Jumat, 29 September 2017

Antara G30S/PKI, John F Kennedi, Soekarno, dan Tambang Emas di Papua

 
Pernah nonton film The Hobbit? Ada satu pernyataan yang saya suka dari film ini. Melimpahnya cadangan emas atau logam mulia di suatu negeri, bisa jadi  bukan mendatangkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi warganya, sebaliknya justru akan menjadi bencana bagi penduduknya! Gunung emas di Papua adalah salah satu contohnya.

Menilik pada fakta sejarah, pada masa pemerintahan John F Kennedi hubungan Indonesia dan Amerika Serikat begitu romantis. Setelah Soekarno berhasil melobi Rusia untuk membeli peralatan tempur dengan berhutang, guna mengusir kependudukan Belanda yang masih bercokol di Bumi Cenderawasih, Irian Barat. Dan aksi militer yang diberi nama Operasi Trikora itu akhirnya sukses memaksa Belanda berunding di PBB, dalam bernegosiasi dengan Belanda lewat tekanan USA pulalah akhirnya Irian Jaya kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Hal ini menjadi bencana, setelah CIA (Central Intelegent Amerika) mengetahui ternyata di Irian Jaya terdapat gunung emas yang melimpah ruah. Freeport yang nyaris bangkrut karena invasi USA di Kuba mendapat perlawanan keras dari Fidel Castro. Di sini terjadil tawar menawar dan terjalin sebuah kesepakatan rahasia antara Freeport dan pimpinan CIA, Allan Dulles.

Allan Dulles menyadari, gunung emas di Papua akan sulit ditambang kalau Soekarno yang seorang nasionalis tulen itu masih berkuasa di Indonesia. Allan Dulles juga paham, menjatuhkan Soekarno akan sulit mengingat kedekatan Soekarno dan John F Kenedy. Dulles melalui CIA mulai melakukan misi rahasianya, membunuh John F Kennedy dan Soekarno sekaligus. Misi membunuh John F Kennedy berhasil, tapi Soekarno setelah melalui tujuh kali percobaan pembunuhan, semuanya gagal.

Wafatnya John F Kennedy telah merenggangkan hubungan bilateral antara Indonesia dan USA, puncaknya setelah Amerika menyetujui bergabungnya negara boneka bentukan Inggris yaitu Malaysia sebagai bagian dari anggota PBB (Perserikatan Bangsa – Bangsa). Mengetahui ini, Soekarno marah besar dan mengambil sikap tegas Indonesia keluar dari keanggotaan di PBB.

Keluarnya Indonesia dari PBB cukup berdampak pada eksistensi Indonesia di dunia internasional. Indonesia jadi cendrung dekat dengan negara-negara komunis seperti China, Rusia, bahkan Korut. Ini salah satu faktor mengapa pada masa itu PKI (Partai Komunis Indonesia) berkembang pesat di Indonesia.

 Sebetulnya ada faktor lain mengapa PKI tumbuh subur pada masa itu. Soekarno yang terlalu terobsesi dengan kariernya di dunia internasional sebagai pimpinan negara-negara non blok, dan Soekarno yang lebih suka membelanjakan anggaran negara untuk peralatan perang, sehingga pekonomian negara jatuh terpuruk. Harga pangan melambung, rakyat banyak yang kelaparan. (Kata mbah saya, pada masa paceklik ini untuk membeli 1 kg dedak atau ampas padi untuk maknan pokok, sampai harus jual dua ekor sapi terlebih dulu).

Saat genting seperti itu, PKI hadir dengan banyak memberikan bantuan. Entah itu sembako, benih padi, pupuk, dan semacamnya. Tak lupa PKI juga mendata nama-nama setiap penduduk yang menerima bantuan dari partai komunis ini. Jadi boleh di bilang, rakyat yang menerima bantuan sosial dari PKI sebetulnya belum tentu anggota PKI, apalagi sampai berpaham komunis.

Allan  Dulles, melihat celah ini sebagai peluang. Konflik antara kaum nasionalis (tentara), agamis (umat islam, kristen, dll), dan komunis (PKI) yang coba ditengahi Soekarno dengan NASAKOM (Nasionalis, Agama, dan Komunis) ternyata gagal menjadi solusi. Sehingga ada kemungkinan antara Dulles dan Soeharto lalu menjalin sebuah kesepakatan rahasia.

Sekali dayung dua pulau terlampaui, dengan bantuan Dulles melalui CIA Soeharto sukses menumbangkan Soekarno dengan senjata Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) dan dengan rekayasa G30S/PKI yang menumbalkan jenderal-jenderal besar yang berpotensi jadi pesaingnya untuk jadi penguasa tunggal di negeri ini. Misi rahasia inipun berhasil, Soeharto dapat kekuasaan dan Dulles dapat royalti dari Freeport yang akhirnya bisa menambang emas di Papua.

Fakta sejarah mencatat, demi tambang emas di Papua ini, tiga juta rakyat tak berdosa, tiga juta penduduk yang namanya terdata menerima bantuan sosial dari PKI, akan langsung dicap PKI dan langsung dibunuh dengan kejam, mereka dibunuh seperti membunuh hewan dan dikuburkan juga seperti hewan  oleh kaum Agamis yang mendapat bekingan dari ABRI (kaum nasionalis).

Bahkan, bukan hanya tiga juta rakyat tak berdoa yang menjadi keserakahan seorang manusia yang haus pada harta berupa logam mulia. Tapi juga pemimpin sebaik John F Kennedy yang tewas tertembak, Soekarno yang mati dibunuh sepi (sakit ginjal parah, di dikurung di rumah tahanan, dan hanya dirawat oleh seorang dokter hewan. Soekarno juga tidak boleh membaca koran, mendengarkan radio, dan tidak boleh bertemu sama siapapun), hingga tujuh jenderal baik-baik yang katanya jadi korban kekejaman PKI. Semua dikorbankan hanya demi satu tujuan, tambang emas di Papua.

Menyedihkan, tapi beginilah faktanya. Semenjak masa kerajaan dulu, bangsa kita memang paling mudah untuk diprovokasi dan diadu domba. Ada baiknya, setiap 30 September bukan hanya kita peringati sebagai hari pengkhianatan PKI yang ingin mengganti ideologi negara, tapi juga kita jadikan sebagai hari perenungan, bahwa ternyata sampai sekarang ini kedewasaan masyarakat kita dalam menanggapi isu propoganda masih jauh dari kata dewasa. (Ali Ridwan, 30/09/17)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar