Rabu, 30 November 2016

Sediaan Cair Farmasi (Larutan)

 
Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut (Anonim b. 1995. Halaman 15). Larutan adalah sediaan cair yang dibuat dengan melarutkan satu jenis obat atau lebih di dalam pelarut, dimaksudkan ke dalam organ tubuh (Formularium Nasional hal 322). Solution atau larutan adalah sediaan yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut (FI IV hal. 17). Sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut kecuali dinyatakan lain, sebagai pelarut digunakan air suling (FI III hal. 32). Kesimpulan: larutan adalah sediaan yang mengandung satu atau lebih obat dalam pelarut ( dengan zat pelarut yang sesuai ) & digunakan sebagai obat dalam ataupun obat luar.


Penggolongan Larutan

Berdasarkan cara penggunaannya
Larutan oral adalah sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral, mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma, pemanis atau pewarna yang larut dalam air atau campuran kosolven air. (Anonim b. 1995. Halaman 15).

Sirup adalah larutan oral yang mengandung sukrosa atau gula lain dalam kadar tinggi (sirop simplex adalah sirop yang hamper jenuh dengan sukrosa). Larutan oral yang tidak mengandung gula tetapi bahan pemanis buatan seperti sorbitol atau aspartam, dan bahan pengental, seperti gom selulosa, sering digunakan untuk penderita diabetes.

Eliksir adalah larutan oral yang mengandung etanol (95%) sebagai kosolven (pelarut). Untuk mengurangi kadar etanol yang dibutuhkan untuk pelarut, dapat ditambahkan kosolven lain seperti gliserin dan propilen glikol.

Larutan topikal adalah larutan yang biasanya mengandung air, tetapi sering kali mengandung pelarut lain seperti etanol dan poliol untuk penggunaan pada kulit, atau dalam larutan lidokain oral topikal. Lotio (larutan atau suspensi) yang digunakan secara topikal.

Larutan otik adalah larutan yang mengandung air atau gliserin atau pelarut lain dan bahan pendispersi. Penggunaan telinga luar, misalnya larutan otik benzokain dan antipirin, larutan otik neomisin B sulfat, dan larutan otik hidrokortison. (Syamsuni, A. 2006)

Berdasarkan sistem pelarut dan zat terlarut
Spirit adalah larutan yang mengandung etanol atau hidroalkohol dari zat mudah menguap umumnya digunakan sebagai bahan pengaroma.

Tingtur adalah larutan yang mengandung etanol atau hidroalkohol yang dibuat dari bahan tumbuhan atau senyawa kimia.

Air aromatik adalah larutan jernih dan jenuh dalam air, dari minyak, mudah menguap atau senyawa aromatik, atau bahan mudah menguap lainnya.


Macam-Macam Sediaan Larutan Obat

Larutan untuk telinga
Solutio Otic / Guttae Auriculares. Larutan otik adalah larutan yang mengandung air atau gliserin atau pelarut lain dan bahan pendispersi, untuk penggunaan telinga luar : misalnya larutan otik benzokain dan antipirin, larutan otik neomisin B sulfat, dan larutan otik hidrokortison.

Larutan yang dipakai ke dalam telinga ini biasanya mengandung antibiotic, sulfonamida, anestetik local, peroksida (H2O2), fungisida, asam borat, NaCl, gliserin dan propilen glikol. Gliserin dan propilen glikol sering dipakai sebagai pelarut, karena dapat melekat dengan baik pada bagian dalam telinga sehingga obat lebih lama kontak dengan jaringan telinga, sedangkan alkohol dan minyak nabati hanya kadang – kadang dipakai.

pH optimum untuk cairan berair yang digunakan dalam  obat tetes telinga haruslah dalam suasana asam (pH 5 - 7,3), dan pH inilah yang sering menentukan khasiatnya. Larutan basa umumnya tidak dikehendaki, karena tidak fisiologis dan mempermudah timbulnya radang. Jika pH larutan telinga berubah dari asaam menjadi basa, bakteri dan fungi akan tumbuh dengan baik, hal ini tentunya tidak dikehendaki.  (Syamsuni, A. 2006).

Larutan untuk hidung
Collunarium (obat cuci hidung). Collunarium adalah larutan yang digunakan untuk obat cuci hidung. Biasanya berupa larutan dalam air yang ditujukan untuk membersihkan rongga hidung. Oleh karena itu, hendaknya diperhatikan pH dan isotonisitasnya karena dapat menimbulkan rasa pedih pada mukosa hidung.

Guttae nasales/Nose drops (obat tetes hidung). Guttae nasales/Nose drops (obat tetes hidung) adalah obat tetes yang digunakan untuk hidung dengan cara meneteskan obat ke dalam rongga hidung, dapat mengandung zat pensuspensi, pendapar, dan pengawet. Cairan pembawa umumnya menggunakan air. Cairan pembawa sebaiknya mempunyai pH 5,5 – 7,5, kapasitas dapar sedang, isotonis atau hampir isotonis.

Nebula/Inhalationes/Nose spray (obat semprot hidung). Inhalations adalah sediaan yang dimaksudkan untuk disedot melalui hidung atau muulut, atau disemprotkan (nose spray) dalam bentuk kabut ke dalam saluran pernapasan. Tetean atau butiran kabut harus seragam dan sangat halus sehingga dapaat mencapai bronkioli (Syamsuni, A. 2006).

Larutan untuk mulut
Collutorium (obat cuci mulut). Collutorium adalah larutaan pekat dalam air yang mengandung deodorant, antiseptic, anestetik lokal, dan adstringensia yang digunakan untuk obat cuci mulut. karena digunakan untuk obat cuci mulut. Karena digunakan untuk cuci mulut, sediaan in harus dapat menghilangkan sisa – sisa makanan dan lain – lain dari mulut (sela – sela gigi). Umumnya larutan yang dipakai pada atau lewat mulut mempunyi pH 7 – 9,5. Disimpan dalam botol putih bermulut kecil. Penandaan pada etiket obat cuci mulut harus tertera tanda yang jelas yaitu “Untuk obat cuci mulut, tidak boleh ditelan”.                                                                                   

Gargarisma/gargle (obat kumur). Gargarisma/gargle (obat kumur) adalah sediaan berupa larutan, umumnya dalaam larutan pekat yang harus diencerkan lebih dahulu sebelum digunakan, dimaksudkan untuk digunakan sebagai pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan atau jalan nafas. Tujuan utama obat kumur adalah agar obat yang terkandung di dalamnya dapat langsung terkena selaput lendir sepanjang tenggorokan, dan tidak dimaksudkan agar obat itu menjadi pelindung sselaput lendir. Karena itu, obat berupa minyaak yang memerlukan zat pensuspensi dan obat yang bersifat lendir tidak sesuai dijadikan obat kumur. Penyimpanan: Dalam wadah botol berwarna susu atau wadah lain yang cocok. Penandaan pada etiket harus tertera: Petunjuk pengencerannya, sebelum digunakan. Tanda yang jelas yaitu “Hanya untuk kumur, tidak ditelan”. 

Litus oris (obat oles bibir). Litus oris atau obat oles bibir adalah cairan agak kental yang pemakaiannya disapukan pada mulut. contoh sediaan litus oris adalah larutan 10% borax dalam gliserin.

Guttae oris (obat tetes mulut). Guttae oris atau obat tetes mulut adalah obat tetes yang digunakan untuk mulut dengan cara mengencerkan lebih dahulu dengan air untuk dikumur – kumurkan, tidak untuk ditelan (Syamsuni, A. 2006).

Larutan oral
Potiones (obat minum). Potiones atau obat minum adalah larutan yang dimaksudkan untuk pemakaian dalam (per oral). Selain berbentuk larutan, potio dapat juga berbentuk emulsi atau suspense.

Eliksir. Eliksir adalah larutan oral yang mengandung etanol 90% yang berfungsi sebagai kosolven (pelarut) dan untuk mempertinggi kelarutan obat. Kadar etanol berkisar antara 3% dan 4%, dan biasanya eliksir mengandung etanol 5-10%. Untuk mengurangi kadar etanol yang dibutuhkan untuk pelarut, dapat ditambahkan kosolven lain seperti gliserin, sorbitol dan propilen glikol. Bahan tambahan yang digunakan antara lain pemanis, pangawet, pewarna, dan pewangi, sehingga memiliki bau dan rasa yang sedap. Sebagai pengganti gula dapat digunakan sirup gula.

Sirop. Sirop adalah larutan oral yang mengandung sukrosa atau gula lain yang berkadar tinggi (sirop simpleks adalah sirop yang hampir jenuh dengan sukrosa). Kadar sukrosa dalam sirop adalah 64-66%, kecuali dinyatakan lain. Selain sukrosa dan gula lain, pada larutan oral ini dapat ditambahkan senyawa poliol seperti sorbitol dan gliserin untuk menghambat penghabluran dan mengubah kelarutan, rasaa dan sifaat lain zat pembawa. Umumnya juga ditambahkan zat antimikroba untuk mencegah pertumbuhan bakteri, jamur, dan ragi.

Ada 3 macam sirop: Sirop simpleks (mengandung 65% gula dalam larutan nipagin 0,25% b/v). Sirop obat (mengandung satu jenis obaat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan dan digunakan untuk pengobatan). Sirop pewangi (tidak mengandung obat tetapi mengandung zat pewangi atau zat penyedap lain). Tujuan pengembangan sirop ini adalah untuk menutupi rasa tidak enak dan baau obat yang tidak enak.

Netralisasi. Netralisasi adalah obat minum yang dibuat dengan mencampurkan bagian asam dan bagian basa sampai reaksi selesai dan larutan bersifat netral. Contoh: solution citratis magnesici, amygdalat ammonicus. Pembuatn: seluruh bagian asam direaksikan dengan bagian basanya, jika perlu reaksi dipercepat dengan pemanasan.

Saturatio. Saturatio adalah obat minum yang dibuat dengan mereaksikan asam dengan basa tetapi gas yang terbentuk ditahan dalam wadah sehingga larutan menjadi jenuh dengan gas.

Potio Effervescent. Potio Effervescent adalah saturatio dengan gas CO2 yang lewat jenuh. Gas CO2 umumnya digunakan untuk pengobatan, menjaga stabilitas obat, dan kadang – kadang dimaksudkan untuk menyegarkan rasa minuman (Corrigensia).

Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk sediaan Saturatio dan Potio Effervescent adalah: Diberikan dalam botol yang tahan tekanan (kuat), berisi kira – kira Sembilan persepuluh bagian dan tertutup-kedap dengan tutup gabus atau karet yang rapat. Kemudian diikat dengan sampagne knop. Tidak boleh mengandung bahan obat yang tidak larut, karena tidak boleh dikocok. Pengocokan menyebabkan botol menjadi pecah, karena berisi gas dalam jumlah besar yang menimbulkan tekanan.

Guttae. Guttae atau obat tetes adalah sediaan cair berupa larutan, emulsi atau suspense yang jika tidak dinyatakan lain, dimaksudkan untuk obat dalam. Digunakan dengan cara meneteskan larutan tersebut dengan menggunakan penates yang menghasilkan tetesan yang setaara dengan tetesan yang dihasilkaan penates baku yang disebutkan dalam farmakope Indonesia (47,5-52,5mg air suling pada suhu 20oC). Dalam perdagangan dikenal sediaan pediatric drop yaitu obat tetes yang digunakan untuk anak – anak atau bayi.  Obat tetes yang digunakan untuk obat luar, biasanya disebutkan tujuan pemakaiannya, misalnya eye drop untuk mata, ear drop untuk telinga, dan lain – lain. (Syamsuni, A. 2006)

Larutan topical
Ephitema (obat kompres). Ephitema atau obat kompres adalah cairan yang dipakai untuk mendatangkan rasa dingin pada tempat yang sakit dan panas karena radang atau sifat perbedaan tekanan osmosis yang digunakan untuk mengeringkan luka bernanah. Contoh: Liquor Burowi, Solutio Rivanol, campuran Boorwater dan Rivanol.

Lotio. Lotio atau obat gosok adalah sediaan cair berupa suspense atau disperse, digunakan sebagai obat luar. Dapat berbentuk suspense bahan padat dalam bentuk halus dengan bahn pensuspensi yang cocok atau tipe emulsi minyak dalam air (M/A) dengan surfaktan yang cocok. Pada penyimpanan mungkin terjadi pemisahan. Dapat ditambahkan zat warna, zat pengawet, dan zat pewangi yang cocok. Penandaan haarus tertera: “Obat luar”, “KOCOK DAHULU” (Syamsuni, A. 2006).

Beberapa Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Sediaan Larutan: Kelarutan zat aktif. Kestabilan zat aktif dalam larutan. Penyimpanan.

Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kelarutan. Sifat polaritas zat terlarut dan pelarut. Memiliki pengertian bahwa molekul polar (zat terlarrut) larut dalam pelarut polar, sebaliknya molekul non polar (zat terlarut) akan larut dalam pelarut non polar. Co-solvency, adalah suatu peristiwa terjadinya kenaikan kelarutan dengan penambahan pelarut lain, atau modifikasi pelarut. Misalnya luminal tidak larut dalam air tetapi larut dalam campuran air + gliserin ( Syamsuni, A. 2006).

Keuntungan Dan Kerugian Sediaan Larutan
Keuntungan: Merupakan campuran homogeny. Dosis dapat diubah – ubah dalam pembuatan. Dapat diberikan dalam larutan encer, sedangkan kapsul dan tablet sulit diencerkan. Kerja awal obat lebih cepat, karena obat cepat di absorbs. Mudah diberi pemanis, pengaroma, pewarna. Untuk pemakaian luar mudah digunakan.

Kerugian: Ada obat yang tidak stabil dalam larutan. Ada obat yang sukar ditutupi rasa dan baunya dalam larutan (Syamsuni, A. 2006).

Syarat -Syarat Larutan: Zat terlarut harus larut sempurna dalam pelarutnya. Zat harus stabil, baik pada suhu kamar dan pada penyimpanan. Jernih. Tidak ada endapan (Anonim b. 1995)

Komposisi Larutan
Bahan aktif / solut/ zat terlarut. Contoh : kamfer, iodin, mentol.

Solven / zat pelarut. Contoh: Air untuk melarutka garam – garam. Spiritus untuk melarutkan kamfer, iodin, mentol. Eter untuk melarutkan kamfer, fosfor sublimat. Gliserin untuk melarutkan tannin, zat samak, boraks, fenol. Minyak untuk melarutkan kamfer. Paraffin liquidum untuk melarutkan cera dan cetasium. Kloroform untuk melarutkan minyak – minyak, lemak.

Bahan tambahan. Corrigen odoris: digunakan untuk memperbaiki bau obat. Contoh: oleum cinnamommi, oleum rosarum, oleum citri, oleum menthae pip. Corrigen saporis: digunakan untuk mempebaiki rasa obat. Contoh : saccharosa/sirup simplex, sirup auratiorum, tingtur cinnamommi, aqua menthae piperithae. Corrigen coloris: digunakan untuk memperbaiki warna obat.  Contoh : karminum (merah), karamel (coklat), tinture croci (kuning). Corrigen solubilis: digunakan untuk memperbaiki kelarutan dari obat utama. Contoh : iodium dapat mudah larut dalam larutan pekat. Pengawet: digunakan untuk mengawetkan obat. Contoh : asam benzoat, natrium benzoat, nipagin, nipasol (Syamsuni, A. 2006).

Istilah-Istilah Kelarutan
NO
Istilah Kelarutan
Jumlah bagian pelarut yang dibutuhkan untuk melarutkan satu bagian zat
1
2
3
4
5
6
7
Sangat Mudah Larut
Mudah Larut
Larut
Agak Sukar Larut
Sukar Larut
Sangat Sukar Larut
Praktis Tidak Larut
< 1
1 – 10
10 – 30
30 – 100
100 – 1000
1000 – 10.000
> 10.000
(Anonim b. 1995)

Evaluasi Sediaan Larutan
Organoleptis: Meliputi pewarnaan, bau, rasa dan dari seeiaan emulsi pada penyimpanan pada suhu endah 5oC dan tinggi 35oC pada penyimpanan masing-masing 12 jam.

Volume Terpindahkan (FI IV, <1089>). Untuk penetapan volume terpindahkan, pilih tidak kurang dari 30 wadah, dan selanjutnya ikuti prosedur berikut untuk bentuk sediaan tersebut.  Kocok isi dari 10 wadah satu persatu.

Prosedur: Tuang isi perlahan-lahan dari tiap  wadah ke dalam gelas ukur kering terpisah dengan kapasitas gelas ukur tidak lebih dari dua setengah kali volume yang diukur dan telah dikalibrasi, secara hati-hati untuk menghindarkan pembentukkan gelembung udaa pada waktu penuangan dan diamkan selama tidak lebih dari 30 menit. 

Jika telah bebas dari gelembung udara, ukur volume dari tiap campuran:  volume rata-rata larutan yang diperoleh dari 10 wadah tidak kurang dari 100 %, dan tidak satupun volume wadah yang kurang dari 95 % dari volume yang dinyatakan pada etiket. Jika A adalah volume rata-rata kurang dari 100 % dari yang tertera pada etiket akan tetapi tidak ada satu wadahpun volumenya kurang dari 95 % dari volume yang tertera pada etiket, atau B tidak lebih dari satu wadah volume kurang dari 95 %, tetapi tidak kurang dari 90  % dari volume yang tertera pada etiket, lakukan pengujian terdadap 20 wadah tambahan. Volume rata-rata larutan yang diperoleh dari 30 wadah tidak kurang dari 100 % dari volume yang tertera pada etiket, dan tidak lebih dari satu dari 30 wadah volume kurang dari 95 %, tetapi tidak kurang dari 90 % seperti yang tertera pada etiket (Voigt, R. 1995).


Suspensi

Definisi
Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa (Anief, Moh. 2004. Halaman 149). Suspensiones (suspensi) adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bendtuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa. Zat yang terdispersi harus halus dan tidak boleh cepat mengendap. Kekentalan suspensi tidak boleh terlali tinggi agar sediaan mudah dikocok dan dituang. (Anonim a. 1979. Halaman 32). Dari beberapa definisi yang tertera dapat disimpulkan bahwa suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut yang terdispersi ke dalam fase cair serta kekentalan suspense tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah dikocok dan dituang.

Macam-Macam Suspensi
Suspensi oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat dalam bentuk halus yang terdispersi dalam fase cair dengan penambahan bahan pengaroma. Suspensi topikal adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat dalam bentuk halus yang terdispersi dalam fase cair, di tunjukan untuk pemakian di permukaan kulit. Suspensi tetes telinga sediaan cair yang mengandung partikel dalam bentuk halus yang terdispersi dalam fase cair yang di teteskan pada telinga. Suspensi oftalmik  sediaan cair yang mengandung partikel sangat halus yang terdispersi dalam cair pembawa untuk pemakaian pada mata. Suspensi ijeksi adalah sediaan padat dan kering dengan bahan pembawa yang sesuai persyaratan suspensi steril (Syamsuni, A. 2006).

Syarat-syarat Suspensi
Zat terdispersi harus halus dan tidak boleh mengendap. Jika dikocok harus segera terdispersi kembali. Dapat mengandung zat dan bahan menjamin stabilitas suspense. Kekentalan suspensi tidak bolah terlalu tinggi agar mudah dikocok atau sedia dituang (Anonim b. 1995).

Bahan Tambahan

Suspending Agent. Golongan GOM , meliputi :
Akasia (Pulvin Gummi Arabic). Larut dalam air, tidak larut dalam alkohol, bersifat asam. Viskositas optimum mucilagonya dalam pH 5-9. Akasia digunakan dengan kadar 35% yang kira-kira memiliki kekentalan sama dengan gliserin. Akasia ini mudah dirusak oleh bakteri. Oleh karena itu dalam penggunaannya perlu ditambahkan pengawet.

Chondrus. Larut dalam air, tidak larut dalam alkohol dan bersifat basa. Karagen merupakan derivat dari sakarida. Chondrus ini mudah dirusak oleh bakteri. Oleh karena itu dalam penggunaannya perlu ditambahkan pengawet.

Tragacanth. Sangat lambat mengalami hidrasi sehingga untuk mempercepat hidrasi biasanya dilakukan pemanasan. Mucilago tragacanth lebih kental dibanding PGA. Kadar yang digunakan sebagai suspending agent yaitu 2%.

Solutio Gummi Arabic. Cara pembuatannya Gummi Arabicum 10% dibuat dengan jalan membuat dahulu Mucilago Gummi Arabici dari gom yang tersedia dan kemudian mengencerkannya.

Benthonit. Digunakan sebagai suspending agent yaitu 0,5-5%. Benthonit berbentuk mineral, kristal, tidak berbau, oucat/krim keabu-abuan, bubuk halus dan partikel  50-150 mm.

Mucilago Saleb. Digunakan sebagai suspending agent yaitu 1%.

Solutio gummosa. Mengandung pulvis gummosus 2% dan dibuat dengan jalan menggerus dahulu pulvis gummosa dengan air 7 kali banyaknya sampai diperoleh suatu masa yang homogen dan mengencerkannya sedikit demi sedikit.

Solutio Gummosa Tenuis. Mengandung pulvis gummosus 1% dan dibuat dengan jalan menggerus dahulu pulvis gummosa dengan air 7 kali banyaknya sampai diperoleh suatu masa yang homogen dan mengencerkannya sedikit demi sedikit.

CMC-Na. Digunakan sebagai suspending agent yaitu 3-6%.

Bahan Pengawet
Natrium Benzoat. Sebagai pengawet digunakan dalam dosis 0,02-0,5%.  Propylis paragenum/Propil paragen/Nipasol. Sebagai pengawet digunakan dalam dosis 0,05-0,25%.  Butyl paraben/Buthylis parabenum. Sebagai pengawet digunakan dalam dosis 0,1%.  Etil paraben/Ethylis – paraben

Bahan Pewarna
Sunset yellow ( kuning ), Tartazin ( kuning ),  Eritrosin ( merah ),  Klorofil ( hijau ), Kurkumin ( kuning ),  Antosianin ( orange/merah )

Bahan Pengaroma
Oleum Citri (minyak jeruk), Oleum Annamomi (minyak kayu manis), Oleum Menthae (minyak permen)

Pelarut Pembawa
Benzal Chloridum, Polietilen Glikol, Glycerin, Propilen Glikol, Docusate Sodium, Poloxamer


Cara Pembuatan Suspensi
Metode Dispersi, metode ini dilakukan dengan cara menambahkan serbuk bahan obat kedalam mucilago yang telah terbentuk, kemudian baru di encerkan. Metode Prestipitasi, zat yang hendak didespersiakan di larutkan terlebih dulu ke dalam pelarut organik yang hendak di campur dengan air (Syamsuni, A. 2006).

Sistem Pembentukan Suspensi
Sistem defukolasi, partikel defukolasi mengendap perlahan akhir nya membentuk sedimen,akan terjadi agregasi, dan akhirnya terbentuk cake yang keras dan sukar tersuspensi kembali. Sistem flokulasi, partikel flokulasi terikat lemah, cepat mengendap dan pada penyimpanan tidak terjadi cake dan mudah tersuspensi kembali (Syamsuni, A. 2006).

Evaluasi Suspensi
Organoleptis digunakan untuk mengetahui karakteristik sediaan sus[ensi meliputi bau, warna, rasa, bentuk. NB: * Tidak untuk sediaan topical.

Homogenitas digunakan untuk mengetahui tingkat tercampurnya sediaan suspensi topikal secara merata ( menjadi satu ). Cara pengujian: ~ Dikocok sediaan suspensi topikal secara merata.

Uji daya sebar digunakan untuk mengetahui kemampuan menyebarnya suspensi topikal pada kulit. Cara pengujian: ~ Diambil sampel, Letakkan sampel dipusat lempeng gelas. ~ Di atas lempeng gelas diberi beban 50 gram, amati.

Evaluasi laju sedimentasi digunakan untuk mengetahui kecepatan pengendapan dari partikel-partikel suspense. Kecepatan sedimentasi berdasarkan hukum stokes dipengaruhi : ~ Kerapatan fase terdispersi dan kerapatan fase pendispersi partikel ringan. Kerapatan pembawa mengambang menjadi sulit didistribusikan. ~ Diameter ukuran partikel semakin kecil ukuran maka kecepatan jatuhnya lebih kecil. ~ Viskositas medium pendispersi yaitu lau sedimentasi dapat berkurang dengan cara menaikkan viskositas medium dispersi.

Evaluasi volume terpindaahkan (Anonim b. 1995. Halaman 1089). Untuk penetapan volume terpindahkan, pilih tidak kurang dari 30 wadah, dan selanjutnya ikuti prosedur berikut untuk bentuk sediaan tersebut.  Kocok isi dari 10 wadah satu persatu.

Evaluasi volume sedimentasi digunakan untuk perbandingan dari volume endapan yang terjadi terhadap volume awal dari suspensi sebelum mengendap setelah suspense didiamkan. (Anief,1993:31). Cara pengujian : ~ Sediaan dimasukkan ke dlam tabung sedimen yang berkala. ~ Volume yang diisikan merupakan volume awal. ~ Setelah didiamkan beberapa waktu diamati volume akhir dengan terjadinya sedimentasi volume akhir terhadap  volume yang diukur. ~ Dihitung volume sedimentasi

Evaluasi waktu redispersi digunakan untuk mencampurnya zat aktif dengan pelarut. Cara pengujian : ~ kocok sediaan. ~ Suspensi didiamkan hingga mengendap.~ Dikocok sampai homogeny. ~ Dicatat waktunya. Waktu redispersi baik bila suspensi telah terdispersi sempurna dengan pengocokan dalam waktu maksiamal 30 detik.


Emulsi

Definisi
Emulsi adalah suatu dispersi dimana fase terdispersinya terdiri9 dari bulatan-bulatan kecil zat cair yang terdistribusi ke seluruh pembawa yang tidak bercampur. (Ansel, Howard. 2005. Halaman 376 ). Emulsi adalah sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan lainnya dalam bentuk tetesan kecil. (Anonim b. 1995. Halaman 6). Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok. (Anonim a. 1979. Halaman 9 ). Dari beberapa defini yang tertera dapat disimpulkan bahwa emulsiadalah sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan pembawa yang membentuk butiran-butiran kecil dan distabilkan dengan zat pengemulsi/surfaktan yang cocok.

Macam-macam emulsi
Oral. Umumnya emulsi tipe o/w, karena rasa dan bau minyak yang tidak enak dapat tertutupi, minyak bila dalam jumlah kecil dan terbagi dalam tetesan-tetesan kecil lebih mudah dicerna.

Topikal. Umumnya emulsi tipe o/w atau w/o tergantung banyak faktor misalnya sifat zatnya atau jenis efek terapi yang dikehendaki. Sediaan yang penggunaannya di kulit dengan tujuan menghasilkan efek lokal.

Injeksi. Sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan secara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir.  Contoh: Vit. A diserap cepat melalui jaringan, bila diinjeksi dalam bentuk emulsi. (Syamsuni, A. 2006)

Tipe-tipe emulsi
Tipe emulsi o/w atau m/a: emulsi yang terdiri atas butiran minyak yang tersebar atau terdispersi ke dalam air. Minyak sebagai fase internal, air sebagai fase eksternal.

Tipe emulsi w/o atau m/a: emulsi yang terdiri atas butiran air yang tersebar atau terdispersi ke dalam minyak. Air sebagai fase internal, minyak sebagai fase eksternal (Syamsuni, A. 2006).

Emulsi yang tidak memenuhi persyaratan
Creaming: terpisahnya emulsi menjadi dua lapisan, yaitu nagian mengandung fase dispersi lebih banyak dari pada lapisan yang lain. Creaming bersifat reversibel artinya jika dikocok perlahan akan terdispersi kembali.

Koalesensi dan cacking (breaking): pecahnya emulsi karena film yang meliputi partikel rusak dan butiran minyak berkoalesensi/menyatu menjadi fase tunggal yang memisah. Emulsi ini bersifat irreversible. Hal ini terjadi karena: Peristiwa kimia (penambahan alkohol, perubahan pH). Peristiwa fisika (pemanasan, pendinginan, penyaringan). Peristiwa biologi (fermentasi bakteri, jamur, ragi).

Inversi fase peristiwa berubahnya tipe emulsi o/w menjadi w/o secara tiba-tiba atau sebaliknya sifatnya irreversible.

Komponen emulsi
Komponen dasar yaitu bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat di dalam emulsi, terdiri atas: Fase dispersi: zat cair yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil di dalam zat cair lainnya.  Fase pendispersi: zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar ( bahan pendukung ) emulsi tersebut. Emulgator: bagian dari emulsi yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi. Contoh emulgator : Gom Arab, Tragacanth,  Agar-agar, Condrus, CMC-Na, Emulgator alam (Kuning telur, Adeps lanae). Emulgator mineral: Magnesium Aluminuin Silikat ( Veegum ), bentonit.

Emulgator buatan/sintesis: Tween: Ester dari sorbitan dengan asam lemak disamping mengandung ikatan eter dengan oksi etilen. Span: Ester dari sorbitan dengan asam lemak. Berikut jenis span: Komponen Tambahan yaitu bahan tambahan yang sering ditambahkan ke dalam emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Misalnya : pewarna, pengaroma, perasa, dan pengawet.

Metode Pembuatan Emulsi
Metode GOM kering 4:2:1 yaitu GOM dicampur minyak sampai homogen. Setelah homogen ditambahkan 2 bagian air, campur sampai homogeny

Metode GOM basah: GOM dicampur dengan air sebagian. Ditambahkan minyak secara perlahan, sisa air ditambahkan lagi.

Metode botol: GOM dimasukkan ke dalam botol + air, dikocok. Sedikit demi sedikit minyak ditambahkan sambil terus dikocok (Ansel, Howard. 2005)

Stabilitas Emulsi
Jika didiamkan tidak membentuk agregat. Jika memisah antara minyak dan air jika dikocok akan membentuk emulsi lagi. Jika terbentuka gregat, jika dikocok akan homogen kembali.

Evaluasi Sediaan Emulsi
Organoleptis: Meliputi pewarnaan, bau, rasa dan dari seeiaan emulsi pada penyimpanan pada suhu endah 5oC dan tinggi 35oC pada penyimpanan masing-masing 12 jam. Volume Terpindahkan (Anonim b. 1995. Halaman 1089). Penentuan viskositaas: Dilakukan terhadap emulsi, pengukuran viskositas dilakukan dengna viskometer brookfield pada 50 putaran permenit (Rpm). Daya hantar listrik: Emulsi yang sudah dibuat dimasukkan dalam gelas piala kemudian dihubungkan dengan rangkaian arus listrik. Jika mampu menyala maka emulsi tipe minyak dalam air. Jika sistem tidak menghantarkan listrik maka emulsi tipe air dalam minyak.

Metode pengenceran: Emulsi yang sudah dibuat dimasukkan dalam gelas piala kemudian diencerkan dengan air. JIka dapat diencerkan maka emulsi tipe minyak dalam air dan sebaliknya. Metode percobaan cincin: Jika satu tetes emulsi yang diuji diteteskan pada kertas saring maka emulsi minyak dalam air dalam waktu singkat membentuk cincin air disekeliling tetesan. Metode warna: Beberapa tetes larutan bahan pewarna lain ( metilen ) dicampurkan ke dalam contoh emulsi. Jika selurih emulsi berwarna seragam maka emulsi yang diuji berjenis minyak dalam air, oleh karena air adalah fase luar. Sampel yang diuji bahan warna larut sudan III dalam minyak pewarna homogen pada sampel berarti sampel tipe air dalam minyak karena pewarna pelarut lipoid mampu mewarnai fase luar.


Daftar Pustaka
Anonim a. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia:Jakarta.

Anonim b. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia:Jakarta.

Handbook Of Pharmaceutical Exipient.

Syamsuni, A. 2006. Ilmu Resep. Penerbit Buku Kedokteran EGC:Jakarta.

Anief, Moh. (2004). Ilmu Meracik Obat, Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

Voigt, R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

Ansel, Howard. 2005. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi IV. Erlangga: Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar