Pernah nonton film The Hobbit? Ada satu
pernyataan yang saya suka dari film ini. Melimpahnya cadangan emas atau logam
mulia di suatu negeri, bisa jadi bukan
mendatangkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi warganya, sebaliknya justru akan
menjadi bencana bagi penduduknya! Gunung emas di Papua adalah salah satu
contohnya.
Menilik pada fakta sejarah, pada masa
pemerintahan John F Kennedi hubungan Indonesia dan Amerika Serikat begitu
romantis. Setelah Soekarno berhasil melobi Rusia untuk membeli peralatan tempur
dengan berhutang, guna mengusir kependudukan Belanda yang masih bercokol di
Bumi Cenderawasih, Irian Barat. Dan aksi militer yang diberi nama Operasi
Trikora itu akhirnya sukses memaksa Belanda berunding di PBB, dalam
bernegosiasi dengan Belanda lewat tekanan USA pulalah akhirnya Irian Jaya
kembali ke pangkuan ibu pertiwi.
Hal ini menjadi bencana, setelah CIA (Central Intelegent Amerika) mengetahui
ternyata di Irian Jaya terdapat gunung emas yang melimpah ruah. Freeport yang
nyaris bangkrut karena invasi USA di Kuba mendapat perlawanan keras dari Fidel
Castro. Di sini terjadil tawar menawar dan terjalin sebuah kesepakatan rahasia
antara Freeport dan pimpinan CIA, Allan Dulles.
Allan Dulles menyadari, gunung emas di
Papua akan sulit ditambang kalau Soekarno yang seorang nasionalis tulen itu masih
berkuasa di Indonesia. Allan Dulles juga paham, menjatuhkan Soekarno akan sulit
mengingat kedekatan Soekarno dan John F Kenedy. Dulles melalui CIA mulai
melakukan misi rahasianya, membunuh John F Kennedy dan Soekarno sekaligus. Misi
membunuh John F Kennedy berhasil, tapi Soekarno setelah melalui tujuh kali
percobaan pembunuhan, semuanya gagal.
Wafatnya John F Kennedy telah
merenggangkan hubungan bilateral antara Indonesia dan USA, puncaknya setelah
Amerika menyetujui bergabungnya negara boneka bentukan Inggris yaitu Malaysia
sebagai bagian dari anggota PBB (Perserikatan Bangsa – Bangsa). Mengetahui ini,
Soekarno marah besar dan mengambil sikap tegas Indonesia keluar dari
keanggotaan di PBB.
Keluarnya Indonesia dari PBB cukup
berdampak pada eksistensi Indonesia di dunia internasional. Indonesia jadi cendrung
dekat dengan negara-negara komunis seperti China, Rusia, bahkan Korut. Ini
salah satu faktor mengapa pada masa itu PKI (Partai Komunis Indonesia)
berkembang pesat di Indonesia.
Sebetulnya
ada faktor lain mengapa PKI tumbuh subur pada masa itu. Soekarno yang terlalu
terobsesi dengan kariernya di dunia internasional sebagai pimpinan negara-negara
non blok, dan Soekarno yang lebih suka membelanjakan anggaran negara untuk
peralatan perang, sehingga pekonomian negara jatuh terpuruk. Harga pangan
melambung, rakyat banyak yang kelaparan. (Kata mbah saya, pada masa paceklik ini
untuk membeli 1 kg dedak atau ampas padi untuk maknan pokok, sampai harus jual
dua ekor sapi terlebih dulu).
Saat genting seperti itu, PKI hadir
dengan banyak memberikan bantuan. Entah itu sembako, benih padi, pupuk, dan
semacamnya. Tak lupa PKI juga mendata nama-nama setiap penduduk yang menerima
bantuan dari partai komunis ini. Jadi boleh di bilang, rakyat yang menerima
bantuan sosial dari PKI sebetulnya belum tentu anggota PKI, apalagi sampai
berpaham komunis.
Allan
Dulles, melihat celah ini sebagai peluang. Konflik antara kaum
nasionalis (tentara), agamis (umat islam, kristen, dll), dan komunis (PKI) yang
coba ditengahi Soekarno dengan NASAKOM (Nasionalis, Agama, dan Komunis) ternyata
gagal menjadi solusi. Sehingga ada kemungkinan antara Dulles dan Soeharto lalu
menjalin sebuah kesepakatan rahasia.
Sekali dayung dua pulau terlampaui,
dengan bantuan Dulles melalui CIA Soeharto sukses menumbangkan Soekarno dengan senjata
Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) dan dengan rekayasa G30S/PKI yang
menumbalkan jenderal-jenderal besar yang berpotensi jadi pesaingnya untuk jadi penguasa
tunggal di negeri ini. Misi rahasia inipun berhasil, Soeharto dapat kekuasaan
dan Dulles dapat royalti dari Freeport yang akhirnya bisa menambang emas di
Papua.
Fakta sejarah mencatat, demi tambang
emas di Papua ini, tiga juta rakyat tak berdosa, tiga juta penduduk yang
namanya terdata menerima bantuan sosial dari PKI, akan langsung dicap PKI dan langsung
dibunuh dengan kejam, mereka dibunuh seperti membunuh hewan dan dikuburkan juga
seperti hewan oleh kaum Agamis yang
mendapat bekingan dari ABRI (kaum nasionalis).
Bahkan, bukan hanya tiga juta rakyat tak
berdoa yang menjadi keserakahan seorang manusia yang haus pada harta berupa
logam mulia. Tapi juga pemimpin sebaik John F Kennedy yang tewas tertembak, Soekarno
yang mati dibunuh sepi (sakit ginjal parah, di dikurung di rumah tahanan, dan
hanya dirawat oleh seorang dokter hewan. Soekarno juga tidak boleh membaca
koran, mendengarkan radio, dan tidak boleh bertemu sama siapapun), hingga tujuh
jenderal baik-baik yang katanya jadi korban kekejaman PKI. Semua dikorbankan
hanya demi satu tujuan, tambang emas di Papua.
Menyedihkan, tapi beginilah faktanya.
Semenjak masa kerajaan dulu, bangsa kita memang paling mudah untuk diprovokasi
dan diadu domba. Ada baiknya, setiap 30 September bukan hanya kita peringati
sebagai hari pengkhianatan PKI yang ingin mengganti ideologi negara, tapi juga kita
jadikan sebagai hari perenungan, bahwa ternyata sampai sekarang ini kedewasaan
masyarakat kita dalam menanggapi isu propoganda masih jauh dari kata dewasa. (Ali
Ridwan, 30/09/17)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar