“Tiiin... tiiinnn.... tiiinnn...
tiiiinnn..... ” Terdengar suara bel motor Mega Pro seakan sedang menjerit-jerit. “Sayuuur, sayuuuur, sayuuuuur.. Sayurnya buu..
Sayurrr..” Teriakan lantang pemuda itu menawarkan sayur dagangan di gerobak
yang berada di boncengan motornya, motor YANG dimodif sedemikian rupa sehingga
sangat cocok dengan medan pegunungan.
Pemuda penjual sayur keliling bernama
Aiman itu menjajakan aneka dagangan seperti sayur-sayuranan segar, tahu dan
tempe, bumbu-bumbu dapur, es lilin, jajanan pasar, kerupuk, sampai roti-rotian.
Kendati berpropesi sebagi pedagang sayur keliling, itu bukanlah kegiatan utama
dari keseharian seorang Aiman. Keberadaan Aiman di sebuah desa dari lereng
Gunung Lawu ini karena statusnya sebagai seorang santri yang sedang ngalap ilmu
di sebuah pondok salaf pimpinan Kyai M. Abdullah, atau lebih akrab disapa Kyai
Dullah.
Pondok pesantren tradisional binaan Kyai
Dullah ini adalah pondok pesantren semi modern, dimana selain ilmu-ilmu agama
yang diajarkan, ada juga pengetahuan-pengetahuan umum. Di Pondok Pesantren
Miftahul Jannah yang berdiri di bawah naungan Yayasan Darul Iman ini juga
memiliki sekolah umum setingkat dengan SMP dan SMA.
Di Ponpes Miftahul Jannah ini, Kyai
Dullah tidak hanya menerima santri dari anak-anak yang masih SMP atau SMA, tapi
juga dari kalangan umum, atau para pemuda atau remaja yang telah lulus SMA di
luar pondok. Aiman adalah seorang pemuda yang datang ke pondok dan melamar
menjadi santri setelah ia lulus SMA dan sempat bekerja sebagai kuli bangunan.
Sewaktu masih SMA, di kampungnya di
Jogja sana Aiman senang sekali membantu ayahnya berjualan sayur di pasar.
Rupa-rupanya, keahliannya yang tak sengaja diperoleh dari ayahnya semasa ia SMA
ini sangat berguna bagi pondok tempatnya mengalap ilmu sekarang ini.
Dulunya, Pondok Pesantren Miftahul
Jannah adalah pondok pesantren tradisional biasa. Supaya tidak tergerus oleh
kamajuan zaman, Kyai Dullah kemudian berinisiatif meningkatkan status pondok
menjadi pondok semi modern, dengan harapan semoga kelak bisa menjadi pondok
modern yang profesional dan lebih berdaya saing lagi.
Bertebarannya sekolah-sekolah umum yang
lebih murah dan mungkin dengan kualitas yang lebih bermutu di masyarakat
membuat sekolah rintisan di pondok bukan perkara yang mudah. Untuk bisa bersaing, selain harus mendatangkan
guru yang berkualitas, perlengkapan dan fasilitas yang lebih memadai, juga
harus dengan biaya yang tidak membebani alias semurah mungkin. Terlepas dari
itu, satu yang paling digaungkan dari sekolah umum di pondok adalah pendidikan
akhlak melalui bimbingan agama langsung dari seorang kyai yang tidak ditawarkan
oleh sekolah-sekolah umum di luaran sana.
Kehadiran Aiman sebagai tukang sayur
sejatinya bukanlah kemauannya, tapi juga bukan karena permintaan dari pihak
pondok, apalagi perintah dari Kyai Dullah. Panggilan jihad sebagai salah satu
pondasi penopang finansial pondok itu muncul begitu saja. Aiman yang kurang
maksimal bila mondok dan bekerja seperti rekan-rekan santri sebayanya.
Beginilah sebenarnya keadaan dari Pondok
Pesantren Miftahul Jannah, jika santri-santri yang masih sekolah, kegiatan mereka
adalah belajar dan mengaji. Sementara santri-santri yang sudah tidak bersekolah
seperti Aiman, kegiatannya selain mengaji adalah bekerja membantu pondok.
Aiman tidak punya keahlian mengurus
kebun cengkeh, tidak bisa mengurus ternak baik sapi ataupun kambing, tidak bisa
bertani, juga tidak pandai mengurus koperasi. Tapi Aiman punya tekad untuk
tetap bisa berkontribusi untuk pondok, sampai muncullah ide itu, mondok nyambi
dagang. Sehingga keuntungan dari hasil berdagang sayurnya itu tidak seratus
persen untuknya. Keuntungannya dibagi dua, sebagian untuk pondok, dan sebagian
lagi boleh ia kantongi sendiri. Sebuah keputusan yang bijak dari Kyai Dullah.
Apalagi keuntungan yang diperolah Aiman tidak tergolong kecil, Rp 300.000,- per
hari, sedangkan upah buruh tani hanya Rp 50.000,-. Kiprah Aiman jelas sangat
membantu keuangan pondok, utamanya untuk memenuhi kebutuhan dapur pesantren.
Keuntungan yang menggiurkan itu, boleh
dibilang sebanding dengan beban kerja yang harus dipikul oleh Aiman. Tidak
seperti santri-santri lainnya, Aiman harus kulakan sayur di pasar besar pada
jam dua malam. Resikonya ia tidak bisa ikut mujadah sebelum shubuh, dan jelas
tak ikut pengajian rutin kajian dan tafsir Al Quran setiap ba’da shubuh.
Setelah menata dagangannya di keranjang motornya kemudian ia menjualnya dari
kampung ke kampung di lereng Gunung Lawu itu, naik turun gunung, melewati jalanan
berbatu-batu, tajam dan curam. Aiman berjualan sampai siang hari, lalu
istirahat tidur siang. Setelah sore ia mengaji, maghrib dzikiran, istirahat
setelah isya, terbangun untuk kiyamulail, jam dua malam sudah harus kulakan ke
pasar besar lagi.
Aiman begitu bersemangat dalam menjalai
profesinya sebagai tukang sayur keliling, semangat bisa membantu meringankan
beban finansial pondok adalah motivasi utamanya. Motivasi itu semakin bertambah
saat suatu ketika Aiman bertemu dengan seorang gadis belia, masih duduk di kelas
3 SMP. Gadis itu membeli sayur, memasak untuk ayahnya yang hendak ke sawah. Hari
pertama bertemu terkesan, hari kedua, ketiga, keempat, makin berkesan. Pemuda bernama
Aiman itu akhirnya berkenalan secara baik-baik dengan gadis belia itu.
“Tiap hari belanja sendiri terus. Ibunya
kemana?”
“Sudah meninggal mas. Tinggal aku sama
ayah seorang diri di rumah..”
“Ohhh.. Maaf, aku tidak tahu hal itu. Eh
ya, kita sudah terlalu sering mengobrol akrab, tapi aku belum tau siapa nama
kamu?”
“Ah, tidak apa-apa mas. Hmm.. Nama saya
Ningsih mas..”
“Saya, Aiman..”
“Salam kenal ya mas..”
“Oh yah, boleh minta no hp kamu?”
“Iya mas. Boleh..”
Sering berbalas pesan lewat sms, betapa
terkejutnya Aiman, ternyata gadis itu hendak dijodohkan. Sudah tradisi di salah
satu desa lereng Gunung Lawu itu. Gadis lulusan SMP biasanya langsung
dinikahkan, katanya gadis di usia segitu biasanya lebih nurut, dan mentalnya
belum rusak.
Aiman yang nampak prihatin dengan
keadaan ini lantas terpanggil, ia nekat nembung
pada Kyai Dullah, tentang maksud dan tujuannya mendaftarkan Ningsih masuk ke
pondok sambil sekolah. Aiman bicara baik-baik pada Kyai Dullah, bahwa ia sedang
jatuh hati pada seorang gadis belia bernama Ningsih. Aiman hendak bermaksud
memondokkan Ningsih sekaligus membiayai sekolah SMA-nya selama nyantri, dan
sekolah di pesantren binaan Kyai Dullah itu.
Kyai Dullah menyambut baik niatan
santrinya bernama Aiman itu. Namun Kyai Dullah akan membuat kesepakatan rahasia
yang hanya boleh diketahui oleh Aiman, Ningsih, Ayah Ningsih, dan Kyai Dullah
sendiri.
“Selama Ningsih nyantri di sini nanti,
tidak ada yang boleh tahu kalau Ningsih itu akan jadi bakal calon istri kamu.
Biarkan Ningsih mondok di pesantren sini seolah-olah tidak ada hubungan spesial
apa-apa antara kamu dengan Ningsih. Saya tidak mau melihat kalian ngobrol
berdua-dua’an apalagi sampai terlihat seperti orang sedang pacaran” Pesan Kyai
Dullah pada Aiman dan Ningsih, saat ayah Ningsih matur hendak memondokkan
anaknya di Pondok Pesantren Miftahul Jannah binaan Kyai Dullah itu.
Lewat perjanjian ini, Aiman dituntut
bisa melewati komitment rahasia jangka panjang hingga tiga tahun kedepan. Dan
selama tiga tahun ke depan itu, mau tidak mau ujian kesabaran lewat serangkaian
cobaan sedikit banyak akan menguji hubungan keduanya.
Hari berganti hari, bulan berganti
bulan, dan tahun mulai silih berganti. Ningsih si gadis desa itu makin beranjak
remaja. Kecantikannya makin berbinar, inner
beauty-nya kian memancar. Mbah Nang, ayah Kyai Dullah yang sepuh tapi masih
sehat, kepincut dengan akhlak mulia gadis belia bernama Ningsih itu. Mbah Nang
berniat hendak menjodohkan Ningsih dengan cucunya, Gus Syarif, putra pertama
Kyai Dullah. Rencana ini semakin mendekati kenyataan saat Gus Syarif ternyata
juga menyimpan rasa untuk Ningsih, Gus Syarif tentu sangat senang dan bahagia
dengan rencana kakeknya itu.
Kyai Dullah yang mengetahui rencana Mbah
Nang itu hanya bisa diam. Memantau dari kejauhan, sudah sejauh mana keseriusan
seorang Aiman kepada niat mulianya untuk memondokkan Ningsih di pesantren yang
kemudian hendak dipinangnya sebagai istrinya. Dan Aiman, ia tetap tabah dan
takdzim pada Kyai Dullah, ia percaya sepenuhnya pada Romo Kyai.
Ujian tidak hanya datang lewat Mbah Nang
dan Gus Syarif, seorang santri senior yang menjadi kepala suku di Pondok
Pesantren Miftahul Jannah, Kang Jitok juga menaruh hati pada Ningsih dan
mengincarnya untuk bisa memperistrinya. Tak jarang Kang Jitok ini bertandang ke
rumah Ningsih guna mengambil hati Ayah Ningsih, tapi Ayah Ningsih selalu patuh
pada perjanjiannya dengan Kyai Dullah, Ayah Ningsih tetap bungkam perihal
perjodohan Ningsih dan Aiman.
Nampaknya, pesona Ningsih sebagai gadis
muda itu sudah terdengar sampai ke luar pondok. Kang Jazuli, seorang pemuda
kampung yang disegani, karena posisinya sebagai ketua paguyuban silat, juga
mengincar Ningsih untuk dijadikan istri. Sementara Aiman tetap bungkam, ia
secara diam-diam sering berhubungan dengan Ningsih. Meski berlagak tak kenal
saat di muka umum, sebenarnya Aiman sering berhubungan dengan Ningsih melalui
surat - surat cinta yang ia selipkan di celah-celah dinding, sebuah kotak surat
rahasia yang hanya diketahui oleh mereka berdua. Hanya ini komunikasi rahasia
yang bisa dilakukan Aiman dan Ningsih.
Di Pondok, Kyai Dullah memang melarang
santrinya yang masih sekolah untuk membawa alat komunikasi seperti handphone. Jika ada keperluan mendadak
yang mengharuskan Aiman dan Ningsih berbicara secara langsung, Kyai Dullah akan
mengundang keduanya, duduk bertiga di ruang tamu, dan manyilahkan keduanya
bicara seperlunya saja. Sesekali Kyai Dullah membiarkan keduanya mengobrol
sesaat, Kyai Dullah meninggalkan keduanya dengan berpura-pura ke dapur barang
sebentar mengambil makanan atau minuman.
Rayuan bertubi-tubi dari Mbah Nang
dengan Gus Syarif, dari Kang Jitok, juga Kang Jazuli sempat meruntuhkan
pendirian Ningsih. Telah beredar gosip di Pondok kalau Ningsih sudah menjalin
hubungan dengan Kang Jitok, sampai Kang Jitok pun dimusuhi oleh Gus Syarif dan
pemuda sekampung karena provokasi Kang Jazuli. Mendengar kabar ini Aiman sempat
nyaris putus asa, apalagi akhir-akhir ini Ningsih tidak lagi membalas
surat-suratnya yang biasa ia selipkan di tempat rahasia yang sudah ia sepakati
bersama.
Setelah Aiman mengadu pada Kyai Dullah,
perihal kegelisahan hatinya itu. Kyai Dullah kemudian memanggil Ningsih ke
ruang tamu. Kyai Dullah kembali mengingatkan kepada Ningsih dan Aiman, perihal
kesepakatan rahasianya dulu. Melihat fakta bahwa Ningsih nampaknya sudah mulai
termakan rayuan Kang Jitok, Kyai Dullah kemudian menegur Ningsih “Kalau kamu
mau mengingkari perjanjian awalmu saat pertama mau mondok si sini, silahkan
kamu cari guru lain yang selain aku...” Ningsih lalu menitihkan air matanya, Bu
Nyai yang datang saat menyuguhkan minuman lalu mengusap air mata penyesalan
dari Ningsih itu. Tak lama kemudian Kyai Dullah mempersilahkan Aiman kembali ke
asrama putra dan mempersilahkan Ningsih kembali ke asrama putri dengan pesan
supaya keduanya tetap berpegang teguh pada perjanjian rahasia itu.
Dua setengah tahun berlalu, secara
mengejutkan Kyai Dullah mengajak Aiman dan kedua orang tuanya untuk bertandang ke
rumah orang tua Ningsih, Kyai Dullah secara resmi akan melamar Ningsih untuk
diperistri oleh salah satu santrinya yang bernama Aiman. Ayah Ningsih yang
sedari awal selalu berkomitment dengan perjanjian rahasia itu menyambut lamaran
Aiman yang diwakili oleh Kyai Dullah itu dengan penuh syukur dan suka cita.
Prosesi lamaran pun berjalan lancar dan aman.
Setelah lamaran itu terjadi, bukannya
kebahagiaan yang didapat Aiman, tapi bencana. Lamaran itu justru malah membuat
Aiman semakin terpojok. Mbah Nang yang bersekongkol dengan Kang Jitok, sepakat
memusuhi Aiman. Belum lagi orang-orang kampung yang termakan gosip provokasi
dari Kang Jazuli, ibu-ibu yang biasa berlangganan sayur pada Aiman, kini hanya
beberapa yang masih setia. Tidak jarang sore hari saat Aiman pulang ke Pondok,
dagangan di gerobak motornya masih utuh 80%. Bahkan Kang Jazuli tidak sesekali
mencegat Aiman saat keliling berjualan dan menantangnya untuk berduel.
Keadaan ini membuat Aiman nyaris
berputus asa kembali, ia lalu berkomunikasi dengan kedua orang tuanya. Merasa
kehormatannya sudah jatuh karena fitnah yang terlanjur merajalela, yang Aiman
fikirkan adalah nama baik pondok, apalagi salah satu gosip yang beredar
mengatakan kalau lamaran Kyai Dullah pada orang tua Ningsih untuk Aiman itu
karena Ningsih telah hamil di luar nikah, dan secara diam-diam Aiman lah yang
menghamilinya. Menghamili Ningsih dengan cara tidak jantan karena dilakukan
dengan cara menikung Gus Syarif, Kang Jitok, dan Kang Jazuli dari belakang. Tapi
orang tua Aiman tetap mendukung putranya, mereka berpesan pada Aiman supaya
tetap takdzim dan manut dengan apapun
keputusan Kyai Dullah. Fitnah itu akan luruh dengan sendirinya, jika apa yang
difitnahkan ternyata sama sekali tidak benar.
Melihat situasi yang makin tak
terkondisikan Kang Jitok secara khusus menghadap Kyai Dullah seorang diri, guna
menengadukan kelakuan Aiman yang sudah bikim gaduh itu, tidak hanya di pondok tapi
juga ke penjuru kampung di lereng Gunung Lawu itu. Kyai Dullah dengan sabar
menjelaskan pada Jitok duduk perkaranya, Si Kepala Suku pondok itu pun akhirnya
paham. Gus Syarif yang kebetulan sedang berada di rumah, kemudian juga
diberikan penjelasan oleh ayahnya, ia pun akhirnya paham dan bersedia mengalah.
Kehilangan banyak pendukung, Mbah Nang semakin tak berdaya saat berniat hendak
memojokkan Aiman, pelan pelan ia pun bisa menerima kenyataan itu.
Setelah kelulusan Ningsih dari bangku
SMA, pernikahan Aiman dan Ningsih pun dilakukan. Akad dan resepsi dilaksanakan
di mampelai wanita. Hadir di pernikahan kedua orang tua mampelai, dan tentunya
Kyai Dullah sebagai nasehat perkawinan. Pada sambutan di resepsi inilah
kesempatan Kyai Dullah untuk meluruskan, menceritakan sebenarnya apa yang
terjadi dengan cinta Aiman pada Ningsih. Tamu undangan akhirnya mengerti,
ternyata gosip dan fitnah yang beredar di masyarakat selama ini salah dan tidak
benar adanya. Propoganda Kang Jazuli sudah pasti akan terlupakan dengan
sendirinya.
Sekarang, Aiman dan Ningsih yang sudah
menjadi sepasang suami istri ini tinggal di koperasi milik pondok. Ningsih
bertugas mengurusi koperasi dan Aiman tetap berjualan sayur seperti biasanya.
Kedua alumni pondok yang sudah menikah ini akan tetap mengabdikan hidupnya
untuk kemajuan pondok. Ke depannya, Aiman dan Ningsih akan diberi tugas
mengatur kestabilan keuangan pondok dari semua bidang usaha yang berdiri di
bawah Yayasan Darul Iman dan Pondok Pesantren Miftahul Jannah, di lereng Gunung
Lawu itu. (Ali Ridwan, 29/09/17)
Agen Slot Terbaik
BalasHapusAgen Situs Terbaik
Situs Agen Judi Online
https://bit.ly/2ENk1VF
Agen Slot Terbaik
BalasHapusAgen Situs Terbaik
Situs Agen Judi Online
• Bonus New Member 120%
• Bonus Deposit Harian 5%
• Bonus Happy Hour 25%
• Bonus poker 20%
Untuk info lebih lanjut bisa menghubungi kami di :
WA : 081358840484
Facebook : Game Slot Online
https://bit.ly/2ZoLZDA