidung atau muulut, atau disemprotkan (nose spray) dalam bentuk kabut
ke dalam saluran pernapasan. Tetean atau butiran kabut harus seragam dan sangat
halus sehingga dapaat mencapai bronkioli (Syamsuni, A. 2006).
Larutan untuk mulut
Collutorium (obat cuci mulut). Collutorium adalah larutaan pekat
dalam air yang mengandung deodorant, antiseptic, anestetik lokal, dan
adstringensia yang digunakan untuk obat cuci mulut. karena digunakan untuk obat
cuci mulut. Karena digunakan untuk cuci mulut, sediaan in harus dapat
menghilangkan sisa – sisa makanan dan lain – lain dari mulut (sela – sela
gigi). Umumnya larutan yang dipakai pada atau lewat mulut mempunyi pH 7 – 9,5.
Disimpan dalam botol putih bermulut kecil. Penandaan pada etiket obat cuci
mulut harus tertera tanda yang jelas yaitu “Untuk obat cuci mulut, tidak boleh
ditelan”.
Gargarisma/gargle (obat kumur). Gargarisma/gargle (obat kumur)
adalah sediaan berupa larutan, umumnya dalaam larutan pekat yang harus
diencerkan lebih dahulu sebelum digunakan, dimaksudkan untuk digunakan sebagai
pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan atau jalan nafas. Tujuan utama obat kumur adalah agar
obat yang terkandung di dalamnya dapat langsung terkena selaput lendir
sepanjang tenggorokan, dan tidak dimaksudkan agar obat itu menjadi pelindung
sselaput lendir. Karena itu, obat berupa minyaak yang memerlukan zat
pensuspensi dan obat yang bersifat lendir tidak sesuai dijadikan obat kumur. Penyimpanan: Dalam wadah botol
berwarna susu atau wadah lain yang cocok. Penandaan pada etiket harus tertera: Petunjuk pengencerannya, sebelum
digunakan. Tanda yang jelas yaitu “Hanya untuk kumur, tidak
ditelan”.
Litus oris
(obat oles bibir). Litus oris atau obat oles bibir adalah cairan agak kental
yang pemakaiannya disapukan pada mulut. contoh sediaan litus oris adalah
larutan 10% borax dalam gliserin.
Guttae
oris (obat tetes mulut). Guttae oris atau obat tetes mulut adalah obat tetes yang
digunakan untuk mulut dengan cara mengencerkan lebih dahulu dengan air untuk
dikumur – kumurkan, tidak untuk ditelan (Syamsuni, A. 2006).
Larutan oral
Potiones (obat minum). Potiones atau obat minum adalah
larutan yang dimaksudkan untuk pemakaian dalam (per oral). Selain berbentuk
larutan, potio dapat juga berbentuk emulsi atau suspense.
Eliksir. Eliksir adalah larutan oral yang
mengandung etanol 90% yang berfungsi sebagai kosolven (pelarut) dan untuk
mempertinggi kelarutan obat. Kadar etanol berkisar antara 3% dan 4%, dan
biasanya eliksir mengandung etanol 5-10%. Untuk mengurangi kadar etanol yang
dibutuhkan untuk pelarut, dapat ditambahkan kosolven lain seperti gliserin,
sorbitol dan propilen glikol. Bahan tambahan yang digunakan antara
lain pemanis, pangawet, pewarna, dan pewangi, sehingga memiliki bau dan rasa
yang sedap. Sebagai pengganti gula dapat digunakan sirup gula.
Sirop. Sirop adalah larutan oral yang
mengandung sukrosa atau gula lain yang berkadar tinggi (sirop simpleks adalah
sirop yang hampir jenuh dengan sukrosa). Kadar sukrosa dalam sirop adalah
64-66%, kecuali dinyatakan lain. Selain sukrosa dan gula lain, pada
larutan oral ini dapat ditambahkan senyawa poliol seperti sorbitol dan gliserin
untuk menghambat penghabluran dan mengubah kelarutan, rasaa dan sifaat lain zat
pembawa. Umumnya juga ditambahkan zat antimikroba untuk mencegah pertumbuhan
bakteri, jamur, dan ragi.
Ada 3 macam sirop: Sirop simpleks (mengandung 65% gula dalam larutan
nipagin 0,25% b/v). Sirop obat (mengandung satu jenis obaat atau lebih dengan atau tanpa zat
tambahan dan digunakan untuk pengobatan). Sirop pewangi (tidak mengandung obat tetapi
mengandung zat pewangi atau zat penyedap lain). Tujuan pengembangan sirop ini
adalah untuk menutupi rasa tidak enak dan baau obat yang tidak enak.
Netralisasi. Netralisasi adalah obat minum yang
dibuat dengan mencampurkan bagian asam dan bagian basa sampai reaksi selesai
dan larutan bersifat netral. Contoh: solution citratis magnesici, amygdalat
ammonicus. Pembuatn: seluruh bagian asam direaksikan dengan bagian
basanya, jika perlu reaksi dipercepat dengan pemanasan.
Saturatio. Saturatio adalah obat minum yang
dibuat dengan mereaksikan asam dengan basa tetapi gas yang terbentuk ditahan
dalam wadah sehingga larutan menjadi jenuh dengan gas.
Potio
Effervescent. Potio Effervescent adalah saturatio dengan gas CO2 yang
lewat jenuh. Gas CO2 umumnya digunakan untuk pengobatan, menjaga
stabilitas obat, dan kadang – kadang dimaksudkan untuk menyegarkan rasa minuman
(Corrigensia).
Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk
sediaan Saturatio dan Potio Effervescent adalah: Diberikan dalam botol yang tahan
tekanan (kuat), berisi kira – kira Sembilan persepuluh bagian dan
tertutup-kedap dengan tutup gabus atau karet yang rapat. Kemudian diikat dengan
sampagne knop. Tidak boleh mengandung bahan obat yang tidak larut, karena
tidak boleh dikocok. Pengocokan menyebabkan botol menjadi pecah, karena berisi
gas dalam jumlah besar yang menimbulkan tekanan.
Guttae. Guttae atau obat tetes adalah sediaan cair berupa larutan,
emulsi atau suspense yang jika tidak dinyatakan lain, dimaksudkan untuk obat
dalam. Digunakan dengan cara meneteskan larutan tersebut dengan menggunakan
penates yang menghasilkan tetesan yang setaara dengan tetesan yang dihasilkaan
penates baku yang disebutkan dalam farmakope Indonesia (47,5-52,5mg air suling
pada suhu 20oC). Dalam perdagangan dikenal sediaan pediatric drop
yaitu obat tetes yang digunakan untuk anak – anak atau bayi. Obat tetes yang digunakan untuk obat luar, biasanya
disebutkan tujuan pemakaiannya, misalnya eye drop untuk mata, ear drop untuk
telinga, dan lain – lain. (Syamsuni, A. 2006)
Larutan topical
Ephitema (obat kompres). Ephitema atau obat kompres adalah
cairan yang dipakai untuk mendatangkan rasa dingin pada tempat yang sakit dan
panas karena radang atau sifat perbedaan tekanan osmosis yang digunakan untuk
mengeringkan luka bernanah. Contoh: Liquor Burowi, Solutio Rivanol, campuran
Boorwater dan Rivanol.
Lotio. Lotio atau obat gosok adalah sediaan
cair berupa suspense atau disperse, digunakan sebagai obat luar. Dapat
berbentuk suspense bahan padat dalam bentuk halus dengan bahn pensuspensi yang
cocok atau tipe emulsi minyak dalam air (M/A) dengan surfaktan yang cocok. Pada
penyimpanan mungkin terjadi pemisahan. Dapat ditambahkan zat warna, zat
pengawet, dan zat pewangi yang cocok. Penandaan haarus tertera: “Obat luar”, “KOCOK DAHULU” (Syamsuni, A. 2006).
Beberapa Hal Yang Perlu Diperhatikan
Dalam Sediaan Larutan: Kelarutan zat aktif. Kestabilan zat aktif dalam larutan. Penyimpanan.
Faktor –
Faktor Yang Mempengaruhi Kelarutan. Sifat polaritas zat terlarut dan pelarut. Memiliki pengertian bahwa molekul
polar (zat terlarrut) larut dalam pelarut polar, sebaliknya molekul non polar
(zat terlarut) akan larut dalam pelarut non polar. Co-solvency, adalah suatu peristiwa terjadinya
kenaikan kelarutan dengan penambahan pelarut lain, atau modifikasi pelarut.
Misalnya luminal tidak larut dalam air tetapi larut dalam campuran air +
gliserin ( Syamsuni, A. 2006).
Keuntungan
Dan Kerugian Sediaan Larutan
Keuntungan: Merupakan campuran homogeny. Dosis dapat diubah – ubah dalam
pembuatan. Dapat diberikan dalam larutan encer,
sedangkan kapsul dan tablet sulit diencerkan. Kerja awal obat lebih cepat, karena
obat cepat di absorbs. Mudah diberi pemanis, pengaroma,
pewarna. Untuk pemakaian luar mudah digunakan.
Kerugian: Ada obat yang tidak stabil dalam larutan. Ada obat yang sukar ditutupi rasa dan baunya dalam larutan (Syamsuni, A. 2006).
Syarat -Syarat Larutan: Zat terlarut harus larut sempurna dalam pelarutnya. Zat harus stabil, baik pada suhu kamar dan pada penyimpanan. Jernih. Tidak ada endapan (Anonim b. 1995)
Komposisi
Larutan
Bahan aktif / solut/ zat terlarut. Contoh :
kamfer, iodin, mentol.
Solven / zat pelarut. Contoh: Air untuk melarutka garam –
garam. Spiritus untuk melarutkan kamfer,
iodin, mentol. Eter
untuk melarutkan kamfer, fosfor sublimat. Gliserin untuk melarutkan tannin,
zat samak, boraks, fenol. Minyak untuk melarutkan kamfer. Paraffin liquidum untuk melarutkan
cera dan cetasium. Kloroform untuk melarutkan minyak – minyak, lemak.
Bahan tambahan. Corrigen odoris: digunakan untuk memperbaiki bau
obat. Contoh: oleum cinnamommi, oleum rosarum, oleum citri, oleum
menthae pip. Corrigen saporis: digunakan untuk mempebaiki rasa
obat. Contoh : saccharosa/sirup simplex, sirup auratiorum, tingtur
cinnamommi, aqua menthae piperithae. Corrigen coloris: digunakan untuk memperbaiki warna
obat. Contoh : karminum (merah), karamel
(coklat), tinture croci (kuning). Corrigen solubilis: digunakan untuk memperbaiki
kelarutan dari obat utama. Contoh : iodium dapat mudah larut
dalam larutan pekat. Pengawet: digunakan untuk mengawetkan obat. Contoh : asam benzoat, natrium
benzoat, nipagin, nipasol (Syamsuni, A. 2006).
Istilah-Istilah Kelarutan
NO
|
Istilah Kelarutan
|
Jumlah bagian pelarut yang dibutuhkan untuk melarutkan
satu bagian zat
|
1
2
3
4
5
6
7
|
Sangat Mudah Larut
Mudah Larut
Larut
Agak Sukar Larut
Sukar Larut
Sangat Sukar Larut
Praktis Tidak Larut
|
< 1
1 – 10
10 – 30
30 – 100
100 – 1000
1000 – 10.000
> 10.000
|
(Anonim b. 1995)
Evaluasi
Sediaan Larutan
Organoleptis: Meliputi pewarnaan, bau, rasa dan
dari seeiaan emulsi pada penyimpanan pada suhu endah 5oC dan tinggi
35oC pada penyimpanan masing-masing 12 jam.
Volume Terpindahkan (FI IV, <1089>). Untuk penetapan volume terpindahkan,
pilih tidak kurang dari 30 wadah, dan selanjutnya ikuti prosedur berikut untuk
bentuk sediaan tersebut. Kocok isi dari
10 wadah satu persatu.
Prosedur:
Tuang isi perlahan-lahan dari tiap wadah
ke dalam gelas ukur kering terpisah dengan kapasitas gelas ukur tidak lebih
dari dua setengah kali volume yang diukur dan telah dikalibrasi, secara
hati-hati untuk menghindarkan pembentukkan gelembung udaa pada waktu penuangan
dan diamkan selama tidak lebih dari 30 menit.
Jika
telah bebas dari gelembung udara, ukur volume dari tiap campuran: volume rata-rata larutan yang diperoleh dari
10 wadah tidak kurang dari 100 %, dan tidak satupun volume wadah yang kurang
dari 95 % dari volume yang dinyatakan pada etiket. Jika A adalah volume
rata-rata kurang dari 100 % dari yang tertera pada etiket akan tetapi tidak ada
satu wadahpun volumenya kurang dari 95 % dari volume yang tertera pada etiket,
atau B tidak lebih dari satu wadah volume kurang dari 95 %, tetapi tidak kurang
dari 90 % dari volume yang tertera pada
etiket, lakukan pengujian terdadap 20 wadah tambahan. Volume rata-rata larutan
yang diperoleh dari 30 wadah tidak kurang dari 100 % dari volume yang tertera
pada etiket, dan tidak lebih dari satu dari 30 wadah volume kurang dari 95 %,
tetapi tidak kurang dari 90 % seperti yang tertera pada etiket (Voigt, R. 1995).
Suspensi
Definisi
Suspensi
adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak
larut, terdispersi dalam cairan pembawa (Anief, Moh. 2004. Halaman 149). Suspensiones (suspensi) adalah
sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bendtuk halus dan tidak larut,
terdispersi dalam cairan pembawa. Zat yang terdispersi harus halus dan tidak
boleh cepat mengendap. Kekentalan suspensi tidak boleh terlali tinggi agar
sediaan mudah dikocok dan dituang. (Anonim a. 1979. Halaman 32). Dari beberapa definisi yang tertera
dapat disimpulkan bahwa suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat
padat dalam bentuk halus dan tidak larut yang terdispersi ke dalam fase cair
serta kekentalan suspense tidak boleh terlalu tinggi agar
sediaan mudah dikocok dan dituang.
Macam-Macam Suspensi
Suspensi
oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat dalam bentuk halus yang
terdispersi dalam fase cair dengan penambahan bahan pengaroma. Suspensi topikal adalah sediaan cair
yang mengandung partikel padat dalam bentuk halus yang terdispersi dalam fase
cair, di tunjukan untuk pemakian di permukaan kulit. Suspensi tetes telinga sediaan cair
yang mengandung partikel dalam bentuk halus yang terdispersi dalam fase cair
yang di teteskan pada telinga. Suspensi oftalmik
sediaan cair yang mengandung partikel sangat halus yang terdispersi
dalam cair pembawa untuk pemakaian pada mata. Suspensi ijeksi adalah sediaan padat
dan kering dengan bahan pembawa yang sesuai persyaratan suspensi steril (Syamsuni, A. 2006).
Syarat-syarat Suspensi
Zat
terdispersi harus halus dan tidak boleh mengendap. Jika dikocok harus segera
terdispersi kembali. Dapat mengandung zat dan bahan menjamin stabilitas suspense. Kekentalan suspensi tidak bolah
terlalu tinggi agar mudah dikocok atau sedia dituang (Anonim b. 1995).
Bahan
Tambahan
Suspending
Agent. Golongan GOM , meliputi :
Akasia
(Pulvin Gummi Arabic). Larut dalam air, tidak larut dalam
alkohol, bersifat asam. Viskositas optimum mucilagonya dalam pH 5-9. Akasia
digunakan dengan kadar 35% yang kira-kira memiliki kekentalan sama dengan
gliserin. Akasia ini mudah dirusak oleh bakteri. Oleh karena itu dalam penggunaannya
perlu ditambahkan pengawet.
Chondrus. Larut dalam air, tidak larut dalam alkohol dan bersifat
basa. Karagen merupakan derivat dari sakarida. Chondrus ini mudah dirusak oleh
bakteri. Oleh karena itu dalam penggunaannya perlu ditambahkan pengawet.
Tragacanth. Sangat lambat mengalami hidrasi sehingga untuk mempercepat
hidrasi biasanya dilakukan pemanasan. Mucilago tragacanth lebih kental
dibanding PGA. Kadar yang digunakan sebagai suspending agent yaitu 2%.
Solutio
Gummi Arabic. Cara pembuatannya Gummi Arabicum 10%
dibuat dengan jalan membuat dahulu Mucilago Gummi Arabici dari gom yang
tersedia dan kemudian mengencerkannya.
Benthonit. Digunakan sebagai suspending agent yaitu 0,5-5%. Benthonit
berbentuk mineral, kristal, tidak berbau, oucat/krim keabu-abuan, bubuk halus
dan partikel 50-150 mm.
Mucilago
Saleb. Digunakan sebagai suspending agent
yaitu 1%.
Solutio
gummosa. Mengandung
pulvis gummosus 2% dan dibuat dengan jalan menggerus dahulu pulvis gummosa
dengan air 7 kali banyaknya sampai diperoleh suatu masa yang homogen dan
mengencerkannya sedikit demi sedikit.
Solutio
Gummosa Tenuis. Mengandung pulvis gummosus 1% dan
dibuat dengan jalan menggerus dahulu pulvis gummosa dengan air 7 kali banyaknya
sampai diperoleh suatu masa yang homogen dan mengencerkannya sedikit demi
sedikit.
CMC-Na. Digunakan sebagai suspending agent yaitu 3-6%.
Bahan
Pengawet
Natrium
Benzoat. Sebagai pengawet digunakan dalam
dosis 0,02-0,5%. Propylis paragenum/Propil paragen/Nipasol. Sebagai pengawet digunakan dalam dosis 0,05-0,25%. Butyl paraben/Buthylis parabenum. Sebagai pengawet digunakan dalam dosis 0,1%. Etil paraben/Ethylis – paraben
Bahan Pewarna
Sunset yellow ( kuning ), Tartazin ( kuning ), Eritrosin ( merah ), Klorofil ( hijau ), Kurkumin ( kuning ), Antosianin ( orange/merah )
Bahan
Pengaroma
Oleum Citri (minyak jeruk), Oleum Annamomi (minyak kayu manis), Oleum Menthae (minyak permen)
Pelarut
Pembawa
Benzal Chloridum, Polietilen Glikol, Glycerin, Propilen Glikol, Docusate Sodium, Poloxamer
Cara
Pembuatan Suspensi
Metode Dispersi, metode ini
dilakukan dengan cara menambahkan serbuk bahan obat kedalam mucilago yang telah terbentuk, kemudian
baru di encerkan. Metode Prestipitasi, zat yang hendak didespersiakan di
larutkan terlebih dulu ke dalam pelarut organik yang hendak di
campur dengan air (Syamsuni, A. 2006).
Sistem
Pembentukan Suspensi
Sistem defukolasi, partikel
defukolasi mengendap perlahan akhir nya membentuk sedimen,akan terjadi
agregasi, dan akhirnya terbentuk cake yang keras dan sukar tersuspensi kembali. Sistem flokulasi, partikel flokulasi
terikat lemah, cepat mengendap dan pada penyimpanan tidak terjadi cake dan
mudah tersuspensi kembali (Syamsuni, A. 2006).
Evaluasi
Suspensi
Organoleptis digunakan untuk
mengetahui karakteristik sediaan sus[ensi meliputi bau, warna, rasa, bentuk. NB: * Tidak untuk sediaan topical.
Homogenitas digunakan untuk
mengetahui tingkat tercampurnya sediaan suspensi topikal secara merata (
menjadi satu ). Cara pengujian: ~ Dikocok sediaan suspensi topikal secara
merata.
Uji daya sebar digunakan untuk
mengetahui kemampuan menyebarnya suspensi topikal pada kulit. Cara pengujian: ~ Diambil sampel, Letakkan sampel
dipusat lempeng gelas. ~ Di atas lempeng gelas diberi beban
50 gram, amati.
Evaluasi laju sedimentasi digunakan
untuk mengetahui kecepatan pengendapan dari partikel-partikel suspense. Kecepatan sedimentasi berdasarkan
hukum stokes dipengaruhi : ~ Kerapatan fase terdispersi dan
kerapatan fase pendispersi partikel ringan. Kerapatan pembawa mengambang menjadi
sulit didistribusikan. ~ Diameter ukuran partikel semakin
kecil ukuran maka kecepatan jatuhnya lebih kecil. ~ Viskositas medium pendispersi
yaitu lau sedimentasi dapat berkurang dengan cara menaikkan viskositas medium
dispersi.
Evaluasi volume terpindaahkan
(Anonim b. 1995. Halaman 1089). Untuk penetapan volume terpindahkan, pilih tidak kurang dari
30 wadah, dan selanjutnya ikuti prosedur berikut untuk bentuk sediaan
tersebut. Kocok isi dari 10 wadah satu
persatu.
Evaluasi volume sedimentasi
digunakan untuk perbandingan dari volume endapan yang terjadi terhadap volume
awal dari suspensi sebelum mengendap setelah suspense
didiamkan. (Anief,1993:31). Cara pengujian : ~ Sediaan dimasukkan ke dlam tabung
sedimen yang berkala. ~ Volume yang diisikan merupakan volume awal. ~ Setelah didiamkan beberapa waktu
diamati volume akhir dengan terjadinya sedimentasi volume akhir terhadap volume yang diukur. ~ Dihitung volume
sedimentasi
Evaluasi waktu redispersi digunakan
untuk mencampurnya zat aktif dengan pelarut. Cara pengujian : ~ kocok sediaan. ~ Suspensi didiamkan hingga
mengendap.~ Dikocok sampai homogeny. ~ Dicatat waktunya. Waktu redispersi
baik bila suspensi telah terdispersi sempurna dengan pengocokan dalam waktu
maksiamal 30 detik.
Emulsi
Definisi
Emulsi adalah suatu dispersi dimana
fase terdispersinya terdiri9 dari bulatan-bulatan kecil zat cair yang
terdistribusi ke seluruh pembawa yang tidak bercampur. (Ansel, Howard. 2005.
Halaman 376 ). Emulsi
adalah sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan
lainnya dalam bentuk tetesan kecil. (Anonim b. 1995. Halaman 6). Emulsi adalah sediaan yang
mengandung bahan obat cair atau larutan obat, terdispersi dalam cairan pembawa,
distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok. (Anonim a. 1979.
Halaman 9 ). Dari
beberapa defini yang tertera dapat disimpulkan bahwa emulsiadalah sistem dua
fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan pembawa yang membentuk
butiran-butiran kecil dan distabilkan dengan zat pengemulsi/surfaktan yang
cocok.
Macam-macam
emulsi
Oral. Umumnya emulsi tipe o/w, karena rasa dan bau minyak yang
tidak enak dapat tertutupi, minyak bila dalam jumlah kecil dan terbagi dalam
tetesan-tetesan kecil lebih mudah dicerna.
Topikal. Umumnya emulsi tipe o/w atau w/o tergantung banyak faktor
misalnya sifat zatnya atau jenis efek terapi yang dikehendaki. Sediaan yang
penggunaannya di kulit dengan tujuan menghasilkan efek lokal.
Injeksi. Sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau
serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum
digunakan, yang disuntikkan secara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui
kulit atau selaput lendir. Contoh: Vit. A diserap cepat melalui jaringan, bila
diinjeksi dalam bentuk emulsi. (Syamsuni, A. 2006)
Tipe-tipe
emulsi
Tipe
emulsi o/w atau m/a: emulsi yang terdiri atas butiran minyak yang tersebar atau
terdispersi ke dalam air. Minyak sebagai fase internal, air sebagai fase
eksternal.
Tipe
emulsi w/o atau m/a: emulsi yang terdiri atas butiran air yang tersebar atau
terdispersi ke dalam minyak. Air sebagai fase internal, minyak sebagai fase
eksternal (Syamsuni, A. 2006).
Emulsi
yang tidak memenuhi persyaratan
Creaming: terpisahnya emulsi menjadi dua
lapisan, yaitu nagian mengandung fase dispersi lebih banyak dari pada lapisan
yang lain. Creaming bersifat reversibel artinya jika dikocok perlahan akan
terdispersi kembali.
Koalesensi
dan cacking (breaking): pecahnya emulsi karena film yang meliputi partikel rusak
dan butiran minyak berkoalesensi/menyatu menjadi fase tunggal yang memisah.
Emulsi ini bersifat irreversible. Hal ini terjadi karena: Peristiwa kimia (penambahan alkohol, perubahan pH). Peristiwa fisika (pemanasan, pendinginan, penyaringan). Peristiwa biologi (fermentasi bakteri, jamur, ragi).
Inversi fase peristiwa berubahnya tipe
emulsi o/w menjadi w/o secara tiba-tiba atau sebaliknya sifatnya irreversible.
Komponen
emulsi
Komponen dasar yaitu bahan pembentuk
emulsi yang harus terdapat di dalam emulsi, terdiri atas: Fase dispersi: zat cair yang
terbagi-bagi menjadi butiran kecil di dalam zat cair lainnya. Fase pendispersi: zat cair dalam emulsi yang berfungsi
sebagai bahan dasar ( bahan pendukung ) emulsi tersebut. Emulgator: bagian dari emulsi yang
berfungsi untuk menstabilkan emulsi. Contoh emulgator : Gom Arab, Tragacanth, Agar-agar, Condrus, CMC-Na, Emulgator alam (Kuning telur, Adeps lanae). Emulgator mineral: Magnesium Aluminuin Silikat ( Veegum
), bentonit.
Emulgator buatan/sintesis: Tween: Ester dari sorbitan dengan
asam lemak disamping mengandung ikatan eter dengan oksi etilen. Span: Ester dari sorbitan dengan
asam lemak. Berikut jenis span: Komponen Tambahan yaitu bahan
tambahan yang sering ditambahkan ke dalam emulsi untuk memperoleh hasil yang
lebih baik. Misalnya : pewarna, pengaroma, perasa, dan pengawet.
Metode
Pembuatan Emulsi
Metode GOM
kering
4:2:1 yaitu GOM dicampur minyak sampai homogen. Setelah homogen ditambahkan 2 bagian
air, campur sampai homogeny
Metode GOM
basah: GOM
dicampur dengan air sebagian. Ditambahkan minyak secara perlahan, sisa air ditambahkan
lagi.
Metode
botol: GOM dimasukkan ke dalam botol + air,
dikocok. Sedikit demi sedikit minyak ditambahkan
sambil terus dikocok (Ansel, Howard. 2005)
Stabilitas
Emulsi
Jika didiamkan tidak membentuk
agregat. Jika memisah antara minyak dan air
jika dikocok akan membentuk emulsi lagi. Jika terbentuka gregat, jika dikocok
akan homogen kembali.
Evaluasi
Sediaan Emulsi
Organoleptis: Meliputi pewarnaan, bau, rasa dan
dari seeiaan emulsi pada penyimpanan pada suhu endah 5oC dan tinggi
35oC pada penyimpanan masing-masing 12 jam. Volume Terpindahkan (Anonim b. 1995. Halaman 1089). Penentuan viskositaas: Dilakukan terhadap emulsi,
pengukuran viskositas dilakukan dengna viskometer brookfield pada 50 putaran
permenit (Rpm). Daya hantar listrik: Emulsi yang sudah dibuat dimasukkan dalam gelas piala
kemudian dihubungkan dengan rangkaian arus listrik. Jika mampu menyala maka
emulsi tipe minyak dalam air. Jika sistem tidak menghantarkan listrik maka
emulsi tipe air dalam minyak.
Metode
pengenceran:
Emulsi yang sudah dibuat dimasukkan dalam gelas piala kemudian diencerkan
dengan air. JIka dapat diencerkan maka emulsi tipe minyak dalam air dan
sebaliknya. Metode percobaan cincin: Jika satu tetes emulsi yang diuji
diteteskan pada kertas saring maka emulsi minyak dalam air dalam waktu singkat
membentuk cincin air disekeliling tetesan. Metode warna: Beberapa tetes larutan bahan pewarna lain ( metilen )
dicampurkan ke dalam contoh emulsi. Jika selurih emulsi berwarna seragam maka
emulsi yang diuji berjenis minyak dalam air, oleh karena air adalah fase luar.
Sampel yang diuji bahan warna larut sudan III dalam minyak pewarna homogen pada
sampel berarti sampel tipe air dalam minyak karena pewarna pelarut lipoid mampu
mewarnai fase luar.
Daftar Pustaka
Anonim
a. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia:Jakarta.
Anonim
b. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia:Jakarta.
Handbook
Of Pharmaceutical Exipient.
Syamsuni,
A. 2006. Ilmu Resep. Penerbit Buku Kedokteran EGC:Jakarta.
Anief,
Moh. (2004). Ilmu Meracik Obat,
Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.
Voigt,
R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Gadjah Mada University
Press: Yogyakarta.
Ansel,
Howard. 2005. Pengantar Bentuk Sediaan
Farmasi Edisi IV. Erlangga: Jakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar